Minggu, 18 September 2016

Romeo Gadungan Sebuah Review

Romeo Gadungan| c: @perihujan_

Penulis: Tirta Prayudha
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 212 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-780-863-1
Harga: Rp55.000,-

***
Seperti kata pepatah, ada yang pergi ada pula yang datang. Nah, kalau cinta pergi, yang datang apa? Tentu saja patah hati! Ada saja penyebab patah hati gue—dari masalah kecocokan, pekerjaan, agama, atau suku. Dan rasanya, gue semakin susah untuk tertarik dengan seorang cewek. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa pernah ada kisah selanjutnya. Terkadang alasannya dari pihak cewek, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya. Intinya, cinta tak berpihak pada gue. Kisah cinta Romeo sungguhan dengan Juliet saja nggak happy ending, apalagi gue yang cuma menjadi seorang Romeo Gadungan!

Tirta Prayudha akan berbagi cerita tentang patah hati-patah hati terbaik yang dialaminya, mulai dari cinta karena beda agama, tarik ulur seperti layang-layang, di-PHP-in gebetan, sampai cinta monyet zaman SD. Buat kamu yang sedang putus cinta, tenang saja... kamu nggak sendirian, kok. Seberapa pun sakitnya, berapa pun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk bisa kembali sembuh, selalu ada nilai yang bisa dipelajari. Ada proses pembelajaran yang dialami.

***
Semua setuju patah hati itu enggak ada yang bakal baik-baik saja, tapi tidak semua orang dapat mengemas patah hati dengan cerita yang manis dan tidak terkesan menggurui. Mungkin itu yang ingin disampaikan Tirta dalam buku ketiganya atau kedua untuk buku solonya. Romeo Gadungan memang bercerita tentang patah hati yang dialami oleh penulis. Tentang cinta beda agama, beda suku hingga cerita patah hati karena belum bisa move on dari cinta yang lama.

Saya adalah orang yang agak pemilih untuk membeli buku dengan genre Pelit (Personal Literature). Tapi untuk buku ini jujur saya sudah menunggu lama buat rilisnya. Seperti Pelit pada umumnya, ada beberapa cerita yang feelnya dapet ada yang hanya sekadar tempelan saja. Jika kamu pembaca setia personal blog Tirta tentu hapal dengan cerita Sepatu Kiri. Nah, dalam buku ini Tirta banyak cerita tentang Sepatu Kiri, dan entah mengapa di sini saya lebih suka versi di blog daripada versi bukunya. Tapi ini masalah selera saja sebenarnya.

Cerita favorite saya jatuh pada Layang-Layang dan Fast Car. Yang paling saya suka adalah Layang-Layang yang chapter 2, tentang memaafkan. Tidak mudah untuk memaafkan kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Untuk Fast Car mungkin ceritanya yang hampir mirip dengan apa yang pernah saya alami, membuat saya berpikir...damn, ini nyesek banget. Cinta beda suku itu gak pernah bisa baik-baik saja.

Cover Romeo Gadungan dibuat hijau stabillo, saya duga ini untuk menyamakan dengan buku pertamanya Newbie Gadungan yang berwarna kuning menyala. Untuk pemilihan cover masih dimaafkan, tapi untuk pemilihan font asli ini ganggu banget. Beberapa masih banyak typo, jadi merasa kalau buku ini dibuat buru-buru. Bacanya jadi seperti dikejar-kejar. Halah.

Ok, buku ini cukup menghibur dan seperti blog post Tirta di personal blognya saya seperti sedang mendengarkan seorang teman yang sedang bercerita. Good job Ta, btw cewek salmonnya kok gak masuk di buku ini sih? Hehehe. Ditunggu buku selanjutnya, mungkin novel tentang Layang-Layang atau Sepatu Kiri. Akhirnya 4/5 bintang untuk Romeo Gadungan.

Kamis, 01 September 2016

Burung Namdur Betina adalah Bukti untuk Menikah Tidak Hanya Butuh Cinta

Sarang Burung Namdur | Copyright: http://i.pbase.com/

Beberapa hari lalu saya ngobrol bareng Partner. Obrolan tentang pernikahan adalah hal yang sering kami bahas akhir-akhir ini, mungkin semacam kode bahwa seharusnya kami segera mengakhiri hubungan partner berasas simbiosis mutualisme ini menjadi partner hidup. YHA. Jadi abaikan prolog ini. Partner memang agak nyentrik dan sedikit absurd di kelasnya. Malam itu kami ngobrol tentang Burung Namdur. Lah, apa hubungannya Burung Namdur dengan pernikahan? Ini penjelasnnya.

Burung Namdur betina sebelum kawin dengan pasangannya dia akan menyeleksi siapa yang akan menjadi pejantannya. Burung Namdur  jantan akan menarik perhatian betinanya dengan menari-nari di depan sarang yang dibuatnya. Jangan salah, sarang yang dibuat Burung Namdur ini beneran bagus. Sarang Burung Namdur ini tidak biasa, bahkan para ahli menjuluki burung ini dengan arsitek ulung karena keahliannya membuat sarang.  Jika tarian Burung Namdur jantan ini menarik si betina, maka mereka akan kawin. Jika tidak? Hmm, jangan harap Burung Namdur jantan dapat mengawini betina pilihannya. Kamu mungkin berpikir Burung Namdur betina itu matre, iya memang. Tapi mereka realistis.

Coba kamu pikir apa yang terjadi jika Burung Namdur betina tidak pilih-pilih pasangan? Di mana anak-anak mereka tinggal? Rumah adalah hal penting, untuk itulah Burung Namdur sangat mengutamakan hal ini. Bagi mereka sarang yang bagus akan menjamin hidup mereka. Tarian para jantan adalah wujud usaha mereka, untuk menarik perhatian betinanya. Jadi ibaratnya sarang adalah harta, tarian adalah penampilan. Ingin menarik perhatian calon pasangan kamu jangan hanya modal cinta saja, harta dan penampilan juga penting.

Hal ini menarik, Burung Namdur saja tidak hanya mementingkan cinta untuk memutuskan hidup bersama. Jadi apakah masih salah jika saya bilang, cinta saja enggak cukup buat bekal sebuah pernikahan? Okay, kita menikah memang butuh cinta karena cinta dapat menguatkan saat di antara kamu dan pasangan merasa putus asa. Tapi apakah hanya cukup itu saja. Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang tapi semua hal butuh uang. Setuju? Masak iya, mau makan cukup hanya dengan cinta? Emang kenyang ya? ENGGAK.

Tapi bukan berarti saya enggak percaya dengan rejeki pernikahan. Saya percaya orang yang menikah memiliki rejekinya masing-masing. Bahkan mungkin berlipat daripada saat sendiri. Tapi bukan berarti saya tidak boleh memilih pasangan yang mau diajak sukses bersama alih-alih diajak susah bersama, kan? Saya yakin hubungan pernikahan akan lebih menyenangkan jika saat memulainya, saya dan pasangan sudah memiliki modal. Pekerjaan yang setle salah satunya.

Jadi masih menganggap bahwa dengan cinta saja cukup membuatmu yakin untuk menikah? Kalau saya, nanti dulu. Karena bagi saya untuk jatuh cinta butuh perasaan dan penghasilan untuk merawatnya. Atau hal ini hanya berlaku untuk saya saja? Selamat hari ini.