Sabtu, 27 Juni 2015

My Other Job.


Ceritanya saya menerima tawaran untuk menjadi content writer freelance, di sebuah media online. Ada bebarapa konten yang harus saya handle. Meski freelance, hecticnya enggak ngalahin pekerjaan utama saya. Iya, yang biasanya saya berkubang dengan debit dan kredit kali ini saya berhubungan dengan dunia menulis. Dunia yang telah lama saya idamkan, yang biasanya saya sambangi sekali dua kali dalam seminggu saja. Itu pun tidak rutin.
Semua berawal dari CV saya yang mampir di meja redaksi akhir Agustus tahun lalu, dan saya sempat dipanggil untuk tes di awal September. Karena tidak ada kabar, saya akhirnya mengiyakan tawaran di kantor saya saat ini. Ternyata, sang editor yang sempat mewancarai saya setuju meng hire saya. Bulan Oktober, saat saya hectic dengan kerjaa di kantor saya sekarang, editor tersebut menelpon saya mengatakan saya diterima bekerja di media online tersebut. Antara senang dan bingung jadi satu, senang ternyata saya diterima bingung karena saat itu saya sudah bekerja di perusahaan ini. Akhirnya saya mengundurkan diri dari tawaran tersebut, saya merelakan pekerjaan yang menjadi impian saya. bekerja di media.
Saat saya mengabari pimpinan redaksi tersebut, saya sempat mengatakan jika ada kesempatan untuk bekerja di tempat tersebut sebagai freelance maka saya akan menerimanya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu. Sedih dan kecewa jadi satu, tapi saya harus memilih. Serba nanggung juga saat itu saya baru sebulan bekerja di kantor yang baru.
Tapi saya yakin dengan pilihan saya.
Bulan berganti, dan tahun berganti. Awal bulan Juni kemarin saya di hubungi oleh editor itu lagi, saya mendapat tawaran lagi di tempat tersebut dan tentu saja kali ini saya boleh freelance. Dream come true, rasanya bahagia sekali. Bisa bekerja di tempat yang saya impikan, meski paruh waktu saya bahagia. Saya menikmatinya.
Malam ini tepat dua minggu saya menjalani dua pekerjaan ini, pekerjaan yang berbeda satu sama lainnya. Ketika pulang kos saya akan segera berberes, dan mencharger laptop. Ada hal lain yang harus saya kerjakan. Menulis.
Iya, saya menjadi content writer freelance di salah satu media online.
Maka, ketika impianmu terwujud percayalah ada doa terbaik ibumu yang diaminkan Tuhan.

Selamat malam :D

Sabtu, 06 Juni 2015

Kafe Pustaka, sembari ngopi membangun literasi.

Saya mendengar kafe ini ketika dapat undangan dari Mas Denny teman dari komunitas Pelangi Sastra, Malang untuk datang ke acara bedah buku Kata Kota Kita. Karena rasa penasaran dengan wujud Kafe Pustaka ini maka saya mengiyakan tawaran Mas Denny untuk datang ke acara, sekaligus mewakili Klub Buku Malang.
 Kafe Pustaka, berada di dalam areal kampus Universitas Negeri Malang. Tempatnya persis disebelah Gedung Perpustakaan Pusat UM. Gedung yang dipakai Kafe Pustaka merupakan gedung bekas pojok BNI yang barada persis di depan FE UM.
Jam buka kafe Pustaka ini mengikuti jam pelayanan perpustakaan pusat. Sempat sedih, karena sudah membayangkan tiap minggu bisa mojok di kafe ini harus saya tangguhkan. Lalu apa istimewanya Kafe Pustaka ini? selain menunya harga mahasiswa banget mulai 3rb – 10rb saja. Kafe Pustaka ini merupakan tempat nongkrong seru seniman muda kota malang.
Di Kafe Pustaka, selain mendapat sajian minuman dan cemilan dengan harga merakyat teman-teman juga dapat menikmati fasilitas free wi fi yang (lumayan) kenceng. Di Kafe Pustaka pengunjung juga dapat membaca beberapa koleksi buku sastra yang disediakan khusus bagi pengunjung Kafe Pustaka.
Yang saya sesali hanya satu, mengapa Kafe Pustaka ada ketika saya sudah tidak kuliah lagi di UM. Hfft, benar kata orang ketika kita tak lagi jadi bagian dari seseuatu mereka akan terlihat berkembang begitu pesat *nangis*

Tapi bangga sih, setidaknya Kafe Pustaka berada di lingkungan almamater tercinta saya *muach*


Kamis, 04 Juni 2015

Mengunjungi Alice, di Alice Tea Room.

Jadi beberapa minggu lalu, saya dan Wigi berkunjung ke kafe yang baru buka tanggal 9 juni 2014 lalu. Dari rasa ingin tahu, ketika salah satu teman mejeng foto kece yang katanya merupakan salah satu sudut dari kafe yang bertema Alice in Wonderland.

So cutie

Dan benar sekali, kafe yang berada di jalan Rinjani, no. 5 Malang ini benar-benar eye catching dan photoable. Sejak masuk ke Alice Tea Room, saya benar-benar diajak ke dunia Alice. Kursi-kursi yang ditata dengan warna candy, membuat kesan kafe ini girly dan manis. Ada nakas yang bertema Paris, dan satu photo both, yang bisa digunakan sebagai tempat narsis di halamannya.
Jika kalian hobi, foto-foto tempat ini saya rekomendasikan :D


Cheers and take a selfie.

Selain di halaman kita juga dapat memilih duduk di dalam ruangan, nuansanya masih tetap sama cutie dan dekorasinya tidak kalah girly dengan yang ada di halaman. Soal pilihan menu, jangan khawatir Alice Tea Room banyak memiliki menu. Karena konsepnya Tea Room maka jangan kaget kalau menu minumannya adalah variasi teh meski juga ada beberapa variasi shake, coffee, dan mocktail. Untuk makanannya ada beberapa variasi cake in jar, cup cake, spaghetti dan muffin. Saya sempat ditawari red valvet, cake yang tidak setiap hari ada di menu kafe ini. Katanya saya beruntung karena datang di minggu pagi itu, karena saya orangnya gampang kepingin maka saya mengiyakan saat pramusajinya menawarkan menu itu kepada saya. Karena masih terlalu pagi (pukul sembilan saya datang) maka saya hanya memesan minuman dan snack. Waktu itu saya memilih, mangastine skin tea dan pancake maple.

Pancake Maple

Saya suka dengan pelayanan di Alice Tea Room ini, mereka ramah meski saya dan teman saya sempat ditegur gegara mengambil gambar dengan kamera digital. Iya, kalian boleh foto, asal tidak dengan kamera digital yang boleh hanya dengan kamera handphone.

Sudut favorite buat selfie.

Untuk range harga makanan dan minumannya mulai dari 8.000,- sampai 25.000,- . Kafe ini buka setiap hari pukul 08.00 – 22.00 wib. Secara keseluruhan saya menyukai konsep kafe ini, susananya juga tenang meski berada di dekat jalan utama. Jadi, siapa yang mau mengajak saya ngobrol di alice Tea Room sambil ngobrolin masa depan? :D

Alice Tea Room
Alamat            : Jl. Rinjani 5, Malang.
Phone              : 0341-589000
Booking text   : 081555805252
Twitter            : @alicetearoom

Ig                     : alicetearoom_mlg

Aku yang sedang berpura-pura untuk melupakanmu.

Selamat malam kamu, yang mungkin sedang memeluk wanitamu.
Yang mungkin sedang menyesap cokelat hangat kegemaranmu.
Kamu yang pernah kucintai dengan terlalu,
Kamu yang pernah kutangisi saat memutuskan untuk membenciku,
Kamu yang tak pernah sanggup termiliki.
Malam ini aku sedang mengingatmu,
Lewat hujan yang turun di bulan juni ini.
Tuhan tak pernah menulis ‘jodoh’ pada takdir kita;
Meski kita pernah bersinggungan,
Meski aku pernah begitu menginginkanmu.
Meski aku selalu menyebutmu dalam doa-doaku.


Selamat bertambah usia, kasih tak tersampaikanku.
Aku merindukanmu.


Malang, 4 Juni 2015. 

Selasa, 28 April 2015

Dear Me #Tantanganmenulis no. 3

Ditulis untuk #TantanganMenulis no.3 Tuliskan sesuatu untuk dirimu 2 tahun mendatang.
Dear Me,
Ini kamu di tahun 2015, dua tahun yang lalu. Hari-hari saat kamu sedang berusaha untuk menata kepingan hatimu yang patah. Mengumpulkan keberanian untuk jatuh cinta lagi. Menepikan ego untuk memulai pertemanan lagi dengan ia yang setahun lalu sempat membuat hatimu patah.
Bagaimana 2017 mu?
Semoga benar kamu sudah jatuh cinta lagi. Berani untuk memulai, bukan untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang melemahkanmu. Bukan juga karena untuk mengusir perasaan sepimu. Hai, aku di tahun 2017 semoga kamu jatuh cinta karena memang kamu telah siap.
Salam Hangat,


Kamu, di tahun 2015.

Selasa, 31 Maret 2015

Untuk kamu wanita bermata biru, #TantanganMenulis no.7

Ditulis untuk #TantanganMenulis no 7. Tuliskan sesuatu untuk orang yang tidak kamu suka/mungkin tidak menyukaimu.

Hai, kurasa tak perlu perkenalan. Kamu mungkin lebih mengenalku daripada diriku sendiri, okay ini lucu tapi kamu tentunya memiliki sederet alasan mengapa harus membenciku. Iya kamu, yang begitu membenciku.
Sebenarnya tidak ada yang perlu aku jelaskan, tapi kurasa kamu harus tahu beberapa hal. Ya, bisa saja aku menghubungimu dan membicarakan hal ini secara langsung. Tetapi, aku sudah terlalu capek untuk sekedar basa-basi denganmu.
Aku sengaja menulis ini, karena aku tahu kamu pasti membacanya. Bukankah kamu gemar mencari tahu tentang apa yang terjadi padaku di semua akun social mediaku? :D tak perlu kaget, soal beginian aku sudah terlampau paham. Apalagi yang melakukan ini adalah kamu. Yang sejak awal begitu membenciku.
Aku menghargai pendapat kamu bahwa sahabatan beda jenis itu bullshit. Ya, meski aku mau ngomong sampai berbusa kalau kamu dasarnya enggak percaya ya percuma kan? Tapi tak ada masalah kan kalau aku sekali lagi mengatakan sama kamu, bahwa aku memiliki garis yang jelas antara teman dan cinta. Antara demen dan teman. Jadi kalau kamu berpikir aku naksir pacar kamu, maaf kamu salah besar.
Aku menghargai cemburu kamu, ketakutan kamu. Maka dari itu aku memutuskan buat menepi. Aku stop enggak komunikasi sama pacar kamu lagi, yang sebanarnya bagiku lumayan berat. Dia teman terbaikku, tapi karena aku peduli aku rela kok enggak berteman lagi sama dia. Ah, semoga hal ini cukup membuatmu bahagia.
Aku melakukan ini bukan karena aku mau mengamini tuduhan kamu. Aku Cuma terlalu sayang sama diriku, kalau kelamaan nanggepin drama kamu akunya jadi kurus :D karena untuk kembali haha..hihi..itu enggak semudah yang kamu kira.
Satu lagi pacar kamu bukanlah sumber kebahagiaanku meski kita berteman baik. Jadi, ketika dia enggak ada aku masih mampu berdiri tegar tolong garis bawahi hal itu :D


Salam;

Ayu yang super ngeselin.

NB : Thanks Mput untuk chit-chat malamnya :D




Tim Ransel.

Aku suka jalan-jalan. Bukan yang ngemall, bukan yang harus ke tempat wisata yang seperti Jatim Park dan sejenisnya. Aku suka jalan-jalan, mencoba hal baru, mencari sisi lain dari kota yang aku kunjungi. Jalan-jalan kemiskinan biasa aku menyebutnya.
Aku suka jalan-jalan. Mengunjungi museum, mengunjungi tempat yang jarang terekam media. Dan aku menemukan teman itu, adalah Aku, Wigi, Bunga, Aisyah, Mia, Yunus, Iim, Dimas, Eko dan terakhir Yanti. Kami menjuluki diri sebagai ‘Tim Ransel’ banyak hal yang terekam oleh kami, mulai berkunjung ke Tanjung Papuma dengan naik kereta, yang menurut sebagian orang tidak mungkin dilakukan dengan naik kerata tapi kami dapat mewujudkannya. Mencoba mengeksplore pantai di wilayah selatan kabupaten malang. Terakhir kami mengunjungi Surabaya. Tak selalu dengan personil lengkap sih, kadang ada juga yang absen tidak bisa ikut. Tapi tak jadi halangan kami untuk tetap jalan-jalan.
Aku dan Wigi yang sering berduet, nah kalau kami yang jalan bareng jangan ditanya tujuan kami. Tempat-tempat yang out of the box buat jalan dan menghabiskan hari minggu adalah incaran kami. Hampir semua Museum di Malang kami kunjungi, dari Museum berbayar sampai yang free. Dari sekedar jalan dan nyari spot kece buat foto pernah kita lakoni. Jalan-jalan ke Blitar dan hampir nyasar pun pernah. Mengunjungi dua candi dalam satu hari pun pernah. Karena bahagia tak harus mewah, itu saja.
Aku bahagia bisa bertemu mereka, membuat cerita tentang Tim Ransel. Tak jarang di sela kami menikmati perjalanan terselip cita-cita, impian gila kami. Bukankah sukses berawal dari mimpi gila.
Saat aku menulis ini, group Whatsapp Ransel sedang heboh dengan rencana ke Banyu Anjlok. Ah, suatu saat ransel kita tak hanya sampai si sekitaran Malang, Pulau Jawa atau Indonesia. Tapi sampai keliling dunia.
Kalian percaya kan? Jadi akan kemana kita?


Malang, 31 Maret 2015.