Kamis, 18 September 2014

Berkunjung ke surga di balik bukit.

Jika bersama lebih baik, mengapa kamu memilih sendiri? --- @_yulesta.

Sabtu kemarin, tanggal 13 September 2014 saya bersama dua belas teman saya memutuskan berkunjung ke Jember. Menikmati sensasi ngtrip rame-rame dengan kendaraan umum. Berawal dari obrolan group whatsapp kelas pertengahan Agustus lalu, kami pun ngetrip ke Tanjung Papuma.
Karena rata-rata kami belum pernah merasakan naik kereta rame-rame dengan tujuan yang agak 'aneh' maka Kereta Tawangalun pun menjadi moda keberangkatan kami. Tiket kereta yang di booking dua minggu sebelum keberangkatan memudahkan kami memilih bangku dengan leluasa. Dengan harga tiket Rp. 30.000,- kami dapat tempat duduk yang berderet. Meski Kereta yang kami tumpangi adalah kereta ekonomi, overall keretanya nyaman, ber AC dan yang terpenting ada colokannya. Sehingga kami tak perlu khawatir dengan baterai low, sehingga tetap eksis di sosial media :D
Eksis di kereta.

Kereta Tawangalun berangkat dari Stasiun Kota Baru, Malang pukul 15.00 wib dan sampai Stasiun Jember sekitar pukul 19.45 wib. Sekedar tips, karena memakan waktu yang agak lama sebaiknya kalau mau ngetrip dengan Kereta sediakan cemilan yang banyak. 
Sampai Stasiun Jember, dan menyempatkan diri untuk narsis dan mengabarkan kepada dunia bahwa kita sudah sampai Jember dengan bahagia saya bersama rombongan nyamperin Pak Agung (Travel Agen) yang akan mengantar kami ke Tanjung Papuma. Sekedar Info, jika kalian akan berkunjung ke Jember dan mau menuju ke Papuma bisa menghubungi Pak Agung. Dengan Rp.300.000,- kalian bakal dijemput dari Stasiun/Terminal Jember menuju ke Papuma dan dari Papuma ke Stasiun/Terminal itu sudah termasuk bonus jalan-jalan keliling Jember untuk kuliner dan beli oleh-oleh. Kalau kita dijemputnya di Ambulu maka tarifnya akan berbeda, kabarnya akan lebih murah lagi :D
Jember kami datang.

Karena sudah waktu jam makan malam, kami bersama rombongan di antar Pak Agung ke warung makan dan malam itu kita makan lalapan. Entah karena memang lapar atau porsinya terlalu sedikit kita sampai nambah porsi. Warung lalapan di depan Perhutani, Jember ini selain murah, bersih juga enak. Pesan saya, tempe bacemnya enak saya waktu itu sampai nambah :p untuk ayam gorengnya ada dua pilihan ada ayam kampung dan ayam negeri, selisih harganya tidak terlalu tinggi kok.
Makan malam di Lalapan depan Perhutani, Jember.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu teman yang kebetulan ketinggalan kereta dan mengejar kami dengan bus, kami diajak ngopi cantik dan ganteng di sekitar perempatan Ambulu. Sekitar jam 23.00 teman kami sampai, dan lengkaplah kehebohan kami.
Pukul 24.00 kami sampai di Papuma, suara deburan ombak terdengar dari penginapan yang kami pesan dua minggu lalu. Setelah, menurunkan perbekalan kami dan memindahkan ke kamar kami menyiapkan tenaga untuk berburu sunrise esok harinya. Waktu itu kami menginap di Pondok Papuma yang tarifnya Rp.260.000,- per kamar ada fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam. Saran saya, kalau berombongan mending sewa cottegenya dengan tarif Rp. 510.000,- kita sudah dapat dua kamar, ruang tamu dan kamar mandi dalam. Kamarnya juga ber AC jadi jangan khawatir kegerahan.
Pukul 04.00 wib, kami sudah heboh untuk ke pantai. Jarak Penginapan ke pantai hanya 100 meter saja, dengan harap-harap cemas kami menunggu sun rise. Sekitar pukul lima sunrise baru kelihatan. Bersoraklah kami, sebagai manusia kekinian kami tidak lupa berfoto dan sibuk mengabarkan ke suluruh dunia.
1..2..3
 
Matahari tak pernah ingkar janji.
Setelah puas jalan-jalan melihat sunrise dan berkeliling Tanjung Papuma, sekitar pukul dua belas kami meninggalkan penginapan. Mobil jemputan juga sudah siap mengantar kami ke Terminal, yang sebelumnya kita todong untuk mengantar kami makan siang dan berbelanja oleh-oleh ke 'Sumber Madu'.
Pukul tiga sore rombongan kami sudah sampai di terminal Tawang Alun, Patas yang akan mengantar kami kembali ke Malang juga sudah menunggu. Meski ini adalah perjalanan kesekian saya ke Jember, entah saya merasa berbeda dengan perjalanan kali ini. Mungkin benar kata orang terkenal di luar sana, bukan kemana tujuannya tapi bersama siapa.

Jadi, kemana lagi kita?


Note :
Pak Agung (reservasi mobil jemputan) : +6282143941006
Pak Giono (resevasi Pondok Papuma)  : +6281336103458

Senin, 15 September 2014

Lembur Sehat, ala Peri Hujan.

Lembur tidaklah asing bagi para pekerja, kerap kali pekerjaan yang menumpuk membuat seorang pekerja terpaksa bekerja ekstra. Bila umumnya waktu kerja delapan jam sehari, jika lembur bisa sampai dua belas jam bekerja. Untuk menyiasati agar tubuh tetap segar meski bekerja ekstra, simak tips berikut.
1.       Hindari Kopi.
Terkadang saat lembur, badan menjadi lelah dan biasanya dibarengi dengan mata yang mulai mengantuk. Biasanya Anda akan memilih untuk meminum kopi dengan harapan kafein yang terkandung dalam kopi menghindarkan anda dari mengantuk. Meminum kopi yang berlebihan mengakibatkan insomia dan dehidrasi. Jika terpaksa harus meminum kopi, hindari minum kopi instan minumlah kopi murni tanpa gula yang memberikan efek kafein yang sebenarnya.
2.       Olahraga ringan.
Siapa bilang bekerja di kantor Anda tidak dapat berolahraga. Sempatanlah untuk streching sederhana untuk meregangkan otot punggung yang kaku akibat banyak bekerja. Untuk Anda yang bekerja di depan komputer dapat memijat sekitar mata untuk menghindari mata lelah.
3.       Perbanyak minum air putih.
Tubuh akan mengalami dehidrasi yang akan membuat stamina menurun saat lembur. Usahakan untuk meminum banyak air putih, karena air putih dapat menjaga mood tetap baik. Dehidrasi dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan, dan berkurangnya konsentrasi yang berakibat tidak baik untuk kondisi tubuh anda saat lembur.
Lembur memang penting demi mengejar target terselesaikan deadline pekerjaan. Namun yang terpenting adalah kesehatan. Untuk itulah, pentingnya menjaga kesegran dan kesehatan tubuh meski saat lembur.




Jumat, 12 September 2014

Setelah Enam Tahun

Perpisahan itu tak pernah mudah bagi siapa pun, dan hal terberat dari perpisahan adalah memunguti tiap remah kenangannya -- @_yulesta.

Hari ini telah lewat beberapa hari sejak saya meninggalkan Pasuruan, kota yang menjadi tempat saya bernaung selama enam tahun lebih. Kota tempat saya memperjuangkan cinta yang terbatas jarak, pun merelakannya berakhir. Kota yang menemani saya untuk tumbuh menuai cinta yang baru. Kota, yang setiap sudutnya mengajarkan kepada saya bahwa tak ada yang sia-sia dari setiap perjalanan hidup.
Setelah enam tahun berlalu, saya menyadari beberapa hal. Pasuruan telah memberi saya banyak teman yang statusnya melebihi saudara. Mungkin inilah alasan mengapa meninggalkan Pasuruan tidaklah pernah mudah bagi saya, terlalu banyak tapi di tempat ini. Terlalu banyak kebahagiaan yang membuat saya betah berlama-lama di Kota Sakerah ini.
Beberapa tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk berhenti dari kantor sebelum ini, pun saya berniat untuk tidak akan pernah kembali ke Pasuruan. waktu itu bagi saya tiga setengah tahun adalah waktu cukup bagi saya. Tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, saya kembali ke kota Pasuruan lagi. Kembali bekerja di kota Pasuruan, dan kembali berkumpul bersama sahabat yang melebihi saudara itu. Kembali saya menemukan banyak tawa saat saya kembali ke Kota Pasuruan. Kehadiran teman-teman baru di kantor yang baru membuat semakin semarak kehidupan saya di Pasuruan.
Dan kala itu saya berjanji tidak akan meninggalkan kota ini lagi.
Siapa sangka, kehidupan berputar setelah enam tahun di Pasuraun. Tuhan mempunyai rencana lain untuk saya. Kepergian Ayah, merubah pola pikir saya, merubah prioritas hidup saya. Saya ingin mendekati pelukan Ibu, satu-satunya orang yang saat ini menjadi alasan saya untuk berjuang lebih keras lagi. Saya harus menyelesaikan studi saya, dan lagi-lagi saya mendapati satu pilihan. Dan saya memilih untuk berhenti dan memaknai kebahagiaan saya dengan cara yang berbeda. 
Setelah perjalanan panjang dan pergulatan pikiran yang pelik saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Pasuruan. Saya memilih untuk konsentrasi degan studi saya, tinggal di tempat pengharapan yang luar biasa bagi Ibu saya. Ini pilihan saya.
Akhirnya saya tahu tak ada yang salah atau benar dari pilihan itu yang ada hanyalah konsekuensi dari pilihan itu. Saya memilih untuk pergi dari Pasuruan, tak sedikit yang menyayangkan keputusan saya. Bertanya mengapa tiba-tiba? Pun banyak juga yang mendukung keputusan saya, dengan embel-embel dengan tetap keep contact dengan mereka.
Tentu saja, mereka bukan hanya teman bagi saya, mereka adalah saudara terbaik saya.
Kini setelah enam tahun berlalu, saya percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya percaya Tuhan pasti memiliki rencana dengan setiap apa yang terjadi pada saya. Saya selalu percaya ketika saya pergi, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk ia yang menggantikan saya. Pun sebaliknya, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk saya. 

Terima kasih untuk teman, sahabat dan kakak terhebat saya selama di Pasuruan Mbak Murti. 


Terima kasih untuk Mbak Luluk, Mister Alvon, Bro, Pak Roni, Mas Djalil, Mbak Ika, Anggi, Mbak Eka, Mbak Ketrin, Pak Erik, Pak Yudien, Pak Cosmas, Meme Siska, Semua teman-teman di Sejati Group dan CU Sanqti Jawa Timur.

Terima kasih untuk semua, kalian hebat dan luar biasa.

Terima kasih telah menjadi teman yang baik untuk saya. Terima kasih telah setia mendengar keluh saya. Terima kasih untuk tawa di setiap kesempatan.

Dan terima kasih mau menjadi teman bagi saya yang biasa. Kalian sungguh luar biasa.


Rabu, 10 September 2014

Pulang.


Aku melihat Casio yang melingkar di pergelangan tanganku. Sepuluh menit menuju pukul sembilan pagi, Sancaka Pagi akan datang. Petugas peron memberi arahan, agar penumpang segera menuju pintu boarding. Aku menuju ke meja pemeriksaan tiket, menyerahkan tiketku untuk diperiksa. Perjalanan empat jam, menuju Yogyakarta.
Aku menuju gerbong tiga, mencari-cari kursiku. C5, sesuai ekspektasiku aku mendapat kursi nomor dua dan tepat di sisi jendela. Aku menaruh ranselku di kabin, lalu mengambil botol minuman yang terselip di ranselku. Aku merapikan dudukku, megambil earphone dan memasangkan di smartphoneku. Aku tak ingin mendengar banyak percakapan dalam perjalananku. Dari Iphoneku mengalun lagu Kahitna, Hampir Jadi.
Hampir Jadi? Iya, aku dan dia adalah sepasang manusia yang hampir jadi sepasang suami istri jika saja ego kami tak lebih tinggi dari rasa cinta yang harusnya meneguhkan kami. Dua tahun bersama, masih cinta tapi akhhirnya memilih untuk jalan sendiri-sendiri.
Entah karena lelah atau sudah jengah.
Aku mengingat-ingat awal pertemuan kami. Seharusnya setelah jarak yang kami perjuangkan, tak ada lagi alasan kami untuk memutuskan berpisah. Seharusnya.
Aku memesan satu iced coffee yang ditawarkan pramusaji yang berkeliling di gerbong kereta. Iced Coffee? Minuman favorite kami, satu-satunya persamaan kami. Di antara banyaknya perbedaan kami. Aku yang seorang jawa dan dia seorang tiong hoa. Aku yang pecinta junk food dan Dia yang begitu peduli dengan healthy life. Aku yang tak bisa lama menghabiskan waktu untuk tidur, Ia begitu mencintai waktu tidurnya.
Bukankah cinta tak mengenal perbedaan? Seharusnya itu cukup menguatkan kami. Seharusnya cinta cukup membuat kami bertahan, dan mampu berjuang lebih kuat lagi. Seharusnya pertentangan yang berada di sekitar kami dapat menguatkan kami. Seharusnya.
Sancaka Pagi melaju ke arah barat. Semoga setelah perjalanan ini aku mampu melupakan Dia. Aku memutar-mutar gelas Iced Coffee ku. Kereta berhenti, dari layar monitor tertulis Solo Balapan. Sebentar lagi aku sampai Jogja. Aku memeriksa akun twitterku. Melihat beberapa keriuhan linimasa, tak kutemui satu pun twit darinya. Kurasa Ia telah berhenti, tak lagi mengharapkan hubungan kami kembali seperti semula. Bukankah ini pun keinginanku?
Dari Iphoneku mengalun lagu, Tulus yang Sepatu. Iya, kami seperti sepasang sepatu Dia sepatu kanan dan Aku sepatu kiri. Sadar ingin bersama, tapi tak mungkin bersatu. Cinta senang sekali bercanda ya?
Aku membuka galeri foto yang ada di Iphoneku, ada beberapa foto kami saat menikmati quality time. Aku tersenyum saat melihat fotoku sedang bereksperiman membuat cake di dapur rumahnya. Iya, cake gosong yang kamu puji sebagai cake paling enak sedunia. Cake yang aku buat pertama dan mungkin akan menjadi cake terakhir untukmu.
Cairan bening itu akhirnya menetes juga. Sial, aku menangis lagi.

Aku mengusap air mataku. Aku lelah menangis. Sebulan ini aku terlalu sering menangis, terakhir kali aku menangis begitu hebat setelah perbincangan panjang kami di telpon. Mendengar ucapan kecewamu.
“Berhenti? Semudah itu kamu bilang Me?”
“Maafkan aku..”
“Aku tak pernah bermain-main dengan perasaanku.”
Dan kami hanya menghabiskan sisa tiga puluh menit pembicaraan, hanya saling diam.
Dan sejak pembicaraan itu, hingga kini Ia tak lagi menghubungiku. Ia begitu kecewa denganku. Bukankah jika Ia ingin memperjuangkanku, Ia tak seharusnya membiarkan aku menunggu seperti ini. oh, sepertinya aku melupakan satu hal. Bukankah perpisahan ini pun kesepakatanku juga.
Kami tak mungkin melawan arus bukan? Kami tak mungkin bersama-sama dengan lingkungan yang tak satu pun mendukung hubungan kami. Seharusnya aku mampu membunuh rasa itu sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Seharusnya aku tak membiarkan perasaan itu muncul.
Sancaka Pagi mulai memelan, di layar monitor tertulis Stasiun Yogyakarta.
Aku melepas earphoneku, aku mengambil ranselku di kabin. Penumpang Sancaka Pagi riuh keluar dari gerbong. Aku meregangkan otot punggungku. Aku tersenyum.
“Selamat datang Jogja.”
Aku harus melupakannya.
Aku berjalan menuju luar stasiun, tapi sebelumnya aku menuju ke ATM Center yang berada di dekat pintu keluar stasiun. Aku mengecek Iphoneku, tak ada satu pun pesan masuk. Sepertinya dunia pun enggan mencariku, seperti kamu.
Aku menuju peta Jogjakarta yang terpampang di dekat ATM Center, mengira-ngira aku akan melangkahkan kaki kemana setelah ini. Semoga setelah ini aku dapat melupakannya, gumamku.
“Ke Jogja kenapa gak mengajakku?” Seseorang berkata tepat disampingku. Aku sontak kaget, melihatnya telah berdiri di sampingku, lelaki yang sejak aku menaiki Sancaka pagi begitu ingin aku lupakan.
“Bagaimana..?”
“Aku selalu tahu Me, ayo kita berjuang lagi. Kamu gak akan sendirian lagi. Kamu mau memulainya lagi kan?”

Ada yang meletup-letup di dadaku. Entah, yang pasti aku menerima uluran tangannya, kurasa Dia benar-benar rumahku.

Photo : google.com

Selasa, 09 September 2014

Terapi Patah Hati.



Patah hati bukan harga mati ~~ @_yulesta.

Menyembuhkan patah hati mungkin tidak semudah saat kita jatuh hati. Ada yang perlu waktu berhari-hari, atau bahkan mencapai hitungan tahun. Tapi, hidup harus tetap berjalan kan? Jangan terlalu terpaku pada sakit dan pedihnya masa lalu, hidup harus bergerak maju. Untuk mensiasati pasca patah hati ikuti tips berikut.
1.       Menangis.
Menangis adalah cara alami untuk melampiaskan rasa kesal, tertekan dan penat. Seseorang yang menangis dapat menurunkan kadar emosi, karena dengan menangis dapat meningkatkan mood seseorang. Air mata yang dikeluarkan saat menangis dapat mengeluarkan hormon stress akibat patah hati yaitu endorphin leucine-enkaphalin.
2.       Menulis.
Tulislah semua kejadian yang membuat Anda patah hati. Tentang perasaan sakit dan kehilangan. Menulis dapat menyembuhkan, karena dengan menulis kita dapat mengelurkan emosi kita. Anda juga dapat membuat daftar tentang kesalahan dan kenangan menyakitkan saat bersama si dia, hal ini dapat membuat anda berpikir ulang untuk kembali pada si dia.
3.       Menyibukkan diri.
Temukan kesibukan baru, misalnya dengan mengikuti kursus memasak, menjahit atau menekuni hobi Anda yang dapat meningkatkan kualitas diri. Dengan menyibukkan diri, anda tidak akan terfokus pada masalah. Anda tidak akan punya waktu untuk mengingat-ingat si dia, yang akhirnya membuat Anda merasa lebih baik.
4.       Membuka diri.
Membuka diri bukan berarti menyegerakan punya pacar atau gebetan sebagai ganti dari mantan Anda. Tetapi dalam hal ini membuka diri adalah menerima kedatangan orang baru dalam kehidupan Anda. Jika selama bersama si mantan, Anda terlalu fokus kepadanya, inilah saat Anda membuka diri untuk orang lain dan tidak membandingkannya dengan mantan.
So, jangan takut dengan patah hati,karena patah hati bukanlah akhir dari perjalanan.  Selalu ada jalan untuk jatuh hati lagi dan bangkit. And lets move on.


Jumat, 05 September 2014

Zangrandi Rhapsody.


"Aku tak suka es krim." kataku bersungut-sungut, pipiku menggelembung saat Lie menggandengku masuk ke Cafe ini. Lie hanya tersenyum, lalu menyuruhku duduk di kursi rotan yang berjejer di teras Cafe ini. Aku masih berdiri, tak menuruti permintaan Lie untuk duduk.
"Meme sayang, ayolah." Katanya, lalu menarik lenganku agar aku mau duduk di kursi yang ia pilih. Akhirnya aku luluh juga, dengan menghentakkan tubuhku aku duduk di kursi rotan itu. Lie tersenyum, dan aku masih tetap mengelembungkan pipiku.
Seorang pramusaji menghampiri kami, ia menyodorkan dua buku menu ke arah kami. "Mau langsung pesan atau masih menunggu?" 
"Nanti saja, kami pilih-pilih menu dulu ya."Ucap Lie, Sang pramusaji mengangguk takzim, lalu meninggalkan kami. Lie sibuk menyusuri buku menu, sementara aku hanya membolak-balik deretan nama es krim itu. 
"Aku gak tertarik." kataku, sambil meletakkan buku menu itu sekenanya. Lie menatapku, "Coba yang Tutti Fruiti saja ya? Rasanya gak enek kok." Bujuk Lie.
Aku menggeleng.
Lie menghela nafas,"Zangrandi Pie saja bagaimana? biar nanti aku yang makan es krimnya dan kamu dapat menikmati pie nya?" 
"Terserah deh."
Lie melambaikan tangannya, pramusaji yang tadi memberikan buku menu menghampiri kami. 
"Satu Noodle Ice Cream, Satu Zangrandi Pie dan satu paket senyum untuk pacar saya ya. Dia lagi ngambek." Kelekar Lie. Pramusaji tertawa, lalu mengulangi pesanan Lie.
Aku mencubit  lengannya gemas. Lie masih saja tertawa.
"Kenapa sih gak suka es krim? Enak lagi Me."
"Gak suka ya gak suka Ko, Koko juga aneh cowok kok suka sama es krim." Gerutuku.
"Hehehe, sama  seperti aku tak pernah memiliki alasan untuk menyayangimu."
Mukaku memerah.
"Gak usah ngegombal deh." kilahku.
Lie tertawa.
Pesanan Lie datang, Pramusaji meletakkan pesanan Lie di meja kami. Lie menyodorkan satu porsi es cream yang disajikan di atas waffle ke arahku.
"Dicoba dulu. Percaya deh sama aku, enak kok." Ucap Lie menyakinkan.
Aku menggeleng, "Gak mau."
Lie menyerah. Aku menenggelamkan badan ke kursi rotan itu. Sementara Lie menarik Noodle Ice Cream pesananya. Menikmati es krim pesanannya, sementara aku hanya melihatnya dibalik gangetku.
Tak sampai sepuluh menit es krim Lie habis. Ia mengusap mulutnya dengan tisue. "Udah? balik yuk." ajakku.
"Belum dong, kamu kan belum mencoba es krimnya." Ucapa Lie.
"Udah dong maksanya." Aku makin cemberut.
Lie tertawa, "Kamu tahu Me, kalau ngambek kamu itu makin ngegemesin. Kadang aku gak habis pikir bagaimana aku jatuh cinta padamu."
"Tau.."
Lie mengambil Zangrandi Pie, lalu mengambil satu sendok lalu menyodorkan ke arahku. "Ayolah sayang."
Aku memandang Lie kemudian ke Zangrandi Pie bergantian.
Aku menyerah, akhirnya menerima suapan Lie. Es krimnya lumer dimulutku, sampai aku menyadari ada benda aneh yang bercampur di es krim yang aku telan.
"Ko..." Kataku kaget saat memuntahkan benda yang tercampur di es krim tadi.
Lie tersenyum.
"Will you merry me?"
Lie mengambil cincin itu dari tanganku, Ia mengusap cincin itu lalu menarik tanganku. Aku masih terkejut dan tak percaya Lie melamarku.
Aku tersenyum.
"I will."



Dedicated to :
Mbak Fin yang menemani #KentjanSurabaya dan mendengar konsep cerpen ini.


Selasa, 19 Agustus 2014

(N)ever Ending Love

Empat bulan yang lalu, saya mempunyai pikiran bahwa saya akan mati. Patah hati, ternyata bukanlah akhir dari kehidupan saya. Hingga hari ini saya masih hidup, masih bisa tertawa, masih bisa menjalani kehidupan normal meski status saya berupah menjadi cewek single alias jomlo XD
Tak memiliki pacar bukan berarti kehidupan saya berakhir bukan? Meski banyak yang mempertanyakan mengapa saya mengakhiri hubungan ini. Entah tak sedikit yang akhirnya bersorak, entah bahagia atau akhirnya keinginanannya terwujud. Melihat saya gagal :D
Saya sempat merutuki semua ini, menangis setiap hari hingga saya sadar menangis tak akan membuat semua menjadi sesuai keinginan saya. Iya, pilihan ini tak pernah mudah untuk saya.
Saya masih suka stalking di semua akun socmed mantan, meski berakhir dengan sakit hati karena si mantan cepat sekali move on nya dan tidak segalau dan selebay saya waktu awal putus. Iya, dia tak merasa kehilangan saya. Kabar bahagia bukan?
Menyadari ia telah berlalu sementara saya dengan setengah mati berusaha melupa. Sampai melakukan perjalanan absurd biar hilang kegilaan saya pasca putus. Ternyata saya salah, semakin memaksa lupa ia semakin gencar muncul dalam ingatan saya. Ia, seperti candu.
Hingga pada satu postingan di salah satu akun socmednya saya menyadari satu hal, dia telah berlalu. Ia sudah menghapus saya dalam kehidupannya. Ia telah memilih wanitanya. Sedih? Saya sempat menangis, bukan karena saya menyesali mengapa ia secepat itu melupakan saya. Tapi saya menyesal mengapa saya terlambat menyadarinya. Seandainya saya lebih peka, mungkin penyesalan ini tak akan pernah ada. Mungkin saya tak perlu menangis seharian merutuki satu baris kalimat yang tak genap seratus empat puluh kata itu, Ia yang begitu kecewa dengan saya.

Sekarang setelah empat bulan berlalu, saya ingin kembali menyapanya. Bukan untuk berbasa-basi atau memintanya untuk kembali, tapi saya ingin memintanya untuk berteman lagi bersama saya. Iya, saya dan dia sebelum mencinta adalah sepasang manusia yang tertaut dalam ikatan pertemanan.


Hei, kamu kapan kita berteman lagi?