Jumat, 27 April 2012

Ujian


Beberapa minggu ini kita dihebohkan dengan berita ujian untuk siswa SMA dan kemarin ujian nasional untuk anak SMP pun berakhir kemarin, kalau dipikir-pikir senang sekali orang dewasa itu sedikit-sedikit melakukan ujian. Tes ini dan tes itu, mungkin mereka tahu betapa sulitnya untuk mencapai sesuatu #halah.
Jadi ingat momen saat ujian nasional waktu jaman SMA delapan tahun yang lalu ( langsung merasa tua ). Ya, waktu SMA kelas 3 ( sekarang kelas XII ) rasa-rasanya gak genap setahun tapi tegangnya ampun dech. Berangkat pagi dan pulang menjelang malam adalah kegiatan sehari-hari, setiap hari menunya latihan soal melulu. Les di sekolah, belum lagi les diluar sekolah. Kenapa saya dulu gak mati bosan ya? disuguhi kesaharian yang seperti itu, berangkat pagi dan pulang sore dibebani PR yang setumpuk, dan belum tugas lainnya. Sekarang setelah masa itu berlalu, masalah kerjaan yang deadline hanya menjelang closing ( sebulan sekali ) ngeluhnya gak selesai-selesai. Jadi mikir, kenapa orang dewasa semakin gampang mengeluh?
Ah, jadi rindu masa-masa itu. Berangkat ke sekolah dengan tas ransel penuh buku-buku dan kalau ada pelajaran olahraga harus bawa sepatu dobel. Kangen merapal hafalan menjelang ulangan harian, sangat berbahagia ketika ada jam kosong dan sibuk melakukan kegiatan apa, sibuk menempel mading sekolah, cekikikan waktu kegiatan KIR, berjubel di kantin sekolah , dan yang sering membuat saya rindu setengah mati adalah kegiatan upacara bendera, rasanya sudah lama sekali saya tidak ikut kegiatan itu :)

Memang benar, mungkin dulu saya pernah membenci kegiatan tersebut nyatanya saya pun kembali merindukan kegiatan tersebut, ah saya rindu seragam putih abu-abu saya :D

Pic dari pinjam disini

Jumat, 20 April 2012

Demikianlah Cinta



“ Karena cinta semaunya menghampiri, tanpa perlu bertanya maukah kita dijatuhinya “

Akhir-akhir ini saya sering merenung tentang lima huruf ini. Ya, ternyata begitu hebat kekuatan dari cinta ini. Cinta bisa membuat kita yang lemah menjadi kuat sekaligus rapuh. Masih teringat pembicaraan absurd dengan teman beberapa hari yang lalu, tentang cinta. Katanya dia cukup puas dengan hanya melihat orang yang dicintainya bahagia, melihatnya tersenyum meski senyum itu bukan untuknya. Ya, teman saya ini cukup bahagia dengan rasa sepihaknya itu. Mungkin yang ia cintai adalah momen saat bersama orang yang Ia cintai itu, dan meski hanya sepihak. 

Jatuh cinta, ya namanya juga jatuh pastinya menyakitkan. Tapi ketika ada orang lain mengatakan bahwa cinta pada akhirnya adalah air mata maka dengan lantang saya menolaknya. Ya, terlihat berlebihan memang. Bagi saya cinta mempunyai pilihan, dan salah satu pilihanya adalah bahagia. Jika kita  masih diberi kesempatan untuk memilih kenapa kita tidak merayakan proses jatuh itu dengan kebahagiaan? 

Cinta itu sederhana, hanya kita saja yang membuatnya rumit. Itu menurut saya, dan lagi-lagi pembicaraan itu berlanjut dengan debat. Ya teman saya ini selalu memandang cinta adalah euforia kesedihan, dan Ia begitu menikmatinya. Mungkin teman saya tak menyadari bahwa ia sedang berbahagia dengan proses sedihnya jatuh cinta * apa ini *. 

First love never ending, saya paling tidak percaya dengan kata-kata itu. Bukankah pertama ada untuk ada yang kedua, ketiga dan seterusnya? Apakah hanya yang pertama saja yang berhak atas everlasting, selamanya. Lalu bagaimana nasib yang kedua? Padahal kedua itu ada karena yang pertama pupus? Semua mempunyai kesempatan untuk menjadi selamanya. Dan lagi-lagi itu menurut saya.

Saya tidak peduli, saya bagi dia adalah yang kedua, ketiga, atau mungkin yang kesepuluh. Saya tidak peduli. Karena bagi saya, pertama, kedua, ketiga dan seterusnya adalah proses pencarian. Lalu apakah saya harus menangis ketika saya bukan yang pertama untuknya, bagi saya menjadi yang terakhir di akhir pencariannya lebih berharga daripada yang pertama, karena saya tahu pertama itu pupus untuk menemukan saya yang terakhir untuknya. Dan sejatinya siapapun bisa menjadi yang pertama, bisa menjadi everlasting bagi pasangan kita. Karena tidak semua orang mendapatkan pilihan pertamanya.

Dan akhirnya terima kasih kamu :* #tutup wajah merona pakai bantal.

Pic : koleksi pribadi :)

Jumat, 13 April 2012

Titik Awal ( prolog )

Rasanya baru kemarin sore aku bersama Dia menelfonmu di telpon koin depan Rumah sakit itu. Mendengar suaramu untuk pertama kalinya.
“ Aku Disty, anak Jogja “
Aku tidak menyangka, kebohongan itu mampu membuatku mati rasa, membuatku dan mu berputar dalam lingkaran ini.
Aku tak tahu, sampai kapan aku dapat melupakanmu. Terbiasa tanpa kamu, dan berjalan normal tanpa ada kamu menemaniku.
Mungkin, satu bulan, satu tahun, dua tahun ... atau tak akan pernah bisa, aku tak akan melupakanmu tapi aku hanya ingin berdamai denganmu, hingga aku tak perlu menahan tangis saat bertemu denganmu. 
Suatu hari nanti .

*sebuah awal ( proyek Aku dan Kamu )

Selasa, 10 April 2012

Kayla



Malam selalu mencumbuiku dengan rindu, dan semuanya tentang kamu.

Aku memandang fotomu yang berpendar, manis. Aku terlalu ngilu untuk mengakui bahwa aku benar-benar kalah dengan air mata malam ini. Aku rindu.
Tanganku memainkan kursor, saat slight itu memainkan foto-fotomu di layar laptopku. Aku berharap ini akan menyamai saat aku menggurat wajahmu, mengusap tiap helai rambutmu dan mencubit pipi tembemmu. Aku rindu.
Ini masih hitungan bulan, belum tahun aku sudah terlampau rindu padamu. Masih teringat malam sebelum kamu melepas kepergianku, kamu merebah manja pada dadaku. Kamu tak pernah semanja itu sebelumnya, dan hal ini semakin membuatku sesak. Sampai sekarang aroma tubuhmu masih jelas kuingat. Aku rindu.
Slight itu masih memainkan foto-fotomu, ada ribuan fotomu dalam laptopku. Ya, karena kamu adalah objek terfavoriteku selama empat tahun tujuh bulan ini. Aku tidak pernah bosan mengabadikan semua ekspresimu, senyum, tawa bahkan gurat sedihmu. Kamu cantik, dan kecantikanmu sungguh luar biasa. Aku rindu.
Slight itu tetap memainkan foto-fotomu, dan sukses menghujaniku peluru. Nyeri, aku kalah dengan jarak. Dan aku kembali menangis. Aku rindu.
Kursorku menekan tombol pause saat fotomu yang memakai topi kegemaranmu tertangkap olehku. Kamu tahu itu adalah foto terfavoriteku. Wajahmu menoleh kearahku, aku yang tiba-tiba dari arah belakang memotretmu. Aku masih ingat saat itu kamu langsung menghambur ke arahku saat menyadari kedatanganku. Hari itu adalah saat kali pertama aku pergi jauh darimu dengan waktu yang lama. Kamu memelukku erat, pun demikian aku. Aku rindu.
Aku kembali menekan tombol play, slight kembali memainkan foto-fotomu. Ada fotomu yang sedang memainkan gadget milikku. Ya, kamu selalu tertarik dengan apa yang aku lakukan. Kamu terlalu mirip denganku. Kamu selalu menikmati saat duduk mengamatiku yang sedang bekerja, sesekali merajuk manja ingin diperhatikan. Tapi tahukah kamu? Saat ini gangguan itulah yang sering mengusikku, rindu. Aku tak pernah marah, maka aku akan berhenti sejenak dari pekerjaanku dan menemanimu ngobrol. Menjawab pertanyaanmu tentang ini dan itu. Maka ketika kamu mulai lelah, kamu akan menyuruhku untuk kembali bekerja dan kamu kembali duduk mengamatiku yang sibuk dengan pekerjaanku.  Aku rindu.
Lamunanku pecah saat, handphoneku bergetar. Incoming call  Kayla. Tanganku cepat mengambil hanphoneku.
“ Kayla kangen papa, kapan papa pulang? “ katamu cepat.
Suaraku tercekat, ngilu.
“ Papa juga kangen sama Kayla “ kataku lembut, dan mengusap fotomu yang sedang tertawa.
Kemudian aku hanya diam mendengar celotehmu, sesekali tertawa. Dan slight itu tetap memainkan fotomu. Foto Kayla my pretty angel.
Papa akan segera pulang nak__

Ide didapat dari twit bang @todyumna yang lagi kangen dengan anaknya :))
foto dari google.com ( sengaja ambil fotonya Afika, soalnya dia lucu :p ) 

Jumat, 06 April 2012

RINDU SAJA, TITIK.



Rindu dan kamu, bukankah itu kita? Selalu. 

“ Aku kangen kamu “ kataku manja, sambil memeluk Teddy Bear pemberianmu. Kalimat ini sudah kukatakan sepuluh kali sehari ini.
“ Iya, aku juga kangen kamu De’ “ ucapmu.
Itu saja? Runtukku kesal. Air mataku hampir jatuh. Aku membenamkan wajahku pada bantal. Sesak.
“ De’...” panggilmu.
Aku diam, tak menjawab. Aku takut bersuara. Aku tak ingin kamu mendengar suaraku yang bergetar, menahan tangis. Cukuplah aku menahan sesak ini sendiri.
“ Di sini sedang hujan De’ , sejak tadi pagi. Langit muram sekali hari ini, serupa aku tanpamu “
Aku tercekat. Rindu ini mencekikku, hingga membuatku sekarat.
“ Masih ingat dengan awal pertemuan kita? Seperti hari itu, hujan menyambut kedatanganku di kotamu. Pertemuan tiga jam empat puluh lima menit. “ katamu seraya tertawa kecil, entah menertawakan apa.
Aku masih bungkam.
“ De’, masih ingat dengan kata-katamu tentang hujan? Jika air hujan pertama menetes di hidungmu itu berarti orang yang kamu sayangi juga menyayangimu. Dan kamu tahu De’, sejak itu  setiap kali hujan aku pasti menghambur keluar menengadahkan wajah setengah berdoa agar air hujan tepat jatuh di hidungku. Lucu, tapi itulah aku tanpamu. ”
Tangisku pecah.
“ Pakailah mantelmu, bukankah diluar turun hujan? aku tak ingin kau kedinginan, serupa aku yang sedang menggigil dipeluk kerinduan1 “ Kataku, pelan.
“ Maafkan aku “
Aku menggeleng cepat. Wajahku kusut.
“ Merindukanmu sudah cukup bagiku, bukankah sejak awal aku harus bersabar dengan semua ini? “ kataku cepat, dan menyusut air mataku.
“ Tak hanya kamu, tapi aku pun demikian. Kita, “ sahutmu cepat.
Aku menyusut air mata yang masih tetap memaksa keluar.
“ Kamu tahu De’, Denyut jantungmu adalah suara yang ingin aku dengar berkali-kali, sampai nanti; sampai jiwa tak memiliki raga ini 2

Aku tersenyum.
“ Terima kasih untuk semua ini. Terima kasih untuk cinta yang sederhana ini. “ katamu hangat.
“ Gombal ni “ kataku.
Kamu pun tertawa. Ah, rindu selalu saja begitu. Dan seperti kemarin, hari ini pun kita sedang merayakan rindu.

 __ Aku merindukanmu __


 Note : 
1, 2 merupakan kutipan dari http://satukatasaturasa.tumblr.com/ 
Pic dari Pic


Rabu, 04 April 2012

Akhir Yang Mengawali


 “ De’ barusan aku kirim email, cek email ya “

Aku membaca pesan singkatmu siang itu. Aku beringsut malas. Apa-apaan ini, aku sedang rindu mengapa disuruh mengecek email? Dasar. Aku merengut kesal. Apakah rindu cukup tertuntaskan hanya dengan sebaris email? 

Satu file attachment berhasil aku unduh, sebuah foto. Tour Eiffel.

“ Lalu, apa maksud foto ini? “ tanyaku.

Tanganku memainkan kursor pada layar laptopku. Aku rindu, itu saja.
Sebaris nama muncul pada layar handphoneku yang membuatku bersemangat untuk menerima telpon tersebut.

“ Bagaimana, bagus kan? “ tanyamu hangat.

“ Iya “ jawabku singkat.

“ Tempat yang romantis “

“ Suatu saat aku ingin kesana. Ingin merasakan hembusan angin di Champ de Mars secara langsung. Tak lagi dari buku atau foto yang selalu kamu pamerkan padaku “

“ Kamu gak akan sendirian kesana, kamu akan pergi bersamaku. Kita berdua, ya aku dan kamu “ sahutmu cepat.

“...” mukaku bersemu merah.

“ Kenapa? Kamu gak mau? “ tanyamu cemas.

“ Tentu saja aku mau, aku akan selalu ikut kemana pun kamu pergi. Makanya cepat kesini, aku rindu. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama. Jangan biarkan rindu ini membunuhku “ kataku cepat, aku merasakan wajahku semakin memanas. 

“ Yakin tak perlu menunggu karung itu penuh dengan coklat? “ Aku mendengar tawa kecilmu, yang semakin menderukan jantungku. 

“ Enggak, aku gak mau coklat atau setumpuk buku lagi “ jawabku cepat, aku merasakan wajahku semakin memanas. Terbakar.

“ Aku maunya kamu “ lanjut batinku.

Aku mendengar kamu menghela napas. 

“ De’, Maukah kau menjadi sepasang doa yang saling menjaga, dimana detak nadimu dan hembus napasku melebur menjadi satu; -- dalam ikatan cinta. “ 1
“ ... “ aku tercengang, kaget.

Aku merasakan napasmu mendekat.

Aku menghambur ke luar, meraih gagang pintu. Instingku tak pernah salah. Seperti yang kuduga, Kamu berdiri di depan pintu rumahku. 

“ Menikahlah denganku “ 


Kutipan 1 diambil dari buku SKSR
Photo design by : Tody Pramantha