Rabu, 30 Mei 2012

KITA ( akhir )



 Jika kamu mencintai seseorang, jangan pernah meletakan namanya dalam hati. Karena hati bisa patah. Letakkan namanya pada sebuah cincin, karena cincin akan terus selamanya berputar tanpa akhir__ @Stefani Charolina

Aku duduk di meja nomor 14 itu, katamu akan datang tepat pukul 18.30 tapi ternyata kamu terlambat. Di smsmu sore tadi kamu meminta maaf, tak dapat menjemput dan memintaku untuk datang sendiri ke rumah makan bergaya eropa ini.
Pramusaji itu menyambutku saat aku melangkah masuk, dan saat aku mengatakan aku sedang menunggumu pramusaji itu memintaku untuk duduk di meja nomor 14.
“ Reservasi Tuan Rudi “ aku membaca booklet yang ada di meja tersebut. Ah, kamu selalu penuh kejutan. Padahal aku tak meminta banyak, hanya satu pintaku jangan memintaku untuk menunggu terlalu lama. Hatiku pun bisa menelikung di sela aku menunggumu. Dan aku tak ingin itu terjadi.
Pramusaji datang menyerahkan daftar menu kepadaku, tetapi aku menolaknya. Aku hanya akan memesan makanan saat kamu telah bersamaku. Egois, tapi itulah aku.
Aku mengaduk isi tasku mencari handphoneku, saat menemukannya aku berharap ada satu pesan masuk mengabarkan bahwa kamu akan segera datang. Ternyata aku salah, tak ada satu pesan yang masuk. Aku mulai mengetik pesan saat tiba-tiba salah satu pramusaji datang dengan segelas lemon squash.
“ Ini minuman selamat datang, selamat menikmati. Jika anda ingin memesan sesuatu anda dapat memanggil saya “ katanya sopan, lalu berlalu.
Aku tersenyum. Diam pun ternyata membuat tenggorokanku kering. Diam dan berharap aku tak perlu selalu yang menunggumu.
Sebenarnya apa yang ingin disampaikannya? Sampai memesan tempat khusus di rumah makan bergaya eropa ini?
“ Kamu selalu ingin sempurna Kak “
Tepat pukul 19.00 seseorang datang menyodorkan satu buket mawar merah dari balik punggungku. Aku tersenyum, karena aku tahu itu kamu.
“ Maaf menunggu, tadi tiba-tiba ada meeting dengan redaktur “ katamu menjelaskan.
Aku menggeleng, tak masalah. Mencium buket mawar merah itu sekilas, dan meletakkannya di meja.
“ Sebenarnya ingin membicarakan apa sih tuan super sibuk, sampai perlu memesan tempat khusus segala? “ tanyaku penasaran.
“ Jangan bilang kalau ini hanya iseng, untuk makan malam biasa gak perlu di tempat yang semewah ini kan kak? Sejak tadi aku diperhatikan terus dengan semua pramusaji disini “
“ Karena mereka bingung, bagaimana mungkin ada bidadari mampir di rumah makan mereka “
“ Gombal “ kataku, tak urung kata-katanya membuat pipiku bersemu merah.
Kamu hanya tertawa pelan, “ Gak sabaran banget sih de’ “
Aku merengut kesal, kamu tertawa.
“ Ayo, sini..” tanganmu menuntunku menuju ke piano yang terletak di samping meja tempat kita duduk.
Kamu membimbingku untuk duduk disebelahmu. “ Aku ingin kamu mendengarkan ini..” bisikmu pelan ditelingaku. Aku terkesiap, lalu tersenyum dan mengangguk.
Kamu mulai memainkan tuts pada piano itu.
“ When the love falls, Yiruma “ tebakku. Kamu mengangguk, dan tetap memainkan tuts-tuts itu.
Saat kamu selesai memainkan tuts terakhir, kamu menarik tanganku dan mengusapnya pelan. Pun demikian aku. “ Terima kasih kak, lagu yang indah “
“ De’..”
“ hmm..”
“ Maukah kamu menjadi teman hidupku yang paling setia? “
Aku menunduk.
“ Ijinkan aku melingkarkan janji di jari manismu, De’ “ Katamu , lalu menarik tanganku dan mengambil sebuah kotak merah dari sakumu. Kamu membukanya dengan satu tanganmu, ada cincin didalamnya.
“ Menikahlah denganku...” katamu, seraya memakaikan cincin itu ke jari manisku.
Aku mengangguk pelan, tubuhku bergetar. Air mataku jatuh.
“ Terima kasih kak “
Kamu mengangguk dan mengusap air mataku, “ Boleh aku memainkan satu lagu lagi? “
Aku mengangguk, dan kali ini aku menyandarkan kepalaku di bahumu.
Love Me, milik Yiruma kamu mainkan dengan manis malam ini. Aku melihatmu dari sudut mataku.

“ Terima kasih Tuhan, telah kau pertemukan aku dengan dia..lelaki yang disetiap doaku selalu kusebut dan lelaki yang seluruh masa depanku akan kutitipkan padanya “

Dan kali ini aku tak perlu menunggunya lebih lama lagi.

Note :
Akhirnya selesai juga serial Ailya-melia ini, semoga segera selesai versi bukunya. Sungkem dengan semua teman-teman yang setia menunggu cerita ini. Salam :)

Pic : habis malak Abang Tody Pramantha
cerita ini juga di posting di ngerumpi

Jumat, 25 Mei 2012

Aku, Kamu , Dia dan Cerita ini ( Kayla )



Love doesn't have to be perfect, but it has to be real__ @perihujan_


“ Tanteee, siniiii...” teriak Kayla sambil melambaikan tangan ke arah Ailya.
Ailya tersenyum, dan berjalan ke arah Kayla. Hari ini Kayla memakai bandana warna merah muda senada dengan bajunya, rambutnya berkibar saat berlari menjemput Ailya.
“ sini..sini..” celoteh Kayla, tangannya menuntun Ailya ke meja tempat Ia dan ibunya menunggunya siang ini.
Ailya tersenyum kearah Melia, “ Maaf, tadi agak macet jadi terlambat “
“ Gak papa, kami juga baru sampai “
“ Iya, gak papa tante. Jakarta selalu macet tan..” ucap Kayla, lalu tersenyum memamerkan giginya yang putih.
Ailya, mengusap rambut Kayla.
Melia tersenyum.
“ Kayla, aku titipkan sama kamu ya. Aku rapat sampai pukul empat kok. Gak papa kan Ya? “
“ Iya, gak papa. Mbak, tenang saja “ Ailya meyakinkan.
“ Kayla, gak papa kan mama tinggal sama tante Ailya? “ tanya Melia kepada Kayla.
“ Gak papa ma “ jawab Kayla penuh semangat.
Melia mengecup kening Kayla, sebagai pengganti kata ‘baik-baik ya, jangan nakal’ mungkin. Sementara Ailya berdiri mematung memandangi pemandangan itu.
Ailya berusaha menguasai diri, sejak perjalanan kesini Ia berusaha menguatkan diri. Bahkan sejak menerima telpon dari Rudi semalam yang memintanya untuk menggantikan Ia menjaga Kayla siang ini.
“ Ya, titip Kayla ya” ucap Melia sebelum meninggalkan rumah makan cepat saji itu. Ailya tersenyum meyakinkan.
Sekarang tinggal Ailya dan Kayla, ya dua manusia yang baru  bertemu dua kali ini.
“ Kayla, suka ke Timezone? Kita bermain disana yuk? “ tawar Ailya, saat membantu Kayla memebereskan makanannya.
Kayla mengangguk.
Maka kehebohan di Timezone pun dimulai. Mulai bermain water fallz, Dino Pop, sampai heboh bermain dance revolution. Tertawa dan berteriak histeris saat memenangkan jackpot waktu memainkan Maxi Claw – mendapatkan sebuah boneka beruang.
“ Tante “ kayla menarik-narik lengan Ailya.
“ Iya, ada apa Kayla “
“ Haus “ rengek Kayla.
“ Kita keluar dulu ya, sini tante bawakan bonekanya “ Ailya mengambil boneka beruang hadiah dari permainan tadi.
Tangan Kayla, menggengam Ailya erat. Langkah kecilnya mengikuti langkah Ailya, yang menuju ke food court .
“ Minum air putih dulu ya? “ ucap Ailya, sambil menyodorkan sebotol air mineral ke arah Kayla.
Kayla menerimanya dalam diam, dan menghabiskan separuhnya. Dan Ia benar-benar kehausan.
“ Tante mirip Papa, selalu menyuruh Kayla minum air putih. Padahal tadi Kayla berharap dapat es krim “ katanya, lalu menyerahkan botol minuman itu kepada Ailya sambil tersenyum.
Ailya tersenyum.
“ Es krimnya sebentar lagi ya, sambil nunggu mama datang menjemput. Kita ke baskin, tapi ini rahasia jangan bilang papa ya? “ Ailya tersenyum ke arah Kayla, dan menyodorkan kelingkingnya.
“ Iya, janji ” Kayla menautkan kelingkingnya, dan ia tersenyum lebar.
Akhirnya setelah menunggu sejenak pesanan waffle keju, Ailya dan Kayla beranjak dari food court menuju outlet Baskin yang berada di lantai dua mall ini.
“ Tante suka coklat ya, Kayla juga “ ucapnya sambil menikmati chocolate mouse royale sama dengan pesanan Ailya.
Mereka duduk di kursi kayu, bersebelahan.
“ Iya, tante suka coklat. Rasanya manis dan sedikit pahit. Jadi tidak terlalu eneg. Kalau Kayla kenapa suka coklat? “ tanyanya, sambil mengusap es krim yang menempel di pipi Kayla.
“ Karena, tante suka. Jadi Kayla juga suka “
Ailya tersenyum, Kayla benar-benar gadis yang manis.
“ terima kasih ya “
Kayla tersenyum, sambil terus menikmati es krimnya.
Ailya menerima pesan singkat dari Melia, lima belas menit lagi dia akan menjemput Kayla. Ailya masih mendengar celoteh Kayla. Kali ini tentang hobinya yang suka memotret.
“ Kayla potret tante ya, Kayla lebih jago motret daripada papa “ katanya, sambil mengeluarkan polaroid instax mini-nya. Dia menyuruh Ailya bergaya.
Setelah tiga puluh lima menit menunggu, Melia datang. Kayla berlari menjemput mamanya. Berceloteh memamerkan boneka beruangnya, dan foto Ailya hasil jepretannya.
“ Terima kasih Ya, kamu sudah menemani Kayla. Maaf kalau dia membuatmu repot “ kata Melia tulus.
“ Tidak perlu sungkan, Kayla anak yang menyenangkan. Aku senang bermain dengannya. Justru aku yang berterima kasih karena mbak mengijinkanku bermain dengan Kayla “
Melia tersenyum, “ Ayo, Kayla pamit dengan Tante Ailya “
“ Terima kasih tante, kayla pamit dulu ya “
“ Iya, terima kasih kembali Kayla “
Melia dan Kayla pamit, Ailya menatap punggung mereka yang menjauh. Saat berbalik tiba-tiba seseorang menubruknya dari belakang. Ada Kayla yang memeluknya. Ailya jongkok agar dapat memeluk kayla.
“ Kayla sayang tante, terima kasih sudah menemani Kayla “ lalu mencium pipi Ailya.
Ailya memeluk lebih erat Kayla, “ iya, sayang..terima kasih ya “
Melia mematung melihat adegan itu.
Ada cairan bening yang meluncur di disudut mata Melia, “ Kamu selalu benar  mas, Kayla pun dengan mudah mencintai Ailya. Gadis itu sungguh luar biasa “

 Pic : google.com

Kamis, 24 Mei 2012

Ini hatiku ( Rudi )





Sampai kau berdamai dengan dirimu, kau baru mampu berdamai dengan perasaanmu – Tia Setiawati Priatna.


Aku menghempaskan tubuhku pada sofa. Lelah.

Hari ini adalah malam keduaku di Jakarta, setelah dua tahun lalu aku meninggalkannya. Aku menarik selembar foto dari saku celanaku. Fotoku bersama Kayla dan Melia, yang diambil dari polaroid instax mini – mainan baru Kayla,  oleh Ailya saat kami bertemu tadi.

Aku tak bisa menahan diri untuk tersenyum saat melihat ekspresi Kayla. Ah, bidadariku telah tumbuh menjadi gadis kecil yang mempesona. Saat tanganku menyentuh foto tersebut, tanganku berhenti pada paras Melia. Ada yang menderu, apakah masih pantas aku merindukannya?

Saat pertemuan tadi pun aku tak kuasa untuk mencuri-curi pandang. Melia selalu saja seperti itu, tak mau terlihat rapuh. Selalu ingin terlihat kuat dan bersemangat. Aku tersenyum kecil mengingat kejadian saat makan malam tadi saat dia gugup mengambilkan aku nasi dan lauk saat makan malam tadi, ya seperti yang selalu ia lakukan dulu saat kami masih bersama.

Dulu.

Sepertinya pertemuan tadi telah membuatku larut dalam uforia pesta kenangan. Ya, Melia hanya bagian dari masa laluku. Semanis apapun itu, bukankah aku tak mungkin kembali padanya? Aku telah menentukan pilihan, untuk memulai segalanya dari awal bersama Ailya.

Ailya, gadis yang manis. Aku mencintainya, menyukai caranya mencintaiku. Rasanya baru kemarin siang aku bertemu dengannya di acara konverensi ASEAN di Kuala Lumpur setahun yang lalu. Pertemuan yang merubah segala kehidupanku. Gadis itu telah memberiku kesempatan.

Semoga pertemuan kecil tadi tidak membuatnya meragu, semoga pertemuannya dengan masa laluku memberikannya kekuatan untuk lebih mencintaiku. Ah, egoisnya aku. Apakah aku pernah berpikir tentang perasaannya?

Bukankah Ailya tampak baik-baik saja saat di pertemuan tadi, bercanda dengan Kayla. Bahkan tadi Ia menemani Kayla bermain? Apa ada yang salah dengan intuisiku? 

Handphoneku bergetar, ada satu pesan masuk.
“ Sudah sampai rumah? Aku tidak bisa tidur “
Aku membaca pesan pendek dari Ailya. Aku menekan tombol dial, menelpon Ailya.
“ Hallo “
“ Baru saja aku ingin menelponmu, aku sudah sampai setengah jam lalu. Kenapa gak bisa tidur De’ ? “ tanyaku.
“ Gak papa, mungkin kecapean saja “ jawabmu.
Ailya lupa, aku tahu gak papanya dia berarti ada apa-apa.
“ Kamu kepikiran soal tadi? “
Kamu tak menjawab.
“ Maaf ya De’ seharusnya aku tak secepat ini mengambil sikap, seharusnya aku meminta pendapatmu setuju atau tidak untuk bertemu Kayla dan Melia “ ujarku menyesal.
“ Maaf...”
“ Kenapa minta maaf? “ tanyaku khawatir.
“ Seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Hmm, sudahlah aku tidak apa-apa kak. Istirahatlah, bukankah besok ada meeting pagi. Besok tidak perlu menjemputku. Kakak istirahat ya, aku juga sudah mulai mengantuk “ Katamu cepat.
“ Baiklah. Selamat memejam ya De. “
“ Iya, makasih kak “
Lalu, klik. Call ended.

Aku melihat layar handphoneku. Apakah ini berarti luka?

***

Pukul 23.30, di depan pintu sebuah apartemen.
Aku mengetuk pintu itu pelan, berharap sang pemilik apartemen akan membukakan pintu itu untukku. Lima menit menunggu belum juga ada tanda-tanda pintu akan di buka. Akhirnya dengan sedikit kecewa aku mengetuk pintu itu lagi, dan sebelum tanganku sampai menyentuh pintu itu pun sudah terbuka.
Ada kamu dengan piyama tidurmu, sudut matamu yang menyisakan tangis dan rambut yang kamu ikat sembarangan. Tapi sama sekali tak mengurangi kecantikanmu.
Aku menghambur ke arahmu,  memelukmu. Tanpa membiarkan kamu berucap apa-apa.
“ Aku mencintaimu De’ “ ucapku dan memelukmu semakin erat.
“ Aku juga, kak...sangat mencintaimu “ dan balas memelukku.

Tak ada kata yang lebih indah dari sebuah kata saling mencintai. 


Pic : Tody Pramantha
Sajak di kutip dari tumblr Tia Setiawati Priatna


Rabu, 09 Mei 2012

Awal ( Ailya )



Sebaik-baiknya hidupku, adalah mencintaimu yang telah kuniatkan dari dulu – Tody Pramantha

Aku melihat handphoneku, ada satu pesan singkat darimu.

“ Aku masih bersama Melia, tunggu aku di Coffee Bean “

Jadi urusan itu belum selesai? Tanya batinku. Aku berjalan menuju Coffee Bean bandara. Duduk di sofa dekat kaca. Ah, selalu saja tempat ini menjadi tempat favoritemu untuk memintaku menunggumu.
Aku memesan hot choco, seperti kamu tahu itu adalah minuman favoriteku. Dan belakangan baru aku tahu minuman coklat adalah minuman favorite Melia juga, wanitamu sebelum kamu bertemu denganku.
Setiap kali aku menyadari begitu banyak persamaanku dengannya, aku selalu menangis. Mungkinkah aku hanya akan menjadi bayangan Melia? Salahkah aku cemburu setiap kali menyadari itu. Meski berulang kali kamu meyakinkanku bahwa aku adalah terakhir untukmu.
Dan demi berbeda dengan Melia, aku tak ingin memanggilmu dengan mas tapi kakak. Ya, setidaknya panggilan kakak pun berbeda dari orang-orang sekitarmu yang memanggilmu koko. Dan aku berterima kasih kamu tak pernah mempermasalahkan hal itu.
Hampir satu jam aku menunggu di coffee bean ini, dan aku belum menemukan tanda-tanda kamu segera menyusul kesini. Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, ah jam tangan ini selalu mengingatkanku padamu. Hadiah saat pertama kali kita jadian, katamu jam tangan ini untuk mengingatkanku agar tak datang terlambat saat kita berjanji untuk bertemu. Tapi sepertinya aku yang selalu menunggumu.
Hari ini tepat satu tahun aku dan kamu  memutuskan untuk bersama, kita.
Bukankah aku harus menerima dan mengakui bahwa aku hanya seorang Ailya. Siapa aku dibandingkan dengan Melia? Menjadi yang kedua untuk orang yang kita cintai. Membayangkan saja dulu aku tak pernah, dan aku percaya bahwa cinta tak pernah mememinta kepada siapa ia dijatuhkan. Termasuk bertemu denganmu setelah kegagalanmu.
Masih teringat jelas telponmu kemarin malam. Saat memintaku untuk datang ke Jakarta. Ya, hari ini kamu memintaku untuk menemui Kayla – putri semata wayangmu. Gadis kecil yang selalu membuatku diburu rasa cemburu. Bagaimana aku tidak cemburu, di setiap pertemuan kita yang selalu kamu bahas adalah Kayla, Kayla dan Kayla. Tapi aku harus belajar untuk tabah, bukankah aku mencintai lelaki yang sama dengan Kayla?
Suatu hari nanti saat aku menjadi teman hidupmu yang paling setia aku pun akan mencintai Kayla, mencintai putri kebangganmu. Tak masalah bukan jika mulai hari ini aku belajar untuk mencintainya, mungkin tak sebesar yang kamu harapkan. Tapi aku akan belajar.
Saat tujuh puluh lima menit aku menunggu, akhirnya kamu datang dengan satu buket mawar merah. Dengan senyum khasmu kamu duduk di sebelahku.
“ Maaf, membuatmu menunggu “ ucapmu, lalu mengecup pipiku.
Aku menggeleng, tak masalah. Bukankah memang selalu seperti ini?  Aku harus selalu menunggumu.

***

Aku berdiri terpaku saat melihat gadis bergaun merah maroon dan berbando merah itu berlari ke arahmu, ia memelukmu erat. Aku tahu ada rindu yang membuncah disana. Saat aku mengalihkan pandagan ke arah lain, kudapati wanitamu sedang menyusut air matanya. Aku tersenyum ke arahnya, menyembunyikan perih. Ia pun demikian, Melia. Ah, tiba-tiba saja cemburuku membuncah.
Benarkah aku dapat menyita sedikit cintamu di ruangan ini?


Pic : hasil nodong bang Tody :)
  ~ cerita ini lanjutan dari postingan yang kemarin, lihat "aku dan kenangan ( Melia ) ~


Selasa, 08 Mei 2012

Aku dan kenangan ( Melia )



“ Sekalipun mencintaimu adalah kesalahan, aku tak peduli...karena bagiku mencintaimu adalah kebahagianku. “ – Peri Hujan.

Aku mengaduk choco blanded – ku, sementara kamu membisu.
Ini adalah rekor pertemuanku dengan kamu setelah perpisahan itu. Ketika aku dan kamu memilih untuk menjalani kehidupan masing-masing, menanggalkan kita meleburnya menjadi aku dan kamu.
Perpisahan dua tahun lalu.
Rumah makan cepat saji ini masih sama seperti empat tahun yang lalu, masih sama seperti saat kita merayakan ulang tahun pertama putri kita – Kayla. Entah demi alasan apa aku memilih tempat ini untuk bertemu dengan kamu. Semoga kenangan ini tak meronta dan memintamu untuk kembali.
“ Bagaimana Kayla? “ tanyamu.
“ Baik, seperti yang sering dia bilang padamu setiap kamu menelponnya. Dia sedang senang-senangnya memainkan hadiah ganget terbaru darimu. Kamu tidak berubah selalu memanjakannya “ jelasku, canggung.
Kamu tersenyum.
“ Aku tidak memanjakannya, hanya memfasilitasi Kayla untuk mengembangkan potensinya “ ucapmu, lalu meneguk kopimu.
“ Kamu tahu kan, Kayla anak yang cerdas “ lanjutmu.
Aku tersenyum, ya Kayla cerdas seperti kamu. Sehingga aku terkadang harus berlari untuk mengejar pemikiranmu. Inikah alasan aku tak dapat bertahan denganmu?
“ Kayla bahagia, mendengar kamu kembali mas, “ kataku canggung saat memanggil kamu dengan panggilan itu.
Panggilan mas, ah itu kan dulu alasan kamu begitu jatuh cinta kepadaku? Katamu aku berbeda. Ketika semua memanggilmu dengan panggilan koko aku justru memanggilmu mas. Seandainya kamu tahu, aku selalu ingin menarik perhatianmu. Untuk itulah aku selalu ingin berbeda diantara orang-orang sekitarmu, termasuk berpura-pura untuk tidak membutuhkanmu.
Kamu tetap membisu, jujur aku tak bisa menahan diri untuk menyembunyikan degub jantung saat melihat wajah orientalmu. Wajah yang selalu mengusikku tiap malam dan saat melihat Kayla, ya kamu selalu egois Kayla pun mewarisi semua genmu tanpa sedikit pun ada untukku.
“ Lalu kapan, kamu mengijinkan aku bertemu Kayla. Aku sudah kangen dengan bidadari kita “ katamu. Hatiku mencolos saat kamu berujar kita, ah sudah berapa lama kamu tidak menyebut kata-kata itu. Kita.
“ Terserah mas, rumahku selalu terbuka untukmu mas. Kayla juga pasti senang kalau mas berkunjung. “ ucapku, lagi-lagi masih gugup. Aku meminum choco blandedku. Berusaha mengusir perasaan tak nyaman ini.
“ Bagaimana kalau nanti malam, selepas magrib. Ailya, datang sore ini. Aku ingin mengenalkannya pada Kayla. “
Ailya? Ah, bagaimana mungkin aku melupakan ini. Ya, aku lupa kalau ternyata kamu akan bertunangan dengan Ailya, wanita yang kamu temui saat perjalanan ke Malaysia setahun yang lalu. Wanita yang kamu ceritakan satu bulan yang akan datang akan kamu pinang. Wanita yang memenuhi hari-harimu setahun terakhir ini, wanita yang memberimu kesempatan untuk berbahagia.
“ Ya, kurasa tak ada masalah. Nanti akan aku jelaskan pada Kayla “ kataku.
“ Terima kasih Mel. Untuk masalah Ailya, biar aku yang menyampaikan sendiri pada Kayla “ katamu, lalu menarik tanganku dan menggenggamnya. Aku reflek menariknya, aku tak ingin kamu merasakan degub jantungku.
Aku menggeleng.
Kamu tersenyum, “ Maaf..”
***
Malam itu, Kayla memakai gaun warna merah maroonnya. Dia nampak lucu dengan bando yang juga senada dengan bajunya. Dia duduk di sofa ruang tamu, wajahnya tak sabar menunggu kedatangan papanya. Ya, aku tahu persis Kayla sangat mencintai papanya.
Tepat pukul tujuh, Mas Rudi datang. Kayla berlari ke arahnya, dan memeluk mas Rudi. Aku menitikkan air mata. Sementara wanita yang sejak kedatangannya berdiri dibelakang mas Rudi tersenyum kearahku, ya mungkin dia harus bersabar dan memulai terbiasa berbagi cinta dengan Kayla. Bukankah Dia mencintai lelaki yang sama?

Pic : diambil dari google.com ( search pic love tumblr )