Senin, 23 Juni 2014

Break Up.

Fase paling nelangsa dari jatuh cinta adalah patah hati. Putus saat masih cinta-cintanya, berhenti untuk tak peduli disaat sayang-sayangnya. Membiasakan diri untuk tak bertukar kabar, padahal memberi tahu keadaan masing-masing adalah rutinitas. Berubah menjadi asing. Lover to be stranger.
Dan dari cerita manis yang sering menghiasi hari-hari, berubah menjadi sepi. Yeah, I am Break Up. Awal putus, betapa sepi hidup ini. Berusaha nampak baik-baik saja malah semakin membuat saya semakin kacau, semakin kehilangan arah.
Saat memutuskan untuk berpisah, saya lupa berapa liter air mata yang saya tumpahkan waktu itu. Entah, menangisi apa. Tapi bagi saya, setelah sekian tahun bersama dan akhirnya memutuskan untuk berhenti itu ngilunya luar biasa.
Apa yang bisa saya lakukan untuk lupa?
Saya melakukan perjalanan ala #Traveloveing berharap ketika saya pulang saya dapat kembali biasa saja. Berharap saya dapat melupakan semua kenangan saat bersamanya. Nyatanya? NOL.
Justru saat saya melakukan perjalanan, ingatan tentangnya semakin kuat. Dan yang paling absurd adalah saat menyadari kantong belanja saya tiba-tiba ada kaos warna merah untuk cowok. Sebegitunya kah?
Saya selalu berharap dia menuliskan sesuatu di akun social medianya, ya setidaknya saya akan tahu dia baik-baik saja tanpa perlu bertanya padanya. Ya, kami masih berteman di Twitter dan Path. Tak ada satu pun keinginan saya untuk unfollow maupun unshare dia di Path. Saya masih ingin mengetahui kabarnya, meskipun ia tak lagi ingin mengetahui bagaimana keadaan saya. Mungkin ia tak peduli, tapi biarkan saya tetap peduli.
Malam ini tanpa sengaja saya membaca postingannya di Path. Saya tahu dia sedang dekat dengan yang lain. Ah, sudahlah bukankah saya sudah berjanji akan tetap baik-baik saja di saat ia memutuskan untuk lebih dulu berlalu. Bukankah perpisahan ini saya pun sepakat?
Jika Tuhan memilih kita untuk berakhir kurasa Ia telah menemukan waktu yang tepat untuk mempertemukan kamu dan takdirmu. Wanita, yang tak lagi meragu.


Kamu,
Terima kasih untuk semua senyum yang kau cipta.
Terima kasih untuk semua rindu yang kau tabahkan.
Terima kasih untuk semua kesabaranmu.

Maaf, aku tak menepati janji untuk tetap bersamamu.

Pasuruan, 23 Juni 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar