Sabtu, 31 Desember 2016

2016, Kamu dan Kesempatan

Penghujung 2016 yang mendung. Tidak, saya tidak sedang berduka..saya menikmati akhir di tahun 2016, ya saya tidak perlu lagi riweh lembur di tahun baru saat orang laon sibuk bersama keluarga dan orang tersayangnya. Saya menulis ini dalam perjalanan pulang, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sejak lulus dari kuliah. Yeah, apalagi kalau bukan karena pekerjaan. Hehehe.
Tahun 2016 adalah titik balik saya, memutuskan untuk banting setir dan memilih pekerjaan yang benar-benar baru. Maka, jangan kaget ketika saya menganggap tahun 2016 berjalan begitu cepat. Seakan baru kemarin saya menyelesaikan closing di kantor lama di antara seruan terompet, sekarang sudah sampai saja di penghujung tahun.
Tahun 2016, saya masih sibuk menyelesaikan rangkaian terapi karena sakit yang saya alami di tahun 2015. Bertemu dengan teman yang selama ini hanya riwil via chat, mention twitter atau chat di fb. Sebut saja Bella, Dew dan terakhir Mput. Di tahun ini juga saya mulai aktif ikut komunitas, mulai dari Blogger Ngalam dan terakhir bergabung dengan komunitas peduli kanker, Sahabat Anak Kanker. Tahun yang sibuk sekaligus menyenangkan.
Di penghujung tahun saya mendapat kabar, jika dia si Iced Coffee memutuskan untuk menikah di Tahun Baru besok. Boleh saya bilang ini kabar yang menyenangkan? Penutup yang manis untuk tahun 2016. Meskipun banyak yang sangsi saya tidak bersedih dengan kabar ini. Hahaha, serius saya tidak galau 😁
Tahun 2016 twitter tetap menyenangkan buat saya, meskipun tiap hari senewen dengan berita Pilkada. Twitter masih tetap menyenangkan, sekali lagi semua tergantung siapa yang kamu follow 😂😂😂 di twitter saya punya Bogi yang kalau lagi BT twitnya bisa saya samber, atau ngajak debat dengan bilang Gemini yang selalu salah 😈😈😈
Well, selamat menyambut tahun 2017 dengan bahagia. Terima kasih kamu yang membuat semarak hidup saya \o/

Minggu, 18 Desember 2016

Jika Kamu Berhak Bahagia, untuk Apa Merutuki Kebahagiaan Mantan?

Semua berhak bahagia, begitu juga dia - 

Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri resepsi pernikahan ‘teman’ yang dulu sempat dekat. Anggap saja demikian. Saya mendengar rencana pernikahannya jauh sebelum dia datang mengantarkan undangan secara langsung kepada saya. Sedih? Sedikit. Tapi saya lebih banyak bahagianya. Untuk itulah sejak kabar pernikahannya saya dengar saya bertekat datang di acara tersebut. Tidak ada niatan untuk mangkir, mogok gak mau datang.

Meskipun dulu saya pernah menitipkan impian saya padanya.

Saya datang ke acara tersebut bersama seorang teman. Sebenarnya saya tidak masalah datang sendiri, toh tempat acaranya tidak jauh. Bisa saya tempuh dengan taxi. Tapi si teman maksa menemani. Dalihnya si enggak tega. Tapi enggak tau juga niatnya apa. Bahkan partner sempat memastikan bahwa saya bisa datang sendiri tanpa perlu baper. Ya, mungkin dia agak enggak rela jika saya datang sendiri, dan akhirnya baper mengingat masa lalu. Pas ditantang disuruh nemenin juga enggak bisa kan. Ahahaha. *digampar*

Sepanjang acara beberapa pasang mata menatap saya iba, antara kasihan dan enggak percaya saya bakal datang. Karena pesta hanya dihadiri undangan yang enggak genap 100, maka enggak heran jika banyak yang mengenal saya. Yup, saya dan ‘teman’ berada di satu lingkaran pertemanan yang sama. Jadi wajar, mereka kaget saya datang ke acara ini mengingat masa lalu kami yang..ah, sudahlah.

Beberapa menganggap si teman yang datang bersama saya adalah ‘calon’ yang sengaja saya ajak untuk menunjukkan bahwa saya baik-baik saja. Sial, saya merasa gagal terlihat cool. Maka saya biarkan undangan berasumsi dengan pikirannya. Sementara saya dan teman mojok makan es campur.

Semua orang berhak bahagia, maka bukan hak kita untuk merutuki dan menangisi kebahagiaan orang lain. Lah, saya aja udah happy dan bahagia meskipun gagal sama dia kok tega banget menangisi kebahagiaannya? Rasanya itu enggak adil banget.

Untuk itulah saya masih berteman baik dengan ‘teman’ meskipun sudah lama berpisah. Saya enggak perlu merasa baper saat mereka menemukan kebahagiannya. Meskipun beberapa orang menganggap hal itu bullshit. Prinsip saya sih, jika jatuh cinta tidak perlu alasan maka perpisahan juga enggak perlu alasan. Putus artinya cukup. Berpisah artinya memang udah enggak bisa sama-sama lagi. Sesederhana itu.

Sesakitnya satu perpisahan, pada akhirnya kita akan tahu bahwa semua itu jauh lebih baik. Perpisahan tidak selalu menyedihkan. Jika dulu saya tidak memutuskan untuk berpisah dengan si ‘teman’ mungkin sampai sekarang hubungan kami ya tetap jalan di tempat. Ya kan? Jadi untuk apa menyesalinya. Hehehe.

Aih, ini ngomongin apa sih XD 

Malang, 18  Desember 2016.

Sabtu, 19 November 2016

[Review]: Emina Sugar Rush Lip Scrub

Kebiasaan memakai lipstik membuat bibir saya hitam, iya ini alasan saja padahal memang warnanya sudah hitam, hehehe. Meskipun saya bersihkan dengan pembersih, terkadang bekas lipstik masih menempel. Bikin kesel sih, karena bibir jadi kering dan pecah-pecah. Apalagi kalau harus memakai lipstik matte, duh bikin hasil pulasan lipstik jadi tidak merata. Yang niatnya biar terlihat okey setelah memakai lipstik, eh malah semakin berantakan.

Nah, tugas di kantor membuat saya berkenalan dengan salah satu marketplace Sociolla. Karena menjadi bagian dari tugas kantor maka produk reviewnya, sering saya baca. Hehe, maka berkenalan lah saya dengan salah satu produk Emina yang sering direview di sana itu, yaitu Emina Lip Scrub Sugar Rush. Maka isenglah saya membeli salah satu produk Emina ini.

Tentang  Emina  Sugar Rush Lip Scrub

Kemasannya mungil. Berat nettonya hanya 4,2 gram. Warna pink pada kemasannya eye catching dan manis banget. Kemasannya yang mungil cocok untuk dibawa ke mana saja. Kamu tidak perlu khawatir, Sugar Rush ini memenuhi kotak makeup kamu.  Aromanya wangi vanila dan manis, tidak ada aroma chemical jadi saya merasa nyamansewaktu memakainya. Sesuai namanya Sugar Rush, lip scrub ini rasanya manis membuat saya ingin memakannya setiap kali saya mengoleskan di bibir. Hehehe.

Kemasan Emina  Sugar Rush Lip Scrub | pic: Ayu


Tekstur dan Aroma Emina  Sugar Rush Lip Scrub | pic: Ayu

Saya memakai Sugar Rush ini sebelum tidur. Cukup oleskan pada bibir biarkan selama beberapa menit. Gosok perlahan, dan basuh dengan air dingin. Bibir akan terasa lebih lembut dan bekas lipstik pun hilang. Saya baru 3 kali memakainya dan hasilnya sudah terasa sejak pertama kali pemakaiannya. Untuk itulah saya jatuh cinta dengan Sugar Rush ini.

Hal yang Tidak Disuka?

Tidak ada yang tidak saya sukai dari produk ini. Dengan harga yang murah, hanya 34k dan memiliki manfaat yang luar biasa rasanya worth it banget untuk dimiliki. Satu hal yang mengganggu saya dari produk ini, tidak adanya spatula dari Sugar Rush.  Membuat saya harus berhati-hati ketika mengoleskan Sugar Rush di bibir. Next, mungkin menjadi masukan untuk Emina agar menambahkan spatula pada produk Sugar Rush.

Nah, demikian review singkat saya tentang Emina  Sugar Rush Lip Scrub. Tertarik untuk mencoba?

Rabu, 16 November 2016

Menjadi Beauty Vlogger Dadakan

Bekerja di media membuat saya belajar banyak hal, termasuk menjadi artis dadakan untuk mengisi konten video. Sudah 2 kali wajah saya muncul di chanel youtube vemale. Pertama video DIY membuat amplop lebaran dan kedua adalah video campaign #MyBodyMyPride. Di kedua video itu tidak ada satu pun yang mewajibkan saya bicara, saya cukup senyum-senyum depan kamera, dan semuanya beres. Tapi berbeda dengan konten video kali ini, selain bergaya dan senyum-senyum manis, saya juga harus bicara. Ok, karena kali ini saya harus mereview lipstik. OK LIPSTIK. Jeder! 

Sebenarnya tidak masalah saya harus sok manis di depan kamera. Tapi ini saya harus memakai lipstik dan mereviewnya? Oh. Ok, saya memang cewek tapi kalau urusan makeup angkat tangan. Pakai bedak pun sudah syukur. Meskipun sekarang  sudah mau pakai skincare meskipun sekadar pembersih wajah dan pelembap. Anggap saja itu satu kemajuan. Dan sekarang saya harus mereview lipstik,dan bergaya di depan kamera. Cuap-cuap istilah lipstik, duh rasanya mau nangis.

Singkat cerita setelah membuat Wenny berurai air mata karena saya todong untuk memulaskan eyeliner, dan merajuk minta didandanin Winda akhirnya wajah saya sedikit okey untuk nampang di depan kamera. Shoot untuk review lipstik pun dimulai. Take pertama lancar, setelah dibuat heboh dengan harus swatch-hapus-swatch lipstik sampai bibir rasanya kebas keseringan diolesi remover jahanam.

Pengambilan video untuk swatch lipstik ke bibir kelar. Saatnya shoot untuk closing, jeng-jeng. Saya harus ngomong beberapa kalimat untuk review liptik. Kali ini saya harus menjelaskan aplikator, aroma dan harga dari lipstik yang saya review. Saking gugupnya saya harus beberapa kali take. Duh padahal Winda dan wenny lancar-lancar saja ngomong tanpa teks. Saya sedih. Akhirnya setelah beberapa kali take, pengambilan video kelar. Yeay!

Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Akhirnya saya dapat merasakan bagaimana menjadi Beauty Vlogger itu. Saya kira seru-seru saja memakai lipstik terus cuap-cuap, dan ternyata duh Gusti capek banget.Padahal  tadi saya hanya mencoba 8 warna saja, bibir rasanya sudah kebas. Bagaimana yang harus nyobain 20 warna lipstik?! *oles-oles bibir* Belum lagi Beauty Vlogger harus ngedit video sendiri, saya sih tinggal action terus cuap-cuap beres. AHAHAHAHA.

Berkat jadi Beauty Vlogger dadakan saya jadi tau apa itu istilah dead mate, aplikator, swatch, dan banyak hal yang berurusan dengan makeup. Dan saya jadi mikir, sepertinya sebagian dana jajan buku saya harus disisihkan untuk membeli beberapa makeup. Yha, kan selalu ada alasan untuk belanja. Dan cantik itu penuh perjuangan, Ladies! Duh, angkat topi sama mbak-mbak yang bisa tampil cantik dengan makeup lengkap gitu.

Nih, beberapa foto behind the scene-nya.

Apapun yang dibilang Kak Wil dan Mas Erik saya tetep moles lipstik | pic by: Wenny
1..2...3 \o/ | pic by: Wenny


Ndusel ke Kak Wil biar gak dimarahi kalau salah terus | pic by: Wenny

We are The Next Beauty Vlogger | pic by: Erik




Bagaimana seru kan? Iyain aja ya, biar cepet! Nantikan videonya di chanel youtube vemale ya! \o/

Jumat, 21 Oktober 2016

Keluarga Itu...

Saya tinggal terpisah dengan orang tua sejak lulus dari SMA. Alasan studi membuat saya harus meninggalkan kota kelahiran, yang artinya saya pun harus berpisah dengan orang tua. Kehidupan merantau membuat saya belajar tentang banyak hal, salah satunya belajar untuk lebih mandiri dan menerima orang lain. Saya termasuk orang yang sulit untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Lebih suka menghabiskan waktu sendiri, daripada harus mengobrol bersama orang lain. 

Semenjak merantau karena urusan belajar dan pekerjaan, saya mulai belajar untuk membuka diri. Salah satunya belajar untuk menerima kehadiran orang lain. Saya sadar, tidak selamanya hal remeh dapat saya lakukan sendiri. Meskipun ego saya sering berontak ‘halah masalah gini aja, gampang!’ Tapi semua berubah saat saya sakit untuk pertama kalinya di rantau, membuat saya berpikir ‘Loh, ternyata saya butuh orang lain juga ya?’. Sakit membuat saya tidak dapat melakukan apapun, termasuk untuk sekadar membeli makan. Pergi ke dokter pun akhirnya saya butuh bantuan teman kos. Sejak itu saya tahu, saya tidak pernah bisa hidup sendiri. Untuk hidup saya butuh orang lain. Suka atau tidak.

Memulai untuk menyapa adalah awal mula saya berusaha dekat bersama mereka meskipun canggung saya tetap berusaha. Dari sana saya belajar untuk lebih banyak mendengar, iya kemampuan komunikasi saya memang buruk. Sifat egois dan hanya ingin dimengerti tanpa berusaha untuk memahami orang lain inilah yang semakin memperburuk keadaan saya. Maka tidak heran jika beberapa orang menganggap saya sombong.  Tapi, karena terpaksa akhirnya harus melakukannya juga. Motivasi saya saat itu hanya satu, kalau sakit dan harus pergi ke dokter sendirian itu menyakitkan, walaupun sebenarnya tidak masalah jika saya merepotkan orang tua merengek buat diantarkan toh saya tidak memilih itu.

Hubungan jarak jauh dengan keluarga seringkali membuat saya terkena sindrom kangen. Tiba-tiba mellow dan menangis. Jika sudah seperti itu tak jarang beberapa teman datang menghibur. Sekadar ngajak makan, piknik hore atau menemani ngobrol. Jika bersama teman wanita tidak jarang kami ngepoin online shop, sekadar mencari barang lucu. Sekarang saya tahu, aktivitas belanja online pun bisa menjadi hiburan menyenangkan bersama mereka.

Jauh bersama orang tua pun membuat saya sadar, keluarga itu tidak hanya terdiri dari Ayah, Ibu dan Kakak saja. Keluarga itu bisa jadi adalah teman kos, teman kantor dan teman diskusi. Keluarga tidak harus ada ikatan darah. Mereka yang selalu ada untuk kita pun adalah saudara kita. Mereka yang melukiskan senyum dan menghapus air mata pun adalah keluarga kita. Jadi perkenalkan, ini adalah keluarga saya.

Mereka adalah keluarga | pic: Winda Carmelita

Malang, 21 Oktober 2016

Kamis, 20 Oktober 2016

Hodie Mihi, Cras Tibi*

Gadis itu merapatkan cardigannya. Beberapa helai daun sukses digugurkan angin sore itu. Dingin. Semerbak aroma petrichor menyeruak di hidungnya. Gadis itu menerawang ke atas. Awan putih menggantung. Seharusnya hujan masih lama. Ini Juli, tidak akan hujan, ramalnya. Tapi aroma petrichor yang dibawa angin menyeruak di hidungnya. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir setengah jam, angkot yang ditunggunya belum juga datang.

“Ketemu lagi. Hari ini akan hujan,” seseorang bergumam di sebelahnya. Ia menoleh. Laki-laki yang sama. Semingggu ini dia selalu bertemu dengan lelaki ini. Di tempat ia biasa menunggu angkot.

“Besok hujan. Jangan lupa bawa payung, sebaiknya kamu ganti cardiganmu dengan jaket yang sedikit tebal. Besok hujan tidak akan seringan ini,” lanjutnya.

Gadis itu tidak menyahut. Pandangannya lurus ke depan. Meskipun ia tidak bisa untuk tidak melihat pria itu dari sudut matanya.

“Aku Ardhi, kenalkan,” ucap pria itu. Tangannya menggantung tanpa sambutan. Gadis itu hanya memandang sekilas, lalu menghentikan angkot yang lewat. Pria itu memandang tangannya hampa, menggantung tanpa balasan. Lalu ia mengikuti gadis itu untuk naik ke angkot.

Tepat saat pria itu naik angkot, hujan turun. Pria itu tersenyum. Sementara sang gadis berpura-pura tak peduli. Dan seperti kemarin dan hari-hari yang lalu, mereka kembali bertemu di dalam angkot ini di bawah guyuran hujan.

***

“Sudah kubilang hari ini hujan. Kamu masih tetap enggak percaya, kubilang kan jangan memakai cardigan. Hujan akan lebat hari ini,” kata lelaki itu.

Tetes air hujan mulai merapat. Gadis itu panik. Dia merapat di bawah pohon berharap hujan batal turun. Tidak ada tempat berteduh selain pohon ini. Wajahnya merengut kesal, merutuki diri menyesal tidak menuruti ucapan lelaki ini.

Saat panik karena hujan semakin lebat, ia kaget karena tubuhnya tidak basah. Saat ia melihat ke atas ternyata tubuhnya sudah terlindungi payung yang dibawa lelaki itu. Lelaki itu tersenyum. “Enggak perlu menolak. Aku enggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Aku juga akan diam dan enggak akan ngajak kamu ngobrol,”

Gadis itu menurut. Tangannya mengapit tasnya. Sepatunya basah karena terkena air. Hujan sangat lebat, seperti yang dikatakan lelaki itu kemarin. Dan seperti yang dijanjikannya lelaki itu hanya diam saja, sama sekali tidak mengajak gadis itu bicara. Hingga angkot yang ditunggu pun tiba. Ia menggerling meminta gadis itu naik duluan, lalu diikutinya. Badannya setengah basah.

Lelaki itu melipat payungnya yang basah. Gadis itu meliriknya. Tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Ia menarik beberapa lembar tisu, lalu menyerahkan kepada lelaki itu.

“Ini,” katanya, seraya menyodorkan tisu.
“Terima kasih.”

***

Gadis itu merapatkan jaketnya. Hari ini ia memakai jaket tebal dan membawa payung. Meskipun ia tidak yakin hari ini akan hujan. Ia melihat sekitar, bukan mencari angkot. Lelaki itu tidak ada. Meskipun terkadang menyebalkan, ternyata gadis itu menunggu kehadiran lelaki itu.

Sampai angkot yang ia tunggu datang, lelaki itu belum juga ia temui. Ia melihat ke arah langit. Meskipun mendung ternyata hari ini tidak hujan. Dia melihat ke arah tas kain yang di dalamnya ada payung berwarna kuning. Ia menarik napas panjang. Tiba-tiba ia merasa sepi.

***

Ia pulang agak terlambat sore ini. Tadi sebelum pulang Bosnya menahannya untuk mengerjakan beberapa laporan. Ia berjalan dengan kusut. Ia berjalan ke arah tempat ia biasa menunggu angkot. Ia melihat sekitar sepi, mungkin lelaki itu sudah pulang. Pikirnya.

“Angkotnya baru saja lewat,” ucap seseorang. Gadis itu menoleh. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya. “Aku sengaja gak pulang dulu, karena aku tahu kamu bakal mencariku.”

Gadis itu pura-pura tak mendengar.

“Pakaian yang tepat. Hari ini akan hujan, tapi dengan intensitas ringan. Lumayan membuat basah, tapi akan menjadi suasana pendukung yang menyenangkan untuk teman mengobrol,” lanjutnya.
Lagi gadis itu tak menyahut.

“Kamu bawa payung kan? Hitungan ketiga..hujan akan turun,”

“Satu,” lelaki itu mengambil payung dalam tasnya.

“Dua...,” Ia membuka payungnya.

“Tiga..”

Bress. Hujan benar-benar turun. Sang gadis bingung, segera mengambil payung dalam tas kainnya.

“Sudah kubilangkan, hitungan ketiga akan turun hujan,”

Mereka saling diam. Sunyi, hanya suara rintik hujan dan kendaraan yang lewat di depan mereka. Angkot yang mereka tunggu belum juga terlihat.

Hingga sepuluh menit mereka saling diam.

“Eh, itu angkotnya datang,”

Laki-laki itu melambaikan tangan memberi isyarat agar angkot berhenti.

“Tunggu...”

Lelaki itu menoleh setengah tidak percaya.

“Aku Rinai. Besok hujan enggak?” ucap gadis itu.

Lelaki itu tidak segera menjawab, ia tersenyum. “Besok hanya mendung, gunakan cardigan warna tosca favoritemu,” jawabnya sambil tersenyum.

Malang, 20 Oktober 2016.

* Judul diambil dari Novel Antologi Rasa, karya Ika Natassa yang berarti Today for me, tomorrow for you.

Rabu, 12 Oktober 2016

Hal yang Selalu Saya Rindukan Saat Menjadi Akuntan

Sudah hampir satu tahun saya pindah haluan jadi Akuntan dan berpindah menjadi seorang Penulis Konten di sebuah Media Online. Keputusan yang sempat menjadi drama. Tidak hanya bagi orang-orang terdekat saya, pun dengan orang –orang di kantor yang saya tinggalkan. Ya, meskipun sekarang saya bukan lagi seorang Fulltime Akuntan, tapi saya tidak benar-benar meninggalkan dunia Akuntansi ini. Saya masih menerima job review di luar. Terkadang saya merindukan rutinitas sebagai Akuntan. Yang setiap harinya gak jauh-jauh dari worksheet.

Meja kerja andalan, camilan bukan sponsor :D | c: @perihujan_
Akuntansi adalah dunia yang sudah saya kenal sejak memutuskan murtad sebagai seorang Anak IPA. Seperti kutukan, Akuntansi adalah satu hal yang saya benci dan berubah menjadi hal yang saya cintai. Saya enggak pinter-pinter amat di pelajaran sains, saya lebih suka pelajaran sosial sebenarnya. Alih-alih menyukai mengamati reaksi kimia, saya lebih suka belajar Sejarah dan Geografi. Dulu saya masuk IPA hanya untuk menghindari Akuntansi. AHAHAHAHAHA. Tapi seperti saya bilang, ia serupa kutukan sejak mengenal lebih dekat saya jatuh cinta dengannya.

Setelah hampir 8 tahun bekerja sebagai Akuntan, saya sadar Akuntansi tidak hanya perkara debit atau kredit saja. Tidak hanya soal Laba atau Rugi. Banyak hal. Saya belajar membuat laporan yang tidak hanya bagus dan balance, saya pun belajar bagaimana membuat laporan yang dapat dibaca semua orang. Saya suka bermain-main dengan angka. Dan bagi saya itu menyenangkan. Berpegang teguh dengan Prinsip Akuntansi ‘balance belum tentu benar, tidak balance sudah pasti salah’ dan sensasi membuat laporan seperti ini yang sering saya rindukan.

Saya kangen bergadang sampai tengah malam, demi memenuhi deadline laporan. Saya kangen saat menemukan kecurangan dari satu laporan yang dikirim salah satu cabang, mencari tahu dan akan bahagia saat menemukan penyebabnya. Saya kangen stock opname dan cash opname. Saya kangen mengecek tumpukan invoice. Saya kangen melakukan perjalanan dinas bersama tim, melewatkan malam dengan worksheet masing-masing dan disela rutinitas yang padat kami masih sempat untuk karaoke bersama. Saya kangen memikirkan bagaimana laporan yang saya sajikan dapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian dari Auditor yang kadang sok OK. Saya kangen berdebat dengan senior tentang penyajian laporan dan hal remeh lainnya. Hfft, saya kangen dengan bunyi derit printer yang mungkin sama lelahnya dengan saya karena terlalu sering dipaksa bekerja untuk memenuhi deadline. Saya kangen...

Meskipun bisa ngitung bisa lewat kompi, kalkulator cabe tetep harus di samping | c: @perihujan_

Akuntansi itu menyenangkan. Akuntansi itu unik. Akuntansi itu seperti tantangan bagi saya, yang setiap waktu menari-nari di depan mata saya menantang untuk ditaklukkan. Akuntansi itu candu. Dan saya tahu, tidak mudah bagi saya untuk benar-benar melepaskannya. Ah, saya kangen kamu.

Selasa, 11 Oktober 2016

Memberi Pelajaran Kepada Hati, Sebuah Catatan Kecil dari Teleseri Kesempurnaan Cinta

Saya bukan penggemar Sinetron, tapi semua berubah saat saya iseng menonton Kesempurnaan Cinta. Teleseri yang tayang di Net TV ini memang berbeda. Selain pengambilan gambarnya yang keren, tentu saja ceritanya yang jauh dari menye-menye rebutan pacar dan harta adalah salah satu alasan mengapa saya rela mengikuti Teleseri ini. Di Teleseri ini gak ada pemeran antagonis yang teriak-teriak dengan backsound yang khas, tidak ada tipu-tipu demi rebutan harta. Adanya Teleseri Kesempurnaan cinta, masa depan tayangan TV Lokal bagi saya menjadi enggak surem-surem amat. Pastinya Kesempurnaan Cinta membuat saya semangat berangkat pagi ke kantor untuk melihat tayanyan ulangnya di zulu. Hehe.

Okay, kelamaan prolognya ya? Hehehe.

Saya bukan penggemar Ririn, tapi saya trenyuh dengan karakter yang diperankan Ririn yaitu Renata. Sebenarnya saya lebih menyukai sosok Hana, tipikal wanita urban yang seksi, smart, berpikiran terbuka dan pekerja keras. Tapi kali ini saya akan membahas Renata, salah satu tokoh dalam teleseri Kesempurnaan Cinta.

Sebagai anak satu-satunya, mengharuskan Renata untuk tinggal bersama orang tuanya. Sambil menjalankan bisnis kulinernya Renata dengan sabar merawat kedua orang tuanya, ia pun digambarkan sebagai anak yang patuh kepada orang tuanya. Tipikal wanita yang memilih ‘biar saya yang sedih, asal yang lain jangan’. Hingga semuanya berubah saat ayahnya berniat menjodohkan Renata dengan anak dari salah satu teman lamanya, Hafiz. Renata yang anaknya tidak kuasa menolak permintaan orang tua, akhirnya menerima tawaran perjodohan tersebut, meskipun dia menyukai pria lain. Satria, tetangganya. Singkat cerita, Hafiz menyadari jika sebenarnya Renata tidak menyukainya, maka ia pun membatalkan Taarufnya bersama Renata. Masalah pun dimulai, Ayahnya tidak menerima keputusan tersebut.

Ada satu scene yang membuat ngilu hati saya.

Tante Ren dan Pak Jodi :( | copyright: twitter @kc_nettv

“Apa susahnya sih Ren, membahagiakan Bapak? Hafiz orangnya baik.”
“Tapi pak, perasaan enggak bisa dipaksakan.”
“Tapi hati bisa belajar kan, Ren?”

Iya, hati bisa belajar bukan?

Episode tersebut sudah lama tayang, tapi sampai hari ini saya masih kepikiran dengan kalimat Pak Jodi, ayah Renata. Tentang hati yang bisa belajar. Saya teringat dengan obrolan bersama teman beberapa bulan yang lalu, yang akhirnya memutuskan untuk menerima perjodohan dari orang tuanya. Dia memilih untuk meninggalkan orang yang ia sayangi, padahal mereka saling menyayangi. Mereka memutuskan untuk berpisah, alih-alih memperjuangkan hubungan mereka. Katanya cinta tidak harus bersama bukan?

Teman saya lebih memilih untuk mengajari hatinya untuk menerima keadaan. Belajar untuk mencintai. Saya melihatnya tersenyum di hari pernikahannya, entah dia benar-benar bahagia atau masih sedang belajar untuk bahagia. Saya menghargai pilihanya, meskipun tidak sedikit yang menyayangkannya. Mungkin kita harus memilih, bahagia dengan membuat orang yang menyayangi kita bersedih atau belajar untuk menerima tawaran bahagia dari orang-orang yang menyayangi kita. Bukankah hidup tidak selalu menuruti keinginan kita?

Di dunia ini kita sering bersinggungan dengan beberapa hal yang memang tidak sesuai dengan harapan kita. Saat hati ingin A, tapi kenyataannya kita harus menerima B. Saat hidup tidak sesuai keinginan apakah kita memang harus bergerak melawannya, atau sebaliknya berjalan mengikuti arus. Sulit tapi kita harus memilih.

Benarkah hati mampu belajar? Saya rasa mampu, karena hati tidak pernah egois. Terus kalau kamu jadi Renata milih siapa yu? Saya pilih Hafiz saja, dicintai akan membuat saya lebih mudah untuk belajar mencintai. Ciye gitu ~

Minggu, 09 Oktober 2016

Hari Bersama Sheila On 7, Pengalaman Pertama Nonton Konser

Tanggal 22 September 2016 adalah hari bersejarah buat saya. Bukan, saya tidak mendapat promosi jabatan atau Partner akhirnya melamar saya. Tapi pada tanggal tersebut saya berkesempatan untuk nonton konser. Yeay! Umur yang hampir menginjak angka 30, baru kali ini saya menonton konser. Hahaha. Norak? Iya, biarin.


Yeay..foto dulu sebelum nonton konser | c: @perihujan_


Berawal dari rasa kecewa karena batal ke Jakarta, akhirnya saya menerima ajakan teman untuk nonton konser Sheila On 7 di Graha Cakrawala UM pada tanggal 22 September kemarin. Saya datang ke konser tanpa ekspektasi apa pun. Hanya saja sepanjang hari, di kantor saya memutar lagu-lagu Sheila On 7 sekedar mengingat lagu-lagu mereka kembali. Yeah, saya memang agak buruk soal musik. Selain suara sumbang saya, enggak ada yang dapat saya banggakan dari pengetahuan musik saya.

Jika menurut jadwal acara, Sheila On 7 seharusnya mulai naik panggung pukul 9 malam. Tapi nyatanya hingga hampir pukul 10 malam, Duta dan gengnya belum juga muncul di atas panggung. Untung saya tidak datang sejak open gate pukul 6 tadi. Saya memilih datang pukul setengah sembilan malam. Hehehe, bukan contoh yang baik bagi penonton konser.

Saya memilih untuk duduk di tribun, padahal sepertinya seru berdiri di dekat panggung. Tapi nyali sedikit ciut, lah belum juga konser di mulai kepala saya sudah pening. Sial, saya memang tidak tahan dengan udara malam. Setelah saya mulai agak panik, akhirnya SO7 muncul di atas panggung tepat pukul 10 malam. Daan....aak, saya langsung terhipnotis mengikuti Duta bernyanyi.



‘Oooh, Tuhan untuk kali ini saja beri aku kesempatan untuk menatap wajahnya...’

Ternyata banyak lagu yang saya ingat, hehehe. Saya memang generasi yang besar dengan lagu-lagu SO7. Ada Dan, Kisah Klasik untuk Masa Depan, JAP, Lapang Dada hingga Betapa. Saat lagu Melompat Lebih Tinggi dinyanyikan Duta, saya sudah tidak sabar ingin turun dari tribun. Ingin ikut bergabung bersama Geng Sheila yang lain, di dekat panggung. Merapat dan melompat, serta mengikuti Duta bernyanyi.

Suaranya Duta <3 | c: @perihujan_

Saya mengenal SO7 sejak jaman SMP, besar dengan lagu-lagunya. Lagu SO7 tidak hanya berdasar kekuatan musiknya tapi juga liriknya. Mendengar lagu SO7 membawa saya kembali kepada ingatan semasa remaja, tentang mimpi dan harapan. Saya tidak pernah bermimpi bertemu semua personil Sheila On 7 dari dekat. Akhirnya tanggal 22  September kemarin saya berada satu ruangan bersama mereka, bernyanyi bersama dan Melompat Lebih Tinggi bersama-sama.

Terima kasih Sheila On 7, untuk malam yang menyenangkan.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Premium Deluxe Atria Hotel Malang Sebagai Teman Perjalanan Bisnis Kamu

Beberapa waktu lalu salah satu teman saya mampir ke Malang untuk keperluan bisnis. Seperti biasa dia meminta untuk rekomendasi Hotel yang nyaman, dan tempatnya harus di pusat kota. Kebetulan dia harus ke tempat klien yang berada di pusat kota. Jelas dong, sebagai teman yang baik harus membantu memberikan solusi buatnya. Tapi karena permintaannya yang beragam saya sempat dibuat bingung juga. Dari meminta ukuran kamar yang tidak terlalu luas (ya, dia memang sedikit penakut), harus memiliki fasilitas oke dan pas buat keperlaun bisnisnya, dan juga harus di pusat kota agar aksesnya mudah. Agak ribet dan banyak maunya ya?
Untungnya beberapa waktu lalu Atria Hotel Malang meluncurkan tipe kamar yang baru yaitu Premium Deluxe,kamar ini memiliki fasilitas setara suite dengan ukuran kamar deluxe. Nah, sangat cocok dengan permintaan teman saya. Harganya pun bersaing hanya Rp 780.000/net/night. Fasilitas yang didapat  pun tidak kalah menarik. Mulai dari sarapan untuk dua pax, buah, surat kabar, minibar berupa soft drink, kopi dan teh untuk fasilitas kamar serta diskon 20% untuk loundry dan 10% untuk food and bavarage.
Atria Hotel Malang | c: traveloka.com

Tidak hanya itu ada fasilitas menarik lainnya yang ditawarkan untuk Tipe Premium Deluxe Atria Hotel Malang ini, yaitu free Afternoon Tea di Coban Louge. Jadi, saat kamu menginap di Premium Deluxe Atria Hotel Malang kamu bebas menikmati Afternoon Tea. Spesialnya kudapan di Afternoon Tea ini pun beragam mulai aneka cake hingga yang paling unik adalah Mini Pecel, yaitu rengginang yang  di atasnya diberi sayuran dan diberi bumbu pecel. Hmm, unik kan? Oia, meskipun Afternoon Tea ini hanya diberikan untuk tamu yang menginap di Premium Deluxe Atria Hotel Malang, ternyata selain tamu pun dapat mencoba untuk santai dan menikmati Afternoon Tea ini. Kamu cukup membayar 20 ribu saja, sudah dapat minum teh dan makan kue sepuasnya. Jadi, acara bertemu klien tetap seru tanpa harus meninggalkan hotel.

Mini Pecel, hidangan untuk Afternoon Tea | c: perihujan_
Black Hot Dog | c: perihujan_

Selama bulan September sampai Oktober, Atria Hotel Malang menyiapkan menu sajian istimewa antara lain Giant Black Burger and Hot Dog, Avocado Mousse, Tiramisu, dan Choco cake. Dan bulan ini Chef Atria Hotel Malang menyiapkan aneka menu dengan olahan Iga mulai Iga Bakar Rica, Iga Bakar Kecap, Pindang Iga dan Iga Konro. Untuk sajian ini dipatok harga Rp 88.000 net/porsi.
Tipe Premium Deluxe Atria Hotel Malang memang paling pas untuk teman perjalanan bisnis kamu. Selain fasilitas yang lengkap, Atria Hotel Malang juga menyiapkan kebutuhan Business Center untuk keperluan print dan wifi. Dan kalau kamu ingin jalan-jalan ke Mall atau ke tempat lain untuk bertemu klien Atria Hotel Malang juga menyediakan Shuttle Service. Duh, Makin dimanjakan, jadi bisnis lancar hati pun tenang.
Sepertinya teman saya cukup puas dengan service yang dia terima selama menjadi tamu Premium Deluxe Atria Hotel Malang. Teman saya saja suka, bagaimana dengan kamu? Jika kamu berminat untuk menginap di Atria Hotel Malang, silakan datang langsung di Jalan Letjen. S. Parman no 87-89, Malang atau kamu juga dapat melakukan reservasi ke no telpon (0341) 409999.

Minggu, 18 September 2016

Romeo Gadungan Sebuah Review

Romeo Gadungan| c: @perihujan_

Penulis: Tirta Prayudha
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 212 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-780-863-1
Harga: Rp55.000,-

***
Seperti kata pepatah, ada yang pergi ada pula yang datang. Nah, kalau cinta pergi, yang datang apa? Tentu saja patah hati! Ada saja penyebab patah hati gue—dari masalah kecocokan, pekerjaan, agama, atau suku. Dan rasanya, gue semakin susah untuk tertarik dengan seorang cewek. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa pernah ada kisah selanjutnya. Terkadang alasannya dari pihak cewek, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya. Intinya, cinta tak berpihak pada gue. Kisah cinta Romeo sungguhan dengan Juliet saja nggak happy ending, apalagi gue yang cuma menjadi seorang Romeo Gadungan!

Tirta Prayudha akan berbagi cerita tentang patah hati-patah hati terbaik yang dialaminya, mulai dari cinta karena beda agama, tarik ulur seperti layang-layang, di-PHP-in gebetan, sampai cinta monyet zaman SD. Buat kamu yang sedang putus cinta, tenang saja... kamu nggak sendirian, kok. Seberapa pun sakitnya, berapa pun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk bisa kembali sembuh, selalu ada nilai yang bisa dipelajari. Ada proses pembelajaran yang dialami.

***
Semua setuju patah hati itu enggak ada yang bakal baik-baik saja, tapi tidak semua orang dapat mengemas patah hati dengan cerita yang manis dan tidak terkesan menggurui. Mungkin itu yang ingin disampaikan Tirta dalam buku ketiganya atau kedua untuk buku solonya. Romeo Gadungan memang bercerita tentang patah hati yang dialami oleh penulis. Tentang cinta beda agama, beda suku hingga cerita patah hati karena belum bisa move on dari cinta yang lama.

Saya adalah orang yang agak pemilih untuk membeli buku dengan genre Pelit (Personal Literature). Tapi untuk buku ini jujur saya sudah menunggu lama buat rilisnya. Seperti Pelit pada umumnya, ada beberapa cerita yang feelnya dapet ada yang hanya sekadar tempelan saja. Jika kamu pembaca setia personal blog Tirta tentu hapal dengan cerita Sepatu Kiri. Nah, dalam buku ini Tirta banyak cerita tentang Sepatu Kiri, dan entah mengapa di sini saya lebih suka versi di blog daripada versi bukunya. Tapi ini masalah selera saja sebenarnya.

Cerita favorite saya jatuh pada Layang-Layang dan Fast Car. Yang paling saya suka adalah Layang-Layang yang chapter 2, tentang memaafkan. Tidak mudah untuk memaafkan kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Untuk Fast Car mungkin ceritanya yang hampir mirip dengan apa yang pernah saya alami, membuat saya berpikir...damn, ini nyesek banget. Cinta beda suku itu gak pernah bisa baik-baik saja.

Cover Romeo Gadungan dibuat hijau stabillo, saya duga ini untuk menyamakan dengan buku pertamanya Newbie Gadungan yang berwarna kuning menyala. Untuk pemilihan cover masih dimaafkan, tapi untuk pemilihan font asli ini ganggu banget. Beberapa masih banyak typo, jadi merasa kalau buku ini dibuat buru-buru. Bacanya jadi seperti dikejar-kejar. Halah.

Ok, buku ini cukup menghibur dan seperti blog post Tirta di personal blognya saya seperti sedang mendengarkan seorang teman yang sedang bercerita. Good job Ta, btw cewek salmonnya kok gak masuk di buku ini sih? Hehehe. Ditunggu buku selanjutnya, mungkin novel tentang Layang-Layang atau Sepatu Kiri. Akhirnya 4/5 bintang untuk Romeo Gadungan.

Kamis, 01 September 2016

Burung Namdur Betina adalah Bukti untuk Menikah Tidak Hanya Butuh Cinta

Sarang Burung Namdur | Copyright: http://i.pbase.com/

Beberapa hari lalu saya ngobrol bareng Partner. Obrolan tentang pernikahan adalah hal yang sering kami bahas akhir-akhir ini, mungkin semacam kode bahwa seharusnya kami segera mengakhiri hubungan partner berasas simbiosis mutualisme ini menjadi partner hidup. YHA. Jadi abaikan prolog ini. Partner memang agak nyentrik dan sedikit absurd di kelasnya. Malam itu kami ngobrol tentang Burung Namdur. Lah, apa hubungannya Burung Namdur dengan pernikahan? Ini penjelasnnya.

Burung Namdur betina sebelum kawin dengan pasangannya dia akan menyeleksi siapa yang akan menjadi pejantannya. Burung Namdur  jantan akan menarik perhatian betinanya dengan menari-nari di depan sarang yang dibuatnya. Jangan salah, sarang yang dibuat Burung Namdur ini beneran bagus. Sarang Burung Namdur ini tidak biasa, bahkan para ahli menjuluki burung ini dengan arsitek ulung karena keahliannya membuat sarang.  Jika tarian Burung Namdur jantan ini menarik si betina, maka mereka akan kawin. Jika tidak? Hmm, jangan harap Burung Namdur jantan dapat mengawini betina pilihannya. Kamu mungkin berpikir Burung Namdur betina itu matre, iya memang. Tapi mereka realistis.

Coba kamu pikir apa yang terjadi jika Burung Namdur betina tidak pilih-pilih pasangan? Di mana anak-anak mereka tinggal? Rumah adalah hal penting, untuk itulah Burung Namdur sangat mengutamakan hal ini. Bagi mereka sarang yang bagus akan menjamin hidup mereka. Tarian para jantan adalah wujud usaha mereka, untuk menarik perhatian betinanya. Jadi ibaratnya sarang adalah harta, tarian adalah penampilan. Ingin menarik perhatian calon pasangan kamu jangan hanya modal cinta saja, harta dan penampilan juga penting.

Hal ini menarik, Burung Namdur saja tidak hanya mementingkan cinta untuk memutuskan hidup bersama. Jadi apakah masih salah jika saya bilang, cinta saja enggak cukup buat bekal sebuah pernikahan? Okay, kita menikah memang butuh cinta karena cinta dapat menguatkan saat di antara kamu dan pasangan merasa putus asa. Tapi apakah hanya cukup itu saja. Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang tapi semua hal butuh uang. Setuju? Masak iya, mau makan cukup hanya dengan cinta? Emang kenyang ya? ENGGAK.

Tapi bukan berarti saya enggak percaya dengan rejeki pernikahan. Saya percaya orang yang menikah memiliki rejekinya masing-masing. Bahkan mungkin berlipat daripada saat sendiri. Tapi bukan berarti saya tidak boleh memilih pasangan yang mau diajak sukses bersama alih-alih diajak susah bersama, kan? Saya yakin hubungan pernikahan akan lebih menyenangkan jika saat memulainya, saya dan pasangan sudah memiliki modal. Pekerjaan yang setle salah satunya.

Jadi masih menganggap bahwa dengan cinta saja cukup membuatmu yakin untuk menikah? Kalau saya, nanti dulu. Karena bagi saya untuk jatuh cinta butuh perasaan dan penghasilan untuk merawatnya. Atau hal ini hanya berlaku untuk saya saja? Selamat hari ini.

Rabu, 31 Agustus 2016

Hal yang Hanya Kamu Rasakan Saat Memiliki Pasangan Gemini

copyright: elle.com


Heio, sudah lama tidak menulis di Blog. Okay, jika kamu gak suka dengan cerita tentang zodiak dan lain sebagainya lebih baik skip postingan ini. Blog post ini aku buat suka-suka, jadi kalau suka dengan judulnya monggo dibaca kalau tidak silakan tutup postingan ini daripada patah hati 

Ok, here we go!

Siapa sih yang gak kenal dengan zodiak Gemini? Zodiak yang dilambangkan dengan anak kembar ini memang unik. Banyak yang bilang pesona Gemini memang luar biasa, maka enggak heran jika pemilik zodiak ini banyak memiliki pacar #eh. Well, berikut ini adalah review suka-suka tentang apa yang bakal kamu rasakan saat memiliki pasangan Gemini.

Dikelilingi Api Cemburu

Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, Gemini itu memiliki pesona yang luar biasa. Maka enggak heran jika dia memiliki banyak penggemar. Meskipun wajah bukan prioritas utama pesona mereka, ketenaran mereka tetap bikin spot jantung. Apalagi dengan penggemarnya yang ehm, mungkin posesif, bakal kelar hidup kamu memiliki pasangan Gemini. Jika enggak pinter menahan diri, dan mengatur cemburu bisa sakit hati terus. Sialnya Gemini ini tipe orang yang ogah kehilangan penggemar. So, mereka akan sangat menikmati perhatian penggemarnya. Meladeni fans bangetlah. Maka, siap-siap saja makan hati saat mereka sibuk meladeni penggemarnya. Meh ~

Cinta sih, Tapi Harus Tahan dengan Sikap Cueknya

Gemini itu paling susah jatuh cinta. Meskipun sudah nyata tertarik sama seseorang bukan berarti mereka akan langsung mengakuinya. Ada saja alasan untuk tarik-ulur perasaan pasangan. Jadi saat kamu jadian dengan Gemini, belum berarti kamu memenangkan hatinya. Saat kalian resmi pacaran,  perasaannya belum tentu sepenuhnya buat kamu. Mereka ini butuh waktu yang lumayan untuk memutuskan beneran cinta atau hanya sekedar suka. Padahal ya mereka udah resmi jadi pasangan kamu. Makanya jika kamu punya pasangan Gemini harus ekstra sabar. Dan iinilah alasan mengapa Gemini sering jadi korban ‘ditinggal pas sayang-sayangnya’. Hahaha.

Enggak Romantis

Jika kamu penggemar drama dan memiliki pasangan Gemini, kelar hidup kamu. Gemini itu luar biasa cuek dan kata romantis adalah hal tabu dalam kehidupannya. Jadi saat kamu mengharapkan hal romantis dari Gemini, lupakan saja mimpi indah kamu itu. Bagi Gemini hidup itu harus memakai logika. Urusan menye-menye tentang cinta itu urusan nomor sekian. Sayangnya, meskipun enggak suka hal yang romantis, Gemini sangat senang diperhatikan. Curang ya? IYA. Hmm, pantes saja paling cocok sama Leo yang suka merhatiin pasangannya. Aish, bisa aja Yu!

Saat Bersamanya Kamu Seperti Bersama Oom Google

Iya, Gemini itu cerdas dan banyak tahu. Dia sangat up to date, jadi perkembangan informasi apa pun pasti tahu. Kecerdasannya inilah yang membuat Gemini banyak penggemarnya. Sekedar tips, Gemini sangat menyukai orang yang dapat ‘nyambung’ saat diajak ngobrol. Jadi pastikan kamu memiliki minat yang sama dengannya jika ingin membuat dia tertarik padamu. Uhuy, karena bagi Gemini cantik/ganteng saja enggak akan berarti apa-apa jika otak kamu kosong. Bumm!

Nah loh, itu tadi 4 hal yang bakal kamu rasakan saat memiliki pasangan berzodiak Gemini. Boleh percaya boleh enggak, ya namanya juga postingan suka-suka. Caio!

Kamis, 30 Juni 2016

Karena Bersih Tidak Harus dengan Sabun, Maka Saya Memilih Cetaphil (Review)

Udara dingin bukan berarti bebas dari kulit kering. Saya memiliki kulit wajah kombinasi, yang setiap musim dingin sering bermasalah dengan kulit kering. Rutin membersihkan wajah tidak menjamin bebas masalah kulit seperti komedo dan kulit kering. Ibaratnya rajin membersihkan wajah dengan harapan kulit menjadi bersih, eh yang terjadi kulit menjadi lebih kering. Benar-benar dilematis. Apalagi untuk saya yang lumayan pemilih soal produk skincare.

Setiap pagi dan sebelum tidur saya rutin mencuci wajah dengan sabun muka, memang kulit menjadi bersih masalahnya kulit wajah menjadi kaku. Setelah sibuk googling, penyebab kulit wajah menjadi kaku selesai mencuci wajah dengan sabun muka karena kandungan sabunnya. Setelah beberapa kali mencoba pembersih wajah dan sabun muka, akhirnya saya bertemu dengan Cetaphil Gentle Skin Cleanser.

Mengapa Cetaphil?

Cetaphil
Cetaphil Gentle Skin Cleanser | Photo By; @perihujan_

Pertama kali melihat kemasan Cetaphil sedikit kurang yakin, apa benar ini skincare untuk pembersih wajah? Kemasan putih dan tutup flip warna biru mengingatkan saya pada kemasan obat. Meskipun sempat ragu, saya membaca bahan yang terkandung dalam Cetaphil Gentle Skin Cleanser. Purified water yang terkadndung pada Cetaphil menyakinkan saya bahwa produk ini aman untuk kulit saya.

Serunya memakai pembersih wajah Cetaphil ini karena dapat digunakan dengan dua cara. Memakai air atau tidak. Jadi jika kamu malas mencuci wajah karena harus bersentuhan dengan air, maka kamu dapat menggunakan Cetaphil ini tanpa menggunakan air. Cukup tuang Cetaphil secukupnya lalu usap ke bagian wajah, bersihkan dengan handuk bersih. Kulit wajah pun menjadi halus dan kenyal.

Kalau saya lebih suka menggunakannya dengan air. Cukup oleskan Cetaphil pada wajah, lalu bilas hingga bersih. Kulit mnjadi lebih halus dan yang pasti bebas kaku. Setiap selesai membersihkan wajah, saya suka menepuk-nepuk wajah saya, rasanya kenyal dan ciumable.

Cetaphil terbuat dari bahan alami, bebas sabun dan yang pasti bebas parfum jadi aman buat kulit. Produk buatan Kanada ini, cocok untuk semua umur. Karena teksturnya halus dan lembut serta tidak pedih membuatnya cocok dipakai anak kecil sekali pun.

Di Mana Mendapatkannya?

Jika kamu tertarik untuk mencoba produk ini, kamu dapat membelinya di modern store seperti Guardian, Century dan Watsons. Meskipun banyak yang bilang Cetaphil mahal, tapi dengan hasil yang bagus saya rasa Cetaphil ini worth it banget.

Bagaimana tertarik mencoba?

Senin, 04 April 2016

Membiasakan Diri


Perkara rindu memang tidak mudah. Hal yang menyenangkan dari rindu bukanlah saat merindukan seseorang, atau saat dirindukan seseorang. Rindu yang paling menyenangkan adalah saat kamu merindukan seseorang, dia pun merindukanmu. Iya rindu caption, hehehe. Setelah menulis postingan yang ini, saya memutuskan untuk tidak lagi menyimpan semua no handphone dan dengan sengaja uninstall satu platform social media yang biasa kami gunakan. Entah, saya merasa lebih baik saat tidak memiliki akses untuk menghubunginya.

Sebut saya sedang patah hati. Saya hanya sedang membiasakan diri tanpanya, tidak tergantung lebih tepatnya. Saya sedang membiasakan diri untuk bahagia tanpa melibatkannya. Apakah saya benar-benar mampu? Berat adalah yang saat ini saya rasakan. Saya tahu, dia sedang berusaha untuk itu. Dia sedang mencoba untuk bahagia tanpa saya.

Apakah saya berharap dia kembali melirik saya? Mencoba mendekati saya lagi? Tidak. Saya tidak ingin mengemis perhatiannya. Saya tidak ingin dia merasa kasihan, dan merasa bertanggung jawab, dengan apa yang saya rasakan saat ini. Bukankah ini lebih baik?

Saya teringat ucapan mantan atasan saya di kantor dulu. Perubahan itu selalu ada, perkara kita bisa atau tidak tergantung dari diri kita. Kita tidak mungkin bisa memakai celana dari sisi kiri jika kita terbiasa memakai celana dari sisi kanan. Tapi, bukan tidak bisa kita akan bisa memakai celana dari sisi kanan jika kita mau mencobanya. Berlatih dan membiasakan diri untuk itu. Begitu juga dengan perasaan.

Jika kemarin, hari ini, atau mungkin besok saya masih sulit untuk tersenyum dengan tulus tanpanya. Hari ini saya akan mencoba, bahagia tanpa dia. Mungkin tidak hari ini, saya akan mampu melakukannya. Tetapi saya telah mencoba, dan akan terus berusaha melakukannya. Membiasakan diri, melakukan hal-hal yang biasa saya lakukan bersamanya dengan seorang diri. Atau jika saya cukup beruntung maka saya akan mencoba bersama orang lain.

Hal yang akan saya lakukan selain menghapus semua kontaknya adalah berhenti menulis tentangnya. Anggap saja ini tulisan terakhir tentangnya sekaligus ucapan perpisahan. Iya, selamat tinggal karena saya ingin bahagia tanpamu.

Malang menjelang tengah malam, 3 April 2016.

Minggu, 03 April 2016

Cerita Lain BE KRAF Inspiring Founders

Narasumber super kece on stage | Inspiring Founders - BE KRAF

Berawal dari hobi ngerumpi dengan Wenny dan beredar di twitter, akhirnya sabtu tanggal 2 April 2016, saya bersama Wenny dan Endah terdampar di salah satu acara BE KRAF (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia). Mengikuti acara Inspiring Founders yang disponsori oleh BE KRAF yang bertempat di Hotel harris. Banyak acara seru yang digelar BE KRAF berhubung waktunya bersamaan, akhirnya kami memilih Inspiring Founders untuk mengisi malam minggu yang syahdu kali ini.

Sebagai salah satu rangkaian Ulang Tahun #Malang102 Inspiring Founders mengundang 3 narasumber yang istimewa. Ada Hadi wenas CEO – mataharimall.com, Natali Ardianto CTO – tiket.com, dan Irzan Raditya CEO – yessbossnow.com ketiga narasumber sharing ilmu mulai pukul 14.00 – 17.00 wib.

Meskipun acara molor dari jadwal yang ditentukam yaitu sekitar 30 menit lebih, secara keseluruhan acara ini menarik. Diskusi antara peserta dan narasumber pun berlangsung menyenangkan. Ada satu pertanyaan yang menarik dari salah satu peserta, kurang lebih pertanyaannya adalah tentang fenomena semua ingin menjadi CEO, ingin jadi pengusaha, semua ingin menjadi pemilik modal. Jika semua jadi pemilik siapa yang akan bekerja jadi IT (disclamair penanya adalah mahasiswa IT dan dia menyampaikan isi hatinya juga teman lainnya).

Menarik, akhir-akhir ini saya pun merasa budaya latah sudah menjadi trend. Tidak hanya soal profesi, pun yang lainnya. Ketika semua berlomba-lomba menjadi pengusaha, semua sibuk jualan apa saja. Dan jawaban dari Pak Natali CTO tiket.com membuat saya merenung. Beliau menjawab bahwa beliau tidak ingin jadi CEO cukup menjadi CTO. Jadi CEO itu banyak yang dipikirkan biarkan mereka yang terpilih memikirkannya. Bukan Pak Natali tidak ingin, Teknologi adalah dunianya maka beliau akan melakukan hal yang terbaik dari keahliannya itu.

Saya sempat tersentil, mengingat kejadian beberapa bulan ini. Pilihan saya untuk fokus ke dunia menulis. Menjadi seorang content writer secara full time dan meninggalkan dunia akuntansi. Meskipun tidak benar-benar meninggalkannya, pilihan saya untuk memilih dunia menulis masih membuat saya gamang. Saya masih sering bertanya, apakah benar pilihan saya? Bukan gengsi atau hanya ingin mengikuti trend? Saya tidak ingin terjebak dengan kata-kata ‘kesempatan’.

Goodie bag dari BE KRAF - suka :)

Saya kembali melihat ketiga narasumber tersebut, mereka adalah orang-orang yang fokus dengan tujuan hidupnya. Mendedikasikan diri dengan apa yang disukai dan bonusnya, apa yang mereka tekuni menghasilkan uang. Bukankah hal itu impian setiap orang? Tetapi tidak semua mimpi setiap orang harus berjalan sama, runut dengan detail yang sama. Setiap orang memiliki porsi kegagalan yang berbeda.

Para narasumber yang duduk di depan saya bukanlah orang yang tanpa pernah mencicipi kegagalan. Meraka pernah gagal. Pernah jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi hingga seperti saat ini. Mereka bekerja untuk mewujudkan mimpi. Sepeti yang disampaikan CEO yessbossnow.com Pak Irzan impian tanpa eksekusi adalah omong kosong. Malam ini saat saya kembali melihat buku mimpi saya, ada beberapa yang belum terwujud. Ada impian yang sudah saya tulis sejak pertama kali lulus kuliah. Saya kembali bertanya, bagaimana mimpi itu bisa terwujud jika saya hanya sibuk menulisnya tanpa bergerak untuk mewujudkannya.

Mungkin benar, saya butuh bergerak. Tidak hanya sibuk menulis mimpi saya dan hanya bergerak ragu-ragu. Karena waktu yang paling tepat adalah sekarang, bukan nanti, besok atau minggu depan. Terima kasih BE KRAF untuk Inspiring Founders-nya benar-benar menginspirasi. Terima kasih, semoga tahun depan ada lagi. Ngomong-ngomong, CEO mataharimall.com gaul sekali Pak Wenas.

Salam, Ayu Puji Lestari.

Minggu, 20 Maret 2016

Senyum Terakhir Aira




Aku merapikan ujung kebaya putih itu. Mengusapnya pelan, aku tersenyum. Hampir tiga bulan aku menyiapkan acara ini. Mendesign kebaya putih ini sendiri, memastikan bahannya sesuai dengan yang aku inginkan. Pesta dengan konsep warna putih.
“Ra, bagus ya?” Ucap Talita, yang sejak tadi berdiri di sampingku, mengamatiku.
“Iya, sesuai dengan desain yang aku minta. Eh, kamu inginkan.” Kataku, tersenyum.
Aku mengambil sepatu dengan manik mutiara, menaruhnya di sisi tempat tidur. Seperti kebaya dan semua yang menjadi printilan dalam perayaan hari ini, kamar ini pun didesaign warna putih. Wangi melati menyeruak di hidungku.
Wangi yang aku sukai, pun dengannya.
Talita, menarik lenganku. Membimbingku agar aku duduk di sampingnya.
“Ra, terima kasih ya.”
Aku mengangguk. Mengusap punggung tangannya. “Berbahagialah.”
Berbahagialah, agar aku rela melepasnya. Agar aku benar-benar merasa baik-baik saja.
Talita memelukku. Aku mengusap punggungnya. “Maafkan aku, Ra.”
Aku mengangguk, menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak pecah. Sementara dadaku semakin sesak mendengar ucapan maaf dari Talita untuk kesekian kalinya. Kumohon, Talita berhentilah meminta maaf. Aku tidak ingin ucapan maafmu, semakin membuatku merasa menjadi wanita paling nelangsa di hari ini.
Aku ingin terlihat bahagia, sama sepertimu.
“Sudah, ayo segera ganti pakaianmu. Satu jam lagi acaranya dimulai.”
Talita mengangguk. Dibantu perias, yang juga sesuai rekomendasiku Talita mengganti pakaiannya dengan kebaya yang sejak tadi kuperhatikan. Sepuluh menit kemudian, Talita berdiri di hadapanku. Cantik, kebaya itu pun pas ia kenakan. Dia menarik napas panjang.
“Aku gugup sekali.”
Aku tertawa. “Hal yang biasa itu.”
Aku mendekat ke arahnya, lalu mengeluarkan handphoneku. “Sini, selfie dulu denganku. Biar hilang gugupnya.” Kataku, disambut gelak tawa perias dan beberapa timnya.
Talita mencubit pinggangku. Aku tertawa. Sementara dadaku sudah tidak sanggup menahan degup ngilu menahan sesak. Semakin aku memaksa terlihat baik-baik saja, semakin aku nelangsa. Berkali-kali aku menghapus air mata yang kurang ajar menetes. Dan aku sekuat tenaga menyembunyikan di hadapan Talita.
 Aku melihat bayangan Talita dari cermin pada nakas yang berada di kamar ini. Cantik. Semua laik-laki pasti menyetujuinya. Talita adalah wanita cantik, lembut, dan dia adalah sosok wanita yang menawan. Dia selalu memperhatikan hal detail, dia tahu bagaimana cara membahagiakan seorang lelaki. Dan yang semakin membuatku berbeda dengannya adalah dia tidak keras kepala sepertiku.
Aku tersenyum saat menyadari Talita yang tersenyum ke arahku dari bayangan cermin. Aku memalingkan wajah, tidak berani terlalu lama mentap wajahnya. Setiap kali melihat Talita, rasanya ada beberapa pisau yang menusuk ulu hatiku bersamaan. Ngilu.
Seseorang mengetuk pintu kamar. Wajahnya muncul dari balik pintu, Denia salah satu sepupuku berbisik. Acara akan segera dimulai, dan meminta Talita untuk segera keluar. Undangan sudah berkumpul.
Aku membimbing Talita, tangannya mengapit aku erat. Dingin. Aku tahu dia gugup. Tapi tahukah semua orang di sini aku tidak kalah gugupnya dengan Talita malam ini?
Menerima kenyataan lelaki yang dipilih oleh sepupumu yang begitu kamu sayangi adalah lelaki yang kamu cintai. Lelaki yang pernah mencoba untuk berjuang bersamamu. Lelaki yang memiliki mimpi yang sama denganmu. Jangan pernah membayangkan hal ini. Cukup aku yang mengalami kekacauan ini.
Aku mengantar Talita hingga di ruang tengah. Aku melihatnya duduk di antara para tamu undangan. Aku tidak berani menatap matanya. Ia melihat ke arah Talita. Aku berusaha untuk tersenyum. Talita duduk disampingnya, sementara aku duduk di belakang mereka.
Dia menoleh ke arahku. Aku berusaha untuk tersenyum.
Aku menatap punggung kedua pasangan tersebut. Lie dan Talita. Suara Lie mengucap akad terdengar nyaring dan tegas. Apakah kamu begitu yakin dengan pilihanmu? Lie apakah kamu benar-benar bahagia?
Semua mebucap syukur, saat kata sah diucapkan penghulu. Semua dalam ruangan ini berdoa, mendoakan pasangan baru ini. Aku melihat Talita mencium punggung tangan Lie. Semua tersenyum lega.
Aku berusaha tersenyum. Lie, mendekat ke arahku. “Terima kasih, Me.”
Di ruangan ini tidak adakah yang ingin bertanya bagaimana perasaanku?

Malang, 20 Maret 2016.

Saat merelakanmu adalah sesuatu yang sedang aku usahakan.

Minggu, 13 Maret 2016

Ketika Batas itu Sampai Pada Titik


Sekuat apa pun seseorang berjuang, pada akhirnya ia pun memiliki batasnya. Jenuh, lelah dan merasa sia-sia. Mungkin itu yang dia rasakan kepada saya. Merasa cukup dan sia-sia. Mungkin, kamu pernah merasakan ingin dekat dengan seseorang tetapi untuk sekedar menyentuh sedikit hatinya saja tidak mampu. Beberapa orang terdekat saya, selalu mengatakan bahwa saya terlalu angkuh dan keras kepala, untuk sekedar mengakui bahwa saya pun membutuhkan dia.

Mereka selalu menyebut hitungan tahun, Berapa dia bersabar dengan saya. Sejak saya patah hati dengan kegagalan saya dengan seseorang di akhir studi saya, hingga kegagalan paling drama dalam episode percintaan saya dengan mantan kemarin sore. Dia selalu ada di barisan paling depan untuk memberi semangat pada saya. Saat saya jatuh, maupun terbang karena cinta. Dia selalu ada. Meskipun dia bukanlah seseorang yang selalu menjadi tempat curhat saya.

Hingga kemarin saya bertemu dengannya, tidak sendiri tetapi dengan seorang wanita. Sejatinya saya berniat nonton, tapi urung ketika dia dan wanitanya berada di bioskop tempat saya ingin menghabiskan malam minggu dengan sendiri tersebut.

Gugup, kaget dan bingung.

Saya dengan wajah lempeng mengulurkan tangan, menjabat tangannya dan bertanya kabar. Saat jabat kami terlepas, sang wanita buru-buru mengulurkan tangan sambil menyebut nama. Saya menerima uluran tangan wanita tersebut, saat jabat kami terlepas saya melihat tangan wanita tersebut mengapit dia. Saya tersenyum, dia tersenyum, juga wanita tersebut. Saya pamit, meninggalkan gedung bioskop. Tidak ingin menambah kekacauan, rencana untuk nyemil bakpao pun urung saya lakukan. Tiba-tiba saya tidak bersemangat.

Saya menuju toko es cream, di depan bioskop. Memesan es cream, dan membiarkannya mencair tanpa saya sentuh sedikit pun. Ingatan saya, terulang pada kejadian beberapa tahun lalu saat saya dan dia mengobrol di toko es cream ini. Dia mengucapkan kalimat yang membuat saya tetap bertahan dengannya hingga saat ini.

“Kamu tahu yu, tidak akan pernah ada alasan yang logis untuk mencintai termasuk membenci seseorang.”

Drama? Hahaha, anggap saja demikian. Dia adalah teman lelaki yang paling memahami saya. Pasang surut hubungan saya dengannya tidak terhitung. Yang saya tahu dia selalu ada saat saya terpuruk, bahkan orang yang saya cintai pun tidak menyadarinya. Sementara dia cukup mengerti meskipun saya tidak pernah bercerita padanya.

Saya kembali melihat foto yang kami buat dua bulan yang lalu, saat dia menemani saya untuk menyelesaikan deadline laporan di salah satu kedai donat. Memastikan saya baik-baik saja. Saya melihat senyum yang terekam pada foto tersebut. Apakah senyum yang terekam saat itu kemarin benar-benar masih milik saya seutuhnya?

Entah, saya merasa ini adalah akhir bagi saya dan dia. Sudah saatnya saya berhenti, suka atau tidak saya harus berhenti untuk tergantung padanya. Saya kembali mengingat senyum wanita yang saya temui di bioskop tadi, dan saya pun ikut tersenyum. Iya, mungkin benar ini adalah akhir. Bukankah, kesabaran juga memiliki titik? Selamat berbahagia, kamu.

Minggu, 06 Maret 2016

Apa yang Harus Kamu Lakukan Selama 24 Jam di Jogja?

Seminggu yang lalu tanggal 27 Februari 2016, saya bersama salah satu teman saya Wenny melakukan tantangan 24 jam di Jogja. Sebenarnya kami tidak berdua, karena salah satu teman kami ketinggalan kereta maka tantangan #Jogja24Jam pun kami lakukan hanya berdua saja. Kami ke Jogja berbekal tiket promo dari Promo Imlek KAI Februari lalu.

Rangkaian Malioboro Expres membawa kami dari Stasiun Kota Malang pukul 20.15 hari sabtu. Rangkaian kereta kami cukup lengang, mungkin peak season sudah lewat ya? Dan kami pun memilih liburan setelah liburan panjang. Jadi sepanjang perjalanan seperti menyewa kereta 

Pukul 04.20 kami sampai di Stasiun Tugu, rencananya kami berniat ke Tugu buat foto-foto tapi urung kami lakukan. Kami pun menuju ke penginapan, buat numpang mandi dan istirahat sebentar. Mandi sudah, isi baterai handphone pun sudah. Oia, kami menginap di daerah Dagen meski agak kecewa dengan kamar yang kami pesan, tapi lumayan untuk membuat kami tidak terlalu terlihat kumal. Berikut itenary saya sewaktu di Jogja kemarin.

06.30 – 10.00 Candi Prambanan

Setelah berberes di penginapan, kami berjalan sebentar ke shelter untuk menunggu Trans Jogja 1A yang akan membawa kami ke Prambanan. Sepanjang perjalanan saya sibuk melihat tempat yang mungkin kelak bisa dikunjungi :p

Prambanan - Cantik
Pukul 07.00 kami sampai di Terminal Prambanan. Saya pikir letak terminal dan Prambanan dekat ternyata? JAUH. Hfft, saya berkali-kali mengeluh karena merasa dibohongi  tapi karena saya sedang bahagia maka perjalanan jauh pun tidak jadi masalah *halah*. Sampai area Prambanan ternyata masih sepi, hanya ada 2 bus rombongan anak SMP, kabar gembiranya kami bisa leluasa untuk berkeliling di area Prambanan. Setelah membayar tiket seharga 30.000,- dan tidak lupa memotretnya agar kekinian saya memasuki area Candi Prambanan. 

Rencananya kami ingin naik kereta kelinci untuk mengelilingi kompleks candi, tetapi karena kereta tidak juga kunjung penuh akhirnya saya menyerah dan harus segera meninggalkan Prambanan. Tapi sebelum meninggalkan Prambanan saya sempat masuk ke Museum Prambanan. Koleksinya terawat apik, beberapa diorama menggambarkan cerita tentang Candi Prambanan.

10.00 - 12.30 Makan siang, check out penginapan

Perjalanan ke Prambanan memang memakan waktu yang cukup lama, hampir setengah hari. Dari area Prambanan kami kembali menuju ke terminal untuk menumpang Trans Jogja untuk kembali ke kota. Oia, sekedar tips jika kalian ke Prambanan jangan lupa untuk membawa payung dan body lotion yang mengandung sun screen dan SPF. Balik dari Prambanan kulit saya langsung belang –“

Kembali ke penginapan, bersih badan dan membereskan barang-barang yang sempat saya tinggal di penginapan tadi pagi. Sekitar pukul 12.30 saya meninggalkan penginapan dan menuju KFC terdekat untuk makan siang. Hehehe, jauh-jauh ke Jogja makannya Bento.

13.00 – 15.00 Keraton, Museum Kereta dan Taman Sari

Setelah mengisi perut dan beristirahat sejenak, saya bersama Wenny melanjutkan perjalanan ke Kraton. Karena jarak Malioboro ke Kraton lumayan jauh akhirnya kami memutuskan naik becak tentu saja untuk mengejar waktu juga. Sesuai dugaan ternyata Kraton sudah tutup, dengan sedikit kecewa kami berputar arah ke Museum Kereta yang memang masih satu komplek dengan Keraton. 

Museum Kereta
Dengan tiket masuk 5.000,- per orang kami dibuat kagum dengan bentuk kereta yang dipajang di sana. Dan tentu saja namanya yang unik membuat Wenny memberanikan diri untuk bertanya alasan mengapa kereta-kereta tersebut namanya selalu ada Kyai-nya.

Taman Sari
Setelah puas berkeliling museum, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Sempat bingung dengan rutenya, tetapi dengan berbekal nekat mengikuti rombongan akhirnya kami sampai di Taman Sari. Tiket masuk ke Taman Sari sama seperti Museum Kereta yaitu 5.000,- per orang. Saya dibuat kagum dengan desain dari Taman Sari. Saya iseng membayangkan betapa repotnya menjadi Raja dan Putri saat itu mau mandi saja banyak aturannya. Hehehe.

15.00 – 15.30 Museum Sonobudoyo

Kunjungan super singkat. Pukul 15.00, saya meninggalkan area Taman Sari berjalan kaki lumayan jauh menuju ke Museum Sonobudoyo. Pukul 15.15 kami sampai di museum, sampai depan pintu masuk langsung ditodong sama mbak-mbak penjaga tiket diberi tahu 15 menit lagi museum akan tutup. Jdeer. Ya, daripada tidak tahu isinya apa saja di dalam Museum Sonobudoyo akhirnya kamu berkeliling di Museum tersebut. Tiket masuk hanya 3.000,- per orang. Begitu masuk area pamer, saya terkesima dengan koleksinya.

Salah satu koleksi di Museum Sonobudoyo

Museum yang berada di Jalan Trikora no. 6 ini memiliki koleksi yang cukup dinamis antara Jawa, Lombok dan Bali. Ada koleksi aneka jenis wayang, genta kalasan, moko dan Al-qur’an. Karena keterbatasan waktu kami hanya berkeliling singkat saja. Koleksi di museum ini benar-benar terjaga dan terawat. Menurut informasi di Museum Sonobudoyo ini setiap senin-kamis diadakan pagelaran wayang dengan cerita Ramayana. Untuk tiket pertunjukan 20.000,- mulai pukul 20.00 – 22.00. Jika ke Jogja lagi, sepertinya saya harus melihat pertunjukan wayang ini.

16.00 – 16.45 Museum Benteng Vredenburg

Salah satu diorama Museum Benteng Vredeburg
Tidak lengkap rasanya ke Jogja tanpa mengunjungi Benteng. Dengan tiket 2.000,- per orang saya dan Wenny keliling Benteng. Karena sudah lelah kami lebih banyak duduk di sekitar museum, yang kebetulan sudah sepi pengunjung.

17.00 – 17.45 Pempek Ny. Kamto

Kuliner! Akhirnya saya makan makanan khas Jogja. Iya meski pempek bukan makanan khas jogja, setidaknya Pempek Ny. Kamto adalah kulinar wajib jika kalian berencana berkunjung ke Jogja. Pempek Ny. Kamto sendiri ada beberapa cabang di Jogja, tetapi saya kemarin kebetulan mampir di pusatnya yaitu di Jalan Beskelan yang masih satu area dengan Malioboro.

Untuk variasi menu, kalian tidak perlu khawatir. Pempek Ny. Kamto menyajikan menu pempek dengan lengkap. Untuk cukanya pun ada dua manis dan pedas. Pempek digoreng tidak terlalu kering, dan rasanya tidak perlu diragukan lagi. Enak dan pas dilidah saya.

18.00 Menuju Stasiun Tugu

Kereta kami berangkat pukul 20.45 masih ada waktu seekitar hampir tiga jam. Berjalan dari Malioboro ke Stasiun Tugu ternyata membutuhkan waktu yang lumayan. Tepat pukul 18.45 kami sampai Stasiun. Beristirahat sejenak sambil ngantri untuk membersihkan tubuh alias cuci muka di toilet stasiun. Sambil sesekali melontarkan canda dan pandang tidak percaya sedang berada di Jogja seharian ini. Dan ya, kami harus kerja besok pagi.

Pukul 20.45 Malioboro Ekspres, membawa kami ke Malang. Kereta berjalan lambat meninggalkan Stasiun Tugu. Kaki saya mulai protes, mata saya mengantuk tapi hati saya bahagia. Badan saya mungkin terasa lelah, tetapi jiwa saya senang. Saya menikmati perjalanan #Jogja24jam kemarin.

Pukul 04.30 saya sampai di Malang. Kaki masih terasa nyut-nyut-an dan mata masih mengantuk. Tetapi saya harus kembali ke realita, nanti pukul 08.00 saya harus ngantor. Hehehe. Jadi, ke Jogja selama 24 jam? Siapa takut.