Kamis, 20 Februari 2014

Perkara Patah Hati.

Saya sedang menyesapi gelas terakhir kopi saya. Yeah, sebulan ini saya kecanduan minum kopi. Ada saja alasan yang menjadi pembenaran atas kebiasaan baru saya ini. Yang setahu saya tidak terlalu baik untuk kesehatan lambung saya.
Sebulan ini dalam sehari saya dapat menghabiskan 2 gelas kopi, belom lagi kalau lagi nyatroni Alfamart maka satu botol Kopiko 78 bakal jadi sajen saya :))
Entah ini pelarian atau saya memang sedang mengejar apa yang saya sendiri tak tahu apa yang tengah saya cari. Saya hanya merasa kosong.
Sejak memutuskan untuk berhenti dan deactivate akun @perihujan_ saya kehilangan selera. Segalanya serba apatis. Mungkin ini yang namanya patah hati. Dan saya pun tak tahu siapa yang harus saya minta pertanggungjawabannya atas hati yang begitu tega ia patahkan.
Kecewa.
Iya, mungkin saya hanya kecewa. Orang selama ini saya percaya untuk saya titipkan sebagian hidup saya begitu tega meninggalkan saya. Membiarkan saya sibuk berasumsi, mencari pembenaran meski pada akhirnya kenyataan 'buruk' yang saya harapkan dapat ia sampaikan sendiri harus saya ketahui dari orang lain.
Patah Hati.
Menghapus, menepi, mengasingkan diri berharap Tuhan tak lagi membuat kebetulan yang mempertemukan saya lagi dengannya. Meskipun takdir kembali mempertemukan kami nantinya, saya hanya ingin saat itu tangan saya mampu menjabatnya dengan erat dan berkata, "Terima kasih untuk semua."

Untuk kamu yang menghilang, terima kasih telah mematahkan hati saya.


Salam hangat,
Ayu.

Saatnya pergi.

Ketika tak lagi ada kita, boleh kuminta kau tepikan segala hal yang memenuhi pikiranmu. Mungkin benar, inilah saat paling tepat aku untuk pergi --- Ayu Puji Lestari.

Minggu, 02 Februari 2014

Kepada Hati.

Dear Hati.

Aku lelah, aku bosan.


Boleh aku memilih hilang? Bukan untuk dirindukan atau sekedar dicari.

Aku lelah.



Mrs. A

Sabtu, 01 Februari 2014

Selamat Datang (lagi) Februari

Dear Mr. A
Hai, kita bertemu lagi di bulan yang merubah status kita. kamu ingat? ini adalah Februari kedua kita, ah betapa bahagianya aku jika Februari berikutnya kita tak lagi terpisah dengan jarak.
Masih ingat di Februari pertama kita bertemu, hujan membuatku bersembunyi dibalik punggungmu. Menarik ujung jaketmu dan terlalu malu untuk mendekat. Kamu yang memarkir mobil terlalu jauh membuat kita bermain hujan sore itu.
Kamu, masih ingat betapa canggungnya kita saat duduk berdua di areal foodcourt setelah nonton? Ah, betapa kagetnya aku saat kamu dengan tiba-tiba mencoba menu yang kupilih dari piringku. Kamu tahu? canggung itu hingga kini masih kurasakan.
Mencintaimu membuat separuh hidupku sempurna.

Terima kasih Mr. A kesayanganku.

Dari,

Mrs. A