Rabu, 05 Desember 2018

Rendezveus

Ki, kamu itu teman kesayangan.
Ki, nanti Angga ngajak aku nonton.
Ki, temenin ngobrol ya.
Ki, aku kesel sama temen kantorku.
Ki, ke Jogja yuk?
Ki, aku bete...makan enak yuk?
Ki, kangen.
Ki, aku pengen curhat.
Ki, aku bosan. Makan yuk?
Ki, ini lucu enggak?
Ki, Angga nembak aku.
Ki, aku menerima Angga.

Dan tak ada lagi panggilan darinya. Puncaknya adalah saat kami mengobrol di Houtend Hand menjelang akhir tahun di tahun 2014.

“Dis, aku enggak pernah menganggapmu seorang teman. Aku mencintaimu.”

Dan sejak itu, Disty tak lagi sama memandangku.

“Aku kecewa sama kamu, Ki.”

Disty meninggalkanku, dan Chocorado yang belum sempat ia minum pun dingin.

Selasa, 04 Desember 2018

Tentang Masa Lalu

Karena yang pergi belum tentu ingin kembali.

Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya panik mencari kunci rumahnya. Kunci dengan gantungan dari kain flanel berbentuk Dinosaurus. Melihatnya berkeliling di area parkir Gramedia Basuki Rahmad, mencari kunci rumahnya.

Aku mendekatinya.

“Kamu mencari ini?” kataku menyodorkan kunci dengan gantungan kunci berbentuk Dinosaurus. Ia yang duduk jongkok, mendongak ke arahku. Matanya berbinar, bahagia.

“Iya! Kok tahu? Ketemu di mana? Aaak...makasih ya.”

Aku tersenyum, “Tadi kamu menjatuhkannya di sini, aku sengaja menunggumu di sini. Hehehe.”

“Oh,”

“Rizky,” kataku, mengulurkan tangan ke arahnya.

Ia memandang tanganku, “Disty,” sambutnya.

Setelah ia menyambut uluran tanganku, ia pamit. Mungkin merasa aneh begitu ia tahu aku sengaja menunggunya kembali ke area parkir untuk mencari kunci alih-alih memanggilnya. Aku memandang punggungnya menjauh, aku melihatnya berjalan ke arah warung waralaba milik Ronald itu.

Aku tersenyum, dan sengaja mengikutinya.

...

Disty meletakkan tas di samping kursi yang kosong. Meletakkan Iced Coffee dan kentang goreng di meja. Ia membuka tas belanjanya, lalu melepas segel salah satu komik yang ia beli di Gramedia tadi.

“Boleh duduk di sini?”

Disty mendongak dan melihat ke pemilik suara tersebut. Ia ingin menolak, namun mengingat berkat laki-laki itu kunci rumahnya berhasil ditemukan ia pun tak kuasa menolaknya.

“Boleh.”

Rizky, menarik kursi di depan Disty dan meletakkan Iced Coffee dan kentang goreng di meja.

“Suka Miiko juga?,” tanyanya.

“Oh, iya.”

Dan tidak butuh waktu lama, komik Miiko yang Disty baca tergeletak di meja. Disty lebih suka mendengarkan Rizky bercerita. Tentang banyak hal.

Kini Disty menyesalinya, seandainya ia tidak pernah mengijinkan Rizky duduk di kursi itu mungkin ia tidak perlu merasakan kecewa seperti sekarang.

Senin, 03 Desember 2018

Pulang

Malang, Januari 2018

Kembali ke kota ini mungkin hal yang tidak pernah aku bayangkan. Sempat terpikir mungkin hanya kebetulan yang akan membawaku kembali ke Malang, setelah kejadian tidak menyenangkan bersama Disty. Ketika akhirnya aku harus mengubur perasaanku dalam-dalam.

“Ki, tanggal 5 besok kamu berangkat ke Malang ya? Stay di sana selama 2 bulan. Ada yang tidak beres dengan laporan Adit.” Ucap atasanku dari sambungan telpon yang aku terima di malam pergantian tahun.

“Ok,” sanggupku.

Maka di sinilah aku, kembali ke Malang. Kota yang selama 3 tahun ini sangat kuhindari tapi sekaligus kurindukan.

Aku menutup laptopku, melepas kacamata dan memijat pelipisku pelan. Aku beralih  ke balkon kantorku saat ini. Ruanganku terhubung langsung dengan balkon yang menghadap ke arah jalan. Dari sini aku dapat melihat Jalan Wilis. Jalan yang biasa aku lalui saat akan berkunjung ke rumah Disty.

Dis, aku kangen kamu.

Seharusnya aku bisa menghubungi Disty sekarang. Entah gengsi atau kembali takut dengan penolakan, aku lebih memilih bermain-main bersama kenangan. Jika Tuhan mengijinkan, aku ingin satu pertemuan dengan Disty. Satu pertemuan yang tidak diduga.

Oh, mungkin aku harus memulai mengunjungi tempat favorit Disty. Nanti malam mungkin aku bisa mengunjungi Houtend Hand, lagi setelah tiga tahun. Mungkin aku akan bertemu dengan Disty yang sedang menyesap Chocorado favoritnya.

Mungkin.

...

Disty duduk di kursi bar Houtend Hand. Ia menyebut pesanannya, Chocorado. Malang saat Januari selalu lembap. Ia mencomot marsmellow yang menghiasi Chocorado. Ini adalah kali pertama sejak tiga tahun lalu ia kembali duduk di meja bar ini.

Ia sedang merindukan Rizky, tetapi terlalu takut untuk mengunjungi tempat ini di malam hari. Houtend Hand menjelang malam adalah kenangan yang mampu mempora porandakan hatinya. Meskipun sebelumnya ia sangat menyukai tempat ini.

Maka di sisa cutinya ia memilih menghabiskan sore di sini. Meminum cokelat dan mencoba mengingat hal menyenangkan dari tempat ini. Sisa kenangan manis yang mungkin bisa ia sesapi. Ia masih ingat pertengkarannya dengan Rizky di sini, yang akhirnya membuat Rizky pergi meninggalkannya malam itu.

Pertengkaran yang seharusnya tidak perlu terjadi. Seandainya ia lebih merendahkan egonya, sedikit saja. Dan kembali, ia selalu merindukan laki-laki berkacamata dengan lesung pipi itu.

Sabtu, 01 Desember 2018

Awal Mula

31 Desember 2017

Obat patah hati adalah kesibukan.

Maka, dari ketinggian 27 kantorku aku melihat kembang api menghias terang langit di malam tahun baru ini. Sejak tadi pagi aku tak melepaskan pandanganku dari deretan angka-angka yang ada pada layar laptopku. Sesuatu yang biasa kulalui sepanjang hari selama tiga tahun ini. Mungkin agak berbeda di malam ini. Malam ini adalah pergantian tahun ketika semua orang asyik dengan acara malam pergantian tahun aku malah berdiam dengan angka-angka.

Seharusnya aku menerima tawaran beberapa teman untuk menghabiskan malam pergantian tahun ini. Larut dalam tawa semu mungkin akan membuatku merasa baik-baik saja. Sedikit saja. Melupan hal gila yang aku lalui beberapa tahun ini.

“Happy New Year, Mbul.. “ ucapku pelan. Dan aku merasa sangat sepi meski kembang api semakin ramai menghias langit malam ini.

...

Di teras rumahnya, Disty melihat deretan angka pada layar handphonenya. Nomor telpon yang tak akan pernah ia lupakan. Ragu ia menekan tombol calling, namun selalu ia urungkan. Seharusnya ia mudah untuk melupakan laki-laki itu. Seharusnya, tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk melupakannya.

Ki, aku kangen kamu...

Selasa, 13 November 2018

Review Kura-Kura Berjanggut, Menilik Perjalanan Merica


Sudah lama saya tidak menyelesaikan buku dengan semangat. Saya membaca Kura-Kura Berjanggut tanpa ekspektasi, hanya berbekal jika buku ini memenangkan salah satu kategori bergengsi di Kusala Sastra Khatulistiwa. Jadi mari mereview buku setebal 900 halaman lebih ini.

Porsi terbesar novel ini bercerita tentang perang antara istana Lamuri melawan kongsi dagang Ikan Pari Itam. Perseteruan negara versus korporasi internasional ini berlangsung di seputar perebutan monopoli perdagangan merica.

Azhari Aiyub membagi dua fase perseteruan ini, menjadi perseteruan Ikan Pari Itam dan Sultan Maliksyah. Untuk naik jabatan Sultan Maliksyah, ayah dari Anak Haram ini melalui pergolakan dan sedikit tipu muslihat.

Tidak hanya itu Sultan Nurruddin alias Anak Haram naik takhta, juga lewat serangkaian pembantaian, termasuk pembersihan terhadap keluarga istana yang telah memenjarakannya dan orang-orang kongsi dagang Ikan Pari Itam berikut keluarga mereka.

Mengikuti perjalanan si Anak Haram ini sangat menyenangkan, bagaimana ia sebagai ‘Anak Sultan’ yang diasingkan dan bagaimana ia belajar ‘perang’ melalui permainan catur di penjara bawah tanah. Membaca Kura-Kura Beranggut seperti membaca ramalan yang menggambarkan kondisi saat ini hampir sama dengan keadaan beberapa ratus tahun lalu.

Pada halaman 222, saat Anak Haram akan bermain catur untuk taruhan dengan Lodewjk Abroldho, si Ujud menjelaskan jika Anak Haram bukanlah orang yang saleh. Pemimpin hanya memandang penting agama untuk memperkuat kedudukannya.

Atau kisah si Ujud penutur dalam kisah Kura-Kura Berjanggut, bagaimana ia seharusnya dapat dengan leluasa membalas sakit hatinya kepada Anak Haram justru menjadi orang kepercayaan si Sultan.

Saat, si Ujud menuturkan niatnya untuk kembali ke Lamuri dan menghabisi sang Sultan.

“Kau hanya waktu perlu menunggu waktu yang tepat,”
“Tidak akan pernah ada waktu yang tepat,”
“Tidak akan pernah ada bila kau tidak mewujudkannya,”
“Bahkan sebelum aku mendengar nasihatmu, aku sedang mewujudkannya.”

Novel Kura-Kura Berjanggut ini sangat runut. Menyenangkan membacanya, saya dibuat tertawa, tertegun dan berpikir. Sesekali mengulang halaman sebelumnya karena merasa terlewat. Kura-Kura Berjanggut adalah sekumpulan dendam yang beranak pinak. Menceritakan masing-masing tokoh dalam novel ini. Anak Haram, Kamaria, Si Buduk, sang narator Si Ujud, dan banyak lainnya.

Meskipun banyak tokoh dalam novel ini semua diceritakan secara runut. Diceritakan dengan detail bagaiamana keterikatan masing-masing tokoh. Maka 921 halaman untuk Kura-Kura Berjanggut dapat diselesaikan dengan suka cita. 

Jadi 5/5 untuk kura-Kura Berjanggut.

Selasa, 17 Juli 2018

Seharusnya Hidup Semudah Itu

copyright unsplash.com/@beccatapert

Kalau kangen kan tinggal bilang, ajak ketemuan. Seharusnya hidup sesimpel itu. Bener enggak? Sayangnya, sebagai manusia gengsi seringkali ditinggikan. Jadi saat kangen bukannya bilang kangen eh malah sibuk menebar kode di semua social media. Beruntung jika kode tersampaikan, jika tidak? Yang ada makin nyesek.

Seperti halnya saat PDKT

Semua orang tentu setuju jika PDKT adalah momen termanis dalam hubungan. Ya, ibaratnya minum es teh, PDKT seperti momen kamu minum es teh yang lupa diaduk. Manis banget. Sehingga lupa, kadang dalam hubungan ada sisi tidak manisnya.

Ya, seharusnya PDKT adalah momen yang tidak rumit. Tapi sekali lagi, manusia suka membuat segalanya menjadi rumit. Sekadar menebak, kira-kira pantes enggak sih chat dia saat seperti ini? Kira-kira dia marah enggak ya, ketika aku tanya sedang apa? Cheesy enggak? Murahan enggak? Ugh! *nelan batu bata*

Mengapa cinta jadi penuh dengan kehati-hatian? Mengapa jadi rumit.

Ya, seandainya memulai pembicaraan semudah itu. Jika saja memahamimu semudah itu.

"Eh, pulang kerja ada acara enggak? Makan bareng yuk!"

Seharusnya sesederhana itu.

Kamis, 21 Juni 2018

Tidak Peduli

copyright unsplash.com/@a2foto

Sembuh itu kalo curhat nggak lagi pake nangis atau marah. Selama masih emosi ya artinya belum ikhlas, belum bisa nerima keadaan ~ @Dear_Connie

Cuitan dari @Dear_Connie itu mengingatkan saya pada kejadian Ramadan kemarin. Saat saya bercerita kepada partner, bahwa saya telah memaafkan 'dia' yang kerap saya sebut dengan Dementor. Beberapa teman dekat mungkin tahu betapa saya kelewat membenci dan kecewa kepada 'dia' tersebut. Peristiwa Ramadan kemarin menjadi titik balik saya, teringat pesan dari Siro, sahabat saya. Bahwa tidak selamanya saya dapat menghindari apa yang saya benci.

Maka yang memilih untuk tidak peduli. Tidak lagi memikirkan dan berharap permintamaafan dari dia. Tidak lagi peduli, jika bisa jadi ia masih menganggap dia paling benar. Kembali lagi, saya hanya ingin menyelamatkan jiwa saya.

Siro benar, yang sedang perlu dikasihani adalah diri saya. Yang perlu disembuhkan adalah saya. Dan yang bisa menolong saya hanyalah diri saya sendiri. Terima kasih Siro *kemudian minta traktir Burger*

Apa saya membenci dia?

Tidak. Saya tidak lagi menangis saat curhat betapa tidak adil dan egosinya dia. Saya tidak lagi marah, ketika orang yang saya harap lebih memahami saya memilih untuk mendengarkan dia alih-alih sedikit melihat ke arah saya.

Jika hampir setahun setiap kali mendengar namanya rasanya ada yang menindih dada saya, dan terasa berat. Sekarang tidak lagi. Jika kemarin saya tidak sanggup menyebut namanya, saja biasa saja bercengkrama dengannya. Tertawa selayaknya karib.

Apakah itu artinya saya tidak ingin ia meminta maaf kepada saya? Saya tidak peduli. Biarkan ia dengan anggapannya. Saya akan berdamai dengan diri saya, saya akan menyelesaikan sesak yang saya alami dengan cara saya sendiri. Berat? tentu saja, saya selama setahun berjuang untuk menjadi baik-baik saja.

Berada pada titik ini tidak mudah. Saya percaya, mungkin besok, lusa, minggu depan, bulan depan dia akan tahu pernah membuat saya sangat kecewa. Mungkin ia akan meminta maaf, mungkin juga tidak. Tapi sudahlah, saya tidak peduli lagi dengan maaf.

Begitu saja.

Selasa, 30 Januari 2018

Virgo dan Hujan di Bulan Januari

copyright pexels.com
Dia adalah Virgo. Wanita dengan senyum yang selalu ia sembunyikan di balik masker.Ia membenci kamera, tidak seperti kebanyakan orang yang begitu memuja kamera. Ia suka bercerita, mungkin untuk membuang gugup atau membentengi agar tidak jatuh cinta kepada seseorang yang tidak tepat. Mungkin itu caranya untuk bertahan.

Januari bertanya tentang bagaimana perasaan Virgo siang itu, saat Januari sedang mengikuti meeting di kantor pusat yang kebetulan kota yang sama tempat Virgo tinggal beberapa bulan ini.

"Kita bagaimana?"

Virgo tidak menjawab. Ia memilih menghilang, membiarkan telpon dari Januari berhenti tanpa jawaban. Puluhan pesan ia biarkan menggantung tanpa balas. Bukan Virgo tidak mencintai laki-laki itu. Ia hanya merasa Januari tidak pernah mencintainya dengan tulus. Virgo merasa ada yang berbeda dengan Januari. Ia tak lagi sama dengan yang Virgo kenal beberapa tahun lalu. Virgo hanya takut kecewa, kepada Januari yang kerap datang kala ia merasa kesepian.

Maka itu adalah januari terakhir bagi Januari dan Virgo. Tidak ada lagi sapa hangat saat Januari merasa lelah. Virgo tahu ada wanita lain yang menemani kecanggungan Januari. Ia tahu ia tak lagi menjadi tempat Januari pulang. Tapi, Virgo masih menunggu pernyataan dari Januari.

Virgo tidak pernah bertanya kepada Januari, ia juga tidak pernah berniat mencari tahu tapi semesta selalu memiliki cara untuk menyampaikan pesan kepadannya. Ia menemukan nama perempuan itu berserakan di riuh timeline-nya. Wanita itu bernama Adilla.

Virgo semakin tenggelam dalam rutinitas karena itulah cara terbaiknya untuk melupakan. Ia membunuh sunyi dengan pergi jauh. Tapi ia masih setia menunggu Januari mengatakan perpisahan. Virgo masih mengharap Januari kembali datang sekadar mengetuk pintu.

Last Call.

Virgo membenci Bandara, tempat ia mengejar Januari. Virgo membenci Bandara tempatnya ia sadar meskipun berkali-kali Januari mengetuk pintu hatinya, Januari tidak pernah mencintainya. Virgo membenci Bandara, karena ia hanya tempat mengeluh Januari tapi bukan tempat Januari tinggal.

Last Call. Virgo menyeret kopernya.

Virgo masih menunggu Januari mengucap maaf. Untuk terakhir kalinya Virgo melihat ke arah luar, ia hanya melihat bayangan dirinya berlari sambil mengangkat Ketoprak dalam bungkus tas hitam. Miris.

Air mata Virgo luruh, dia tidak akan pernah menjadi prioritas untuk Januari.

Malang, 30 Januari 2018.