Sabtu, 28 Oktober 2017

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels
Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini.

Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras.

Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha.

Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?"

Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. Bisa saja saat menulisnya saya sedang nyemil es krim dan liburan. Saya pernah menulis di sini.

Setiap orang memiliki cara berbeda untuk mendaur emosinya. Ada yang melalui curhat di buku harian, menulis rangkaian kalimat galau di media sosial dan jika beruntung mereka curhat kepada orang terdekatnya. Lalu apa yang harus kamu lakukan saat mendapati salah satu teman kamu curhat di media sosial?
Saya adalah salah satu orang yang gemar curhat di media sosial. Saya suka mengeluh di sana terutama di platform twitter. Beberapa teman dekat mungkin sudah hapal, mana twit pura-pura galau dan galau sebenarnya. Saat saya menulis di sana saya tidak sedang menjual drama dan merasa perlu dikasihani. Saya hanya sedang menyelamatkan jiwa saya. Saya hanya butuh tempat untuk meluapkan emosi.

Seorang sahabat terbaik pun tidak akan bisa mendengarkan keluhan yang sama berulang kali bukan? Well, mungkin bagi beberapa orang keluhan saya menyebalkan terkesan menjual drama dan hal cemen lainnya. Tapi percayalah, kicauan saya di twitter berhasil menyelamatkan jiwa saya.

Tahun 2017 adalah tahun terberat saya. Memaafkan menjadi sangat sulit untuk saya lakukan. Maka, saya seringkali 'nyampah' di twitter untuk meluapkan kekesalan. Meskipun kata beberapa teman mengapa tidak ngomong langsung sih? Marah sekalian nunjuk mukanya sekalian alih-alih ngetwit serem begitu? Waktu itu saya hanya tertawa, meskipun pada akhirnya menangis juga.

Ya, beberapa orang memilih untuk 'balas dendam' dengan menganggap ia tidak ada mesipun ia ada. Saya adalah salah satu orang yang melakukan cara itu. Bukankah hal yang paling menyakitkan dalam hidup adalah saat kita tidak dianggap ada?

Jadi, terima kasih twitter telah membuat saya tetap waras.

Kantor, 28 Oktober 2017

Senin, 23 Oktober 2017

Sampai Kapan?

Sampai kapan?
Ia bertanya untuk kesekian kali, saat menelpon saya dalam perjalanan pulang. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti alasan mengapa saya memilih untuk menepi. Satu-satunya orang yang tahu benar alasan mengapa saya ke Jogja beberapa minggu lalu.
Ia satu-satunya yang paham bahwa tawa yang selama ini saya perlihatkan hanya palsu. Ia tahu saya sedang tidak baik-baik saja.
Sampai kapan?
Ulangnya, ketika kemarin saya terbata menangis untuk kesekian kalinya.
Ia bilang, seharusnya saya bahagia. Seharusnya saya baik-baik saja. Seharusnya saya belajar menyederhanakan keadaan.
Sampai kapan?
Sampai ia mengucap maaf, tapi sekali lagi saya bukan manusia bijak yang disakiti berkali-kali dapat segera melupa. Saya adalah pengingat yang handal.
Sampai kapan?
Maaf, saya sudah lupa cara memberi maaf.
Ruang Tunggu RSKM, 23 Oktober 2017