Senin, 20 Oktober 2014

Honeydew Tea.



Dia duduk di pojok ruangan cafe itu. Ia mengaduk gelas yang isinya tinggal separuh itu. Pandangannya kosong, menatap kursi yang ada di depannya. Aku menatapnya iba, sudah seminggu ini dia selalu datang ke Cafe ini dan selalu memilih tempat itu dan akan memesan minuman dan makanan yang sama.
Dan Ia akan melakukan hal yang sama, duduk diam di tempat itu selama dua jam bahkan kemarin ia duduk di tempat itu hampir tiga jam. Iya, aku selalu mengamati Dia. Jauh sebelum ia menjadi pelanggan setia di Cafe ini.
Dulu ia tak pernah datang sendiri, ia selalu datang bersama temannya dan seorang wanita yang ia sebut-sebut sebagai sepupunya. Dan tak jarang ia datang berdua saja dengan seorang wanita, yang ia panggil Meme. Panggilan adik perempuan di golongannya, tapi aku tahu wanita yang ia panggil Meme itu tidak sipit, matanya belo berbeda dengan matanya yang sipit meski terbingkai oleh kaca mata. Kulitnya tidak putih, wanita itu berkulit sawo matang.
Dari semua pengamatan itu, aku tahu wanita itu adalah kekasihnya. Karena pada suatu hari di akhir bulan Juli, Ia memberi wanita itu kejutan dan wanita yang ia panggil meme itu berseru, mengucap sesuatu yang entah mengapa sedikit membuat ngilu di hatiku.
“Terima kasih ya sayang, aku gak nyangka kamu bakal membuat kejutan seperti ini untukku. I love you.” Dan wanita itu, mengecup pipinya.
Dan Ia mengucapkan, yang entah aku berharap suatu saat ia mengucapkan itu untukku.
“I love you too, sayang. Selamat bertambah usia ya sayang.”
Dan, hari itu ia meminta semua ruangan Cafe dipenuhi dengan mawar merah. Dan ia memesan agar tak ada satu pun pengujung selain dia malam itu. Ia ingin merayakan ulang tahun kekasihnya itu hanya berdua saja di Cafe ini.
Minggu berikutnya ia semakin sering datang bersama kekasihnya di Cafe ini. Aku melihatnya tampak bahagia, bercerita banyak hal kepada wanita yang ia panggil Meme itu. Dan aku pun melihat hal yang sama di wanita itu. Mereka bahagia.
Bulan berganti, aku semakin jarang melihat ia datang ke Cafe ini. Aku hanya melihat temannya datang bersama wanita yang ia sebut sebagai sepupunya itu datang kesini tapi tanpa kehadirannya. Aku mendengar namanya disebut-sebut.
Dan malam itu dua bulan yang lalu, Ia datang ke Cafe ini ia bersama teman dan juga sepupunya. Wajahnya kusut, beberapa kali aku melihat Ia mengusap-usap wajahnya. Ia tampak kacau, ia melepas kacamatanya, dan aku samar melihat matanya memerah menahan tangis atau tangis yang ia paksa untuk berhenti lebih tepatnya. Temannya menupuk punggungnya pelan, menabahkan.
Sementara, sepupunya tampak marah. Beberapa kali menyebut-nyebut nama wanita kesayangannya. Meremas-remas tanganya, ia tampak emosi. Sementara temannya berusaha menenangkan.
Aku menatapnya iba, ada apa dengannya?
Mereka akhirnya saling diam, dan sesekali aku mendengar ia membisikkan nama wanitanya. Berulang kali, dan aku melihat wajah sepupunya semakin merah.
Hari ini setelah berbulan-bulan Ia tak datang lagi ke Cafe ini. Ia datang lagi, bahkan datang setiap hari selama seminggu ini. Ia selalu memesan minuman dan makanan yang sama. Makanan dan minuman yang selalu dipesan oleh wanita yang ia panggil meme itu.
“Honeydew Tea, madunya yang banyak ya, jangan lupa es batunya sedikit saja. Dan aku mau Roti bakar strawberrynya ditambah parutan keju dan coklat bubuk.”
Pesanan yang selalu diucapkan oleh wanitanya. Dan seminggu ini Ia selalu memesan minuman dan makanan itu.
Entah hari ini aku merasa harus mendekatinya, mengajaknya berkenalan mungkin. Hari ini genap empat tahun aku selalu membuntuti Lie. Aku harus berani, bukankah aku pun memiliki kesempatan yang sama?
Hari ini atau tidak sama sekali.
Aku mendekati mejanya, berdiri di depannya.
“Boleh duduk di sini?” tanyaku, sembari menarik kursi di depannya. Dan meletakkan Honeydew Tea di mejanya.
“Aku Thalita, kenalkan.” Kataku, dan mengulurkan tanganku ke arahnya.

Malang, 19 Oktober 2014.


 Nb : Foto koleksi pribadi.
*Salah satu view di Omah Caffee, Malang.


Senin, 13 Oktober 2014

Museum Bentoel dalam akhir pekan

Menyambung beberapa perjalanan sebelumnya, yang sudah menjadi daftar perjalananku bersama Ayu, minggu ini Museum Bentoel menjadi sasaran empuk kami. Meskipun saya asli orang Malang, terus terang saja, saya kurang familiar dengan keberadaan museum ini. Pernah beberapa kali lalu lalang di depan bangunan yang terletak di jantung kota Malang, tepatnya di  Jl. Woromargo 32, tapi hanya sekedar membaca tulisan “Museum Bentoel” yang ada dihalaman bangunan tua tersebut dan belum terlintas untuk mendatanginya.
Bagi orang Malang, mendengar kata Bentoel pasti akan terlintas kerajaan rokok yang terus menjalar di kota maupun kabupaten Malang.  Berawal dengan berderet brand yang digawangi  Ong Hok Liong, diantaranya Boeroeng, Kelabang, Kendang, Djeroeh Manis, Toerki, dan sebagai gong-nya dipilihlah  nama Bentoel yang kita kenal sekarang.
28 September 2014, hari minggu siang, Alhamndulillah saya berkesempatan menyusuri tiap ruang sarat sejarah. Saya bertandang ke museum tidak hanya berdua dengan Ayu seperti biasanya, kali ini Iin turut meramaikan perjalanan kami. Bertiga kami “menggila” dalam bangunan mantan rumah pendiri Bentoel tersebut.
Berawal dengan mengisi buku pengunjung di ruang satpam, kami  dipersilahkan untuk menuju bangunan utama. Tidak ada tiket masuk untuk memasuki bangunan yang terkesan klasik, sepi,  rumah tua bercat tembok putih dengan jendela dan pintu jati yang masih terkunci  terlihat sangat kokoh, menggambarkan kejayaan saat itu, awal tahun 1900-an. Masih sangat lenggang, berasa rumah sendiri, kami menjajaki setiap ruang yang terdiri dari galeri-galeri. Eh, sekedar informasi, selain masuknya gratis, pengunjung juga bebas berfoto di tempat ini.
Sebelum memasuki ruang pertama, ada tiga buah pintu yang masing-masing terdiri dari dua daun pintu. Ketiga pintu tersebut masih terkunci, sepertinya kami kepagian melakukan kunjungan hari itu. Akhirnya pintu yang terletak paling tengah mulai dibuka oleh seorang perempuan berambut pendek dengan seragam biru dongker yang merupakan penjaga museum tersebut.  Sebelah kanan pintu ada patung dari perunggu yang merupakan replika dari Ong Hok Liong. Dan di kanan serta kiri daun pintu tampak papan yang merupakan penjelasan singkat dan petunjuk museum ini.
Kami-pun mulai menapak ruang utama. Meskipun tidak terlalu luas, semua tampak bersih dan terawat. Jajaran foto tertata rapi, sederet bangku panjang yang sengaja disiapkan menambah kenyamanan pengunjung yang ingin menikmati kunjungan mereka. Selain itu, ada sebuah sepeda ontel tua, yang konon merupakan kendaraan pertama yang digunakan sebagai armada untuk distribusi rokok Bentoel.
Disebelah kanan ruang utama ada sebuah galeri Tembakau dan Cengkeh. Diruang ini terdapat sebuah kotak yang diberi sekat-sekat pembatas dan tertutup oleh kaca berlubang. Kotak ini berisi macam-macam tembakau dan cengkeh dari berbagai daerah di Indonesia. Penutup dengan kaca berlubang ditujukan bagi pengunjung yang ingin menghirup aroma asli tembakau dan cengkeh tersebut. Diruangan ini kita disuguhkan proses pengolahan tembakau hingga menjadi kretek.
Ruang berikutnya adalah Galeri Foto. Namanya saja galeri foto, sudah pasti dalam ruangan ini berisi deretan foto-foto. Disinilah tampak perjalanan Bentoel dari mulai berdirinya hingga saat ini. Termasuk didalamnya foto iklan-iklan bentoel jaman dulu hingga sekarang.
Galeri produk, merupakan ruang berikutnya yang menjadi  sasaran kami. Kesan klasik dan modern tampak jelas dalam ruangan ini. Terpajang rapi di salah satu sisi tembok ruangan, berbagai macam merk rokok yang pernah diproduksi. Disisi lain, berjajar tiga buah LED TV, media elektronik ini memutar gambar-gambar bergerak tak bersuara. Tapi jangan khawatir, kita bisa mendengarkannya dengan bantuan headset yang sudah disediakan.
Sedangkan diseberang galeri foto ada sebuah ruangan yang diberi nama Galeri Bentoel Group. Di galeri ini, kita dapat mengetahui perkembangan PT Bentoel. Yang mulai berdiri tahun 1930 dengan nama Ttrootjes Fabriek Ong Hok Liong”, berganti menjadi “Rokok Tjap Bentoel” (1935), berubah lagi menjadi “PT Perusahaan Tjap bentoel” (1954), tahun 2000  menjadi “PT  Bentoel Internasional Investama,Tbk”,  akhirnya tahun 2010  merger dengan PT BAT Indonesia Tbk dan menjadi Bentoel Group.
Dan yang paling terakhir nih, menuju ke pintu belakang penghujung ruangan. Dua daun pintu terbuka, kami bertiga melangkah. Ternyata ada sebuah taman kecil yang terlihat teduh, pohon sawo yang rindang dan mulai tampak berbuah ditiap ujung dahannya, pohon cemara besar, palm, serta beberapa jenis tanamban perdu berpadu dengan hijaunya rumput membuat asri taman ini.
Begitulah akhir pekan kami, selanjutnya kita pergi kemana?

Kemanapun kita pergi disitulah kita belajar, karena hidup adalah perjalanan proses belajar
#R
Jangan mengeluh, nanti Tuhan marah!
#perihujan


Senin, 22 September 2014

Pilihan.

Kemarin sore saya ditelpon Ibu, rutinitas yang kerap dilakukan Ibu semenjak saya meninggalkan kota Pasuruan. Sedikit banyak Ibu merasa khawatir dengan saya, meski kota yang saya tempati sekarang bukanlah tempat yang asing bagi saya. Bahkan, telah menjadi rumah kedua bagi saya. 
Bercerita tentang hal yang saya lewati seharian adalah menjadi hal yang biasa sejak saya tak lagi di Pasuruan, Ibu juga kerap menanyakan bagaimana dengan perasaan saya karena tinggal dan menetap di kota yang sama dengan orang yang pernah mengisi hari-hari saya. mungkin Ibu khawatir jika nantinya saya berniat kembali bersama ia yang kehadirannya tak pernah mendapat restu. Hahahaha.
Ibu hanya khawatir, dan saya mengerti itu. Ini kedua kalinya saya resign dan saya merasa ini adalah proses yang paling dramatis. Mengapa demikian? Iya, karena dengan saya resign dari kantor saya pun harus meninggalkan kota Pasuruan yang telah enam tahun menemani saya.
Saat saya memutuskan untuk tinggal di kota ini (lagi) setelah enam tahun yang lalu dengan semangat saya meninggalkannya saya memilih untuk kembali. Bukan untuk meratapi apa yang pernah saya lepas, atau berusaha memperbaiki apa yang pernah saya putuskan untuk mengakhirinya. Ini adalah pilihan saya, suka dan tidak suka saya ingin kembali ke kota ini. Kota yang kini pun ia tinggali.
Saya cukup mendapat dukungan dari Ibu dan juga kakak-kakak saya. Bagaimana pun juga, ketika saya menangis merekalah yang akan berlari ke arah saya dan menghapus air mata saya. Mereka tahu tanpa perlu saya mengadu, mereka paham meski saya tak mengeluh.

Minggu, 21 September 2014

Menengok Malang Tempo Dulu.

Sekarang tak akan pernah ada jika tak ada masa lalu --- @_yulesta

Beberapa waktu yang lalu saya bersama partner of crime saya Wigi berkunjung ke Museum Malang tempo Dulu. Tempat ini sudah lama menjadi list dalam perjalanan saya bersama Wigi. Penasaran dengan berbagai postingan mengenai Museum yang pengelolaannya secara pribadi ini. Museum yang dibangun oleh seorang kurator asli Malang Dwi Cahyono dan resmi dibuka untuk umum sejak 22 Oktober 2012.
Selamat datang di Museum Malang Tempo Doelo

Museum yang terletak di Jalan Gajah Mada no 2, yang berada persis di belakang Balai Kota Malang atau lebih tepatnya bersebelahan dengan Rumah Makan Inggil. Dengan tiket masuk Rp. 15.000,- kita dapat bernostalgia dan menyusuri Kota Malang di setiap dekadenya. Dimulai dari jaman pra sejarah, hingga jaman perjuangan. 
Museum Malang Tempo Dulu dikemas dengan secara modern, jadi jangan membayangkan Museum yang berbau apek dan pengab. Setiap sudut Museum ini juga cocok buat kita yang hobi foto-foto, asyiknya lagi kita dapat meminjam perlengkapan yang ada di Museum untuk foto. Ada satu spot yang menarik buat saya adalah spot kerajinan gerabah, di situ ada alat yang digunakan untuk membuat gerabah dan pengunjung diijinkan untuk mencoba. Kalau mau foto ala-ala pasangan dalam film Ghost, bisa mencoba disini :p
Hasil kerajinan, yang dibuat oleh para pengunjung.

Dari mulai masuk ke area Museum saya bersama Wigi seperti memasuki mesin waktu, ada beberapa koleksi patung lilin yang dibuat untuk membuat kesan hidup pada Museum ini. Patung lilin ini lah yang sempat membuat saya dan Wigi ketakutan karena kaget. 

Berpose dengan patung lilin Bung Karno.
Di akhir perjalanan, kita disuguhi dengan replika Festival Malang Tempo Dulu. Selain itu di area ini kita boleh mewarnai topeng khas Malang dan belajar membatik. 

Sok atuh belajar pegang cantingnya dulu :p
Museum yang buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.00 ini wajib dikunjungi. Tempat yang fun, dan jauh dari kesan horor cocok buat media pembelajaran. 

Kamis, 18 September 2014

Berkunjung ke surga di balik bukit.

Jika bersama lebih baik, mengapa kamu memilih sendiri? --- @_yulesta.

Sabtu kemarin, tanggal 13 September 2014 saya bersama dua belas teman saya memutuskan berkunjung ke Jember. Menikmati sensasi ngtrip rame-rame dengan kendaraan umum. Berawal dari obrolan group whatsapp kelas pertengahan Agustus lalu, kami pun ngetrip ke Tanjung Papuma.
Karena rata-rata kami belum pernah merasakan naik kereta rame-rame dengan tujuan yang agak 'aneh' maka Kereta Tawangalun pun menjadi moda keberangkatan kami. Tiket kereta yang di booking dua minggu sebelum keberangkatan memudahkan kami memilih bangku dengan leluasa. Dengan harga tiket Rp. 30.000,- kami dapat tempat duduk yang berderet. Meski Kereta yang kami tumpangi adalah kereta ekonomi, overall keretanya nyaman, ber AC dan yang terpenting ada colokannya. Sehingga kami tak perlu khawatir dengan baterai low, sehingga tetap eksis di sosial media :D
Eksis di kereta.

Kereta Tawangalun berangkat dari Stasiun Kota Baru, Malang pukul 15.00 wib dan sampai Stasiun Jember sekitar pukul 19.45 wib. Sekedar tips, karena memakan waktu yang agak lama sebaiknya kalau mau ngetrip dengan Kereta sediakan cemilan yang banyak. 
Sampai Stasiun Jember, dan menyempatkan diri untuk narsis dan mengabarkan kepada dunia bahwa kita sudah sampai Jember dengan bahagia saya bersama rombongan nyamperin Pak Agung (Travel Agen) yang akan mengantar kami ke Tanjung Papuma. Sekedar Info, jika kalian akan berkunjung ke Jember dan mau menuju ke Papuma bisa menghubungi Pak Agung. Dengan Rp.300.000,- kalian bakal dijemput dari Stasiun/Terminal Jember menuju ke Papuma dan dari Papuma ke Stasiun/Terminal itu sudah termasuk bonus jalan-jalan keliling Jember untuk kuliner dan beli oleh-oleh. Kalau kita dijemputnya di Ambulu maka tarifnya akan berbeda, kabarnya akan lebih murah lagi :D
Jember kami datang.

Karena sudah waktu jam makan malam, kami bersama rombongan di antar Pak Agung ke warung makan dan malam itu kita makan lalapan. Entah karena memang lapar atau porsinya terlalu sedikit kita sampai nambah porsi. Warung lalapan di depan Perhutani, Jember ini selain murah, bersih juga enak. Pesan saya, tempe bacemnya enak saya waktu itu sampai nambah :p untuk ayam gorengnya ada dua pilihan ada ayam kampung dan ayam negeri, selisih harganya tidak terlalu tinggi kok.
Makan malam di Lalapan depan Perhutani, Jember.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu teman yang kebetulan ketinggalan kereta dan mengejar kami dengan bus, kami diajak ngopi cantik dan ganteng di sekitar perempatan Ambulu. Sekitar jam 23.00 teman kami sampai, dan lengkaplah kehebohan kami.
Pukul 24.00 kami sampai di Papuma, suara deburan ombak terdengar dari penginapan yang kami pesan dua minggu lalu. Setelah, menurunkan perbekalan kami dan memindahkan ke kamar kami menyiapkan tenaga untuk berburu sunrise esok harinya. Waktu itu kami menginap di Pondok Papuma yang tarifnya Rp.260.000,- per kamar ada fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam. Saran saya, kalau berombongan mending sewa cottegenya dengan tarif Rp. 510.000,- kita sudah dapat dua kamar, ruang tamu dan kamar mandi dalam. Kamarnya juga ber AC jadi jangan khawatir kegerahan.
Pukul 04.00 wib, kami sudah heboh untuk ke pantai. Jarak Penginapan ke pantai hanya 100 meter saja, dengan harap-harap cemas kami menunggu sun rise. Sekitar pukul lima sunrise baru kelihatan. Bersoraklah kami, sebagai manusia kekinian kami tidak lupa berfoto dan sibuk mengabarkan ke suluruh dunia.
1..2..3
 
Matahari tak pernah ingkar janji.
Setelah puas jalan-jalan melihat sunrise dan berkeliling Tanjung Papuma, sekitar pukul dua belas kami meninggalkan penginapan. Mobil jemputan juga sudah siap mengantar kami ke Terminal, yang sebelumnya kita todong untuk mengantar kami makan siang dan berbelanja oleh-oleh ke 'Sumber Madu'.
Pukul tiga sore rombongan kami sudah sampai di terminal Tawang Alun, Patas yang akan mengantar kami kembali ke Malang juga sudah menunggu. Meski ini adalah perjalanan kesekian saya ke Jember, entah saya merasa berbeda dengan perjalanan kali ini. Mungkin benar kata orang terkenal di luar sana, bukan kemana tujuannya tapi bersama siapa.

Jadi, kemana lagi kita?


Note :
Pak Agung (reservasi mobil jemputan) : +6282143941006
Pak Giono (resevasi Pondok Papuma)  : +6281336103458

Senin, 15 September 2014

Lembur Sehat, ala Peri Hujan.

Lembur tidaklah asing bagi para pekerja, kerap kali pekerjaan yang menumpuk membuat seorang pekerja terpaksa bekerja ekstra. Bila umumnya waktu kerja delapan jam sehari, jika lembur bisa sampai dua belas jam bekerja. Untuk menyiasati agar tubuh tetap segar meski bekerja ekstra, simak tips berikut.
1.       Hindari Kopi.
Terkadang saat lembur, badan menjadi lelah dan biasanya dibarengi dengan mata yang mulai mengantuk. Biasanya Anda akan memilih untuk meminum kopi dengan harapan kafein yang terkandung dalam kopi menghindarkan anda dari mengantuk. Meminum kopi yang berlebihan mengakibatkan insomia dan dehidrasi. Jika terpaksa harus meminum kopi, hindari minum kopi instan minumlah kopi murni tanpa gula yang memberikan efek kafein yang sebenarnya.
2.       Olahraga ringan.
Siapa bilang bekerja di kantor Anda tidak dapat berolahraga. Sempatanlah untuk streching sederhana untuk meregangkan otot punggung yang kaku akibat banyak bekerja. Untuk Anda yang bekerja di depan komputer dapat memijat sekitar mata untuk menghindari mata lelah.
3.       Perbanyak minum air putih.
Tubuh akan mengalami dehidrasi yang akan membuat stamina menurun saat lembur. Usahakan untuk meminum banyak air putih, karena air putih dapat menjaga mood tetap baik. Dehidrasi dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan, dan berkurangnya konsentrasi yang berakibat tidak baik untuk kondisi tubuh anda saat lembur.
Lembur memang penting demi mengejar target terselesaikan deadline pekerjaan. Namun yang terpenting adalah kesehatan. Untuk itulah, pentingnya menjaga kesegran dan kesehatan tubuh meski saat lembur.




Jumat, 12 September 2014

Setelah Enam Tahun

Perpisahan itu tak pernah mudah bagi siapa pun, dan hal terberat dari perpisahan adalah memunguti tiap remah kenangannya -- @_yulesta.

Hari ini telah lewat beberapa hari sejak saya meninggalkan Pasuruan, kota yang menjadi tempat saya bernaung selama enam tahun lebih. Kota tempat saya memperjuangkan cinta yang terbatas jarak, pun merelakannya berakhir. Kota yang menemani saya untuk tumbuh menuai cinta yang baru. Kota, yang setiap sudutnya mengajarkan kepada saya bahwa tak ada yang sia-sia dari setiap perjalanan hidup.
Setelah enam tahun berlalu, saya menyadari beberapa hal. Pasuruan telah memberi saya banyak teman yang statusnya melebihi saudara. Mungkin inilah alasan mengapa meninggalkan Pasuruan tidaklah pernah mudah bagi saya, terlalu banyak tapi di tempat ini. Terlalu banyak kebahagiaan yang membuat saya betah berlama-lama di Kota Sakerah ini.
Beberapa tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk berhenti dari kantor sebelum ini, pun saya berniat untuk tidak akan pernah kembali ke Pasuruan. waktu itu bagi saya tiga setengah tahun adalah waktu cukup bagi saya. Tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, saya kembali ke kota Pasuruan lagi. Kembali bekerja di kota Pasuruan, dan kembali berkumpul bersama sahabat yang melebihi saudara itu. Kembali saya menemukan banyak tawa saat saya kembali ke Kota Pasuruan. Kehadiran teman-teman baru di kantor yang baru membuat semakin semarak kehidupan saya di Pasuruan.
Dan kala itu saya berjanji tidak akan meninggalkan kota ini lagi.
Siapa sangka, kehidupan berputar setelah enam tahun di Pasuraun. Tuhan mempunyai rencana lain untuk saya. Kepergian Ayah, merubah pola pikir saya, merubah prioritas hidup saya. Saya ingin mendekati pelukan Ibu, satu-satunya orang yang saat ini menjadi alasan saya untuk berjuang lebih keras lagi. Saya harus menyelesaikan studi saya, dan lagi-lagi saya mendapati satu pilihan. Dan saya memilih untuk berhenti dan memaknai kebahagiaan saya dengan cara yang berbeda. 
Setelah perjalanan panjang dan pergulatan pikiran yang pelik saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Pasuruan. Saya memilih untuk konsentrasi degan studi saya, tinggal di tempat pengharapan yang luar biasa bagi Ibu saya. Ini pilihan saya.
Akhirnya saya tahu tak ada yang salah atau benar dari pilihan itu yang ada hanyalah konsekuensi dari pilihan itu. Saya memilih untuk pergi dari Pasuruan, tak sedikit yang menyayangkan keputusan saya. Bertanya mengapa tiba-tiba? Pun banyak juga yang mendukung keputusan saya, dengan embel-embel dengan tetap keep contact dengan mereka.
Tentu saja, mereka bukan hanya teman bagi saya, mereka adalah saudara terbaik saya.
Kini setelah enam tahun berlalu, saya percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya percaya Tuhan pasti memiliki rencana dengan setiap apa yang terjadi pada saya. Saya selalu percaya ketika saya pergi, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk ia yang menggantikan saya. Pun sebaliknya, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk saya. 

Terima kasih untuk teman, sahabat dan kakak terhebat saya selama di Pasuruan Mbak Murti. 


Terima kasih untuk Mbak Luluk, Mister Alvon, Bro, Pak Roni, Mas Djalil, Mbak Ika, Anggi, Mbak Eka, Mbak Ketrin, Pak Erik, Pak Yudien, Pak Cosmas, Meme Siska, Semua teman-teman di Sejati Group dan CU Sanqti Jawa Timur.

Terima kasih untuk semua, kalian hebat dan luar biasa.

Terima kasih telah menjadi teman yang baik untuk saya. Terima kasih telah setia mendengar keluh saya. Terima kasih untuk tawa di setiap kesempatan.

Dan terima kasih mau menjadi teman bagi saya yang biasa. Kalian sungguh luar biasa.