Minggu, 29 Juni 2014

Jatuh cinta itu (?)

Waktu menulis postingan ini saya baru saja melepas kepergian seorang teman untuk bertemu pacarnya (MELEPAS). Yeah, si teman seorang cewek paruh baya yang sempat menjadi barisan terdepan untuk menolak saya lanjut dengan pacar yang berakhir mantan (stop curhatnya).
Iya, setiap minggu sang teman bertemu pacarnya, setelah sekian minggu saya akhirnya bertanya. "Loh, gak dijemput lagi?" 
Si teman hanya menggeleng, "Kalau menuruti rewel minta di jemput gak bakalan ketemu. Iya kalau pacaran jaman dulu, nunggu di jemput."
Saya hanya manggut, mungkin si teman membatin, nih bocah riwil banget sih. Sudah jomblo jangan banyak protes sama orang yang mau pergi pacaran. Okay, fine *nenggak kolak*
Mungkin topik, orang pacaran, jatuh cinta, lagi sayang-sayangan, lagi prepare mau menikah adalah topik sensitif buat saya akhir-akhir ini. Iya, patah hati membuat saya sedikit rapuh jika bersinggungan dengan hal ini. 
Balik ke topik...
Saya jadi ingat kejadian awal saya pacaran dengan mantan, saat tahu saya jadian dengannya sang teman menolak mentah-mentah. Alasannya? karena sang mantan tidak pernah menjemput atau berkunjung di Pasuruan. Sekedar mengatakan hai kepada saya, dan sang teman tidak ikhlas jika ia (mantan) mendapat tempat yang istimewa.
Sampai akhirnya kami memutuskan berpisah pun, ia tak pernah mengunjungi kota tempat saya berada. Kota sehari-hari saya berkutat dengan pekerjaan. Saya tiap weeknd yang memilih untuk berkunjung ke kotanya. 
Mungkin teman saya tak pernah tahu, alasan saya menempuh jarak untuk bertemu dengan pacar adalah sama dengannya. Cinta.
Mungkin teman saya juga tak pernah mau tahu, bahwa apa yang ia lakukan sekarang pun karena cinta. Ah, biar saja ia tak tahu. Biarkan ia tetap dengan penilainnya, bahwa apa yang saya perjuangkan adalah hal bodoh.
Saya dan teman mungkin dibilang sama, tapi saya mungkin akan berbeda. Saya tak akan pernah menganggap bodoh jika ada seorang wanita mengunjungi pria yang dicintainya.

Selamat malam, selamat jatuh cinta teman.


Pasuruan, 29 Juni 2014.

Senin, 23 Juni 2014

Break Up.

Fase paling nelangsa dari jatuh cinta adalah patah hati. Putus saat masih cinta-cintanya, berhenti untuk tak peduli disaat sayang-sayangnya. Membiasakan diri untuk tak bertukar kabar, padahal memberi tahu keadaan masing-masing adalah rutinitas. Berubah menjadi asing. Lover to be stranger.
Dan dari cerita manis yang sering menghiasi hari-hari, berubah menjadi sepi. Yeah, I am Break Up. Awal putus, betapa sepi hidup ini. Berusaha nampak baik-baik saja malah semakin membuat saya semakin kacau, semakin kehilangan arah.
Saat memutuskan untuk berpisah, saya lupa berapa liter air mata yang saya tumpahkan waktu itu. Entah, menangisi apa. Tapi bagi saya, setelah sekian tahun bersama dan akhirnya memutuskan untuk berhenti itu ngilunya luar biasa.
Apa yang bisa saya lakukan untuk lupa?
Saya melakukan perjalanan ala #Traveloveing berharap ketika saya pulang saya dapat kembali biasa saja. Berharap saya dapat melupakan semua kenangan saat bersamanya. Nyatanya? NOL.
Justru saat saya melakukan perjalanan, ingatan tentangnya semakin kuat. Dan yang paling absurd adalah saat menyadari kantong belanja saya tiba-tiba ada kaos warna merah untuk cowok. Sebegitunya kah?
Saya selalu berharap dia menuliskan sesuatu di akun social medianya, ya setidaknya saya akan tahu dia baik-baik saja tanpa perlu bertanya padanya. Ya, kami masih berteman di Twitter dan Path. Tak ada satu pun keinginan saya untuk unfollow maupun unshare dia di Path. Saya masih ingin mengetahui kabarnya, meskipun ia tak lagi ingin mengetahui bagaimana keadaan saya. Mungkin ia tak peduli, tapi biarkan saya tetap peduli.
Malam ini tanpa sengaja saya membaca postingannya di Path. Saya tahu dia sedang dekat dengan yang lain. Ah, sudahlah bukankah saya sudah berjanji akan tetap baik-baik saja di saat ia memutuskan untuk lebih dulu berlalu. Bukankah perpisahan ini saya pun sepakat?
Jika Tuhan memilih kita untuk berakhir kurasa Ia telah menemukan waktu yang tepat untuk mempertemukan kamu dan takdirmu. Wanita, yang tak lagi meragu.


Kamu,
Terima kasih untuk semua senyum yang kau cipta.
Terima kasih untuk semua rindu yang kau tabahkan.
Terima kasih untuk semua kesabaranmu.

Maaf, aku tak menepati janji untuk tetap bersamamu.

Pasuruan, 23 Juni 2014.

Rabu, 11 Juni 2014

Kentjan Surabaya ~ Bagian Satu

Hati patah kaki melangkah ~ Traveloveing.

Jadi kemarin tanggal 8 juni 2014 kesampaian juga melakukan ritual kentjan seperti yang sering Mput dan Bella lakukan. Kalau duo teman maya saya ini memakai tagline #kentjanjakarta maka saya memakai tagline #kentajnsurabaya \o/

Cak Durasim - Pusat budaya di Surabaya, tujuan terakhir dari Tour Surabaya Heritage Track.

#Kentjansurabaya edisi perdana kali ini adalah berkunjung ke House of Sampoerna. Museum yang terletak di Jalan Taman Sampoerna 6, Surabaya. Ada apa disana? selain spot yang kece buat narsis, Surabaya Herritage Track adalah alasan utama saya berkunjung ke Museum ini.
House of Sampoerna selanjutnya akan saya sebut HoS adalah Traveller's Choice 2013 oleh TripAdvisor. Jujur saja, saya benar-benar terkesima (halah bahasanya) dengan pengelolaan HoS ini. Bagaimana tidak, semua fasilitas yang ada di HoS diberikan secara gratis kepada semua pengunjung HoS. Museum yang buka setiap hari pukul 09.00 sampai dengan 22.00 wib.
Fasilitas yang banyak diminati oleh pengunjung Hos adalah Surabaya Herritage Track, untuk menikmati Bus Wisata ini bisa memesan tiketnya via telpon atau bisa juga on the spot. Surabaya Herritage Track (SHT) dibagi tiga bagian.

1. Exploring Surabaya 
  (Balai Pemuda - Balai Kota - Ex. De Javasche Bank) 09.00-10.302. Surabaya - The Heroes City 
   (Tugu Pahlawan - GNI - PTPN XI)                   13.00-14.303. Babad Surabaya
  (Kampung Kraton - Balai Kota - Cak Durasim)        15.00-16.30

Balai Kota - Tujuan kedua Babad Surabaya.


Kemarin kebetulan saya mendapat tiket yang Babad Surabaya, padahal sudah ngebet yang The Heroes City :( sambil menunggu SHT melaju saya menikmati setiap sudut HoS. Banyak spot kece untuk foto, karena saya datangnya pas weekend maka tidak mendapat kesempatan untuk melihat pegawai Sampoerna yang melinting rokok. Selain itu, waktu #kentjansurabaya kemarin kebetulan ada pameran lukisan di Art Gallery HoS.
Serunya berkunjung di HoS adalah pengunjung akan mendapat penjelasan dari penjaga museum tentang awal mula Museum dan silsilah dari Keluarga Sampoerna. Di dalam bangunan yang berdiri sejak tahun 1893 terdapat beberapa koleksi lukisan, meja dan perabot dari Keluarga Sampoerna. Kolam ikan yang berada di tengah ruangan menjadikan suasana Museum tenang. Pada sisi dalam Museum terdapat koleksi mesin printing tua yang digunakan untuk mencetak pada bungkus rokok, selain itu ada beberapa koleksi kemasan rokok. Ada juga koleksi seragam Marching Band Sampoerna, di lantai dua ada Gallery Shop yang menjual marchendise dari HoS.
Selamat datang di House of Sampoerna

Surabaya Heritage Track, Bus yang mengajak saya keliling kota Surabaya :D


Yuk, lanjut ke #kentjanSurabaya selanjutnya.

Selanjutnya :

1. Balai Pemuda
2. Monumen Kapal Selam
3. Zangrandi


*bersambung.



Senin, 19 Mei 2014

Jika Saja.

Tak ada yang kebetulan? Saya adalah termasuk manusia yang paling kuekeh dengan yang namanya takdir. Sampai pada satu titik saya pun menangisi apa yang Tuhan takdirkan untuk saya, iya apalagi kalau bukan perkara kehilangan. Entah, sampai saya menulis ini saya masih bertanya-tanya apa maksud Tuhan mempertemukan saya bersama dia. Meski sampai akhir pertemuan kami tetap menyebut kita.
Jika sajaTuhan tak pernah menautkan takdir pada kami berdua, apakah saya mampu memaknai kehilangan ini?
Jika saja Tuhan tak pernah menjatuhkan hati kami pada rasa yang sama, apakah saya mampu memaknai apa itu cinta yang sebenarnya?
Jika saja....
Boleh saya katakan, kamu adalah jika yang spesial buat saya. Sampai kapan pun.


You'll my favorite if :)


Dedicated to my Mr. A


Pasuruan, 19 Mei 2014.

Senin, 31 Maret 2014

(Akhir) Maret.

Hari ini dia berjanji untuk mewujudkan mimpi yang selama ini menguap di dinding dan udara tempat kita mengadu rindu --
Aku sedang memutar-mutar kotak persegi berwarna merah maroon itu malam ini, katamu warna yang menandakan adanya diriku. Kamu tahu, hari ini adalah penghujung Maret yang dua minggu lalu kau katakan adalah hari dimana segala keraguan tentang apa yang kita sebut cinta akan berakhir. Katamu, hari ini adalah bukti tak ada yang sia-sia dari sebuah cinta.
Seharusnya kamu tahu, aku telah banyak belajar dari segala hal dan bentuk kehilangan itu. Seharusnya kamu pun tahu betapa lelahnya aku mencari pembenaran atas kata cinta. Saat Tuhan memilih kita untuk bertemu pada satu lintasan takdir, aku tahu Tuhan menjawab segala doaku. Kamu.
Dan kini, ketika semua berbeda kamu yang tiba-tiba pergi menyadarkanku satu hal. Mungkin benar, yang menjadi jodoh kita bukanlah orang yang benar-benar kita cintai. Karena kamu pun tahu, kamu pergi saat tepat aku jatuh cinta padamu, tepat saat aku memutuskan untuk berhenti melihat masa lalu. Dan lagi-lagi Tuhan bercanda denganku, kamu pergi.
Dua kali Tuhan bercanda begitu terlalu padaku.
Dear My Iced Coffee, aku tahu menangis tak akan membawa kembali hidup. Tapi aku mohon, untuk malam ini saja biarkan aku bermain-main dengan segala kenangan tentangmu. 
Hari ini seharusnya cincin itu kau lingkarkan di jari manisku. Hei, My Iced Coffee till the end You'll my favorite what if.

Dedicated to My Iced Coffee
Adrian, 08-10-1984 sd 19-03-2014.

Minggu, 23 Maret 2014

Pindah.

Seminggu ini saya sibuk mengepak semua barang-barang yang di kos, dan tadi baru menyadari ternyata barang-barang saya (cukup) banyak. Semalam, sepulang kantor saya ngobrol bersama Mbak Murti tentang masalah pindah dan banyaknya barang yang harus diangkut esok hari. Kardus dan tas yang sesak berjejer di ruang tengah. Pindah, akhirnya setelah tiga tahun tinggal di Nusantara kami memutuskan untuk pindah. Tempat yang kami sebut rumahnya Bidadari \o/
Malam ini saya memandang kamar kos, kosong. Iya, semua barang sudah diangkut tadi pagi seharian saya bersama Mbak Murti sibuk menata semua barang-barang di sana agar nyaman untuk kami tinggali nanti. 
Nyaman? ah, saya jadi ingat dengan hati saya. Mungkin benar saya harus pergi dan 'pindah' dari hati yang lama karena ia terlalu sempit sehingga membuat saya susah untuk bernafas? Atau saya tak lagi nyaman. Banyak alasan untuk pembenaran atas pindah. Sempit, tak lagi nyaman, sesak dan tak lagi cocok. Sesederhana itu, mungkin saya sudah lupa tentang segala remeh temeh yang sempat saya pertahankan. Sudah jengah dengan segala teori, bahwa tak ada yang sia-sia. Dan berjuang haruslah sampai akhir. Pembelaan atas teori-teori, dan juga membohongi keinginan hati.Jika detik ini saya menyerah anggap saja saya kalah, dan semoga semua akan bahagia pada akhirnya.
Anggap saja akan sesederhana itu. 

Jadi pindah yuk :)

Jumat, 21 Maret 2014

Jalan-jalan yuk !!

Selamat malam, kali ini saya mau share beberapa spot favorite saya. Check it out;
1. Pantai Pasir Panjang, Malang Selatan.

Orang-orang biasa menyebutnya Ngliyep, ombaknya dahsyat dan pasir putihnya daya tarik tersendiri buat menikmati suasana pantai ini.
2. Kebun Raya Purwodadi, Purwodadi - Pasuruan.
Cukup bayar tiket Rp. 4.000,- mata puas keliling liat yang ijo-ijo. Gelar tikar lalu piknik hore juga gak kalah seru. Biasanya saya kesini tiap Minggu pagi, banyak spot buat narsis yang kece \o/ Sekedar saran mending makanan dan minuman bawa dari rumah. Lebih hemat :D
3. Tanjung Papuma, Jember.
Pasir putih, ombak tidak terlalu keras, air yang jernih dan pemandangan yang luar biasa indahnya. yup, Tanjung Papuma. Selain pantainya yang bagus, ikan bakar yang dijual disekitar pantai yummy banget. Cobain saja Lobsternya yakin deh bakal ingin mencoba lagi dan lagi.

Wuhuuu...itu tadi tempat favorite saya \o/ piknik yuk :p