Minggu, 20 Maret 2016

Senyum Terakhir Aira




Aku merapikan ujung kebaya putih itu. Mengusapnya pelan, aku tersenyum. Hampir tiga bulan aku menyiapkan acara ini. Mendesign kebaya putih ini sendiri, memastikan bahannya sesuai dengan yang aku inginkan. Pesta dengan konsep warna putih.
“Ra, bagus ya?” Ucap Talita, yang sejak tadi berdiri di sampingku, mengamatiku.
“Iya, sesuai dengan desain yang aku minta. Eh, kamu inginkan.” Kataku, tersenyum.
Aku mengambil sepatu dengan manik mutiara, menaruhnya di sisi tempat tidur. Seperti kebaya dan semua yang menjadi printilan dalam perayaan hari ini, kamar ini pun didesaign warna putih. Wangi melati menyeruak di hidungku.
Wangi yang aku sukai, pun dengannya.
Talita, menarik lenganku. Membimbingku agar aku duduk di sampingnya.
“Ra, terima kasih ya.”
Aku mengangguk. Mengusap punggung tangannya. “Berbahagialah.”
Berbahagialah, agar aku rela melepasnya. Agar aku benar-benar merasa baik-baik saja.
Talita memelukku. Aku mengusap punggungnya. “Maafkan aku, Ra.”
Aku mengangguk, menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak pecah. Sementara dadaku semakin sesak mendengar ucapan maaf dari Talita untuk kesekian kalinya. Kumohon, Talita berhentilah meminta maaf. Aku tidak ingin ucapan maafmu, semakin membuatku merasa menjadi wanita paling nelangsa di hari ini.
Aku ingin terlihat bahagia, sama sepertimu.
“Sudah, ayo segera ganti pakaianmu. Satu jam lagi acaranya dimulai.”
Talita mengangguk. Dibantu perias, yang juga sesuai rekomendasiku Talita mengganti pakaiannya dengan kebaya yang sejak tadi kuperhatikan. Sepuluh menit kemudian, Talita berdiri di hadapanku. Cantik, kebaya itu pun pas ia kenakan. Dia menarik napas panjang.
“Aku gugup sekali.”
Aku tertawa. “Hal yang biasa itu.”
Aku mendekat ke arahnya, lalu mengeluarkan handphoneku. “Sini, selfie dulu denganku. Biar hilang gugupnya.” Kataku, disambut gelak tawa perias dan beberapa timnya.
Talita mencubit pinggangku. Aku tertawa. Sementara dadaku sudah tidak sanggup menahan degup ngilu menahan sesak. Semakin aku memaksa terlihat baik-baik saja, semakin aku nelangsa. Berkali-kali aku menghapus air mata yang kurang ajar menetes. Dan aku sekuat tenaga menyembunyikan di hadapan Talita.
 Aku melihat bayangan Talita dari cermin pada nakas yang berada di kamar ini. Cantik. Semua laik-laki pasti menyetujuinya. Talita adalah wanita cantik, lembut, dan dia adalah sosok wanita yang menawan. Dia selalu memperhatikan hal detail, dia tahu bagaimana cara membahagiakan seorang lelaki. Dan yang semakin membuatku berbeda dengannya adalah dia tidak keras kepala sepertiku.
Aku tersenyum saat menyadari Talita yang tersenyum ke arahku dari bayangan cermin. Aku memalingkan wajah, tidak berani terlalu lama mentap wajahnya. Setiap kali melihat Talita, rasanya ada beberapa pisau yang menusuk ulu hatiku bersamaan. Ngilu.
Seseorang mengetuk pintu kamar. Wajahnya muncul dari balik pintu, Denia salah satu sepupuku berbisik. Acara akan segera dimulai, dan meminta Talita untuk segera keluar. Undangan sudah berkumpul.
Aku membimbing Talita, tangannya mengapit aku erat. Dingin. Aku tahu dia gugup. Tapi tahukah semua orang di sini aku tidak kalah gugupnya dengan Talita malam ini?
Menerima kenyataan lelaki yang dipilih oleh sepupumu yang begitu kamu sayangi adalah lelaki yang kamu cintai. Lelaki yang pernah mencoba untuk berjuang bersamamu. Lelaki yang memiliki mimpi yang sama denganmu. Jangan pernah membayangkan hal ini. Cukup aku yang mengalami kekacauan ini.
Aku mengantar Talita hingga di ruang tengah. Aku melihatnya duduk di antara para tamu undangan. Aku tidak berani menatap matanya. Ia melihat ke arah Talita. Aku berusaha untuk tersenyum. Talita duduk disampingnya, sementara aku duduk di belakang mereka.
Dia menoleh ke arahku. Aku berusaha untuk tersenyum.
Aku menatap punggung kedua pasangan tersebut. Lie dan Talita. Suara Lie mengucap akad terdengar nyaring dan tegas. Apakah kamu begitu yakin dengan pilihanmu? Lie apakah kamu benar-benar bahagia?
Semua mebucap syukur, saat kata sah diucapkan penghulu. Semua dalam ruangan ini berdoa, mendoakan pasangan baru ini. Aku melihat Talita mencium punggung tangan Lie. Semua tersenyum lega.
Aku berusaha tersenyum. Lie, mendekat ke arahku. “Terima kasih, Me.”
Di ruangan ini tidak adakah yang ingin bertanya bagaimana perasaanku?

Malang, 20 Maret 2016.

Saat merelakanmu adalah sesuatu yang sedang aku usahakan.

Minggu, 13 Maret 2016

Ketika Batas itu Sampai Pada Titik


Sekuat apa pun seseorang berjuang, pada akhirnya ia pun memiliki batasnya. Jenuh, lelah dan merasa sia-sia. Mungkin itu yang dia rasakan kepada saya. Merasa cukup dan sia-sia. Mungkin, kamu pernah merasakan ingin dekat dengan seseorang tetapi untuk sekedar menyentuh sedikit hatinya saja tidak mampu. Beberapa orang terdekat saya, selalu mengatakan bahwa saya terlalu angkuh dan keras kepala, untuk sekedar mengakui bahwa saya pun membutuhkan dia.

Mereka selalu menyebut hitungan tahun, Berapa dia bersabar dengan saya. Sejak saya patah hati dengan kegagalan saya dengan seseorang di akhir studi saya, hingga kegagalan paling drama dalam episode percintaan saya dengan mantan kemarin sore. Dia selalu ada di barisan paling depan untuk memberi semangat pada saya. Saat saya jatuh, maupun terbang karena cinta. Dia selalu ada. Meskipun dia bukanlah seseorang yang selalu menjadi tempat curhat saya.

Hingga kemarin saya bertemu dengannya, tidak sendiri tetapi dengan seorang wanita. Sejatinya saya berniat nonton, tapi urung ketika dia dan wanitanya berada di bioskop tempat saya ingin menghabiskan malam minggu dengan sendiri tersebut.

Gugup, kaget dan bingung.

Saya dengan wajah lempeng mengulurkan tangan, menjabat tangannya dan bertanya kabar. Saat jabat kami terlepas, sang wanita buru-buru mengulurkan tangan sambil menyebut nama. Saya menerima uluran tangan wanita tersebut, saat jabat kami terlepas saya melihat tangan wanita tersebut mengapit dia. Saya tersenyum, dia tersenyum, juga wanita tersebut. Saya pamit, meninggalkan gedung bioskop. Tidak ingin menambah kekacauan, rencana untuk nyemil bakpao pun urung saya lakukan. Tiba-tiba saya tidak bersemangat.

Saya menuju toko es cream, di depan bioskop. Memesan es cream, dan membiarkannya mencair tanpa saya sentuh sedikit pun. Ingatan saya, terulang pada kejadian beberapa tahun lalu saat saya dan dia mengobrol di toko es cream ini. Dia mengucapkan kalimat yang membuat saya tetap bertahan dengannya hingga saat ini.

“Kamu tahu yu, tidak akan pernah ada alasan yang logis untuk mencintai termasuk membenci seseorang.”

Drama? Hahaha, anggap saja demikian. Dia adalah teman lelaki yang paling memahami saya. Pasang surut hubungan saya dengannya tidak terhitung. Yang saya tahu dia selalu ada saat saya terpuruk, bahkan orang yang saya cintai pun tidak menyadarinya. Sementara dia cukup mengerti meskipun saya tidak pernah bercerita padanya.

Saya kembali melihat foto yang kami buat dua bulan yang lalu, saat dia menemani saya untuk menyelesaikan deadline laporan di salah satu kedai donat. Memastikan saya baik-baik saja. Saya melihat senyum yang terekam pada foto tersebut. Apakah senyum yang terekam saat itu kemarin benar-benar masih milik saya seutuhnya?

Entah, saya merasa ini adalah akhir bagi saya dan dia. Sudah saatnya saya berhenti, suka atau tidak saya harus berhenti untuk tergantung padanya. Saya kembali mengingat senyum wanita yang saya temui di bioskop tadi, dan saya pun ikut tersenyum. Iya, mungkin benar ini adalah akhir. Bukankah, kesabaran juga memiliki titik? Selamat berbahagia, kamu.

Minggu, 06 Maret 2016

Apa yang Harus Kamu Lakukan Selama 24 Jam di Jogja?

Seminggu yang lalu tanggal 27 Februari 2016, saya bersama salah satu teman saya Wenny melakukan tantangan 24 jam di Jogja. Sebenarnya kami tidak berdua, karena salah satu teman kami ketinggalan kereta maka tantangan #Jogja24Jam pun kami lakukan hanya berdua saja. Kami ke Jogja berbekal tiket promo dari Promo Imlek KAI Februari lalu.

Rangkaian Malioboro Expres membawa kami dari Stasiun Kota Malang pukul 20.15 hari sabtu. Rangkaian kereta kami cukup lengang, mungkin peak season sudah lewat ya? Dan kami pun memilih liburan setelah liburan panjang. Jadi sepanjang perjalanan seperti menyewa kereta 

Pukul 04.20 kami sampai di Stasiun Tugu, rencananya kami berniat ke Tugu buat foto-foto tapi urung kami lakukan. Kami pun menuju ke penginapan, buat numpang mandi dan istirahat sebentar. Mandi sudah, isi baterai handphone pun sudah. Oia, kami menginap di daerah Dagen meski agak kecewa dengan kamar yang kami pesan, tapi lumayan untuk membuat kami tidak terlalu terlihat kumal. Berikut itenary saya sewaktu di Jogja kemarin.

06.30 – 10.00 Candi Prambanan

Setelah berberes di penginapan, kami berjalan sebentar ke shelter untuk menunggu Trans Jogja 1A yang akan membawa kami ke Prambanan. Sepanjang perjalanan saya sibuk melihat tempat yang mungkin kelak bisa dikunjungi :p

Prambanan - Cantik
Pukul 07.00 kami sampai di Terminal Prambanan. Saya pikir letak terminal dan Prambanan dekat ternyata? JAUH. Hfft, saya berkali-kali mengeluh karena merasa dibohongi  tapi karena saya sedang bahagia maka perjalanan jauh pun tidak jadi masalah *halah*. Sampai area Prambanan ternyata masih sepi, hanya ada 2 bus rombongan anak SMP, kabar gembiranya kami bisa leluasa untuk berkeliling di area Prambanan. Setelah membayar tiket seharga 30.000,- dan tidak lupa memotretnya agar kekinian saya memasuki area Candi Prambanan. 

Rencananya kami ingin naik kereta kelinci untuk mengelilingi kompleks candi, tetapi karena kereta tidak juga kunjung penuh akhirnya saya menyerah dan harus segera meninggalkan Prambanan. Tapi sebelum meninggalkan Prambanan saya sempat masuk ke Museum Prambanan. Koleksinya terawat apik, beberapa diorama menggambarkan cerita tentang Candi Prambanan.

10.00 - 12.30 Makan siang, check out penginapan

Perjalanan ke Prambanan memang memakan waktu yang cukup lama, hampir setengah hari. Dari area Prambanan kami kembali menuju ke terminal untuk menumpang Trans Jogja untuk kembali ke kota. Oia, sekedar tips jika kalian ke Prambanan jangan lupa untuk membawa payung dan body lotion yang mengandung sun screen dan SPF. Balik dari Prambanan kulit saya langsung belang –“

Kembali ke penginapan, bersih badan dan membereskan barang-barang yang sempat saya tinggal di penginapan tadi pagi. Sekitar pukul 12.30 saya meninggalkan penginapan dan menuju KFC terdekat untuk makan siang. Hehehe, jauh-jauh ke Jogja makannya Bento.

13.00 – 15.00 Keraton, Museum Kereta dan Taman Sari

Setelah mengisi perut dan beristirahat sejenak, saya bersama Wenny melanjutkan perjalanan ke Kraton. Karena jarak Malioboro ke Kraton lumayan jauh akhirnya kami memutuskan naik becak tentu saja untuk mengejar waktu juga. Sesuai dugaan ternyata Kraton sudah tutup, dengan sedikit kecewa kami berputar arah ke Museum Kereta yang memang masih satu komplek dengan Keraton. 

Museum Kereta
Dengan tiket masuk 5.000,- per orang kami dibuat kagum dengan bentuk kereta yang dipajang di sana. Dan tentu saja namanya yang unik membuat Wenny memberanikan diri untuk bertanya alasan mengapa kereta-kereta tersebut namanya selalu ada Kyai-nya.

Taman Sari
Setelah puas berkeliling museum, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Sempat bingung dengan rutenya, tetapi dengan berbekal nekat mengikuti rombongan akhirnya kami sampai di Taman Sari. Tiket masuk ke Taman Sari sama seperti Museum Kereta yaitu 5.000,- per orang. Saya dibuat kagum dengan desain dari Taman Sari. Saya iseng membayangkan betapa repotnya menjadi Raja dan Putri saat itu mau mandi saja banyak aturannya. Hehehe.

15.00 – 15.30 Museum Sonobudoyo

Kunjungan super singkat. Pukul 15.00, saya meninggalkan area Taman Sari berjalan kaki lumayan jauh menuju ke Museum Sonobudoyo. Pukul 15.15 kami sampai di museum, sampai depan pintu masuk langsung ditodong sama mbak-mbak penjaga tiket diberi tahu 15 menit lagi museum akan tutup. Jdeer. Ya, daripada tidak tahu isinya apa saja di dalam Museum Sonobudoyo akhirnya kamu berkeliling di Museum tersebut. Tiket masuk hanya 3.000,- per orang. Begitu masuk area pamer, saya terkesima dengan koleksinya.

Salah satu koleksi di Museum Sonobudoyo

Museum yang berada di Jalan Trikora no. 6 ini memiliki koleksi yang cukup dinamis antara Jawa, Lombok dan Bali. Ada koleksi aneka jenis wayang, genta kalasan, moko dan Al-qur’an. Karena keterbatasan waktu kami hanya berkeliling singkat saja. Koleksi di museum ini benar-benar terjaga dan terawat. Menurut informasi di Museum Sonobudoyo ini setiap senin-kamis diadakan pagelaran wayang dengan cerita Ramayana. Untuk tiket pertunjukan 20.000,- mulai pukul 20.00 – 22.00. Jika ke Jogja lagi, sepertinya saya harus melihat pertunjukan wayang ini.

16.00 – 16.45 Museum Benteng Vredenburg

Salah satu diorama Museum Benteng Vredeburg
Tidak lengkap rasanya ke Jogja tanpa mengunjungi Benteng. Dengan tiket 2.000,- per orang saya dan Wenny keliling Benteng. Karena sudah lelah kami lebih banyak duduk di sekitar museum, yang kebetulan sudah sepi pengunjung.

17.00 – 17.45 Pempek Ny. Kamto

Kuliner! Akhirnya saya makan makanan khas Jogja. Iya meski pempek bukan makanan khas jogja, setidaknya Pempek Ny. Kamto adalah kulinar wajib jika kalian berencana berkunjung ke Jogja. Pempek Ny. Kamto sendiri ada beberapa cabang di Jogja, tetapi saya kemarin kebetulan mampir di pusatnya yaitu di Jalan Beskelan yang masih satu area dengan Malioboro.

Untuk variasi menu, kalian tidak perlu khawatir. Pempek Ny. Kamto menyajikan menu pempek dengan lengkap. Untuk cukanya pun ada dua manis dan pedas. Pempek digoreng tidak terlalu kering, dan rasanya tidak perlu diragukan lagi. Enak dan pas dilidah saya.

18.00 Menuju Stasiun Tugu

Kereta kami berangkat pukul 20.45 masih ada waktu seekitar hampir tiga jam. Berjalan dari Malioboro ke Stasiun Tugu ternyata membutuhkan waktu yang lumayan. Tepat pukul 18.45 kami sampai Stasiun. Beristirahat sejenak sambil ngantri untuk membersihkan tubuh alias cuci muka di toilet stasiun. Sambil sesekali melontarkan canda dan pandang tidak percaya sedang berada di Jogja seharian ini. Dan ya, kami harus kerja besok pagi.

Pukul 20.45 Malioboro Ekspres, membawa kami ke Malang. Kereta berjalan lambat meninggalkan Stasiun Tugu. Kaki saya mulai protes, mata saya mengantuk tapi hati saya bahagia. Badan saya mungkin terasa lelah, tetapi jiwa saya senang. Saya menikmati perjalanan #Jogja24jam kemarin.

Pukul 04.30 saya sampai di Malang. Kaki masih terasa nyut-nyut-an dan mata masih mengantuk. Tetapi saya harus kembali ke realita, nanti pukul 08.00 saya harus ngantor. Hehehe. Jadi, ke Jogja selama 24 jam? Siapa takut.

Selasa, 01 Maret 2016

Asiknya Menikmati Cokelat Dengan Cara Berbeda

Kata orang cokelat bisa membuat yang sedang sedih menjadi bahagia, yang awalnya masih PDKT bisa langsung jadian, yang masih belum bisa move on langsung ketemu jodohnya. Okay, ini mulai lebay. Saya adalah salah satu penikmat minuman cokelat, tentu saja cokelat yang beneran cokelat bukan cokelat abal-abal :D

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan buat mencicipi minuman cokelat, namaya 3ple Chocolate. Minuman cokelat ini memiliki rasa yang unik, mengapa? Meski dijual di both, tetapi rasanya enggak kalah seperti minuman yang diramu oleh para Barista profesonal. Rasa dari minuman cokelat ini beneran cokelat. Setelah saya colek-colek pemiliknya, gak heran jika rasanya enak lah pilihan bahannya saja enggak main-main. Hehehe.

3ple Chocolate versi saya ;D

Ada beberapa rasa yang ditawarkan dari 3ple chocolate, ada original, vanilla, caramel dan hazelnut. Kalau favorite saya yang original, rasa manisnya pas dan tidak bikin enek. Kemasannya yang berbentuk botol menjadi kelebihan minuman kemasan satu ini. Kamu tidak perlu takut ribet untuk menemani perjalanan kamu. Dengan ukuran 250 ml, pas digenggam di tangan.

Untuk kemasan botol saat ini 3ple Chocolate masih hanya menerima pesanan saja. Tapi kalau kamu mau mencoba mencicipi cokelat 3ple Chocolate, bisa mampir di bothnya. Saat ini 3ple Chocolate membuka dua both, pertama di daerah Ruko Landungsari depan Apotek Surya Abadi dan yang kedua ada di Game Online Helioz sebelahnya Sardo.

Yuk, nikmati minuman cokelat dengan cara yang berbeda. Mengapa cokelat? Karena cokelat adalah rasa yang paling dekat dengan hati. Tsah.

Kepo-in 3ple Chocolate di:

Twitter : @3plechocolate
Ig         : 3plechocolate_id