Senin, 17 September 2012

Kamu ( #140-3 )





Dear Dika,

Aku kangen kamu Dik. Kangen mendengar kamu yang berucap bahwa mencintaiku adalah kebodohan yang ingin kamu ulang berkali-kali dalam hidupmu.
Aku kangen kamu Dik. Kangen kamu yang selalu penuh kejutan kecil yang sama sekali tak pernah aku bayangkan.
Aku kangen kamu Dik. Kangen bercerita tentang masa depan 'Kita' yang pada akhirnya berakhir menjadi mimpi yang tak akan pernah terwujud.
Aku kangen kamu Dik. Kangen kamu yang sering membuatku kesal dengan gurauanmu yang terlalu.
Aku kangen kamu Dik. Kangen menghabiskan bekal makan siang yang telah disiapkan mamamu untukmu.
Aku kangen kamu Dik. Kangen keliling kota hanya untuk menghabiskan sisa waktu menunggu senja muncul.
Aku kangen kamu Dik. Kangen riwil manja ke kamu, yang sering membuatmu kesal meski akhirnya kamu luluh juga.
Aku kangen kamu Dik. Kangen saat kamu mengacak rambutku, dan mengatakan semua baik-baik saja padahal kamu tahu semua tak baik.
Aku kangen kamu Dik. Kangen melihat kamu tertawa melihatku kalah denganmu saat bermain dance evolution.
Aku kangen kamu Dik. Kangen semua kesederhanaan yang kita lewati bersama.
Aku kangen kamu Dik. Kangen dengan suara cemprengmu di pagi hari, yang membangunkanku lewat telpon pagimu.
Aku kangen kamu Dik. Kangen kamu yang sering tiba-tiba muncul di depan gerbang rumahku.
Aku kangen kamu Dik. Kagen merutuk kesal saat aku terlalu lama menunggumu di window ym ku.
Aku kangen kamu Dik. Kangen membaca emailmu tentang miss. Angry kepala asramamu waktu di Aussy.
Aku kangen kamu Dik. Kangen mendengar permohonanmu untuk memintaku memakai rok di acara makan malam kita.
Aku kangen kamu Dik. Kangen mendengar permintaanmu agar aku jujur tentang perasaanku.

Seandainya waktu dapat diulang, boleh aku mengatakan bahwa aku selalu mencintaimu.
Selalu :)



Dudulmu :)

                                                                           ***

Aku melipat surat bersampul biru itu, ah bukankah biru adalah warna kesukaanmu?
" Aku baik-baik saja. Dan akan selalu baik. Aku akan memulai kesempatan itu Dik. Dan semoga Ia benar-benar yang terbaik untukku " Kataku pelan.
" Selamat ulang tahun " Aku mengusap nisan itu. Sudah enam kali ulang tahunmu tanpa kehadiranmu. Tuhan lebih menyayangimu, dengan memanggilmu lebih cepat.
Ia menepuk pundakku, aku menoleh ke arahnya. Iya, lelaki yang selama 3 tahun terakhir ini begitu setia menemaniku. Dan ini adalah kali ketiga ia menemaniku datang ke makammu. Lelaki yang dua bulan lagi akan menikah denganku.


Pic: google.com

Selasa, 04 September 2012

Seandainya ( Episode spesial #AilyaMelia )



Aku tak setabah yang kamu kira, percayalah aku masih sama seperti gadismu dulu. Rapuh, yang berpura-pura tegar @perihujan_


Aku menyodorkan mangkuk berisi sereal coklat, menu sarapan kegemaran Kayla kearahnya. Matanya masih merah, sisa tangisnya masih begitu jelas. Aku yakin ia semalaman menangis.
“ Nanti mama gak bisa menjemput kamu latihan balet. Kamu pulangnya ikut jemputan ya? “ kataku pelan, sambil memotong roti bakarku menjadi beberapa bagian. Kayla tak menjawab, mulutnya bungkam. Aku tahu dia kecewa, dia marah. 
Maafkan mama, Kayla.
Semalam adalah peretngkaran terhebat kami. Dan sampai detik ini aku masih dirudung penyesalan. Membuat bidadariku menangis. Tapi, Kayla harus mengerti bahwa semua keinginannya tak harus terwujud. Ia harus belajar kecewa.
***
“ Ma, tanggal 14 nanti kelas Kayla ada belajar bersama orang tua. Kayla ingin mama dan papa datang. Bisa kan? “ ucapnya takut-takut.
“ Tidak “ kataku singkat.
“ Kenapa? “ protesnya.
“ Papa sibuk. Biar mama saja yang datang “ Kataku tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
“ Bukan sibuk. Pasti karena gak boleh sama mama, ya kan? “ runtuknya.
“ Kayla, dengar mama..papa sibuk “ bentakku.
“ Mama jahat. Mama gak pernah tanya keinginan Kayla. Mama egois. Mama gak mau lagi tinggal sama mama, Kayla mau tinggal sama papa “ Kayla berontak, matanya membendung tangis.
“ Kayla... “ suaraku tercekat.
“ Mama egois..” teriak Kayla. Lalu meninggalkanku sendiri. Berlari, dan membanting pintu. Kesal.
Aku mengusap wajahku. Air mata yang sejak tadi kutahan runtuh juga. Air mata yang berusaha kusembunyikan sejak Kayla menyebut kata papa.
Maafkan mama, Kayla.
Sejak perpisahan itu aku terlalu cuek kepada Kayla. Meski usia Kayla baru genap empat tahun ia begitu memahami perpisahanku dan Mas Rudi. Tapi aku tahu Kayla memendam luka. Aku tahu dia merindukan keluarga utuhnya. Bukannya aku tak ingin memanjakannya, mewujudkan semua keinginannya. Tapi keadaanku berbeda dengan dulu, sayapku hanya sebelah.
Dan sejak mengetahui kedekatan Mas Rudi dengan Ailya ada yang ngilu di ulu hatiku. Cemburu? Mungkin saja, dan setelah dua tahun berpisah aku masih berusaha untuk membiasakan diri tanpa dia. Membiasakan tanpa perdepatan kecil dengannya. Yang sering dan terlampau sering diam-diam kurindukan.
Aku tak boleh kalah dengan kenangan. Aku harus berjuang, demi Kayla. Aku menatap ke arah pintu kamar Kayla, senyap.
Maafkan mama, Kayla.
Dan untuk kesekian kalinya aku menangis.
***
Aku melihat dari sudut mataku. Sereal itu masih belum disentuh oleh Kayla. Ia masih menunduk. Mulutnya bungkam. Aku meraih tangannya.
“ Maafkan mama Kayla, mama akan berusaha menghubungi papa. Kayla harus berdoa semoga papa gak sibuk, sehingga papa bisa datang “
Kayla masih menunduk.
“ Kayla mau kan memaafkan mama? “ tanyaku hati-hati.
Kayla menarik tangannya, mundur.
Aku sontak kaget.
Kayla berlari memelukku, “ seharusnya Kayla yang minta maaf. Sudah bikin mama nangis semalam. Kayla janji gak akan egois. Mama jangan nangis lagi ya? “ katanya terbata, beradu dengan tangisnya.
“ Iya mama janji “ kataku, dan memeluk Kayla erat dan mengusap kepalanya lembut.
Mama akan lebih kuat Kayla, percayalah.


Gambar diambil dari google.com

Senin, 03 September 2012

When... ( #140-2 )




Ketika otakku terlalu bodoh untuk sekedar lupa bahwa aku dan kamu tak lagi kita @perihujan_


Di sebuah ruang tunggu terminal, 16.00 wib

Lupa, itulah kata yang sedang berusaha kutanamkan dalam otakku. Melupakanmu adalah misi terbesarku. Akankah mungkin? Sementara, sejak aku menginjakkan kaki di kota ini aku tak pernah lelah menyusuri semua kenangan tentangmu. Mengunjungi tempat yang berjejak kita. Ah, rasanya sudah lama tak menyebut kata kita. Sejak aku dan kamu memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Seperti saat ini, aku duduk di ruang tunggu terminal. Dulu sebulan sekali bahkan tiap minggu kamu selalu menyambut kedatanganku dan mengantar kepergianku ke kotaku. Kamu tahu, rindu telah dimulai sejak kamu mengucap “ baik-baik ya disana, sms saja kalau sudah sampai “.

Kamu selalu mengatakan, meski raga kita berjarak jangan biarkan hati kita berjeda. Saat aku mulai lelah, bosan dan mengadu dengan rindu. Tapi jarak yang dulu menguatkan kita adalah alasan yang kamu pilih untuk memutuskan pergi. Tak jodoh? Kamu terlalu jika mengatakan keadaan itu demikian.
Katamu, tanaman untuk hidup tak hanya memerlukan air. Ia juga memerlukan pupuk dan juga sinar matahari.  Dan ketika daunnya mulai menguning ia perlu dibantu untuk mematahkannya, agar tunas yang baru lekas tumbuh.

Aku yang berjarak, tak pernah mampu melakukannya.

Aku masih berusaha menjadi teman terbaikmu, masih setia menunggu kicauanmu di linimasa. Bagiku, kicauanmu adalah kabar bahwa kamu baik-baik saja. Meski tak satupun mention mampir pada akunku.
Bodoh, dan aku menyadarinya. Aku tak pernah punya alasan untuk membencimu atau untuk berhenti mencintaimu.

Senja mulai menguning, saat aku meraih gangetku. Memeriksa riuh linimasa yang penuh dijejali twit dengan tagar puuisi senja. Ah, senja adalah modus para pujangga untuk merangkai patah hati, rindu dan cinta.
Scroll gangetku berhenti pada salah satu twit dan itu kamu;

Waktu yang sama, tempat yang sama tapi tanpamu.

Aku mengerutkan dahi, berasumsi. Ah, berasumsi dengan twit ternyata menyiksa. Aku memasukkan gangetku pada tas. Melihat antrian bus antar kota berbaris rapi, suara teriakan petugas terminal mengumumkan kedatangan dan keberangkatan bus yang beradu dengan suara penjaja makananan dan minuman. Suasana inilah yang hampir enam bulan ini selalu aku rindukan. Aku menghela nafas.

Bus berwarna putih itu berhenti tepat di depanku. Para calon penumpang berebut untuk masuk. Aku tersenyum, ingatanku kembali padamu. Dulu, kamu selalu ikut berlari saat bus yang aku tunggu datang. Memilihkan tempat duduk yang nyaman untukku. Dan kamu akan melambaikan tangan saat kamu telah menemukan tempat yang nyaman untukku. Aku dengan tersenyum menuju kearahmu, dan saat aku sudah duduk kamu akan mengacak rambutku, “ hati-hati ya “. Lalu kamu turun dan tetap berdiri, menunggu bus yang membawaku menjauh.

Seperti yang dilakukan lelaki ini, lelaki yang berdiri tak jauh dariku.

Dia?

Semoga itu bukan kamu. Meski asumsiku tak pernah salah jika hal itu berhubungan denganmu.


Gambar diambil dari google.com