Rabu, 19 April 2017

Bapak

Doa tak akan pernah mengembalikan ia yang telah pergi, tetapi doa akan menabahkanmu dari kehilangan – Ayu Puji Lestari.

Perjalanan ini  terlalu lama, bayangan tentang Bapak memenuhi isi kepalaku. Telpon yang kuterima subuh tadi mengantarkanku untuk duduk di dalam bus berwarna kuning ini. Perjalanan untuk pulang.

Air mata berkali-kali kuusap. Mengabaikan pandangan heran penumpang yang memenuhi bus ini. Aku hanya ingin segera sampai rumah, dan memastikan bahwa Bapak baik-baik saja. Bahwa kekhawatiranku tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin memeluk Bapak.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak saat mengantarku kembali ke Pasuruan sore itu. 

“Tinggal tugas akhir pak,”jawabku setengah berteriak, mengalahkan suara motor yang membenamkan suaraku.

“Ya syukur. Tahun ini selesai kan?”

“Insyaallah,” Jawabku.

Dan itu adalah percakapan terakhirku bersama Bapak, sebelum akhirnya pertengahan Januari kemarin Bapak harus dirawat di rumah sakit. Ada peradangan di ginjalnya, kreatinnya tidak normal, adalah penjelasan mengapa Bapak harus menjalani diet ketat selama tiga bulan ini. Diet ketat yang menghabiskan badan Bapak, yang menyebabkan Bapak kurus. Alasan medis, hanya itu yang mampu aku tangkap dari penjelasan Dokter.

Hari ketiga, Bapak di Rumah Sakit.
Selama tiga bulan Bapak berkali-kali mengunjungi Rumah Sakit, tempat yang paling Bapak benci. Tiga bulan Bapak harus berteman dengan slang infus, obat dan jarum suntik. Semua hal yang Bapak benci. Dan dengan segala upaya kami mengharap Bapak sembuh.

Dan hari ini selang tiga hari dari aku bersama Ibu, Mbak dan Mas merayakan ulang tahun Bapak ke enam puluh tiga tahun. Telpon di pagi buta, yang sering aku takutkan pun terjadi.

“Pulanglah, kalau ingin bertemu Bapak.”

Maka duduklah aku di Bus ini. Bayangan tentang Bapak memenuhi pikiranku. Obrolan tentang harapan sederhana Bapak. Dan kenangan saat Bapak dengan bangga mengenalkanku kepada teman-temannya. Tak hanya aku, Bapak adalah sosok yang begitu bangga dengan keluarganya. Tak jarang ketika ada rekannya bertamu ke rumah maka Bapak tanpa segan mengambil album foto dan menceritakan tentang kehidupan anak-anaknya, termasuk aku yang jauh dari hal membanggakan.

Aku menghapus air mataku, aku berkali-kali menghela nafas. Berharap air mata ini dapat aku bendung, dan sialnya semakin aku paksa untuk berhenti air mataku malah semakin deras mengalir. Aku tak mau Bapak pergi.

Bapak tak pernah mengeluh sakit, paling anti pergi ke dokter. Dan semua berubah, saat pertengahan Januari lalu Bapak mengeluh sakit dan memaksa Ibu untuk menemani ke Rumah Sakit. Hari itu untuk pertama kalinya Bapak opname di Rumah Sakit. Dan betapa paniknya kami setelah menerima penjelasan tentang penyakit Bapak. Dan sejak hari itu bolak-balik ke Rumah Sakit menjadi rutinitas, hal yang membuat sesak bagi jiwa kami.

Aku mengusap foto yang menghias home screen HP ku, foto Ibu dan Bapak enam bulan yang lalu saat menghadiri pernikahan sepupuku di Malang. Foto yang aku ambil sesaat sebelum rombongan kami meninggalkan penginapan. Aku tergugu, mengingat perkataan Bapak saat aku menemani Bapak yang terjaga malam itu.

“Kalau sudah ada yang dekat, boleh kok dikenalkan ke Bapak. Anak mana? Bapak boleh tahu?”

Waktu itu aku hanya menggeleng, “Belum ada.”

Padahal sudah ada dia, lelakiku. My iced coffee.

Aku memandang ke arah luar jendela. Keriuhan jalan raya di pagi hari, adakah mereka mengalami hal yang sama denganku? Dikejar waktu dan berusaha membunuh rasa sesak karena khawatir. Bus yang membawaku berhenti di Terminal Mojoagung, setengah tergesa aku mencari seseorang yang rencananya akan menjemputku. Aku berharap Om Edi, adik dari Ibu yang menjemputku pagi itu. Setidaknya hal itu menunjukkan bahwa keadaan di rumah normal. Sayangnya, bukan Om yang tengah berdiri menungguku tetapi salah satu tetangga dekat rumah. Semakin runtuh harapanku. Aku hanya terdiam saat motor membawaku ke rumah.

Rumah ramai dengan tetangga dan saudara. Semua menyambutku, meminta untuk tenang. Yang aku ingat, sejak hari itu duniaku tidak lagi baik-baik saja. Berkali-kali aku berucap untuk ikhlas, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Hatiku patah.

April empat tahun yang lalu, hari terburuk itu pun aku alami. Perpisahan tidak pernah baik-baik saja. April empat tahun lalu, aku menjadi yatim. Sebagai seorang putri, ditinggalkan seorang Ayah adalah patah hati terhebatnya.

Hari ini aku kembali mengingat masa-masa itu. Kembali mengingat saat Bapak masih ada, kembali berandai-andai seandainya Bapak masih ada. Mencoba mengingat kembali alasan senyum Bapak. Ya, seringkali kehilangan menyadarkan pentingnya seseorang bagi kita.

Kembali mengingat apakah yang benar-benar membuat Bapak bahagia? Membuat Bapak duduk di bangku undangan, deretan paling depan saat penerimaan raport. Mendengar kabar bahwa akhirnya aku memilih menjadi Akuntan alih-alih menjadi tukang peneliti. Aku tidak pernah benar-benar tahu, yang aku tahu Bapak selalu bangga terhadap pilihan anak-anaknya.

Setelah empat tahun berlalu, perasaanku tetap sama. Pak, Ayu kangen pengen pulang ke rumah yang ada Bapak.

Malang, 19 April 2017.