Rabu, 24 Juli 2013

Konspirasi (D) -- 2



Sudah satu minggu Aira menjalani status barunya sebagai Mahasiswa. Ia in the kos, di jalan Jombang dekat kampusnya. Ia yang tidak bisa naik motor bisa ke kampus hanya dengan jalan kaki. Ya dia adalah pedistrian sejati, ia tak mau ikut merusak bumi dengan menambah sesak emisi di bumi ini dengan berkendara motor.
                Aira, datang terlalu pagi hari ini masih kurang seperempat menit lagi hingga jam tujuh kuliah ekonomi Mikro di kelas E 103. Ia menunggu di taman kampusnya, belum satupun temannya datang. Sambil mendengarkan musik melalui Ipod pink, agak kontras memang Aira lumayan tomboi tapi sangat menyukai warna pink.Tapi dia tidak sendiri ada orang lain,  yang juga selalu datang pagi dan duduk di taman yang berada diantara gedung E3 dan E4. Dia adalah si rambut tin-tin itu. Laki-laki yang menemaninya menikmati drama akhir OSPEK nya.
                Ada rona merah di pipi Aira, jelas sekali ia mencuri pandang dan mengamati setiap detail yang dilakukan si rambut tin-tin itu. Tapi kenapa ia merasa ada sepi setiap melihat si rambut tin-tin itu ?
####
                “ Langsung pulang Ra ? “ tanya Denia, selepas mereka kuliah ekonomi mikro.
                Yang ditanya hanya menggeleng, “ aku mau ke perpus dulu, ikut gak ? “
                Denia, menggeleng “ Gak dech, malas sama kamu mainnya ke perpus muluk “
                Aira tetawa.
                Akhirnya Aira ke perpustakaan sendiri, ia duduk di dekat jendela. Di bangku ini ia dapat melihat jelas pemandangan di luar perpustakaan. Aira membuka laptopnya dan memulai mengetik tugas yang diberikan dosen ekonomi mikronya. Sesekali jalan untuk mengambil buku di rak yang tak jauh dari tempat ia duduk.
                Ia beruntung bisa kuliah di Universitas ini, koleksi bukunya lengkap dan memiliki gedung perpustakaan yang luas. Tempat yang nyaman untuknya menyendiri.
                Lalu, Brukk...!!!
                “ Ow...”
                “ Sorry “
                Aira reflek jongkok memunguti buku yang berjatuhan gara-gara ia ditabrak dengan dia. Oh, gosh tiba-tiba wajah Aira memerah.
                Dia ikut membantu merapikan buku Aira.
                “ Sorry ya, aku gak lihat jalan “
                “ Nope “ jawab Aira pelan menutupi gugupnya.
                Aira, berjalan melewati laki-laki itu dengan cepat. Oh, kenapa jantungnya berdetak kencang. Ia berjalan menunduk tak berani melihat sosok yang menabraknya tadi. Hari itu ia menulis dalam Diarynya awal ia berbicara dengan rambut tin-tin itu. Dan sepanjang sisa hari itu Aira tak berhenti tersenyum.
###
                “Namanya siapa Den?“ tanya Aira, tangannya yang sibuk memainkan kursor terhenti. Tegang.
                “ Rafli Perdana Abdi, panggilannya Rafli. “
                “...”
                “Antusias banget sih, Ra? Kamu naksir dia ya? Hayooo ngaku...” Tanya Denia genit. Aira mengibaskan tangannya kikuk.
                “ Enggak, aku penasaran aja...kok ada anak seperti itu di kampus kita. Hehehe..”
                “Ngaco loe, lagak loe...halah, bilang aja kalo naksir entar aku mintakan sekalian no HP Rafli ke Darwin. Ayoo..mau gak?“  tawar Denia.
Aira menggeleng, baginya tau nama si rambut tin-tin saja sudah cukup. Dia memiliki banyak rencana, baginya tau nama Rafli adalah tiket menuju kedekatan dia dan Rafli. Aira tersenyum mantap. Sementara Denia menatapnya sangsi.
“Kenapa, Den?” tanya Aira.
“Gak, aku agak takut kalau kamu senyum-senyum gitu. Perasaan jadi gak tenang aja”
“Sialan kamu” Aira melempar tutup ballpoin ke Denia.
“Ha..ha...ha..” Denia terbahak.
                Sore selepas pulang dari perpustakaan untuk mencari bahan tugas kuliahnya, Aira mampir ke ruan TU di fakultasnya. Ada yang harus dia cari.
                “ Nyari apa dek ? “ tanya bapak-bapak yang duduk di depan meja tempat Aira berdiri.
                “ Eh, itu pak nyari buku alamat dosen. Mau nyari nomor telpon Pak Agus “
                “Oh, ini “ kata bapak-bapak berkumis tebal itu, sambil menyerahkan buku berwarna hijau kumal. Aira menerimanya dengan senyum. Lalu matanya menyusuri nama-nama dosen yang tersusun berdasar abjad.
                Ketika matanya melihat nama Agus Prasetyo, Aira tersenyum. Ia mengambil notebooknya dan mencatat nomor telpon rumah Pak Agus yang tak lain juga nomor rumah Rafli-si rambut tin-tin. Aira bergegas meninggalkan ruang TU. Sore itu kisah itu dimulai, dan kisah itu seharusnya berakhir manis. Bukankah seperti itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar