Selasa, 30 Desember 2014

Tentang 2014.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2014, kalau dirangkum dengan satu kata tahun 2014 adalah tentang keputusan. Ada tentang kepindahan dan juga hati.
Tahun ini saya memutuskan resign dari kantor lama, yang tentu saja berimbas pada keputusan saya untuk tidak lagi tinggal di Pasuruan. Awal September lalu saya resmi meninggalkan Pasuruan dan hijrah ke Malang. Rencana awal dari kepindahan saya ke Malang adalah ingin serius mengerjakan revisian tugas akhir yang entah kapan berakhirnya itu, dan iseng saya melamar di kantor baru ini. semesta mengamini, akhir September saya diterima di kantor saya yang sekarang. Dan lagi-lagi sebagai tukang jurnal, dan membuat laporan keuangan untuk perusahaan. Untuk kali ini saya beruntung diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana membuat laporan keuangan di perusahaan tambang.
Perpindahan saya ke Malang berimbas pada berat badan saya, makan yang teratur membuat pipi saya menjelma bakpao. Di kantor baru saya makan tepat waktu, istirahat cukup dan cemilan tak pernah absen dari meja kerja saya. Teman-teman baru membuat saya sedikit melupakan deretan sakit hati saya, dan luka karena patah hati.
Selain hal membahagiakan itu, di tahun 2014 ini pun saya memutuskan untuk berpisah dengan dia. Seseorang yang menemani saya selama dua tahun. Saya memutuskan untuk tak lagi bersama dengannya, alasan yang saya buat pun tak kalah klise; restu. Tak mudah bagi saya untuk bergerak melupakannya mengingat betapa saya pernah begitu keras untuk memperjuangkannya, agar dia dapat diterima dilingkungan saya. Kami berbeda, perbedaan yang saya pikir dapat saya pangkas hingga tak bersisa namun saya tak cukup tangguh. Akhirnya pun saya tumbang dan menyerah, di saat saya merasa telah dicintai.
Hari ini saya mengingat kembali awal tahun 2014, saya sempat berdoa agar di akhir tahun saya tetap bersama dia dengan sekat yang tak terlalu rapat. Doa itu terwujud, saya tinggal satu kota dengan dia tetapi hati kami tak pernah satu lagi. Dan ia pun menghilang, jika awal-awal kami berpisah saya masih melihat dia update di Path sekarang sama sekali tak ada kabar beritanya. Dia menghilang, atau sengaja menghilang? Entahlah, saya tak ingin berasumsi.
Saya tak ingin melupakannya, atau sengaja menghindarinya. Menutup akun socmed atau apa, saya tetap akan menjalani kehidupan saya; meskupun tanpa dia. Jika memang takdir masih mengijinkan saya untuk bertemu dengannya saya akan tetap menyapanya, tersenyum dan akan mengatakan bahwa saya bahagia. Tak perlu mengkhawatirkan apa-apa, bukankah perpisahan ini adalah kesepakatan kita?
Stranger to be friend to be lover, and to be stranger again.

Selamat Tahun Baru 2015.

Senin, 29 Desember 2014

Suatu siang di Solaria.

Sambil menunggu pemutaran Doraemon di jam satu, saya memutuskan menghabiskan waktu di Solaria yang berada di lantai dua Sun City. Satu Jus Alpukat,  Jus Sirsat, Ayam Mosarella dan Ayam Lada Hitam menemani kami berbincang. Tentang banyak hal, dan juga kemungkinan-kemungkinan. Tak lupa tentang hati.
“Kamu sudah melupakan dia?” tanyanya, sambil memotong Ayam Mosarellanya menjadi dua, dan potongan terbesarnya berpindah ke piringku. Selalu.
“Sudah.”
“Di Malang sudah pernah bertemu dengan dia? Atau mungkin kamu mencoba sengaja menemuinya.” tanyanya, lalu mengambil potongan paprika yang aku singkirkan dari piringku.
Aku menggeleng. “Tapi aku ingin bertemu dengannya.”
“Yakin? “
Aku mengangguk “Iya, aku ingin bertemu dengannya. Ingin memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Dan tentu saja, aku bahagia. Aku rasa dia perlu tahu akan itu.”
Dia tertawa, lalu meneguk Jus Alpukatnya. “Seyakin itu? Jika kamu tahu ada dia di sana, dan dia sedang berjalan dengan wanita lain apa yang akan kamu lakukan? Masih tetap ingin menemuinya, meski kamu sendirian waktu itu?”
Aku mengangguk cepat. “Iya, aku akan berjalan ke arahnya. Sengaja, agar ia dapat melihatku dan agar aku dapat memiliki kesempatan untuk menyapanya.”
Aku mengaduk Jus sirsatku.
“Sudah kubilang kan, aku ingin bertemu dengannya. Mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dan aku harap dia memiliki pacar baru. Setidaknya, itu lebih baik. Daripada melihatnya nampak kacau, itu semakin membuatku sedih.”
Dia meraih tanganku, “Kamu masih mencintainya?”
Aku terkejut, hei apakah benar aku masih mencintainya? Aku melepaskan genggamannya, lalu melihat ke arah luar. Ada yang berputar-putar di otakku, sejauh aku memaksa pergi ia tak pernah benar-benar hilang dalam ingatanku.
“Jus Sirsatku kurang enak, gimana Jus Alpukatmu?” tanyaku, lalu menarik gelasnya ke arahku.
Aku mengaduknya dan berniat meminumnya.
“Jangan dipaksakan.” Katanya, lalu menarik sedotannya dan menggantinya dengan milikku.
“Terima kasih.” Ucapku gugup, lalu meminum Jus Alpukat itu.
“Ayo, Doraemonnya mau mulai nih.” Katanya, lalu menuntunku meninggalkan Solaria.
Siang itu aku menyadari satu hal, dia tak pernah memaksa aku untuk melupakan si mantan. Dia benar-benar tahu bahwa aku pun perlu proses. Aku tersenyum memandangi punggungnya yang berjalan di depanku.
Kamu tahu, aku akan mencoba.


Surabaya, 28 Desember 2014. 

Senin, 10 November 2014

(un)Happy Strawberry Toast.


Aku melangkahkan kaki ke kedai yang bangunanya bernuansa putih itu, Omah Caffee. Beberapa bulan yang lalu, aku sering kesini. Setiap malam minggu, kamu akan mengajakku duduk dan bercerita apa saja di sini. Terkadang, saat kamu menjemputku pulang kerja pun mengajakku bersantai sejenak sebelum aku pulang ke kos.
Itu dulu, sebelum semua berubah.
Aku  memegang ujung tasku. Sangsi, apakah aku serius akan masuk ke Omah Caffee. Aku melihat mobilmu terparkir di halaman Omah Caffee. Kamu sendirian kah? Atau bersama Bili dan Joice? Atau bersama yang lain.
Aku membalikkan badan berniat berlalu dari tempat itu. Namun urung, aku memilih berjalan ke arah Outlet Omah Mode yang letaknya bersebelahan dengan Omah Caffee. Outlet distro ini nampak lengang padahal hari ini minggu.
Aku menyisir beberapa deret koleksi baju yang di pajang di Outlet ini. Mataku tertegun saat melihat satu kaos berwarna merah itu. Merah, adalah warna favoritemu. Warna yang kau bilang sebagai penanda kobaran semangat. Yang katamu dulu adalah warna yang serupa denganmu yang selalu dipenuhi semangat yang membuncah untuk mempertahankan apa yang akan membuatmu bahagia.
Tapi mengapa kamu tak pernah semangat untuk mempertahankanku? Apakah itu berarti aku tak pernah membuatmu bahagia? Adakah yang salah dengan hubungan kita.
Aku menghela nafas.
Mengingat malam terakhir kita bertemu. Pembicaraan kita yang lebih banyak berisi tentang kekecewaan, dan helaan nafas. Mengapa semua ini harus terjadi di saat kita telah melangkah begitu jauh. Di saat kita telah menyepakati tentang mimpi-mimpi kita tentang kehidupan setelah kita telah disahkan oleh agama maupun pemerintah.
Mengapa kita baru menyadari bahwa kita tak pernah sama, bahwa kita berbeda setelah dua tahun kita saling menautkan hati. Dan mengapa kita baru menyadari bahwa kita selalu meragu dengan apa yang akan kita hadapi nanti.
Aku yang hanya seorang Kartika, gadis jawa. Tak mungkin bisa bersamamu Lie, kamu yang seorang Tiong Hoa.
Aku buru-buru mengusap mataku yang mulai mengembun. Terlalu banyak tapi, saat aku dan Lie untuk memutuskan bersama. Dan terlalu menyakitkan saat aku harus memilih mengakhiri kisahku bersama Lie.
Aku melihat dari jendela, mobil Lie masih terparkir di halaman Omah Caffee.
Ah, seharusnya di senja yang mulai menguning ini aku duduk di kursi biasa kami duduk. Kursi yang berada di pojok Omah Coffee, kursi favorite kita. Aku akan memesan Honeydew Tea dengan sedikit es batu dan Strawberry Toast dengan taburan keju dan cokelat bubuk. Kamu akan mengaduk-aduk Honeydew Tea ku mengambil es batu, dan mengunyahnya. Yang sering kali ku protes, mengingatkan kesehatan giginya. Perdebatan kecil yang membuatku menggembungkan pipiku dan kamu akan mengusap rambutku menenangkan. Hal sederhana yang selalu membuatku luluh padamu.
Aku keluar dari Omah Mode, langkahku mantab menuju ke Omah Caffee. Aku kesini bukan untuk menemui Lie, aku hanya ingin menikmati Honeydew Tea dan Strawberry Toast kegemaranku. Aku kesini bukan untuk Lie, rapalku.
Langkahku terhenti saat aku membuka pintu Omah Caffee. Aku melihatmu dengan wanita itu. Wanita itu duduk di depanmu, dan aku melihatnya meminum Honeydew Tea kegemaranku.
Wanita, yang selalu ada setiap kali aku dan Lie berkunjung di tempat ini. Wanita yang sering kali kulihat, memperhatikanmu dan seakan tak pernah mau melepas setiap gerakanmu. Wanita yang sering muncul dalam pikiranku. Wanita yang sering kukhawatirkan akan membawamu berlalu dariku.
Lie.
Tubuhku lemas, dan yang kutahu hanya gelap saat itu.

Malang, 20 Oktober 2014.




Senin, 27 Oktober 2014

Kenapa NgeBlog?

Kalau ditanya mengapa ngeblog? Mungkin jawaban saya adalah, saya ingin nama saya muncul di Google search, huehehehe. Padahal kenyataannya saya termasuk Blogger murtad, yang menulis kalau moodnya lagi baik.
Pertama ngeblog saat masih kuliah, sekitar tahun 2004. Ngeblog dulu di Friendster, iya masih ingat kan dengan social media satu ini? Saya banyak menulis di friendster, yang mungkin tulisannya berkisar curhatan tentang LDR an saya sampai derita saya sebagai Mahasiswi Akuntansi yang salah jurusan. Blogger pertama yang saya ikuti adalah si Raditya Dika, tulisan dia di kambingjantan dot com selalu saya tunggu. Waktu itu dia belum bikin buku. Dan ketika blognya dibukukan bahagialah saya. 
Waktu berganti, saya mulai mengenal blogspot ini. Blogspot adalah rumah kedua saya untuk menulis setelah Friendster hilang dari peredaran. Menulis di Blogspot juga moody banget, setahun hanya ada hitungan jari postingannya. Blog pertama saya meandmyordinaryday akhirnya mati suri. Tahun 2010 saya kerajingan twitter, dan mulai itulah saya mencoba untuk menulis lagi.
Berawal dari menyamakan semua akun media sosial saya, akhirnya rumah ini saya buat pada tahun 2011. Saya mulai rajin, dan karena pengaruh orang-orang yang menghiasi timeline saya. Adalah Mput, Kur-kur, Roy, dan Dendi mereka adalah orang-orang yang membuat saya mencintai ngeblog. Awalnya hanya membaca tulisan mereka, akhirnya mulai rajin menulis. Dari cerpen, tulisan random, curhat sampai cerita traveling ala backpacker.
Dari Blog inilah saya mulai mengenal tulisan dari beberapa blogger lainnya, dan sekarang saya sedang menyukai tulisan dari si Tirta di romeogadungan.com , juga cerita manis dari pacarnya Roy si Sarah di sarahpuspita.com dan tulisan Intan di kurakurahitam.blogspot.com. Bahagianya lagi tulisan saya makin hari makin berkembang dan tidak melulu soal curhat terselubung saya.
Pada tahun 2012, saya menjadi suka menulis sajak dan untuk itulah saya membuat rumah di ceritaperihujan.tumblr.com dari postingan di Tumblr inilah buku pertama saya lahir, Cerita Peri Hujan. Dan pada awal tahun 2013 saat saya, patah hati :p saya merubah rumah pertama saya meandmyordinaryday menjadi jurnalsiayu.blogspot.com yang postingannya lebih banyak soal jurnal akuntansi. Iya, saya ingin menulis yang berhubungan dengan profesi saya sebagai Akuntan.
Hari ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional, jadi apakah saya sudah pantas disebut sebagai seorang Blogger? hmmm, saya rasa julukan itu tak penting. Disebut Blogger atau tidak, saya akan menulis. Karena saya percaya dengan menulis saya mampu membekukan kenangan.

Selamat Hari Blogger Nasional.

Senin, 20 Oktober 2014

Honeydew Tea.



Dia duduk di pojok ruangan cafe itu. Ia mengaduk gelas yang isinya tinggal separuh itu. Pandangannya kosong, menatap kursi yang ada di depannya. Aku menatapnya iba, sudah seminggu ini dia selalu datang ke Cafe ini dan selalu memilih tempat itu dan akan memesan minuman dan makanan yang sama.
Dan Ia akan melakukan hal yang sama, duduk diam di tempat itu selama dua jam bahkan kemarin ia duduk di tempat itu hampir tiga jam. Iya, aku selalu mengamati Dia. Jauh sebelum ia menjadi pelanggan setia di Cafe ini.
Dulu ia tak pernah datang sendiri, ia selalu datang bersama temannya dan seorang wanita yang ia sebut-sebut sebagai sepupunya. Dan tak jarang ia datang berdua saja dengan seorang wanita, yang ia panggil Meme. Panggilan adik perempuan di golongannya, tapi aku tahu wanita yang ia panggil Meme itu tidak sipit, matanya belo berbeda dengan matanya yang sipit meski terbingkai oleh kaca mata. Kulitnya tidak putih, wanita itu berkulit sawo matang.
Dari semua pengamatan itu, aku tahu wanita itu adalah kekasihnya. Karena pada suatu hari di akhir bulan Juli, Ia memberi wanita itu kejutan dan wanita yang ia panggil meme itu berseru, mengucap sesuatu yang entah mengapa sedikit membuat ngilu di hatiku.
“Terima kasih ya sayang, aku gak nyangka kamu bakal membuat kejutan seperti ini untukku. I love you.” Dan wanita itu, mengecup pipinya.
Dan Ia mengucapkan, yang entah aku berharap suatu saat ia mengucapkan itu untukku.
“I love you too, sayang. Selamat bertambah usia ya sayang.”
Dan, hari itu ia meminta semua ruangan Cafe dipenuhi dengan mawar merah. Dan ia memesan agar tak ada satu pun pengujung selain dia malam itu. Ia ingin merayakan ulang tahun kekasihnya itu hanya berdua saja di Cafe ini.
Minggu berikutnya ia semakin sering datang bersama kekasihnya di Cafe ini. Aku melihatnya tampak bahagia, bercerita banyak hal kepada wanita yang ia panggil Meme itu. Dan aku pun melihat hal yang sama di wanita itu. Mereka bahagia.
Bulan berganti, aku semakin jarang melihat ia datang ke Cafe ini. Aku hanya melihat temannya datang bersama wanita yang ia sebut sebagai sepupunya itu datang kesini tapi tanpa kehadirannya. Aku mendengar namanya disebut-sebut.
Dan malam itu dua bulan yang lalu, Ia datang ke Cafe ini ia bersama teman dan juga sepupunya. Wajahnya kusut, beberapa kali aku melihat Ia mengusap-usap wajahnya. Ia tampak kacau, ia melepas kacamatanya, dan aku samar melihat matanya memerah menahan tangis atau tangis yang ia paksa untuk berhenti lebih tepatnya. Temannya menupuk punggungnya pelan, menabahkan.
Sementara, sepupunya tampak marah. Beberapa kali menyebut-nyebut nama wanita kesayangannya. Meremas-remas tanganya, ia tampak emosi. Sementara temannya berusaha menenangkan.
Aku menatapnya iba, ada apa dengannya?
Mereka akhirnya saling diam, dan sesekali aku mendengar ia membisikkan nama wanitanya. Berulang kali, dan aku melihat wajah sepupunya semakin merah.
Hari ini setelah berbulan-bulan Ia tak datang lagi ke Cafe ini. Ia datang lagi, bahkan datang setiap hari selama seminggu ini. Ia selalu memesan minuman dan makanan yang sama. Makanan dan minuman yang selalu dipesan oleh wanita yang ia panggil meme itu.
“Honeydew Tea, madunya yang banyak ya, jangan lupa es batunya sedikit saja. Dan aku mau Roti bakar strawberrynya ditambah parutan keju dan coklat bubuk.”
Pesanan yang selalu diucapkan oleh wanitanya. Dan seminggu ini Ia selalu memesan minuman dan makanan itu.
Entah hari ini aku merasa harus mendekatinya, mengajaknya berkenalan mungkin. Hari ini genap empat tahun aku selalu membuntuti Lie. Aku harus berani, bukankah aku pun memiliki kesempatan yang sama?
Hari ini atau tidak sama sekali.
Aku mendekati mejanya, berdiri di depannya.
“Boleh duduk di sini?” tanyaku, sembari menarik kursi di depannya. Dan meletakkan Honeydew Tea di mejanya.
“Aku Thalita, kenalkan.” Kataku, dan mengulurkan tanganku ke arahnya.

Malang, 19 Oktober 2014.


 Nb : Foto koleksi pribadi.
*Salah satu view di Omah Caffee, Malang.


Senin, 22 September 2014

Pilihan.

Kemarin sore saya ditelpon Ibu, rutinitas yang kerap dilakukan Ibu semenjak saya meninggalkan kota Pasuruan. Sedikit banyak Ibu merasa khawatir dengan saya, meski kota yang saya tempati sekarang bukanlah tempat yang asing bagi saya. Bahkan, telah menjadi rumah kedua bagi saya. 
Bercerita tentang hal yang saya lewati seharian adalah menjadi hal yang biasa sejak saya tak lagi di Pasuruan, Ibu juga kerap menanyakan bagaimana dengan perasaan saya karena tinggal dan menetap di kota yang sama dengan orang yang pernah mengisi hari-hari saya. mungkin Ibu khawatir jika nantinya saya berniat kembali bersama ia yang kehadirannya tak pernah mendapat restu. Hahahaha.
Ibu hanya khawatir, dan saya mengerti itu. Ini kedua kalinya saya resign dan saya merasa ini adalah proses yang paling dramatis. Mengapa demikian? Iya, karena dengan saya resign dari kantor saya pun harus meninggalkan kota Pasuruan yang telah enam tahun menemani saya.
Saat saya memutuskan untuk tinggal di kota ini (lagi) setelah enam tahun yang lalu dengan semangat saya meninggalkannya saya memilih untuk kembali. Bukan untuk meratapi apa yang pernah saya lepas, atau berusaha memperbaiki apa yang pernah saya putuskan untuk mengakhirinya. Ini adalah pilihan saya, suka dan tidak suka saya ingin kembali ke kota ini. Kota yang kini pun ia tinggali.
Saya cukup mendapat dukungan dari Ibu dan juga kakak-kakak saya. Bagaimana pun juga, ketika saya menangis merekalah yang akan berlari ke arah saya dan menghapus air mata saya. Mereka tahu tanpa perlu saya mengadu, mereka paham meski saya tak mengeluh.

Minggu, 21 September 2014

Menengok Malang Tempo Dulu.

Sekarang tak akan pernah ada jika tak ada masa lalu --- @_yulesta

Beberapa waktu yang lalu saya bersama partner of crime saya Wigi berkunjung ke Museum Malang tempo Dulu. Tempat ini sudah lama menjadi list dalam perjalanan saya bersama Wigi. Penasaran dengan berbagai postingan mengenai Museum yang pengelolaannya secara pribadi ini. Museum yang dibangun oleh seorang kurator asli Malang Dwi Cahyono dan resmi dibuka untuk umum sejak 22 Oktober 2012.
Selamat datang di Museum Malang Tempo Doelo

Museum yang terletak di Jalan Gajah Mada no 2, yang berada persis di belakang Balai Kota Malang atau lebih tepatnya bersebelahan dengan Rumah Makan Inggil. Dengan tiket masuk Rp. 15.000,- kita dapat bernostalgia dan menyusuri Kota Malang di setiap dekadenya. Dimulai dari jaman pra sejarah, hingga jaman perjuangan. 
Museum Malang Tempo Dulu dikemas dengan secara modern, jadi jangan membayangkan Museum yang berbau apek dan pengab. Setiap sudut Museum ini juga cocok buat kita yang hobi foto-foto, asyiknya lagi kita dapat meminjam perlengkapan yang ada di Museum untuk foto. Ada satu spot yang menarik buat saya adalah spot kerajinan gerabah, di situ ada alat yang digunakan untuk membuat gerabah dan pengunjung diijinkan untuk mencoba. Kalau mau foto ala-ala pasangan dalam film Ghost, bisa mencoba disini :p
Hasil kerajinan, yang dibuat oleh para pengunjung.

Dari mulai masuk ke area Museum saya bersama Wigi seperti memasuki mesin waktu, ada beberapa koleksi patung lilin yang dibuat untuk membuat kesan hidup pada Museum ini. Patung lilin ini lah yang sempat membuat saya dan Wigi ketakutan karena kaget. 

Berpose dengan patung lilin Bung Karno.
Di akhir perjalanan, kita disuguhi dengan replika Festival Malang Tempo Dulu. Selain itu di area ini kita boleh mewarnai topeng khas Malang dan belajar membatik. 

Sok atuh belajar pegang cantingnya dulu :p
Museum yang buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.00 ini wajib dikunjungi. Tempat yang fun, dan jauh dari kesan horor cocok buat media pembelajaran. 

Kamis, 18 September 2014

Berkunjung ke surga di balik bukit.

Jika bersama lebih baik, mengapa kamu memilih sendiri? --- @_yulesta.

Sabtu kemarin, tanggal 13 September 2014 saya bersama dua belas teman saya memutuskan berkunjung ke Jember. Menikmati sensasi ngtrip rame-rame dengan kendaraan umum. Berawal dari obrolan group whatsapp kelas pertengahan Agustus lalu, kami pun ngetrip ke Tanjung Papuma.
Karena rata-rata kami belum pernah merasakan naik kereta rame-rame dengan tujuan yang agak 'aneh' maka Kereta Tawangalun pun menjadi moda keberangkatan kami. Tiket kereta yang di booking dua minggu sebelum keberangkatan memudahkan kami memilih bangku dengan leluasa. Dengan harga tiket Rp. 30.000,- kami dapat tempat duduk yang berderet. Meski Kereta yang kami tumpangi adalah kereta ekonomi, overall keretanya nyaman, ber AC dan yang terpenting ada colokannya. Sehingga kami tak perlu khawatir dengan baterai low, sehingga tetap eksis di sosial media :D
Eksis di kereta.

Kereta Tawangalun berangkat dari Stasiun Kota Baru, Malang pukul 15.00 wib dan sampai Stasiun Jember sekitar pukul 19.45 wib. Sekedar tips, karena memakan waktu yang agak lama sebaiknya kalau mau ngetrip dengan Kereta sediakan cemilan yang banyak. 
Sampai Stasiun Jember, dan menyempatkan diri untuk narsis dan mengabarkan kepada dunia bahwa kita sudah sampai Jember dengan bahagia saya bersama rombongan nyamperin Pak Agung (Travel Agen) yang akan mengantar kami ke Tanjung Papuma. Sekedar Info, jika kalian akan berkunjung ke Jember dan mau menuju ke Papuma bisa menghubungi Pak Agung. Dengan Rp.300.000,- kalian bakal dijemput dari Stasiun/Terminal Jember menuju ke Papuma dan dari Papuma ke Stasiun/Terminal itu sudah termasuk bonus jalan-jalan keliling Jember untuk kuliner dan beli oleh-oleh. Kalau kita dijemputnya di Ambulu maka tarifnya akan berbeda, kabarnya akan lebih murah lagi :D
Jember kami datang.

Karena sudah waktu jam makan malam, kami bersama rombongan di antar Pak Agung ke warung makan dan malam itu kita makan lalapan. Entah karena memang lapar atau porsinya terlalu sedikit kita sampai nambah porsi. Warung lalapan di depan Perhutani, Jember ini selain murah, bersih juga enak. Pesan saya, tempe bacemnya enak saya waktu itu sampai nambah :p untuk ayam gorengnya ada dua pilihan ada ayam kampung dan ayam negeri, selisih harganya tidak terlalu tinggi kok.
Makan malam di Lalapan depan Perhutani, Jember.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu teman yang kebetulan ketinggalan kereta dan mengejar kami dengan bus, kami diajak ngopi cantik dan ganteng di sekitar perempatan Ambulu. Sekitar jam 23.00 teman kami sampai, dan lengkaplah kehebohan kami.
Pukul 24.00 kami sampai di Papuma, suara deburan ombak terdengar dari penginapan yang kami pesan dua minggu lalu. Setelah, menurunkan perbekalan kami dan memindahkan ke kamar kami menyiapkan tenaga untuk berburu sunrise esok harinya. Waktu itu kami menginap di Pondok Papuma yang tarifnya Rp.260.000,- per kamar ada fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam. Saran saya, kalau berombongan mending sewa cottegenya dengan tarif Rp. 510.000,- kita sudah dapat dua kamar, ruang tamu dan kamar mandi dalam. Kamarnya juga ber AC jadi jangan khawatir kegerahan.
Pukul 04.00 wib, kami sudah heboh untuk ke pantai. Jarak Penginapan ke pantai hanya 100 meter saja, dengan harap-harap cemas kami menunggu sun rise. Sekitar pukul lima sunrise baru kelihatan. Bersoraklah kami, sebagai manusia kekinian kami tidak lupa berfoto dan sibuk mengabarkan ke suluruh dunia.
1..2..3
 
Matahari tak pernah ingkar janji.
Setelah puas jalan-jalan melihat sunrise dan berkeliling Tanjung Papuma, sekitar pukul dua belas kami meninggalkan penginapan. Mobil jemputan juga sudah siap mengantar kami ke Terminal, yang sebelumnya kita todong untuk mengantar kami makan siang dan berbelanja oleh-oleh ke 'Sumber Madu'.
Pukul tiga sore rombongan kami sudah sampai di terminal Tawang Alun, Patas yang akan mengantar kami kembali ke Malang juga sudah menunggu. Meski ini adalah perjalanan kesekian saya ke Jember, entah saya merasa berbeda dengan perjalanan kali ini. Mungkin benar kata orang terkenal di luar sana, bukan kemana tujuannya tapi bersama siapa.

Jadi, kemana lagi kita?


Note :
Pak Agung (reservasi mobil jemputan) : +6282143941006
Pak Giono (resevasi Pondok Papuma)  : +6281336103458

Senin, 15 September 2014

Lembur Sehat, ala Peri Hujan.

Lembur tidaklah asing bagi para pekerja, kerap kali pekerjaan yang menumpuk membuat seorang pekerja terpaksa bekerja ekstra. Bila umumnya waktu kerja delapan jam sehari, jika lembur bisa sampai dua belas jam bekerja. Untuk menyiasati agar tubuh tetap segar meski bekerja ekstra, simak tips berikut.
1.       Hindari Kopi.
Terkadang saat lembur, badan menjadi lelah dan biasanya dibarengi dengan mata yang mulai mengantuk. Biasanya Anda akan memilih untuk meminum kopi dengan harapan kafein yang terkandung dalam kopi menghindarkan anda dari mengantuk. Meminum kopi yang berlebihan mengakibatkan insomia dan dehidrasi. Jika terpaksa harus meminum kopi, hindari minum kopi instan minumlah kopi murni tanpa gula yang memberikan efek kafein yang sebenarnya.
2.       Olahraga ringan.
Siapa bilang bekerja di kantor Anda tidak dapat berolahraga. Sempatanlah untuk streching sederhana untuk meregangkan otot punggung yang kaku akibat banyak bekerja. Untuk Anda yang bekerja di depan komputer dapat memijat sekitar mata untuk menghindari mata lelah.
3.       Perbanyak minum air putih.
Tubuh akan mengalami dehidrasi yang akan membuat stamina menurun saat lembur. Usahakan untuk meminum banyak air putih, karena air putih dapat menjaga mood tetap baik. Dehidrasi dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan, dan berkurangnya konsentrasi yang berakibat tidak baik untuk kondisi tubuh anda saat lembur.
Lembur memang penting demi mengejar target terselesaikan deadline pekerjaan. Namun yang terpenting adalah kesehatan. Untuk itulah, pentingnya menjaga kesegran dan kesehatan tubuh meski saat lembur.




Jumat, 12 September 2014

Setelah Enam Tahun

Perpisahan itu tak pernah mudah bagi siapa pun, dan hal terberat dari perpisahan adalah memunguti tiap remah kenangannya -- @_yulesta.

Hari ini telah lewat beberapa hari sejak saya meninggalkan Pasuruan, kota yang menjadi tempat saya bernaung selama enam tahun lebih. Kota tempat saya memperjuangkan cinta yang terbatas jarak, pun merelakannya berakhir. Kota yang menemani saya untuk tumbuh menuai cinta yang baru. Kota, yang setiap sudutnya mengajarkan kepada saya bahwa tak ada yang sia-sia dari setiap perjalanan hidup.
Setelah enam tahun berlalu, saya menyadari beberapa hal. Pasuruan telah memberi saya banyak teman yang statusnya melebihi saudara. Mungkin inilah alasan mengapa meninggalkan Pasuruan tidaklah pernah mudah bagi saya, terlalu banyak tapi di tempat ini. Terlalu banyak kebahagiaan yang membuat saya betah berlama-lama di Kota Sakerah ini.
Beberapa tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk berhenti dari kantor sebelum ini, pun saya berniat untuk tidak akan pernah kembali ke Pasuruan. waktu itu bagi saya tiga setengah tahun adalah waktu cukup bagi saya. Tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, saya kembali ke kota Pasuruan lagi. Kembali bekerja di kota Pasuruan, dan kembali berkumpul bersama sahabat yang melebihi saudara itu. Kembali saya menemukan banyak tawa saat saya kembali ke Kota Pasuruan. Kehadiran teman-teman baru di kantor yang baru membuat semakin semarak kehidupan saya di Pasuruan.
Dan kala itu saya berjanji tidak akan meninggalkan kota ini lagi.
Siapa sangka, kehidupan berputar setelah enam tahun di Pasuraun. Tuhan mempunyai rencana lain untuk saya. Kepergian Ayah, merubah pola pikir saya, merubah prioritas hidup saya. Saya ingin mendekati pelukan Ibu, satu-satunya orang yang saat ini menjadi alasan saya untuk berjuang lebih keras lagi. Saya harus menyelesaikan studi saya, dan lagi-lagi saya mendapati satu pilihan. Dan saya memilih untuk berhenti dan memaknai kebahagiaan saya dengan cara yang berbeda. 
Setelah perjalanan panjang dan pergulatan pikiran yang pelik saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Pasuruan. Saya memilih untuk konsentrasi degan studi saya, tinggal di tempat pengharapan yang luar biasa bagi Ibu saya. Ini pilihan saya.
Akhirnya saya tahu tak ada yang salah atau benar dari pilihan itu yang ada hanyalah konsekuensi dari pilihan itu. Saya memilih untuk pergi dari Pasuruan, tak sedikit yang menyayangkan keputusan saya. Bertanya mengapa tiba-tiba? Pun banyak juga yang mendukung keputusan saya, dengan embel-embel dengan tetap keep contact dengan mereka.
Tentu saja, mereka bukan hanya teman bagi saya, mereka adalah saudara terbaik saya.
Kini setelah enam tahun berlalu, saya percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya percaya Tuhan pasti memiliki rencana dengan setiap apa yang terjadi pada saya. Saya selalu percaya ketika saya pergi, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk ia yang menggantikan saya. Pun sebaliknya, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk saya. 

Terima kasih untuk teman, sahabat dan kakak terhebat saya selama di Pasuruan Mbak Murti. 


Terima kasih untuk Mbak Luluk, Mister Alvon, Bro, Pak Roni, Mas Djalil, Mbak Ika, Anggi, Mbak Eka, Mbak Ketrin, Pak Erik, Pak Yudien, Pak Cosmas, Meme Siska, Semua teman-teman di Sejati Group dan CU Sanqti Jawa Timur.

Terima kasih untuk semua, kalian hebat dan luar biasa.

Terima kasih telah menjadi teman yang baik untuk saya. Terima kasih telah setia mendengar keluh saya. Terima kasih untuk tawa di setiap kesempatan.

Dan terima kasih mau menjadi teman bagi saya yang biasa. Kalian sungguh luar biasa.


Rabu, 10 September 2014

Pulang.


Aku melihat Casio yang melingkar di pergelangan tanganku. Sepuluh menit menuju pukul sembilan pagi, Sancaka Pagi akan datang. Petugas peron memberi arahan, agar penumpang segera menuju pintu boarding. Aku menuju ke meja pemeriksaan tiket, menyerahkan tiketku untuk diperiksa. Perjalanan empat jam, menuju Yogyakarta.
Aku menuju gerbong tiga, mencari-cari kursiku. C5, sesuai ekspektasiku aku mendapat kursi nomor dua dan tepat di sisi jendela. Aku menaruh ranselku di kabin, lalu mengambil botol minuman yang terselip di ranselku. Aku merapikan dudukku, megambil earphone dan memasangkan di smartphoneku. Aku tak ingin mendengar banyak percakapan dalam perjalananku. Dari Iphoneku mengalun lagu Kahitna, Hampir Jadi.
Hampir Jadi? Iya, aku dan dia adalah sepasang manusia yang hampir jadi sepasang suami istri jika saja ego kami tak lebih tinggi dari rasa cinta yang harusnya meneguhkan kami. Dua tahun bersama, masih cinta tapi akhhirnya memilih untuk jalan sendiri-sendiri.
Entah karena lelah atau sudah jengah.
Aku mengingat-ingat awal pertemuan kami. Seharusnya setelah jarak yang kami perjuangkan, tak ada lagi alasan kami untuk memutuskan berpisah. Seharusnya.
Aku memesan satu iced coffee yang ditawarkan pramusaji yang berkeliling di gerbong kereta. Iced Coffee? Minuman favorite kami, satu-satunya persamaan kami. Di antara banyaknya perbedaan kami. Aku yang seorang jawa dan dia seorang tiong hoa. Aku yang pecinta junk food dan Dia yang begitu peduli dengan healthy life. Aku yang tak bisa lama menghabiskan waktu untuk tidur, Ia begitu mencintai waktu tidurnya.
Bukankah cinta tak mengenal perbedaan? Seharusnya itu cukup menguatkan kami. Seharusnya cinta cukup membuat kami bertahan, dan mampu berjuang lebih kuat lagi. Seharusnya pertentangan yang berada di sekitar kami dapat menguatkan kami. Seharusnya.
Sancaka Pagi melaju ke arah barat. Semoga setelah perjalanan ini aku mampu melupakan Dia. Aku memutar-mutar gelas Iced Coffee ku. Kereta berhenti, dari layar monitor tertulis Solo Balapan. Sebentar lagi aku sampai Jogja. Aku memeriksa akun twitterku. Melihat beberapa keriuhan linimasa, tak kutemui satu pun twit darinya. Kurasa Ia telah berhenti, tak lagi mengharapkan hubungan kami kembali seperti semula. Bukankah ini pun keinginanku?
Dari Iphoneku mengalun lagu, Tulus yang Sepatu. Iya, kami seperti sepasang sepatu Dia sepatu kanan dan Aku sepatu kiri. Sadar ingin bersama, tapi tak mungkin bersatu. Cinta senang sekali bercanda ya?
Aku membuka galeri foto yang ada di Iphoneku, ada beberapa foto kami saat menikmati quality time. Aku tersenyum saat melihat fotoku sedang bereksperiman membuat cake di dapur rumahnya. Iya, cake gosong yang kamu puji sebagai cake paling enak sedunia. Cake yang aku buat pertama dan mungkin akan menjadi cake terakhir untukmu.
Cairan bening itu akhirnya menetes juga. Sial, aku menangis lagi.

Aku mengusap air mataku. Aku lelah menangis. Sebulan ini aku terlalu sering menangis, terakhir kali aku menangis begitu hebat setelah perbincangan panjang kami di telpon. Mendengar ucapan kecewamu.
“Berhenti? Semudah itu kamu bilang Me?”
“Maafkan aku..”
“Aku tak pernah bermain-main dengan perasaanku.”
Dan kami hanya menghabiskan sisa tiga puluh menit pembicaraan, hanya saling diam.
Dan sejak pembicaraan itu, hingga kini Ia tak lagi menghubungiku. Ia begitu kecewa denganku. Bukankah jika Ia ingin memperjuangkanku, Ia tak seharusnya membiarkan aku menunggu seperti ini. oh, sepertinya aku melupakan satu hal. Bukankah perpisahan ini pun kesepakatanku juga.
Kami tak mungkin melawan arus bukan? Kami tak mungkin bersama-sama dengan lingkungan yang tak satu pun mendukung hubungan kami. Seharusnya aku mampu membunuh rasa itu sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Seharusnya aku tak membiarkan perasaan itu muncul.
Sancaka Pagi mulai memelan, di layar monitor tertulis Stasiun Yogyakarta.
Aku melepas earphoneku, aku mengambil ranselku di kabin. Penumpang Sancaka Pagi riuh keluar dari gerbong. Aku meregangkan otot punggungku. Aku tersenyum.
“Selamat datang Jogja.”
Aku harus melupakannya.
Aku berjalan menuju luar stasiun, tapi sebelumnya aku menuju ke ATM Center yang berada di dekat pintu keluar stasiun. Aku mengecek Iphoneku, tak ada satu pun pesan masuk. Sepertinya dunia pun enggan mencariku, seperti kamu.
Aku menuju peta Jogjakarta yang terpampang di dekat ATM Center, mengira-ngira aku akan melangkahkan kaki kemana setelah ini. Semoga setelah ini aku dapat melupakannya, gumamku.
“Ke Jogja kenapa gak mengajakku?” Seseorang berkata tepat disampingku. Aku sontak kaget, melihatnya telah berdiri di sampingku, lelaki yang sejak aku menaiki Sancaka pagi begitu ingin aku lupakan.
“Bagaimana..?”
“Aku selalu tahu Me, ayo kita berjuang lagi. Kamu gak akan sendirian lagi. Kamu mau memulainya lagi kan?”

Ada yang meletup-letup di dadaku. Entah, yang pasti aku menerima uluran tangannya, kurasa Dia benar-benar rumahku.

Photo : google.com

Selasa, 09 September 2014

Terapi Patah Hati.



Patah hati bukan harga mati ~~ @_yulesta.

Menyembuhkan patah hati mungkin tidak semudah saat kita jatuh hati. Ada yang perlu waktu berhari-hari, atau bahkan mencapai hitungan tahun. Tapi, hidup harus tetap berjalan kan? Jangan terlalu terpaku pada sakit dan pedihnya masa lalu, hidup harus bergerak maju. Untuk mensiasati pasca patah hati ikuti tips berikut.
1.       Menangis.
Menangis adalah cara alami untuk melampiaskan rasa kesal, tertekan dan penat. Seseorang yang menangis dapat menurunkan kadar emosi, karena dengan menangis dapat meningkatkan mood seseorang. Air mata yang dikeluarkan saat menangis dapat mengeluarkan hormon stress akibat patah hati yaitu endorphin leucine-enkaphalin.
2.       Menulis.
Tulislah semua kejadian yang membuat Anda patah hati. Tentang perasaan sakit dan kehilangan. Menulis dapat menyembuhkan, karena dengan menulis kita dapat mengelurkan emosi kita. Anda juga dapat membuat daftar tentang kesalahan dan kenangan menyakitkan saat bersama si dia, hal ini dapat membuat anda berpikir ulang untuk kembali pada si dia.
3.       Menyibukkan diri.
Temukan kesibukan baru, misalnya dengan mengikuti kursus memasak, menjahit atau menekuni hobi Anda yang dapat meningkatkan kualitas diri. Dengan menyibukkan diri, anda tidak akan terfokus pada masalah. Anda tidak akan punya waktu untuk mengingat-ingat si dia, yang akhirnya membuat Anda merasa lebih baik.
4.       Membuka diri.
Membuka diri bukan berarti menyegerakan punya pacar atau gebetan sebagai ganti dari mantan Anda. Tetapi dalam hal ini membuka diri adalah menerima kedatangan orang baru dalam kehidupan Anda. Jika selama bersama si mantan, Anda terlalu fokus kepadanya, inilah saat Anda membuka diri untuk orang lain dan tidak membandingkannya dengan mantan.
So, jangan takut dengan patah hati,karena patah hati bukanlah akhir dari perjalanan.  Selalu ada jalan untuk jatuh hati lagi dan bangkit. And lets move on.


Jumat, 05 September 2014

Zangrandi Rhapsody.


"Aku tak suka es krim." kataku bersungut-sungut, pipiku menggelembung saat Lie menggandengku masuk ke Cafe ini. Lie hanya tersenyum, lalu menyuruhku duduk di kursi rotan yang berjejer di teras Cafe ini. Aku masih berdiri, tak menuruti permintaan Lie untuk duduk.
"Meme sayang, ayolah." Katanya, lalu menarik lenganku agar aku mau duduk di kursi yang ia pilih. Akhirnya aku luluh juga, dengan menghentakkan tubuhku aku duduk di kursi rotan itu. Lie tersenyum, dan aku masih tetap mengelembungkan pipiku.
Seorang pramusaji menghampiri kami, ia menyodorkan dua buku menu ke arah kami. "Mau langsung pesan atau masih menunggu?" 
"Nanti saja, kami pilih-pilih menu dulu ya."Ucap Lie, Sang pramusaji mengangguk takzim, lalu meninggalkan kami. Lie sibuk menyusuri buku menu, sementara aku hanya membolak-balik deretan nama es krim itu. 
"Aku gak tertarik." kataku, sambil meletakkan buku menu itu sekenanya. Lie menatapku, "Coba yang Tutti Fruiti saja ya? Rasanya gak enek kok." Bujuk Lie.
Aku menggeleng.
Lie menghela nafas,"Zangrandi Pie saja bagaimana? biar nanti aku yang makan es krimnya dan kamu dapat menikmati pie nya?" 
"Terserah deh."
Lie melambaikan tangannya, pramusaji yang tadi memberikan buku menu menghampiri kami. 
"Satu Noodle Ice Cream, Satu Zangrandi Pie dan satu paket senyum untuk pacar saya ya. Dia lagi ngambek." Kelekar Lie. Pramusaji tertawa, lalu mengulangi pesanan Lie.
Aku mencubit  lengannya gemas. Lie masih saja tertawa.
"Kenapa sih gak suka es krim? Enak lagi Me."
"Gak suka ya gak suka Ko, Koko juga aneh cowok kok suka sama es krim." Gerutuku.
"Hehehe, sama  seperti aku tak pernah memiliki alasan untuk menyayangimu."
Mukaku memerah.
"Gak usah ngegombal deh." kilahku.
Lie tertawa.
Pesanan Lie datang, Pramusaji meletakkan pesanan Lie di meja kami. Lie menyodorkan satu porsi es cream yang disajikan di atas waffle ke arahku.
"Dicoba dulu. Percaya deh sama aku, enak kok." Ucap Lie menyakinkan.
Aku menggeleng, "Gak mau."
Lie menyerah. Aku menenggelamkan badan ke kursi rotan itu. Sementara Lie menarik Noodle Ice Cream pesananya. Menikmati es krim pesanannya, sementara aku hanya melihatnya dibalik gangetku.
Tak sampai sepuluh menit es krim Lie habis. Ia mengusap mulutnya dengan tisue. "Udah? balik yuk." ajakku.
"Belum dong, kamu kan belum mencoba es krimnya." Ucapa Lie.
"Udah dong maksanya." Aku makin cemberut.
Lie tertawa, "Kamu tahu Me, kalau ngambek kamu itu makin ngegemesin. Kadang aku gak habis pikir bagaimana aku jatuh cinta padamu."
"Tau.."
Lie mengambil Zangrandi Pie, lalu mengambil satu sendok lalu menyodorkan ke arahku. "Ayolah sayang."
Aku memandang Lie kemudian ke Zangrandi Pie bergantian.
Aku menyerah, akhirnya menerima suapan Lie. Es krimnya lumer dimulutku, sampai aku menyadari ada benda aneh yang bercampur di es krim yang aku telan.
"Ko..." Kataku kaget saat memuntahkan benda yang tercampur di es krim tadi.
Lie tersenyum.
"Will you merry me?"
Lie mengambil cincin itu dari tanganku, Ia mengusap cincin itu lalu menarik tanganku. Aku masih terkejut dan tak percaya Lie melamarku.
Aku tersenyum.
"I will."



Dedicated to :
Mbak Fin yang menemani #KentjanSurabaya dan mendengar konsep cerpen ini.


Selasa, 19 Agustus 2014

(N)ever Ending Love

Empat bulan yang lalu, saya mempunyai pikiran bahwa saya akan mati. Patah hati, ternyata bukanlah akhir dari kehidupan saya. Hingga hari ini saya masih hidup, masih bisa tertawa, masih bisa menjalani kehidupan normal meski status saya berupah menjadi cewek single alias jomlo XD
Tak memiliki pacar bukan berarti kehidupan saya berakhir bukan? Meski banyak yang mempertanyakan mengapa saya mengakhiri hubungan ini. Entah tak sedikit yang akhirnya bersorak, entah bahagia atau akhirnya keinginanannya terwujud. Melihat saya gagal :D
Saya sempat merutuki semua ini, menangis setiap hari hingga saya sadar menangis tak akan membuat semua menjadi sesuai keinginan saya. Iya, pilihan ini tak pernah mudah untuk saya.
Saya masih suka stalking di semua akun socmed mantan, meski berakhir dengan sakit hati karena si mantan cepat sekali move on nya dan tidak segalau dan selebay saya waktu awal putus. Iya, dia tak merasa kehilangan saya. Kabar bahagia bukan?
Menyadari ia telah berlalu sementara saya dengan setengah mati berusaha melupa. Sampai melakukan perjalanan absurd biar hilang kegilaan saya pasca putus. Ternyata saya salah, semakin memaksa lupa ia semakin gencar muncul dalam ingatan saya. Ia, seperti candu.
Hingga pada satu postingan di salah satu akun socmednya saya menyadari satu hal, dia telah berlalu. Ia sudah menghapus saya dalam kehidupannya. Ia telah memilih wanitanya. Sedih? Saya sempat menangis, bukan karena saya menyesali mengapa ia secepat itu melupakan saya. Tapi saya menyesal mengapa saya terlambat menyadarinya. Seandainya saya lebih peka, mungkin penyesalan ini tak akan pernah ada. Mungkin saya tak perlu menangis seharian merutuki satu baris kalimat yang tak genap seratus empat puluh kata itu, Ia yang begitu kecewa dengan saya.

Sekarang setelah empat bulan berlalu, saya ingin kembali menyapanya. Bukan untuk berbasa-basi atau memintanya untuk kembali, tapi saya ingin memintanya untuk berteman lagi bersama saya. Iya, saya dan dia sebelum mencinta adalah sepasang manusia yang tertaut dalam ikatan pertemanan.


Hei, kamu kapan kita berteman lagi?



Minggu, 29 Juni 2014

Jatuh cinta itu (?)

Waktu menulis postingan ini saya baru saja melepas kepergian seorang teman untuk bertemu pacarnya (MELEPAS). Yeah, si teman seorang cewek paruh baya yang sempat menjadi barisan terdepan untuk menolak saya lanjut dengan pacar yang berakhir mantan (stop curhatnya).
Iya, setiap minggu sang teman bertemu pacarnya, setelah sekian minggu saya akhirnya bertanya. "Loh, gak dijemput lagi?" 
Si teman hanya menggeleng, "Kalau menuruti rewel minta di jemput gak bakalan ketemu. Iya kalau pacaran jaman dulu, nunggu di jemput."
Saya hanya manggut, mungkin si teman membatin, nih bocah riwil banget sih. Sudah jomblo jangan banyak protes sama orang yang mau pergi pacaran. Okay, fine *nenggak kolak*
Mungkin topik, orang pacaran, jatuh cinta, lagi sayang-sayangan, lagi prepare mau menikah adalah topik sensitif buat saya akhir-akhir ini. Iya, patah hati membuat saya sedikit rapuh jika bersinggungan dengan hal ini. 
Balik ke topik...
Saya jadi ingat kejadian awal saya pacaran dengan mantan, saat tahu saya jadian dengannya sang teman menolak mentah-mentah. Alasannya? karena sang mantan tidak pernah menjemput atau berkunjung di Pasuruan. Sekedar mengatakan hai kepada saya, dan sang teman tidak ikhlas jika ia (mantan) mendapat tempat yang istimewa.
Sampai akhirnya kami memutuskan berpisah pun, ia tak pernah mengunjungi kota tempat saya berada. Kota sehari-hari saya berkutat dengan pekerjaan. Saya tiap weeknd yang memilih untuk berkunjung ke kotanya. 
Mungkin teman saya tak pernah tahu, alasan saya menempuh jarak untuk bertemu dengan pacar adalah sama dengannya. Cinta.
Mungkin teman saya juga tak pernah mau tahu, bahwa apa yang ia lakukan sekarang pun karena cinta. Ah, biar saja ia tak tahu. Biarkan ia tetap dengan penilainnya, bahwa apa yang saya perjuangkan adalah hal bodoh.
Saya dan teman mungkin dibilang sama, tapi saya mungkin akan berbeda. Saya tak akan pernah menganggap bodoh jika ada seorang wanita mengunjungi pria yang dicintainya.

Selamat malam, selamat jatuh cinta teman.


Pasuruan, 29 Juni 2014.

Senin, 23 Juni 2014

Break Up.

Fase paling nelangsa dari jatuh cinta adalah patah hati. Putus saat masih cinta-cintanya, berhenti untuk tak peduli disaat sayang-sayangnya. Membiasakan diri untuk tak bertukar kabar, padahal memberi tahu keadaan masing-masing adalah rutinitas. Berubah menjadi asing. Lover to be stranger.
Dan dari cerita manis yang sering menghiasi hari-hari, berubah menjadi sepi. Yeah, I am Break Up. Awal putus, betapa sepi hidup ini. Berusaha nampak baik-baik saja malah semakin membuat saya semakin kacau, semakin kehilangan arah.
Saat memutuskan untuk berpisah, saya lupa berapa liter air mata yang saya tumpahkan waktu itu. Entah, menangisi apa. Tapi bagi saya, setelah sekian tahun bersama dan akhirnya memutuskan untuk berhenti itu ngilunya luar biasa.
Apa yang bisa saya lakukan untuk lupa?
Saya melakukan perjalanan ala #Traveloveing berharap ketika saya pulang saya dapat kembali biasa saja. Berharap saya dapat melupakan semua kenangan saat bersamanya. Nyatanya? NOL.
Justru saat saya melakukan perjalanan, ingatan tentangnya semakin kuat. Dan yang paling absurd adalah saat menyadari kantong belanja saya tiba-tiba ada kaos warna merah untuk cowok. Sebegitunya kah?
Saya selalu berharap dia menuliskan sesuatu di akun social medianya, ya setidaknya saya akan tahu dia baik-baik saja tanpa perlu bertanya padanya. Ya, kami masih berteman di Twitter dan Path. Tak ada satu pun keinginan saya untuk unfollow maupun unshare dia di Path. Saya masih ingin mengetahui kabarnya, meskipun ia tak lagi ingin mengetahui bagaimana keadaan saya. Mungkin ia tak peduli, tapi biarkan saya tetap peduli.
Malam ini tanpa sengaja saya membaca postingannya di Path. Saya tahu dia sedang dekat dengan yang lain. Ah, sudahlah bukankah saya sudah berjanji akan tetap baik-baik saja di saat ia memutuskan untuk lebih dulu berlalu. Bukankah perpisahan ini saya pun sepakat?
Jika Tuhan memilih kita untuk berakhir kurasa Ia telah menemukan waktu yang tepat untuk mempertemukan kamu dan takdirmu. Wanita, yang tak lagi meragu.


Kamu,
Terima kasih untuk semua senyum yang kau cipta.
Terima kasih untuk semua rindu yang kau tabahkan.
Terima kasih untuk semua kesabaranmu.

Maaf, aku tak menepati janji untuk tetap bersamamu.

Pasuruan, 23 Juni 2014.

Rabu, 11 Juni 2014

Kentjan Surabaya ~ Bagian Satu

Hati patah kaki melangkah ~ Traveloveing.

Jadi kemarin tanggal 8 juni 2014 kesampaian juga melakukan ritual kentjan seperti yang sering Mput dan Bella lakukan. Kalau duo teman maya saya ini memakai tagline #kentjanjakarta maka saya memakai tagline #kentajnsurabaya \o/

Cak Durasim - Pusat budaya di Surabaya, tujuan terakhir dari Tour Surabaya Heritage Track.

#Kentjansurabaya edisi perdana kali ini adalah berkunjung ke House of Sampoerna. Museum yang terletak di Jalan Taman Sampoerna 6, Surabaya. Ada apa disana? selain spot yang kece buat narsis, Surabaya Herritage Track adalah alasan utama saya berkunjung ke Museum ini.
House of Sampoerna selanjutnya akan saya sebut HoS adalah Traveller's Choice 2013 oleh TripAdvisor. Jujur saja, saya benar-benar terkesima (halah bahasanya) dengan pengelolaan HoS ini. Bagaimana tidak, semua fasilitas yang ada di HoS diberikan secara gratis kepada semua pengunjung HoS. Museum yang buka setiap hari pukul 09.00 sampai dengan 22.00 wib.
Fasilitas yang banyak diminati oleh pengunjung Hos adalah Surabaya Herritage Track, untuk menikmati Bus Wisata ini bisa memesan tiketnya via telpon atau bisa juga on the spot. Surabaya Herritage Track (SHT) dibagi tiga bagian.

1. Exploring Surabaya 
  (Balai Pemuda - Balai Kota - Ex. De Javasche Bank) 09.00-10.302. Surabaya - The Heroes City 
   (Tugu Pahlawan - GNI - PTPN XI)                   13.00-14.303. Babad Surabaya
  (Kampung Kraton - Balai Kota - Cak Durasim)        15.00-16.30

Balai Kota - Tujuan kedua Babad Surabaya.


Kemarin kebetulan saya mendapat tiket yang Babad Surabaya, padahal sudah ngebet yang The Heroes City :( sambil menunggu SHT melaju saya menikmati setiap sudut HoS. Banyak spot kece untuk foto, karena saya datangnya pas weekend maka tidak mendapat kesempatan untuk melihat pegawai Sampoerna yang melinting rokok. Selain itu, waktu #kentjansurabaya kemarin kebetulan ada pameran lukisan di Art Gallery HoS.
Serunya berkunjung di HoS adalah pengunjung akan mendapat penjelasan dari penjaga museum tentang awal mula Museum dan silsilah dari Keluarga Sampoerna. Di dalam bangunan yang berdiri sejak tahun 1893 terdapat beberapa koleksi lukisan, meja dan perabot dari Keluarga Sampoerna. Kolam ikan yang berada di tengah ruangan menjadikan suasana Museum tenang. Pada sisi dalam Museum terdapat koleksi mesin printing tua yang digunakan untuk mencetak pada bungkus rokok, selain itu ada beberapa koleksi kemasan rokok. Ada juga koleksi seragam Marching Band Sampoerna, di lantai dua ada Gallery Shop yang menjual marchendise dari HoS.
Selamat datang di House of Sampoerna

Surabaya Heritage Track, Bus yang mengajak saya keliling kota Surabaya :D


Yuk, lanjut ke #kentjanSurabaya selanjutnya.

Selanjutnya :

1. Balai Pemuda
2. Monumen Kapal Selam
3. Zangrandi


*bersambung.



Senin, 19 Mei 2014

Jika Saja.

Tak ada yang kebetulan? Saya adalah termasuk manusia yang paling kuekeh dengan yang namanya takdir. Sampai pada satu titik saya pun menangisi apa yang Tuhan takdirkan untuk saya, iya apalagi kalau bukan perkara kehilangan. Entah, sampai saya menulis ini saya masih bertanya-tanya apa maksud Tuhan mempertemukan saya bersama dia. Meski sampai akhir pertemuan kami tetap menyebut kita.
Jika sajaTuhan tak pernah menautkan takdir pada kami berdua, apakah saya mampu memaknai kehilangan ini?
Jika saja Tuhan tak pernah menjatuhkan hati kami pada rasa yang sama, apakah saya mampu memaknai apa itu cinta yang sebenarnya?
Jika saja....
Boleh saya katakan, kamu adalah jika yang spesial buat saya. Sampai kapan pun.


You'll my favorite if :)


Dedicated to my Mr. A


Pasuruan, 19 Mei 2014.

Senin, 31 Maret 2014

(Akhir) Maret.

Hari ini dia berjanji untuk mewujudkan mimpi yang selama ini menguap di dinding dan udara tempat kita mengadu rindu --
Aku sedang memutar-mutar kotak persegi berwarna merah maroon itu malam ini, katamu warna yang menandakan adanya diriku. Kamu tahu, hari ini adalah penghujung Maret yang dua minggu lalu kau katakan adalah hari dimana segala keraguan tentang apa yang kita sebut cinta akan berakhir. Katamu, hari ini adalah bukti tak ada yang sia-sia dari sebuah cinta.
Seharusnya kamu tahu, aku telah banyak belajar dari segala hal dan bentuk kehilangan itu. Seharusnya kamu pun tahu betapa lelahnya aku mencari pembenaran atas kata cinta. Saat Tuhan memilih kita untuk bertemu pada satu lintasan takdir, aku tahu Tuhan menjawab segala doaku. Kamu.
Dan kini, ketika semua berbeda kamu yang tiba-tiba pergi menyadarkanku satu hal. Mungkin benar, yang menjadi jodoh kita bukanlah orang yang benar-benar kita cintai. Karena kamu pun tahu, kamu pergi saat tepat aku jatuh cinta padamu, tepat saat aku memutuskan untuk berhenti melihat masa lalu. Dan lagi-lagi Tuhan bercanda denganku, kamu pergi.
Dua kali Tuhan bercanda begitu terlalu padaku.
Dear My Iced Coffee, aku tahu menangis tak akan membawa kembali hidup. Tapi aku mohon, untuk malam ini saja biarkan aku bermain-main dengan segala kenangan tentangmu. 
Hari ini seharusnya cincin itu kau lingkarkan di jari manisku. Hei, My Iced Coffee till the end You'll my favorite what if.

Dedicated to My Iced Coffee
Adrian, 08-10-1984 sd 19-03-2014.

Minggu, 23 Maret 2014

Pindah.

Seminggu ini saya sibuk mengepak semua barang-barang yang di kos, dan tadi baru menyadari ternyata barang-barang saya (cukup) banyak. Semalam, sepulang kantor saya ngobrol bersama Mbak Murti tentang masalah pindah dan banyaknya barang yang harus diangkut esok hari. Kardus dan tas yang sesak berjejer di ruang tengah. Pindah, akhirnya setelah tiga tahun tinggal di Nusantara kami memutuskan untuk pindah. Tempat yang kami sebut rumahnya Bidadari \o/
Malam ini saya memandang kamar kos, kosong. Iya, semua barang sudah diangkut tadi pagi seharian saya bersama Mbak Murti sibuk menata semua barang-barang di sana agar nyaman untuk kami tinggali nanti. 
Nyaman? ah, saya jadi ingat dengan hati saya. Mungkin benar saya harus pergi dan 'pindah' dari hati yang lama karena ia terlalu sempit sehingga membuat saya susah untuk bernafas? Atau saya tak lagi nyaman. Banyak alasan untuk pembenaran atas pindah. Sempit, tak lagi nyaman, sesak dan tak lagi cocok. Sesederhana itu, mungkin saya sudah lupa tentang segala remeh temeh yang sempat saya pertahankan. Sudah jengah dengan segala teori, bahwa tak ada yang sia-sia. Dan berjuang haruslah sampai akhir. Pembelaan atas teori-teori, dan juga membohongi keinginan hati.Jika detik ini saya menyerah anggap saja saya kalah, dan semoga semua akan bahagia pada akhirnya.
Anggap saja akan sesederhana itu. 

Jadi pindah yuk :)

Jumat, 21 Maret 2014

Jalan-jalan yuk !!

Selamat malam, kali ini saya mau share beberapa spot favorite saya. Check it out;
1. Pantai Pasir Panjang, Malang Selatan.

Orang-orang biasa menyebutnya Ngliyep, ombaknya dahsyat dan pasir putihnya daya tarik tersendiri buat menikmati suasana pantai ini.
2. Kebun Raya Purwodadi, Purwodadi - Pasuruan.
Cukup bayar tiket Rp. 4.000,- mata puas keliling liat yang ijo-ijo. Gelar tikar lalu piknik hore juga gak kalah seru. Biasanya saya kesini tiap Minggu pagi, banyak spot buat narsis yang kece \o/ Sekedar saran mending makanan dan minuman bawa dari rumah. Lebih hemat :D
3. Tanjung Papuma, Jember.
Pasir putih, ombak tidak terlalu keras, air yang jernih dan pemandangan yang luar biasa indahnya. yup, Tanjung Papuma. Selain pantainya yang bagus, ikan bakar yang dijual disekitar pantai yummy banget. Cobain saja Lobsternya yakin deh bakal ingin mencoba lagi dan lagi.

Wuhuuu...itu tadi tempat favorite saya \o/ piknik yuk :p


Kamis, 20 Maret 2014

Iced Coffee Story.


Dear My Iced Coffee.
Selamat malam, detik ini tepat dua puluh empat kamu memeluk bumi. Mengapa secepat ini kamu meninggalkanku?
Rasanya baru kemarin kita bicara banyak hal tentang impian sederhana kita, tentang banyak hal yang akan kita lakukan saat jarak tak lagi membatasi kita. Mengapa kamu secepat ini meninggalkanku?
Rasanya baru kemarin kamu mengacak rambutku, dan berkata semua akan baik-baik saja. Bahwa tak akan lagi ada  air mata setelah ini. Setelah aku dan kamu tiada, yang ada hanya kita. Rasanya baru kemarin aku melepaskan tautan tanganmu saat mengantarkanku pulang, kamu tahu aku tak pernah merasa seberat ini meninggalkanmu.
Kamu, sebulan ini aku begitu manja padamu.
Kamu, sebulan ini yang begitu manis padaku.
Aku tak tahu mengapa kamu meninggalkan aku secepat ini, saat kita telah sepakat untuk bersama. Saat kita sepakat akan membagi semua keluh bersama. Saat semesta berpesta merayakan kebahagian kita. Mengapa Tuhan begitu tega mengambilmu dari sisiku secepat ini?
Saat cintaku menggebu padamu.
Saat rinduku gemuruh padamu.
Apakah aku tak boleh bahagia bersamamu? My Iced Coffee kesayanganku, aku kangen kamu. Bisakah kamu tak meninggalkanku secepat ini?
My Iced Coffee, you’ll always my favorite what if.

~D