Minggu, 12 Februari 2017

Lost in Malang, Malam Minggu Receh Jalan Kaki Keliling Kota Malang

Siapa sih yang enggak suka malam minggu? Apalagi para pekerja yang sabtunya harus kerja. Malam minggu itu semacam angin surga, bisa pulang kerja lebih awal dan sore hingga malam bisa ngapain aja. Tidur malam pun tidak masalah, karena besok hari minggu dan libur. Maka malam minggu kemarin saya memutuskan ikut acara yang diadakan A Day To Walk. Jalan-jalan hore di malam hari sepertinya tidak ada salahnya menjadi pilihan saya malam itu.

Sejak siang saya diribetkan dengan urusan event di komunitas, sempat ketemu teman lama juga dan hampir menjelang malam baru kelar semua urusan. Muka sudah kucel dan badan sudah remuk sebenarnya. Acara A Day To Walk sebenarnya dimulai pukul setengah tujuh, lah ini pukul tujuh telat banget ya seandainya saya nekat untuk gabung. Iseng lewat meeting point, sekalian mau oper angkot dan ternyata masih ramai. Well, akhirnya saya ikut bergabung. 

Ternyata malam itu banyak juga yang datang. Saya sempat ber’hai’ dengan salah satu peserta. Ngobrol sebentar dan kenalan. Asiknya ikut acara beginian membuat saya bertemu teman baru. Setelah berdoa dan dijelaskan rute jalan hari ini, rombongan langsung bergerak ke Alun-Alun.

Ternyata salah satu peserta ada Tomi dan Alfin. Ya elah, mereka lagi. Ujung-ujungnya saya jalan juga dengan mereka. Rute jalan-jalan berikutnya adalah Night Market yang berada di belakang Pasar Besar. Nah, setelah sampai di Night Market inilah muncul ide laknat saya.

“Pisah jalan yuk....”

Dan benar saja, saat rombongan melanjutkan jalan saya, Alfin dan Tomi malah memutuskan berhenti di Ronde Titoni nyemil Angsle. Sebenarnya saya penasaran wujud ronde itu seperti apa, tapi karena sejak seminggu lebih pengen angsle maka saya memilih memesan angsle. Yeay, akhirnya makan Angsle.

Angsle di Titoni, sukaaak XD | Foto by: Tomi

Ini adalah pengalaman pertama saya makan Angsle di Ronde Titoni. Pernah sih makan tapi biasanya dibungkusin sama teman. Dan ternyata makan di tempat lebih enak daripada dibungkus. Ih, kesel. Setelah menghabiskan satu mangkok angsle kami melanjutkan perjalanan ke arah Pasar Besar, dengan asumsi bakal bertemu rombongan di sana. Ternyata enggak ketemu. Hahaha.

Dari Pasar Besar kami menuju Jalan Zainal Arifin, belakang Ramayana. Akhirnya saya tahu di mana Es Tawon berada, akhirnya besok-besok saya bakal nge-es hore di sana. Meskipun besoknya enggak tahu kapan. Sepanjang perjalanan saya lebih banyak mendengar dongeng dari Tomi dan Alfin. Dan bahagianya saya tahu beberapa kuliner malam sebagai referensi makan malam.Ya, agar malam saya lebih berfaedah dari sekadar nasi lalapan atau nasi goreng. Kami melanjutkan perjalanan hinggal Bok Glodok, sempat wefie juga di sana. Lewat depan Stasiun dan duduk bego di depan Balai Kota berharap bertemu dengan rombongan.

Akhirnya kami memutuskan memotong jalan, lewat jalan majapahit kembali ke Dilo, meeting point awal. Sempat tergoda ingin membeli nasi goreng tapi batal karena kaki sudah nyut-nyutan dan muka sudah mirip zombi karena seharian jalan. Saat mau menyebrang ke Dilo kami bertemu dengan rombongan, haha. Akhirnya memutuskan untuk sok hore berkumpul dengan rombongan yang sedang mendengarkan dengan khidmat penjelasan pemimpin rombongan soal Bioskop Merdeka yang tinggal reruntuhannya saja . Kami juga sempat foto bareng dengan rombongan. Dan salah satu kenalan nyeletuk,

“Loh, kalian tadi kemana? Kok enggak keliatan?”

“Ada kok, tadi kami jalannya pelan-pelan”

Saya tahu dia enggak percaya, tapi masa bodoh kali ya? Hahaha.

Tim Ngehe yang nyempil dari Rombongan, abaikan muka kucelku :( | Foto by: Tomi

Dan akhirnya malam itu kesampaian juga wefie di atas jembatan penyebrangan depan Dilo. Iya, saya bahagianya receh. Jadi kapan jalan-jalan lagi? Maumu yu ~

Rabu, 08 Februari 2017

Berjumpa Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-Kata

Akhirnya Istirahatlah Kata-Kata di Mandala 21, Malang | Foto by: Iwan Tantomi

Akhirnya setelah menunggu 2 minggu lebih, saya berhasil menonton film yang penayangannya sudah saya tunggu sejak tahun lalu. Sempat kesal, karena Malang termasuk kota yang tidak menayangkan Istirahatlah Kata-Kata. Beruntung Melati, yang mengkoordinir teman-teman di Malang untuk nobar Wiji Thukul berhasil menghadirkan Wiji Thukul di Bioskop kota Malang. Tidak main-main sekitar 700 orang lebih nobar Istirahatlah Kata-Kata tanggal 2 Februari kemarin. Angka yang fantastis, total 5 studia full booked pada tanggal tersebut. Hebat ya? Iya dong :3 Melihat antusiasme Arek Malang akhirnya Mandala 21 menayangkan secara reguler Istirahatlah Kata-Kata sejak tanggal 30 Januari 2017 *tepuk tangan*

Istirahatlah Kata-Kata bercerita tentang pelarian Wiji Thukul. Seperti dugaan saya, film ini banyak menceritakan tentang pelariannya. Film yang tanpa banyak cakap, tapi saya mampu menangkap kengerian dan rasa getir hidup sebagai ‘buron’. Sepanjang film saya merasakan kegetiran yang sangat. Tidak hanya itu, beberapa puisi Wiji Thukul yang dibacakan membuat saya merasakan kegetiran rezim kala itu. Yang kata Wiji Thukul, rezim yang takut dengan kata-kata.

Tidak hanya tentang kegetiran kehidupan Wiji Thukul saja yang ingin disampaikan dalam film ini. Ada juga sisi romantis seorang Thukul. Adalah Thukul yang membelikan Sipon celana, yang ia bawa pulang ke Solo. Tidak hanya sekadar membelikan celana saja, Wiji Thukul pun mencuci celana tersebut sebelum ia bawa pulang. Di situ saya melihat, ya Wiji Thukul pun seorang manusia biasa. Merasa mencintai dan dicintai, membuatnya seperti manusia pada umumnya. Entah, romantisme Wiji Thukul dan Sipon hingga kini membuat saya termenung. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk membahasakan cintanya.

Di penghujung cerita, Sipon yang sempat berteriak marah kepada salah satu tetangganya ‘Aku guduk lonte..’ yang artinya ‘Aku bukan pelacur...’hanya karena Sipon sempat dilihat tetangganya tersebut masuk ke sebuah penginapan untuk menemui Wiji Thukul. Betapa ya, masalah steriotipe itu lekat dengan wanita. Hanya karena Wiji Thukul tidak bersama dengan Sipon sepanjang waktu, seperti menjadi pembenaran bahwa Sipon layak direndahkan.

Pelarian tidak pernah baik-baik saja. Pelarian selalu meninggalkan ‘luka’. Saya memang tidak pernah tahu bagaimana sejarah Wiji Thukul. Saya hanya membaca beberapa kali namanya, tanpa tertarik untuk mencari tahu. Hingga kemarin Kompas Gramedia menerbitkan Seri  Tempo salah satunya mengulas tentang Wiji Thukul. Saya membacanya dan tertegun, jika Wiji Thukul begitu ditakuti oleh rezim kala itu. Dari situlah saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Wiji Thukul. Saya jadi tahu jika kasus 27 Juli 1996 pun dikaitkan dengannya. Kenyataan yang seringkali membuat saya kesal saat membaca buku sejarah dan mengetahui tanggal lahir saya bersamaan dengan sejarah gelap negeri ini.

Saya menyukai film ini, saya menikmati film ini. Film yang menyajikan sisi humanis seorang Wiji Thukul. Saya berharap ketika film berakhir, ketika Wiji Thukul yang menawari Sipon untuk minum air putih lagi itu akan kembali. Saya berharap, Wiji Thukul kembali membawakan segelas air putih untuk menenangkan tangis Sipon. Tapi ternyata tidak. Ia tidak kembali menemui Sipon. Di situ saya mulai merasa ngilu, kehilangan tidak pernah ada yang baik-baik saja. Tapi saya tahu Sipon hingga hari ini masih percaya Wiji Thukul pasti kembali.

Ada satu kutipan yang paling saya sukai dari film Istirahatlah Kata-Kata ini, yaitu ucapan Sipon kepada Wiji Thukul;

Aku ora pengen kowe lungo, nanging aku yo ora pengen kowe moleh. Sing tak pengeni kowe ono.

Dan akhirnya terima kasih untuk Yosef Anggi Noen yang membuat film ini menjadi luar biasa. Terima kasih.

Selasa, 07 Februari 2017

Berlibur ke Malang Selama 24 Jam? Berikut Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi

Kota Malang memang penuh daya tarik maka tidak heran jika setiap hari selalu saja wisatawan yang datang untuk berkunjung ke kota ini. Malang memang berbeda, meskipun di beberapa tempat mulai macet tidak mengurungkan niat pecintanya untuk berkunjung. Jika kamu berniat berkunjung ke kota Malang hanya sehari, itenary ini bisa menjadi pertimbangan buatmu. Yuk, mari!

06.00 – 07.30, Jalan Kawi

Mengisi perut dengan sajian khas kota Malang bisa menjadi alternatif buat kamu. Salah satu yang khas dari kota Malang adalah Pecel Kawi, yang berada di Jalan Kawi. Jika kamu tidak seberapa suka Pecel, di sepanjang jalan Kawi banyak kuliner lainnya. Lokasinya pun masih satu tempat dengan Pecel Kawi, ada Nasi Buk Madura, Widuri yang menyediakan masakan campur, dan Nasi Krawu.

08.00-10.00, Alun-Alun

Puas dengan sarapan khas kota Malang. Kamu bisa mencari angkot LG menuju arah pusat kota. Ada Alun-alun, dan Tugu 0 kilometer di bawah jembatan penyebrangan. Tidak perlu khawatir, di alun-alun ini kamu bisa berfoto dengan pemandangan yang instragramable. Serunya, ada bangunan masjid dan gereja yang di bangun bersebelahan. Nah, ini membuktikan bahwa kota Malang menjunjung tinggi toleransi umat beragama.

10.00-11.00, Toko Oen

Setelah berkeliling sekitar Alun-Alun tidak ada salahnya jika kamu mencicipi es krim paling legendaris di Kota Malang, Toko Oen. Letaknya bersebrangan dengan Sarinah dan berada di sebelah persis Toko Buku Gramedia. Sambil menikmati es krim yang lumer di mulut ini, kamu bisa beristirahat. Harga untuk es krimnya mulai 50k.

11.00-12.00, Kayutangan

Setelah dari Toko Oen, kamu bisa melanjutkan perjalanan napak tilas sepanjang Kayutangan. Di sepanjang jalan ini banyak bangunan tua. Kamu harus mencoba berkunjung ke Toko Kue Hawai. Jika kamu beruntung maka pemiliknya akan mengijinkanmu untuk melihat proses pembuatan kuenya. Selain Toko Kue Hawai, ada Taman Tembakau yang menjual berbagai macam cerutu. Tempat ini bisa menjadi surga bagi penggemar cerutu.

12.00 – 14.30, Inggil dan Museum Malang Tempo Dulu

Kamu dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Untuk menuju ke tujuan ini kamu dapat menggunakan angkot AL dan ADL. Jaraknya tidak terlalu jauh, jika kamu masih kuat berjalan kamu dapat berjalan kaki. Sepanjang jalan menuju Rumah Makan Inggil dan Museum Malang Tempo Dulu (MTD) kamu dapat melihat pemandangan yang lumayan asik. Ada Splindid, Alun-Alun Tugu yang asik buat foto. Rumah Makan Inggil dan Museum MTD ini terletak di jalan Gajah Mada, belakang Gedung Balai Kota. Lokasinya bersebelahan. Untuk tiket masuk ke Museum MTD 15k untuk dewasa dan 5k untuk anak-anak. Setelah puas jalan-jalan mengelilingi Museum kamu dapat mampir ke Rumah Makan Inggil untuk menikmati sajian makan siang. Masakannya enak dan bakal memanjakan lidah kamu.

15.00 – 16.00 Ngopi di Legi Pait

Tempat ngopi yang wajib dikunjungi jika kamu jalan-jalan ke Malang. Tidak hanya menyediakan kopi, di Legi Pait juga banyak variasi minuman dari teh hingga coklat. Tidak perlu khawatir, di Legi Pait juga menyediakan makanan. Yang paling favorite di tempat ini adalah pancake nya. Hmm, rasanya enak dan yang pasti harganya tidak menguras kantong.

16.00-17.00 Tobuki

Tidak banyak yang tahu jika Malang memiliki Toko Buku yang memiliki koleksi yang lumayan banyak. Bukunya juga termasuk langka. Tobuki bukan sekadar toko buku biasa, Toko Buku ini sekaligus Rumah dari Ratna Indraswari Ibrahim salah satu penulis senior di Malang.

17.00-18.00 Bakso Bakar Pak Man

Ke Malang rasanya kurang pas jika tidak menikmati sajian bakso. Salah satu bakso paling terkenal di Malang adalah Bakso Bakar Pak Man. Letaknya tidak jauh dari Tobuki. Jadi setelah puas mencari buku langka di Tobuki kamu dapat mengisi perut di Bakso Bakar Pak Man. Senangnya makan Bakso Bakar Pak Man adalah kamu bebas mengambil soun sepuasnya. Mau menambah kuah pun tidak masalah. Perut kenyang hati pun senang.

18.30-19.30 Berburu Oleh-Oleh di Pia Mangkok Semeru

Setelah puas jalan-jalan dan mencicipi berbagai makanan khas kota Malang saatnya membeli oleh-oleh. Di Malang banyak toko oleh-oleh, bahkan ada sentra khusus pusat oleh-oleh di Sanan. Nah, salah satu toko oleh-oleh paling lengkap di Malang adalah Pia Mangkok, di jalan semeru. Di sini kamu tidak hanya dapat membeli pia mangkok khas kota Malang, tapi juga oleh-oleh lainnya. Soal harga? Kamu tidak perlu khawatir harga dan kulitas pun terjamin.

Jika masih memiliki banyak waktu di pagi hari kamu dapat mencoba naik Malang City Tour, Bus warna hijau yang akan membawa kamu jalan-jalan keliling kota Malang. Tidak ada biaya untuk naik Macito, alias gratis. Untuk naik Macito kamu dapat menunggunya di depan Balai Kota. Jadi, bagaimana sudah siap untuk jalan-jalan ke kota Malang? Untuk tempat menarik lainnya di Kota Malang kamu dapat cek postingan blog ini dengan tag #KentjanMalang. Yuk, kita ke mana?

Kamis, 19 Januari 2017

Berdebat dengan Rasa Khawatir

Tidak perlu khawatir | pic: pexels.com


“Aku pengen ikut, tapi...bla..bla..”

Yup, beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran dari seorang teman buat bareng trip ke Pulau Bawean. Ada dua kali trip yang diadakan di bulan Februari besok. Yang pertama di pertengahan bulan dan yang kedua diadakan di akhir bulan. Tanpa pikir panjang saya mengiyakan untuk ikut trip di akhir bulan, dengan pertimbangan pertengahan bulan saya ada acara yang mengharuskan saya untuk hadir. Jadi besar kemungkinan saya untuk tidak bisa ikut. Ok, malam itu saya tidur dengan bahagia. Membayangkan ngetrip ke Bawean di akhir bulan, membuat saya tidur dengan sumringah. Belum jalan saja sudah bahagia duluan, dih ini gimana sih maunya? Iya, saya mupeng dengan Pulau Nuko. Hamparan pasir putihnya pasti lucu buat ngelamun.

Masalah datang ketika saya bangun keesokan paginya. Seperti biasa saya mengecek agenda yang bakal saya lakukan selama beberapa waktu ke depan. Saat saya membalik kalender saya shock, loh tanggal 26 Februari ada acara. Panik saya menghubungi teman yang ternyata sudah nyolek agent yang bakal mengawal trip ke Pulau Bawean. Saya jelasin panjang lebar, kalau ternyata saya tidak bisa ikut ke Bawean.

Saya sudah kesel sampai mau nangis saat menceritakan padanya.

Tapi si temen dengan santai bilang, “Udah, tenang aja. Bilang jujur sama travel agennya. Kira-kira kamu daftar di akhir bulan masih sempet gak? Come on it’s easier..that your panic

Boom, rasanya ketampar. Iya aku panik duluan, bingung berasumsi. Gimana kalau begini, gimana kalau begitu. Tanpa mencoba untuk tenang dulu. Hmm, emang apa semua cewek seperti ini ya. Panik duluan, mikirnya belakangan. *Tabokin*

Akhirnya hari itu saya menghubungi travel agen. Dan bilang ini itu sesuai yang disarankan teman. Bahkan saya mencopy paste kalimat yang disarankan teman saya itu. Well, dan negosiasi itu berhasil. Si Travel Agen mau menunggu sampai akhir bulan untuk memastikan apakah saya bisa mengosongkan jadwal saya di hari trip ke Bawean di akhir bulan Februari besok.

Yeay. Senang? Tentu saja. Akhirnya siang itu saya kembali googling tentang Bawean. Sudah membayangkan bakal ngapain saja di sana. Yeah,seringkali bahagia itu datangnya tiba-tiba lalu saat sudah tinggi, seenaknya saja dihempaskan.

Malam ini saat saya menulis blog post, akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut ke Bawean. Sedih? Jelas saja. Kecewa? Sangat. Tapi bukankah pilihan selalu memiliki konsekuensi. Ke Bawean bisa kapan saja, tapi buat event Februari besok? Saya rasa tidak.

Setidaknya kemarin saya berani untuk membuang jauh rasa khawatir. Saya berani melawan rasa khawatir yang kadang terlalu menyebalkan ini. Well, apakah saya akan menyesal? Semoga tidak.
Kemudian saya whatsapp si teman.

“Aku yang ke Bawean fix enggak jadi ikut”

Malang, 19 Januari 2017.

Senin, 16 Januari 2017

Garis Akhir yang Memulai

pic sources pexels.com

Namanya Ayumi, aku biasa memanggilnya Ay. Beberapa orang menganggap Ay artinya Ayang, mereka benar tapi tidak bagi dia.

“Raka, makan siang bareng yuk,” sapa Ayumi, yang sudah berdiri di depan kubikelku.

“Di mana?”

“Soto Betawi di blok sebelah ya. Anak naga lagi ngidam Soto nih,” katanya sambil terkekeh. Aku menggeleng. Nih, cewek makannya banyak tapi tetep langsing aja. Perutnya dari apa sih?

Aku melangkah ke luar kubikel, mengikuti Ayumi yang sudah ke luar ruangan. Saat aku berniat mengambil motor, Ayumi mencegah.

“Jalan kaki aja yuk. Aku pengen jalan agak jauh,” cegahnya.

Tumben?

Kami sudah dekat sejak lama. Sejak Ayumi mulai bekerja di kantor ini. Aku adalah seniornya, sementara dia adalah juniorku. Meskipun usia kami tidak jauh berbeda.Kami dekat sejak sering ditugaskan bersama. Mulai dari monitoring ke cabang hingga meeting bersama masalah pelaporan keuangan kantor. Tugasnya sebagai Staff Accounting di perusahaan ini dan aku sebagai Internal Auditor membuatku sering bersinggungan dengannya dalam urusan pekerjaan. Dan entah sejak kapan, hati ini pun selalu ingin bersinggungan. Cewek yang hobi makan, jalan dan difoto ini membuatku rela mengesampingkan pekerjaan demi menemaninya. Seperti siang ini makan soto betawi, padahal deadline dari Pak Eko sudah menunggu.

“Raka, kamu pernah patah hati?” tanya Ayumi tiba-tiba.

Aku tersedak. Nih, cewek kenapa lagi?

“Hmm, pernah lah. Kenapa?”

“Enggak papa,” ucapnya. Lalu kembali terdiam, menghabiskan soto betawinya dalam diam.

Aku tidak berani bertanya lagi. Aku ikut diam. Bahkan setelah menghabiskan soto betawi.

“Ka, gak usah balik ke kantor dulu ya,” katanya saat melihat aku menyingkirkan mangkok soto betawi yang sudah kosong. Aku hanya mengangguk, mengamini.

“Ka, patah hati itu sakit banget ya?,” katanya, sambil menerawang ke arah luar warung soto betawi. Aku yang sejak tadi hanya diam, sambil membaca email di handphone terkejut. Nih, anak sebenarnya kenapa sih.

“Kamu kenapa Ay?” akhirnya aku bertanya.

“Kamu masih ingat Lie kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. Ayumi, bagaimana aku lupa dengan laki-laki yang kamu ceritakan sepanjang waktu itu. Bagaimana aku lupa, bahwa kamu mencintainya dan sepertinya tidak akan pernah memberikan  kesempatan bagi laki-laki lain untuk mendapatkan cinta yang sama darimu seperti dia? Ayolah Ayumi, kamu masih ragu dengan pengetahuanku tentangmu?

“Kenapa dengan dia?”

“Semalam akhirya kami putus.”

Aku tahu, saat ia mengucapkan kalimat itu ia menangis. Titik bening itu meluncur dari sudut matanya. Tapi, bolehkah Ayumi aku bersorak hore sekarang? Menari di depanmu mungkin. Tapi urung aku lakukan, maka yang terucap adalah, “Ay...”

“Kami putus, Ka..dan rasanya sakit sekali,” katanya sembari memegang dadanya. Sorak yang ingin kurayakan tadi urung kulakukan.

Aku terdiam. Melihat Ayumi menangis cukup membuatku berantakan.

Ayumi mengambil tisu. Menghapus sisa air matanya. Ia mengajakku kembali ke kantor, dan sepanjang perjalanan kami hanya diam. Ia sibuk dengan pemikirannya begitu juga denganku.

Hari ini sudah seminggu sejak makan siang kami yang berujung saling diam. Tak kudengar Ayumi heboh di kubikelnya. Ayumi menjadi pendiam, dan itu bencana bagiku. Aku lebih bahagia menemani dia makan dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain. Menemaninya nonton film drama di bioskop, padahal aku membenci genre film itu. Menurutinya hunting foto di sepanjang Splindid atau sekadar duduk di trotoar di Jalan Ijen. Menemani kegilaannya, dan aku melakukannya tanpa beban.
Melihatnya sekusut ini membuatku berantakan.

“Ka, si Ayumi kenapa? Seminggu ini kelihatan berantakan sekali. Diem muluk di kubikel. Kalian lagi bertengkar ya?” berondong Puput.

Aku menggeleng,  “Enggak, kok.”

“Kok kalian aneh, biasanya sama-sama ini kok jalan sendiri-sendiri. Kamu nembak dia terus kamu ditolak ya?”

Aku memandang kesal ke arah Puput. “Kamu kalau enggak bisa diam, jangan salahkan kalau report kamu aku tolak semua loh.”

Puput nyengir mendengar ancamanku, lalu berlalu dari kubikelku. Tak urung ucapan Puput membuatku melihat ke arah Ayumi. Ia tampak berantakan, berusaha memenuhi mejanya dengan penuh dokumen. Aku tahu, ia hanya ingin membunuh waktu.

Saat pulang kerja, aku melihat Ayumi berjalan terburu-buru meninggalkan ruangan. Aku setengah berlari mengejarnya.

“Ay...” teriakku, saat melihat Ayumi akan keluar dari gedung kantor kami.

Ayumi reflek berhenti. Menunggu aku menghampirinya.

“Ada apa?”

“Aku antar pulang yuk..” ajakku.

“Tapi...” Dia melihat ke arah luar. Di depannya berdiri seseorang yang tidak pernah aku temui.

“Oh..” aku berusaha paham.

“Farhan sini, kenalkan ini Raka.”

Laki-laki yang dipanggil Farhan itu mengulurkan tangan ke arahku. Lalu kusambut dengan hangat.

“Farhan.”

“Raka.”

Dan aku tahu. Laki-laki itu bukan seseorang yang biasa. Aku melambai pelan saat Ayumi berlalu dariku. Aku memandang ngilu ke arah mereka. Farhan? Siapa lagi dia. Ayolah, Ayumi setelah Lie pergi pun aku harus bersaing dengan laki-laki lain lagi. Kapan kamu memberi kesempatan itu padaku?

Sore ini aku sadar. Seharusnya aku lebih jujur, jika aku selalu berharap lebih kepada Ayumi. Semoga belum terlambat.

Minggu, 15 Januari 2017

Patah Hati Terindah ala La La Land

La La Land | Source: Youtube

Saya tidak pernah mereview film. Jadi kalau review film ini masuk di blog, sudah pasti film ini istimewa.

Jadi 13 Januari kemarin saya berkesempatan buat nonton La La Land, satu film yang heboh di dunia karena berhasil menyabet beberapa nominasi di Golden Globe. Ok, saya orangnya tidak terlalu mengerti standar penilaian Golden Globe yang saya ingat rata-rata film yang sukses di Festival Penghargaan seperti ini, selalu membuat saya untuk berpikir ‘ini film maunya apa sih?’ Lalu apa sebenarnya yang membuat saya ingin sekali menonton La La Land? Hingga membuat saya sempat merasakan patah hati karena hanya diputar mid night di Bioskop langganan.

Pesona Ryan Goseling? Hoho, tidak saya bukan penggemar si pemilik mata sayu itu. Arus timeline yang heboh membicarakan film ini? Juga bukan. Hahaha, saya ngebet nonton film ini karena ada Emma Stone. Yup, saya jatuh hati dengan mbak ini sejak doi bermain di Amazing Spiderman 2, huehehehe. Dan saya yakin OOTD si Emma akan membuat saya bertahan di bioskop, meskipun mungkin ceritanya tidak menarik.

Sempat googling ternyata film ini bergenre musikal. Ok, saya bukan pecinta film dengan genre seperti ini. Membayangkan Emma tiba-tiba joget hore membuat saya sedikit sangsi, tapi mengapa gak dicoba? Well, akhirnya sejak tahu La La land bakal diputar regular di Bioskop kesayangan, akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya. Seharian saya mendengarkan ost La La Land di Spotify, dan saya SUKA. Ok, awal yang baik.

Pukul 18.20 film mulai diputar, agak kesal karena si teman datang agak terlambat *jitakin* Masuk studio, film sudah mulai diputar. Di awal film sudah dikasih adegan orang berkumpul, bernyanyi dan joget di tengah kemacetan. Sabar Ayu. Dan, oh...ini adalah adegan awal Emma dan Gosling bertemu. Emma sebagai Mia dan Gosling sebagai Sebastian.

Mia adalah seorang penjaga kafe yang mempunyai mimpi ingin menjadi artis. Sedangkan Sebastian adalah seorang pria biasa yang memiliki mimpi membangun klub yang memainkan musik jazz yang sebenarnya. Ok, jangan tanya saya musik jazz sebenarnya ini seperti apa. Mereka bertemu, bercerita tentang mimpi masing-masing dan saling jatuh cinta. Lalu apakah impian Mia dan Sebastian terwujud? Well, soal ini kamu lihat sendiri saja ya. Takutnya spoiler.

Yang membuat saya menikmati film ini adalah musik yang pas, dan asli tidak ada missing plot sama sekali. Dan warna pakaian yang dipakai para penarinya adalah warna ceria, sehingga memberi kesan film ini ceria dan menyenangkan. Dan sumpah baju yang dipakai Emma Stone bagus semua. Duh, mbak ini ><

Kalau ditanya apa adegan favorit di La La Land? Semuanya, bahkan saat Mia bertemu dengan keluarga pacarnya saja saya suka. Dan sungguh adegan ini membuat saya ngakak. Dan adegan di Bioskop membuat saya ingat jaman PDKT sama pacar eh apa mantan ya? Malu-malu pegang tangan, salut adegan seperti itu aja bisa dieksekusi dengan baik dan membuat yang melihatnya tersipu malu. Ada juga adegan sewaktu di Planetarium, membuat saya kembali teringat dengan Petualangan Sherina. Hahaha, mungkin La La Land adalah Petualangan Sherina versi dewasa ((Dewasa)).

Dan dari semua adegan favorite di atas, ada bagian dari La La Land yang menjadi best scene versi saya yaitu saat Sebastian ngobrol bersama Mia di depan Planetarium, setelah menemani Mia casting. Adegan itu sampai sekarang masih suka mengganggu saya. Well, mengutip kata-kata dari Ika Natassa ‘Menerima itu hal yang paling susah untuk kita lakukan dalam hidup.’

La La Land adalah film pembuka di tahun 2017 yang menyenangkan. Jika kalian pikir film dengan tema mengajar mimpi berakhir klise, maka berbeda dengan La La Land. Ada  beberapa hal yang membuat film ini berbeda, terutama bagian endingnya. Mengutip apa yang saya sampaikan kepada si teman nonton,

“Setiap mimpi itu harus realistis.Dan kadangkala patah hati itu tidak selalu berakhir buruk,” ucap saya sambil mencomot Hot Chicken yang kami pesan malam itu. Terus ngomel, “Ini serius hot? Kok manis?” yha, ujung-ujungnya protes makanan juga. Hahaha.

Kamis, 12 Januari 2017

Satu Malam di Sudut Houtend Hand

Chocorado | Pic : by Kopilovie

Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan dari sepasang mantan kekasih? Mereka sering bertemu, tertawa dan berdiskusi layaknya karib tanpa peduli mereka dulu adalah sepasang kekasih. Seakan tak peduli dengan masa lalunya, mereka sering bertemu, sobekan tiket nonton tidak terhitung lagi bahkan tak terhitung berapa kali mereka bercakap berdua seperti layaknya sepasang kekasih di sudut kafe favorite mereka. 

Maka, seperti itulah kami duduk di sini. Menyesap coklat hangat yang disajikan oleh Barista di kafe langganan kami sejak 4 tahun lalu, Houtend Hand.

“Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku Koh?” tanyaku, sambil mengambil marsmellow yang ada di cangkir coklatku. Kebiasaanku saat menikmati Chocorado, minuman favoriteku saat di sini.

“Kamu serius ingin mendengarnya sekarang?” katanya sambil mencondongkan wajahnya ke arahku. Ia tahu, suara angin dan deru kendaraan cukup jelas terdengar dari lantai dua Hautend Hand. Sudut favorite kami berdua.

Aku merenggut kesal. “Kamu pikir, aku rela dijemput malam-malam begini dan duduk di sini untuk apa?, yang pasti bukan untuk mendengarkan permainan tebak katamu Koh.”

Dia tertawa. Aku merenggut kesal, melempar kentang goreng ke arahnya. Reflek dia menghindar. Lemparanku tidak berhasil mengenainya, yang membuat aku semakin kesal.

“Ya, baiklah aku akan berkata serius,” tangannya meraihku. Aku sedikit terkejut, sudah lama aku tidak pernah melihatnya seserius ini. Dan untuk apa dia menggenggam tanganku seperti ini. Tak urung, jantungku berdegub kencang.

“Aku akan menikah...”

“Me..nikah?” ulangku.

“Iya,”

“Lalu..”

Apa maksudnya ini? Dia tidak sedang akan melamarku bukan? Bukankah dia tahu hubunganku dengannya tidak akan pernah mulus. Bukankah restu itu tidak akan pernah ada. Apakah dia lupa alasan mengapa kami berpisah.

“Iya, Me. Aku akan menikah awal tahun ini. Minggu depan seluruh keluargaku akan datang melamarnya. Kamu masih ingat dengan Talita bukan? Rasanya tidak percaya aku akan menikah dengannya.”

Hatiku mencolos. Dia menikah dan itu dengan wanita lain. Bukan denganku. Hei, sadarlah Ayumi dia sudah tidak mencintaimu lagi. Bukankah kamu juga berjanji sudah move on dari Lie?
Aku tersenyum.

“Selamat ya.”

Dia tersenyum, lalu melepas genggamannya.

“Aku masih tidak percaya Me,” ulangnya.

Pertemuan ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya aku yang banyak bercerita, malam ini justru ia yang banyak bercerita. Bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk memilih Talita dan rasa-rasanya semua berjalan lebih mudah.

“Kamu masih ingat nggak Me, dengan apa yang kamu katakan dulu tentang jodoh?,”

“Apa?”

“Jika jodoh ia akan berjalan lancar dan tanpa hambatan. Jika tidak, pasti ada saja hambatannya. Kamu masih percaya dengan ungkapan itu?,” tanyanya.

Aku tertawa.

“Menurutmu?”

Ia hanya tersenyum. Di sisa pertemuan kami malam itu, aku hanya mendengarkan ia bercerita sesekali menimpali dan berusaha menyembunyikan air mata yang memaksa keluar. Entah aku merasa bahwa aku akan kehilangannya untuk selamanya.

Seperti biasa ia mengantarkanku kembali ke rumah kosku. Sebelum aku turun dari mobil dia menahanku.

“Me, kamu enggak papa kan?” tanyanya khawatir. Aku tahu dia membaca perubahan air mukaku. Sejak dulu aku sulit membohongi perasaanku padanya.

Aku menggeleng, “gak papa”

Aku melambaikan tangan dan mengucapkan hati-hati saat dia pergi meninggalkanku di depan pintu gerbang kosku. Aku melihat mobilnya yang menjauh, dan menghilang dari pandanganku. Aku menarik napas panjang. Aku merasa ada sebagian diriku yang menghilang. Sepi.

Aku meraih handphoneku. Membuka Phone Book, mencari namanya. Tanganku berhenti mencari saat namanya muncul di layar handphoneku.

Are you sure to delete Koko Chan?

Klik, ok.

Karena aku tahu, sejak ia memutuskan menikah maka tidak akan pernah ada lagi pertemuan berikutnya. Meskipun aku penasaran, apakah ia benar-benar bahagia dengan pilihannya.

“Bahagialah, Koh.”

Malang, 11 Januari 2017