Rabu, 31 Juli 2013

Hello Boy (D) -- 3




Terkadang kita tak pernah tahu, mengapa kita melakukan hal-hal yang sulit diterima logika @perihujan_
Aira memasukkan uang receh ke box telpon koin depan sekolah di daerah Jalan Bandung. Ia menekan-nekan nomor yang sudah ia catat di telapak tangannya. Nomor telpon yang akan selalu ia ingat diluar jangkauan alam sadarnya.
Tut..tut..tut..
Belum ada jawaban, ia menutup horn telpon lalu kembali memencet-mencet nomor telpon yang sudah ia ingat.
Tut..tut..tut..
Sampai akhirnya ketika ia hampir putus asa telpon pun diangkat.
“Hallo.. “
“Eh, iya...hallo “ jawab Aira gugup, ia tak siap jika telpon akan diangkat secepat itu.
“Cari siapa?“ tanya suara diseberang.
“Hmm, Raflinya ada?“
“Ooo.....Raafffffffffffffffliiiiiiiiii, ada telpon “
Aira menjauhkan horn telpon, gila suaranya sampai memekakkan telinga Aira. Ia, mengernyitkan dahi, memandang aneh horn telpon.
“ Ya, Hallo “
Dheg, tiba-tiba Wajah Aira memanas.
“Hei ini Rafli, cowok yang ingin kamu ajak bicara. Ayo Ra, kok malah bengong”
“Hallo..”Suara diseberang mengejutkan Aira.
“ Ya...ini Rafli? “ Ulang Aira.
“ Iya, ini siapa ya ? “
Jantung Aira seakan berhenti. Tangannya memilin kabel telpon, gugup.
“Ini siapa ya?” Rafli mengulang pertanyaannya.
“ Disty “ oups, Aira berbohong. Nama itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Aira.
“ Disty ? “ ulang Rafli.
“ Iya, Disty..lupa ya? “
“ Maaf, Disty siapa ya?“
“ Waah, Rafli jahat ni. Masak lupa ma aku? Ini, aku Disty yang pernah kenalan waktu di Jogja. Ingat gak ? yang dulu ketemu di Parangtritis “ kata Aira cepat, ia tak ingin Rafli menyadari kebohongannya.
“Jogja? Parangtritis?“ Rafli mengulang pernyataan Aira.
“ Iya Parangtritis. Ingat gak, itu loh yang rebutan untuk menyewa andong” Ucap Aira ngawur, ada tawa yang berusaha ia sembunyikan.
“Duuh, lupa ya?“
“...”
“Ya udah kalau lupa, padahal dulu Rafli pernah bilang kalo aku kuliah di Malang boleh menghubungi Rafli. Sekarang aku sudah kuliah di Malang. Di Brawijaya, tapi kamu kok lupa sama aku?” ucap Aira parau.
Rafli hanya diam saja tak menjawab apa-apa. Entah apa yang ada dipikirannya, geli? Aneh?, entahlah yang pasti sekarang Aira diam tersadar Rafli tak berkomentar apa pun tentang ceritanya tadi.
“Loh, sudah ceritanya?“ tanya Rafli enteng.
“Iya “ jawab Aira lempeng, tak bersemangat.
“ Kamu bohong ya? Tentang ketemu aku di Parangtritis, aku benci pantai jadi gak mungkin kita bertemu di Parangtritis. Kamu sudah tahu aku kan? Hayo ngaku? Kamu siapa sih?“
“Loh kok gak percaya sih? Tadi aku kan sudah bilang kalau aku Disty kita ketemu waktu di Jogja“ kata Aira meyakinkan.
“Ha..ha..ha...”
“Kok ketawa? “ tanya Aira bingung.
“ Habisnya kamu lucu, tapi aku suka nama kamu loh..Disty “
Dan benar saja wajah Aira memerah lagi.
“Ya udah deh kalau Rafli lupa, kapan-kapan aku telpon lagi buat ngingetin kamu tentang aku tentang Adistya Gisantia Putri. Catet ya Raf, hihihihi...“
“ Emang aku mau?“
“Harus mau, he..he..he.. Daaghhh Rafliiiiii”
Diujung sana laki-laki itu menatap horn telpon dengan bingung. Jogja? Parangtritis? Disty? Kecuali Parangtritis, dia menyukai semua cerita itu. Sementara Aira, berdiri mematung di depan box telpon koin, hatinya tak karuan. Wajahnya bersemu merah. Sepanjang sisa hari, Aira tak berhenti tersenyum.


Photo diambil disini klik

Rabu, 24 Juli 2013

Konspirasi (D) -- 2



Sudah satu minggu Aira menjalani status barunya sebagai Mahasiswa. Ia in the kos, di jalan Jombang dekat kampusnya. Ia yang tidak bisa naik motor bisa ke kampus hanya dengan jalan kaki. Ya dia adalah pedistrian sejati, ia tak mau ikut merusak bumi dengan menambah sesak emisi di bumi ini dengan berkendara motor.
                Aira, datang terlalu pagi hari ini masih kurang seperempat menit lagi hingga jam tujuh kuliah ekonomi Mikro di kelas E 103. Ia menunggu di taman kampusnya, belum satupun temannya datang. Sambil mendengarkan musik melalui Ipod pink, agak kontras memang Aira lumayan tomboi tapi sangat menyukai warna pink.Tapi dia tidak sendiri ada orang lain,  yang juga selalu datang pagi dan duduk di taman yang berada diantara gedung E3 dan E4. Dia adalah si rambut tin-tin itu. Laki-laki yang menemaninya menikmati drama akhir OSPEK nya.
                Ada rona merah di pipi Aira, jelas sekali ia mencuri pandang dan mengamati setiap detail yang dilakukan si rambut tin-tin itu. Tapi kenapa ia merasa ada sepi setiap melihat si rambut tin-tin itu ?
####
                “ Langsung pulang Ra ? “ tanya Denia, selepas mereka kuliah ekonomi mikro.
                Yang ditanya hanya menggeleng, “ aku mau ke perpus dulu, ikut gak ? “
                Denia, menggeleng “ Gak dech, malas sama kamu mainnya ke perpus muluk “
                Aira tetawa.
                Akhirnya Aira ke perpustakaan sendiri, ia duduk di dekat jendela. Di bangku ini ia dapat melihat jelas pemandangan di luar perpustakaan. Aira membuka laptopnya dan memulai mengetik tugas yang diberikan dosen ekonomi mikronya. Sesekali jalan untuk mengambil buku di rak yang tak jauh dari tempat ia duduk.
                Ia beruntung bisa kuliah di Universitas ini, koleksi bukunya lengkap dan memiliki gedung perpustakaan yang luas. Tempat yang nyaman untuknya menyendiri.
                Lalu, Brukk...!!!
                “ Ow...”
                “ Sorry “
                Aira reflek jongkok memunguti buku yang berjatuhan gara-gara ia ditabrak dengan dia. Oh, gosh tiba-tiba wajah Aira memerah.
                Dia ikut membantu merapikan buku Aira.
                “ Sorry ya, aku gak lihat jalan “
                “ Nope “ jawab Aira pelan menutupi gugupnya.
                Aira, berjalan melewati laki-laki itu dengan cepat. Oh, kenapa jantungnya berdetak kencang. Ia berjalan menunduk tak berani melihat sosok yang menabraknya tadi. Hari itu ia menulis dalam Diarynya awal ia berbicara dengan rambut tin-tin itu. Dan sepanjang sisa hari itu Aira tak berhenti tersenyum.
###
                “Namanya siapa Den?“ tanya Aira, tangannya yang sibuk memainkan kursor terhenti. Tegang.
                “ Rafli Perdana Abdi, panggilannya Rafli. “
                “...”
                “Antusias banget sih, Ra? Kamu naksir dia ya? Hayooo ngaku...” Tanya Denia genit. Aira mengibaskan tangannya kikuk.
                “ Enggak, aku penasaran aja...kok ada anak seperti itu di kampus kita. Hehehe..”
                “Ngaco loe, lagak loe...halah, bilang aja kalo naksir entar aku mintakan sekalian no HP Rafli ke Darwin. Ayoo..mau gak?“  tawar Denia.
Aira menggeleng, baginya tau nama si rambut tin-tin saja sudah cukup. Dia memiliki banyak rencana, baginya tau nama Rafli adalah tiket menuju kedekatan dia dan Rafli. Aira tersenyum mantap. Sementara Denia menatapnya sangsi.
“Kenapa, Den?” tanya Aira.
“Gak, aku agak takut kalau kamu senyum-senyum gitu. Perasaan jadi gak tenang aja”
“Sialan kamu” Aira melempar tutup ballpoin ke Denia.
“Ha..ha...ha..” Denia terbahak.
                Sore selepas pulang dari perpustakaan untuk mencari bahan tugas kuliahnya, Aira mampir ke ruan TU di fakultasnya. Ada yang harus dia cari.
                “ Nyari apa dek ? “ tanya bapak-bapak yang duduk di depan meja tempat Aira berdiri.
                “ Eh, itu pak nyari buku alamat dosen. Mau nyari nomor telpon Pak Agus “
                “Oh, ini “ kata bapak-bapak berkumis tebal itu, sambil menyerahkan buku berwarna hijau kumal. Aira menerimanya dengan senyum. Lalu matanya menyusuri nama-nama dosen yang tersusun berdasar abjad.
                Ketika matanya melihat nama Agus Prasetyo, Aira tersenyum. Ia mengambil notebooknya dan mencatat nomor telpon rumah Pak Agus yang tak lain juga nomor rumah Rafli-si rambut tin-tin. Aira bergegas meninggalkan ruang TU. Sore itu kisah itu dimulai, dan kisah itu seharusnya berakhir manis. Bukankah seperti itu?

Selasa, 23 Juli 2013

Awal mula (D) -- 1



Aira membetulkan letak topi petaninya, sambil mengumpat dia berjalan menuju ruang auditorium fakultasnya. Hari ini adalah hari terakhir kegiatan OSPEK di kampusnya, pembodohan menurut kamus Aira. Sudah cukup selama hampir satu minggu Aira berdandan seperti pemulung. Baju warna putih, rok hitam, jas almamater,  topi petani warna hijau, kepang rambut sepuluh ikat, kertas warna kuning bertuliskan namanya yang dikalungkan dilehernya, belum lagi tas buntut dari kain goni yang diwinter warna kuning berisi penuh air mineral 500 ml, air kuning 1300 ml, pisang merah dempet, buku tulis khusus untuk mengumpulkan tanda tangan dari senior, dan alat musik ecek-ecek yang terbuat dari tutup botol minuman.
                Aira duduk bersebelahan dengan Denia, teman seangkatannya yang ia temui waktu daftar ulang dan bertekat berjanji bakal jadi sohib paling klop di angkatannya.
“Den, ngapain sih kita disuruh masuk lagi? sumpah aku paling muak dengan  kegiatan indor. Pasti ceramah lagi“ umpatku sambil memijat-mijat kakiku yang rasanya sudah mau patah.
Denia tertawa, “nikmati aja, kan tinggal beberapa jam lagi “
Aira manyun.
                Hampir sepuluh menit, kami hanya duduk-duduk tanpa tahu kegiatan apa selanjutnya. Aira mulai bosan, teman-teman mulai gaduh. Aira melihat cowok disebelah tempat duduknya, rambutnya mengingatkan ia pada sosok tin-tin.
                Dan ketika kami mulai bosan, tiba-tiba...
“Jo...sudah aku bilang jangan kurang ajar denganku, aku ini ketua panitia. Apa-apaan kamu ngomong seperti itu ke Dekan“ suara cempreng Diana memecahkan kegaduhan kami. Lalu senyap.
Yang bernama Jo itu, duduk di meja panitia dekat panggung auditorium hanya diam. Kami terdiam, kaget.
“Kenapa diam saja ? ayo JAWABBB...!!!!!! “
Lalu, Brakkkk...!!!!!!, Jo memukul meja. “ Kamu itu ya Din, jangan asal nuduh aja. Ngaca? Muka lo, kayak paling bener aja “
“Din, stoppp...kita salah bukan Jo, ada Maba yang mengadu kepada Dekan“ kata satu panitia lagi yang tiba-tiba muncul dari pintu auditorium.
Yang bernama Diana itu shock. Matanya nyalang menatap kami. Sepi.
“ ayoooo...ngaku ???? “ teriak Diana, seperti orang kesetanan.
“ Kalian disini bukan untuk jadi tukang ngadu, kalian disini untuk belajar“ bentak Jo.
“Apa tidak cukup pengorbanan kami, kami juga capek !!!! “ lanjut Diana, dengan suara hampir menangis.
Aira mendengar suara tangis yang tertahan. Ternyata ada temannya yang mulai menangis. Aira, geram pikirnya ini acara apaan sih ???
“ Ooooh, saya tahu diantara kalian ada anak dari dosen di fakultas kita“ mata Jo berkilat licik.
Aira mendengus kesal. Berpura-pura tak mendengar. Aira mulai jengah. Meski Dia juga ketakutan dengan teriakan Jo, Diana, dan beberapa panitia lainnya. Aira mendengar langkah kaki Jo dan Diana mendekat ke arahnya.
“Pasti kamu, ya pasti kamu, saya tahu itu. Kamu jangan sok-sok an di kampus ini ya? Apa tujuanmu?“ bentak Jo tepat disamping Aira, tak urung Aira menundukkan kepala. Ngeri juga dibentak seperti ini.
“ Bukan saya “
Loh, Aira mengangkat kepalanya. Dia nyengir ternyata bukan dia yang dibentak tapi si rambut tin-tin itu. Denia mencengkram tangannnya erat. Dingin, Denia pasti ketakutan.
“ Lalu siapa, kamu pikir kita buta apa ? jangan bohong !!!!!!!! “ bentak Jo
“...”
“ Kenapa diam? Takut???? “  desis Diana
“...”
Lalu tiba-tiba ketika kami sudah diujung ketakutan kami, dan hampir ada sepuluh mahasiswi menangis dari arah pintu auditorium muncul segerombolan panitia dengan petikan gitar mereka bernyanyi.
“ Kemesraan ini jangan lah cepat berlalu....”
Aku melihat kearah mereka, oh aku baru sadar. Gila, kami dikerjain. Diana dan Jo menepuk pundak si rambut tin-tin dan tertawa seraya meminta maaf. Panitia OSPEK menarik teman-teman yang menangis termasuk Denia, untuk maju ke depan. Mereka bernyayi, Aira melirik wajah si rambut tin-tin. Pucat, dan Aira tertawa. Dan dengan diakhirinya acara bentak-bentakan tadi maka OSPEK telah berakhir.
Aira, berteriak tertahan. Yess !!!

Ooooh... Stomatitis Aphtous



Kantor masih sepi pagi itu, Safei office boy di kantor tersebut berjalan pelan ketika memasuki ruangan kaca tersebut. Saat menyapa pemilik ruangan pun tampak ragu, melihat keseriusannya ia merasa tak enak juga. Safei permisi untuk membersihkan meja pemilik ruangan itu. Disty, sang pemilik meja meninggalkan ruangan tanpa tersenyum seperti biasanya. Safei menatap bingung, mungkin Dia merasa aneh, Disty karyawan paling ramah kepada semuanya menjadi pelit senyum dan berkesan angkuh.
“ Mbak, mejanya sudah bersih “ katanya seraya menunduk takzim, sambil mengangkat ember berisi air bekas mengepel.
Lagi-lagi Disty meninggalkan sang office boy tanpa senyum dan ucapan terima kasih seperti biasanya. Ragu Safei meninggalkan ruangan itu. Sekali lagi Dia menoleh kearah Disty yang sudah duduk dikursinya dan kembali memelototi entah apa yang ada di layar komputer tersebut.  Dari luar ruangan Safei melihat Disty mengusap matanya yang ia yakini sebagai air mata dan ia tahu Disty menahan sakit.
“ Mbak, ini dokumen laporan kas harian Depo Jember. Tinggal menunggu verifikasi dari mbak Disty. Hasil rekonsialisasi kasnya sudah saya email kemarin. “ kata Fania sambil menyerahkan tumpukan laporan itu di meja Disty.
Disty tak menjawab tetapi dari sorot matanya mengisyaratkan agar Fania menaruh laporan tersebut di mejanya. Fania menurut.
“ Mbak...” kata Fania ragu.
“ Hmmmm...”
“ Gak jadi deh mbak, Fania permisi dulu ya “ pamit Fania, lalu meninggalkan ruangan Disty ragu. Ia tahu, supervisornya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Dan ia yakin itu pasti sangat menyiksanya, karena tak ada yang dapat menghapus senyum seorang Disty jika itu bukan masalah yang berat.
Sudah dua hari ini Disty berubah. Teman sekantornya mulai panik dan bertanya-tanya ada apa gerangan sehingga Disty menjadi pendiam. Bahkan OfficeBoy dikantornya pun ikut penasaran.
Tak ada lagi senyum, salam dan sapa menyenangkan dari Disty. Disty yang ceria menjadi pemurung dan terkesan angkuh. Bahkan terlihat sering menangis, hal pantang yang dilakukan seorang Disty.
Seperti siang itu, ketika Disty makan siang di Pantry kantornya. Bersama dua team kesayangannya Fania dan Nana.
“ Mbak menu katring hari ini apa? “ tanya Nana hati-hati takut kalau salah bicara.
Disty tak menjawab, ia hanya mengangkat bahu. Lalu membuka kotak makan tempat kateringnya.
“ Wah Bakmoy. Enak nih mbak “ ucap Nana histeris.
“ Hmmm, pasti enak nih. Sambal petisnya pasti pedas. Lezaaattt....favoritenya mbak kan ? “ Fania menambahkan.
Disty tak berkomentar apa pun. Tangannya sibuk menuangkan kuah bakmoy dalam mangkok makannya. Lalu mancampurnya dengan sambal petis, dan potongan ayam serta telur.
Baru sesuap Disty menyendok bakmoynya. Tiba-tiba Disty meletakkan sendoknya. Matanya berair menahan tangis, bukan menahan tapi sudah menangis. Fania dan Nana yang menyadari itu bertatapan bingung.
“ Kenapa mbak ? “ tanya Nana panik.
“ Terlalu pedas ya ? “ sahut Fania.
“ Atau tidak enak ? “ tambah Nana tak kalah panik.
“ Hiks “ Disty menangis, lalu meninggalkan bakmoynya tanpa menjawab pertanyaan Nana dan Fania yang kini kebingungan melihat ekspresi Disty.
“ Hmmm, sepertinya mbak Disty benar-benar sedang patah hati dech Na...lihat saja, dia bahkan sampai meninggalkan makanan kesukaannya. Ini Bakmoy Na, sestress apa pun mbak Disty tidak pernah meninggalkan makanannya. Ingat kata mbak Disty pantang tidak menghabiskan makanan, apalagi ini tidak menyentuh makanan sama sekali...gawat benar-benar gawat “ kata Fania, selepas Disty pergi.
“ Tapi masak sih, mbak Disty patah hati. Aku rasa hubungan dia dan mas Kiki baik-baik saja. Kemarin aku lihat mas Kiki menjemput mbak Disty, bahkan pulangnya sempat mampir kerumahku nganterin sarang semut. Hehehehe... “ elak Nana.
“ Loh siapa tahu kan Na ? “
“ Iya juga sih, tapi aku kok gak yakin ya?  “ Ucap Nana bimbang.
“ Terus kenapa dong ? melihat mbak Disty seperti itu aku jadi tidak tega. Kasihan, kalo seperti ini aku jadi kangen dengan cerewetnya mbak Disty. Dibentak-bentak masalah laporan tidak settle pun aku ikhlas Na “ kata Fania menyakinkan.
“ Bener Fa, aku juga kangen dengan omelannya mbak Disty terus tawa renyah mbak Disty. Tapi kenapa ya mbak Disty berubah? Apa masalah kantor ya ? tapi masak sih ? kalau masalah kantor mbak disty pasti cerita “ ucap Nana sangsi.
“ Bisa saja kan Na, siapa tahu ada masalah kantor dan kita tidak boleh tahu. Dan hal ini bener-bener bikin mbak Disty stress sampai dia gak enak makan dan tersiksa banget. “ Fania berandai-andai.
“ kamu kok yakin banget Fa ? “
“ Loh semua kemungkinan kan bisa saja terjadi kan Na ? Untuk memastikan kamu tanya mbak Disty gih, kamu kan teman curhatnya. Mbak Disty selalu cerita kalau ada apa-apa sama kamu “
“ Aku ??? “
“ ya..iya..lah “
Nana manyun, sementara Fania tertawa ngakak.
Disty sedang merapikan laporan yang berserakkan di mejanya ketika Nana muncul diruangannya. Tanpa permisi Nana duduk dikursi dekat meja Disty.
“ Mbak, sibuk ya ? “ tanya Nana basa-basi.
“ Kenapa ? “ Disty balik tanya.
“ Mbak Disty ada masalah ya ? “ tanya Nana hati-hati.
Disty menghentikan acara bersih-bersihnya, lalu melihat Nana. Menggeleng, lalu kembali membereskan mejanya.
“ Masak sih? mbak Disty bohong. Nana sering melihat mbak Disty menangis. Ayolah mbak, cerita ke Nana siapa tahu Nana bisa bantu, atau setidaknya dengan bercerita mbak Disty akan lebih tenang “ bujuk Nana.
“...”
“ Kok diam, tuh kan Nana paling tahu mbak Disty. Mbak diam saja itu berarti ada masalah. Mbak tidak bisa berbohong dengan Nana. Ayo jujur, ada apa sebenarnya? Ada masalah dengan mas Kiki kah ? “ Nana mulai merajuk.
Disty hanya menggeleng, tanpa tersenyum meyakinkan seperti biasanya. Nana menghela nafas, putus asa. Lalu meninggalkan ruangan Disty tanpa penjelasan apa pun. Nana menoleh kearah Disty sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu. Pun demikian Disty tetap bungkam. Dan ketika ia sudah diluar ruangan kaca itu Ia melihat jelas Disty mengusap air matanya.
“ Duuuh, mbak Dis...ada apa sih ? “ batin Nana kesal.
Keadaan Disty semakin menyedihkan. Disty tak lagi bicara, dan lebih sering terlihat bengong di dalam ruangannya dan parahnya Disty tak lagi menyentuh makan siangnya. Teman satu kantornya pun ikut bingung, Fania dan Nana tak tahu lagi bagaimana membujuk Disty agar mau berbagi cerita tentang kesedihannya. Bahkan Disty pun ikut membuat bingung pak Satria Finance Accounting Manager dikantornya.
“ Ada masalah apa Disty ? kok dia tiba-tiba menjadi manusia introfert, pendiam, dan angkuh seperti itu ? “ tanya pak Satria ketika menandatangani berkas yang diserahkan oleh Fania.
“ Saya juga tidak tahu pak, sudah empat hari ini mbak Disty tidak mau bicara kepada kami. Bahkan saya sempat berpikir mbak Disty marah kepada saya. Kemarin waktu Nana tanyakan hal ini kepada mbak Disty, dia tidak menjawab hanya menggelengkan kepala menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja padahal jelas sekali kalau Ia tidak dalam keadaan baik. “ jelas Fania.
Pak satria mengangguk, berpikir.
“ Lalu menurutmu kita harus bagaimana ? “ tanya pak Satria. Fania mengangkat bahu, tak mengerti.
Hari ini tepat lima hari Disty melancarkan aksi diamnya. Aksi mogok bicara Disty benar-benar membuat kelimpungan teman kantornya. Bagaimana tidak, Disty tak mau bicara sama sekali. Bahkan anak-anak cabang pun ikut bingung. Terutama staff administrasi di Depo. Karena merekalah yang paling sering terkena komplain dari Disty. Dari laporan yang telat, laporan yang tidak settle, dan lain sebagainya. Tapi sudah lima hari ini mereka tak menerima telfon komplain dari Disty.
Maka pagi ini sebelum mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing pak Satrio memanggil Disty, Fania dan Nana diruangannya. Ia ingin segera menyelesaikan masalah ini.
“ Kalian tahu kenapa kalian bertiga saya panggil ? “ tanya pak Satria. Yang ditanya saling pandang bingung.
“ Saya memanggil kalian untuk berkumpul disini untuk meluruskan masalah yang terjadi diantara kita. Terutama kamu Disty “
Disty terkejut namanya disebut.
“ Benar, kamu...saya mendapat kabar bahwa kamu banyak berubah akhir-akhir ini. Saya tahu hak kamu untuk tidak mengungkap masalah pribadi kamu disini. Tapi tahukah kamu sikap kamu ini sangat mengganggu kinerja kita “
Disty menunduk, Nana dan Fania saling pandang prihatin.
“ Bagi kamu ini tak ada masalah, tapi bagi Nana, Fania terutama saya sikap diam kamu sangat mengganggu. Sebenarnya saya tak ingin capek-capek  memikirkan kenapa kamu berubah, tapi karena kamu adalah tim saya akhirnya saya pun ikut memikirkan kenapa kamu berubah. Saya tidak ingin menebak-nebak apakah sikap kamu kali ini adalah wujud protes atau apalah namanya itu. Saya memanggil kamu disini bersama Nana dan Fania adalah untuk meminta penjelasan dari kamu atas aksimu ini “ jelas pak Satria.
Disty memandang pak Satria, Fania dan Nana bergantian. Sementara Nana meraih tangan Disty seakan memberi dukungan. Fania mengangguk mengisyaratkan agar Disty untuk bicara.
Butuh waktu lima menit untuk menunggu Disty berbicara, mungkin Ia perlu memikirkan kata-kata yang tepat agar mereka yang disini tak ada yang kecewa atas kenyataaan yang ada.
“ Maaf...” katanya pelan.
“....”
Nana dan Fania menahan nafas, tak sabar menunggu kelanjutan kalimat Disty yang menggantung. Sementara pak Satria meremas-remas baku tangannya berusaha tenang, meski dalam pikirannya telah muncul beberapa kemungkinan.
“ Aaakku...sarri...awaan.., owww.. “ ucap Disty lalu diikuti desisan menahan sakit.
“ Apppa...??? “ tanya mereka bertiga bersamaan.
“ Sha..riiii..aawwwan..., shaa..khiiit..” ulang Disty.
Nana Menepuk jidatnya. Sementara Fania bengong. Pak Satria menggeleng tak mengerti. Ternyata hanya sariawan yang membuat Disty bertahan tidak bicara selama hampir satu minggu ini. Dan sariawan yang membuat hampir seluruh penghuni kantor ini ikut dibuat bingung.
“ Aduuuh, mbak Dis ini ngomong dung kalo sariawan. Bikin bingung saja “ Ucap Nana, dikuti tawa Fania dan pak Satria.
Sementara demi penjelasan itu Disty sekarang menahan perih sariawannya. Sakit, tapi juga bahagia ternyata Dia begitu diperhatikan oleh teman-temannya. Maka meski sakit ia pun ikut tertawa, bukankah itu yang selama ini dirindukan teman-temannya ?.