Minggu, 18 Agustus 2013

Fin





Pada Akhirnya.
Hari ini kita memutuskan untuk berhenti.
Berhenti mengatakan bahwa kita baik-baik saja.
Berhenti menyembunyikan tangis demi sebuah pengertian.
Berhenti menyimpan sesak demi sebuah kepura-puraan.
Berhenti untuk mempertahankan, apa yang harusnya diakhiri.
Berhenti untuk mencoba, bertahan pada hal yang sia-sia.
Agar sesak ini tak berubah menjadi luka.
Agar ngilu ini tak semakin membiru.
Maka, selayaknya kita berhenti.
Bukan demi sebuah alasan kedewasaan.
Bukan juga demi sebuah gengsi.
Mungkin aku menyerah,
mungkin juga kita terlalu lelah.
Dan,
Kurasa Tuhan paling mengerti, mengapa kita harus berhenti.
Bukankah Ia sebaik-baiknya pembuat rencana?
@perihujan_


Siang itu di sebuah coffe shop.
“Kita baik-baik saja kan?” Dia menunduk, entah apa yang ia cari. Aku merapatkan genggamanku, mengangguk.
“Percayalah, kita baik-baik saja” Aku meyakinkan.
“Ibu, Kak. Ibu tidak pernah menyetujui hubungan ini. sungguh ini tak mudah bagiku Kak.” katanya parau. Ia melepas genggamanku, menyusut air matanya. Aku tahu ini juga tak mudah bagiku. Baginya Ibu adalah segalanya.
Aku terlalu mencintainya.
Sejak awal Ia meminta untuk bertemu aku sudah menebak-nebak. Perasaanku tak nyaman satu bulan ini. Dia banyak menghindar, ternyata firasatku terbukti. Ia ingin berpisah.
Haruskah, kisah ini benar-benar diakhiri? Dua tahun kami bertahan. Dari jarak yang memisahkan, bersabar dengan pertemuan yang tidak pasti rutin dalam sebulan. Mengambil sela diantara kesibukan kami, demi menyesapi rindu yang meradang.
Haruskah semua berakhir?
“Kak..”panggilnya,
Aku menatapnya, binarnya meredup.
“Kumohon, lepaskan aku”
Sungguh ini tak mudah bagiku. Setahun lebih aku bersabar menjadi teman yang baik untuknya, hingga akhirnya kami memutuskan bersama. Menikmati hubungan teman jadi pacar ini. Yang kusesali ia tak pernah jujur jika selama ini Ia menyembunyikan hubungan ini dengan begitu rapi.
Kita yang baik-baik saja, hanya dari sudut pandangku.
Katamu, kamu berjuang sendiri untuk hubungan ini. Lalu aku kamu anggap apa? Sungguh pun ini tetap tak adil menurutku, mengapa Ia tak membiarkanku untuk ikut berjuang juga?
“Beri aku kesempatan.”
Ia tetap menggeleng.
Aku mengusap wajahku. Sebegitu burukkah aku?
“Anggap aku yang salah, anggap aku yang menginginkan ini. Benci aku semaumu kak, jika itu akan menjadikan mudah bagimu untuk melepaskanku.”
“Aku mencintaimu Dek, teramat sangat”
“Tapi Kakak juga harus tahu, karena aku mencintaimu maka ijinkan aku untuk mengakhiri semua ini.” Suaranya makin tercekat menahan tangis.
Drama apa lagi ini. Aku meraih tangannya, menggengaamnya erat.
“Kumohon Dek.”
Aku benar-benar tak ingin melepaskannya.
Tapi takdir telah memilih jalannya, Ia benar-benar pergi. Melepaskan genggamnya, memelukku sekilas dan berbisik pelan.
“Maafkan aku, kak.”

Pasuruan, 18 Agustus 2013

Pic : www.google.com

Flamboyan (R) --- 4




 Ada beberapa cara untuk mencintaimu, dalam diam salah satunya -- @perihujan_

Pagi.
Datang paling awal adalah rutinitas di kampus. Sebenarnya agak malas memaksakan diri berangkat pagi-pagi, seharusnya kebiasaan ini sudah berubah sejak aku menanggalkan seragam putih abu-abu ku. Tetapi Ayah, tak pernah rela aku meninggalkan rutinitasku.
Maka, setiap pagi aku duduk di taman ini. Menunggu kuliah pagiku dimulai, pukul tujuh sementara sejak pukul setengah tujuh aku sudah sampai di kampus ini. Hfft.
Haruskah rasa ini diberi nama?
Sebenarnya aku tak sendiri, ada Dia yang setiap pagi menemaniku. Sayangnya, Dia terlalu angkuh untuk sekedar duduk bersebelahan denganku. Dari buku-buku yang ia bawa, sepertinya Dia anak Akuntansi. Dari pengamatanku Dia berbeda dengan anak Akuntansi umumnya, tas ransel hitam, sepatu kets, dan head set yang menyumpal telinganya membuatnya berbeda dengan cewek ekonomi umumnya dan Akuntansi pada khususnya. Mungkin Dia alien yang terdampar di fakultas feminim ini, sama sepertiku.
Aku menamai Dia, Flamboyan. Karena tidak mungkin aku memanggilnya Mawar nama itu terlalu feminim untuknya. Ahahaha.
Bukan hanya taman fakultas tempat aku dengan nyaman melihat Flamboyan ku. Sudut Perpustakaan pusat lantai tiga adalah tempat favoritenya, selain itu Pusat Data Bisnis fakultas juga tempatnya mengisi waktu luang, serius berdiskusi dengan Bu Yuli kepala PDB adalah kegiatan favoritenya. Seperti siang ini aku lagi-lagi bertemu dengannya di Perpustakaan Pusat.
Dia sedang asyik entah sedang mengerjakan apa, buku berbagai jdul menumpuk di mejanya. Dia bolak-balik menyisiri Rak buku yang berderet tentang Akuntansi. Beberapa kali aku melihatnya dari balik kaca mataku. Dia itu cewek yang manis, rambutnya yang panjang dikuncir seadanya. Dan aku selalu menyukai cover laptopnya One Piece. Jarang sekali aku menemui cewek yang menyukai Anime tersebut. Flamboyan memang berbeda.
Handphoneku berkedip, sms dari Yanti. Membacanya sekilas, back to reality Yanti menungguku di Fakultas. Yanti adalah realita, sementara Flamboyan adalah mimpi. Yeah.
Aku membereskan buku-buku yang tadi kubaca, meletakkannya pada Meja ‘selesai dibaca’. Aku berjalan melewati mejanya dan,
Brukk..
“Sorry, aku gak lihat jalan..” kataku cepat, lalu membantu yang kutabrak membereskan buku-bukunya. Aku mendongak. Dheg, Dia Flamboyanku.
“Nope” jawabnya singkat.
Aku menyerahkan buku terakhirnya. Dia menerimanya, tersenyum dan berlalu.
Duh, kenapa aku jadi gugup?
Sekali lagi aku melihat ke arahnya, Flamboyan kembali tenggelam dalam buku-bukunya. Apakah sebegitu sepi hidupnya?.

Pic : www.google.com