Langsung ke konten utama

Jika Kamu Berhak Bahagia, untuk Apa Merutuki Kebahagiaan Mantan?

Semua berhak bahagia, begitu juga dia - 

Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri resepsi pernikahan ‘teman’ yang dulu sempat dekat. Anggap saja demikian. Saya mendengar rencana pernikahannya jauh sebelum dia datang mengantarkan undangan secara langsung kepada saya. Sedih? Sedikit. Tapi saya lebih banyak bahagianya. Untuk itulah sejak kabar pernikahannya saya dengar saya bertekat datang di acara tersebut. Tidak ada niatan untuk mangkir, mogok gak mau datang.

Meskipun dulu saya pernah menitipkan impian saya padanya.

Saya datang ke acara tersebut bersama seorang teman. Sebenarnya saya tidak masalah datang sendiri, toh tempat acaranya tidak jauh. Bisa saya tempuh dengan taxi. Tapi si teman maksa menemani. Dalihnya si enggak tega. Tapi enggak tau juga niatnya apa. Bahkan partner sempat memastikan bahwa saya bisa datang sendiri tanpa perlu baper. Ya, mungkin dia agak enggak rela jika saya datang sendiri, dan akhirnya baper mengingat masa lalu. Pas ditantang disuruh nemenin juga enggak bisa kan. Ahahaha. *digampar*

Sepanjang acara beberapa pasang mata menatap saya iba, antara kasihan dan enggak percaya saya bakal datang. Karena pesta hanya dihadiri undangan yang enggak genap 100, maka enggak heran jika banyak yang mengenal saya. Yup, saya dan ‘teman’ berada di satu lingkaran pertemanan yang sama. Jadi wajar, mereka kaget saya datang ke acara ini mengingat masa lalu kami yang..ah, sudahlah.

Beberapa menganggap si teman yang datang bersama saya adalah ‘calon’ yang sengaja saya ajak untuk menunjukkan bahwa saya baik-baik saja. Sial, saya merasa gagal terlihat cool. Maka saya biarkan undangan berasumsi dengan pikirannya. Sementara saya dan teman mojok makan es campur.

Semua orang berhak bahagia, maka bukan hak kita untuk merutuki dan menangisi kebahagiaan orang lain. Lah, saya aja udah happy dan bahagia meskipun gagal sama dia kok tega banget menangisi kebahagiaannya? Rasanya itu enggak adil banget.

Untuk itulah saya masih berteman baik dengan ‘teman’ meskipun sudah lama berpisah. Saya enggak perlu merasa baper saat mereka menemukan kebahagiannya. Meskipun beberapa orang menganggap hal itu bullshit. Prinsip saya sih, jika jatuh cinta tidak perlu alasan maka perpisahan juga enggak perlu alasan. Putus artinya cukup. Berpisah artinya memang udah enggak bisa sama-sama lagi. Sesederhana itu.

Sesakitnya satu perpisahan, pada akhirnya kita akan tahu bahwa semua itu jauh lebih baik. Perpisahan tidak selalu menyedihkan. Jika dulu saya tidak memutuskan untuk berpisah dengan si ‘teman’ mungkin sampai sekarang hubungan kami ya tetap jalan di tempat. Ya kan? Jadi untuk apa menyesalinya. Hehehe.

Aih, ini ngomongin apa sih XD 

Malang, 18  Desember 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Morning Pages

Menulis untuk jiwa/copyright  rawpixel.com   Writing is medicine. It is an appropriate antidote to injury. It is an appropriate companion for any difficult change - Julia Cameron. Menulis bagiku adalah obat. Menuangkan keluh, mencatat mimpi, hingga mematik harapan. Itulah alasan kenapa aku banting setir untuk berkarir di media. Harapannya sih, seru kali ya menulis terus dapat duit. Meskipun pas terjun kerja di media, ternyata pekerjaanku bukan menulis seperti yang di catatan-catatan yang pernah kutuliskan. Aku menulis untuk orang lain. Maka journaling adalah obat buatku. Saat aku tidak bisa menulis tentang hal-hal yang sensitif, menuliskan di buku jurnalku membuatku merasa tenang. Menulis untuk memberi makan jiwa aku menyebutnya. Biasanya setiap pagi sebelum memulai aktivitas aku menuliskan banyak hal di lembaran jurnalku. Hal random seperti enak mana tahu atau tempe, hingga seserius mengapa semakin ke sini hal-hal yang disebut ‘pertanda’ itu semakin jelas. Menuliskan hal itu ...

Cukup

Merasa cukup itu penting, tidak semua butuh jawaban. Ibaratnya mendaki gunung, bukan berarti kita harus tahu bagaimana wujud puncaknya kan? Bisa jadi jawaban dan rasa puas itu ada saat kita berada di lereng. Cukup bukan berarti menyerah, tapi tahu batasnya. Rasa penasaran seringkali membuat kita berusaha mencari tahu, memaksa keadaan untuk sesuai dengan keinginan kita. Hingga akhirmya hal inilah yang membuat kita tidak pernah merasa puas. Memaksa kehendak. Ilustrasi/copyright pexel Tidak semua hal harus sesuai dengan keinginan, bukankah kita harus lebih menyiapkan diri untuk hal yang kurang menyenangkan? Siapa sih yang butuh persiapan untuk hal yang menyenangkan? Pada akhirnya, siapkan diri kita untuk hal yang di luar kendali. Siapkan diri untuk kegagalan. Kita bukanlah pusat semesta, sehingga semua orang memiliko kewajiban untuk memahami diri kita. Belajar untuk lebih banyak mendengarkan dam tidak mengkerdilkan usaha orang lain. Cukup bukan berarti menyerah, tapi me...

Lima Tahun Lalu Itu 2019

    2019 itu lima tahun yang lalu. Aku tersenyum membaca pesan dari dia. Ternyata sudah lima tahun kami tidak saling menyapa, meskipun update kehidupannya masih melintas di linimasa akun linkedin-ku.  Lima tahun lalu namanya selalu muncul pertama kali di notifikasi whatsApp-ku. Dulu, kami pernah meyakini bahwa jarak hanya satuan untuk orang lemah. Dan akhirnya, kami menjadi bagian orang lemah itu. Kata orang akan selalu ada kesempatan kedua untuk hal yang terlewatkan. Tinggal kita mau atau tidak. Menganggap itu kesempatan atau hanya sekadar pembuktian semata. Dan ia pun menyapaku kembali setelah lima tahun berlalu. Kamu akhirnya ke Jepang ya? Gimana, seru? Menyebalkan sekali pertanyaannya, karena akhirnya aku tahu ia tak pernah berubah. Ia tetap melihatku, sementara aku hanya tahu dari update linkedin-nya. Menandakan dia ‘hidup’. Bagian menyebalkan lainnya aku melewatkan masa lima tahun itu, tapi ia tetap melihatku bertumbuh. Ia tahu aku mengeluhkan banyak hal, ia juga ta...