Senin, 27 Februari 2012

Me Time


Saya ingin mencari keinginan hati.
Itulah yang saya pikirkan ketika akhirnya saya beringsut mundur dari rutinitas saya. Kemarin saya mencoba berpikir mencari-cari apa sebenarnya yang saya cari. Setelah hampir sebulan penuh otak saya seperti over loud. Masalah pekerjaan, keluarga, studi, hubungan saya dengan teman, dan hati.
Akhirnya sebelum tidur pada sabtu malam saya mematikan semua HP saya, menjauhkan laptop dari jangkauan saya dan saya ingin tidur tanpa bermimpi. Esoknya saya meminjam telpon teman kos saya untuk menghubungi orang rumah, menjelaskan kalau seharian ini tak bisa menelpon atau sms karena HP saya off. Untung saja orang tua maklum atas kelakuan aneh putri bungsunya ini =)
Dan dimulailah me time.
Saya ingin memanjakan diri saya, sudah lama saya tidak melakukan treatment, akhirnya saya memilih facial, hair treatment, dan merapikan sedikit rambut saya. Lanjut dari salon langganan saya pun menuju KFC, hanya sekedar ingin merenung sambil menikmati hot chocolate. Saya sengaja memilih bangku paling pojok, ya saya hanya ingin sendiri.
Saya mengingat kejadian yang datang silih berganti beberapa bulan ini, betapa masalah disekitar telah menenggelamkan diri saya. Saya sibuk dengan keinginan orang-orang disekitar saya, hingga saya pun lupa apa yang menjadi keinginan saya. Sekedar bertanya apa keinginan hati pun tak sempat. Sebelumnya saya sempat curhat dengan sahabat saya, saya bilang kalau sedang stuck, sedang stress, dan pas saya ditanya kenapa? Eh saya malah bingung jawabnya bagaimana, dan kesimpulannya saya benar-benar tidak tahu apa maunya hati saya.
Saya pun akhirnya hanyut dalam lamunan saya, berpikir tentang banyak hal, tentang rencana karir, studi, hubungan pertemanan saya, dan rencana besar saya dengan kakak. Dan tentu saja tentang hati.
Saya sedang mencari-cari tentang keinginan bagian tubuh yang paling banyak inginnya ini. Kenapa akhir-akhir ini saya merasa sering khawatir, merasa ada yang sering membuat saya berpikir. Mungkin saatnya saya membagi keluh kesah ini dengan seseorang, mungkin juga saya sudah terlalu lelah berjalan sendirian. Dan akhirnya membuat saya limpung sendiri. Bukankah bersama akan lebih baik? Sekuat apapun kita, setangguh apapun kita, kita selalu berbalik kepada pasangan. Karena kita tak pernah bisa hidup sendiri.
Dan akhirnya me time kemarin saya tutup dengan ngadem di Gramedia, membeli beberapa koleksi buku yang sempat saya tunda waktu belinya. Saya bahagia hari ini, saya bahagia dapat membahagiakan diri saya. Saya bahagia berdiskusi dengan hati saya, bertanya apa yang diinginkanya. Dan akhirnya, terima kasih untuk saya sendiri. Cheers up!!!

Sabtu, 25 Februari 2012

Blue Wedding Syndrome

Setiap kali ke acara pernikahan yang selalu membuat saya malas adalah ketika saya ditanya dengan pertanyaan serupa ;
“kapan nyusul?”
“loh, masnya kok gak diajak?”
Dan bla...bla..
Apalagi pernikahan tersebut adalah pernikahan saudara, ketika saya didapati duduk sendiri maka saya akan diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya jadi berpikir memang salah ya kalau datang ke acara pernikahan sendirian? Apakah itu berarti saya masih belum punya pasangan? Terus apakah kalau punya pasangan setiap kali ada momen-momen tersebut pasangan saya harus saya bawa-bawa? #mendadak ngomel.
Sudahlah saya tidak ingin membahas masalah itu, meskipun saya juga merasa nelangsa di acara pernikahan yang saya hadiri tadi. Bukan karena saya merasa sendiri, tetapi melihat yang lain sudah menggandeng suami atau istrinya apalagi dengan kehebohan anak-anak mereka mendadak saya terkena blue wedding syndrom. Dan hal ini sudah saya duga sebelumnya.
Pernikahan yang saya hadiri tadi siang adalah pernikahan seorang teman yang kebetulan dalam perjalanan cintanya saya adalah korban tempat curcolnya. Mengingat perjalanan cintanya yang jatuh bangun membuat saya berdecak kagum, ya mister right Dia adalah orang yang ditemuinya enam bulan lalu menggantikan pacar yang sudah empat tahun.
Katanya disela berita heboh yang saya terima dua bulan lalu, ketika Dia dengan suara cemprengnya menelpon saya dan berteriak kalau baru saja dilamar. Saya pikir Dia dilamar dengan sang pacar yang hampir empat tahun itu tapi nyatanya saya salah, mister right itu adalah pria yang Dia temui enam bulan lalu di sebuah ruang tunggu terminal.
Jodoh katanya.
Semua serba cepat, saya sesekali mendengar curhatnya tentang sang mantan. Dan ajaib, semua begitu mudah tanpa hambatan sekali. Begitu indahnya jalan cerita cinta dari Sang Khalik. Dan sebulan yang lalu saya didatanginya bersama mister right, meminta saya untuk datang ke acara pernikahannya. Dan tadi saya ikut larut dalam kebahagiannya.
Saat menikmati es cream di salah satu sudut saya merenung, ya suatu saat saya juga akan menikah. Sama seperti Dia, sama seperti juga dengan beberapa teman yang saya temui tadi. Membangun rumah tangga, mempunyai anak, dan mendiskusikan segala sesuatunya bersama suami. Menyenangkan pastinya. Tapi siapkah saya jatuh cinta setiap hari dengan orang yang sama? 

#di sudut kamar =)


nb : foto diambil dengan setengah maksa dari google.com 

Jumat, 24 Februari 2012

Terima kasih



Terima kasih untuk :

Kamu yang mengajariku arti kesabaran sesungguhnya,
memaafkan kelemahan dan kesalahan dan keadaan yg tidak sesuai keinginan.

Kamu yang mengajariku arti memahami dan mengerti b
ahwa tak selamanya pemikiran kita adalah terbaik.

Kamu yang membuatku sekuat dan setabah ini.


Kamu yang mewarnai hidupku d
engan tangis dan tawa.

Kamu yang memperlihatkan sisi dunia y
ang lain, bahwa hidup tak selalu menyenangkan

Kamu yang membuatku mengerti dan lebih bijak dalam memaknai arti kesabaran, arti menunggu dan menghargai kebersamaan.

Rabu, 08 Februari 2012

Review ‘Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah’


Penampakan KAnSAM
Novel terbaru ( terbit 19 Januari 2012 ) Tere Liye ini berkisah tentang Borno, bujang paling lurus di tepian sungai Kapuas. Jika melihat sampulnya, asli tidak bakal membuat jatuh cinta karena tidak ada sinopsis yang biasa berada di cover belakang  untuk menuntun calon pembeli/pembaca memasukkan novel ini pada tas belanjanya. Tapi karena novel ini pernah publish di page Tere Liye jelas saja novel ini menjadi novel yang ditunggu bagi para penggemarnya ( termasuk saya ).
Novel yang berjumlah 39 bab dengan 512 halaman ini bercerita tentang kisah cinta Borno dan Mei. Secara keseluruhan, novel ini bertemakan cinta. Mengambil setting kota Pontianak, pada awal cerita kita akan diajak sedikit mengenal kepribadian Borno yang tercermin dalam usahanya untuk tetap giat bekerja. Setelah ayahnya meninggal, segala macam pekerjaan telah dia jalani. Dari menjadi pekerja kasar di pabrik pengolahan karet  sampai penjaga karcis pelampung ( kapal feri  ). Sosok Borno memang digambarkan sebagai lelaki yang bejiwa mandiri. Setelah sekian kali dia berganti pekerjaan, akhirnya profesi yang terakhir adalah sebagai pengemudi sepit (dari kata speed) yaitu perahu kecil dengan mesin tempel. Disinilah kisah cinta sederhana itu dimulai. Karena pada saat Borno memulai profesi pengemudi sepit dia bertemu dengan gadisnya.
Gadis yang diketahui benama Mei itu adalah salah satu penumpang sepit yang membuat Borno jatuh hati. Bahkan membuat rela Borno selalu antri di nomor tiga belas, demi bertemu Mei selama lima belas menit.  Mei yang berprofesi sebagai guru ditugaskan di Pontianak tempat yayasan orang tuanya. Kita akan diajak oleh Tere Liye pada kisah-kisah lucu dan menyentuh tentang pasang surutnya perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta, dan saya rasa Tere Liye paling jago membuat kisah seperti ini. Selain itu, seperti biasa Tere liye dalam novelnya selalu menampilkan sosok ‘GURU’, dalam novel ini sosok itu ada pada karakter Pak Tua.  Kisah cinta sederhana, Borno yang pengemudi sepit dan Mei seorang guru. Keterikatan masa lalu Mei dan Borno lah yang menjadi konflik dari cerita ini.
Karena saya juga membaca versi onlinenya, secara kesuluruhan saya lebih menyukai ending dari versi onlinenya, lebih ‘DRAMATIS’. Mengapa demikian? Karena saya rasa ending versi onlinenya lebih mewakili isi dari novel ini, lebih mengena dengan semua nasihat Pak Tua kepada Borno. Apa itu tentang penerimaan. Meski menurut  Tere Liye, ending dari versi novel lebih dekat dengan makna apa itu cinta sejati, eaa.
Berikut saya tampilkan beberapa kutipan favorite saya di novel ini ;

“perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan tetaplah perasaan”

“ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri”

“cinta adalah kebiasaan


Foto : Koleksi pribadi =)


Selasa, 07 Februari 2012

Aku tanpamu hari ini

Masih ingat dengan Rumput Hijau?
Dia unrequeted Love dalam kehidupanku, dengan sukses Dia membuatku mati rasa. Hampir enam tahun kami berpisah dengan pertemuan pertama sekaligus menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Bagaimana kabarnya kini? Sudahkah Ia menikah dengan wanita pilihannya?
Aku tidak pernah menyangka dari Ospek yang super menyebalkan rasa ketertarikan itu tumbuh, aku menyukainya Cinta yang tak pernah aku ungkapkan. Mungkin dia mengetahuinya, aku yang diam-diam selalu mengintip dari jendela kelas kuliahku. Menatapnya di taman kampus. Mengamati setiap detail lakunya. Bagiku dia sungguh berbeda, bukan hanya kerena tampilanya yang berbeda waktu Ospek, bukan karena rambut tin-tin dan kacamatanya, bukan juga binder sampul one piece, tapi benar keadaan kadang menyadarkan kita ketika pil pahit merubah rasa manis romantika kehidupanku. Ketika aku menjadikannya teman saja tak mampu, ia terlalu tinggi untukku. Dan bayang-bayang kehidupannya telah ia pilih.
Dan dimanapun aku tetap mengingatnya, hadir dengan kejutan-kejutan yang tak pernah ia sadari.
Dan Ia akan selalu berkata,

“ Bagaimana kamu tahu? ”

Dan ketika Ia genap berulang tahun yang ke 24, ucapan selamat dariku tak ada. Sempat aku berpikir akankah Ia menunggu ucapan selamat dariku?
Entah aku tak sanggup mengucapkannya. Aku benar-benar lelah, atau aku tak lagi menginginkanya hadir dalam hidupku?

Senin, 06 Februari 2012

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com
Apa hubungannya kamu dan coklat?
Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini.
Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh.
Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu.
Kamu seperti coklat, CANDU!!


Di sudut Kamar =)