Senin, 10 November 2014

(un)Happy Strawberry Toast.


Aku melangkahkan kaki ke kedai yang bangunanya bernuansa putih itu, Omah Caffee. Beberapa bulan yang lalu, aku sering kesini. Setiap malam minggu, kamu akan mengajakku duduk dan bercerita apa saja di sini. Terkadang, saat kamu menjemputku pulang kerja pun mengajakku bersantai sejenak sebelum aku pulang ke kos.
Itu dulu, sebelum semua berubah.
Aku  memegang ujung tasku. Sangsi, apakah aku serius akan masuk ke Omah Caffee. Aku melihat mobilmu terparkir di halaman Omah Caffee. Kamu sendirian kah? Atau bersama Bili dan Joice? Atau bersama yang lain.
Aku membalikkan badan berniat berlalu dari tempat itu. Namun urung, aku memilih berjalan ke arah Outlet Omah Mode yang letaknya bersebelahan dengan Omah Caffee. Outlet distro ini nampak lengang padahal hari ini minggu.
Aku menyisir beberapa deret koleksi baju yang di pajang di Outlet ini. Mataku tertegun saat melihat satu kaos berwarna merah itu. Merah, adalah warna favoritemu. Warna yang kau bilang sebagai penanda kobaran semangat. Yang katamu dulu adalah warna yang serupa denganmu yang selalu dipenuhi semangat yang membuncah untuk mempertahankan apa yang akan membuatmu bahagia.
Tapi mengapa kamu tak pernah semangat untuk mempertahankanku? Apakah itu berarti aku tak pernah membuatmu bahagia? Adakah yang salah dengan hubungan kita.
Aku menghela nafas.
Mengingat malam terakhir kita bertemu. Pembicaraan kita yang lebih banyak berisi tentang kekecewaan, dan helaan nafas. Mengapa semua ini harus terjadi di saat kita telah melangkah begitu jauh. Di saat kita telah menyepakati tentang mimpi-mimpi kita tentang kehidupan setelah kita telah disahkan oleh agama maupun pemerintah.
Mengapa kita baru menyadari bahwa kita tak pernah sama, bahwa kita berbeda setelah dua tahun kita saling menautkan hati. Dan mengapa kita baru menyadari bahwa kita selalu meragu dengan apa yang akan kita hadapi nanti.
Aku yang hanya seorang Kartika, gadis jawa. Tak mungkin bisa bersamamu Lie, kamu yang seorang Tiong Hoa.
Aku buru-buru mengusap mataku yang mulai mengembun. Terlalu banyak tapi, saat aku dan Lie untuk memutuskan bersama. Dan terlalu menyakitkan saat aku harus memilih mengakhiri kisahku bersama Lie.
Aku melihat dari jendela, mobil Lie masih terparkir di halaman Omah Caffee.
Ah, seharusnya di senja yang mulai menguning ini aku duduk di kursi biasa kami duduk. Kursi yang berada di pojok Omah Coffee, kursi favorite kita. Aku akan memesan Honeydew Tea dengan sedikit es batu dan Strawberry Toast dengan taburan keju dan cokelat bubuk. Kamu akan mengaduk-aduk Honeydew Tea ku mengambil es batu, dan mengunyahnya. Yang sering kali ku protes, mengingatkan kesehatan giginya. Perdebatan kecil yang membuatku menggembungkan pipiku dan kamu akan mengusap rambutku menenangkan. Hal sederhana yang selalu membuatku luluh padamu.
Aku keluar dari Omah Mode, langkahku mantab menuju ke Omah Caffee. Aku kesini bukan untuk menemui Lie, aku hanya ingin menikmati Honeydew Tea dan Strawberry Toast kegemaranku. Aku kesini bukan untuk Lie, rapalku.
Langkahku terhenti saat aku membuka pintu Omah Caffee. Aku melihatmu dengan wanita itu. Wanita itu duduk di depanmu, dan aku melihatnya meminum Honeydew Tea kegemaranku.
Wanita, yang selalu ada setiap kali aku dan Lie berkunjung di tempat ini. Wanita yang sering kali kulihat, memperhatikanmu dan seakan tak pernah mau melepas setiap gerakanmu. Wanita yang sering muncul dalam pikiranku. Wanita yang sering kukhawatirkan akan membawamu berlalu dariku.
Lie.
Tubuhku lemas, dan yang kutahu hanya gelap saat itu.

Malang, 20 Oktober 2014.




Senin, 27 Oktober 2014

Kenapa NgeBlog?

Kalau ditanya mengapa ngeblog? Mungkin jawaban saya adalah, saya ingin nama saya muncul di Google search, huehehehe. Padahal kenyataannya saya termasuk Blogger murtad, yang menulis kalau moodnya lagi baik.
Pertama ngeblog saat masih kuliah, sekitar tahun 2004. Ngeblog dulu di Friendster, iya masih ingat kan dengan social media satu ini? Saya banyak menulis di friendster, yang mungkin tulisannya berkisar curhatan tentang LDR an saya sampai derita saya sebagai Mahasiswi Akuntansi yang salah jurusan. Blogger pertama yang saya ikuti adalah si Raditya Dika, tulisan dia di kambingjantan dot com selalu saya tunggu. Waktu itu dia belum bikin buku. Dan ketika blognya dibukukan bahagialah saya. 
Waktu berganti, saya mulai mengenal blogspot ini. Blogspot adalah rumah kedua saya untuk menulis setelah Friendster hilang dari peredaran. Menulis di Blogspot juga moody banget, setahun hanya ada hitungan jari postingannya. Blog pertama saya meandmyordinaryday akhirnya mati suri. Tahun 2010 saya kerajingan twitter, dan mulai itulah saya mencoba untuk menulis lagi.
Berawal dari menyamakan semua akun media sosial saya, akhirnya rumah ini saya buat pada tahun 2011. Saya mulai rajin, dan karena pengaruh orang-orang yang menghiasi timeline saya. Adalah Mput, Kur-kur, Roy, dan Dendi mereka adalah orang-orang yang membuat saya mencintai ngeblog. Awalnya hanya membaca tulisan mereka, akhirnya mulai rajin menulis. Dari cerpen, tulisan random, curhat sampai cerita traveling ala backpacker.
Dari Blog inilah saya mulai mengenal tulisan dari beberapa blogger lainnya, dan sekarang saya sedang menyukai tulisan dari si Tirta di romeogadungan.com , juga cerita manis dari pacarnya Roy si Sarah di sarahpuspita.com dan tulisan Intan di kurakurahitam.blogspot.com. Bahagianya lagi tulisan saya makin hari makin berkembang dan tidak melulu soal curhat terselubung saya.
Pada tahun 2012, saya menjadi suka menulis sajak dan untuk itulah saya membuat rumah di ceritaperihujan.tumblr.com dari postingan di Tumblr inilah buku pertama saya lahir, Cerita Peri Hujan. Dan pada awal tahun 2013 saat saya, patah hati :p saya merubah rumah pertama saya meandmyordinaryday menjadi jurnalsiayu.blogspot.com yang postingannya lebih banyak soal jurnal akuntansi. Iya, saya ingin menulis yang berhubungan dengan profesi saya sebagai Akuntan.
Hari ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional, jadi apakah saya sudah pantas disebut sebagai seorang Blogger? hmmm, saya rasa julukan itu tak penting. Disebut Blogger atau tidak, saya akan menulis. Karena saya percaya dengan menulis saya mampu membekukan kenangan.

Selamat Hari Blogger Nasional.

Jumat, 24 Oktober 2014

Taman Bentoel Trunojoyo, liburan cerdas di Malang.


Sisi Samping Ruang Baca Taman Bentoel Trunojoyo.

Hari minggu ini setelah hanya ngobrol dan membicarakan liburan selanjutnya lewat BBM atau Whatsapp saya bersama Tim Ransel, Wigi akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke Taman Bentoel Trunojoyo. Kami sempat melirik Taman ini beberapa kali saat melintasinya. Taman yang baru selesai di bangun pertengahan tahun ini.
Suasana agak padat pagi itu, karena ternyata ada kelompok komunitas yang sedang mengadakan kegiatan di Taman Bentoel. Jadi saya agak kaget ketika Taman penuh dengan anak-anak kecil yang sedang sibuk mewarnai.
Taman Bentoel Trunojoyo terletak persis di depan Stasiun Kota Malang. Taman ini terdiri dari dua komplek, Taman A dan Taman B. Di Taman A ada fasilitas air mancur yang  hampir setiap hari dipenuhi anak-anak yang bermain air. Ada juga arena bermain pasir, area refleksi (area yang terdiri dari batu-batuan yang digunakan untuk pijat refleksi). Dan yang paling menarik dari komplek Taman A ini adalah adanya ruang bacanya.
Saya bersama Wigi sempat terkesima dengan beberapa koleksi yang ada di ruang baca ini. Sayangnya, penataan koleksinya tidak beraturan. Entah karena ada kegiatan atau memang belum ada petugas yang khusus mengelola ruang baca ini. Saya berkali-kali berteriak kegirangan karena ada banyak buku ensiklopedia dan beberapa bundel majalah edisi lama. Selain itu, ada beberapa novel yang sempat menjadi incaran saya menjadi koleksi di Ruang Baca ini. Dan saya memastikan akan mengunjungi tempat ini lebih sering.
Salah satu koleksi buku di ruang baca, Taman Bentoel Trunojoyo. 

Selain koleksi buku yang menarik, di dalam ruang baca ini ada ruang khusus untuk Ibu yang ingin menyusui balitanya. Ini membuat saya semakin terkesima dengan ruang terbuka yang dikonsep oleh Pemerintah Kota Malang dan pihak Bentoel. Karena selama hampir sepuluh tahun berinteraksi dengan kota ini, baru kali ini saya melihat ada ruang publik sekeren ini.
Taman A memang pengerjaannya lebih dulu dibandingkan dengan Taman B, sehingga tanaman dan rumput yang ada di Taman A terlihat lebih tertata rapi. Di Taman B, kita akan melihat bangunan yang mirip seperti Taman Pelangi yang ada di Surabaya. Dan tentu saja di Taman B tidak terlalu ramai dengan pengunjungnya, mungkin karena faktor pembangunannya yang belum selesai. Tetapi lokasinya yang dekat dengan Pujasera hasil dari relokasi PKL yang dulu berada di depan Taman A, menjadi pilhan tepat saat ingin mengisi perut sambil melihat pemandangan Taman Bentoel yang asri.
Saya rasa Taman Bentoel Trunojoyo dapat menjadi liburan alternatif untuk keluarga. Selain adanya ruang baca dengan koleksi yang lumayan banyak, dapat menjadi cara bijak mengenalkan kepada anak-anak untuk mulai mencintai kegiatan membaca buku dan menjaga lingkungan. Karena berlibur tidak harus ke tempat yang mahal, jika ruang terbuka seperti Taman Bentoel Trunojoyo ini dapat memberikan sarana edukatif mengapa harus dengan hal-hal yang mewah.


Karena bahagia itu sederhana, dengan berbagi hal-hal di sekitar kita salah satunya.

Rabu, 22 Oktober 2014

Malang, catatan Wigi-Ayu

Wigi lagi?
Ayu lagi?

Hahahaa... Selamat bertemu dengan kami kembali.
Jejak perjalan sederhana, aku dan Ayu. Mulai dari Tarekot hingga Alun-alun Tugu, Museum Bung Karno, Museum Brawijaya, Museum Malang Tempo Doeloe, Tanjung Papuma serta Museum Bentoel. Minggu ini pun, aku dan Ayu telah mengantongi beberapa tempat yang jadi sasaran kami. Entah apa yang membuat saya melakukan perjalanan semacam ini, dan memilih Ayu sebagai teman perjalanan. Hi Ayu, semoga kau tidak bosan. J J

Taman Bentoel Trunojoyo

Ada beberapa kesamaan diantara kami, selain karena kami menggeluti bidang yang sama ‘akuntansi’, hingga kamipun berpikir realistis tentang prinsip ekonomi, antara cost dan income tidak akan luput dari pertimbangan kami dalam mengambil keputusan, terutama dalam mengatur daftar perjalanan. Setiap perjalanan harus memiliki nilai, ada tujuan di dalamnya. Yang terutama kami enjoy melakukannya. Kalaupun belum mampu memberikan banyak manfaat untuk orang lain, setidaknya mampu merubah pola pikir kami untuk lebih peka, mebuka ruang-ruang pikiran untuk mulai menalar banyak hal disekitar. Menyadari bahwa bukan saatnya lagi untuk terus memikirkan diri sendiri.

Selain kesamaan tersebut, suka mampir ke kedai kopi, memilih moda umum sebagai transportasi, tak ketinggalan susu kotak dan air mineral dalam tas, kadang suka pilih-pilih soal makan (maklum badan kami sedikit manja), memilih berjalan kaki untuk menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Begitulah kegemaran kami. Dengan menyadari keberadaan alam, kami berharap alam-pun akan sadar dengan keberadaan kami.

“Libur Kecil Kaum Kusam’ salah satu lagu Iwan Fals, pertama kali aku dengar waktu di Kedai Sinau, sebuah tembang yang mengantarkanku dalam angan-angan perjalanan panjang. Mengutip sebaris lirik lagu tersebut “soal rekreasi sih harus”, seperti menjadi racun dalam otak. Dengan gaji kami yang mungkin hanya cukup untuk hidup dan bayar biaya kampus, kami menyelipkan anggaran “perjalanan” yang wajib disisihkan, Rp 15.000 tiap minggunya. Mungkin terlihat gila, begitulah kami. Tapi perjalanan sudah menjadi kebutuhan bagi kami. Ayu yang suka sekali coklat, gadis yang rajin nyambangi toko buku, dan sangat berangan ingin ke Paris. Sedangkan aku, wanita yang malas sekali ke salon kecuali setahun sekali untuk merapikan rambut, jatuh cinta dengan perjalanan kereta api, sangat sayang dengan sepatu dan tas warna coklatnya. ”You may say i’m a dreamer” (sepenggal lirik John Lenon)... Sekali lagi begitulah kami. J

Minggu, 12 Oktober 2014. Tanggal yang sudah ditetapkan beberapa minggu sebelumnya bergeser menjadi 19 Oktober, menggiring kami kembali menyusuri beberapa sudut kota Malang. Sekitar jam 7 aku mulai bergegas dari rumah, aku ingat sekali, minggu pagi ini aku ada janji dengan ayu. Bertemu di stasiun kota baru. Mengawali pertemuan yang kesekian kalinya kami tetap berjabat tangan, bersambung menempelkan pipi kanan dan kiri. Sebelum mengawali perjalanan, mampir dulu sebentar ngopi di dekat stasiun.

Perjalanan hari ini dimulai. Selangkah demi selangkah kami meninggalkan area stasiun terbesar di kota Malang menuju sebuah taman yang ramai, kebetulan ada lomba mewarnai pagi ini. Pandangan kami terpusat di salah satu sudut taman. Tepatnya ujung paling barat taman. Sebuah ruang sempit, berkaca bening, dengan salah satu sisi temboknya berhias tanaman-tanaman yang menempel rapi. Sebuah ruang baca yang sederhana, memberikan banyak inspirasi. Rak buku berwarna abu-abu, berisi koleksi yang bisa jadi pilihan sebagai nutrisi sekaligus hiburan otak kita. Taman Bentoel Trunojoyo, tempat yang dulunya terlihat kumuh dipenuhi tenda-tenda pedagang liar, tempat yang kini disulap sebagai ruang edukasi tepat di seberang area stasiun.

Kami tak berhenti disitu, kami berlanjut ke pasar bunga di Jl. Brawijaya. Aku yang sangat gemar sekali dengan tanaman hias, seakan dimanjakan ditempat ini. Ingin sekali mengantongi beragam aroma dan warna flora yang tersaji disini, aku rangkum dalam ruang-ruang tubuhku dan selanjutnya ku tuang dalam taman kecil depan kamar.

At Dewan Kesenian Malang

Belum puas rasanya, kami kembali menyusuri jalan menuju pusat kota. Sampai di depan Taman Rekreasi Kota, tubuh mulai sedikit lelah. Pukul sebelas lewat, matahari terik, tubuh mulai berpeluh. Setelah melewati jembatan sebelah tarekot, ada pohon besar, aku mengajak Ayu istirahat sejenak untuk berteduh. Kami duduk dekat pintu masuk sebuah bangunan tua yang terlihat lusuh kurang terawat. Tapi ada yang lain dari tempat ini, seperti sebuah medan magnet besar hingga mampu menarik kami. Berderet lukisan disalah satu sisi luar ruangan, terlihat lenggang, sedikit berdebu seperti telah lama ditinggal pemiliknya. Kami melanjutkan langkah kami hingga ke dalam. Berderet bangku-bangku dari kayu, dan lukisan-lukisan yang mengelilingi tembok ruangan.

“Permisi”, kata ayu. Suara seorang laki-laki menyahut  dari balik sekat ruang yang terbuat dari bambu, dengan beberapa lukisan menggantung diruas-ruas bambu. Pak Joko namanya, laki-laki yang mengelola tempat tersebut, ia sedang membuat topeng di salah satu sudut gedung Dewan Kesenian Malang (DKM) tersebut. Katanya akan ada perlombaan mewarnai topeng Malang-an. Aku dan ayu bertanya banyak hal tentang tempat ini, sambil ngobrol mata kami terus mengelilingi tiap sisi ruangan. Ada sebuah rak buku, berisi berderet buku dengan berbagai genre. Buku yang sengaja disediakan untuk dibaca sebagai teman ngobrol dan ngopi.

Pukul 12:18 wib, kami meninggalkan gedung DKM. Menuju ke Sarinah, kami ada jadwal nonton hari ini. Sebelum masuk ke bioskop, mampir sejenak menikmati Oreo Blended Strawberry. Antrian panjang sudah terjadi sejak kami memasuki area bioskop. “Dracula Untold” pilihan kami, setelah mengantri cukup lama, akhirnya tiket masuk berhasil kami kantongi, memilih bangku 3C dan 4C. Sebelum jam 3 film telah usai. Seperti sebuah panggilan alam, perut kami mulai protes minta diisi. Kamipun menutup perjalan hari ini dengan mengunjungi Omah Coffee. 2 porsi nasi goreng ayam, 2 porsi Honeydew Tea, dan Jamur Crispy cukup menghentikan ocehan perut kami.



Sebelum benar-benar mengakhiri perjalan hari ini, kami membuka kembali daftar perjalanan yang telah kami susun, terlihat deretan panjang. Entah kapan kami akan menyelesaikan semuanya. Berdoa semoga Tuhan terus mengijinkan kami melanjutkan, maka kamipun akan melanjutkan.

Keep Rolling, Keep Moving, Still Live, Happy Bluesy Day

Kemana lagi akhir pekan berikutnya?

Selesaikan 1/1 bukan 1/2
#Eq Blues


Senin, 20 Oktober 2014

Honeydew Tea.



Dia duduk di pojok ruangan cafe itu. Ia mengaduk gelas yang isinya tinggal separuh itu. Pandangannya kosong, menatap kursi yang ada di depannya. Aku menatapnya iba, sudah seminggu ini dia selalu datang ke Cafe ini dan selalu memilih tempat itu dan akan memesan minuman dan makanan yang sama.
Dan Ia akan melakukan hal yang sama, duduk diam di tempat itu selama dua jam bahkan kemarin ia duduk di tempat itu hampir tiga jam. Iya, aku selalu mengamati Dia. Jauh sebelum ia menjadi pelanggan setia di Cafe ini.
Dulu ia tak pernah datang sendiri, ia selalu datang bersama temannya dan seorang wanita yang ia sebut-sebut sebagai sepupunya. Dan tak jarang ia datang berdua saja dengan seorang wanita, yang ia panggil Meme. Panggilan adik perempuan di golongannya, tapi aku tahu wanita yang ia panggil Meme itu tidak sipit, matanya belo berbeda dengan matanya yang sipit meski terbingkai oleh kaca mata. Kulitnya tidak putih, wanita itu berkulit sawo matang.
Dari semua pengamatan itu, aku tahu wanita itu adalah kekasihnya. Karena pada suatu hari di akhir bulan Juli, Ia memberi wanita itu kejutan dan wanita yang ia panggil meme itu berseru, mengucap sesuatu yang entah mengapa sedikit membuat ngilu di hatiku.
“Terima kasih ya sayang, aku gak nyangka kamu bakal membuat kejutan seperti ini untukku. I love you.” Dan wanita itu, mengecup pipinya.
Dan Ia mengucapkan, yang entah aku berharap suatu saat ia mengucapkan itu untukku.
“I love you too, sayang. Selamat bertambah usia ya sayang.”
Dan, hari itu ia meminta semua ruangan Cafe dipenuhi dengan mawar merah. Dan ia memesan agar tak ada satu pun pengujung selain dia malam itu. Ia ingin merayakan ulang tahun kekasihnya itu hanya berdua saja di Cafe ini.
Minggu berikutnya ia semakin sering datang bersama kekasihnya di Cafe ini. Aku melihatnya tampak bahagia, bercerita banyak hal kepada wanita yang ia panggil Meme itu. Dan aku pun melihat hal yang sama di wanita itu. Mereka bahagia.
Bulan berganti, aku semakin jarang melihat ia datang ke Cafe ini. Aku hanya melihat temannya datang bersama wanita yang ia sebut sebagai sepupunya itu datang kesini tapi tanpa kehadirannya. Aku mendengar namanya disebut-sebut.
Dan malam itu dua bulan yang lalu, Ia datang ke Cafe ini ia bersama teman dan juga sepupunya. Wajahnya kusut, beberapa kali aku melihat Ia mengusap-usap wajahnya. Ia tampak kacau, ia melepas kacamatanya, dan aku samar melihat matanya memerah menahan tangis atau tangis yang ia paksa untuk berhenti lebih tepatnya. Temannya menupuk punggungnya pelan, menabahkan.
Sementara, sepupunya tampak marah. Beberapa kali menyebut-nyebut nama wanita kesayangannya. Meremas-remas tanganya, ia tampak emosi. Sementara temannya berusaha menenangkan.
Aku menatapnya iba, ada apa dengannya?
Mereka akhirnya saling diam, dan sesekali aku mendengar ia membisikkan nama wanitanya. Berulang kali, dan aku melihat wajah sepupunya semakin merah.
Hari ini setelah berbulan-bulan Ia tak datang lagi ke Cafe ini. Ia datang lagi, bahkan datang setiap hari selama seminggu ini. Ia selalu memesan minuman dan makanan yang sama. Makanan dan minuman yang selalu dipesan oleh wanita yang ia panggil meme itu.
“Honeydew Tea, madunya yang banyak ya, jangan lupa es batunya sedikit saja. Dan aku mau Roti bakar strawberrynya ditambah parutan keju dan coklat bubuk.”
Pesanan yang selalu diucapkan oleh wanitanya. Dan seminggu ini Ia selalu memesan minuman dan makanan itu.
Entah hari ini aku merasa harus mendekatinya, mengajaknya berkenalan mungkin. Hari ini genap empat tahun aku selalu membuntuti Lie. Aku harus berani, bukankah aku pun memiliki kesempatan yang sama?
Hari ini atau tidak sama sekali.
Aku mendekati mejanya, berdiri di depannya.
“Boleh duduk di sini?” tanyaku, sembari menarik kursi di depannya. Dan meletakkan Honeydew Tea di mejanya.
“Aku Thalita, kenalkan.” Kataku, dan mengulurkan tanganku ke arahnya.

Malang, 19 Oktober 2014.


 Nb : Foto koleksi pribadi.
*Salah satu view di Omah Caffee, Malang.


Senin, 13 Oktober 2014

Museum Bentoel dalam akhir pekan

Menyambung beberapa perjalanan sebelumnya, yang sudah menjadi daftar perjalananku bersama Ayu, minggu ini Museum Bentoel menjadi sasaran empuk kami. Meskipun saya asli orang Malang, terus terang saja, saya kurang familiar dengan keberadaan museum ini. Pernah beberapa kali lalu lalang di depan bangunan yang terletak di jantung kota Malang, tepatnya di  Jl. Woromargo 32, tapi hanya sekedar membaca tulisan “Museum Bentoel” yang ada dihalaman bangunan tua tersebut dan belum terlintas untuk mendatanginya.
Bagi orang Malang, mendengar kata Bentoel pasti akan terlintas kerajaan rokok yang terus menjalar di kota maupun kabupaten Malang.  Berawal dengan berderet brand yang digawangi  Ong Hok Liong, diantaranya Boeroeng, Kelabang, Kendang, Djeroeh Manis, Toerki, dan sebagai gong-nya dipilihlah  nama Bentoel yang kita kenal sekarang.
28 September 2014, hari minggu siang, Alhamndulillah saya berkesempatan menyusuri tiap ruang sarat sejarah. Saya bertandang ke museum tidak hanya berdua dengan Ayu seperti biasanya, kali ini Iin turut meramaikan perjalanan kami. Bertiga kami “menggila” dalam bangunan mantan rumah pendiri Bentoel tersebut.
Berawal dengan mengisi buku pengunjung di ruang satpam, kami  dipersilahkan untuk menuju bangunan utama. Tidak ada tiket masuk untuk memasuki bangunan yang terkesan klasik, sepi,  rumah tua bercat tembok putih dengan jendela dan pintu jati yang masih terkunci  terlihat sangat kokoh, menggambarkan kejayaan saat itu, awal tahun 1900-an. Masih sangat lenggang, berasa rumah sendiri, kami menjajaki setiap ruang yang terdiri dari galeri-galeri. Eh, sekedar informasi, selain masuknya gratis, pengunjung juga bebas berfoto di tempat ini.
Sebelum memasuki ruang pertama, ada tiga buah pintu yang masing-masing terdiri dari dua daun pintu. Ketiga pintu tersebut masih terkunci, sepertinya kami kepagian melakukan kunjungan hari itu. Akhirnya pintu yang terletak paling tengah mulai dibuka oleh seorang perempuan berambut pendek dengan seragam biru dongker yang merupakan penjaga museum tersebut.  Sebelah kanan pintu ada patung dari perunggu yang merupakan replika dari Ong Hok Liong. Dan di kanan serta kiri daun pintu tampak papan yang merupakan penjelasan singkat dan petunjuk museum ini.
Kami-pun mulai menapak ruang utama. Meskipun tidak terlalu luas, semua tampak bersih dan terawat. Jajaran foto tertata rapi, sederet bangku panjang yang sengaja disiapkan menambah kenyamanan pengunjung yang ingin menikmati kunjungan mereka. Selain itu, ada sebuah sepeda ontel tua, yang konon merupakan kendaraan pertama yang digunakan sebagai armada untuk distribusi rokok Bentoel.
Disebelah kanan ruang utama ada sebuah galeri Tembakau dan Cengkeh. Diruang ini terdapat sebuah kotak yang diberi sekat-sekat pembatas dan tertutup oleh kaca berlubang. Kotak ini berisi macam-macam tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah di Indonesia. Penutup dengan kaca berlubang ditujukan bagi pengunjung yang ingin menghirup aroma asli tembakau dan cengkeh tersebut. Diruangan ini kita disuguhkan proses pengolahan tembakau hingga menjadi kretek.
Ruang berikutnya adalah Galeri Foto. Namanya saja galeri foto, sudah pasti dalam ruangan ini berisi deretan foto-foto. Disinilah tampak perjalanan Bentoel dari mulai berdirinya hingga saat ini. Termasuk didalamnya foto iklan-iklan bentoel jaman dulu hingga sekarang.
Galeri produk, merupakan ruang berikutnya yang menjadi  sasaran kami. Kesan klasik dan modern tampak jelas dalam ruangan ini. Terpajang rapi di salah satu sisi tembok ruangan, berbagai macam merk rokok yang pernah diproduksi. Disisi lain, berjajar tiga buah LED TV, media elektronik ini memutar gambar-gambar bergerak tak bersuara. Tapi jangan khawatir, kita bisa mendengarkannya dengan bantuan headset yang sudah disediakan.
Sedangkan diseberang galeri foto ada sebuah ruangan yang diberi nama Galeri Bentoel Group. Di galeri ini, kita dapat mengetahui perkembangan PT Bentoel. Yang mulai berdiri tahun 1930 dengan nama Ttrootjes Fabriek Ong Hok Liong”, berganti menjadi “Rokok Tjap Bentoel” (1935), berubah lagi menjadi “PT Perusahaan Tjap bentoel” (1954), tahun 2000  menjadi “PT  Bentoel Internasional Investama,Tbk”,  akhirnya tahun 2010  merger dengan PT BAT Indonesia Tbk dan menjadi Bentoel Group.
Dan yang paling terakhir nih, menuju ke pintu belakang penghujung ruangan. Dua daun pintu terbuka, kami bertiga melangkah. Ternyata ada sebuah taman kecil yang terlihat teduh, pohon sawo yang rindang dan mulai tampak berbuah ditiap ujung dahannya, pohon cemara besar, palm, serta beberapa jenis tanamban perdu berpadu dengan hijaunya rumput membuat asri taman ini.
Begitulah akhir pekan kami, selanjutnya kita pergi kemana?

Kemanapun kita pergi disitulah kita belajar, karena hidup adalah perjalanan proses belajar
#R
Jangan mengeluh, nanti Tuhan marah!
#perihujan


Senin, 22 September 2014

Pilihan.

Kemarin sore saya ditelpon Ibu, rutinitas yang kerap dilakukan Ibu semenjak saya meninggalkan kota Pasuruan. Sedikit banyak Ibu merasa khawatir dengan saya, meski kota yang saya tempati sekarang bukanlah tempat yang asing bagi saya. Bahkan, telah menjadi rumah kedua bagi saya. 
Bercerita tentang hal yang saya lewati seharian adalah menjadi hal yang biasa sejak saya tak lagi di Pasuruan, Ibu juga kerap menanyakan bagaimana dengan perasaan saya karena tinggal dan menetap di kota yang sama dengan orang yang pernah mengisi hari-hari saya. mungkin Ibu khawatir jika nantinya saya berniat kembali bersama ia yang kehadirannya tak pernah mendapat restu. Hahahaha.
Ibu hanya khawatir, dan saya mengerti itu. Ini kedua kalinya saya resign dan saya merasa ini adalah proses yang paling dramatis. Mengapa demikian? Iya, karena dengan saya resign dari kantor saya pun harus meninggalkan kota Pasuruan yang telah enam tahun menemani saya.
Saat saya memutuskan untuk tinggal di kota ini (lagi) setelah enam tahun yang lalu dengan semangat saya meninggalkannya saya memilih untuk kembali. Bukan untuk meratapi apa yang pernah saya lepas, atau berusaha memperbaiki apa yang pernah saya putuskan untuk mengakhirinya. Ini adalah pilihan saya, suka dan tidak suka saya ingin kembali ke kota ini. Kota yang kini pun ia tinggali.
Saya cukup mendapat dukungan dari Ibu dan juga kakak-kakak saya. Bagaimana pun juga, ketika saya menangis merekalah yang akan berlari ke arah saya dan menghapus air mata saya. Mereka tahu tanpa perlu saya mengadu, mereka paham meski saya tak mengeluh.