Senin, 10 November 2014

(un)Happy Strawberry Toast.


Aku melangkahkan kaki ke kedai yang bangunanya bernuansa putih itu, Omah Caffee. Beberapa bulan yang lalu, aku sering kesini. Setiap malam minggu, kamu akan mengajakku duduk dan bercerita apa saja di sini. Terkadang, saat kamu menjemputku pulang kerja pun mengajakku bersantai sejenak sebelum aku pulang ke kos.
Itu dulu, sebelum semua berubah.
Aku  memegang ujung tasku. Sangsi, apakah aku serius akan masuk ke Omah Caffee. Aku melihat mobilmu terparkir di halaman Omah Caffee. Kamu sendirian kah? Atau bersama Bili dan Joice? Atau bersama yang lain.
Aku membalikkan badan berniat berlalu dari tempat itu. Namun urung, aku memilih berjalan ke arah Outlet Omah Mode yang letaknya bersebelahan dengan Omah Caffee. Outlet distro ini nampak lengang padahal hari ini minggu.
Aku menyisir beberapa deret koleksi baju yang di pajang di Outlet ini. Mataku tertegun saat melihat satu kaos berwarna merah itu. Merah, adalah warna favoritemu. Warna yang kau bilang sebagai penanda kobaran semangat. Yang katamu dulu adalah warna yang serupa denganmu yang selalu dipenuhi semangat yang membuncah untuk mempertahankan apa yang akan membuatmu bahagia.
Tapi mengapa kamu tak pernah semangat untuk mempertahankanku? Apakah itu berarti aku tak pernah membuatmu bahagia? Adakah yang salah dengan hubungan kita.
Aku menghela nafas.
Mengingat malam terakhir kita bertemu. Pembicaraan kita yang lebih banyak berisi tentang kekecewaan, dan helaan nafas. Mengapa semua ini harus terjadi di saat kita telah melangkah begitu jauh. Di saat kita telah menyepakati tentang mimpi-mimpi kita tentang kehidupan setelah kita telah disahkan oleh agama maupun pemerintah.
Mengapa kita baru menyadari bahwa kita tak pernah sama, bahwa kita berbeda setelah dua tahun kita saling menautkan hati. Dan mengapa kita baru menyadari bahwa kita selalu meragu dengan apa yang akan kita hadapi nanti.
Aku yang hanya seorang Kartika, gadis jawa. Tak mungkin bisa bersamamu Lie, kamu yang seorang Tiong Hoa.
Aku buru-buru mengusap mataku yang mulai mengembun. Terlalu banyak tapi, saat aku dan Lie untuk memutuskan bersama. Dan terlalu menyakitkan saat aku harus memilih mengakhiri kisahku bersama Lie.
Aku melihat dari jendela, mobil Lie masih terparkir di halaman Omah Caffee.
Ah, seharusnya di senja yang mulai menguning ini aku duduk di kursi biasa kami duduk. Kursi yang berada di pojok Omah Coffee, kursi favorite kita. Aku akan memesan Honeydew Tea dengan sedikit es batu dan Strawberry Toast dengan taburan keju dan cokelat bubuk. Kamu akan mengaduk-aduk Honeydew Tea ku mengambil es batu, dan mengunyahnya. Yang sering kali ku protes, mengingatkan kesehatan giginya. Perdebatan kecil yang membuatku menggembungkan pipiku dan kamu akan mengusap rambutku menenangkan. Hal sederhana yang selalu membuatku luluh padamu.
Aku keluar dari Omah Mode, langkahku mantab menuju ke Omah Caffee. Aku kesini bukan untuk menemui Lie, aku hanya ingin menikmati Honeydew Tea dan Strawberry Toast kegemaranku. Aku kesini bukan untuk Lie, rapalku.
Langkahku terhenti saat aku membuka pintu Omah Caffee. Aku melihatmu dengan wanita itu. Wanita itu duduk di depanmu, dan aku melihatnya meminum Honeydew Tea kegemaranku.
Wanita, yang selalu ada setiap kali aku dan Lie berkunjung di tempat ini. Wanita yang sering kali kulihat, memperhatikanmu dan seakan tak pernah mau melepas setiap gerakanmu. Wanita yang sering muncul dalam pikiranku. Wanita yang sering kukhawatirkan akan membawamu berlalu dariku.
Lie.
Tubuhku lemas, dan yang kutahu hanya gelap saat itu.

Malang, 20 Oktober 2014.