Senin, 27 Oktober 2014

Kenapa NgeBlog?

Kalau ditanya mengapa ngeblog? Mungkin jawaban saya adalah, saya ingin nama saya muncul di Google search, huehehehe. Padahal kenyataannya saya termasuk Blogger murtad, yang menulis kalau moodnya lagi baik.
Pertama ngeblog saat masih kuliah, sekitar tahun 2004. Ngeblog dulu di Friendster, iya masih ingat kan dengan social media satu ini? Saya banyak menulis di friendster, yang mungkin tulisannya berkisar curhatan tentang LDR an saya sampai derita saya sebagai Mahasiswi Akuntansi yang salah jurusan. Blogger pertama yang saya ikuti adalah si Raditya Dika, tulisan dia di kambingjantan dot com selalu saya tunggu. Waktu itu dia belum bikin buku. Dan ketika blognya dibukukan bahagialah saya. 
Waktu berganti, saya mulai mengenal blogspot ini. Blogspot adalah rumah kedua saya untuk menulis setelah Friendster hilang dari peredaran. Menulis di Blogspot juga moody banget, setahun hanya ada hitungan jari postingannya. Blog pertama saya meandmyordinaryday akhirnya mati suri. Tahun 2010 saya kerajingan twitter, dan mulai itulah saya mencoba untuk menulis lagi.
Berawal dari menyamakan semua akun media sosial saya, akhirnya rumah ini saya buat pada tahun 2011. Saya mulai rajin, dan karena pengaruh orang-orang yang menghiasi timeline saya. Adalah Mput, Kur-kur, Roy, dan Dendi mereka adalah orang-orang yang membuat saya mencintai ngeblog. Awalnya hanya membaca tulisan mereka, akhirnya mulai rajin menulis. Dari cerpen, tulisan random, curhat sampai cerita traveling ala backpacker.
Dari Blog inilah saya mulai mengenal tulisan dari beberapa blogger lainnya, dan sekarang saya sedang menyukai tulisan dari si Tirta di romeogadungan.com , juga cerita manis dari pacarnya Roy si Sarah di sarahpuspita.com dan tulisan Intan di kurakurahitam.blogspot.com. Bahagianya lagi tulisan saya makin hari makin berkembang dan tidak melulu soal curhat terselubung saya.
Pada tahun 2012, saya menjadi suka menulis sajak dan untuk itulah saya membuat rumah di ceritaperihujan.tumblr.com dari postingan di Tumblr inilah buku pertama saya lahir, Cerita Peri Hujan. Dan pada awal tahun 2013 saat saya, patah hati :p saya merubah rumah pertama saya meandmyordinaryday menjadi jurnalsiayu.blogspot.com yang postingannya lebih banyak soal jurnal akuntansi. Iya, saya ingin menulis yang berhubungan dengan profesi saya sebagai Akuntan.
Hari ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional, jadi apakah saya sudah pantas disebut sebagai seorang Blogger? hmmm, saya rasa julukan itu tak penting. Disebut Blogger atau tidak, saya akan menulis. Karena saya percaya dengan menulis saya mampu membekukan kenangan.

Selamat Hari Blogger Nasional.

Senin, 20 Oktober 2014

Honeydew Tea.



Dia duduk di pojok ruangan cafe itu. Ia mengaduk gelas yang isinya tinggal separuh itu. Pandangannya kosong, menatap kursi yang ada di depannya. Aku menatapnya iba, sudah seminggu ini dia selalu datang ke Cafe ini dan selalu memilih tempat itu dan akan memesan minuman dan makanan yang sama.
Dan Ia akan melakukan hal yang sama, duduk diam di tempat itu selama dua jam bahkan kemarin ia duduk di tempat itu hampir tiga jam. Iya, aku selalu mengamati Dia. Jauh sebelum ia menjadi pelanggan setia di Cafe ini.
Dulu ia tak pernah datang sendiri, ia selalu datang bersama temannya dan seorang wanita yang ia sebut-sebut sebagai sepupunya. Dan tak jarang ia datang berdua saja dengan seorang wanita, yang ia panggil Meme. Panggilan adik perempuan di golongannya, tapi aku tahu wanita yang ia panggil Meme itu tidak sipit, matanya belo berbeda dengan matanya yang sipit meski terbingkai oleh kaca mata. Kulitnya tidak putih, wanita itu berkulit sawo matang.
Dari semua pengamatan itu, aku tahu wanita itu adalah kekasihnya. Karena pada suatu hari di akhir bulan Juli, Ia memberi wanita itu kejutan dan wanita yang ia panggil meme itu berseru, mengucap sesuatu yang entah mengapa sedikit membuat ngilu di hatiku.
“Terima kasih ya sayang, aku gak nyangka kamu bakal membuat kejutan seperti ini untukku. I love you.” Dan wanita itu, mengecup pipinya.
Dan Ia mengucapkan, yang entah aku berharap suatu saat ia mengucapkan itu untukku.
“I love you too, sayang. Selamat bertambah usia ya sayang.”
Dan, hari itu ia meminta semua ruangan Cafe dipenuhi dengan mawar merah. Dan ia memesan agar tak ada satu pun pengujung selain dia malam itu. Ia ingin merayakan ulang tahun kekasihnya itu hanya berdua saja di Cafe ini.
Minggu berikutnya ia semakin sering datang bersama kekasihnya di Cafe ini. Aku melihatnya tampak bahagia, bercerita banyak hal kepada wanita yang ia panggil Meme itu. Dan aku pun melihat hal yang sama di wanita itu. Mereka bahagia.
Bulan berganti, aku semakin jarang melihat ia datang ke Cafe ini. Aku hanya melihat temannya datang bersama wanita yang ia sebut sebagai sepupunya itu datang kesini tapi tanpa kehadirannya. Aku mendengar namanya disebut-sebut.
Dan malam itu dua bulan yang lalu, Ia datang ke Cafe ini ia bersama teman dan juga sepupunya. Wajahnya kusut, beberapa kali aku melihat Ia mengusap-usap wajahnya. Ia tampak kacau, ia melepas kacamatanya, dan aku samar melihat matanya memerah menahan tangis atau tangis yang ia paksa untuk berhenti lebih tepatnya. Temannya menupuk punggungnya pelan, menabahkan.
Sementara, sepupunya tampak marah. Beberapa kali menyebut-nyebut nama wanita kesayangannya. Meremas-remas tanganya, ia tampak emosi. Sementara temannya berusaha menenangkan.
Aku menatapnya iba, ada apa dengannya?
Mereka akhirnya saling diam, dan sesekali aku mendengar ia membisikkan nama wanitanya. Berulang kali, dan aku melihat wajah sepupunya semakin merah.
Hari ini setelah berbulan-bulan Ia tak datang lagi ke Cafe ini. Ia datang lagi, bahkan datang setiap hari selama seminggu ini. Ia selalu memesan minuman dan makanan yang sama. Makanan dan minuman yang selalu dipesan oleh wanita yang ia panggil meme itu.
“Honeydew Tea, madunya yang banyak ya, jangan lupa es batunya sedikit saja. Dan aku mau Roti bakar strawberrynya ditambah parutan keju dan coklat bubuk.”
Pesanan yang selalu diucapkan oleh wanitanya. Dan seminggu ini Ia selalu memesan minuman dan makanan itu.
Entah hari ini aku merasa harus mendekatinya, mengajaknya berkenalan mungkin. Hari ini genap empat tahun aku selalu membuntuti Lie. Aku harus berani, bukankah aku pun memiliki kesempatan yang sama?
Hari ini atau tidak sama sekali.
Aku mendekati mejanya, berdiri di depannya.
“Boleh duduk di sini?” tanyaku, sembari menarik kursi di depannya. Dan meletakkan Honeydew Tea di mejanya.
“Aku Thalita, kenalkan.” Kataku, dan mengulurkan tanganku ke arahnya.

Malang, 19 Oktober 2014.


 Nb : Foto koleksi pribadi.
*Salah satu view di Omah Caffee, Malang.