Selasa, 28 April 2015

Dear Me #Tantanganmenulis no. 3

Ditulis untuk #TantanganMenulis no.3 Tuliskan sesuatu untuk dirimu 2 tahun mendatang.
Dear Me,
Ini kamu di tahun 2015, dua tahun yang lalu. Hari-hari saat kamu sedang berusaha untuk menata kepingan hatimu yang patah. Mengumpulkan keberanian untuk jatuh cinta lagi. Menepikan ego untuk memulai pertemanan lagi dengan ia yang setahun lalu sempat membuat hatimu patah.
Bagaimana 2017 mu?
Semoga benar kamu sudah jatuh cinta lagi. Berani untuk memulai, bukan untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang melemahkanmu. Bukan juga karena untuk mengusir perasaan sepimu. Hai, aku di tahun 2017 semoga kamu jatuh cinta karena memang kamu telah siap.
Salam Hangat,


Kamu, di tahun 2015.

Selasa, 31 Maret 2015

Untuk kamu wanita bermata biru, #TantanganMenulis no.7

Ditulis untuk #TantanganMenulis no 7. Tuliskan sesuatu untuk orang yang tidak kamu suka/mungkin tidak menyukaimu.

Hai, kurasa tak perlu perkenalan. Kamu mungkin lebih mengenalku daripada diriku sendiri, okay ini lucu tapi kamu tentunya memiliki sederet alasan mengapa harus membenciku. Iya kamu, yang begitu membenciku.
Sebenarnya tidak ada yang perlu aku jelaskan, tapi kurasa kamu harus tahu beberapa hal. Ya, bisa saja aku menghubungimu dan membicarakan hal ini secara langsung. Tetapi, aku sudah terlalu capek untuk sekedar basa-basi denganmu.
Aku sengaja menulis ini, karena aku tahu kamu pasti membacanya. Bukankah kamu gemar mencari tahu tentang apa yang terjadi padaku di semua akun social mediaku? :D tak perlu kaget, soal beginian aku sudah terlampau paham. Apalagi yang melakukan ini adalah kamu. Yang sejak awal begitu membenciku.
Aku menghargai pendapat kamu bahwa sahabatan beda jenis itu bullshit. Ya, meski aku mau ngomong sampai berbusa kalau kamu dasarnya enggak percaya ya percuma kan? Tapi tak ada masalah kan kalau aku sekali lagi mengatakan sama kamu, bahwa aku memiliki garis yang jelas antara teman dan cinta. Antara demen dan teman. Jadi kalau kamu berpikir aku naksir pacar kamu, maaf kamu salah besar.
Aku menghargai cemburu kamu, ketakutan kamu. Maka dari itu aku memutuskan buat menepi. Aku stop enggak komunikasi sama pacar kamu lagi, yang sebanarnya bagiku lumayan berat. Dia teman terbaikku, tapi karena aku peduli aku rela kok enggak berteman lagi sama dia. Ah, semoga hal ini cukup membuatmu bahagia.
Aku melakukan ini bukan karena aku mau mengamini tuduhan kamu. Aku Cuma terlalu sayang sama diriku, kalau kelamaan nanggepin drama kamu akunya jadi kurus :D karena untuk kembali haha..hihi..itu enggak semudah yang kamu kira.
Satu lagi pacar kamu bukanlah sumber kebahagiaanku meski kita berteman baik. Jadi, ketika dia enggak ada aku masih mampu berdiri tegar tolong garis bawahi hal itu :D


Salam;

Ayu yang super ngeselin.

NB : Thanks Mput untuk chit-chat malamnya :D




Tim Ransel.

Aku suka jalan-jalan. Bukan yang ngemall, bukan yang harus ke tempat wisata yang seperti Jatim Park dan sejenisnya. Aku suka jalan-jalan, mencoba hal baru, mencari sisi lain dari kota yang aku kunjungi. Jalan-jalan kemiskinan biasa aku menyebutnya.
Aku suka jalan-jalan. Mengunjungi museum, mengunjungi tempat yang jarang terekam media. Dan aku menemukan teman itu, adalah Aku, Wigi, Bunga, Aisyah, Mia, Yunus, Iim, Dimas, Eko dan terakhir Yanti. Kami menjuluki diri sebagai ‘Tim Ransel’ banyak hal yang terekam oleh kami, mulai berkunjung ke Tanjung Papuma dengan naik kereta, yang menurut sebagian orang tidak mungkin dilakukan dengan naik kerata tapi kami dapat mewujudkannya. Mencoba mengeksplore pantai di wilayah selatan kabupaten malang. Terakhir kami mengunjungi Surabaya. Tak selalu dengan personil lengkap sih, kadang ada juga yang absen tidak bisa ikut. Tapi tak jadi halangan kami untuk tetap jalan-jalan.
Aku dan Wigi yang sering berduet, nah kalau kami yang jalan bareng jangan ditanya tujuan kami. Tempat-tempat yang out of the box buat jalan dan menghabiskan hari minggu adalah incaran kami. Hampir semua Museum di Malang kami kunjungi, dari Museum berbayar sampai yang free. Dari sekedar jalan dan nyari spot kece buat foto pernah kita lakoni. Jalan-jalan ke Blitar dan hampir nyasar pun pernah. Mengunjungi dua candi dalam satu hari pun pernah. Karena bahagia tak harus mewah, itu saja.
Aku bahagia bisa bertemu mereka, membuat cerita tentang Tim Ransel. Tak jarang di sela kami menikmati perjalanan terselip cita-cita, impian gila kami. Bukankah sukses berawal dari mimpi gila.
Saat aku menulis ini, group Whatsapp Ransel sedang heboh dengan rencana ke Banyu Anjlok. Ah, suatu saat ransel kita tak hanya sampai si sekitaran Malang, Pulau Jawa atau Indonesia. Tapi sampai keliling dunia.
Kalian percaya kan? Jadi akan kemana kita?


Malang, 31 Maret 2015. 

Senin, 23 Maret 2015

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover.

Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan.
Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan*
Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya.
Dia SMS.
D, Aku telpon ya?
Iya dia memanggil saya D, alias Dudul. *muntah*
Maka setelah saya mengiyakan, W telpon.
Dan Jeng-jeng...
Ada suara petikan gitar, dan...W menyanyi. Dia menyanyikan lagunya Kahitna yang judulnya 'Enggak Ngerti'. Oh, seketika muka saya memerah. Malu. Padahal dia menyanyikannya tidak sambil menatap saya.
Saya marah, dia? cengengesan. Ketawa-ketiwi. Padahal suaranya enggak ada bagus-bagusnya, hfft. Tapi sampai sekarang setiap kali dengar lagunya Kahitna yang 'Enggak Ngerti' otomatis saya teringat dia. Lucu ya? dan secara otomatis saya ingat jaman W ngejar-ngejar saya, dan betapa saya kelimpungan menghindarinya.
Jadi kalau ditanya apakah dinyanyikan membuat saya jatuh cinta? sekali lagi tidak, tetapi untuk membuat saya tidak lupa pernah dicintai dengan begitu besar mungkin jawabannya iya.


Malang, 23 Maret 2015.
Di meja kantor ditemani lagu-lagunya Kahitna dan secuil ingatan tentangmu.

Senin, 02 Maret 2015

My Iced Coffee Man (Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.)

Ditulis untuk Tantangan Menulis dari @Kopilovie dan @Miss_ZP . Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.

Teruntuk kamu, yang selama dua tahun menemaniku dan yang sepuluh bulan ini berusaha kubiasakan diri tanpa rutinitas tentangmu. Kamu tahu sejak mengenalku, menulis adalah caraku membebaskan penat, maka malam ini aku ingin menulis tentangmu.
Hai, jika kamu tanpa sengaja membaca tulisan ini sungguh aku tidak sedang mengharap apa-apa. Jangan berpikir tentang kita yang dapat memulai dari awal, bukankah dulu kamu sering bilang tidak akan pernah ada kata balikan dalam hidupmu kurasa aku akan mengamini apa yang menjadi prinsipmu itu.
Aku hanya sedang bercerita, anggap saja aku sedang meracau. Kamu tahu ini adalah cerita yang selalu ingin aku katakan sejak kita tak bersama lagi. Sejak ucapan selamat pagimu tak lagi kutemui, sejak ucapan semangatmu saat aku mulai mengadu tak lagi kudengar, sejak semua tak lagi sama.
Aku tinggal di Malang sekarang, ah betapa dulu hal ini sangat kita impikan. Tentang kita yang tak lagi berjarak. Tentang kita yang kalau ingin bertemu tak harus bersabar menunggu hari sabtu. Kurasa kamu pun tahu aku sudah di Malang sejak awal September tahun lalu. Dan lihat, semesta pun sepertinya sepakat tak membuat kita bertemu.
Kamu tahu, terkadang dan sering kali aku sengaja datang ke tempat yang dulu sering kita kunjungi, berharap ‘kebetulan’ mempertemukan kita. Tapi sekali lagi, semesta sepakat untuk tidak mengamini keinginan sederhanaku. Ah, seharusnya bisa saja aku menelponmu meminta untuk kita bertemu. Tapi kamu tahu, kadang egoku terlalu tinggi untuk sekedar bertanya kabar padamu.
Seharusnya tak jadi masalah kan?
Tetapi aku memilih untuk tidak memenangkan hatiku. Egoku menang, dan aku limpung.
Kalau kamu tanya untuk apa ada pertemuan setelah perpisahan yang kita pilih? Entahlah, aku hanya ingin mengatakn padamu bahwa aku baik-baik saja. Aku ingin kamu melihatku dengan pipi tembemku sekarang. Ah, pasti ini kamu anggap lucu. Tapi sungguh, aku ingin kamu tahu bahwa aku baik-baik saja.
Tetapi semesta tak pernah menginginkan kita bertemu, meski hanya ‘kebetulan’.
Aku pikir setelah pertemuan terakhir kita, setelah perbincangan lama kita yang lebih sering kugunakan untuk menghapus air mata yang hampir tumpah setiap kali aku memulai untuk berbicara. Setelah kamu mengantarku ke kos, setelah kamu menyerahkan choco ice blanded yang kuminum dengan tangis yang sejadi-jadinya malam itu aku dapat melupakanmu. Ternyata aku salah; kamu tak secepat itu pergi dari ingatanku.
Setelah aku membaca postinganmu di socmedmu tentang wanita lain itu, dan yang membuatku menangis seharian aku berharap dapat melupakanmu. Tapi ternyata aku salah.
Setelah aku berkali-kali mencoba untuk menerima ajakan lelaki lain, menerima ajakan mereka untuk minum kopi, nonton atau mencoba makan di kafe baru. Aku sadar, setiap kali aku melakukan hal-hal yang sering kita lakukan bersama dan sedang kucoba kulakukan dengan orang lain yang terlintas di benakku adalah kamu. Kamu tahu, sering kali aku menangisi hal ini. Mengapa aku tak bisa melupakanmu?
Menagapa aku sulit intuk merelakan kepergianmu? Mungkin benar ada beberapa hal yang belum sempat kita selesaikan.
Dan aku tahu dua tahun, bukanlah waktu yang singkat.
Jika semesta ternyata mengaminkan doa-doaku tentang satu kebetulan yang aku harapkan. Maka ijinkan aku mengucapkan terima kasih;
Terima kasih telah menemaniku selama dua tahun;
Terima kasih telah bersabar dengan segala runtuk dan keluhku,
Terima kasih telah merelakan kepergianku.
Dan
Terima kasih telah membuatku merasa dicintai.

Malang, 1 Maret 2015.

Kamis, 26 Februari 2015

PLUVIOPHILE

Aku selalu menyukai aroma hujan; maka aku berniat mengemasnya dalam botol kaca ini. Botol kaca yang seminggu lalu masih penuh dengan selai coklat kacang kegemaranmu; dan boleh aku masih menyebutnya sebagai kegemaran kita?
Katamu hujan adalah kenangan tentangku, sebenarnya salah. Hujan adalah tentang kamu, yang kucintai tapi tak pernah sanggup aku miliki. Nyaliku sebesar biji sawi, kecil untuk sekedar mengucap bahwa aku pun mencintaimu sama besar atau mungkin lebih besar daripada cinta yang kamu berikan padaku.
Aku menggenggam botol kaca ini, memandangnya dengan tatapan dalam seakan aku melihat deretan drama satu babak yang menceritakan tentang kita. Bukan kita tetapi kamu. Selai coklat kacang yang dioleskan di selembar roti tawar dan satu cangkir kopi tanpa gula, adalah menu sarapan favoritemu. Pagimu tak pernah lewat dari menu itu. Dan tentu saja ada aku yang bercerita tentang banyak hal menemanimu di sudut pantri. Rutinitas pagi, yang oleh mereka sebut sebagai kencan. Aku tak pernah peduli, pun kamu. Kita tak perlu menyepakati banyak hal, mungkin ini yang dibilang cocok.
Aku meletakkan botol kaca itu, memandang ke arah jendela. Sepertinya angin turut serta di hujan sore kali ini, airnya tampias di kaca dan membuatnya mengembun. Tanganku reflek menuliskan namamu, dan sunyi sukses membuat bulir bening menetes dari mataku.
“Kamu tahu, ada tiga keajaiban tentang hujan.”Katamu, saat aku menemanimu menikamati roti selai coklat kacang kegemaranmu. Rutinitas entah yang keberapa.
“Apa?”
“Pertama, ketika hujan pertama menetes tepat di hidungmu itu artinya orang yang kamu rindukan juga merindukanmu. Kedua, hujan adalah nyayian orang yang merindu. Dan yang ketiga keajaiban yang paling luar biasa...” kamu memelankan suaramu, lalu mendekat ke telingaku;
“Hujan dapat memunculkan orang yang kita cintai.”
Aku menutup mulutku, kaget. Dan kamu tersenyum.
Aku melihat ke arah jendela, jalanan di depan kafe ini sudah tak lagi tampak; hanya putih. Aku menyipitkan mataku, memastikan yang kulihat tak salah. Ada kamu berdiri di seberang jalan, kepalamu ditutup dengan tudung jaketmu. Selalu saja, tak pernah memakai payung. Oh, sepertinya aku melupakan satu hal, katamu hujan deras adalah waktu terbaik untuk bermain-main dengan hujan. Kurasa itu alasanmu berdiri di sana, hujan deras dan tanpa payung.
Aku berdiri, meninggalkan kafe ini. Sebelumnya aku meniggalkan selembar uang seratus ribuan di meja tempat aku menghabiskan waktu tiga jam. Aku keluar dari Kafe. Hujan menerpa sebagian tubuhku, aku melihatmu tersenyum. Melambaikan tangan, lalu melepas tudung jaketmu. Sekarang aku dapat melihat wajahmu. Aku tahu kamu sedang menantangku untuk bermain-main dengan hujan.
Aku meletakkan botol kaca bekas selai coklat kacang kegemaranmu di sisi jalan, aku merentangkan tanganku. Aku menengadahkan wajah, hujan menusuk-nusuk wajahku. Aku tertawa. Aku melihatmu pun melakukan hal yang sama, tertawa dan berputar-putar di tengah jalan yang memang sepi. Aku berjalan ke arahmu, berniat menggapai tanganmu. Aku ingin menari bersamamu, atau lebih tepatnya memelukmu di hujan yang lebat ini.
Hingga sesuatu menabrakku, tubuhku terpental dan aku melihat bayanganmu menjauh. Samar aku mendengarmu berkata;
“Kita lanjutkan nanti.”
Aku mengangguk, setuju. Ah, seharusnya kamu pun tahu banyak hal yang kita sepakati tanpa perlu diucapkan.
Aku samar mendengar, orang menjerit. Teriakan minta tolong dan derap langkah yang mendekatiku, mengurumuniku. Mereka semakin ramai memanggilku. Dan aku merasa gelap.
“Apa itu berarti aku mencintaimu? Aku melihatmu saat hujan.” Tanyaku.
Kamu mengangguk, lalu meraih tanganku dan menuntunku untuk meninggalkan tubuhku yang dikerumuni banyak orang.


Malang, 25 Februari 2015.

Jumat, 20 Februari 2015

Menertawakan Patah Hati

Mari kita tertawa.
Menertawakan tentang hal yang pernah kita anggap menyedihkan.
Tentang cinta yang tak berestu, tentang rindu yang tak bertuan, atau tentang mimpi yang mengabu.
Mari kita tertawa.
Menertawakan hal-hal yang pernah membuat kita makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Tentang kita yang pernah saling mencintai, lalu membiasakan diri menganggap tak saling mengenal.
Tentang kita yang berada pada satu linimasa dan tak bertegur sapa.
Tentang kita yang berada pada bumi yang sama dan saling mendiamkan.
Tentang kita yang saling merapal rindu tapi tak kuasa menyampaikan.
Bukan tak ingin;
Kita tak pernah sanggup, menentang semesta yang menginginkan kita tiada.
Kita tak pernah sanggup, untuk benar-benar baik saja.
Aku mencintaimu, pun kamu.
Tapi semesta tak pernah menginginkan kita ada.



Malang, 20 Februari 2015.