Rabu, 08 Februari 2012

Review ‘Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah’


Penampakan KAnSAM
Novel terbaru ( terbit 19 Januari 2012 ) Tere Liye ini berkisah tentang Borno, bujang paling lurus di tepian sungai Kapuas. Jika melihat sampulnya, asli tidak bakal membuat jatuh cinta karena tidak ada sinopsis yang biasa berada di cover belakang  untuk menuntun calon pembeli/pembaca memasukkan novel ini pada tas belanjanya. Tapi karena novel ini pernah publish di page Tere Liye jelas saja novel ini menjadi novel yang ditunggu bagi para penggemarnya ( termasuk saya ).
Novel yang berjumlah 39 bab dengan 512 halaman ini bercerita tentang kisah cinta Borno dan Mei. Secara keseluruhan, novel ini bertemakan cinta. Mengambil setting kota Pontianak, pada awal cerita kita akan diajak sedikit mengenal kepribadian Borno yang tercermin dalam usahanya untuk tetap giat bekerja. Setelah ayahnya meninggal, segala macam pekerjaan telah dia jalani. Dari menjadi pekerja kasar di pabrik pengolahan karet  sampai penjaga karcis pelampung ( kapal feri  ). Sosok Borno memang digambarkan sebagai lelaki yang bejiwa mandiri. Setelah sekian kali dia berganti pekerjaan, akhirnya profesi yang terakhir adalah sebagai pengemudi sepit (dari kata speed) yaitu perahu kecil dengan mesin tempel. Disinilah kisah cinta sederhana itu dimulai. Karena pada saat Borno memulai profesi pengemudi sepit dia bertemu dengan gadisnya.
Gadis yang diketahui benama Mei itu adalah salah satu penumpang sepit yang membuat Borno jatuh hati. Bahkan membuat rela Borno selalu antri di nomor tiga belas, demi bertemu Mei selama lima belas menit.  Mei yang berprofesi sebagai guru ditugaskan di Pontianak tempat yayasan orang tuanya. Kita akan diajak oleh Tere Liye pada kisah-kisah lucu dan menyentuh tentang pasang surutnya perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta, dan saya rasa Tere Liye paling jago membuat kisah seperti ini. Selain itu, seperti biasa Tere liye dalam novelnya selalu menampilkan sosok ‘GURU’, dalam novel ini sosok itu ada pada karakter Pak Tua.  Kisah cinta sederhana, Borno yang pengemudi sepit dan Mei seorang guru. Keterikatan masa lalu Mei dan Borno lah yang menjadi konflik dari cerita ini.
Karena saya juga membaca versi onlinenya, secara kesuluruhan saya lebih menyukai ending dari versi onlinenya, lebih ‘DRAMATIS’. Mengapa demikian? Karena saya rasa ending versi onlinenya lebih mewakili isi dari novel ini, lebih mengena dengan semua nasihat Pak Tua kepada Borno. Apa itu tentang penerimaan. Meski menurut  Tere Liye, ending dari versi novel lebih dekat dengan makna apa itu cinta sejati, eaa.
Berikut saya tampilkan beberapa kutipan favorite saya di novel ini ;

“perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan tetaplah perasaan”

“ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri”

“cinta adalah kebiasaan


Foto : Koleksi pribadi =)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar