Jumat, 25 Desember 2015

Semua Memiliki Kesempatan untuk Kembali

Tahun 2015 hampir pada penghujungnya. Apa yang sudah saya capai? adalah pertanyaan yang kerap mampir dalam pikiran saya. Tahun ini banyak hal yang terjadi, selain sakit yang membuat aktifitas saya menjadi terbatasi adalah kedekatan saya bersama beberapa orang yang ingin saya abaikan kehadirannya di tahun lalu. Dan kembalinya, dia (baca mantan) menjadi teman bercerita, nonton atau membicarakan hal yang tidak penting lagi.

Kami mulai sering bertemu anggap saja seperti itu, jika satu bulan sekali kami masih menyempatkan untuk nonton itu dianggap sering. Mungkin hal itu bisa dibilang sering, untuk dua orang yang telah memutuskan berpisah. Atau hal itu biasa saja? Awalnya saya tidak percaya bisa kembali haha..hihihi, lagi dengannya. Mengingat sejak memutuskan berpisah dengannya dan saya memutuskan tinggal di kota Malang, saya tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Meski saya masih menyimpan semua kontaknya, saya masih terhubung di semua akun media sosialnya. Waktu itu saya hanya ingin satu kebetulan yang mempertemukan kami lagi. Tapi Tuhan, tidak pernah mengaminkan. Maka, bukanlah satu kebetulan saat saya dan dia bertemu. Kami memutuskan untuk bertemu. Canggung. Kami banyak diam pada pertemuan pertama kami, sibuk menikmati film yang diputar mungkin menjadi alasan yang tepat mengapa kami saling diam. Tanpa ada obrolan, basa-basi selesai pemutaran film. Kami memilih jalan sendiri-sendiri. Pulang, dengan tetap membawa pertanyaan yang sama. Bahagia kah dia? setelah perpisahan itu?

Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk bertemu kembali, kali ini dengan alasan yang sama. Kami tidak memiliki teman untuk nonton Avangers. Tuhan memiliki rencana, kami kehabisan tiket. Rencana Tuhan itulah yang menggiring kami untuk duduk di salah satu kursi waralaba milik Paman Sam, yang berada satu gedung dengan bioskop tempat kami ingin nonton.

Di tempat ini akhirnya saya bercerita setelah perpisahan itu, apa saja yang saya lakukan untuk 'membunuh ingatan', dan usaha saya untuk merasa baik-baik saja dan tentu saja tentang alasan saya kembali ke kota yang dulu sempat menjadi impian kami untuk tinggal bersama.

Dia pun bercerita, tentang usahanya untuk berdamai dengan banyak hal, berusaha untuk tidak membenci saya, dan tentu bagian yang saya sukai adalah mengetahui dia baik-baik saja ketika kami tidak lagi bersama. Saya bahagia saat dia bercerita tentang usahanya untuk dekat dengan beberapa wanita, yang ceritanya sempat saya baca di salah satu media sosialnya. Saya bahagia, mendengarnya baik-baik saja dari mulutnya sendiri bukan dari sosial medianya, atau dari orang lain. Dan itu cukup bagi saya. Meski akhirnya saya tahu, dia membenci dan kecewa terhadap saya. Iya, saya memang menyebalkan.

Ada kelegaan saat melepasnya kali ini. Tidak ada beban. Kami berpisah dengan senyum. Setelah pertemuan itu, saya tidak sungkan lagi bertanya kabar padanya. Berkomentar sedikit jahil, dan tidak ragu bersorak menyemangatinya dengan usaha barunya. Setiap ada film baru, kami kembali menjadi partner yang baik untuk nonton.

Kami kembali dengan hubungan yang baru. Bukan berharap hubungan ini berkembang menjadi seperti yang telah lalu. Tidak, bukankah semua memiliki kesempatan untuk kembali? dengan status yang berbeda tentunya.

Terima kasih kamu, telah memanggil saya teman dengan segala cerita kita di masa lalu.

Malang, 25 Desember 2015.

Selasa, 01 Desember 2015

Desember Awal yang Memulai



Dulu menulis di tempat ini adalah kegemaran. Setiap hari, bingung menyiapkan tulisan untuk diposting di rumah ini. Sampai akhirnya aku lupa kesenangan menulis di rumah ini. Awalnya masih sesekali menengok tempat ini, hingga akhirnya tidak sama sekali. Awalnya berdalih sibuk, aku tidak menulis di rumah ini. Aku pikir, toh siapa juga yang mau membaca tulisanku yang kadang tidak bisa membedakan di awalan atau di sebagai kata depan. Hehehe.
Sampai satu pesan di Tumblr beberapa hari lalu muncul. Dia bertanya tentang kelanjutan cerita 'Lie' dan "Ailya dan Melia"  ternyata dia menunggu kelanjutan cerita, yang aku buat beberapa tahun lalu itu. Dan akhirnya menyadarkanku, hey...ternyata ada juga yang baca blog aku ini. *mulai sombongnya*.
Seperti yang pernah ditulis @unidzalika beberapa waktu lalu, iya aku akan menulis, meski tidak ada yang membacanya.

By the way, selamat datang Desember ~

Selasa, 17 November 2015

Kepada Rindu Yang Tidak Bisa Diam

Kepada kamu
Selalu ada waktu untuk mengenangmu tanpa ada gangguan.
Tanpa nyinyir, mengapa masih ada rindu meski lama kita berpisah.
Tanpa ada tapi, dan mengapa.
Sesederhana aku merindukanmu.
Iya, aku merindukan kamu yang selalu membuat aku menunggu.
Membuat aku gemar menghitung hari, meski seringkali aku kecewa.
Rinduku tak berakhir sua.
Iya, aku merindukanmu yang seringkali membuatku menangis.
Yang diakhir kita bertemu, aku mengutukmu sebagai lelaki tak berperasaan.
Membiarkan aku pergi, tanpa memintaku untuk bertahan.
Aku merindukanmu.
Merindukanmu
Merindukan kita.
Malang, 17 November 2015.

Senin, 16 November 2015

Semua Orang Akan Berubah

Kamu berubah.
Masak sih?
Iya...
Itu adalah penggalan obrolan saya dengan seorang teman lama, jika memang bisa dibilang seperti itu. Kami sudah mengenal sejak lama, saya sempat menyimpan rasa padanya. Karena sadar diri, waktu itu saya memilih mundur.

Dulu dia mengenal saya sebagai seorang yang pendiam, kutu buku, jauh dari kata gaul, dan tomboy. Mungkin sederet alasan itu yang membuatnya sulit untuk mengetahui dan membaca perasaan saya. Dan entah sekarang saya bersyukur dia tidak pernah menyadari itu. Akhirnya, saya hanya menjadi teman baiknya, teman diskusinya, tentang cinta dan citanya.

Saya? Tetap sebagai si cewek kurang gaul, karena yang ia tahu teman saya ya itu-itu saja. Sama sekali tidak populer. Jauh dari kriteria cewek yang pantas untuk diajak  sebagai pendamping wisuda. Hehehe, bukankah pencapaian pacaran jaman kuliah sampai itu saja? *kemudian dirajam*

Sampai kemarin kita reuni kecil-kecilan, saat dia dinas ke kota ini. Dia melihat saya yang sekarang, dia berkata saya berubah. Meski saya sama sekali tidak pernah tahu apa yang berubah dari saya. Saya masih suka tertawa ngakak di depannya, makan banyak tanpa malu, tetap memanggilnya dengan sebutan 'Dudul' seperti dulu, masih terlihat jauh dari kata gaul menurut seleranya. Tetapi tetap mengatakan bahwa saya berubah.

Mungkin benar saya berubah, tak lagi menganggapnya istimewa. Saya tak merasa berdebar-debar saat melihat dia tersenyum, pun tak begitu terpesona dengan kacamata frameless nya. Perasaan saya padanya berubah.

Ternyata benar jarak dan waktu dapat merubah seseorang, pun dengan hati.

Malang, 16 November 2015.

Minggu, 18 Oktober 2015

Ke Mana Saja?

Ke mana saja? adalah pertanyaan yang sering kali diutarakan teman-teman saya. Ada yang sekedar iseng, atau memang penasaran ke mana saja saya dua bulan terakhir ini. Jadi pembaca blog ini ada yang penasaran ke mana saja saya, beberapa bulan ini? baiklah, meski tidak ada yang bertanya, saya akan tetap bercerita *milin kumis*.

Setelah sibuk dengan pekerjaan baru saya, yang meski freelance lumayan menyita sedikit waktu senggang saya maka blog ini terbengkalai. Tidak ada satu pun postingan yang mampir di blog ini. Meski saya lebih produktif menulis dibanding hari-hari lalu.

Dan dua bulan terakhir, ada hal serius yang membuat saya benar-benar total menghindari blog ini. Saya sakit. Akhir agustus adalah awal mula saya drop, demam menjadi langganan saya. Dan nyeri di dada membuat aktifitas saya benar-benar dibatasi. Bagaimana tidak, capek sedikit demam dan sakit di kepala saya benar-benar tidak bisa dihindari. Maka selama Agustus-September, kencan dengan dokter adalah rutinitas harian saya. Akhirnya saya membatasi kegiatan saya. Ngemall, makan di luar, ngafe, dan tentu saja aktifitas cuap-cuap bersama teman pun berkurang. Bagaimana bisa ngemall, kalau setiap pulang kantor yang dicari bantal dan kasur, capek sedikit demam, terlalu lama terkena angin pusing. Entah penyakit apa yang sedang berkunjung ke tubuh saya.

Dokter menyarankan saya untuk total bed rest, menghindari makanan yang terlalu asin, terlalu berasa, menghindari cemilan yang mengandung vetsin. Dan akhirnya membuat saya harus berpisah dengan mekdi, ke ep ci, ciki, dan teman-temannya dalam waktu yang lumayan lama. Setiap kali pusing, minum obat antidepresan pun menjadi rutinitas.

Masih ingat awal-awal sakit sempat divonis kram otak, depresi ringan, sakit lambung, dan teman-temannya. Bahkan salah satu teman saya menyarankan saya untuk berkunjung ke 'orang pintar' alasannya? karena saya tak juga kunjung sembuh, meski sudah berobat ke mana saja. Saya cuma nyengir, sakit saya memang aneh tapi tidak ada hubungannya dengan hal mistis.

Maka saat pusing seminggu yang lalu saya akhirnya memutuskan untuk pulang. Menuruti nasihat Ibu dan Mbak Tyas saya akhirnya mau periksa ke dokter spesialis paru. Mengingat batuk saya tidak kunjung sembuh. Dokter yang saya pilih hanya praktik di Rumah Sakit Umum, dan untuk pertama kalinya saya berkunjung ke RSUD (kengeriannya akan saya buat postingan tersendiri). Dokter pun memvonis ada cairan di paru-paru saya, trenteng yang membuat saya harus tidur di rumah sakit selama tiga hari, yang membuat punggung saya merasakan jarum G-14, membuat paru-paru saya berkali-kali dirongen, dan membuat saya kembali tersentak bahwa sehat adalah anugerah dan nikmat yang luar biasa dari Allah.

Banyak hal yang saya alami selama drop kemarin, dan proses penyembuhan yang membutuhkan waktu enam bulan akan membuat saya (mungkin) lebih bersabar. Ah, banyak cara Allah menegur saya yang mungkin terlewat sombong.

Allah sedang kangen saya, kangen dengan keluhan saya, kangen dengan isak adu saya.

Jombang, 18 Oktober 2015.

Sabtu, 27 Juni 2015

My Other Job.


Ceritanya saya menerima tawaran untuk menjadi content writer freelance, di sebuah media online. Ada bebarapa konten yang harus saya handle. Meski freelance, hecticnya enggak ngalahin pekerjaan utama saya. Iya, yang biasanya saya berkubang dengan debit dan kredit kali ini saya berhubungan dengan dunia menulis. Dunia yang telah lama saya idamkan, yang biasanya saya sambangi sekali dua kali dalam seminggu saja. Itu pun tidak rutin.
Semua berawal dari CV saya yang mampir di meja redaksi akhir Agustus tahun lalu, dan saya sempat dipanggil untuk tes di awal September. Karena tidak ada kabar, saya akhirnya mengiyakan tawaran di kantor saya saat ini. Ternyata, sang editor yang sempat mewancarai saya setuju meng hire saya. Bulan Oktober, saat saya hectic dengan kerjaa di kantor saya sekarang, editor tersebut menelpon saya mengatakan saya diterima bekerja di media online tersebut. Antara senang dan bingung jadi satu, senang ternyata saya diterima bingung karena saat itu saya sudah bekerja di perusahaan ini. Akhirnya saya mengundurkan diri dari tawaran tersebut, saya merelakan pekerjaan yang menjadi impian saya. bekerja di media.
Saat saya mengabari pimpinan redaksi tersebut, saya sempat mengatakan jika ada kesempatan untuk bekerja di tempat tersebut sebagai freelance maka saya akan menerimanya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu. Sedih dan kecewa jadi satu, tapi saya harus memilih. Serba nanggung juga saat itu saya baru sebulan bekerja di kantor yang baru.
Tapi saya yakin dengan pilihan saya.
Bulan berganti, dan tahun berganti. Awal bulan Juni kemarin saya di hubungi oleh editor itu lagi, saya mendapat tawaran lagi di tempat tersebut dan tentu saja kali ini saya boleh freelance. Dream come true, rasanya bahagia sekali. Bisa bekerja di tempat yang saya impikan, meski paruh waktu saya bahagia. Saya menikmatinya.
Malam ini tepat dua minggu saya menjalani dua pekerjaan ini, pekerjaan yang berbeda satu sama lainnya. Ketika pulang kos saya akan segera berberes, dan mencharger laptop. Ada hal lain yang harus saya kerjakan. Menulis.
Iya, saya menjadi content writer freelance di salah satu media online.
Maka, ketika impianmu terwujud percayalah ada doa terbaik ibumu yang diaminkan Tuhan.

Selamat malam :D

Sabtu, 06 Juni 2015

Kafe Pustaka, sembari ngopi membangun literasi.

Saya mendengar kafe ini ketika dapat undangan dari Mas Denny teman dari komunitas Pelangi Sastra, Malang untuk datang ke acara bedah buku Kata Kota Kita. Karena rasa penasaran dengan wujud Kafe Pustaka ini maka saya mengiyakan tawaran Mas Denny untuk datang ke acara, sekaligus mewakili Klub Buku Malang.
 Kafe Pustaka, berada di dalam areal kampus Universitas Negeri Malang. Tempatnya persis disebelah Gedung Perpustakaan Pusat UM. Gedung yang dipakai Kafe Pustaka merupakan gedung bekas pojok BNI yang barada persis di depan FE UM.
Jam buka kafe Pustaka ini mengikuti jam pelayanan perpustakaan pusat. Sempat sedih, karena sudah membayangkan tiap minggu bisa mojok di kafe ini harus saya tangguhkan. Lalu apa istimewanya Kafe Pustaka ini? selain menunya harga mahasiswa banget mulai 3rb – 10rb saja. Kafe Pustaka ini merupakan tempat nongkrong seru seniman muda kota malang.
Di Kafe Pustaka, selain mendapat sajian minuman dan cemilan dengan harga merakyat teman-teman juga dapat menikmati fasilitas free wi fi yang (lumayan) kenceng. Di Kafe Pustaka pengunjung juga dapat membaca beberapa koleksi buku sastra yang disediakan khusus bagi pengunjung Kafe Pustaka.
Yang saya sesali hanya satu, mengapa Kafe Pustaka ada ketika saya sudah tidak kuliah lagi di UM. Hfft, benar kata orang ketika kita tak lagi jadi bagian dari seseuatu mereka akan terlihat berkembang begitu pesat *nangis*

Tapi bangga sih, setidaknya Kafe Pustaka berada di lingkungan almamater tercinta saya *muach*


Kamis, 04 Juni 2015

Mengunjungi Alice, di Alice Tea Room.

Jadi beberapa minggu lalu, saya dan Wigi berkunjung ke kafe yang baru buka tanggal 9 juni 2014 lalu. Dari rasa ingin tahu, ketika salah satu teman mejeng foto kece yang katanya merupakan salah satu sudut dari kafe yang bertema Alice in Wonderland.

So cutie

Dan benar sekali, kafe yang berada di jalan Rinjani, no. 5 Malang ini benar-benar eye catching dan photoable. Sejak masuk ke Alice Tea Room, saya benar-benar diajak ke dunia Alice. Kursi-kursi yang ditata dengan warna candy, membuat kesan kafe ini girly dan manis. Ada nakas yang bertema Paris, dan satu photo both, yang bisa digunakan sebagai tempat narsis di halamannya.
Jika kalian hobi, foto-foto tempat ini saya rekomendasikan :D


Cheers and take a selfie.

Selain di halaman kita juga dapat memilih duduk di dalam ruangan, nuansanya masih tetap sama cutie dan dekorasinya tidak kalah girly dengan yang ada di halaman. Soal pilihan menu, jangan khawatir Alice Tea Room banyak memiliki menu. Karena konsepnya Tea Room maka jangan kaget kalau menu minumannya adalah variasi teh meski juga ada beberapa variasi shake, coffee, dan mocktail. Untuk makanannya ada beberapa variasi cake in jar, cup cake, spaghetti dan muffin. Saya sempat ditawari red valvet, cake yang tidak setiap hari ada di menu kafe ini. Katanya saya beruntung karena datang di minggu pagi itu, karena saya orangnya gampang kepingin maka saya mengiyakan saat pramusajinya menawarkan menu itu kepada saya. Karena masih terlalu pagi (pukul sembilan saya datang) maka saya hanya memesan minuman dan snack. Waktu itu saya memilih, mangastine skin tea dan pancake maple.

Pancake Maple

Saya suka dengan pelayanan di Alice Tea Room ini, mereka ramah meski saya dan teman saya sempat ditegur gegara mengambil gambar dengan kamera digital. Iya, kalian boleh foto, asal tidak dengan kamera digital yang boleh hanya dengan kamera handphone.

Sudut favorite buat selfie.

Untuk range harga makanan dan minumannya mulai dari 8.000,- sampai 25.000,- . Kafe ini buka setiap hari pukul 08.00 – 22.00 wib. Secara keseluruhan saya menyukai konsep kafe ini, susananya juga tenang meski berada di dekat jalan utama. Jadi, siapa yang mau mengajak saya ngobrol di alice Tea Room sambil ngobrolin masa depan? :D

Alice Tea Room
Alamat            : Jl. Rinjani 5, Malang.
Phone              : 0341-589000
Booking text   : 081555805252
Twitter            : @alicetearoom

Ig                     : alicetearoom_mlg

Aku yang sedang berpura-pura untuk melupakanmu.

Selamat malam kamu, yang mungkin sedang memeluk wanitamu.
Yang mungkin sedang menyesap cokelat hangat kegemaranmu.
Kamu yang pernah kucintai dengan terlalu,
Kamu yang pernah kutangisi saat memutuskan untuk membenciku,
Kamu yang tak pernah sanggup termiliki.
Malam ini aku sedang mengingatmu,
Lewat hujan yang turun di bulan juni ini.
Tuhan tak pernah menulis ‘jodoh’ pada takdir kita;
Meski kita pernah bersinggungan,
Meski aku pernah begitu menginginkanmu.
Meski aku selalu menyebutmu dalam doa-doaku.


Selamat bertambah usia, kasih tak tersampaikanku.
Aku merindukanmu.


Malang, 4 Juni 2015. 

Selasa, 28 April 2015

Dear Me #Tantanganmenulis no. 3

Ditulis untuk #TantanganMenulis no.3 Tuliskan sesuatu untuk dirimu 2 tahun mendatang.
Dear Me,
Ini kamu di tahun 2015, dua tahun yang lalu. Hari-hari saat kamu sedang berusaha untuk menata kepingan hatimu yang patah. Mengumpulkan keberanian untuk jatuh cinta lagi. Menepikan ego untuk memulai pertemanan lagi dengan ia yang setahun lalu sempat membuat hatimu patah.
Bagaimana 2017 mu?
Semoga benar kamu sudah jatuh cinta lagi. Berani untuk memulai, bukan untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang melemahkanmu. Bukan juga karena untuk mengusir perasaan sepimu. Hai, aku di tahun 2017 semoga kamu jatuh cinta karena memang kamu telah siap.
Salam Hangat,


Kamu, di tahun 2015.

Selasa, 31 Maret 2015

Untuk kamu wanita bermata biru, #TantanganMenulis no.7

Ditulis untuk #TantanganMenulis no 7. Tuliskan sesuatu untuk orang yang tidak kamu suka/mungkin tidak menyukaimu.

Hai, kurasa tak perlu perkenalan. Kamu mungkin lebih mengenalku daripada diriku sendiri, okay ini lucu tapi kamu tentunya memiliki sederet alasan mengapa harus membenciku. Iya kamu, yang begitu membenciku.
Sebenarnya tidak ada yang perlu aku jelaskan, tapi kurasa kamu harus tahu beberapa hal. Ya, bisa saja aku menghubungimu dan membicarakan hal ini secara langsung. Tetapi, aku sudah terlalu capek untuk sekedar basa-basi denganmu.
Aku sengaja menulis ini, karena aku tahu kamu pasti membacanya. Bukankah kamu gemar mencari tahu tentang apa yang terjadi padaku di semua akun social mediaku? :D tak perlu kaget, soal beginian aku sudah terlampau paham. Apalagi yang melakukan ini adalah kamu. Yang sejak awal begitu membenciku.
Aku menghargai pendapat kamu bahwa sahabatan beda jenis itu bullshit. Ya, meski aku mau ngomong sampai berbusa kalau kamu dasarnya enggak percaya ya percuma kan? Tapi tak ada masalah kan kalau aku sekali lagi mengatakan sama kamu, bahwa aku memiliki garis yang jelas antara teman dan cinta. Antara demen dan teman. Jadi kalau kamu berpikir aku naksir pacar kamu, maaf kamu salah besar.
Aku menghargai cemburu kamu, ketakutan kamu. Maka dari itu aku memutuskan buat menepi. Aku stop enggak komunikasi sama pacar kamu lagi, yang sebanarnya bagiku lumayan berat. Dia teman terbaikku, tapi karena aku peduli aku rela kok enggak berteman lagi sama dia. Ah, semoga hal ini cukup membuatmu bahagia.
Aku melakukan ini bukan karena aku mau mengamini tuduhan kamu. Aku Cuma terlalu sayang sama diriku, kalau kelamaan nanggepin drama kamu akunya jadi kurus :D karena untuk kembali haha..hihi..itu enggak semudah yang kamu kira.
Satu lagi pacar kamu bukanlah sumber kebahagiaanku meski kita berteman baik. Jadi, ketika dia enggak ada aku masih mampu berdiri tegar tolong garis bawahi hal itu :D


Salam;

Ayu yang super ngeselin.

NB : Thanks Mput untuk chit-chat malamnya :D




Tim Ransel.

Aku suka jalan-jalan. Bukan yang ngemall, bukan yang harus ke tempat wisata yang seperti Jatim Park dan sejenisnya. Aku suka jalan-jalan, mencoba hal baru, mencari sisi lain dari kota yang aku kunjungi. Jalan-jalan kemiskinan biasa aku menyebutnya.
Aku suka jalan-jalan. Mengunjungi museum, mengunjungi tempat yang jarang terekam media. Dan aku menemukan teman itu, adalah Aku, Wigi, Bunga, Aisyah, Mia, Yunus, Iim, Dimas, Eko dan terakhir Yanti. Kami menjuluki diri sebagai ‘Tim Ransel’ banyak hal yang terekam oleh kami, mulai berkunjung ke Tanjung Papuma dengan naik kereta, yang menurut sebagian orang tidak mungkin dilakukan dengan naik kerata tapi kami dapat mewujudkannya. Mencoba mengeksplore pantai di wilayah selatan kabupaten malang. Terakhir kami mengunjungi Surabaya. Tak selalu dengan personil lengkap sih, kadang ada juga yang absen tidak bisa ikut. Tapi tak jadi halangan kami untuk tetap jalan-jalan.
Aku dan Wigi yang sering berduet, nah kalau kami yang jalan bareng jangan ditanya tujuan kami. Tempat-tempat yang out of the box buat jalan dan menghabiskan hari minggu adalah incaran kami. Hampir semua Museum di Malang kami kunjungi, dari Museum berbayar sampai yang free. Dari sekedar jalan dan nyari spot kece buat foto pernah kita lakoni. Jalan-jalan ke Blitar dan hampir nyasar pun pernah. Mengunjungi dua candi dalam satu hari pun pernah. Karena bahagia tak harus mewah, itu saja.
Aku bahagia bisa bertemu mereka, membuat cerita tentang Tim Ransel. Tak jarang di sela kami menikmati perjalanan terselip cita-cita, impian gila kami. Bukankah sukses berawal dari mimpi gila.
Saat aku menulis ini, group Whatsapp Ransel sedang heboh dengan rencana ke Banyu Anjlok. Ah, suatu saat ransel kita tak hanya sampai si sekitaran Malang, Pulau Jawa atau Indonesia. Tapi sampai keliling dunia.
Kalian percaya kan? Jadi akan kemana kita?


Malang, 31 Maret 2015. 

Senin, 23 Maret 2015

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover.

Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan.
Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan*
Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya.
Dia SMS.
D, Aku telpon ya?
Iya dia memanggil saya D, alias Dudul. *muntah*
Maka setelah saya mengiyakan, W telpon.
Dan Jeng-jeng...
Ada suara petikan gitar, dan...W menyanyi. Dia menyanyikan lagunya Kahitna yang judulnya 'Enggak Ngerti'. Oh, seketika muka saya memerah. Malu. Padahal dia menyanyikannya tidak sambil menatap saya.
Saya marah, dia? cengengesan. Ketawa-ketiwi. Padahal suaranya enggak ada bagus-bagusnya, hfft. Tapi sampai sekarang setiap kali dengar lagunya Kahitna yang 'Enggak Ngerti' otomatis saya teringat dia. Lucu ya? dan secara otomatis saya ingat jaman W ngejar-ngejar saya, dan betapa saya kelimpungan menghindarinya.
Jadi kalau ditanya apakah dinyanyikan membuat saya jatuh cinta? sekali lagi tidak, tetapi untuk membuat saya tidak lupa pernah dicintai dengan begitu besar mungkin jawabannya iya.


Malang, 23 Maret 2015.
Di meja kantor ditemani lagu-lagunya Kahitna dan secuil ingatan tentangmu.

Senin, 02 Maret 2015

My Iced Coffee Man (Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.)

Ditulis untuk Tantangan Menulis dari @Kopilovie dan @Miss_ZP . Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.

Teruntuk kamu, yang selama dua tahun menemaniku dan yang sepuluh bulan ini berusaha kubiasakan diri tanpa rutinitas tentangmu. Kamu tahu sejak mengenalku, menulis adalah caraku membebaskan penat, maka malam ini aku ingin menulis tentangmu.
Hai, jika kamu tanpa sengaja membaca tulisan ini sungguh aku tidak sedang mengharap apa-apa. Jangan berpikir tentang kita yang dapat memulai dari awal, bukankah dulu kamu sering bilang tidak akan pernah ada kata balikan dalam hidupmu kurasa aku akan mengamini apa yang menjadi prinsipmu itu.
Aku hanya sedang bercerita, anggap saja aku sedang meracau. Kamu tahu ini adalah cerita yang selalu ingin aku katakan sejak kita tak bersama lagi. Sejak ucapan selamat pagimu tak lagi kutemui, sejak ucapan semangatmu saat aku mulai mengadu tak lagi kudengar, sejak semua tak lagi sama.
Aku tinggal di Malang sekarang, ah betapa dulu hal ini sangat kita impikan. Tentang kita yang tak lagi berjarak. Tentang kita yang kalau ingin bertemu tak harus bersabar menunggu hari sabtu. Kurasa kamu pun tahu aku sudah di Malang sejak awal September tahun lalu. Dan lihat, semesta pun sepertinya sepakat tak membuat kita bertemu.
Kamu tahu, terkadang dan sering kali aku sengaja datang ke tempat yang dulu sering kita kunjungi, berharap ‘kebetulan’ mempertemukan kita. Tapi sekali lagi, semesta sepakat untuk tidak mengamini keinginan sederhanaku. Ah, seharusnya bisa saja aku menelponmu meminta untuk kita bertemu. Tapi kamu tahu, kadang egoku terlalu tinggi untuk sekedar bertanya kabar padamu.
Seharusnya tak jadi masalah kan?
Tetapi aku memilih untuk tidak memenangkan hatiku. Egoku menang, dan aku limpung.
Kalau kamu tanya untuk apa ada pertemuan setelah perpisahan yang kita pilih? Entahlah, aku hanya ingin mengatakn padamu bahwa aku baik-baik saja. Aku ingin kamu melihatku dengan pipi tembemku sekarang. Ah, pasti ini kamu anggap lucu. Tapi sungguh, aku ingin kamu tahu bahwa aku baik-baik saja.
Tetapi semesta tak pernah menginginkan kita bertemu, meski hanya ‘kebetulan’.
Aku pikir setelah pertemuan terakhir kita, setelah perbincangan lama kita yang lebih sering kugunakan untuk menghapus air mata yang hampir tumpah setiap kali aku memulai untuk berbicara. Setelah kamu mengantarku ke kos, setelah kamu menyerahkan choco ice blanded yang kuminum dengan tangis yang sejadi-jadinya malam itu aku dapat melupakanmu. Ternyata aku salah; kamu tak secepat itu pergi dari ingatanku.
Setelah aku membaca postinganmu di socmedmu tentang wanita lain itu, dan yang membuatku menangis seharian aku berharap dapat melupakanmu. Tapi ternyata aku salah.
Setelah aku berkali-kali mencoba untuk menerima ajakan lelaki lain, menerima ajakan mereka untuk minum kopi, nonton atau mencoba makan di kafe baru. Aku sadar, setiap kali aku melakukan hal-hal yang sering kita lakukan bersama dan sedang kucoba kulakukan dengan orang lain yang terlintas di benakku adalah kamu. Kamu tahu, sering kali aku menangisi hal ini. Mengapa aku tak bisa melupakanmu?
Menagapa aku sulit intuk merelakan kepergianmu? Mungkin benar ada beberapa hal yang belum sempat kita selesaikan.
Dan aku tahu dua tahun, bukanlah waktu yang singkat.
Jika semesta ternyata mengaminkan doa-doaku tentang satu kebetulan yang aku harapkan. Maka ijinkan aku mengucapkan terima kasih;
Terima kasih telah menemaniku selama dua tahun;
Terima kasih telah bersabar dengan segala runtuk dan keluhku,
Terima kasih telah merelakan kepergianku.
Dan
Terima kasih telah membuatku merasa dicintai.

Malang, 1 Maret 2015.

Kamis, 26 Februari 2015

PLUVIOPHILE

Aku selalu menyukai aroma hujan; maka aku berniat mengemasnya dalam botol kaca ini. Botol kaca yang seminggu lalu masih penuh dengan selai coklat kacang kegemaranmu; dan boleh aku masih menyebutnya sebagai kegemaran kita?
Katamu hujan adalah kenangan tentangku, sebenarnya salah. Hujan adalah tentang kamu, yang kucintai tapi tak pernah sanggup aku miliki. Nyaliku sebesar biji sawi, kecil untuk sekedar mengucap bahwa aku pun mencintaimu sama besar atau mungkin lebih besar daripada cinta yang kamu berikan padaku.
Aku menggenggam botol kaca ini, memandangnya dengan tatapan dalam seakan aku melihat deretan drama satu babak yang menceritakan tentang kita. Bukan kita tetapi kamu. Selai coklat kacang yang dioleskan di selembar roti tawar dan satu cangkir kopi tanpa gula, adalah menu sarapan favoritemu. Pagimu tak pernah lewat dari menu itu. Dan tentu saja ada aku yang bercerita tentang banyak hal menemanimu di sudut pantri. Rutinitas pagi, yang oleh mereka sebut sebagai kencan. Aku tak pernah peduli, pun kamu. Kita tak perlu menyepakati banyak hal, mungkin ini yang dibilang cocok.
Aku meletakkan botol kaca itu, memandang ke arah jendela. Sepertinya angin turut serta di hujan sore kali ini, airnya tampias di kaca dan membuatnya mengembun. Tanganku reflek menuliskan namamu, dan sunyi sukses membuat bulir bening menetes dari mataku.
“Kamu tahu, ada tiga keajaiban tentang hujan.”Katamu, saat aku menemanimu menikamati roti selai coklat kacang kegemaranmu. Rutinitas entah yang keberapa.
“Apa?”
“Pertama, ketika hujan pertama menetes tepat di hidungmu itu artinya orang yang kamu rindukan juga merindukanmu. Kedua, hujan adalah nyayian orang yang merindu. Dan yang ketiga keajaiban yang paling luar biasa...” kamu memelankan suaramu, lalu mendekat ke telingaku;
“Hujan dapat memunculkan orang yang kita cintai.”
Aku menutup mulutku, kaget. Dan kamu tersenyum.
Aku melihat ke arah jendela, jalanan di depan kafe ini sudah tak lagi tampak; hanya putih. Aku menyipitkan mataku, memastikan yang kulihat tak salah. Ada kamu berdiri di seberang jalan, kepalamu ditutup dengan tudung jaketmu. Selalu saja, tak pernah memakai payung. Oh, sepertinya aku melupakan satu hal, katamu hujan deras adalah waktu terbaik untuk bermain-main dengan hujan. Kurasa itu alasanmu berdiri di sana, hujan deras dan tanpa payung.
Aku berdiri, meninggalkan kafe ini. Sebelumnya aku meniggalkan selembar uang seratus ribuan di meja tempat aku menghabiskan waktu tiga jam. Aku keluar dari Kafe. Hujan menerpa sebagian tubuhku, aku melihatmu tersenyum. Melambaikan tangan, lalu melepas tudung jaketmu. Sekarang aku dapat melihat wajahmu. Aku tahu kamu sedang menantangku untuk bermain-main dengan hujan.
Aku meletakkan botol kaca bekas selai coklat kacang kegemaranmu di sisi jalan, aku merentangkan tanganku. Aku menengadahkan wajah, hujan menusuk-nusuk wajahku. Aku tertawa. Aku melihatmu pun melakukan hal yang sama, tertawa dan berputar-putar di tengah jalan yang memang sepi. Aku berjalan ke arahmu, berniat menggapai tanganmu. Aku ingin menari bersamamu, atau lebih tepatnya memelukmu di hujan yang lebat ini.
Hingga sesuatu menabrakku, tubuhku terpental dan aku melihat bayanganmu menjauh. Samar aku mendengarmu berkata;
“Kita lanjutkan nanti.”
Aku mengangguk, setuju. Ah, seharusnya kamu pun tahu banyak hal yang kita sepakati tanpa perlu diucapkan.
Aku samar mendengar, orang menjerit. Teriakan minta tolong dan derap langkah yang mendekatiku, mengurumuniku. Mereka semakin ramai memanggilku. Dan aku merasa gelap.
“Apa itu berarti aku mencintaimu? Aku melihatmu saat hujan.” Tanyaku.
Kamu mengangguk, lalu meraih tanganku dan menuntunku untuk meninggalkan tubuhku yang dikerumuni banyak orang.


Malang, 25 Februari 2015.

Jumat, 20 Februari 2015

Menertawakan Patah Hati

Mari kita tertawa.
Menertawakan tentang hal yang pernah kita anggap menyedihkan.
Tentang cinta yang tak berestu, tentang rindu yang tak bertuan, atau tentang mimpi yang mengabu.
Mari kita tertawa.
Menertawakan hal-hal yang pernah membuat kita makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Tentang kita yang pernah saling mencintai, lalu membiasakan diri menganggap tak saling mengenal.
Tentang kita yang berada pada satu linimasa dan tak bertegur sapa.
Tentang kita yang berada pada bumi yang sama dan saling mendiamkan.
Tentang kita yang saling merapal rindu tapi tak kuasa menyampaikan.
Bukan tak ingin;
Kita tak pernah sanggup, menentang semesta yang menginginkan kita tiada.
Kita tak pernah sanggup, untuk benar-benar baik saja.
Aku mencintaimu, pun kamu.
Tapi semesta tak pernah menginginkan kita ada.



Malang, 20 Februari 2015.

Senin, 05 Januari 2015

Satu hari di Candi Badut dan Candi Jago.

Perjalanan saya bersama partner of crime saya kali ini berbeda. Jika biasanya kita memilih berkeliling tempat nyentrik di sekitaran kota, kali ini kita ingin menyusuri Malang dari Jaman Singosari. Maka disinilah kami, memilih Candi Badut dan Candi Jago sebagai destinasi liburan hore kita kali ini.
Pagi itu, dengan diiringi gerimis kami menumpangi angkot AT untuk menuju Tidar, lokasi Candi Badut. Ternyata tak sulit untuk menuju lokasi, dari pangkalan AT kita lurus saja berjalan kurang dari 100 meter kita akan menemui papan nama menuju Candi Badut. Lokasi Candi Badut berada persis di lingkungan perumahan warga, jadi aksesnya pun mudah.
Penampakan Candi Badut

Untuk masuk ke area Candi, kita tidak dipungut biaya alias gratis. Ukuran Candi Badut tidak terlalu besar, ada satu bangunan selain bangunan utama Candi Badut yang mirip petilasan yang ada di Candi Tikus, Trawulan. Sayangnya tidak ada papan keterangan yang menunjukkan bangunan itu fungsinya apa.
Me !!

Di area dalam candi ada tempat yang sepertinya digunakan sebagai tempat peribadatan. Jadi, bentuk dari Candi Badut itu persegi lalu di tengahnya ada tempat untuk peribadatan. Karena cuaca mendung kami puas berfoto di area Candi Badut. Cagar budaya ini cukup terawat, rumput di sekitar candi pun terawat rapi. Meski toilet yang berada di dekat Candi sedikit merusak pemandangan, kami cukup menikmati jalan-jalan kami.
view paling favorite

Pura-puranya sih candid.

Setelah puas mengelilingi area Candi yang memang tak begitu luas, dan sok beranalisa dengan relief yang ada di badan Candi kami meninggalkan Candi Badut yang siang itu sudah mulai banyak pengunjung.
Kami berjalan lagi, kembali ke pangkalan angkot AT untuk menuju ke Terminal Arjosari melanjutkan perjalanan ke Candi Jago.
Candi Jago atau Candi Jajaghu berada di Tumpang, yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Malang. Dari Arjosari, kami menumpang angkot TA. Kurang lebih 45 menit perjalanan akhirnya kami sampai di Tumpang. Letak Candi Jago ini dekat dengan Pasar Tumpang, jaraknya 200 meter dari jalan utama.
Sebelum memasuki area Candi, kita wajib mengisi buku tamu. Dan seperti di Candi Badut, untuk masuk ke Candi Jago tidak dipungut biaya alias gratis.
Ukuran Candi Jago lebih besar dan luas dibanding Candi Badut. Dan lagi, Candi Jago letaknya persis di pinggir jalan dan berada di tengah lingkungan rumah warga. Tadi sempat berfoto, dan sibuk menyamarkan rumah warga yang persis berdiri di samping Candi Jago.
Penampakan Candi Jago

Bangunan Candi Jago sudah sedikit rapuh, batu yang membentuk Candi pun kalau dipijak sudah mulai oleng. Tetapi relief yang ada di batuan Candi masih terlihat jelas, berbeda dengan yang ada di Candi Badut.
Relief di Candi Jago

Secara keseluruhan Candi Jago ada tiga undakan. Dan yang pasti Candi Jago tidak banyak berubah seperti 21 tahun yang lalu, saat untuk pertama kalinya saya berkunjung di tempat ini. Hanya saja, saya merasa batu yang menyusunnya memang sudah usang, tak lagi sekokoh dulu. Tadi saya juga sempat mencari batu yang mirip seperti bekas pantat manusia, yang dulu kata nenek saya adalah bekas duduk para Dewa. Dan saya mempercayainya :D sayangnya saya tadi tidak berhasil menemukannya, atau saya yang tidak berkonsentrasi karena terlalu takut kalau terjatuh. Setelah selesai berkeliling area Candi, dan karena pengunjung mulai ramai kami memutuskan untuk pulang. Kami berjalan lagi ke area Pasar Tumpang, kembali menaiki TA untuk kembali ke Arjosari.
Wigi on Action

Banyak hal yang saya dapat dari perjalanan kali ini, destinasi untuk #KentjanMalang sepertinya akan semakin meluas. Ah, saya selalu menyukai perjalanan ini. Tak harus ke tempat yang wah, karena bagi saya bukan perkara kemananya tetapi bersama siapanya. Dan yang terpenting Malang itu keren, apalagi tempat-tempat sejarahnya.
Pulang dulu ya :D


Sip, jadi kemana lagi tujuan #KentjanMalang selanjutnya?