Langsung ke konten utama

Konspirasi (D) -- 2



Sudah satu minggu Aira menjalani status barunya sebagai Mahasiswa. Ia in the kos, di jalan Jombang dekat kampusnya. Ia yang tidak bisa naik motor bisa ke kampus hanya dengan jalan kaki. Ya dia adalah pedistrian sejati, ia tak mau ikut merusak bumi dengan menambah sesak emisi di bumi ini dengan berkendara motor.
                Aira, datang terlalu pagi hari ini masih kurang seperempat menit lagi hingga jam tujuh kuliah ekonomi Mikro di kelas E 103. Ia menunggu di taman kampusnya, belum satupun temannya datang. Sambil mendengarkan musik melalui Ipod pink, agak kontras memang Aira lumayan tomboi tapi sangat menyukai warna pink.Tapi dia tidak sendiri ada orang lain,  yang juga selalu datang pagi dan duduk di taman yang berada diantara gedung E3 dan E4. Dia adalah si rambut tin-tin itu. Laki-laki yang menemaninya menikmati drama akhir OSPEK nya.
                Ada rona merah di pipi Aira, jelas sekali ia mencuri pandang dan mengamati setiap detail yang dilakukan si rambut tin-tin itu. Tapi kenapa ia merasa ada sepi setiap melihat si rambut tin-tin itu ?
####
                “ Langsung pulang Ra ? “ tanya Denia, selepas mereka kuliah ekonomi mikro.
                Yang ditanya hanya menggeleng, “ aku mau ke perpus dulu, ikut gak ? “
                Denia, menggeleng “ Gak dech, malas sama kamu mainnya ke perpus muluk “
                Aira tetawa.
                Akhirnya Aira ke perpustakaan sendiri, ia duduk di dekat jendela. Di bangku ini ia dapat melihat jelas pemandangan di luar perpustakaan. Aira membuka laptopnya dan memulai mengetik tugas yang diberikan dosen ekonomi mikronya. Sesekali jalan untuk mengambil buku di rak yang tak jauh dari tempat ia duduk.
                Ia beruntung bisa kuliah di Universitas ini, koleksi bukunya lengkap dan memiliki gedung perpustakaan yang luas. Tempat yang nyaman untuknya menyendiri.
                Lalu, Brukk...!!!
                “ Ow...”
                “ Sorry “
                Aira reflek jongkok memunguti buku yang berjatuhan gara-gara ia ditabrak dengan dia. Oh, gosh tiba-tiba wajah Aira memerah.
                Dia ikut membantu merapikan buku Aira.
                “ Sorry ya, aku gak lihat jalan “
                “ Nope “ jawab Aira pelan menutupi gugupnya.
                Aira, berjalan melewati laki-laki itu dengan cepat. Oh, kenapa jantungnya berdetak kencang. Ia berjalan menunduk tak berani melihat sosok yang menabraknya tadi. Hari itu ia menulis dalam Diarynya awal ia berbicara dengan rambut tin-tin itu. Dan sepanjang sisa hari itu Aira tak berhenti tersenyum.
###
                “Namanya siapa Den?“ tanya Aira, tangannya yang sibuk memainkan kursor terhenti. Tegang.
                “ Rafli Perdana Abdi, panggilannya Rafli. “
                “...”
                “Antusias banget sih, Ra? Kamu naksir dia ya? Hayooo ngaku...” Tanya Denia genit. Aira mengibaskan tangannya kikuk.
                “ Enggak, aku penasaran aja...kok ada anak seperti itu di kampus kita. Hehehe..”
                “Ngaco loe, lagak loe...halah, bilang aja kalo naksir entar aku mintakan sekalian no HP Rafli ke Darwin. Ayoo..mau gak?“  tawar Denia.
Aira menggeleng, baginya tau nama si rambut tin-tin saja sudah cukup. Dia memiliki banyak rencana, baginya tau nama Rafli adalah tiket menuju kedekatan dia dan Rafli. Aira tersenyum mantap. Sementara Denia menatapnya sangsi.
“Kenapa, Den?” tanya Aira.
“Gak, aku agak takut kalau kamu senyum-senyum gitu. Perasaan jadi gak tenang aja”
“Sialan kamu” Aira melempar tutup ballpoin ke Denia.
“Ha..ha...ha..” Denia terbahak.
                Sore selepas pulang dari perpustakaan untuk mencari bahan tugas kuliahnya, Aira mampir ke ruan TU di fakultasnya. Ada yang harus dia cari.
                “ Nyari apa dek ? “ tanya bapak-bapak yang duduk di depan meja tempat Aira berdiri.
                “ Eh, itu pak nyari buku alamat dosen. Mau nyari nomor telpon Pak Agus “
                “Oh, ini “ kata bapak-bapak berkumis tebal itu, sambil menyerahkan buku berwarna hijau kumal. Aira menerimanya dengan senyum. Lalu matanya menyusuri nama-nama dosen yang tersusun berdasar abjad.
                Ketika matanya melihat nama Agus Prasetyo, Aira tersenyum. Ia mengambil notebooknya dan mencatat nomor telpon rumah Pak Agus yang tak lain juga nomor rumah Rafli-si rambut tin-tin. Aira bergegas meninggalkan ruang TU. Sore itu kisah itu dimulai, dan kisah itu seharusnya berakhir manis. Bukankah seperti itu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover. Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan. Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan* Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya. Dia SMS.

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com Apa hubungannya kamu dan coklat? Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini. Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh. Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu. Kamu seperti coklat, CANDU!! Di sudut Kamar =)

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B