Senin, 31 Maret 2014

(Akhir) Maret.

Hari ini dia berjanji untuk mewujudkan mimpi yang selama ini menguap di dinding dan udara tempat kita mengadu rindu --
Aku sedang memutar-mutar kotak persegi berwarna merah maroon itu malam ini, katamu warna yang menandakan adanya diriku. Kamu tahu, hari ini adalah penghujung Maret yang dua minggu lalu kau katakan adalah hari dimana segala keraguan tentang apa yang kita sebut cinta akan berakhir. Katamu, hari ini adalah bukti tak ada yang sia-sia dari sebuah cinta.
Seharusnya kamu tahu, aku telah banyak belajar dari segala hal dan bentuk kehilangan itu. Seharusnya kamu pun tahu betapa lelahnya aku mencari pembenaran atas kata cinta. Saat Tuhan memilih kita untuk bertemu pada satu lintasan takdir, aku tahu Tuhan menjawab segala doaku. Kamu.
Dan kini, ketika semua berbeda kamu yang tiba-tiba pergi menyadarkanku satu hal. Mungkin benar, yang menjadi jodoh kita bukanlah orang yang benar-benar kita cintai. Karena kamu pun tahu, kamu pergi saat tepat aku jatuh cinta padamu, tepat saat aku memutuskan untuk berhenti melihat masa lalu. Dan lagi-lagi Tuhan bercanda denganku, kamu pergi.
Dua kali Tuhan bercanda begitu terlalu padaku.
Dear My Iced Coffee, aku tahu menangis tak akan membawa kembali hidup. Tapi aku mohon, untuk malam ini saja biarkan aku bermain-main dengan segala kenangan tentangmu. 
Hari ini seharusnya cincin itu kau lingkarkan di jari manisku. Hei, My Iced Coffee till the end You'll my favorite what if.

Dedicated to My Iced Coffee
Adrian, 08-10-1984 sd 19-03-2014.

Minggu, 23 Maret 2014

Pindah.

Seminggu ini saya sibuk mengepak semua barang-barang yang di kos, dan tadi baru menyadari ternyata barang-barang saya (cukup) banyak. Semalam, sepulang kantor saya ngobrol bersama Mbak Murti tentang masalah pindah dan banyaknya barang yang harus diangkut esok hari. Kardus dan tas yang sesak berjejer di ruang tengah. Pindah, akhirnya setelah tiga tahun tinggal di Nusantara kami memutuskan untuk pindah. Tempat yang kami sebut rumahnya Bidadari \o/
Malam ini saya memandang kamar kos, kosong. Iya, semua barang sudah diangkut tadi pagi seharian saya bersama Mbak Murti sibuk menata semua barang-barang di sana agar nyaman untuk kami tinggali nanti. 
Nyaman? ah, saya jadi ingat dengan hati saya. Mungkin benar saya harus pergi dan 'pindah' dari hati yang lama karena ia terlalu sempit sehingga membuat saya susah untuk bernafas? Atau saya tak lagi nyaman. Banyak alasan untuk pembenaran atas pindah. Sempit, tak lagi nyaman, sesak dan tak lagi cocok. Sesederhana itu, mungkin saya sudah lupa tentang segala remeh temeh yang sempat saya pertahankan. Sudah jengah dengan segala teori, bahwa tak ada yang sia-sia. Dan berjuang haruslah sampai akhir. Pembelaan atas teori-teori, dan juga membohongi keinginan hati.Jika detik ini saya menyerah anggap saja saya kalah, dan semoga semua akan bahagia pada akhirnya.
Anggap saja akan sesederhana itu. 

Jadi pindah yuk :)

Jumat, 21 Maret 2014

Jalan-jalan yuk !!

Selamat malam, kali ini saya mau share beberapa spot favorite saya. Check it out;
1. Pantai Pasir Panjang, Malang Selatan.

Orang-orang biasa menyebutnya Ngliyep, ombaknya dahsyat dan pasir putihnya daya tarik tersendiri buat menikmati suasana pantai ini.
2. Kebun Raya Purwodadi, Purwodadi - Pasuruan.
Cukup bayar tiket Rp. 4.000,- mata puas keliling liat yang ijo-ijo. Gelar tikar lalu piknik hore juga gak kalah seru. Biasanya saya kesini tiap Minggu pagi, banyak spot buat narsis yang kece \o/ Sekedar saran mending makanan dan minuman bawa dari rumah. Lebih hemat :D
3. Tanjung Papuma, Jember.
Pasir putih, ombak tidak terlalu keras, air yang jernih dan pemandangan yang luar biasa indahnya. yup, Tanjung Papuma. Selain pantainya yang bagus, ikan bakar yang dijual disekitar pantai yummy banget. Cobain saja Lobsternya yakin deh bakal ingin mencoba lagi dan lagi.

Wuhuuu...itu tadi tempat favorite saya \o/ piknik yuk :p


Kamis, 20 Maret 2014

Iced Coffee Story.


Dear My Iced Coffee.
Selamat malam, detik ini tepat dua puluh empat kamu memeluk bumi. Mengapa secepat ini kamu meninggalkanku?
Rasanya baru kemarin kita bicara banyak hal tentang impian sederhana kita, tentang banyak hal yang akan kita lakukan saat jarak tak lagi membatasi kita. Mengapa kamu secepat ini meninggalkanku?
Rasanya baru kemarin kamu mengacak rambutku, dan berkata semua akan baik-baik saja. Bahwa tak akan lagi ada  air mata setelah ini. Setelah aku dan kamu tiada, yang ada hanya kita. Rasanya baru kemarin aku melepaskan tautan tanganmu saat mengantarkanku pulang, kamu tahu aku tak pernah merasa seberat ini meninggalkanmu.
Kamu, sebulan ini aku begitu manja padamu.
Kamu, sebulan ini yang begitu manis padaku.
Aku tak tahu mengapa kamu meninggalkan aku secepat ini, saat kita telah sepakat untuk bersama. Saat kita sepakat akan membagi semua keluh bersama. Saat semesta berpesta merayakan kebahagian kita. Mengapa Tuhan begitu tega mengambilmu dari sisiku secepat ini?
Saat cintaku menggebu padamu.
Saat rinduku gemuruh padamu.
Apakah aku tak boleh bahagia bersamamu? My Iced Coffee kesayanganku, aku kangen kamu. Bisakah kamu tak meninggalkanku secepat ini?
My Iced Coffee, you’ll always my favorite what if.

~D

Minggu, 16 Maret 2014

Dancing with rain.





15 Februari, Bandara Juanda.
Aku meraih tas selempangnya, memain-mainkannya. Dan menunduk, menyembunyikan wajah sedihku.
“Hai, jangan sedih gitu dong. Nanti waktu kamu ujian aku pasti nyempetin pulang. Aku bakalan datang, aku janji.” Katamu lalu meraih kepalaku dan membenamkannya dipelukannya.
Aku menyesap aroma tubuhnya, menyimpannya rapat-rapat kelak saat rinduku sekarat aku dapat mengingatnya kembali.
“Janji ya?” tanyaku.
“Iya, Mbuletku sayang.” Katanya seraya mencubit hidungku gemas. Aku tersenyum, meyakinkan.
Siang itu, di Terminal C Bandara Juanda aku melepas kepergian Dika. Melihatnya berlalu, dan menghilang.

12 Maret, Batavia Cafe and Resto.
“Kamu sukanya bikin kejutan.” Kataku, mencondongkan muka ke arah Dika.
Dika tertawa. “Tapi kamu senang kan? Belum genap sebulan aku sudah pulang lagi. Makanya kamu jangan suka bikin kangen gitu dong. Aku sering khawatir jika jauh sama kamu.”
Aku mengaduk choco perfaitku, menyembunyikan semburat merah jambu di pipiku.
“Tapi, makasih ya jadi aku gak perlu bingung bagaimana menyerahkan ini secara tepat waktu.” Kataku, lalu menyerahkan sebuah kotak kearahnya.
“Selamat ulang tahun.”
“Terima kasih Mbuletku kesayangan.” Katanya, lalu meraih tanganku dan menggengamnya erat.
“Kamu adalah kebahagiaanku.”
“Iya, dong. Ayo buka kadonya.” Rajukku. Dika menurut, ia membuka kotak itu dengan sigap. Dia namak terkejut melihat satu buku bersampul merah maroon, dan bertuliskan D&Mbul.
“Norak ya?” Kataku. “Dan, maaf kurang rapi aku membuatnya sebulan ini dan berharap semuanya selesai sebelum kamu pulang.”
“Kamu tahu aku kan? Aku ini berantakan.”
Dika tak menjawab, dia sibuk membuka setiap lembar scrap book yang penuh dengan foto kami.
“Terima kasih, dan ini lebih dari cukup.” Katanya.
Dan malam itu aku tahu, bahwa aku begitu beruntung dicintai oleh seorang Dika.

Kamar, 15 Mei.
Aku memandang angka yang ditunjuk pengukur suhu, tiga puluh sembilan derajat. Pantas saja kepalaku rasanya mau pecah. Mataku berair, menahan pedih. Aku demam, dua hari ini. Menjelang sidang ujian tugas akhirku, malah ngedrop. Aku memukul-mukul kepalaku, penat.
Aku menyalakan laptopku, menyambungkan ke internet. Aku merutuk kesal, seminggu ini Dika tak mengirim berita sama sekali. Emailku tak satupun dibalas. Aku menekan-nekan kepalaku yang rasanya mau pecah. Aku menyerah, aku mematikan laptopku.
Malam ini aku tidur dengan gelisah.

Ruang sidang E3, 19 Mei.
“Diis, selamat ya.” Aira menyambutku, ketika aku keluar dari ruang sidang. Wajahku kusut, aku melepas jas almamaterku.
“Makasih ya Ra.” Ucapku, lalu duduk dibangku sebelahnya.
Aira senyam-senyum. “kenapa kamu?” tanyaku.
“Gak papa, Dika datang kan hari ini?”
Aku menggeleng. Aku mengaduk isi tasku, meraih handphoneku. Ada tiga kali panggilan terlewatkan dan satu pesan masuk.


Mas Rudi +81333295xxx
Dis, kalau sudah selesai ujian sms balik ya.

Aku mengernyit, tumben Mas Rudi telpon dan sms. Saat aku akan menekan tombol call di contact Mas Rudi, ada panggilan masuk.
Mas Rudi calling.
“Halo”
“Iya, baru selesai.”
“Dimana?”
“Gak perlu, aku saja yang kesana. Iya, mas tunggu saja di parkiran.”
Mas Rudi call ended.
Aira menatapku heran, “Mau kemana?.”
“Aku ditunggu mas Rudi, aku balik dulu ya Ra. Makasih udah nemenin. Traktirannya nanti ya.” Kataku nyengir. Aira tertawa, “Iya.”
Aku berlalu meninggalkan Aira, dan menuju tempat parkir di belakang gedung E3.

Di sebuah kamar.
Aku duduk di ruangan ini sendiri. Beberapa foto menceritakan pemilik kamar ini. Di sudut meja itu, ada buku bersampul merah maroon. Aku tergugu, air mataku kering.
“Maafkan Tante, bukan ingin merahasiakan atau apa. Tante pun baru tahu semua ini seminggu yang lalu. Tante, tahu juga saat Dika sudah di Surabaya seminggu yang lalu. Dika tak pernah bercerita soal sakitnya.”
Aku tak menjawab. Aku limpung.
Wanita yang sedang menenangkanku itu pun menangis tergugu, memelukku erat. Sementara aku hanya diam. Entah kemana kesedihanku.
Tak ada air mata, yang aku tahu sebagian hatiku telah pergi sebelum aku mengucapkan bahwa aku mencintainya.

Epilog :
15 Mei, di sebuah Dorm.
“Dika, aku telpon keluargamu ya?”
Laki-laki itu hanya menggeleng. Wajahnya sepucat mayat.
“Kamu gak mungkin menyembunyikan ini semua sendiri Dik.”Katanya kesal.
Sementara Dika, masih menggigil menahan sakit. Temannya merenggut kesal, dan berniat meninggalkannya dan meraih handphonenya.
Dika meraih tangannya, menahannya untuk pergi.
“Kamu boleh menelpon Papaku, tapi jangan sampai Mamaku tahu. Apalagi Disti, dia sedang berjuang sekarang. Aku berjanji akan pulang tanggal 19 nanti.” katanya parau. Sebelum akhirnya, ia pingsan.


Pasuruan, 12 Maret 2014.


Selasa, 11 Maret 2014

Tulang rusuk(ku).

"Kapan nikah?" adalah pertanyaan wajib setiap kali aku bertemu dengan orang-orang terdekat. Dan jawaban dariku tak lebih dari cengiran yang bisa bermakna "WOI, BISA GAK TANYA ITU!!!!"
Entah pembenaran atau hanya sekedar ingin menyenangkan diri sendiri, menikah bukan saja soal cecintaan. Menikah adalah kesiapan. Siap untuk jatuh cinta setiap hari, siap untuk benar-benar akan baik-baik saja, siap dengan segala bentuk bosan yang bisa saja datang tanpa permisi dalam hubungan dua orang. Menikah tidak hanya urusan dua orang jatuh cinta lalu cring kita menikah dan hidup bersama.
Dan aku tahu di saat umur tak lagi belia, semakin banyak orang semakin riwil dengan segala urusan ini. Kalau belum bertemu sama jodohnya aku bisa apa? kalau belum datang waktu yang tepat itu aku bisa apa? Saat ada yang nyeletuk bilang, pacar ada, udah mapan dan punya segalanya yang disebut standar sukses orang pada umumnya (do you know what I mean), kerjaan gak buruk-buruk amat, usia udah cukup untuk gendong bayi, jadi apa lagi yang ditunggu?
Baiklah, anggap saja aku punya dan sudah memenuhi segala standar yang pada umumnya orang patenkan sebagai ukuran kesiapan menikah. Lah kalau belum saatnya,aku bisa apa?

Aku menikah bukan karena gengsi, bukan untuk pembenaran bahwa tujuan hidup hanya untuk menikah. Aku percaya Tuhan menciptakan aku beserta apa yang mereka sebut tulang rusuk, jodoh atau pasangan hidup. Tuhan tak mungkin membiarkan aku sendiri. Dan aku meyakini itu.

Tapi aku pun percaya, sekarang yang tengah tersenyum dan merengkuh pundukku bisa jadi bukanlah yang Tuhan takdirkan untukku.
Bukan kah jodoh, bukan seberapa lama kita mengenalnya tapi ia yang benar-benar ditakdirkan untuk kita. Bisa jadi ia yang tak pernah ada dalam angan kita sekali pun.

Jumat, 07 Maret 2014

7 Maret-ku



Kamar, 21.00.
Aku menekan tombol play pada salah satu file audio yang ada di folder bernama D. Ada suaranya, membacakan puisinya untukku diiringi instrumental dari Yiruma. Love Hurts.
Ada kosong saat aku mendengar suara paraunya yang tengah bercerita. Dan sial setelah kuketahui semua akun social medianya diactivate pun aku baru menyadari, perasaanku telah berubah padanya. Jika ada bijak yang berkata ‘kita akan benar-benar merasakan kehilangan saat orang tersebut tak lagi bersama kita’ adalah benar adanya. Aku limpung ketika ia tak lagi mewarnai hariku.
Aku mereply musikalisasinya yang berjudul ‘Pada Akhirnya’. Mengapa aku tak pernah menyadari kode darinya? Bahwa kami memiliki perasaan yang sama, tapi bisakah aku merubah keadaan? Aku dan dia telah memiliki pilihan, memiliki jalan cerita masing-masing.
Tiga jam menuju hari lahirku, D aku merindukanmu.