Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label curcol peri

Morning Pages

Menulis untuk jiwa/copyright  rawpixel.com   Writing is medicine. It is an appropriate antidote to injury. It is an appropriate companion for any difficult change - Julia Cameron. Menulis bagiku adalah obat. Menuangkan keluh, mencatat mimpi, hingga mematik harapan. Itulah alasan kenapa aku banting setir untuk berkarir di media. Harapannya sih, seru kali ya menulis terus dapat duit. Meskipun pas terjun kerja di media, ternyata pekerjaanku bukan menulis seperti yang di catatan-catatan yang pernah kutuliskan. Aku menulis untuk orang lain. Maka journaling adalah obat buatku. Saat aku tidak bisa menulis tentang hal-hal yang sensitif, menuliskan di buku jurnalku membuatku merasa tenang. Menulis untuk memberi makan jiwa aku menyebutnya. Biasanya setiap pagi sebelum memulai aktivitas aku menuliskan banyak hal di lembaran jurnalku. Hal random seperti enak mana tahu atau tempe, hingga seserius mengapa semakin ke sini hal-hal yang disebut ‘pertanda’ itu semakin jelas. Menuliskan hal itu ...

Lima Tahun Lalu Itu 2019

    2019 itu lima tahun yang lalu. Aku tersenyum membaca pesan dari dia. Ternyata sudah lima tahun kami tidak saling menyapa, meskipun update kehidupannya masih melintas di linimasa akun linkedin-ku.  Lima tahun lalu namanya selalu muncul pertama kali di notifikasi whatsApp-ku. Dulu, kami pernah meyakini bahwa jarak hanya satuan untuk orang lemah. Dan akhirnya, kami menjadi bagian orang lemah itu. Kata orang akan selalu ada kesempatan kedua untuk hal yang terlewatkan. Tinggal kita mau atau tidak. Menganggap itu kesempatan atau hanya sekadar pembuktian semata. Dan ia pun menyapaku kembali setelah lima tahun berlalu. Kamu akhirnya ke Jepang ya? Gimana, seru? Menyebalkan sekali pertanyaannya, karena akhirnya aku tahu ia tak pernah berubah. Ia tetap melihatku, sementara aku hanya tahu dari update linkedin-nya. Menandakan dia ‘hidup’. Bagian menyebalkan lainnya aku melewatkan masa lima tahun itu, tapi ia tetap melihatku bertumbuh. Ia tahu aku mengeluhkan banyak hal, ia juga ta...

It's Ok

2019 sudah hampir berakhir. Rasanya baru kemarin menulis deretan resolusi yang berulang tiap tahunnya. Menulis keinginan dan apa saja yang ingin kulakukan. Sebagian berhasil tercentang, dan tak sedikit yang mugkin akan kutulis di malam pergantian tahun 2020 nanti. It's, ok. Hal ini bukan sesuatu yang buruk kok, meskipun masih ada rasa 'njangget' di hati. Tahun lalu menulis jika 2019 ini pengen lebih "tega" sedikit, enggak terlalu memikirkan apa kata orang dan membuang jauh rasa "enggak enakan" sama hal yang gak mendatangkan manfaat. Rasanya udah capek dimanfaatin terus, rasanya sudah muak dengan "menjaga perasaan" tapi yang dijagain enggak ngerasa. Tapi, ketika ingin memulai perasaan enggak enak itu muncul lagi. Masak sih, cuek ini yang bikin aku bahagia? 2019 mungkin aku terlalu perhitungan, enggak los. Jadi merasa apa yang aku lakukan dan jika berakhir timpang merasa dunia tidak adil. Mungkin, aku sudah lupa jika yang namanya adil itu ...

Tidak Peduli

copyright unsplash.com/@a2foto Sembuh itu kalo curhat nggak lagi pake nangis atau marah. Selama masih emosi ya artinya belum ikhlas, belum bisa nerima keadaan ~ @Dear_Connie Cuitan dari @Dear_Connie itu mengingatkan saya pada kejadian Ramadan kemarin. Saat saya bercerita kepada partner, bahwa saya telah memaafkan 'dia' yang kerap saya sebut dengan Dementor. Beberapa teman dekat mungkin tahu betapa saya kelewat membenci dan kecewa kepada 'dia' tersebut. Peristiwa Ramadan kemarin menjadi titik balik saya, teringat pesan dari Siro, sahabat saya. Bahwa tidak selamanya saya dapat menghindari apa yang saya benci. Maka yang memilih untuk tidak peduli. Tidak lagi memikirkan dan berharap permintamaafan dari dia. Tidak lagi peduli, jika bisa jadi ia masih menganggap dia paling benar. Kembali lagi, saya hanya ingin menyelamatkan jiwa saya. Siro benar, yang sedang perlu dikasihani adalah diri saya. Yang perlu disembuhkan adalah saya. Dan yang bisa menolong saya h...

Sebelum Menikah Pastikan Kamu Sanggup Meminta Maaf

Pernikahan/copyright pexels.com Apa tanda kamu sudah siap menikah? Saat kamu sudah sanggup meminta maaf untuk hal yang sepele. Saat kamu sanggup meminta maaf untuk hal yang sebenarnya tidak kamu lakukan. Saat kamu merendahkan egomu lalu meminta maaf. Well, tema pernikahan sepertinya lagi hangat diperbincangkan. Adalah teman saya chatnya muncul di tengah malam. Katanya, sibuk gak? Hmm, firasat tidak enak mungkin firasat diprospek MLM cukup membuat saya merasa tidak nyaman saat harus menerima chat dari teman lama. Ternyata malam itu, teman saya sedang butuh telinga. Ia ingin curhat. Perbincangan yang awalnya lewat chat whatsapp berlanjut ke telpon. Ia menelpon lama sekali, awal saya mendengar suaranya cukup jelas namun lama-lama berubah serak. Ia menangis. Ia menangisi mantannya yang besok kabarnya akan menikah. Hmm, ya kalau sudahjadi mantan kenapa menangis? Usut punya usut, ternyata hubungan mereka belum selesai. Ada masalah yang menggantung. Ya, meskipun saya melihatn...

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B...

Sampai Kapan?

Sampai kapan? Ia bertanya untuk kesekian kali, saat menelpon saya dalam perjalanan pulang. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti alasan mengapa saya memilih untuk menepi. Satu-satunya orang yang tahu benar alasan mengapa saya ke Jogja beberapa minggu lalu. Ia satu-satunya yang paham bahwa tawa yang selama ini saya perlihatkan hanya palsu. Ia tahu saya sedang tidak baik-baik saja. Sampai kapan? Ulangnya, ketika kemarin saya terbata menangis untuk kesekian kalinya. Ia bilang, seharusnya saya bahagia. Seharusnya saya baik-baik saja. Seharusnya saya belajar menyederhanakan keadaan. Sampai kapan? Sampai ia mengucap maaf, tapi sekali lagi saya bukan manusia bijak yang disakiti berkali-kali dapat segera melupa. Saya adalah pengingat yang handal. Sampai kapan? Maaf, saya sudah lupa cara memberi maaf. Ruang Tunggu RSKM, 23 Oktober 2017

Maaf Sayang, Aku Ingin Terlihat Cantik di Matamu

Cantik/copyright pexels.com Ih, kamu enggak pantas pakai baju model begitu. Hahaha...itu alis apa ulet bulu. Habis minum darah neng? Kebanyakan gaya kamu, pakai make up segala. Muka gitu aja, enggak perlu di apa-apain. Gak bikin kamu tambah cantik. Ih, dasar kebanyakan gaya. Sering mendengar kalimat tersebut? Saya sering, berada di lingkungan yang didominasi banyak wanita tidak membuat saya dikelilingi oleh orang yang lebih paham wanita. Yah, justru mereka ini yang paling gencar membicarakan kelemahan kaumnya. Paling jago nyinyirnya. Miris? Jelas. Ada yang salah dengan wanita yang ingin terlihat cantik? Sepertinya menjadi pesakitan ketika seseorang berusaha meratakan alisnya. Sepertinya menjadi sah dicaci maki ketika seseorang memoles bedak yang tebal dan wajahnya terlihat lebih putih dibanding lehernya. Duh, jadi wanita yang ingin cantik memang tidak mudah. Well, sayangnya yang gemar merendahkan ini kebanyakan dari kaumnya sendiri. Wanita. Coba saja liha...

Tentang Memaafkan

Lebaran sudah seminggu berlalu, apa yang saya dapatkan? Banyak hal yang terjadi beberapa bulan ini. Sakit hati, kecewa dan tangis. Hingga sempat membuat saya berpikir, sampai kapan ini akan terjadi? Emosi ternyata membuat saya tidak sempat berpikir tentang kebahagiaan. Amarah ternyata mengikis logika saya. Namun, beruntungnya saya memiliki orang-orang baik yang setia saat saya terpuruk. Hingga saya dapat menepis ego hingga titik terendah. Adalah malam takbir kemarin, saya benar-benar menangis. Saya tidak pernah merasa sengilu ini saat malam takbir. Saya menangis hebat. Mengingat apa yang telah saya lakukan beberapa bulan lalu. Ternyata semua sia-sia, seharusnya saya tidak menuruti emosi. Amarah tidak akan membuat segalanya menjadi baik, justru menjadikannya abu. Sakit hati saya luruh. Dalam hati saya berjanji ini airmata terakhir saya untuk kebodohan ini. Saya berjanji ini amarah terakhir saya. Memaafkan memang tidak mudah. Melupakan tidak ada yang mudah. Menerima...

Bapak

Doa tak akan pernah mengembalikan ia yang telah pergi, tetapi doa akan menabahkanmu dari kehilangan – Ayu Puji Lestari. Perjalanan ini  terlalu lama, bayangan tentang Bapak memenuhi isi kepalaku. Telpon yang kuterima subuh tadi mengantarkanku untuk duduk di dalam bus berwarna kuning ini. Perjalanan untuk pulang. Air mata berkali-kali kuusap. Mengabaikan pandangan heran penumpang yang memenuhi bus ini. Aku hanya ingin segera sampai rumah, dan memastikan bahwa Bapak baik-baik saja. Bahwa kekhawatiranku tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin memeluk Bapak. “Bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak saat mengantarku kembali ke Pasuruan sore itu.  “Tinggal tugas akhir pak,”jawabku setengah berteriak, mengalahkan suara motor yang membenamkan suaraku. “Ya syukur. Tahun ini selesai kan?” “Insyaallah,” Jawabku. Dan itu adalah percakapan terakhirku bersama Bapak, sebelum akhirnya pertengahan Januari kemarin Bapak harus dirawat di rumah sakit. Ada peradangan di ginja...

Jika Kamu Berhak Bahagia, untuk Apa Merutuki Kebahagiaan Mantan?

Semua berhak bahagia, begitu juga dia -  Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri resepsi pernikahan ‘teman’ yang dulu sempat dekat. Anggap saja demikian. Saya mendengar rencana pernikahannya jauh sebelum dia datang mengantarkan undangan secara langsung kepada saya. Sedih? Sedikit. Tapi saya lebih banyak bahagianya. Untuk itulah sejak kabar pernikahannya saya dengar saya bertekat datang di acara tersebut. Tidak ada niatan untuk mangkir, mogok gak mau datang. Meskipun dulu saya pernah menitipkan impian saya padanya. Saya datang ke acara tersebut bersama seorang teman. Sebenarnya saya tidak masalah datang sendiri, toh tempat acaranya tidak jauh. Bisa saya tempuh dengan taxi. Tapi si teman maksa menemani. Dalihnya si enggak tega. Tapi enggak tau juga niatnya apa. Bahkan partner sempat memastikan bahwa saya bisa datang sendiri tanpa perlu baper. Ya, mungkin dia agak enggak rela jika saya datang sendiri, dan akhirnya baper mengingat masa lalu. Pas ditantang disuruh nemen...

Menjadi Beauty Vlogger Dadakan

Bekerja di media membuat saya belajar banyak hal, termasuk menjadi artis dadakan untuk mengisi konten video. Sudah 2 kali wajah saya muncul di chanel youtube vemale. Pertama video DIY membuat amplop lebaran dan kedua adalah video campaign #MyBodyMyPride . Di kedua video itu tidak ada satu pun yang mewajibkan saya bicara, saya cukup senyum-senyum depan kamera, dan semuanya beres. Tapi berbeda dengan konten video kali ini, selain bergaya dan senyum-senyum manis, saya juga harus bicara. Ok, karena kali ini saya harus mereview lipstik. OK LIPSTIK. Jeder!  Sebenarnya tidak masalah saya harus sok manis di depan kamera. Tapi ini saya harus memakai lipstik dan mereviewnya? Oh. Ok, saya memang cewek tapi kalau urusan makeup angkat tangan. Pakai bedak pun sudah syukur. Meskipun sekarang  sudah mau pakai skincare meskipun sekadar pembersih wajah dan pelembap. Anggap saja itu satu kemajuan. Dan sekarang saya harus mereview lipstik,dan bergaya di depan kamera. Cuap-cuap istilah lipsti...

Keluarga Itu...

Saya tinggal terpisah dengan orang tua sejak lulus dari SMA. Alasan studi membuat saya harus meninggalkan kota kelahiran, yang artinya saya pun harus berpisah dengan orang tua. Kehidupan merantau membuat saya belajar tentang banyak hal, salah satunya belajar untuk lebih mandiri dan menerima orang lain. Saya termasuk orang yang sulit untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Lebih suka menghabiskan waktu sendiri, daripada harus mengobrol bersama orang lain.  Semenjak merantau karena urusan belajar dan pekerjaan, saya mulai belajar untuk membuka diri. Salah satunya belajar untuk menerima kehadiran orang lain. Saya sadar, tidak selamanya hal remeh dapat saya lakukan sendiri. Meskipun ego saya sering berontak ‘halah masalah gini aja, gampang!’ Tapi semua berubah saat saya sakit untuk pertama kalinya di rantau, membuat saya berpikir ‘Loh, ternyata saya butuh orang lain juga ya?’. Sakit membuat saya tidak dapat melakukan apapun, termasuk untuk sekadar membeli makan. Pergi ke dokte...

Hal yang Selalu Saya Rindukan Saat Menjadi Akuntan

Sudah hampir satu tahun saya pindah haluan jadi Akuntan dan berpindah menjadi seorang Penulis Konten di sebuah Media Online. Keputusan yang sempat menjadi drama. Tidak hanya bagi orang-orang terdekat saya, pun dengan orang –orang di kantor yang saya tinggalkan. Ya, meskipun sekarang saya bukan lagi seorang Fulltime Akuntan, tapi saya tidak benar-benar meninggalkan dunia Akuntansi ini. Saya masih menerima job review di luar. Terkadang saya merindukan rutinitas sebagai Akuntan. Yang setiap harinya gak jauh-jauh dari worksheet. Meja kerja andalan, camilan bukan sponsor :D | c: @perihujan_ Akuntansi adalah dunia yang sudah saya kenal sejak memutuskan murtad sebagai seorang Anak IPA. Seperti kutukan, Akuntansi adalah satu hal yang saya benci dan berubah menjadi hal yang saya cintai. Saya enggak pinter-pinter amat di pelajaran sains, saya lebih suka pelajaran sosial sebenarnya. Alih-alih menyukai mengamati reaksi kimia, saya lebih suka belajar Sejarah dan Geografi. Dulu saya masuk I...

Memberi Pelajaran Kepada Hati, Sebuah Catatan Kecil dari Teleseri Kesempurnaan Cinta

Saya bukan penggemar Sinetron, tapi semua berubah saat saya iseng menonton Kesempurnaan Cinta. Teleseri yang tayang di Net TV ini memang berbeda. Selain pengambilan gambarnya yang keren, tentu saja ceritanya yang jauh dari menye-menye rebutan pacar dan harta adalah salah satu alasan mengapa saya rela mengikuti Teleseri ini. Di Teleseri ini gak ada pemeran antagonis yang teriak-teriak dengan backsound yang khas, tidak ada tipu-tipu demi rebutan harta. Adanya Teleseri Kesempurnaan cinta, masa depan tayangan TV Lokal bagi saya menjadi enggak surem-surem amat. Pastinya Kesempurnaan Cinta membuat saya semangat berangkat pagi ke kantor untuk melihat tayanyan ulangnya di zulu. Hehe. Okay, kelamaan prolognya ya? Hehehe. Saya bukan penggemar Ririn, tapi saya trenyuh dengan karakter yang diperankan Ririn yaitu Renata. Sebenarnya saya lebih menyukai sosok Hana, tipikal wanita urban yang seksi, smart, berpikiran terbuka dan pekerja keras. Tapi kali ini saya akan membahas Renata, salah sat...

Burung Namdur Betina adalah Bukti untuk Menikah Tidak Hanya Butuh Cinta

Sarang Burung Namdur | Copyright: http://i.pbase.com/ Beberapa hari lalu saya ngobrol bareng Partner. Obrolan tentang pernikahan adalah hal yang sering kami bahas akhir-akhir ini, mungkin semacam kode bahwa seharusnya kami segera mengakhiri hubungan partner berasas simbiosis mutualisme ini menjadi partner hidup. YHA. Jadi abaikan prolog ini. Partner memang agak nyentrik dan sedikit absurd di kelasnya. Malam itu kami ngobrol tentang Burung Namdur. Lah, apa hubungannya Burung Namdur dengan pernikahan? Ini penjelasnnya. Burung Namdur betina sebelum kawin dengan pasangannya dia akan menyeleksi siapa yang akan menjadi pejantannya. Burung Namdur  jantan akan menarik perhatian betinanya dengan menari-nari di depan sarang yang dibuatnya. Jangan salah, sarang yang dibuat Burung Namdur ini beneran bagus. Sarang Burung Namdur ini tidak biasa, bahkan para ahli menjuluki burung ini dengan arsitek ulung karena keahliannya membuat sarang.  Jika tarian Burung Namdur jantan ini...

Hal yang Hanya Kamu Rasakan Saat Memiliki Pasangan Gemini

copyright: elle.com Heio, sudah lama tidak menulis di Blog. Okay, jika kamu gak suka dengan cerita tentang zodiak dan lain sebagainya lebih baik skip postingan ini. Blog post ini aku buat suka-suka, jadi kalau suka dengan judulnya monggo dibaca kalau tidak silakan tutup postingan ini daripada patah hati  Ok, here we go! Siapa sih yang gak kenal dengan zodiak Gemini? Zodiak yang dilambangkan dengan anak kembar ini memang unik. Banyak yang bilang pesona Gemini memang luar biasa, maka enggak heran jika pemilik zodiak ini banyak memiliki pacar #eh. Well, berikut ini adalah review suka-suka tentang apa yang bakal kamu rasakan saat memiliki pasangan Gemini. Dikelilingi Api Cemburu Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, Gemini itu memiliki pesona yang luar biasa. Maka enggak heran jika dia memiliki banyak penggemar. Meskipun wajah bukan prioritas utama pesona mereka, ketenaran mereka tetap bikin spot jantung. Apalagi dengan penggemarnya yang ehm, mungkin posesif, bakal kelar...

Membiasakan Diri

Perkara rindu memang tidak mudah. Hal yang menyenangkan dari rindu bukanlah saat merindukan seseorang, atau saat dirindukan seseorang. Rindu yang paling menyenangkan adalah saat kamu merindukan seseorang, dia pun merindukanmu. Iya rindu caption, hehehe. Setelah menulis postingan yang ini , saya memutuskan untuk tidak lagi menyimpan semua no handphone dan dengan sengaja uninstall satu platform social media yang biasa kami gunakan. Entah, saya merasa lebih baik saat tidak memiliki akses untuk menghubunginya. Sebut saya sedang patah hati. Saya hanya sedang membiasakan diri tanpanya, tidak tergantung lebih tepatnya. Saya sedang membiasakan diri untuk bahagia tanpa melibatkannya. Apakah saya benar-benar mampu? Berat adalah yang saat ini saya rasakan. Saya tahu, dia sedang berusaha untuk itu. Dia sedang mencoba untuk bahagia tanpa saya. Apakah saya berharap dia kembali melirik saya? Mencoba mendekati saya lagi? Tidak. Saya tidak ingin mengemis perhatiannya. Saya tidak ingin dia m...

Ketika Batas itu Sampai Pada Titik

Sekuat apa pun seseorang berjuang, pada akhirnya ia pun memiliki batasnya. Jenuh, lelah dan merasa sia-sia. Mungkin itu yang dia rasakan kepada saya. Merasa cukup dan sia-sia. Mungkin, kamu pernah merasakan ingin dekat dengan seseorang tetapi untuk sekedar menyentuh sedikit hatinya saja tidak mampu. Beberapa orang terdekat saya, selalu mengatakan bahwa saya terlalu angkuh dan keras kepala, untuk sekedar mengakui bahwa saya pun membutuhkan dia. Mereka selalu menyebut hitungan tahun, Berapa dia bersabar dengan saya. Sejak saya patah hati dengan kegagalan saya dengan seseorang di akhir studi saya, hingga kegagalan paling drama dalam episode percintaan saya dengan mantan kemarin sore. Dia selalu ada di barisan paling depan untuk memberi semangat pada saya. Saat saya jatuh, maupun terbang karena cinta. Dia selalu ada. Meskipun dia bukanlah seseorang yang selalu menjadi tempat curhat saya. Hingga kemarin saya bertemu dengannya, tidak sendiri tetapi dengan seorang wanita. Sejatin...

Terserah Saja

Sejak saya menulis hubungan saya bersama mantan di sini, banyak yang bertanya kok bisa? Dan ada yang sengaja mengirim email bertanya kok bisa berteman dengan mantan. Biasanya banyak yang memilih menghindari mantan. Alasannya pun beragam mulai karena males sama dramanya juga kemungkinan bakal batal move on. Pernah saya bercerita tentang pertemanan saya kepada salah satu teman saya, respon mereka pun bermacam-macam. Mulai dari kaget, kagum sampai: “Ih, pasti kalian mau balikan.” “Kamu masih cinta ya sama dia?” “Mantan kamu masih ngarep balikan tuh.” Mungkin berteman bersama mantan adalah hal yang mustahil. Seperti pertemanan antara cowok dan cewek, padahal semuanya kembali kepada niatnya. Hehehe, sempat kok ada perasaan takut bakal gak bisa menahan emosi. Ya, mengubah status setelah hitungan tahun bersama bukanlah hal yang mudah. Dan, sampai tulisan ini saya buat hubungan kami baik-baik saja. Dia tetap menjadi teman haha-hihi saya. Teman nonton saya, dan teman sa...