Rabu, 03 Februari 2016

Berjuang Bersama Pleural Effusion



Rasanya baru kemarin saya menangis di sudut Ruang Poli Paru, mendengar Dokter memvonis saya dengan Pleural Effusion. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan paru-paru saya, yang saya ingat saat Dokter menjelaskan tentang penyakit saya ada tumpukan beban yang menghantam jantung saya. Takut, bingung dan merasa putus asa. Maka belum selesai Dokter menjelaskan penyakit saya, para suster di ruang tersebut sibuk menenagkan tangis saya dan kakak yang menunggu di luar ruang bingung melihat saya menangis segugukan.

Hari itu di awal Oktober, saya harus opname untuk mendapat perawatan intensif. Perjuangan pun di mulai. Saya sebenarnya senang akhirnya penyakit yang saya derita menemukan namanya, setelah hampir tiga bulan saya tidak tahu mengapa berat badan saya susut hingga 8 kilo, mengapa saya tidak mampu menelan satu makanan pun, mengapa batuk saya tidak kunjung sembuh meski sudah berobat, mengapa kepala saya selalu sakit, mengapa saya tidak dapat berjalan terlalu jauh, mengapa saya selalu sesak nafas, mengapa saya selalu muntah, dan mengapa lainnya.

Sehari setelah saya di rawat, dan cairan dalam paru-paru diambil kondisi badan saya membaik. Sesak nafas pun sudah tidak saya rasakan lagi. Dan yang membuat saya bahagia, batuk yang hampir tiga bulan menemani saya hilang tidak bersisa *sungkem dengan Oom Rustam*

Saya pikir setelah semua proses perawatan berakhir, saya sudah terbebas. Ternyata salah, saya masih harus menjalani pengobatan sampai 6 bulan ke depan. Masih ingat bulan pertama masa pemulihan, saya tidak memiliki selera makan sedikit pun. Sementara berat badan makin susut. Tidak mau makan tetapi harus minum obat dan itu artinya saya terpaksa harus makan. Iya, makan adalah kewajiban saat itu. Saat tidak memiliki selera makan tapi dipaksa makan, betapa menyebalkan hal itu. Oh, mengingatnya saja rasanya saya ingin menangis. Dengan minum obat 7 kali sehari bisa kalian bayangkan betapa tersiksanya saya. Iya minum obat 7 kali dengan jam minum yang tidak boleh bergeser sedikit saja.

Bangun tidur dengan mulut yang masih enggan mengunyah saya harus minum obat. Setiap selesai minum membuat perut saya bergejolak dan jika tidak ditahan akan membuat saya muntah. Sebulan penuh perjuangan, kaki saya sulit digerakkan setiap berjalan seperti ada jarum yang menempel di telapak kaki saya. Sakit. Setelah saya konsultasikan kepada Dokter, beliau mengatakan bahwa hal tersebut merupakan efek dari obat yang saya minum.

Setelah dua bulan masa pengobatan, resep pun diganti. Ada dua obat yang tidak lagi saya minum, efeknya sakit pada kaki saya berkurang dan sekarang tidak terasa sakit lagi. Sekarang setelah dua bulan sejak ganti resep ada satu obat yang ternyata memberi efek rontok pada rambut. Jika kemarin rambut saya rontok karena stres dan sempat hilang setelah perawatan di RH, sekarang rontok pada rambut saya semakin parah  tanpa di sisir pun rambut sudah rontok. Sekarang jangan ditanya setipis apa rambut saya, dan paling menyedihkan banyak uban tumbuh selama masa pengobatan kali ini.

Saya sempat berpikir mungkin saya terlalu parno dengan efek pengobatan karena berkali-kali Dokter mengatakan tidak ada efek yang mengkhawatirkan dari proses pengobatan ini. Saya tidak langsung percaya, mungkin Dokter hanya ingin menenangkan saya. Nyatanya setelah saya googling, pengobatan paru-paru bisa memiliki efek yang berbeda pada setiap penderitanya. Dan efek yang saya alami umum dialami penderita seperti saya *senderan di pundak Oom Rustam*

Sekarang setelah empat bulan masa pengobatan dada saya sudah tidak sesakit dulu, nafas saya juga mulai teratur, dan yang membuat bahagia akhirnya saya dapat berjalan agak jauh tanpa merasa lelah. Sehat ternyata menyenangkan :D

Saat ini di tas saya selalu ada kotak berisi obat beserta catatan kecil jam berapa saya meminum obat-obat tersebut. Sekarang setiap pagi olahraga, senam pernapasan dan mulai aerobik, meski sekedar lompat-lompat hore. Dan sekarang saya menghindari segala cemilan yang mengandung micin, meski akhir-akhir ini sedikit bandel mulai jajan bakso lagi XD

Jika mengingat kembali kejadian tujuh bulan lalu (total saat saya mulai merasa sakit) rasanya tidak percaya bahwa saya dapat berjalan sejauh ini. Masiih diberi kesempatan untuk bahagia, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Masih ingat kata-kata dari seorang teman saat saya mengeluh kan penyakit saya dulu;

“Sakit itu peluruh dosa. Bersyukur masih diberi sakit.”

Dan entah mengapa saya merasa sangat beruntung. Selamat malam, dan alarm di handphone saya berbunyi. Waktunya minum obat :D

Jumat, 25 Desember 2015

Semua Memiliki Kesempatan untuk Kembali

Tahun 2015 hampir pada penghujungnya. Apa yang sudah saya capai? adalah pertanyaan yang kerap mampir dalam pikiran saya. Tahun ini banyak hal yang terjadi, selain sakit yang membuat aktifitas saya menjadi terbatasi adalah kedekatan saya bersama beberapa orang yang ingin saya abaikan kehadirannya di tahun lalu. Dan kembalinya, dia (baca mantan) menjadi teman bercerita, nonton atau membicarakan hal yang tidak penting lagi.

Kami mulai sering bertemu anggap saja seperti itu, jika satu bulan sekali kami masih menyempatkan untuk nonton itu dianggap sering. Mungkin hal itu bisa dibilang sering, untuk dua orang yang telah memutuskan berpisah. Atau hal itu biasa saja? Awalnya saya tidak percaya bisa kembali haha..hihihi, lagi dengannya. Mengingat sejak memutuskan berpisah dengannya dan saya memutuskan tinggal di kota Malang, saya tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Meski saya masih menyimpan semua kontaknya, saya masih terhubung di semua akun media sosialnya. Waktu itu saya hanya ingin satu kebetulan yang mempertemukan kami lagi. Tapi Tuhan, tidak pernah mengaminkan. Maka, bukanlah satu kebetulan saat saya dan dia bertemu. Kami memutuskan untuk bertemu. Canggung. Kami banyak diam pada pertemuan pertama kami, sibuk menikmati film yang diputar mungkin menjadi alasan yang tepat mengapa kami saling diam. Tanpa ada obrolan, basa-basi selesai pemutaran film. Kami memilih jalan sendiri-sendiri. Pulang, dengan tetap membawa pertanyaan yang sama. Bahagia kah dia? setelah perpisahan itu?

Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk bertemu kembali, kali ini dengan alasan yang sama. Kami tidak memiliki teman untuk nonton Avangers. Tuhan memiliki rencana, kami kehabisan tiket. Rencana Tuhan itulah yang menggiring kami untuk duduk di salah satu kursi waralaba milik Paman Sam, yang berada satu gedung dengan bioskop tempat kami ingin nonton.

Di tempat ini akhirnya saya bercerita setelah perpisahan itu, apa saja yang saya lakukan untuk 'membunuh ingatan', dan usaha saya untuk merasa baik-baik saja dan tentu saja tentang alasan saya kembali ke kota yang dulu sempat menjadi impian kami untuk tinggal bersama.

Dia pun bercerita, tentang usahanya untuk berdamai dengan banyak hal, berusaha untuk tidak membenci saya, dan tentu bagian yang saya sukai adalah mengetahui dia baik-baik saja ketika kami tidak lagi bersama. Saya bahagia saat dia bercerita tentang usahanya untuk dekat dengan beberapa wanita, yang ceritanya sempat saya baca di salah satu media sosialnya. Saya bahagia, mendengarnya baik-baik saja dari mulutnya sendiri bukan dari sosial medianya, atau dari orang lain. Dan itu cukup bagi saya. Meski akhirnya saya tahu, dia membenci dan kecewa terhadap saya. Iya, saya memang menyebalkan.

Ada kelegaan saat melepasnya kali ini. Tidak ada beban. Kami berpisah dengan senyum. Setelah pertemuan itu, saya tidak sungkan lagi bertanya kabar padanya. Berkomentar sedikit jahil, dan tidak ragu bersorak menyemangatinya dengan usaha barunya. Setiap ada film baru, kami kembali menjadi partner yang baik untuk nonton.

Kami kembali dengan hubungan yang baru. Bukan berharap hubungan ini berkembang menjadi seperti yang telah lalu. Tidak, bukankah semua memiliki kesempatan untuk kembali? dengan status yang berbeda tentunya.

Terima kasih kamu, telah memanggil saya teman dengan segala cerita kita di masa lalu.

Malang, 25 Desember 2015.

Selasa, 01 Desember 2015

Desember Awal yang Memulai



Dulu menulis di tempat ini adalah kegemaran. Setiap hari, bingung menyiapkan tulisan untuk diposting di rumah ini. Sampai akhirnya aku lupa kesenangan menulis di rumah ini. Awalnya masih sesekali menengok tempat ini, hingga akhirnya tidak sama sekali. Awalnya berdalih sibuk, aku tidak menulis di rumah ini. Aku pikir, toh siapa juga yang mau membaca tulisanku yang kadang tidak bisa membedakan di awalan atau di sebagai kata depan. Hehehe.
Sampai satu pesan di Tumblr beberapa hari lalu muncul. Dia bertanya tentang kelanjutan cerita 'Lie' dan "Ailya dan Melia"  ternyata dia menunggu kelanjutan cerita, yang aku buat beberapa tahun lalu itu. Dan akhirnya menyadarkanku, hey...ternyata ada juga yang baca blog aku ini. *mulai sombongnya*.
Seperti yang pernah ditulis @unidzalika beberapa waktu lalu, iya aku akan menulis, meski tidak ada yang membacanya.

By the way, selamat datang Desember ~

Selasa, 17 November 2015

Kepada Rindu Yang Tidak Bisa Diam

Kepada kamu

Selalu ada waktu untuk mengenangmu tanpa ada gangguan.
Tanpa nyinyir, mengapa masih ada rindu meski lama kita berpisah.
Tanpa ada tapi, dan mengapa.
Sesederhana aku merindukanmu.
Iya, aku merindukan kamu yang selalu membuat aku menunggu.
Membuat aku gemar menghitung hari, meski seringkali aku kecewa.
Rinduku tak berakhir sua.
Iya, aku merindukanmu yang seringkali membuatku menangis.
Yang diakhir kita bertemu, aku mengutukmu sebagai lelaki tak berperasaan.
Membiarkan aku pergi, tanpa memintaku untuk bertahan.
Aku merindukanmu.
Merindukanmu
Merindukan kita.

Malang, 17 November 2015.

Senin, 16 November 2015

Semua Orang Akan Berubah

Kamu berubah.
Masak sih?
Iya...
Itu adalah penggalan obrolan saya dengan seorang teman lama, jika memang bisa dibilang seperti itu. Kami sudah mengenal sejak lama, saya sempat menyimpan rasa padanya. Karena sadar diri, waktu itu saya memilih mundur.

Dulu dia mengenal saya sebagai seorang yang pendiam, kutu buku, jauh dari kata gaul, dan tomboy. Mungkin sederet alasan itu yang membuatnya sulit untuk mengetahui dan membaca perasaan saya. Dan entah sekarang saya bersyukur dia tidak pernah menyadari itu. Akhirnya, saya hanya menjadi teman baiknya, teman diskusinya, tentang cinta dan citanya.

Saya? Tetap sebagai si cewek kurang gaul, karena yang ia tahu teman saya ya itu-itu saja. Sama sekali tidak populer. Jauh dari kriteria cewek yang pantas untuk diajak  sebagai pendamping wisuda. Hehehe, bukankah pencapaian pacaran jaman kuliah sampai itu saja? *kemudian dirajam*

Sampai kemarin kita reuni kecil-kecilan, saat dia dinas ke kota ini. Dia melihat saya yang sekarang, dia berkata saya berubah. Meski saya sama sekali tidak pernah tahu apa yang berubah dari saya. Saya masih suka tertawa ngakak di depannya, makan banyak tanpa malu, tetap memanggilnya dengan sebutan 'Dudul' seperti dulu, masih terlihat jauh dari kata gaul menurut seleranya. Tetapi tetap mengatakan bahwa saya berubah.
Foto: copyright thinkstockphotos.com

Mungkin benar saya berubah, tak lagi menganggapnya istimewa. Saya tak merasa berdebar-debar saat melihat dia tersenyum, pun tak begitu terpesona dengan kacamata frameless nya. Perasaan saya padanya berubah.

Ternyata benar jarak dan waktu dapat merubah seseorang, pun dengan hati.

Malang, 16 November 2015.

Minggu, 18 Oktober 2015

Ke Mana Saja?

Ke mana saja? adalah pertanyaan yang sering kali diutarakan teman-teman saya. Ada yang sekedar iseng, atau memang penasaran ke mana saja saya dua bulan terakhir ini. Jadi pembaca blog ini ada yang penasaran ke mana saja saya, beberapa bulan ini? baiklah, meski tidak ada yang bertanya, saya akan tetap bercerita *milin kumis*.

Setelah sibuk dengan pekerjaan baru saya, yang meski freelance lumayan menyita sedikit waktu senggang saya maka blog ini terbengkalai. Tidak ada satu pun postingan yang mampir di blog ini. Meski saya lebih produktif menulis dibanding hari-hari lalu.

Dan dua bulan terakhir, ada hal serius yang membuat saya benar-benar total menghindari blog ini. Saya sakit. Akhir agustus adalah awal mula saya drop, demam menjadi langganan saya. Dan nyeri di dada membuat aktifitas saya benar-benar dibatasi. Bagaimana tidak, capek sedikit demam dan sakit di kepala saya benar-benar tidak bisa dihindari. Maka selama Agustus-September, kencan dengan dokter adalah rutinitas harian saya. Akhirnya saya membatasi kegiatan saya. Ngemall, makan di luar, ngafe, dan tentu saja aktifitas cuap-cuap bersama teman pun berkurang. Bagaimana bisa ngemall, kalau setiap pulang kantor yang dicari bantal dan kasur, capek sedikit demam, terlalu lama terkena angin pusing. Entah penyakit apa yang sedang berkunjung ke tubuh saya.

Dokter menyarankan saya untuk total bed rest, menghindari makanan yang terlalu asin, terlalu berasa, menghindari cemilan yang mengandung vetsin. Dan akhirnya membuat saya harus berpisah dengan mekdi, ke ep ci, ciki, dan teman-temannya dalam waktu yang lumayan lama. Setiap kali pusing, minum obat antidepresan pun menjadi rutinitas.

Masih ingat awal-awal sakit sempat divonis kram otak, depresi ringan, sakit lambung, dan teman-temannya. Bahkan salah satu teman saya menyarankan saya untuk berkunjung ke 'orang pintar' alasannya? karena saya tak juga kunjung sembuh, meski sudah berobat ke mana saja. Saya cuma nyengir, sakit saya memang aneh tapi tidak ada hubungannya dengan hal mistis.

Maka saat pusing seminggu yang lalu saya akhirnya memutuskan untuk pulang. Menuruti nasihat Ibu dan Mbak Tyas saya akhirnya mau periksa ke dokter spesialis paru. Mengingat batuk saya tidak kunjung sembuh. Dokter yang saya pilih hanya praktik di Rumah Sakit Umum, dan untuk pertama kalinya saya berkunjung ke RSUD (kengeriannya akan saya buat postingan tersendiri). Dokter pun memvonis ada cairan di paru-paru saya, trenteng yang membuat saya harus tidur di rumah sakit selama tiga hari, yang membuat punggung saya merasakan jarum G-14, membuat paru-paru saya berkali-kali dirongen, dan membuat saya kembali tersentak bahwa sehat adalah anugerah dan nikmat yang luar biasa dari Allah.

Banyak hal yang saya alami selama drop kemarin, dan proses penyembuhan yang membutuhkan waktu enam bulan akan membuat saya (mungkin) lebih bersabar. Ah, banyak cara Allah menegur saya yang mungkin terlewat sombong.

Allah sedang kangen saya, kangen dengan keluhan saya, kangen dengan isak adu saya.

Jombang, 18 Oktober 2015.

Sabtu, 27 Juni 2015

My Other Job.


Ceritanya saya menerima tawaran untuk menjadi content writer freelance, di sebuah media online. Ada bebarapa konten yang harus saya handle. Meski freelance, hecticnya enggak ngalahin pekerjaan utama saya. Iya, yang biasanya saya berkubang dengan debit dan kredit kali ini saya berhubungan dengan dunia menulis. Dunia yang telah lama saya idamkan, yang biasanya saya sambangi sekali dua kali dalam seminggu saja. Itu pun tidak rutin.
Semua berawal dari CV saya yang mampir di meja redaksi akhir Agustus tahun lalu, dan saya sempat dipanggil untuk tes di awal September. Karena tidak ada kabar, saya akhirnya mengiyakan tawaran di kantor saya saat ini. Ternyata, sang editor yang sempat mewancarai saya setuju meng hire saya. Bulan Oktober, saat saya hectic dengan kerjaa di kantor saya sekarang, editor tersebut menelpon saya mengatakan saya diterima bekerja di media online tersebut. Antara senang dan bingung jadi satu, senang ternyata saya diterima bingung karena saat itu saya sudah bekerja di perusahaan ini. Akhirnya saya mengundurkan diri dari tawaran tersebut, saya merelakan pekerjaan yang menjadi impian saya. bekerja di media.
Saat saya mengabari pimpinan redaksi tersebut, saya sempat mengatakan jika ada kesempatan untuk bekerja di tempat tersebut sebagai freelance maka saya akan menerimanya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu. Sedih dan kecewa jadi satu, tapi saya harus memilih. Serba nanggung juga saat itu saya baru sebulan bekerja di kantor yang baru.
Tapi saya yakin dengan pilihan saya.
Bulan berganti, dan tahun berganti. Awal bulan Juni kemarin saya di hubungi oleh editor itu lagi, saya mendapat tawaran lagi di tempat tersebut dan tentu saja kali ini saya boleh freelance. Dream come true, rasanya bahagia sekali. Bisa bekerja di tempat yang saya impikan, meski paruh waktu saya bahagia. Saya menikmatinya.
Malam ini tepat dua minggu saya menjalani dua pekerjaan ini, pekerjaan yang berbeda satu sama lainnya. Ketika pulang kos saya akan segera berberes, dan mencharger laptop. Ada hal lain yang harus saya kerjakan. Menulis.
Iya, saya menjadi content writer freelance di salah satu media online.
Maka, ketika impianmu terwujud percayalah ada doa terbaik ibumu yang diaminkan Tuhan.

Selamat malam :D