Senin, 04 Desember 2017

Sebelum Menikah Pastikan Kamu Sanggup Meminta Maaf

Pernikahan/copyright pexels.com

Apa tanda kamu sudah siap menikah? Saat kamu sudah sanggup meminta maaf untuk hal yang sepele. Saat kamu sanggup meminta maaf untuk hal yang sebenarnya tidak kamu lakukan. Saat kamu merendahkan egomu lalu meminta maaf.

Well, tema pernikahan sepertinya lagi hangat diperbincangkan. Adalah teman saya chatnya muncul di tengah malam. Katanya, sibuk gak? Hmm, firasat tidak enak mungkin firasat diprospek MLM cukup membuat saya merasa tidak nyaman saat harus menerima chat dari teman lama. Ternyata malam itu, teman saya sedang butuh telinga. Ia ingin curhat.

Perbincangan yang awalnya lewat chat whatsapp berlanjut ke telpon. Ia menelpon lama sekali, awal saya mendengar suaranya cukup jelas namun lama-lama berubah serak. Ia menangis. Ia menangisi mantannya yang besok kabarnya akan menikah. Hmm, ya kalau sudahjadi mantan kenapa menangis?
Usut punya usut, ternyata hubungan mereka belum selesai. Ada masalah yang menggantung. Ya, meskipun saya melihatnya ini hanya perkara beda keyakinan aja. Si mantan teman udah yakin selesai sedangkan si teman yakin semuanya belum selesai. Yak, kelar mumetnya. Namun dari kasus ini saya melihat segalanya dengan cara yang berbeda.

Moral storynya apa? Well, sebelum menikah minta maaflah kepada mantan dan mantan gebetan. Dengan syarat mantan dan mantan gebetan tersebut belum menikah, kalau udah. Ya udahlah buat apa sih. Dia juga sudah punta kehidupan sendiri. Lah kalau emang masih jomblo enggak? Ya setidaknya kalau masih jomblo kemungkinan ada rasa gak rela mantan menikah itu masih ada loh. Maka minta maaf menjadi hal yang penting.

Kamu tidak tahukan, bisa jadi selama ini ada hati yang diam-diam kamu sakiti. Cielah, bahasanya. Minta maaflah dengan tulus. Jangan sekadar minta maaf aja. Wew, kalau sekadar maaf semua bisa. rendahkan ego kamu. Meskipun minta maaf enggak akan menyembuhkan luka, setidaknya maaf akan meringankan langkah kamu. Ibaratnya gini. Kamu udah bikin sakit dan nangis orang lain, kamu udah ngaku salah dan minta maaf. Setidaknya tanggungjawab kamu sudah selesai.

Jangan membuat rumit hal yang sebenarnya sepele. Kadang orang yang sudah kamu bikin sakit hati itu hanya butuh kamu sedikit menurunkan ego dan meminta maaf. Iya sekadar bilang.
Maaf ya, aku selama ini sudah bikin kamu sakit.

Iya gitu aja.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels
Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini.

Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras.

Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha.

Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?"

Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. Bisa saja saat menulisnya saya sedang nyemil es krim dan liburan. Saya pernah menulis di sini.

Setiap orang memiliki cara berbeda untuk mendaur emosinya. Ada yang melalui curhat di buku harian, menulis rangkaian kalimat galau di media sosial dan jika beruntung mereka curhat kepada orang terdekatnya. Lalu apa yang harus kamu lakukan saat mendapati salah satu teman kamu curhat di media sosial?
Saya adalah salah satu orang yang gemar curhat di media sosial. Saya suka mengeluh di sana terutama di platform twitter. Beberapa teman dekat mungkin sudah hapal, mana twit pura-pura galau dan galau sebenarnya. Saat saya menulis di sana saya tidak sedang menjual drama dan merasa perlu dikasihani. Saya hanya sedang menyelamatkan jiwa saya. Saya hanya butuh tempat untuk meluapkan emosi.

Seorang sahabat terbaik pun tidak akan bisa mendengarkan keluhan yang sama berulang kali bukan? Well, mungkin bagi beberapa orang keluhan saya menyebalkan terkesan menjual drama dan hal cemen lainnya. Tapi percayalah, kicauan saya di twitter berhasil menyelamatkan jiwa saya.

Tahun 2017 adalah tahun terberat saya. Memaafkan menjadi sangat sulit untuk saya lakukan. Maka, saya seringkali 'nyampah' di twitter untuk meluapkan kekesalan. Meskipun kata beberapa teman mengapa tidak ngomong langsung sih? Marah sekalian nunjuk mukanya sekalian alih-alih ngetwit serem begitu? Waktu itu saya hanya tertawa, meskipun pada akhirnya menangis juga.

Ya, beberapa orang memilih untuk 'balas dendam' dengan menganggap ia tidak ada mesipun ia ada. Saya adalah salah satu orang yang melakukan cara itu. Bukankah hal yang paling menyakitkan dalam hidup adalah saat kita tidak dianggap ada?

Jadi, terima kasih twitter telah membuat saya tetap waras.

Kantor, 28 Oktober 2017

Senin, 23 Oktober 2017

Sampai Kapan?

Sampai kapan?
Ia bertanya untuk kesekian kali, saat menelpon saya dalam perjalanan pulang. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti alasan mengapa saya memilih untuk menepi. Satu-satunya orang yang tahu benar alasan mengapa saya ke Jogja beberapa minggu lalu.
Ia satu-satunya yang paham bahwa tawa yang selama ini saya perlihatkan hanya palsu. Ia tahu saya sedang tidak baik-baik saja.
Sampai kapan?
Ulangnya, ketika kemarin saya terbata menangis untuk kesekian kalinya.
Ia bilang, seharusnya saya bahagia. Seharusnya saya baik-baik saja. Seharusnya saya belajar menyederhanakan keadaan.
Sampai kapan?
Sampai ia mengucap maaf, tapi sekali lagi saya bukan manusia bijak yang disakiti berkali-kali dapat segera melupa. Saya adalah pengingat yang handal.
Sampai kapan?
Maaf, saya sudah lupa cara memberi maaf.
Ruang Tunggu RSKM, 23 Oktober 2017

Rabu, 13 September 2017

Maaf Sayang, Aku Ingin Terlihat Cantik di Matamu

Cantik/copyright pexels.com


Ih, kamu enggak pantas pakai baju model begitu.
Hahaha...itu alis apa ulet bulu.
Habis minum darah neng?
Kebanyakan gaya kamu, pakai make up segala.
Muka gitu aja, enggak perlu di apa-apain. Gak bikin kamu tambah cantik.
Ih, dasar kebanyakan gaya.

Sering mendengar kalimat tersebut? Saya sering, berada di lingkungan yang didominasi banyak wanita tidak membuat saya dikelilingi oleh orang yang lebih paham wanita. Yah, justru mereka ini yang paling gencar membicarakan kelemahan kaumnya. Paling jago nyinyirnya. Miris? Jelas.

Ada yang salah dengan wanita yang ingin terlihat cantik? Sepertinya menjadi pesakitan ketika seseorang berusaha meratakan alisnya. Sepertinya menjadi sah dicaci maki ketika seseorang memoles bedak yang tebal dan wajahnya terlihat lebih putih dibanding lehernya. Duh, jadi wanita yang ingin cantik memang tidak mudah.

Well, sayangnya yang gemar merendahkan ini kebanyakan dari kaumnya sendiri. Wanita. Coba saja lihat akun instagram yang berbagi gosip dari selebriti hingga mereka yang ingin dianggap selebriti. Membaca kolom komentarnya membuat kepala saya berdenyut. Semudah itu mereka berkomentar?

Seringkali kita lupa mengukur standar hidup kita harus sama dengan orang lain. Ah, sayangnya saya juga lupa, berkomentar tentang keburukan orang lain itu candu.

Sabtu, 01 Juli 2017

Tentang Memaafkan



Lebaran sudah seminggu berlalu, apa yang saya dapatkan?

Banyak hal yang terjadi beberapa bulan ini. Sakit hati, kecewa dan tangis. Hingga sempat membuat saya berpikir, sampai kapan ini akan terjadi? Emosi ternyata membuat saya tidak sempat berpikir tentang kebahagiaan. Amarah ternyata mengikis logika saya. Namun, beruntungnya saya memiliki orang-orang baik yang setia saat saya terpuruk. Hingga saya dapat menepis ego hingga titik terendah.

Adalah malam takbir kemarin, saya benar-benar menangis. Saya tidak pernah merasa sengilu ini saat malam takbir. Saya menangis hebat. Mengingat apa yang telah saya lakukan beberapa bulan lalu. Ternyata semua sia-sia, seharusnya saya tidak menuruti emosi. Amarah tidak akan membuat segalanya menjadi baik, justru menjadikannya abu.

Sakit hati saya luruh. Dalam hati saya berjanji ini airmata terakhir saya untuk kebodohan ini. Saya berjanji ini amarah terakhir saya. Memaafkan memang tidak mudah. Melupakan tidak ada yang mudah. Menerima itu tidak pernah mudah, apalagi saat ego tersakiti.

Teringat pesan kakak laki-laki saya, saat berhadapan dengan orang yang tidak bisa memahamimu maka tugasmulah untuk memahami. Yup, sesederhana itu.

Saya akan belajar untuk memahami. Setiap orang akan berubah. Saya akan belajar menerima, karena tidak ada satu pun orang dapat membahagiakan semua orang. Jadi, untuk apa saya memaksakan keadaan agar memenuhi keinginan saya?

Mengapa saya memilih memaafkan dan melupakan rasa sakit dan kecewa saya. Karena saya tahu, maaf akan meringankan langkah saya di masa depan. Bukankah saya berhak untuk bahagia? Berhak memperjuangkan kebahagiaan saya?

Jadi, maafkan dan lupakan. Jika memang saya belum bisa seperti dulu tolong maafkan, karena untuk berjalan sejauh ini pun bagi saya tidak mudah.

Kamar 202, 18:02

Senin, 05 Juni 2017

Selamat Ulang Tahun

copyright pexels.com
"Selamat ulang tahun," bisikku tepat jam menunjuk pukul dua belas malam.

Lilin yang berada di atas kue ulang tahun dengan ukiran namamu menyala terang. Wajahmu terlihat tampan malam ini, dari balik siluet cahaya lilin.

Aku mengusap tulang pipimu pelan. Lalu tersenyum.

"Selamat ulang tahun," ulangku, kali ini lebih pelan.

Aku melihat senyummu. Aku mengamatinya, menyimpannya dalam setiap sel otakku. Takut jika ulang tahun berikutnya aku tak lagi bersamamu. Bukankah ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu.

"Selamat ulang tahun,"

Kali ini aku tidak melihat senyummu, hanya tangis tertahan saat kedua tanganku menancapkan pisau tepat di dada wanita yang kamu nikahi lima tahun lalu. Tanganku lincah mencukil kedua bola matanya. Bola mata yang kamu agungkan di belakangku. Bola mata yang membuatmu tak lagi melihatku.

"Selamat ulang tahun dan terima kado sepasang mata yang kamu puja di belakangku ini."


Malang, 5 Juni 2017

Minggu, 04 Juni 2017

Dementor

Dementor | copyright pottermore

Jika kalian penggemar serial Harry Potter tentu tahu dengan tokoh Dementor. Iya, makhluk yang hobi menyerap kebahagiaan orang yang berada di dekatnya. Efeknya? Seseorang yang kehilangan kebahagiaan itu sama mengerikannya dengan orang yang kehilangan harapan. Kalau enggak depresi ya bakal berujung mati.

Rasanya gimana sih bertemu Dementor alias seseorang yang membuat kita kehilangan kebahagiaan? Hfft, jangan ditanya. Menyebalkan dan menyakitkan.

Suka atau tidak, setiap orang pasti memiliki Dementor. Ada yang berwujud kenangan dengan mantan, tentang cinta yang tidak terbalas, deadline pekerjaan, Bos yang menyebalkan, teman yang sok tau, dan banyak lainnya. Kalau ditanya apa wujud Dementor saya saat ini? Jawabannya adalah keadaan yang memaksa saya untuk menerima. Apa itu? Biar saya dan Tuhan yang tahu. Hahaha, padahal tidak ada yang ingin tahu juga.

Tidak ada penyakit tanpa obat. Begitu juga dengan kehadiran Dementor ini. Ada cara untuk mengusirnya, yaitu membuat mantra Potranus. Cara kerja mantra ini sangat ajaib, yaitu dengan mengumpulkan kenangan menyenangkan dan yang membuat kita bahagia. Kita cukup mengingat hal-hal yang menyenangkan tersebut. Dengan kita tertawa maka Potranus akan terbentuk dan Dementor pun kalah. Sesederhana itu.

Sayangnya mengumpulkan kebahagiaan di saat hati kita dipenuhi rasa benci itu tidak mudah. Menemukan bahagia, saat kita dipaksa untuk menerima keadaan yang tidak disukai itu sangat memberatkan. Maka tidak selamanya Potranus dapat berhasil diciptakan. Seringkali, saat manusia bertemu Dementor berakhir dengan depresi atau yang terburuk adalah kematian.

Saat ini saya sedang berjuang untuk membuat mantra Potranus saya. Mengingat kenangan tentang hal yang menyenangkan. Melakukan hal-hal seru. Tidak selalu bersama orang lain, saya pun kerap melakukannya sendiri. Karena saya tahu, menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain hanya akan menghasilkan kecewa.

Saya menulis, saya melakukan perjalanan jauh, saya menghindari segala rutinitas yang membuat saya teringat tentang sosok Dementor tersebut. Mungkin Potranus saya belum sempurna saya buat. Tapi saya percaya, sebagai manusia tidak selamanya kesedihan akan berjalan bersama saya selamanya.

Selamat tanggal 4 Juni Dementorku, semoga tidurmu nyenyak.

Sabtu, 03 Juni 2017

Menjadi (yang) Mereka Inginkan



Menjadi aku ternyata tidak mudah.

Saya adalah bungsu dari lima bersaudara. Banyak yang menganggap menjadi bungsu itu menyenangkan karena pasti semua keinginan akan dipenuhi. Tidak perlu menunggu besok, hari itu juga pasti dikabulkan.

Menjadi bungsu itu menyenangkan, kata bagi sebagian.

Ketika ada yang tidak sesuai yang diinginkan, cukup merajuk maka semua urusan selesai. Semua akan menuruti. Menenangkan dengan janji akan memberi dua bahkan tiga kali lipat dari yang diinginkan.

Sayangnya menjadi bungsu tidak semudah yang mereka bayangkan. Apalagi menjadi bungsu yang serba enggak enakan.

Ketika egoku tersakiti, aku pikir semua akan memahami. Justru saat aku ingin mengemukakan pendapat, mereka berpikir aku hanya cemburu dan iri. Halah, bungsu kan tidak jauh dari dua hal itu. Tukang iri dan cemburu. Egois mereka bilang.

Ternyata menjadi bungsu yang mereka inginkan tidak mudah. Ketika merajuk salah, lalu apa aku harus pergi?

Ternyata juga salah, jika aku pergi itu artinya aku membenarkan anggapan mereka bahwa aku sedang iri.

Ternyata menjadi mereka inginkan sulit sekali, sekadar menjadi bungsu yang egois sekalipun.

Kamis, 01 Juni 2017

Sahur Apa?

Alhamdulilah bertemu Ramadan lagi.

Beberapa orang suka menanyakan menu sahur saya. Alih-alih kepo, mereka penasaran menu sahur seorang Ayu yang picky. Saya memang pemilih dalam soal apa pun termasuk dengan memilih menu sahur.

Lalu menu sahur apa yang kamu pilih?

Saya biasa minum air putih dan satu buah. Buahnya entah apel atau pear. Tapi 2 Ramadan ini saya memilih pear century. Alasannya pear centrury lebih manis dan kresh. Harganya gak terlalu mahal dan tentu saja kandungan airnya lebih banyak sehingga membuat saya terbebas dari dehidrasi.

Air putih yang saya minum saat sahur yaitu sebanyak 1 botol tupperware ukuran tanggung, ya setara 600ml. Kadang bisa lebih. Gak laper yu? Gak haus? Alhamdulilah, ritual sahur model begini sudah saya jalani sejak 6 tahun lalu. Malah saya lebih kuat dan tidak merasa lemas. Justru kalau makan nasi waktu sahur badan saya semakin lemas. Hehehe.

Dulu seseorang suka memarahi saya dengan kebiasaan sahur saya. Tapi waktu itu iya-iya aja. Kebiasaan sahur pun tetap sama. Hanya berubah saat saya pulang. Biar enggak dicap durhaka karena tidak makan sahur menu buatan ibu,

Tahun ini, saya masih melakukan ritual yang sama. Sahur dengan air putih dan buah, tapi sekarang ada tambahan lagi. Saya akhirnya minum susu dengan gambar beruang itu, iya yang iklannya ada naga terbangnya itu. HAHAHA.

Jadi kalau ada yang puasa tambah gemuk karena konsumsi gula meningkat malah sebaliknya. Saya tetap kurus dan tidak gemuk-gemuk :( Ketika semua berlomba berburu es dan kolak saat puasa, saya justru menghindarinya. Yha, anggap saja ini detoks. Toh, selama 11 bulan sebelumnya saya minum yang manis-manis terus.

Jadi, kamu kalau sahur pakai apa?

Rabu, 19 April 2017

Bapak

Doa tak akan pernah mengembalikan ia yang telah pergi, tetapi doa akan menabahkanmu dari kehilangan – Ayu Puji Lestari.

Perjalanan ini  terlalu lama, bayangan tentang Bapak memenuhi isi kepalaku. Telpon yang kuterima subuh tadi mengantarkanku untuk duduk di dalam bus berwarna kuning ini. Perjalanan untuk pulang.

Air mata berkali-kali kuusap. Mengabaikan pandangan heran penumpang yang memenuhi bus ini. Aku hanya ingin segera sampai rumah, dan memastikan bahwa Bapak baik-baik saja. Bahwa kekhawatiranku tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin memeluk Bapak.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak saat mengantarku kembali ke Pasuruan sore itu. 

“Tinggal tugas akhir pak,”jawabku setengah berteriak, mengalahkan suara motor yang membenamkan suaraku.

“Ya syukur. Tahun ini selesai kan?”

“Insyaallah,” Jawabku.

Dan itu adalah percakapan terakhirku bersama Bapak, sebelum akhirnya pertengahan Januari kemarin Bapak harus dirawat di rumah sakit. Ada peradangan di ginjalnya, kreatinnya tidak normal, adalah penjelasan mengapa Bapak harus menjalani diet ketat selama tiga bulan ini. Diet ketat yang menghabiskan badan Bapak, yang menyebabkan Bapak kurus. Alasan medis, hanya itu yang mampu aku tangkap dari penjelasan Dokter.

Hari ketiga, Bapak di Rumah Sakit.
Selama tiga bulan Bapak berkali-kali mengunjungi Rumah Sakit, tempat yang paling Bapak benci. Tiga bulan Bapak harus berteman dengan slang infus, obat dan jarum suntik. Semua hal yang Bapak benci. Dan dengan segala upaya kami mengharap Bapak sembuh.

Dan hari ini selang tiga hari dari aku bersama Ibu, Mbak dan Mas merayakan ulang tahun Bapak ke enam puluh tiga tahun. Telpon di pagi buta, yang sering aku takutkan pun terjadi.

“Pulanglah, kalau ingin bertemu Bapak.”

Maka duduklah aku di Bus ini. Bayangan tentang Bapak memenuhi pikiranku. Obrolan tentang harapan sederhana Bapak. Dan kenangan saat Bapak dengan bangga mengenalkanku kepada teman-temannya. Tak hanya aku, Bapak adalah sosok yang begitu bangga dengan keluarganya. Tak jarang ketika ada rekannya bertamu ke rumah maka Bapak tanpa segan mengambil album foto dan menceritakan tentang kehidupan anak-anaknya, termasuk aku yang jauh dari hal membanggakan.

Aku menghapus air mataku, aku berkali-kali menghela nafas. Berharap air mata ini dapat aku bendung, dan sialnya semakin aku paksa untuk berhenti air mataku malah semakin deras mengalir. Aku tak mau Bapak pergi.

Bapak tak pernah mengeluh sakit, paling anti pergi ke dokter. Dan semua berubah, saat pertengahan Januari lalu Bapak mengeluh sakit dan memaksa Ibu untuk menemani ke Rumah Sakit. Hari itu untuk pertama kalinya Bapak opname di Rumah Sakit. Dan betapa paniknya kami setelah menerima penjelasan tentang penyakit Bapak. Dan sejak hari itu bolak-balik ke Rumah Sakit menjadi rutinitas, hal yang membuat sesak bagi jiwa kami.

Aku mengusap foto yang menghias home screen HP ku, foto Ibu dan Bapak enam bulan yang lalu saat menghadiri pernikahan sepupuku di Malang. Foto yang aku ambil sesaat sebelum rombongan kami meninggalkan penginapan. Aku tergugu, mengingat perkataan Bapak saat aku menemani Bapak yang terjaga malam itu.

“Kalau sudah ada yang dekat, boleh kok dikenalkan ke Bapak. Anak mana? Bapak boleh tahu?”

Waktu itu aku hanya menggeleng, “Belum ada.”

Padahal sudah ada dia, lelakiku. My iced coffee.

Aku memandang ke arah luar jendela. Keriuhan jalan raya di pagi hari, adakah mereka mengalami hal yang sama denganku? Dikejar waktu dan berusaha membunuh rasa sesak karena khawatir. Bus yang membawaku berhenti di Terminal Mojoagung, setengah tergesa aku mencari seseorang yang rencananya akan menjemputku. Aku berharap Om Edi, adik dari Ibu yang menjemputku pagi itu. Setidaknya hal itu menunjukkan bahwa keadaan di rumah normal. Sayangnya, bukan Om yang tengah berdiri menungguku tetapi salah satu tetangga dekat rumah. Semakin runtuh harapanku. Aku hanya terdiam saat motor membawaku ke rumah.

Rumah ramai dengan tetangga dan saudara. Semua menyambutku, meminta untuk tenang. Yang aku ingat, sejak hari itu duniaku tidak lagi baik-baik saja. Berkali-kali aku berucap untuk ikhlas, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Hatiku patah.

April empat tahun yang lalu, hari terburuk itu pun aku alami. Perpisahan tidak pernah baik-baik saja. April empat tahun lalu, aku menjadi yatim. Sebagai seorang putri, ditinggalkan seorang Ayah adalah patah hati terhebatnya.

Hari ini aku kembali mengingat masa-masa itu. Kembali mengingat saat Bapak masih ada, kembali berandai-andai seandainya Bapak masih ada. Mencoba mengingat kembali alasan senyum Bapak. Ya, seringkali kehilangan menyadarkan pentingnya seseorang bagi kita.

Kembali mengingat apakah yang benar-benar membuat Bapak bahagia? Membuat Bapak duduk di bangku undangan, deretan paling depan saat penerimaan raport. Mendengar kabar bahwa akhirnya aku memilih menjadi Akuntan alih-alih menjadi tukang peneliti. Aku tidak pernah benar-benar tahu, yang aku tahu Bapak selalu bangga terhadap pilihan anak-anaknya.

Setelah empat tahun berlalu, perasaanku tetap sama. Pak, Ayu kangen pengen pulang ke rumah yang ada Bapak.

Malang, 19 April 2017.

Senin, 27 Maret 2017

Menikmati Suasana Rumah di Hotel Zam Zam Batu

Apa yang kamu pikirkan tentang kota Batu? Tentu saja apalagi kalau bukan pesona alamnya yang aduhai. Tidak hanya hawa dinginnya yang menjadi pesona, kota Batu pun menyimpan banyak hal seru. Maka tidak salah jika berlibur di kota Batu selalu menjadi pilihan utama saat akhir pekan, apalagi saat liburan panjang. Maka tidak heran, saat ini di kota Batu banyak berdiri hotel dan resort. Apalagi kalau tidak untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal untuk wisatawan yang berkunjung di kota Apel ini.

Perjalanan keliling Hotel Zam Zam bersama Blogger Ngalam | Foto Sandynata

Nah, kemarin saya dan teman-teman Blogger Ngalam diberi kesempatan untuk berkunjung ke salah satu hotel di Batu, yaitu  Zam Zam Hotel and Convention. Hotel ini terletak di Jalan Abdul Gani Atas, terletak +/- 500 meter dari wisata petik apel, Agro Kusuma. Wew, asik nih. Ada beberapa hal yang membuat hotel ini berbeda dengan hotel di Batu pada umumnya. Apa saja yang membuat hotel ini membuatnya cukup menarik? Berikut ini reviewnya.

Hotel dengan Masjid

Masjid di Dalam Area Hotel Zam Zam | copyright: Iwan Tantomi

Iya, hotel ini memiliki masjid di area dalam hotel. Bukan sekadar Musholla, tapi masjid yang aktif sholat lima waktu, Salat Jumat dan saat Ramadan dimanfaatkan untuk Taraweh. Tidak hanya untuk kepentingan karyawan dan tamu hotel, masjid ini juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk beribadah.

Kamar Luas dan Wangi

Salah satu ruang kamar di Zam Zam Hotel | copyright: Ayu Puji Lestari

Total kamar di Hotel Zam Zam ada 76 kamar, yang terdiri dari Deluxe Suite, Superior, Deluxe Executive, Junior Suite, Family Standart dan Family Deluxe. Untuk di kelasnya yaitu Hotel bintang tiga, Hotel Zam Zam memiliki kamar yang luas. Tidak hanya itu setiap kamu memasuki ruang kamarnya maka wangi khasnya akan membuat kamu betah dan merasa sedang di rumah sendiri.

Hotel ini memiliki standar pelayanan 3BITV yaitu, Bed Room, Bath Room, Breakfast, Internet dan TV. Jadi setiap tamu hotel berhak pelayanan prima dari hal di atas. Well, pantes saja selama keliling di Hotel ini saya merasa sedang di rumah.

Makanan Halal dan Non MSG

Salah satu yang membuat saya merasa nyaman dengan Hotel Zam Zam adalah, semua masakan yang disajikan di hotel ini adalah makanan halal. Iya, hotel ini berkomitmen hanya menyediakan makanan dan minuman yang kehalalannya terjamin. Tidak hanya itu, masakan yang disajikan pun bebas MSG, nah sudah pasti sehat kan?

Saat saya bertemu dengan Chef Ariyanto kepala koki di Hotel Zam Zam menyebutkan, masakan yang enak tidak perlu MSG. Rasa enak makanan dapat disajikan lewat pemilihan bahan yang berkualitas serta bumbu ya pas. Duh, Chef saya setuju dengan Anda soal ini.

Hotel yang Ramah Difabel

Pengalaman sebagai auditor seringkali membuat saya harus melakukan perjalanan luar kota, yang akhirnya menuntut saya untuk menginap di hotel. Dan baru kali ini saya menemukan hotel yang ramah bagi pengguna kursi roda. Mengapa saya bilang demikian? Hotel berlantai 3 ini memiliki lift, dan sepanjang lorong hotel disediakan jalur khusus untuk pengguna kursi roda. Hal yang jarang disentuh oleh beberapa pengelola hotel. Makin istimewa kan Hotel Zam Zam ini?

Tanaman Dalam Lorong

Jika menginap di Hotel Zam Zam maka kamu akan menemukan beberapa tanaman hidup yang diletakkan pada pot di depan kamar. Saya melihat ada beberapa jenis tanaman Sri Rejeki dan Bunga Terompet. Hehe, mengapa saya tahu? Karena pihak hotel memberikan name tag pada tanaman tersebut. Terlihat sederhana tapi hal ini dapat membantu mengedukasi pengunjung Hotel.

Pemandangan Pegunungan Panderman

Panderman Resto dengan view pegunungan Panderman | copyright: Ayu Puji Lestari
Salah satu hal menyenangkan dari menginap di Batu adalah pengalaman melihat gunung Panderman dari dekat. Nah,salah satu view yang ditawarkan Hotel Zam Zam adalah view pegunungan Panderman. Kapan lagi makan enak sambil melihat yang seger-seger?

Tidak hanya itu Zam Zam Hotel and Convention pun memberikan penawaran paket wedding mulai 23.999.000 nett untuk 100 undangan. Nah, makin menarik kan? Saya sih jadi pengen bikin private party buat wedding, masjid sudah ada nanti bisalah acaranya di gelar di Panderman Resto sambil melihat keindahan pegunungan, nanti menginapnya di the one room Deluxe Suite. Gimana? Yuk, ah ke Zam Zam Hotel.

Alamat Zam Zam Hotel
Jalan Abdul Gani Atas, Batu Telpon: 0341 - 591148/591149 Fax: 0341 - 591150
Email: info@zamzamhotel.com | www.zamzamhotel.com

Kamis, 16 Maret 2017

Hal-Hal yang Membuat Saya Jatuh Cinta dengan Kota Semarang


Yeay, akhirnya Tahun 2017 ini saya kesampaian maen ke Semarang. Persiapannya hampir dua bulan, yeay solo travelling kali ini penuh persiapan. Ada dua hal yang membuat saya melakukan persiapan tidak seperti biasanya. Pertama, kota ini untuk pertama kalinya saya kunjungi. Kedua, saya benar-benar ingin menikmati solo traveling kali ini.

Saya melakukan perjalanan Jumat tanggal 10 Maret lalu, naik kereta api sampai di Semarang esok harinya. Well, kalau ditanya apa yang membuat saya betah di Semarang ini jawabannya.

Kota Tua

Yup, saya adalah penggila city tour. Kalau travelling yang dipilih gak jauh dari jalan-jalan sekitar kota. Dan kejutannya Semarang punya kawasan Kota Tua. Yeay! Anggap saja pemanasan sebelum ke Kota Tua Jakarta. Saya ke Kota Tua sampai dua kali. Subuh sesampai saya di Semarang dan saya lanjutkan keesokan harinya.

Saya suka dengan bangunan tuanya. Suasananya dan tentu saja Gereja Belduk yang legendaris itu. Saya juga sempat ke Taman Garuda dan Taman Sri Gunting.

Lawang Sewu

Mainstream sih, tapi saya memang jatuh cinta dengan bangunan ini. Bangunan peninggalan kolonial ini memang penuh daya tarik. Saya juga ke sini dua kali, malam hari dan siang hari. Gara-gara main ke sini jadi punya bayangan ingin ngadain resepsi di Lawang Sewu. Hmm, lucu kali ya?

Bakmi Pak Doel Numani

Semua bilang kuliner di Semarang enak, okay saya setuju itu. Tapi dari sekian banyak makanan yang saya coba selama di Semarang, Bakmi Pak Doel Numani di seberang Mall Paragon adalah juaranya. Hmm, Bakmi Godhognya enak banget. Minya lumer dan lembut. Dimakan dengan sate jeroan makin yummy. Bahagianya, harganya pun pas di kantong.

Semua Camilan di Bandeng Juwana

Enting Gephuk, Moachi, Roti isi abon bandeng, Tahu Bakso, Pia Susu dan banyak lagi. Rasanya tidak ada camilan yang dijual di Toko Bandeng Juwana yang tidak saya suka. Hehe, serunya lagi kalau belanja di sini bisa dapat tester. Jadi sebelum memutuskan beli bisa nyicip dulu bakal sesuai dengan selera atau tidak.

Trotoar di Semarang Juara

Meskipun belum semua Trotoar di Semarang bagus dan masih ada beberapa ruas trotoar yang belum selesai diperbaiki, tapi sungguh trotoar di Semarang itu idaman banget. Trotoarnya luas dan nyaman. Trotoar favorit adalah sepanjang jalan Thamrin yang menuju Tugu Pemuda. Suka!

Transportasi Umum Lengkap

Di Semarang mau naik angkot, BRT (Semacam Bus Trans), Bus Kota, Bus Damri, Becak, Ojek Pengkolan, Ojek Online, Taxi lokal, Taxi sekelas Blue Bird, Taxi online semuanya ada. Selama di Semarang saya banyak naik BRT, kalau lagi selow naik becak, nah saat malam dan jarak tempuh agak jauh saya baru menggunakan Taxi online. Serunya lagi yang online dan konvensional gak ribut. Selow, sedikit bikin terharu mengingat sebelum berangkat ke Semarang sempat terlibat drama transportasi online vs konvensional.

Selain hal di atas, masih banyak hal seru yang saya nikmati selama di Semarang. Nanti deh saya bahas satu persatu. Jadi mau ke Semarang lagi yu? MAU!!!!

Selasa, 28 Februari 2017

Alasan Klise Mengapa Saya Memilih Angkot Daripada Kamu

Angkot di Malang | Gambar Ilustrasi/Jawa Pos

Disclaimare: Tulisan ini murni pendapat pribadi saya sebagai pengguna angkot, tidak berniat menyudutkan salah satu pihak. Terima kasih.

Yu, naik Gojek saja loh. Lebih cepet, enggak macet. Murah lagi.
Kalau mau cepet ya datang lebih awal. Enggak mau macet? Terbang saja.

Yup, hal itulah yang sering saya dengar saat lagi ngumpul bersama teman-teman dan harus datang terlambat karena angkot ngetem. Panik saat sudah malam, angkot sudah enggak ada atau jarang dan terpaksa menelpon Taxi. Yang berakhir saya membayar lebih mahal daripada makanan yang saya pesan saat itu. Tapi apa saya kapok? Hehehe, ternyata sampai hari ini saya belum kapok.

Saya adalah pengguna angkot sejati. Sempat vakum naik angkot selama tinggal di Pasuruan karena transportasi lebih nyaman naik becak. Balik lagi menjadi pengguna angkot aktif setelah balik ke Malang. Padahal angkot sudah banyak ditinggalkan.

Sempat merasa gemes saat Angkot di Malang demo beberapa minggu yang lalu. Alasannya enggak terima trayek mereka banyak diambil dengan Transpotasi Online. Gemes karena mengapa mereka protes setelah Transportasi Online sudah hadir cukup lama, meskipun belum genap satu tahun. Gemes, karena selama ini saya dengar Pak Sopir Angkot tidak pernah merasa tersaingi dan mereka selow melihat banyaknya pengemudi Gojek di jalanan kota Malang. Rasa-rasanya masih enggak percaya mereka menuntut agar Transportasi Online tidak perlu ada di Malang.

Pak, setiap orang berhak memilih kan? *iyap ini drama*

Jika dilihat pasar pengguna Angkot dan Transportasi Online berbeda. Ya kali, tidak semua orang memiliki handphone yang mumpuni buat digunakan pengoperasian aplikasi Gojek dan kawan-kawannya. Dan yang terpenting tidak semua orang menganggap duduk anteng di rumah dan dijemput kemudian diantar ke tujuan itu menyenangkan. See? Meskipun saya tau dan handphone saya tidak jadul-jadul banget untuk download aplikasi Gojek dan kawan-kawannya, tidak membuat saya tergantung pada mereka. Saya tetep menjadi pengguna angkot yang setia hingga hari ini, meskipun saat malam sering affaiir dengan Taxi Konvensional.

Gemes saja saat ada yang komentar untuk mengurangi kemacetan di Malang yang ruwetnya mirip hubungan kamu sama mantan dengan menghilangkan angkot dan membiarkan Transportasi Online ada. Woy, yang bikin macet Malang itu bukan angkot tapi itu kendaraan pribadi. Gemes ketika ada yang berkomentar yang gak mau makai transportasi itu udik dan kampungan. Yha, berarti saya kampungan dong? :( 

Well, sedih saja saat kemarin Pak Sopir Angkot demo menolak Transportasi Online. Kenapa sedih, karena angkot sama transportasi online itu perbandingannya bukan aple to aple. Beda kelas. Yakin yang bikin sepi angkot karena hadirnya transportasi online? Enggak kok, yang ada banyaknya orang menganggap naik kendaraan pribadi lebih praktis daripada naik angkot. Naik angkot itu ribet, bikin macet dan ‘mahal’. Padahal ya, kalau macet mereka yang ngomel-ngomel. Iya itu mereka yang ikut madetin jalan dengan naik kendaraan pribadi. Hehe.

Saya memang penggemar transportasi umum, meskipun saya tahu transportasi online pun termasuk transportasi umum. Tapi mengapa saya memilih angkot? Karena angkot bisa ditumpangi lebih dari satu orang bahkan berbanyak. Kenapa hal ini menjadi penting bagi saya? Karena saya tidak ingin menjadi bagian penyebab orang ngomel akibat macet. See? Itu alasan sederhananya. Alasan ribetnya? Karena saya susah untuk move on dan terlalu pemilih. Jadi kalau kamu menyuruh saya enggak naik angkot, mungkin harus menunggu MRT ada di Malang. Karena bagi saya Angkot vs Transportasi Online itu enggak apple to apple. Hahaha, dan yang terpenting menurut orang lain lebih mudah bisa jadi sebaliknya bagi saya. Begitu saja. Selamat malam.

Minggu, 12 Februari 2017

Lost in Malang, Malam Minggu Receh Jalan Kaki Keliling Kota Malang

Siapa sih yang enggak suka malam minggu? Apalagi para pekerja yang sabtunya harus kerja. Malam minggu itu semacam angin surga, bisa pulang kerja lebih awal dan sore hingga malam bisa ngapain aja. Tidur malam pun tidak masalah, karena besok hari minggu dan libur. Maka malam minggu kemarin saya memutuskan ikut acara yang diadakan A Day To Walk. Jalan-jalan hore di malam hari sepertinya tidak ada salahnya menjadi pilihan saya malam itu.

Sejak siang saya diribetkan dengan urusan event di komunitas, sempat ketemu teman lama juga dan hampir menjelang malam baru kelar semua urusan. Muka sudah kucel dan badan sudah remuk sebenarnya. Acara A Day To Walk sebenarnya dimulai pukul setengah tujuh, lah ini pukul tujuh telat banget ya seandainya saya nekat untuk gabung. Iseng lewat meeting point, sekalian mau oper angkot dan ternyata masih ramai. Well, akhirnya saya ikut bergabung. 

Ternyata malam itu banyak juga yang datang. Saya sempat ber’hai’ dengan salah satu peserta. Ngobrol sebentar dan kenalan. Asiknya ikut acara beginian membuat saya bertemu teman baru. Setelah berdoa dan dijelaskan rute jalan hari ini, rombongan langsung bergerak ke Alun-Alun.

Ternyata salah satu peserta ada Tomi dan Alfin. Ya elah, mereka lagi. Ujung-ujungnya saya jalan juga dengan mereka. Rute jalan-jalan berikutnya adalah Night Market yang berada di belakang Pasar Besar. Nah, setelah sampai di Night Market inilah muncul ide laknat saya.

“Pisah jalan yuk....”

Dan benar saja, saat rombongan melanjutkan jalan saya, Alfin dan Tomi malah memutuskan berhenti di Ronde Titoni nyemil Angsle. Sebenarnya saya penasaran wujud ronde itu seperti apa, tapi karena sejak seminggu lebih pengen angsle maka saya memilih memesan angsle. Yeay, akhirnya makan Angsle.

Angsle di Titoni, sukaaak XD | Foto by: Tomi

Ini adalah pengalaman pertama saya makan Angsle di Ronde Titoni. Pernah sih makan tapi biasanya dibungkusin sama teman. Dan ternyata makan di tempat lebih enak daripada dibungkus. Ih, kesel. Setelah menghabiskan satu mangkok angsle kami melanjutkan perjalanan ke arah Pasar Besar, dengan asumsi bakal bertemu rombongan di sana. Ternyata enggak ketemu. Hahaha.

Dari Pasar Besar kami menuju Jalan Zainal Arifin, belakang Ramayana. Akhirnya saya tahu di mana Es Tawon berada, akhirnya besok-besok saya bakal nge-es hore di sana. Meskipun besoknya enggak tahu kapan. Sepanjang perjalanan saya lebih banyak mendengar dongeng dari Tomi dan Alfin. Dan bahagianya saya tahu beberapa kuliner malam sebagai referensi makan malam.Ya, agar malam saya lebih berfaedah dari sekadar nasi lalapan atau nasi goreng. Kami melanjutkan perjalanan hinggal Bok Glodok, sempat wefie juga di sana. Lewat depan Stasiun dan duduk bego di depan Balai Kota berharap bertemu dengan rombongan.

Akhirnya kami memutuskan memotong jalan, lewat jalan majapahit kembali ke Dilo, meeting point awal. Sempat tergoda ingin membeli nasi goreng tapi batal karena kaki sudah nyut-nyutan dan muka sudah mirip zombi karena seharian jalan. Saat mau menyebrang ke Dilo kami bertemu dengan rombongan, haha. Akhirnya memutuskan untuk sok hore berkumpul dengan rombongan yang sedang mendengarkan dengan khidmat penjelasan pemimpin rombongan soal Bioskop Merdeka yang tinggal reruntuhannya saja . Kami juga sempat foto bareng dengan rombongan. Dan salah satu kenalan nyeletuk,

“Loh, kalian tadi kemana? Kok enggak keliatan?”

“Ada kok, tadi kami jalannya pelan-pelan”

Saya tahu dia enggak percaya, tapi masa bodoh kali ya? Hahaha.

Tim Ngehe yang nyempil dari Rombongan, abaikan muka kucelku :( | Foto by: Tomi

Dan akhirnya malam itu kesampaian juga wefie di atas jembatan penyebrangan depan Dilo. Iya, saya bahagianya receh. Jadi kapan jalan-jalan lagi? Maumu yu ~

Rabu, 08 Februari 2017

Berjumpa Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-Kata

Akhirnya Istirahatlah Kata-Kata di Mandala 21, Malang | Foto by: Iwan Tantomi

Akhirnya setelah menunggu 2 minggu lebih, saya berhasil menonton film yang penayangannya sudah saya tunggu sejak tahun lalu. Sempat kesal, karena Malang termasuk kota yang tidak menayangkan Istirahatlah Kata-Kata. Beruntung Melati, yang mengkoordinir teman-teman di Malang untuk nobar Wiji Thukul berhasil menghadirkan Wiji Thukul di Bioskop kota Malang. Tidak main-main sekitar 700 orang lebih nobar Istirahatlah Kata-Kata tanggal 2 Februari kemarin. Angka yang fantastis, total 5 studia full booked pada tanggal tersebut. Hebat ya? Iya dong :3 Melihat antusiasme Arek Malang akhirnya Mandala 21 menayangkan secara reguler Istirahatlah Kata-Kata sejak tanggal 30 Januari 2017 *tepuk tangan*

Istirahatlah Kata-Kata bercerita tentang pelarian Wiji Thukul. Seperti dugaan saya, film ini banyak menceritakan tentang pelariannya. Film yang tanpa banyak cakap, tapi saya mampu menangkap kengerian dan rasa getir hidup sebagai ‘buron’. Sepanjang film saya merasakan kegetiran yang sangat. Tidak hanya itu, beberapa puisi Wiji Thukul yang dibacakan membuat saya merasakan kegetiran rezim kala itu. Yang kata Wiji Thukul, rezim yang takut dengan kata-kata.

Tidak hanya tentang kegetiran kehidupan Wiji Thukul saja yang ingin disampaikan dalam film ini. Ada juga sisi romantis seorang Thukul. Adalah Thukul yang membelikan Sipon celana, yang ia bawa pulang ke Solo. Tidak hanya sekadar membelikan celana saja, Wiji Thukul pun mencuci celana tersebut sebelum ia bawa pulang. Di situ saya melihat, ya Wiji Thukul pun seorang manusia biasa. Merasa mencintai dan dicintai, membuatnya seperti manusia pada umumnya. Entah, romantisme Wiji Thukul dan Sipon hingga kini membuat saya termenung. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk membahasakan cintanya.

Di penghujung cerita, Sipon yang sempat berteriak marah kepada salah satu tetangganya ‘Aku guduk lonte..’ yang artinya ‘Aku bukan pelacur...’hanya karena Sipon sempat dilihat tetangganya tersebut masuk ke sebuah penginapan untuk menemui Wiji Thukul. Betapa ya, masalah steriotipe itu lekat dengan wanita. Hanya karena Wiji Thukul tidak bersama dengan Sipon sepanjang waktu, seperti menjadi pembenaran bahwa Sipon layak direndahkan.

Pelarian tidak pernah baik-baik saja. Pelarian selalu meninggalkan ‘luka’. Saya memang tidak pernah tahu bagaimana sejarah Wiji Thukul. Saya hanya membaca beberapa kali namanya, tanpa tertarik untuk mencari tahu. Hingga kemarin Kompas Gramedia menerbitkan Seri  Tempo salah satunya mengulas tentang Wiji Thukul. Saya membacanya dan tertegun, jika Wiji Thukul begitu ditakuti oleh rezim kala itu. Dari situlah saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Wiji Thukul. Saya jadi tahu jika kasus 27 Juli 1996 pun dikaitkan dengannya. Kenyataan yang seringkali membuat saya kesal saat membaca buku sejarah dan mengetahui tanggal lahir saya bersamaan dengan sejarah gelap negeri ini.

Saya menyukai film ini, saya menikmati film ini. Film yang menyajikan sisi humanis seorang Wiji Thukul. Saya berharap ketika film berakhir, ketika Wiji Thukul yang menawari Sipon untuk minum air putih lagi itu akan kembali. Saya berharap, Wiji Thukul kembali membawakan segelas air putih untuk menenangkan tangis Sipon. Tapi ternyata tidak. Ia tidak kembali menemui Sipon. Di situ saya mulai merasa ngilu, kehilangan tidak pernah ada yang baik-baik saja. Tapi saya tahu Sipon hingga hari ini masih percaya Wiji Thukul pasti kembali.

Ada satu kutipan yang paling saya sukai dari film Istirahatlah Kata-Kata ini, yaitu ucapan Sipon kepada Wiji Thukul;

Aku ora pengen kowe lungo, nanging aku yo ora pengen kowe moleh. Sing tak pengeni kowe ono.

Dan akhirnya terima kasih untuk Yosef Anggi Noen yang membuat film ini menjadi luar biasa. Terima kasih.

Selasa, 07 Februari 2017

Berlibur ke Malang Selama 24 Jam? Berikut Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi

Kota Malang memang penuh daya tarik maka tidak heran jika setiap hari selalu saja wisatawan yang datang untuk berkunjung ke kota ini. Malang memang berbeda, meskipun di beberapa tempat mulai macet tidak mengurungkan niat pecintanya untuk berkunjung. Jika kamu berniat berkunjung ke kota Malang hanya sehari, itenary ini bisa menjadi pertimbangan buatmu. Yuk, mari!

06.00 – 07.30, Jalan Kawi

Mengisi perut dengan sajian khas kota Malang bisa menjadi alternatif buat kamu. Salah satu yang khas dari kota Malang adalah Pecel Kawi, yang berada di Jalan Kawi. Jika kamu tidak seberapa suka Pecel, di sepanjang jalan Kawi banyak kuliner lainnya. Lokasinya pun masih satu tempat dengan Pecel Kawi, ada Nasi Buk Madura, Widuri yang menyediakan masakan campur, dan Nasi Krawu.

08.00-10.00, Alun-Alun

Puas dengan sarapan khas kota Malang. Kamu bisa mencari angkot LG menuju arah pusat kota. Ada Alun-alun, dan Tugu 0 kilometer di bawah jembatan penyebrangan. Tidak perlu khawatir, di alun-alun ini kamu bisa berfoto dengan pemandangan yang instragramable. Serunya, ada bangunan masjid dan gereja yang di bangun bersebelahan. Nah, ini membuktikan bahwa kota Malang menjunjung tinggi toleransi umat beragama.

10.00-11.00, Toko Oen

Setelah berkeliling sekitar Alun-Alun tidak ada salahnya jika kamu mencicipi es krim paling legendaris di Kota Malang, Toko Oen. Letaknya bersebrangan dengan Sarinah dan berada di sebelah persis Toko Buku Gramedia. Sambil menikmati es krim yang lumer di mulut ini, kamu bisa beristirahat. Harga untuk es krimnya mulai 50k.

11.00-12.00, Kayutangan

Setelah dari Toko Oen, kamu bisa melanjutkan perjalanan napak tilas sepanjang Kayutangan. Di sepanjang jalan ini banyak bangunan tua. Kamu harus mencoba berkunjung ke Toko Kue Hawai. Jika kamu beruntung maka pemiliknya akan mengijinkanmu untuk melihat proses pembuatan kuenya. Selain Toko Kue Hawai, ada Taman Tembakau yang menjual berbagai macam cerutu. Tempat ini bisa menjadi surga bagi penggemar cerutu.

12.00 – 14.30, Inggil

Kamu dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Untuk menuju ke tujuan ini kamu dapat menggunakan angkot AL dan ADL. Jaraknya tidak terlalu jauh, jika kamu masih kuat berjalan kamu dapat berjalan kaki. Sepanjang jalan menuju Rumah Makan Inggil kamu dapat melihat pemandangan yang lumayan asik. Ada Splindid, Alun-Alun Tugu yang asik buat foto. Rumah Makan ini terletak di jalan Gajah Mada, belakang Gedung Balai Kota. Masakannya yang enak bakal memanjakan lidah kamu.

15.00 – 16.00 Ngopi di Legi Pait

Tempat ngopi yang wajib dikunjungi jika kamu jalan-jalan ke Malang. Tidak hanya menyediakan kopi, di Legi Pait juga banyak variasi minuman dari teh hingga coklat. Tidak perlu khawatir, di Legi Pait juga menyediakan makanan. Yang paling favorite di tempat ini adalah pancake nya. Hmm, rasanya enak dan yang pasti harganya tidak menguras kantong.

16.00-17.00 Tobuki

Tidak banyak yang tahu jika Malang memiliki Toko Buku yang memiliki koleksi yang lumayan banyak. Bukunya juga termasuk langka. Tobuki bukan sekadar toko buku biasa, Toko Buku ini sekaligus Rumah dari Ratna Indraswari Ibrahim salah satu penulis senior di Malang.

17.00-18.00 Bakso Bakar Pak Man

Ke Malang rasanya kurang pas jika tidak menikmati sajian bakso. Salah satu bakso paling terkenal di Malang adalah Bakso Bakar Pak Man. Letaknya tidak jauh dari Tobuki. Jadi setelah puas mencari buku langka di Tobuki kamu dapat mengisi perut di Bakso Bakar Pak Man. Senangnya makan Bakso Bakar Pak Man adalah kamu bebas mengambil soun sepuasnya. Mau menambah kuah pun tidak masalah. Perut kenyang hati pun senang.

18.30-19.30 Berburu Oleh-Oleh di Pia Mangkok Semeru

Setelah puas jalan-jalan dan mencicipi berbagai makanan khas kota Malang saatnya membeli oleh-oleh. Di Malang banyak toko oleh-oleh, bahkan ada sentra khusus pusat oleh-oleh di Sanan. Nah, salah satu toko oleh-oleh paling lengkap di Malang adalah Pia Mangkok, di jalan semeru. Di sini kamu tidak hanya dapat membeli pia mangkok khas kota Malang, tapi juga oleh-oleh lainnya. Soal harga? Kamu tidak perlu khawatir harga dan kulitas pun terjamin.

Jika masih memiliki banyak waktu di pagi hari kamu dapat mencoba naik Malang City Tour, Bus warna hijau yang akan membawa kamu jalan-jalan keliling kota Malang. Tidak ada biaya untuk naik Macito, alias gratis. Untuk naik Macito kamu dapat menunggunya di depan Balai Kota. Jadi, bagaimana sudah siap untuk jalan-jalan ke kota Malang? Untuk tempat menarik lainnya di Kota Malang kamu dapat cek postingan blog ini dengan tag #KentjanMalang. Yuk, kita ke mana?

Kamis, 19 Januari 2017

Berdebat dengan Rasa Khawatir

Tidak perlu khawatir | pic: pexels.com


“Aku pengen ikut, tapi...bla..bla..”

Yup, beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran dari seorang teman buat bareng trip ke Pulau Bawean. Ada dua kali trip yang diadakan di bulan Februari besok. Yang pertama di pertengahan bulan dan yang kedua diadakan di akhir bulan. Tanpa pikir panjang saya mengiyakan untuk ikut trip di akhir bulan, dengan pertimbangan pertengahan bulan saya ada acara yang mengharuskan saya untuk hadir. Jadi besar kemungkinan saya untuk tidak bisa ikut. Ok, malam itu saya tidur dengan bahagia. Membayangkan ngetrip ke Bawean di akhir bulan, membuat saya tidur dengan sumringah. Belum jalan saja sudah bahagia duluan, dih ini gimana sih maunya? Iya, saya mupeng dengan Pulau Nuko. Hamparan pasir putihnya pasti lucu buat ngelamun.

Masalah datang ketika saya bangun keesokan paginya. Seperti biasa saya mengecek agenda yang bakal saya lakukan selama beberapa waktu ke depan. Saat saya membalik kalender saya shock, loh tanggal 26 Februari ada acara. Panik saya menghubungi teman yang ternyata sudah nyolek agent yang bakal mengawal trip ke Pulau Bawean. Saya jelasin panjang lebar, kalau ternyata saya tidak bisa ikut ke Bawean.

Saya sudah kesel sampai mau nangis saat menceritakan padanya.

Tapi si temen dengan santai bilang, “Udah, tenang aja. Bilang jujur sama travel agennya. Kira-kira kamu daftar di akhir bulan masih sempet gak? Come on it’s easier..that your panic

Boom, rasanya ketampar. Iya aku panik duluan, bingung berasumsi. Gimana kalau begini, gimana kalau begitu. Tanpa mencoba untuk tenang dulu. Hmm, emang apa semua cewek seperti ini ya. Panik duluan, mikirnya belakangan. *Tabokin*

Akhirnya hari itu saya menghubungi travel agen. Dan bilang ini itu sesuai yang disarankan teman. Bahkan saya mencopy paste kalimat yang disarankan teman saya itu. Well, dan negosiasi itu berhasil. Si Travel Agen mau menunggu sampai akhir bulan untuk memastikan apakah saya bisa mengosongkan jadwal saya di hari trip ke Bawean di akhir bulan Februari besok.

Yeay. Senang? Tentu saja. Akhirnya siang itu saya kembali googling tentang Bawean. Sudah membayangkan bakal ngapain saja di sana. Yeah,seringkali bahagia itu datangnya tiba-tiba lalu saat sudah tinggi, seenaknya saja dihempaskan.

Malam ini saat saya menulis blog post, akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut ke Bawean. Sedih? Jelas saja. Kecewa? Sangat. Tapi bukankah pilihan selalu memiliki konsekuensi. Ke Bawean bisa kapan saja, tapi buat event Februari besok? Saya rasa tidak.

Setidaknya kemarin saya berani untuk membuang jauh rasa khawatir. Saya berani melawan rasa khawatir yang kadang terlalu menyebalkan ini. Well, apakah saya akan menyesal? Semoga tidak.
Kemudian saya whatsapp si teman.

“Aku yang ke Bawean fix enggak jadi ikut”

Malang, 19 Januari 2017.

Senin, 16 Januari 2017

Garis Akhir yang Memulai

pic sources pexels.com

Namanya Ayumi, aku biasa memanggilnya Ay. Beberapa orang menganggap Ay artinya Ayang, mereka benar tapi tidak bagi dia.

“Raka, makan siang bareng yuk,” sapa Ayumi, yang sudah berdiri di depan kubikelku.

“Di mana?”

“Soto Betawi di blok sebelah ya. Anak naga lagi ngidam Soto nih,” katanya sambil terkekeh. Aku menggeleng. Nih, cewek makannya banyak tapi tetep langsing aja. Perutnya dari apa sih?

Aku melangkah ke luar kubikel, mengikuti Ayumi yang sudah ke luar ruangan. Saat aku berniat mengambil motor, Ayumi mencegah.

“Jalan kaki aja yuk. Aku pengen jalan agak jauh,” cegahnya.

Tumben?

Kami sudah dekat sejak lama. Sejak Ayumi mulai bekerja di kantor ini. Aku adalah seniornya, sementara dia adalah juniorku. Meskipun usia kami tidak jauh berbeda.Kami dekat sejak sering ditugaskan bersama. Mulai dari monitoring ke cabang hingga meeting bersama masalah pelaporan keuangan kantor. Tugasnya sebagai Staff Accounting di perusahaan ini dan aku sebagai Internal Auditor membuatku sering bersinggungan dengannya dalam urusan pekerjaan. Dan entah sejak kapan, hati ini pun selalu ingin bersinggungan. Cewek yang hobi makan, jalan dan difoto ini membuatku rela mengesampingkan pekerjaan demi menemaninya. Seperti siang ini makan soto betawi, padahal deadline dari Pak Eko sudah menunggu.

“Raka, kamu pernah patah hati?” tanya Ayumi tiba-tiba.

Aku tersedak. Nih, cewek kenapa lagi?

“Hmm, pernah lah. Kenapa?”

“Enggak papa,” ucapnya. Lalu kembali terdiam, menghabiskan soto betawinya dalam diam.

Aku tidak berani bertanya lagi. Aku ikut diam. Bahkan setelah menghabiskan soto betawi.

“Ka, gak usah balik ke kantor dulu ya,” katanya saat melihat aku menyingkirkan mangkok soto betawi yang sudah kosong. Aku hanya mengangguk, mengamini.

“Ka, patah hati itu sakit banget ya?,” katanya, sambil menerawang ke arah luar warung soto betawi. Aku yang sejak tadi hanya diam, sambil membaca email di handphone terkejut. Nih, anak sebenarnya kenapa sih.

“Kamu kenapa Ay?” akhirnya aku bertanya.

“Kamu masih ingat Lie kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. Ayumi, bagaimana aku lupa dengan laki-laki yang kamu ceritakan sepanjang waktu itu. Bagaimana aku lupa, bahwa kamu mencintainya dan sepertinya tidak akan pernah memberikan  kesempatan bagi laki-laki lain untuk mendapatkan cinta yang sama darimu seperti dia? Ayolah Ayumi, kamu masih ragu dengan pengetahuanku tentangmu?

“Kenapa dengan dia?”

“Semalam akhirya kami putus.”

Aku tahu, saat ia mengucapkan kalimat itu ia menangis. Titik bening itu meluncur dari sudut matanya. Tapi, bolehkah Ayumi aku bersorak hore sekarang? Menari di depanmu mungkin. Tapi urung aku lakukan, maka yang terucap adalah, “Ay...”

“Kami putus, Ka..dan rasanya sakit sekali,” katanya sembari memegang dadanya. Sorak yang ingin kurayakan tadi urung kulakukan.

Aku terdiam. Melihat Ayumi menangis cukup membuatku berantakan.

Ayumi mengambil tisu. Menghapus sisa air matanya. Ia mengajakku kembali ke kantor, dan sepanjang perjalanan kami hanya diam. Ia sibuk dengan pemikirannya begitu juga denganku.

Hari ini sudah seminggu sejak makan siang kami yang berujung saling diam. Tak kudengar Ayumi heboh di kubikelnya. Ayumi menjadi pendiam, dan itu bencana bagiku. Aku lebih bahagia menemani dia makan dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain. Menemaninya nonton film drama di bioskop, padahal aku membenci genre film itu. Menurutinya hunting foto di sepanjang Splindid atau sekadar duduk di trotoar di Jalan Ijen. Menemani kegilaannya, dan aku melakukannya tanpa beban.
Melihatnya sekusut ini membuatku berantakan.

“Ka, si Ayumi kenapa? Seminggu ini kelihatan berantakan sekali. Diem muluk di kubikel. Kalian lagi bertengkar ya?” berondong Puput.

Aku menggeleng,  “Enggak, kok.”

“Kok kalian aneh, biasanya sama-sama ini kok jalan sendiri-sendiri. Kamu nembak dia terus kamu ditolak ya?”

Aku memandang kesal ke arah Puput. “Kamu kalau enggak bisa diam, jangan salahkan kalau report kamu aku tolak semua loh.”

Puput nyengir mendengar ancamanku, lalu berlalu dari kubikelku. Tak urung ucapan Puput membuatku melihat ke arah Ayumi. Ia tampak berantakan, berusaha memenuhi mejanya dengan penuh dokumen. Aku tahu, ia hanya ingin membunuh waktu.

Saat pulang kerja, aku melihat Ayumi berjalan terburu-buru meninggalkan ruangan. Aku setengah berlari mengejarnya.

“Ay...” teriakku, saat melihat Ayumi akan keluar dari gedung kantor kami.

Ayumi reflek berhenti. Menunggu aku menghampirinya.

“Ada apa?”

“Aku antar pulang yuk..” ajakku.

“Tapi...” Dia melihat ke arah luar. Di depannya berdiri seseorang yang tidak pernah aku temui.

“Oh..” aku berusaha paham.

“Farhan sini, kenalkan ini Raka.”

Laki-laki yang dipanggil Farhan itu mengulurkan tangan ke arahku. Lalu kusambut dengan hangat.

“Farhan.”

“Raka.”

Dan aku tahu. Laki-laki itu bukan seseorang yang biasa. Aku melambai pelan saat Ayumi berlalu dariku. Aku memandang ngilu ke arah mereka. Farhan? Siapa lagi dia. Ayolah, Ayumi setelah Lie pergi pun aku harus bersaing dengan laki-laki lain lagi. Kapan kamu memberi kesempatan itu padaku?

Sore ini aku sadar. Seharusnya aku lebih jujur, jika aku selalu berharap lebih kepada Ayumi. Semoga belum terlambat.

Minggu, 15 Januari 2017

Patah Hati Terindah ala La La Land

La La Land | Source: Youtube

Saya tidak pernah mereview film. Jadi kalau review film ini masuk di blog, sudah pasti film ini istimewa.

Jadi 13 Januari kemarin saya berkesempatan buat nonton La La Land, satu film yang heboh di dunia karena berhasil menyabet beberapa nominasi di Golden Globe. Ok, saya orangnya tidak terlalu mengerti standar penilaian Golden Globe yang saya ingat rata-rata film yang sukses di Festival Penghargaan seperti ini, selalu membuat saya untuk berpikir ‘ini film maunya apa sih?’ Lalu apa sebenarnya yang membuat saya ingin sekali menonton La La Land? Hingga membuat saya sempat merasakan patah hati karena hanya diputar mid night di Bioskop langganan.

Pesona Ryan Goseling? Hoho, tidak saya bukan penggemar si pemilik mata sayu itu. Arus timeline yang heboh membicarakan film ini? Juga bukan. Hahaha, saya ngebet nonton film ini karena ada Emma Stone. Yup, saya jatuh hati dengan mbak ini sejak doi bermain di Amazing Spiderman 2, huehehehe. Dan saya yakin OOTD si Emma akan membuat saya bertahan di bioskop, meskipun mungkin ceritanya tidak menarik.

Sempat googling ternyata film ini bergenre musikal. Ok, saya bukan pecinta film dengan genre seperti ini. Membayangkan Emma tiba-tiba joget hore membuat saya sedikit sangsi, tapi mengapa gak dicoba? Well, akhirnya sejak tahu La La land bakal diputar regular di Bioskop kesayangan, akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya. Seharian saya mendengarkan ost La La Land di Spotify, dan saya SUKA. Ok, awal yang baik.

Pukul 18.20 film mulai diputar, agak kesal karena si teman datang agak terlambat *jitakin* Masuk studio, film sudah mulai diputar. Di awal film sudah dikasih adegan orang berkumpul, bernyanyi dan joget di tengah kemacetan. Sabar Ayu. Dan, oh...ini adalah adegan awal Emma dan Gosling bertemu. Emma sebagai Mia dan Gosling sebagai Sebastian.

Mia adalah seorang penjaga kafe yang mempunyai mimpi ingin menjadi artis. Sedangkan Sebastian adalah seorang pria biasa yang memiliki mimpi membangun klub yang memainkan musik jazz yang sebenarnya. Ok, jangan tanya saya musik jazz sebenarnya ini seperti apa. Mereka bertemu, bercerita tentang mimpi masing-masing dan saling jatuh cinta. Lalu apakah impian Mia dan Sebastian terwujud? Well, soal ini kamu lihat sendiri saja ya. Takutnya spoiler.

Yang membuat saya menikmati film ini adalah musik yang pas, dan asli tidak ada missing plot sama sekali. Dan warna pakaian yang dipakai para penarinya adalah warna ceria, sehingga memberi kesan film ini ceria dan menyenangkan. Dan sumpah baju yang dipakai Emma Stone bagus semua. Duh, mbak ini ><

Kalau ditanya apa adegan favorit di La La Land? Semuanya, bahkan saat Mia bertemu dengan keluarga pacarnya saja saya suka. Dan sungguh adegan ini membuat saya ngakak. Dan adegan di Bioskop membuat saya ingat jaman PDKT sama pacar eh apa mantan ya? Malu-malu pegang tangan, salut adegan seperti itu aja bisa dieksekusi dengan baik dan membuat yang melihatnya tersipu malu. Ada juga adegan sewaktu di Planetarium, membuat saya kembali teringat dengan Petualangan Sherina. Hahaha, mungkin La La Land adalah Petualangan Sherina versi dewasa ((Dewasa)).

Dan dari semua adegan favorite di atas, ada bagian dari La La Land yang menjadi best scene versi saya yaitu saat Sebastian ngobrol bersama Mia di depan Planetarium, setelah menemani Mia casting. Adegan itu sampai sekarang masih suka mengganggu saya. Well, mengutip kata-kata dari Ika Natassa ‘Menerima itu hal yang paling susah untuk kita lakukan dalam hidup.’

La La Land adalah film pembuka di tahun 2017 yang menyenangkan. Jika kalian pikir film dengan tema mengajar mimpi berakhir klise, maka berbeda dengan La La Land. Ada  beberapa hal yang membuat film ini berbeda, terutama bagian endingnya. Mengutip apa yang saya sampaikan kepada si teman nonton,

“Setiap mimpi itu harus realistis.Dan kadangkala patah hati itu tidak selalu berakhir buruk,” ucap saya sambil mencomot Hot Chicken yang kami pesan malam itu. Terus ngomel, “Ini serius hot? Kok manis?” yha, ujung-ujungnya protes makanan juga. Hahaha.

Kamis, 12 Januari 2017

Satu Malam di Sudut Houtend Hand

Chocorado | Pic : by Kopilovie

Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan dari sepasang mantan kekasih? Mereka sering bertemu, tertawa dan berdiskusi layaknya karib tanpa peduli mereka dulu adalah sepasang kekasih. Seakan tak peduli dengan masa lalunya, mereka sering bertemu, sobekan tiket nonton tidak terhitung lagi bahkan tak terhitung berapa kali mereka bercakap berdua seperti layaknya sepasang kekasih di sudut kafe favorite mereka. 

Maka, seperti itulah kami duduk di sini. Menyesap coklat hangat yang disajikan oleh Barista di kafe langganan kami sejak 4 tahun lalu, Houtend Hand.

“Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku Koh?” tanyaku, sambil mengambil marsmellow yang ada di cangkir coklatku. Kebiasaanku saat menikmati Chocorado, minuman favoriteku saat di sini.

“Kamu serius ingin mendengarnya sekarang?” katanya sambil mencondongkan wajahnya ke arahku. Ia tahu, suara angin dan deru kendaraan cukup jelas terdengar dari lantai dua Hautend Hand. Sudut favorite kami berdua.

Aku merenggut kesal. “Kamu pikir, aku rela dijemput malam-malam begini dan duduk di sini untuk apa?, yang pasti bukan untuk mendengarkan permainan tebak katamu Koh.”

Dia tertawa. Aku merenggut kesal, melempar kentang goreng ke arahnya. Reflek dia menghindar. Lemparanku tidak berhasil mengenainya, yang membuat aku semakin kesal.

“Ya, baiklah aku akan berkata serius,” tangannya meraihku. Aku sedikit terkejut, sudah lama aku tidak pernah melihatnya seserius ini. Dan untuk apa dia menggenggam tanganku seperti ini. Tak urung, jantungku berdegub kencang.

“Aku akan menikah...”

“Me..nikah?” ulangku.

“Iya,”

“Lalu..”

Apa maksudnya ini? Dia tidak sedang akan melamarku bukan? Bukankah dia tahu hubunganku dengannya tidak akan pernah mulus. Bukankah restu itu tidak akan pernah ada. Apakah dia lupa alasan mengapa kami berpisah.

“Iya, Me. Aku akan menikah awal tahun ini. Minggu depan seluruh keluargaku akan datang melamarnya. Kamu masih ingat dengan Talita bukan? Rasanya tidak percaya aku akan menikah dengannya.”

Hatiku mencolos. Dia menikah dan itu dengan wanita lain. Bukan denganku. Hei, sadarlah Ayumi dia sudah tidak mencintaimu lagi. Bukankah kamu juga berjanji sudah move on dari Lie?
Aku tersenyum.

“Selamat ya.”

Dia tersenyum, lalu melepas genggamannya.

“Aku masih tidak percaya Me,” ulangnya.

Pertemuan ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya aku yang banyak bercerita, malam ini justru ia yang banyak bercerita. Bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk memilih Talita dan rasa-rasanya semua berjalan lebih mudah.

“Kamu masih ingat nggak Me, dengan apa yang kamu katakan dulu tentang jodoh?,”

“Apa?”

“Jika jodoh ia akan berjalan lancar dan tanpa hambatan. Jika tidak, pasti ada saja hambatannya. Kamu masih percaya dengan ungkapan itu?,” tanyanya.

Aku tertawa.

“Menurutmu?”

Ia hanya tersenyum. Di sisa pertemuan kami malam itu, aku hanya mendengarkan ia bercerita sesekali menimpali dan berusaha menyembunyikan air mata yang memaksa keluar. Entah aku merasa bahwa aku akan kehilangannya untuk selamanya.

Seperti biasa ia mengantarkanku kembali ke rumah kosku. Sebelum aku turun dari mobil dia menahanku.

“Me, kamu enggak papa kan?” tanyanya khawatir. Aku tahu dia membaca perubahan air mukaku. Sejak dulu aku sulit membohongi perasaanku padanya.

Aku menggeleng, “gak papa”

Aku melambaikan tangan dan mengucapkan hati-hati saat dia pergi meninggalkanku di depan pintu gerbang kosku. Aku melihat mobilnya yang menjauh, dan menghilang dari pandanganku. Aku menarik napas panjang. Aku merasa ada sebagian diriku yang menghilang. Sepi.

Aku meraih handphoneku. Membuka Phone Book, mencari namanya. Tanganku berhenti mencari saat namanya muncul di layar handphoneku.

Are you sure to delete Koko Chan?

Klik, ok.

Karena aku tahu, sejak ia memutuskan menikah maka tidak akan pernah ada lagi pertemuan berikutnya. Meskipun aku penasaran, apakah ia benar-benar bahagia dengan pilihannya.

“Bahagialah, Koh.”

Malang, 11 Januari 2017