Selasa, 11 Desember 2012

Dari saya untuk Ibu


Bersama Ibu :)


Semalam ibu menelpon, dua kali panggilan terlewatkan. Saat saya mengucap salam Ibu langsung berucap;
“Kamu baik-baik saja kan di Pasuruan?”
Pertanyaan itu sontak membuat pertahanan saya lumpuh, air mata yang beberapa hari saya tahan untuk tidak jatuh akhirnya luruh juga. Saya seketika menangis.
Ibu adalah sosok yang tanpa saya mengeluh pun akan tau bahwa saya dalam keadaan yang tidak baik. Ibu akan tau kalau ada yang sesak dalam hati saya, yang kadang membuat saya enggan untuk menyentuh makanan.
Ibu adalah sosok yang mengerti saya, meski serapi apapun saya menutupi sakit saya ibu akan tau kalau saya sedang sakit. Seperti kejadian pertengahan tahun lalu saat saya terbaring sakit di Pasuruan. Demam selama satu minggu, ibu merasa dan beberapa kali memaksa mbak Tyas untuk menjenguk saya ke Pasuruan. Dan akhirnya saya menyerah dan mengatakan bahwa saya sakit.
Dan lagi-lagi firasat ibu tak pernah salah.
Dan kemarin ibu merasa dan memahami bahwa saya sedang tidak baik. Ibu tau ada yang ngilu di hati saya. “Menangislah, jangan pendam kecewamu”
Dan seketika saya terguguk, ibu saya menangis lagi.
“Hati selalu tau tempat ia kembali, sejauh manapun kamu menghindar. Ia akan pulang, kembali ke tempat seharusnya ia berada”
Dan saya menyadari banyak hal, sungguh terlalu jika saya sering mencari banyak alasan untuk mengabaikan telpon ibu. Bersembunyi dari kata sibuk.
Sungguh terlalu ketika saya sibuk mengatur waktu untuk bertemu dengan mereka yang berpotensi membuat air mata saya jatuh. Sementara ibu tak pernah menuntut saya untuk pulang, ibu memahami alasan sibuk saya. Sungguh terlalu saya ini. Padahal ibu lah yang menghapus air mata dan menenangkan tangis saya. Ketika saya kecewa, ketika saya terpuruk.
Saya sering mengabaikan harapan kecil dan mimpi sederhana ibu. Sementara ibu tak pernah bosan mendukung mimpi-mimpi saya. Dan selalu mengukir senyum, meyakinkan saya bahwa saya bisa, saya mampu.
Ibu maafkan saya.


Rabu, 05 Desember 2012

The Rainy Day



Selamat datang musim hujan :)
Saya menyukai hujan, menyesap bau yang diciptakannya ketika ia terjatuh di tanah. Maka ketika hujan turun, saya akan menghirup aroma itu lama. Menyimpannya penuh dalam otak saya, jika saya merindukannya cukup membuka memori tentang itu.
Saya menyukai hujan, menggurat namanya di kaca yang mengembun. Sepertinya hujan pun meresonansi semua kenangan tentangnya. Kenangan saat saya memutuskan untuk bersamanya. Kenangan saat saya bersembunyi dibalik punggungnya sore itu.
Saya menyukai hujan, melihatnya jatuh menghempas bumi. Menerka-nerka apakah ia sempat bertanya tentang alasan ia dihempaskan di bumi? ah, lagi-lagi semua ini membuat saya tersadar manusia adalah makhlukNya yang banyak maunya. Dan terlalu 'manja'
Saya menyukai hujan, tempat saya menikmati setiap tariannya yang menyerupai bayangan orang-orang yang saya sayangi. Tempat saya mengadu pada sebuah kata rindu, yang mungkin saja dapat tersampaikannya.
Saya menyukai hujan, yang mampu menyamarkan asin dan getirnya air mata saya. Ketika saya terlalu lelah untuk bersembunyi, lelah dan butuh untuk menangis.
Saya menyukai hujan, satu-satunya alasan untuk menahannya untuk pergi menyimpan waktu dan menuntaskan rindu yang hampir saja mengabu.


@perihujan_


pic : google.com