Senin, 05 Januari 2015

Satu hari di Candi Badut dan Candi Jago.

Perjalanan saya bersama partner of crime saya kali ini berbeda. Jika biasanya kita memilih berkeliling tempat nyentrik di sekitaran kota, kali ini kita ingin menyusuri Malang dari Jaman Singosari. Maka disinilah kami, memilih Candi Badut dan Candi Jago sebagai destinasi liburan hore kita kali ini.
Pagi itu, dengan diiringi gerimis kami menumpangi angkot AT untuk menuju Tidar, lokasi Candi Badut. Ternyata tak sulit untuk menuju lokasi, dari pangkalan AT kita lurus saja berjalan kurang dari 100 meter kita akan menemui papan nama menuju Candi Badut. Lokasi Candi Badut berada persis di lingkungan perumahan warga, jadi aksesnya pun mudah.
Penampakan Candi Badut

Untuk masuk ke area Candi, kita tidak dipungut biaya alias gratis. Ukuran Candi Badut tidak terlalu besar, ada satu bangunan selain bangunan utama Candi Badut yang mirip petilasan yang ada di Candi Tikus, Trawulan. Sayangnya tidak ada papan keterangan yang menunjukkan bangunan itu fungsinya apa.
Me !!

Di area dalam candi ada tempat yang sepertinya digunakan sebagai tempat peribadatan. Jadi, bentuk dari Candi Badut itu persegi lalu di tengahnya ada tempat untuk peribadatan. Karena cuaca mendung kami puas berfoto di area Candi Badut. Cagar budaya ini cukup terawat, rumput di sekitar candi pun terawat rapi. Meski toilet yang berada di dekat Candi sedikit merusak pemandangan, kami cukup menikmati jalan-jalan kami.
view paling favorite

Pura-puranya sih candid.

Setelah puas mengelilingi area Candi yang memang tak begitu luas, dan sok beranalisa dengan relief yang ada di badan Candi kami meninggalkan Candi Badut yang siang itu sudah mulai banyak pengunjung.
Kami berjalan lagi, kembali ke pangkalan angkot AT untuk menuju ke Terminal Arjosari melanjutkan perjalanan ke Candi Jago.
Candi Jago atau Candi Jajaghu berada di Tumpang, yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Malang. Dari Arjosari, kami menumpang angkot TA. Kurang lebih 45 menit perjalanan akhirnya kami sampai di Tumpang. Letak Candi Jago ini dekat dengan Pasar Tumpang, jaraknya 200 meter dari jalan utama.
Sebelum memasuki area Candi, kita wajib mengisi buku tamu. Dan seperti di Candi Badut, untuk masuk ke Candi Jago tidak dipungut biaya alias gratis.
Ukuran Candi Jago lebih besar dan luas dibanding Candi Badut. Dan lagi, Candi Jago letaknya persis di pinggir jalan dan berada di tengah lingkungan rumah warga. Tadi sempat berfoto, dan sibuk menyamarkan rumah warga yang persis berdiri di samping Candi Jago.
Penampakan Candi Jago

Bangunan Candi Jago sudah sedikit rapuh, batu yang membentuk Candi pun kalau dipijak sudah mulai oleng. Tetapi relief yang ada di batuan Candi masih terlihat jelas, berbeda dengan yang ada di Candi Badut.
Relief di Candi Jago

Secara keseluruhan Candi Jago ada tiga undakan. Dan yang pasti Candi Jago tidak banyak berubah seperti 21 tahun yang lalu, saat untuk pertama kalinya saya berkunjung di tempat ini. Hanya saja, saya merasa batu yang menyusunnya memang sudah usang, tak lagi sekokoh dulu. Tadi saya juga sempat mencari batu yang mirip seperti bekas pantat manusia, yang dulu kata nenek saya adalah bekas duduk para Dewa. Dan saya mempercayainya :D sayangnya saya tadi tidak berhasil menemukannya, atau saya yang tidak berkonsentrasi karena terlalu takut kalau terjatuh. Setelah selesai berkeliling area Candi, dan karena pengunjung mulai ramai kami memutuskan untuk pulang. Kami berjalan lagi ke area Pasar Tumpang, kembali menaiki TA untuk kembali ke Arjosari.
Wigi on Action

Banyak hal yang saya dapat dari perjalanan kali ini, destinasi untuk #KentjanMalang sepertinya akan semakin meluas. Ah, saya selalu menyukai perjalanan ini. Tak harus ke tempat yang wah, karena bagi saya bukan perkara kemananya tetapi bersama siapanya. Dan yang terpenting Malang itu keren, apalagi tempat-tempat sejarahnya.
Pulang dulu ya :D


Sip, jadi kemana lagi tujuan #KentjanMalang selanjutnya?

Selasa, 30 Desember 2014

Tentang 2014.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2014, kalau dirangkum dengan satu kata tahun 2014 adalah tentang keputusan. Ada tentang kepindahan dan juga hati.
Tahun ini saya memutuskan resign dari kantor lama, yang tentu saja berimbas pada keputusan saya untuk tidak lagi tinggal di Pasuruan. Awal September lalu saya resmi meninggalkan Pasuruan dan hijrah ke Malang. Rencana awal dari kepindahan saya ke Malang adalah ingin serius mengerjakan revisian tugas akhir yang entah kapan berakhirnya itu, dan iseng saya melamar di kantor baru ini. semesta mengamini, akhir September saya diterima di kantor saya yang sekarang. Dan lagi-lagi sebagai tukang jurnal, dan membuat laporan keuangan untuk perusahaan. Untuk kali ini saya beruntung diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana membuat laporan keuangan di perusahaan tambang.
Perpindahan saya ke Malang berimbas pada berat badan saya, makan yang teratur membuat pipi saya menjelma bakpao. Di kantor baru saya makan tepat waktu, istirahat cukup dan cemilan tak pernah absen dari meja kerja saya. Teman-teman baru membuat saya sedikit melupakan deretan sakit hati saya, dan luka karena patah hati.
Selain hal membahagiakan itu, di tahun 2014 ini pun saya memutuskan untuk berpisah dengan dia. Seseorang yang menemani saya selama dua tahun. Saya memutuskan untuk tak lagi bersama dengannya, alasan yang saya buat pun tak kalah klise; restu. Tak mudah bagi saya untuk bergerak melupakannya mengingat betapa saya pernah begitu keras untuk memperjuangkannya, agar dia dapat diterima dilingkungan saya. Kami berbeda, perbedaan yang saya pikir dapat saya pangkas hingga tak bersisa namun saya tak cukup tangguh. Akhirnya pun saya tumbang dan menyerah, di saat saya merasa telah dicintai.
Hari ini saya mengingat kembali awal tahun 2014, saya sempat berdoa agar di akhir tahun saya tetap bersama dia dengan sekat yang tak terlalu rapat. Doa itu terwujud, saya tinggal satu kota dengan dia tetapi hati kami tak pernah satu lagi. Dan ia pun menghilang, jika awal-awal kami berpisah saya masih melihat dia update di Path sekarang sama sekali tak ada kabar beritanya. Dia menghilang, atau sengaja menghilang? Entahlah, saya tak ingin berasumsi.
Saya tak ingin melupakannya, atau sengaja menghindarinya. Menutup akun socmed atau apa, saya tetap akan menjalani kehidupan saya; meskupun tanpa dia. Jika memang takdir masih mengijinkan saya untuk bertemu dengannya saya akan tetap menyapanya, tersenyum dan akan mengatakan bahwa saya bahagia. Tak perlu mengkhawatirkan apa-apa, bukankah perpisahan ini adalah kesepakatan kita?
Stranger to be friend to be lover, and to be stranger again.

Selamat Tahun Baru 2015.

Senin, 29 Desember 2014

Suatu siang di Solaria.

Sambil menunggu pemutaran Doraemon di jam satu, saya memutuskan menghabiskan waktu di Solaria yang berada di lantai dua Sun City. Satu Jus Alpukat,  Jus Sirsat, Ayam Mosarella dan Ayam Lada Hitam menemani kami berbincang. Tentang banyak hal, dan juga kemungkinan-kemungkinan. Tak lupa tentang hati.
“Kamu sudah melupakan dia?” tanyanya, sambil memotong Ayam Mosarellanya menjadi dua, dan potongan terbesarnya berpindah ke piringku. Selalu.
“Sudah.”
“Di Malang sudah pernah bertemu dengan dia? Atau mungkin kamu mencoba sengaja menemuinya.” tanyanya, lalu mengambil potongan paprika yang aku singkirkan dari piringku.
Aku menggeleng. “Tapi aku ingin bertemu dengannya.”
“Yakin? “
Aku mengangguk “Iya, aku ingin bertemu dengannya. Ingin memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Dan tentu saja, aku bahagia. Aku rasa dia perlu tahu akan itu.”
Dia tertawa, lalu meneguk Jus Alpukatnya. “Seyakin itu? Jika kamu tahu ada dia di sana, dan dia sedang berjalan dengan wanita lain apa yang akan kamu lakukan? Masih tetap ingin menemuinya, meski kamu sendirian waktu itu?”
Aku mengangguk cepat. “Iya, aku akan berjalan ke arahnya. Sengaja, agar ia dapat melihatku dan agar aku dapat memiliki kesempatan untuk menyapanya.”
Aku mengaduk Jus sirsatku.
“Sudah kubilang kan, aku ingin bertemu dengannya. Mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dan aku harap dia memiliki pacar baru. Setidaknya, itu lebih baik. Daripada melihatnya nampak kacau, itu semakin membuatku sedih.”
Dia meraih tanganku, “Kamu masih mencintainya?”
Aku terkejut, hei apakah benar aku masih mencintainya? Aku melepaskan genggamannya, lalu melihat ke arah luar. Ada yang berputar-putar di otakku, sejauh aku memaksa pergi ia tak pernah benar-benar hilang dalam ingatanku.
“Jus Sirsatku kurang enak, gimana Jus Alpukatmu?” tanyaku, lalu menarik gelasnya ke arahku.
Aku mengaduknya dan berniat meminumnya.
“Jangan dipaksakan.” Katanya, lalu menarik sedotannya dan menggantinya dengan milikku.
“Terima kasih.” Ucapku gugup, lalu meminum Jus Alpukat itu.
“Ayo, Doraemonnya mau mulai nih.” Katanya, lalu menuntunku meninggalkan Solaria.
Siang itu aku menyadari satu hal, dia tak pernah memaksa aku untuk melupakan si mantan. Dia benar-benar tahu bahwa aku pun perlu proses. Aku tersenyum memandangi punggungnya yang berjalan di depanku.
Kamu tahu, aku akan mencoba.


Surabaya, 28 Desember 2014. 

Senin, 10 November 2014

(un)Happy Strawberry Toast.


Aku melangkahkan kaki ke kedai yang bangunanya bernuansa putih itu, Omah Caffee. Beberapa bulan yang lalu, aku sering kesini. Setiap malam minggu, kamu akan mengajakku duduk dan bercerita apa saja di sini. Terkadang, saat kamu menjemputku pulang kerja pun mengajakku bersantai sejenak sebelum aku pulang ke kos.
Itu dulu, sebelum semua berubah.
Aku  memegang ujung tasku. Sangsi, apakah aku serius akan masuk ke Omah Caffee. Aku melihat mobilmu terparkir di halaman Omah Caffee. Kamu sendirian kah? Atau bersama Bili dan Joice? Atau bersama yang lain.
Aku membalikkan badan berniat berlalu dari tempat itu. Namun urung, aku memilih berjalan ke arah Outlet Omah Mode yang letaknya bersebelahan dengan Omah Caffee. Outlet distro ini nampak lengang padahal hari ini minggu.
Aku menyisir beberapa deret koleksi baju yang di pajang di Outlet ini. Mataku tertegun saat melihat satu kaos berwarna merah itu. Merah, adalah warna favoritemu. Warna yang kau bilang sebagai penanda kobaran semangat. Yang katamu dulu adalah warna yang serupa denganmu yang selalu dipenuhi semangat yang membuncah untuk mempertahankan apa yang akan membuatmu bahagia.
Tapi mengapa kamu tak pernah semangat untuk mempertahankanku? Apakah itu berarti aku tak pernah membuatmu bahagia? Adakah yang salah dengan hubungan kita.
Aku menghela nafas.
Mengingat malam terakhir kita bertemu. Pembicaraan kita yang lebih banyak berisi tentang kekecewaan, dan helaan nafas. Mengapa semua ini harus terjadi di saat kita telah melangkah begitu jauh. Di saat kita telah menyepakati tentang mimpi-mimpi kita tentang kehidupan setelah kita telah disahkan oleh agama maupun pemerintah.
Mengapa kita baru menyadari bahwa kita tak pernah sama, bahwa kita berbeda setelah dua tahun kita saling menautkan hati. Dan mengapa kita baru menyadari bahwa kita selalu meragu dengan apa yang akan kita hadapi nanti.
Aku yang hanya seorang Kartika, gadis jawa. Tak mungkin bisa bersamamu Lie, kamu yang seorang Tiong Hoa.
Aku buru-buru mengusap mataku yang mulai mengembun. Terlalu banyak tapi, saat aku dan Lie untuk memutuskan bersama. Dan terlalu menyakitkan saat aku harus memilih mengakhiri kisahku bersama Lie.
Aku melihat dari jendela, mobil Lie masih terparkir di halaman Omah Caffee.
Ah, seharusnya di senja yang mulai menguning ini aku duduk di kursi biasa kami duduk. Kursi yang berada di pojok Omah Coffee, kursi favorite kita. Aku akan memesan Honeydew Tea dengan sedikit es batu dan Strawberry Toast dengan taburan keju dan cokelat bubuk. Kamu akan mengaduk-aduk Honeydew Tea ku mengambil es batu, dan mengunyahnya. Yang sering kali ku protes, mengingatkan kesehatan giginya. Perdebatan kecil yang membuatku menggembungkan pipiku dan kamu akan mengusap rambutku menenangkan. Hal sederhana yang selalu membuatku luluh padamu.
Aku keluar dari Omah Mode, langkahku mantab menuju ke Omah Caffee. Aku kesini bukan untuk menemui Lie, aku hanya ingin menikmati Honeydew Tea dan Strawberry Toast kegemaranku. Aku kesini bukan untuk Lie, rapalku.
Langkahku terhenti saat aku membuka pintu Omah Caffee. Aku melihatmu dengan wanita itu. Wanita itu duduk di depanmu, dan aku melihatnya meminum Honeydew Tea kegemaranku.
Wanita, yang selalu ada setiap kali aku dan Lie berkunjung di tempat ini. Wanita yang sering kali kulihat, memperhatikanmu dan seakan tak pernah mau melepas setiap gerakanmu. Wanita yang sering muncul dalam pikiranku. Wanita yang sering kukhawatirkan akan membawamu berlalu dariku.
Lie.
Tubuhku lemas, dan yang kutahu hanya gelap saat itu.

Malang, 20 Oktober 2014.




Senin, 27 Oktober 2014

Kenapa NgeBlog?

Kalau ditanya mengapa ngeblog? Mungkin jawaban saya adalah, saya ingin nama saya muncul di Google search, huehehehe. Padahal kenyataannya saya termasuk Blogger murtad, yang menulis kalau moodnya lagi baik.
Pertama ngeblog saat masih kuliah, sekitar tahun 2004. Ngeblog dulu di Friendster, iya masih ingat kan dengan social media satu ini? Saya banyak menulis di friendster, yang mungkin tulisannya berkisar curhatan tentang LDR an saya sampai derita saya sebagai Mahasiswi Akuntansi yang salah jurusan. Blogger pertama yang saya ikuti adalah si Raditya Dika, tulisan dia di kambingjantan dot com selalu saya tunggu. Waktu itu dia belum bikin buku. Dan ketika blognya dibukukan bahagialah saya. 
Waktu berganti, saya mulai mengenal blogspot ini. Blogspot adalah rumah kedua saya untuk menulis setelah Friendster hilang dari peredaran. Menulis di Blogspot juga moody banget, setahun hanya ada hitungan jari postingannya. Blog pertama saya meandmyordinaryday akhirnya mati suri. Tahun 2010 saya kerajingan twitter, dan mulai itulah saya mencoba untuk menulis lagi.
Berawal dari menyamakan semua akun media sosial saya, akhirnya rumah ini saya buat pada tahun 2011. Saya mulai rajin, dan karena pengaruh orang-orang yang menghiasi timeline saya. Adalah Mput, Kur-kur, Roy, dan Dendi mereka adalah orang-orang yang membuat saya mencintai ngeblog. Awalnya hanya membaca tulisan mereka, akhirnya mulai rajin menulis. Dari cerpen, tulisan random, curhat sampai cerita traveling ala backpacker.
Dari Blog inilah saya mulai mengenal tulisan dari beberapa blogger lainnya, dan sekarang saya sedang menyukai tulisan dari si Tirta di romeogadungan.com , juga cerita manis dari pacarnya Roy si Sarah di sarahpuspita.com dan tulisan Intan di kurakurahitam.blogspot.com. Bahagianya lagi tulisan saya makin hari makin berkembang dan tidak melulu soal curhat terselubung saya.
Pada tahun 2012, saya menjadi suka menulis sajak dan untuk itulah saya membuat rumah di ceritaperihujan.tumblr.com dari postingan di Tumblr inilah buku pertama saya lahir, Cerita Peri Hujan. Dan pada awal tahun 2013 saat saya, patah hati :p saya merubah rumah pertama saya meandmyordinaryday menjadi jurnalsiayu.blogspot.com yang postingannya lebih banyak soal jurnal akuntansi. Iya, saya ingin menulis yang berhubungan dengan profesi saya sebagai Akuntan.
Hari ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional, jadi apakah saya sudah pantas disebut sebagai seorang Blogger? hmmm, saya rasa julukan itu tak penting. Disebut Blogger atau tidak, saya akan menulis. Karena saya percaya dengan menulis saya mampu membekukan kenangan.

Selamat Hari Blogger Nasional.

Jumat, 24 Oktober 2014

Taman Bentoel Trunojoyo, liburan cerdas di Malang.


Sisi Samping Ruang Baca Taman Bentoel Trunojoyo.

Hari minggu ini setelah hanya ngobrol dan membicarakan liburan selanjutnya lewat BBM atau Whatsapp saya bersama Tim Ransel, Wigi akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke Taman Bentoel Trunojoyo. Kami sempat melirik Taman ini beberapa kali saat melintasinya. Taman yang baru selesai di bangun pertengahan tahun ini.
Suasana agak padat pagi itu, karena ternyata ada kelompok komunitas yang sedang mengadakan kegiatan di Taman Bentoel. Jadi saya agak kaget ketika Taman penuh dengan anak-anak kecil yang sedang sibuk mewarnai.
Taman Bentoel Trunojoyo terletak persis di depan Stasiun Kota Malang. Taman ini terdiri dari dua komplek, Taman A dan Taman B. Di Taman A ada fasilitas air mancur yang  hampir setiap hari dipenuhi anak-anak yang bermain air. Ada juga arena bermain pasir, area refleksi (area yang terdiri dari batu-batuan yang digunakan untuk pijat refleksi). Dan yang paling menarik dari komplek Taman A ini adalah adanya ruang bacanya.
Saya bersama Wigi sempat terkesima dengan beberapa koleksi yang ada di ruang baca ini. Sayangnya, penataan koleksinya tidak beraturan. Entah karena ada kegiatan atau memang belum ada petugas yang khusus mengelola ruang baca ini. Saya berkali-kali berteriak kegirangan karena ada banyak buku ensiklopedia dan beberapa bundel majalah edisi lama. Selain itu, ada beberapa novel yang sempat menjadi incaran saya menjadi koleksi di Ruang Baca ini. Dan saya memastikan akan mengunjungi tempat ini lebih sering.
Salah satu koleksi buku di ruang baca, Taman Bentoel Trunojoyo. 

Selain koleksi buku yang menarik, di dalam ruang baca ini ada ruang khusus untuk Ibu yang ingin menyusui balitanya. Ini membuat saya semakin terkesima dengan ruang terbuka yang dikonsep oleh Pemerintah Kota Malang dan pihak Bentoel. Karena selama hampir sepuluh tahun berinteraksi dengan kota ini, baru kali ini saya melihat ada ruang publik sekeren ini.
Taman A memang pengerjaannya lebih dulu dibandingkan dengan Taman B, sehingga tanaman dan rumput yang ada di Taman A terlihat lebih tertata rapi. Di Taman B, kita akan melihat bangunan yang mirip seperti Taman Pelangi yang ada di Surabaya. Dan tentu saja di Taman B tidak terlalu ramai dengan pengunjungnya, mungkin karena faktor pembangunannya yang belum selesai. Tetapi lokasinya yang dekat dengan Pujasera hasil dari relokasi PKL yang dulu berada di depan Taman A, menjadi pilhan tepat saat ingin mengisi perut sambil melihat pemandangan Taman Bentoel yang asri.
Saya rasa Taman Bentoel Trunojoyo dapat menjadi liburan alternatif untuk keluarga. Selain adanya ruang baca dengan koleksi yang lumayan banyak, dapat menjadi cara bijak mengenalkan kepada anak-anak untuk mulai mencintai kegiatan membaca buku dan menjaga lingkungan. Karena berlibur tidak harus ke tempat yang mahal, jika ruang terbuka seperti Taman Bentoel Trunojoyo ini dapat memberikan sarana edukatif mengapa harus dengan hal-hal yang mewah.


Karena bahagia itu sederhana, dengan berbagi hal-hal di sekitar kita salah satunya.

Rabu, 22 Oktober 2014

Malang, catatan Wigi-Ayu

Wigi lagi?
Ayu lagi?

Hahahaa... Selamat bertemu dengan kami kembali.
Jejak perjalan sederhana, aku dan Ayu. Mulai dari Tarekot hingga Alun-alun Tugu, Museum Bung Karno, Museum Brawijaya, Museum Malang Tempo Doeloe, Tanjung Papuma serta Museum Bentoel. Minggu ini pun, aku dan Ayu telah mengantongi beberapa tempat yang jadi sasaran kami. Entah apa yang membuat saya melakukan perjalanan semacam ini, dan memilih Ayu sebagai teman perjalanan. Hi Ayu, semoga kau tidak bosan. J J

Taman Bentoel Trunojoyo

Ada beberapa kesamaan diantara kami, selain karena kami menggeluti bidang yang sama ‘akuntansi’, hingga kamipun berpikir realistis tentang prinsip ekonomi, antara cost dan income tidak akan luput dari pertimbangan kami dalam mengambil keputusan, terutama dalam mengatur daftar perjalanan. Setiap perjalanan harus memiliki nilai, ada tujuan di dalamnya. Yang terutama kami enjoy melakukannya. Kalaupun belum mampu memberikan banyak manfaat untuk orang lain, setidaknya mampu merubah pola pikir kami untuk lebih peka, mebuka ruang-ruang pikiran untuk mulai menalar banyak hal disekitar. Menyadari bahwa bukan saatnya lagi untuk terus memikirkan diri sendiri.

Selain kesamaan tersebut, suka mampir ke kedai kopi, memilih moda umum sebagai transportasi, tak ketinggalan susu kotak dan air mineral dalam tas, kadang suka pilih-pilih soal makan (maklum badan kami sedikit manja), memilih berjalan kaki untuk menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Begitulah kegemaran kami. Dengan menyadari keberadaan alam, kami berharap alam-pun akan sadar dengan keberadaan kami.

“Libur Kecil Kaum Kusam’ salah satu lagu Iwan Fals, pertama kali aku dengar waktu di Kedai Sinau, sebuah tembang yang mengantarkanku dalam angan-angan perjalanan panjang. Mengutip sebaris lirik lagu tersebut “soal rekreasi sih harus”, seperti menjadi racun dalam otak. Dengan gaji kami yang mungkin hanya cukup untuk hidup dan bayar biaya kampus, kami menyelipkan anggaran “perjalanan” yang wajib disisihkan, Rp 15.000 tiap minggunya. Mungkin terlihat gila, begitulah kami. Tapi perjalanan sudah menjadi kebutuhan bagi kami. Ayu yang suka sekali coklat, gadis yang rajin nyambangi toko buku, dan sangat berangan ingin ke Paris. Sedangkan aku, wanita yang malas sekali ke salon kecuali setahun sekali untuk merapikan rambut, jatuh cinta dengan perjalanan kereta api, sangat sayang dengan sepatu dan tas warna coklatnya. ”You may say i’m a dreamer” (sepenggal lirik John Lenon)... Sekali lagi begitulah kami. J

Minggu, 12 Oktober 2014. Tanggal yang sudah ditetapkan beberapa minggu sebelumnya bergeser menjadi 19 Oktober, menggiring kami kembali menyusuri beberapa sudut kota Malang. Sekitar jam 7 aku mulai bergegas dari rumah, aku ingat sekali, minggu pagi ini aku ada janji dengan ayu. Bertemu di stasiun kota baru. Mengawali pertemuan yang kesekian kalinya kami tetap berjabat tangan, bersambung menempelkan pipi kanan dan kiri. Sebelum mengawali perjalanan, mampir dulu sebentar ngopi di dekat stasiun.

Perjalanan hari ini dimulai. Selangkah demi selangkah kami meninggalkan area stasiun terbesar di kota Malang menuju sebuah taman yang ramai, kebetulan ada lomba mewarnai pagi ini. Pandangan kami terpusat di salah satu sudut taman. Tepatnya ujung paling barat taman. Sebuah ruang sempit, berkaca bening, dengan salah satu sisi temboknya berhias tanaman-tanaman yang menempel rapi. Sebuah ruang baca yang sederhana, memberikan banyak inspirasi. Rak buku berwarna abu-abu, berisi koleksi yang bisa jadi pilihan sebagai nutrisi sekaligus hiburan otak kita. Taman Bentoel Trunojoyo, tempat yang dulunya terlihat kumuh dipenuhi tenda-tenda pedagang liar, tempat yang kini disulap sebagai ruang edukasi tepat di seberang area stasiun.

Kami tak berhenti disitu, kami berlanjut ke pasar bunga di Jl. Brawijaya. Aku yang sangat gemar sekali dengan tanaman hias, seakan dimanjakan ditempat ini. Ingin sekali mengantongi beragam aroma dan warna flora yang tersaji disini, aku rangkum dalam ruang-ruang tubuhku dan selanjutnya ku tuang dalam taman kecil depan kamar.

At Dewan Kesenian Malang

Belum puas rasanya, kami kembali menyusuri jalan menuju pusat kota. Sampai di depan Taman Rekreasi Kota, tubuh mulai sedikit lelah. Pukul sebelas lewat, matahari terik, tubuh mulai berpeluh. Setelah melewati jembatan sebelah tarekot, ada pohon besar, aku mengajak Ayu istirahat sejenak untuk berteduh. Kami duduk dekat pintu masuk sebuah bangunan tua yang terlihat lusuh kurang terawat. Tapi ada yang lain dari tempat ini, seperti sebuah medan magnet besar hingga mampu menarik kami. Berderet lukisan disalah satu sisi luar ruangan, terlihat lenggang, sedikit berdebu seperti telah lama ditinggal pemiliknya. Kami melanjutkan langkah kami hingga ke dalam. Berderet bangku-bangku dari kayu, dan lukisan-lukisan yang mengelilingi tembok ruangan.

“Permisi”, kata ayu. Suara seorang laki-laki menyahut  dari balik sekat ruang yang terbuat dari bambu, dengan beberapa lukisan menggantung diruas-ruas bambu. Pak Joko namanya, laki-laki yang mengelola tempat tersebut, ia sedang membuat topeng di salah satu sudut gedung Dewan Kesenian Malang (DKM) tersebut. Katanya akan ada perlombaan mewarnai topeng Malang-an. Aku dan ayu bertanya banyak hal tentang tempat ini, sambil ngobrol mata kami terus mengelilingi tiap sisi ruangan. Ada sebuah rak buku, berisi berderet buku dengan berbagai genre. Buku yang sengaja disediakan untuk dibaca sebagai teman ngobrol dan ngopi.

Pukul 12:18 wib, kami meninggalkan gedung DKM. Menuju ke Sarinah, kami ada jadwal nonton hari ini. Sebelum masuk ke bioskop, mampir sejenak menikmati Oreo Blended Strawberry. Antrian panjang sudah terjadi sejak kami memasuki area bioskop. “Dracula Untold” pilihan kami, setelah mengantri cukup lama, akhirnya tiket masuk berhasil kami kantongi, memilih bangku 3C dan 4C. Sebelum jam 3 film telah usai. Seperti sebuah panggilan alam, perut kami mulai protes minta diisi. Kamipun menutup perjalan hari ini dengan mengunjungi Omah Coffee. 2 porsi nasi goreng ayam, 2 porsi Honeydew Tea, dan Jamur Crispy cukup menghentikan ocehan perut kami.



Sebelum benar-benar mengakhiri perjalan hari ini, kami membuka kembali daftar perjalanan yang telah kami susun, terlihat deretan panjang. Entah kapan kami akan menyelesaikan semuanya. Berdoa semoga Tuhan terus mengijinkan kami melanjutkan, maka kamipun akan melanjutkan.

Keep Rolling, Keep Moving, Still Live, Happy Bluesy Day

Kemana lagi akhir pekan berikutnya?

Selesaikan 1/1 bukan 1/2
#Eq Blues