Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #DistyDalamDiary

Flamboyan (R) --- 4

 Ada beberapa cara untuk mencintaimu, dalam diam salah satunya -- @perihujan_ Pagi. Datang paling awal adalah rutinitas di kampus. Sebenarnya agak malas memaksakan diri berangkat pagi-pagi, seharusnya kebiasaan ini sudah berubah sejak aku menanggalkan seragam putih abu-abu ku. Tetapi Ayah, tak pernah rela aku meninggalkan rutinitasku. Maka, setiap pagi aku duduk di taman ini. Menunggu kuliah pagiku dimulai, pukul tujuh sementara sejak pukul setengah tujuh aku sudah sampai di kampus ini. Hfft. Haruskah rasa ini diberi nama? Sebenarnya aku tak sendiri, ada Dia yang setiap pagi menemaniku. Sayangnya, Dia terlalu angkuh untuk sekedar duduk bersebelahan denganku. Dari buku-buku yang ia bawa, sepertinya Dia anak Akuntansi. Dari pengamatanku Dia berbeda dengan anak Akuntansi umumnya, tas ransel hitam, sepatu kets , dan head set yang menyumpal telinganya membuatnya berbeda dengan cewek ekonomi umumnya dan Akuntansi pada khususnya. Mungkin Dia alien yang terdampar di ...

Hello Boy (D) -- 3

Terkadang kita tak pernah tahu, mengapa kita melakukan hal-hal yang sulit diterima logika @perihujan_ Aira memasukkan uang receh ke box telpon koin depan sekolah di daerah Jalan Bandung. Ia menekan-nekan nomor yang sudah ia catat di telapak tangannya. Nomor telpon yang akan selalu ia ingat diluar jangkauan alam sadarnya. Tut..tut..tut.. Belum ada jawaban, ia menutup horn telpon lalu kembali memencet-mencet nomor telpon yang sudah ia ingat. Tut..tut..tut.. Sampai akhirnya ketika ia hampir putus asa telpon pun diangkat. “Hallo.. “ “Eh, iya...hallo “ jawab Aira gugup, ia tak siap jika telpon akan diangkat secepat itu. “Cari siapa?“ tanya suara diseberang. “Hmm, Raflinya ada?“ “Ooo.....Raafffffffffffffffliiiiiiiiii, ada telpon “ Aira menjauhkan horn telpon, gila suaranya sampai memekakkan telinga Aira. Ia, mengernyitkan dahi, memandang aneh horn telpon. “ Ya, Hallo “ Dheg , tiba-tiba Wajah Aira memanas. “Hei ini Rafli, cowok yang ingin kamu ajak bica...

Konspirasi (D) -- 2

Sudah satu minggu Aira menjalani status barunya sebagai Mahasiswa. Ia in the kos, di jalan Jombang dekat kampusnya. Ia yang tidak bisa naik motor bisa ke kampus hanya dengan jalan kaki. Ya dia adalah pedistrian sejati, ia tak mau ikut merusak bumi dengan menambah sesak emisi di bumi ini dengan berkendara motor.                 Aira, datang terlalu pagi hari ini masih kurang seperempat menit lagi hingga jam tujuh kuliah ekonomi Mikro di kelas E 103. Ia menunggu di taman kampusnya, belum satupun temannya datang. Sambil mendengarkan musik melalui Ipod pink, agak kontras memang Aira lumayan tomboi tapi sangat menyukai warna pink.Tapi dia tidak sendiri ada orang lain,   yang juga selalu datang pagi dan duduk di taman yang berada diantara gedung E3 dan E4. Dia adalah si rambut tin-tin itu. Laki-laki yang menemaninya menikmati drama akhir OSPEK nya.          ...

Awal mula (D) -- 1

Aira membetulkan letak topi petaninya, sambil mengumpat dia berjalan menuju ruang auditorium fakultasnya. Hari ini adalah hari terakhir kegiatan OSPEK di kampusnya, pembodohan menurut kamus Aira. Sudah cukup selama hampir satu minggu Aira berdandan seperti pemulung. Baju warna putih, rok hitam, jas almamater,   topi petani warna hijau, kepang rambut sepuluh ikat, kertas warna kuning bertuliskan namanya yang dikalungkan dilehernya, belum lagi tas buntut dari kain goni yang diwinter warna kuning berisi penuh air mineral 500 ml, air kuning 1300 ml, pisang merah dempet, buku tulis khusus untuk mengumpulkan tanda tangan dari senior, dan alat musik ecek-ecek yang terbuat dari tutup botol minuman.                 Aira duduk bersebelahan dengan Denia, teman seangkatannya yang ia temui waktu daftar ulang dan bertekat berjanji bakal jadi sohib paling klop di angkatannya. “Den, ngapain sih kita disuruh masuk l...

Prolog #DistyDalamDiary (1)

“ Jika bersamamu adalah mimpi, jangan pernah biarkan aku terbangun. Sungguh aku tak pernah mampu melepaskan genggamanmu” @perihujan_ Jakarta, 31 Desember 2012.   Dika menghentikan pointer mousenya, dia melihat jam yang berada di laptopnya. Pukul 23.49 berarti kurang sebelas menit menuju pergantian tahun. Dika mendorong tubuhnya kesandaran kursi putarnya, tengkuknya kaku terlalu lama Ia paksa untuk fokus pada laptopnya. Memelototi deretan angka-angka, menggumam tak jelas berharap deretan angka-angka itu mau berdamai dengannya. Hanya angka-angka yang dapat membuatnya sedikit melupakan sakit hatinya, melupakan perihnya ditinggalkan, pahitnya mencintai tapi tak mampu memiliki. Hanya angka-angka itu yang mampu memaksanya lupa dengan gadisnya. Lama dia terdiam sampai laptopnya meninggalkan screensaver . Sepi, malam ini adalah pergantian tahun. Seharusnya dia pergi bersama teman-teman kantornya ke puncak, atau menerima undangan Sarah untuk hadir pada pesta barbeque di ...