Sabtu, 31 Desember 2016

2016, Kamu dan Kesempatan

Penghujung 2016 yang mendung. Tidak, saya tidak sedang berduka..saya menikmati akhir di tahun 2016, ya saya tidak perlu lagi riweh lembur di tahun baru saat orang laon sibuk bersama keluarga dan orang tersayangnya. Saya menulis ini dalam perjalanan pulang, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sejak lulus dari kuliah. Yeah, apalagi kalau bukan karena pekerjaan. Hehehe.
Tahun 2016 adalah titik balik saya, memutuskan untuk banting setir dan memilih pekerjaan yang benar-benar baru. Maka, jangan kaget ketika saya menganggap tahun 2016 berjalan begitu cepat. Seakan baru kemarin saya menyelesaikan closing di kantor lama di antara seruan terompet, sekarang sudah sampai saja di penghujung tahun.
Tahun 2016, saya masih sibuk menyelesaikan rangkaian terapi karena sakit yang saya alami di tahun 2015. Bertemu dengan teman yang selama ini hanya riwil via chat, mention twitter atau chat di fb. Sebut saja Bella, Dew dan terakhir Mput. Di tahun ini juga saya mulai aktif ikut komunitas, mulai dari Blogger Ngalam dan terakhir bergabung dengan komunitas peduli kanker, Sahabat Anak Kanker. Tahun yang sibuk sekaligus menyenangkan.
Di penghujung tahun saya mendapat kabar, jika dia si Iced Coffee memutuskan untuk menikah di Tahun Baru besok. Boleh saya bilang ini kabar yang menyenangkan? Penutup yang manis untuk tahun 2016. Meskipun banyak yang sangsi saya tidak bersedih dengan kabar ini. Hahaha, serius saya tidak galau 😁
Tahun 2016 twitter tetap menyenangkan buat saya, meskipun tiap hari senewen dengan berita Pilkada. Twitter masih tetap menyenangkan, sekali lagi semua tergantung siapa yang kamu follow 😂😂😂 di twitter saya punya Bogi yang kalau lagi BT twitnya bisa saya samber, atau ngajak debat dengan bilang Gemini yang selalu salah 😈😈😈
Well, selamat menyambut tahun 2017 dengan bahagia. Terima kasih kamu yang membuat semarak hidup saya \o/

Minggu, 18 Desember 2016

Jika Kamu Berhak Bahagia, untuk Apa Merutuki Kebahagiaan Mantan?

Semua berhak bahagia, begitu juga dia - 

Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri resepsi pernikahan ‘teman’ yang dulu sempat dekat. Anggap saja demikian. Saya mendengar rencana pernikahannya jauh sebelum dia datang mengantarkan undangan secara langsung kepada saya. Sedih? Sedikit. Tapi saya lebih banyak bahagianya. Untuk itulah sejak kabar pernikahannya saya dengar saya bertekat datang di acara tersebut. Tidak ada niatan untuk mangkir, mogok gak mau datang.

Meskipun dulu saya pernah menitipkan impian saya padanya.

Saya datang ke acara tersebut bersama seorang teman. Sebenarnya saya tidak masalah datang sendiri, toh tempat acaranya tidak jauh. Bisa saya tempuh dengan taxi. Tapi si teman maksa menemani. Dalihnya si enggak tega. Tapi enggak tau juga niatnya apa. Bahkan partner sempat memastikan bahwa saya bisa datang sendiri tanpa perlu baper. Ya, mungkin dia agak enggak rela jika saya datang sendiri, dan akhirnya baper mengingat masa lalu. Pas ditantang disuruh nemenin juga enggak bisa kan. Ahahaha. *digampar*

Sepanjang acara beberapa pasang mata menatap saya iba, antara kasihan dan enggak percaya saya bakal datang. Karena pesta hanya dihadiri undangan yang enggak genap 100, maka enggak heran jika banyak yang mengenal saya. Yup, saya dan ‘teman’ berada di satu lingkaran pertemanan yang sama. Jadi wajar, mereka kaget saya datang ke acara ini mengingat masa lalu kami yang..ah, sudahlah.

Beberapa menganggap si teman yang datang bersama saya adalah ‘calon’ yang sengaja saya ajak untuk menunjukkan bahwa saya baik-baik saja. Sial, saya merasa gagal terlihat cool. Maka saya biarkan undangan berasumsi dengan pikirannya. Sementara saya dan teman mojok makan es campur.

Semua orang berhak bahagia, maka bukan hak kita untuk merutuki dan menangisi kebahagiaan orang lain. Lah, saya aja udah happy dan bahagia meskipun gagal sama dia kok tega banget menangisi kebahagiaannya? Rasanya itu enggak adil banget.

Untuk itulah saya masih berteman baik dengan ‘teman’ meskipun sudah lama berpisah. Saya enggak perlu merasa baper saat mereka menemukan kebahagiannya. Meskipun beberapa orang menganggap hal itu bullshit. Prinsip saya sih, jika jatuh cinta tidak perlu alasan maka perpisahan juga enggak perlu alasan. Putus artinya cukup. Berpisah artinya memang udah enggak bisa sama-sama lagi. Sesederhana itu.

Sesakitnya satu perpisahan, pada akhirnya kita akan tahu bahwa semua itu jauh lebih baik. Perpisahan tidak selalu menyedihkan. Jika dulu saya tidak memutuskan untuk berpisah dengan si ‘teman’ mungkin sampai sekarang hubungan kami ya tetap jalan di tempat. Ya kan? Jadi untuk apa menyesalinya. Hehehe.

Aih, ini ngomongin apa sih XD 

Malang, 18  Desember 2016.