Selasa, 11 Oktober 2016

Memberi Pelajaran Kepada Hati, Sebuah Catatan Kecil dari Teleseri Kesempurnaan Cinta

Saya bukan penggemar Sinetron, tapi semua berubah saat saya iseng menonton Kesempurnaan Cinta. Teleseri yang tayang di Net TV ini memang berbeda. Selain pengambilan gambarnya yang keren, tentu saja ceritanya yang jauh dari menye-menye rebutan pacar dan harta adalah salah satu alasan mengapa saya rela mengikuti Teleseri ini. Di Teleseri ini gak ada pemeran antagonis yang teriak-teriak dengan backsound yang khas, tidak ada tipu-tipu demi rebutan harta. Adanya Teleseri Kesempurnaan cinta, masa depan tayangan TV Lokal bagi saya menjadi enggak surem-surem amat. Pastinya Kesempurnaan Cinta membuat saya semangat berangkat pagi ke kantor untuk melihat tayanyan ulangnya di zulu. Hehe.

Okay, kelamaan prolognya ya? Hehehe.

Saya bukan penggemar Ririn, tapi saya trenyuh dengan karakter yang diperankan Ririn yaitu Renata. Sebenarnya saya lebih menyukai sosok Hana, tipikal wanita urban yang seksi, smart, berpikiran terbuka dan pekerja keras. Tapi kali ini saya akan membahas Renata, salah satu tokoh dalam teleseri Kesempurnaan Cinta.

Sebagai anak satu-satunya, mengharuskan Renata untuk tinggal bersama orang tuanya. Sambil menjalankan bisnis kulinernya Renata dengan sabar merawat kedua orang tuanya, ia pun digambarkan sebagai anak yang patuh kepada orang tuanya. Tipikal wanita yang memilih ‘biar saya yang sedih, asal yang lain jangan’. Hingga semuanya berubah saat ayahnya berniat menjodohkan Renata dengan anak dari salah satu teman lamanya, Hafiz. Renata yang anaknya tidak kuasa menolak permintaan orang tua, akhirnya menerima tawaran perjodohan tersebut, meskipun dia menyukai pria lain. Satria, tetangganya. Singkat cerita, Hafiz menyadari jika sebenarnya Renata tidak menyukainya, maka ia pun membatalkan Taarufnya bersama Renata. Masalah pun dimulai, Ayahnya tidak menerima keputusan tersebut.

Ada satu scene yang membuat ngilu hati saya.

Tante Ren dan Pak Jodi :( | copyright: twitter @kc_nettv

“Apa susahnya sih Ren, membahagiakan Bapak? Hafiz orangnya baik.”
“Tapi pak, perasaan enggak bisa dipaksakan.”
“Tapi hati bisa belajar kan, Ren?”

Iya, hati bisa belajar bukan?

Episode tersebut sudah lama tayang, tapi sampai hari ini saya masih kepikiran dengan kalimat Pak Jodi, ayah Renata. Tentang hati yang bisa belajar. Saya teringat dengan obrolan bersama teman beberapa bulan yang lalu, yang akhirnya memutuskan untuk menerima perjodohan dari orang tuanya. Dia memilih untuk meninggalkan orang yang ia sayangi, padahal mereka saling menyayangi. Mereka memutuskan untuk berpisah, alih-alih memperjuangkan hubungan mereka. Katanya cinta tidak harus bersama bukan?

Teman saya lebih memilih untuk mengajari hatinya untuk menerima keadaan. Belajar untuk mencintai. Saya melihatnya tersenyum di hari pernikahannya, entah dia benar-benar bahagia atau masih sedang belajar untuk bahagia. Saya menghargai pilihanya, meskipun tidak sedikit yang menyayangkannya. Mungkin kita harus memilih, bahagia dengan membuat orang yang menyayangi kita bersedih atau belajar untuk menerima tawaran bahagia dari orang-orang yang menyayangi kita. Bukankah hidup tidak selalu menuruti keinginan kita?

Di dunia ini kita sering bersinggungan dengan beberapa hal yang memang tidak sesuai dengan harapan kita. Saat hati ingin A, tapi kenyataannya kita harus menerima B. Saat hidup tidak sesuai keinginan apakah kita memang harus bergerak melawannya, atau sebaliknya berjalan mengikuti arus. Sulit tapi kita harus memilih.

Benarkah hati mampu belajar? Saya rasa mampu, karena hati tidak pernah egois. Terus kalau kamu jadi Renata milih siapa yu? Saya pilih Hafiz saja, dicintai akan membuat saya lebih mudah untuk belajar mencintai. Ciye gitu ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar