Senin, 23 Maret 2015

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover.

Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan.
Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan*
Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya.
Dia SMS.
D, Aku telpon ya?
Iya dia memanggil saya D, alias Dudul. *muntah*
Maka setelah saya mengiyakan, W telpon.
Dan Jeng-jeng...
Ada suara petikan gitar, dan...W menyanyi. Dia menyanyikan lagunya Kahitna yang judulnya 'Enggak Ngerti'. Oh, seketika muka saya memerah. Malu. Padahal dia menyanyikannya tidak sambil menatap saya.
Saya marah, dia? cengengesan. Ketawa-ketiwi. Padahal suaranya enggak ada bagus-bagusnya, hfft. Tapi sampai sekarang setiap kali dengar lagunya Kahitna yang 'Enggak Ngerti' otomatis saya teringat dia. Lucu ya? dan secara otomatis saya ingat jaman W ngejar-ngejar saya, dan betapa saya kelimpungan menghindarinya.
Jadi kalau ditanya apakah dinyanyikan membuat saya jatuh cinta? sekali lagi tidak, tetapi untuk membuat saya tidak lupa pernah dicintai dengan begitu besar mungkin jawabannya iya.


Malang, 23 Maret 2015.
Di meja kantor ditemani lagu-lagunya Kahitna dan secuil ingatan tentangmu.

Senin, 02 Maret 2015

My Iced Coffee Man (Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.)

Ditulis untuk Tantangan Menulis dari @Kopilovie dan @Miss_ZP . Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.

Teruntuk kamu, yang selama dua tahun menemaniku dan yang sepuluh bulan ini berusaha kubiasakan diri tanpa rutinitas tentangmu. Kamu tahu sejak mengenalku, menulis adalah caraku membebaskan penat, maka malam ini aku ingin menulis tentangmu.
Hai, jika kamu tanpa sengaja membaca tulisan ini sungguh aku tidak sedang mengharap apa-apa. Jangan berpikir tentang kita yang dapat memulai dari awal, bukankah dulu kamu sering bilang tidak akan pernah ada kata balikan dalam hidupmu kurasa aku akan mengamini apa yang menjadi prinsipmu itu.
Aku hanya sedang bercerita, anggap saja aku sedang meracau. Kamu tahu ini adalah cerita yang selalu ingin aku katakan sejak kita tak bersama lagi. Sejak ucapan selamat pagimu tak lagi kutemui, sejak ucapan semangatmu saat aku mulai mengadu tak lagi kudengar, sejak semua tak lagi sama.
Aku tinggal di Malang sekarang, ah betapa dulu hal ini sangat kita impikan. Tentang kita yang tak lagi berjarak. Tentang kita yang kalau ingin bertemu tak harus bersabar menunggu hari sabtu. Kurasa kamu pun tahu aku sudah di Malang sejak awal September tahun lalu. Dan lihat, semesta pun sepertinya sepakat tak membuat kita bertemu.
Kamu tahu, terkadang dan sering kali aku sengaja datang ke tempat yang dulu sering kita kunjungi, berharap ‘kebetulan’ mempertemukan kita. Tapi sekali lagi, semesta sepakat untuk tidak mengamini keinginan sederhanaku. Ah, seharusnya bisa saja aku menelponmu meminta untuk kita bertemu. Tapi kamu tahu, kadang egoku terlalu tinggi untuk sekedar bertanya kabar padamu.
Seharusnya tak jadi masalah kan?
Tetapi aku memilih untuk tidak memenangkan hatiku. Egoku menang, dan aku limpung.
Kalau kamu tanya untuk apa ada pertemuan setelah perpisahan yang kita pilih? Entahlah, aku hanya ingin mengatakn padamu bahwa aku baik-baik saja. Aku ingin kamu melihatku dengan pipi tembemku sekarang. Ah, pasti ini kamu anggap lucu. Tapi sungguh, aku ingin kamu tahu bahwa aku baik-baik saja.
Tetapi semesta tak pernah menginginkan kita bertemu, meski hanya ‘kebetulan’.
Aku pikir setelah pertemuan terakhir kita, setelah perbincangan lama kita yang lebih sering kugunakan untuk menghapus air mata yang hampir tumpah setiap kali aku memulai untuk berbicara. Setelah kamu mengantarku ke kos, setelah kamu menyerahkan choco ice blanded yang kuminum dengan tangis yang sejadi-jadinya malam itu aku dapat melupakanmu. Ternyata aku salah; kamu tak secepat itu pergi dari ingatanku.
Setelah aku membaca postinganmu di socmedmu tentang wanita lain itu, dan yang membuatku menangis seharian aku berharap dapat melupakanmu. Tapi ternyata aku salah.
Setelah aku berkali-kali mencoba untuk menerima ajakan lelaki lain, menerima ajakan mereka untuk minum kopi, nonton atau mencoba makan di kafe baru. Aku sadar, setiap kali aku melakukan hal-hal yang sering kita lakukan bersama dan sedang kucoba kulakukan dengan orang lain yang terlintas di benakku adalah kamu. Kamu tahu, sering kali aku menangisi hal ini. Mengapa aku tak bisa melupakanmu?
Menagapa aku sulit intuk merelakan kepergianmu? Mungkin benar ada beberapa hal yang belum sempat kita selesaikan.
Dan aku tahu dua tahun, bukanlah waktu yang singkat.
Jika semesta ternyata mengaminkan doa-doaku tentang satu kebetulan yang aku harapkan. Maka ijinkan aku mengucapkan terima kasih;
Terima kasih telah menemaniku selama dua tahun;
Terima kasih telah bersabar dengan segala runtuk dan keluhku,
Terima kasih telah merelakan kepergianku.
Dan
Terima kasih telah membuatku merasa dicintai.

Malang, 1 Maret 2015.

Kamis, 26 Februari 2015

PLUVIOPHILE

Aku selalu menyukai aroma hujan; maka aku berniat mengemasnya dalam botol kaca ini. Botol kaca yang seminggu lalu masih penuh dengan selai coklat kacang kegemaranmu; dan boleh aku masih menyebutnya sebagai kegemaran kita?
Katamu hujan adalah kenangan tentangku, sebenarnya salah. Hujan adalah tentang kamu, yang kucintai tapi tak pernah sanggup aku miliki. Nyaliku sebesar biji sawi, kecil untuk sekedar mengucap bahwa aku pun mencintaimu sama besar atau mungkin lebih besar daripada cinta yang kamu berikan padaku.
Aku menggenggam botol kaca ini, memandangnya dengan tatapan dalam seakan aku melihat deretan drama satu babak yang menceritakan tentang kita. Bukan kita tetapi kamu. Selai coklat kacang yang dioleskan di selembar roti tawar dan satu cangkir kopi tanpa gula, adalah menu sarapan favoritemu. Pagimu tak pernah lewat dari menu itu. Dan tentu saja ada aku yang bercerita tentang banyak hal menemanimu di sudut pantri. Rutinitas pagi, yang oleh mereka sebut sebagai kencan. Aku tak pernah peduli, pun kamu. Kita tak perlu menyepakati banyak hal, mungkin ini yang dibilang cocok.
Aku meletakkan botol kaca itu, memandang ke arah jendela. Sepertinya angin turut serta di hujan sore kali ini, airnya tampias di kaca dan membuatnya mengembun. Tanganku reflek menuliskan namamu, dan sunyi sukses membuat bulir bening menetes dari mataku.
“Kamu tahu, ada tiga keajaiban tentang hujan.”Katamu, saat aku menemanimu menikamati roti selai coklat kacang kegemaranmu. Rutinitas entah yang keberapa.
“Apa?”
“Pertama, ketika hujan pertama menetes tepat di hidungmu itu artinya orang yang kamu rindukan juga merindukanmu. Kedua, hujan adalah nyayian orang yang merindu. Dan yang ketiga keajaiban yang paling luar biasa...” kamu memelankan suaramu, lalu mendekat ke telingaku;
“Hujan dapat memunculkan orang yang kita cintai.”
Aku menutup mulutku, kaget. Dan kamu tersenyum.
Aku melihat ke arah jendela, jalanan di depan kafe ini sudah tak lagi tampak; hanya putih. Aku menyipitkan mataku, memastikan yang kulihat tak salah. Ada kamu berdiri di seberang jalan, kepalamu ditutup dengan tudung jaketmu. Selalu saja, tak pernah memakai payung. Oh, sepertinya aku melupakan satu hal, katamu hujan deras adalah waktu terbaik untuk bermain-main dengan hujan. Kurasa itu alasanmu berdiri di sana, hujan deras dan tanpa payung.
Aku berdiri, meninggalkan kafe ini. Sebelumnya aku meniggalkan selembar uang seratus ribuan di meja tempat aku menghabiskan waktu tiga jam. Aku keluar dari Kafe. Hujan menerpa sebagian tubuhku, aku melihatmu tersenyum. Melambaikan tangan, lalu melepas tudung jaketmu. Sekarang aku dapat melihat wajahmu. Aku tahu kamu sedang menantangku untuk bermain-main dengan hujan.
Aku meletakkan botol kaca bekas selai coklat kacang kegemaranmu di sisi jalan, aku merentangkan tanganku. Aku menengadahkan wajah, hujan menusuk-nusuk wajahku. Aku tertawa. Aku melihatmu pun melakukan hal yang sama, tertawa dan berputar-putar di tengah jalan yang memang sepi. Aku berjalan ke arahmu, berniat menggapai tanganmu. Aku ingin menari bersamamu, atau lebih tepatnya memelukmu di hujan yang lebat ini.
Hingga sesuatu menabrakku, tubuhku terpental dan aku melihat bayanganmu menjauh. Samar aku mendengarmu berkata;
“Kita lanjutkan nanti.”
Aku mengangguk, setuju. Ah, seharusnya kamu pun tahu banyak hal yang kita sepakati tanpa perlu diucapkan.
Aku samar mendengar, orang menjerit. Teriakan minta tolong dan derap langkah yang mendekatiku, mengurumuniku. Mereka semakin ramai memanggilku. Dan aku merasa gelap.
“Apa itu berarti aku mencintaimu? Aku melihatmu saat hujan.” Tanyaku.
Kamu mengangguk, lalu meraih tanganku dan menuntunku untuk meninggalkan tubuhku yang dikerumuni banyak orang.


Malang, 25 Februari 2015.

Jumat, 20 Februari 2015

Menertawakan Patah Hati

Mari kita tertawa.
Menertawakan tentang hal yang pernah kita anggap menyedihkan.
Tentang cinta yang tak berestu, tentang rindu yang tak bertuan, atau tentang mimpi yang mengabu.
Mari kita tertawa.
Menertawakan hal-hal yang pernah membuat kita makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Tentang kita yang pernah saling mencintai, lalu membiasakan diri menganggap tak saling mengenal.
Tentang kita yang berada pada satu linimasa dan tak bertegur sapa.
Tentang kita yang berada pada bumi yang sama dan saling mendiamkan.
Tentang kita yang saling merapal rindu tapi tak kuasa menyampaikan.
Bukan tak ingin;
Kita tak pernah sanggup, menentang semesta yang menginginkan kita tiada.
Kita tak pernah sanggup, untuk benar-benar baik saja.
Aku mencintaimu, pun kamu.
Tapi semesta tak pernah menginginkan kita ada.



Malang, 20 Februari 2015.

Senin, 05 Januari 2015

Satu hari di Candi Badut dan Candi Jago.

Perjalanan saya bersama partner of crime saya kali ini berbeda. Jika biasanya kita memilih berkeliling tempat nyentrik di sekitaran kota, kali ini kita ingin menyusuri Malang dari Jaman Singosari. Maka disinilah kami, memilih Candi Badut dan Candi Jago sebagai destinasi liburan hore kita kali ini.
Pagi itu, dengan diiringi gerimis kami menumpangi angkot AT untuk menuju Tidar, lokasi Candi Badut. Ternyata tak sulit untuk menuju lokasi, dari pangkalan AT kita lurus saja berjalan kurang dari 100 meter kita akan menemui papan nama menuju Candi Badut. Lokasi Candi Badut berada persis di lingkungan perumahan warga, jadi aksesnya pun mudah.
Penampakan Candi Badut

Untuk masuk ke area Candi, kita tidak dipungut biaya alias gratis. Ukuran Candi Badut tidak terlalu besar, ada satu bangunan selain bangunan utama Candi Badut yang mirip petilasan yang ada di Candi Tikus, Trawulan. Sayangnya tidak ada papan keterangan yang menunjukkan bangunan itu fungsinya apa.
Me !!

Di area dalam candi ada tempat yang sepertinya digunakan sebagai tempat peribadatan. Jadi, bentuk dari Candi Badut itu persegi lalu di tengahnya ada tempat untuk peribadatan. Karena cuaca mendung kami puas berfoto di area Candi Badut. Cagar budaya ini cukup terawat, rumput di sekitar candi pun terawat rapi. Meski toilet yang berada di dekat Candi sedikit merusak pemandangan, kami cukup menikmati jalan-jalan kami.
view paling favorite

Pura-puranya sih candid.

Setelah puas mengelilingi area Candi yang memang tak begitu luas, dan sok beranalisa dengan relief yang ada di badan Candi kami meninggalkan Candi Badut yang siang itu sudah mulai banyak pengunjung.
Kami berjalan lagi, kembali ke pangkalan angkot AT untuk menuju ke Terminal Arjosari melanjutkan perjalanan ke Candi Jago.
Candi Jago atau Candi Jajaghu berada di Tumpang, yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Malang. Dari Arjosari, kami menumpang angkot TA. Kurang lebih 45 menit perjalanan akhirnya kami sampai di Tumpang. Letak Candi Jago ini dekat dengan Pasar Tumpang, jaraknya 200 meter dari jalan utama.
Sebelum memasuki area Candi, kita wajib mengisi buku tamu. Dan seperti di Candi Badut, untuk masuk ke Candi Jago tidak dipungut biaya alias gratis.
Ukuran Candi Jago lebih besar dan luas dibanding Candi Badut. Dan lagi, Candi Jago letaknya persis di pinggir jalan dan berada di tengah lingkungan rumah warga. Tadi sempat berfoto, dan sibuk menyamarkan rumah warga yang persis berdiri di samping Candi Jago.
Penampakan Candi Jago

Bangunan Candi Jago sudah sedikit rapuh, batu yang membentuk Candi pun kalau dipijak sudah mulai oleng. Tetapi relief yang ada di batuan Candi masih terlihat jelas, berbeda dengan yang ada di Candi Badut.
Relief di Candi Jago

Secara keseluruhan Candi Jago ada tiga undakan. Dan yang pasti Candi Jago tidak banyak berubah seperti 21 tahun yang lalu, saat untuk pertama kalinya saya berkunjung di tempat ini. Hanya saja, saya merasa batu yang menyusunnya memang sudah usang, tak lagi sekokoh dulu. Tadi saya juga sempat mencari batu yang mirip seperti bekas pantat manusia, yang dulu kata nenek saya adalah bekas duduk para Dewa. Dan saya mempercayainya :D sayangnya saya tadi tidak berhasil menemukannya, atau saya yang tidak berkonsentrasi karena terlalu takut kalau terjatuh. Setelah selesai berkeliling area Candi, dan karena pengunjung mulai ramai kami memutuskan untuk pulang. Kami berjalan lagi ke area Pasar Tumpang, kembali menaiki TA untuk kembali ke Arjosari.
Wigi on Action

Banyak hal yang saya dapat dari perjalanan kali ini, destinasi untuk #KentjanMalang sepertinya akan semakin meluas. Ah, saya selalu menyukai perjalanan ini. Tak harus ke tempat yang wah, karena bagi saya bukan perkara kemananya tetapi bersama siapanya. Dan yang terpenting Malang itu keren, apalagi tempat-tempat sejarahnya.
Pulang dulu ya :D


Sip, jadi kemana lagi tujuan #KentjanMalang selanjutnya?

Selasa, 30 Desember 2014

Tentang 2014.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2014, kalau dirangkum dengan satu kata tahun 2014 adalah tentang keputusan. Ada tentang kepindahan dan juga hati.
Tahun ini saya memutuskan resign dari kantor lama, yang tentu saja berimbas pada keputusan saya untuk tidak lagi tinggal di Pasuruan. Awal September lalu saya resmi meninggalkan Pasuruan dan hijrah ke Malang. Rencana awal dari kepindahan saya ke Malang adalah ingin serius mengerjakan revisian tugas akhir yang entah kapan berakhirnya itu, dan iseng saya melamar di kantor baru ini. semesta mengamini, akhir September saya diterima di kantor saya yang sekarang. Dan lagi-lagi sebagai tukang jurnal, dan membuat laporan keuangan untuk perusahaan. Untuk kali ini saya beruntung diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana membuat laporan keuangan di perusahaan tambang.
Perpindahan saya ke Malang berimbas pada berat badan saya, makan yang teratur membuat pipi saya menjelma bakpao. Di kantor baru saya makan tepat waktu, istirahat cukup dan cemilan tak pernah absen dari meja kerja saya. Teman-teman baru membuat saya sedikit melupakan deretan sakit hati saya, dan luka karena patah hati.
Selain hal membahagiakan itu, di tahun 2014 ini pun saya memutuskan untuk berpisah dengan dia. Seseorang yang menemani saya selama dua tahun. Saya memutuskan untuk tak lagi bersama dengannya, alasan yang saya buat pun tak kalah klise; restu. Tak mudah bagi saya untuk bergerak melupakannya mengingat betapa saya pernah begitu keras untuk memperjuangkannya, agar dia dapat diterima dilingkungan saya. Kami berbeda, perbedaan yang saya pikir dapat saya pangkas hingga tak bersisa namun saya tak cukup tangguh. Akhirnya pun saya tumbang dan menyerah, di saat saya merasa telah dicintai.
Hari ini saya mengingat kembali awal tahun 2014, saya sempat berdoa agar di akhir tahun saya tetap bersama dia dengan sekat yang tak terlalu rapat. Doa itu terwujud, saya tinggal satu kota dengan dia tetapi hati kami tak pernah satu lagi. Dan ia pun menghilang, jika awal-awal kami berpisah saya masih melihat dia update di Path sekarang sama sekali tak ada kabar beritanya. Dia menghilang, atau sengaja menghilang? Entahlah, saya tak ingin berasumsi.
Saya tak ingin melupakannya, atau sengaja menghindarinya. Menutup akun socmed atau apa, saya tetap akan menjalani kehidupan saya; meskupun tanpa dia. Jika memang takdir masih mengijinkan saya untuk bertemu dengannya saya akan tetap menyapanya, tersenyum dan akan mengatakan bahwa saya bahagia. Tak perlu mengkhawatirkan apa-apa, bukankah perpisahan ini adalah kesepakatan kita?
Stranger to be friend to be lover, and to be stranger again.

Selamat Tahun Baru 2015.

Senin, 29 Desember 2014

Suatu siang di Solaria.

Sambil menunggu pemutaran Doraemon di jam satu, saya memutuskan menghabiskan waktu di Solaria yang berada di lantai dua Sun City. Satu Jus Alpukat,  Jus Sirsat, Ayam Mosarella dan Ayam Lada Hitam menemani kami berbincang. Tentang banyak hal, dan juga kemungkinan-kemungkinan. Tak lupa tentang hati.
“Kamu sudah melupakan dia?” tanyanya, sambil memotong Ayam Mosarellanya menjadi dua, dan potongan terbesarnya berpindah ke piringku. Selalu.
“Sudah.”
“Di Malang sudah pernah bertemu dengan dia? Atau mungkin kamu mencoba sengaja menemuinya.” tanyanya, lalu mengambil potongan paprika yang aku singkirkan dari piringku.
Aku menggeleng. “Tapi aku ingin bertemu dengannya.”
“Yakin? “
Aku mengangguk “Iya, aku ingin bertemu dengannya. Ingin memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Dan tentu saja, aku bahagia. Aku rasa dia perlu tahu akan itu.”
Dia tertawa, lalu meneguk Jus Alpukatnya. “Seyakin itu? Jika kamu tahu ada dia di sana, dan dia sedang berjalan dengan wanita lain apa yang akan kamu lakukan? Masih tetap ingin menemuinya, meski kamu sendirian waktu itu?”
Aku mengangguk cepat. “Iya, aku akan berjalan ke arahnya. Sengaja, agar ia dapat melihatku dan agar aku dapat memiliki kesempatan untuk menyapanya.”
Aku mengaduk Jus sirsatku.
“Sudah kubilang kan, aku ingin bertemu dengannya. Mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dan aku harap dia memiliki pacar baru. Setidaknya, itu lebih baik. Daripada melihatnya nampak kacau, itu semakin membuatku sedih.”
Dia meraih tanganku, “Kamu masih mencintainya?”
Aku terkejut, hei apakah benar aku masih mencintainya? Aku melepaskan genggamannya, lalu melihat ke arah luar. Ada yang berputar-putar di otakku, sejauh aku memaksa pergi ia tak pernah benar-benar hilang dalam ingatanku.
“Jus Sirsatku kurang enak, gimana Jus Alpukatmu?” tanyaku, lalu menarik gelasnya ke arahku.
Aku mengaduknya dan berniat meminumnya.
“Jangan dipaksakan.” Katanya, lalu menarik sedotannya dan menggantinya dengan milikku.
“Terima kasih.” Ucapku gugup, lalu meminum Jus Alpukat itu.
“Ayo, Doraemonnya mau mulai nih.” Katanya, lalu menuntunku meninggalkan Solaria.
Siang itu aku menyadari satu hal, dia tak pernah memaksa aku untuk melupakan si mantan. Dia benar-benar tahu bahwa aku pun perlu proses. Aku tersenyum memandangi punggungnya yang berjalan di depanku.
Kamu tahu, aku akan mencoba.


Surabaya, 28 Desember 2014.