Minggu, 27 Oktober 2013

(last) Memories.




Memories just memories @perihujan_


 “Apa kabar?”
Aku menemukan satu pesan offline di messengerku. Pesan darimu, ragu aku membalasnya. Antara gengsi dan niat untuk sekedar memberitahu bahwa aku baik-baik saja, meski tanpamu.
Tapi gengsiku terlalu tinggi, dan aku memilih untuk menghapus pesan darimu.
Kamu, biarkan aku lupa.
Malang hari ini mendung, mungkin saja hujan akan segera turun. Seminggu ini hujan setia membasuh Malang yang kian pengap. Sepertinya ia tahu, aku perlu banyak hujan agar ngiluku segera menghilang.
Aku mengaduk choco perfaitku.
Masih teringat sehari setelah kita memutuskan berpisah, apa kita? Kurasa ini hanya keinginanku saja. Aku yang lelah dengan jarak yang semakin lama semakin jauh. Malam itu kamu berkali-kali mengatakan hal yang sama, mengapa? Ah, iya mengapa kita yang selalu tampak baik-baik saja harus berpisah, mengapa kita yang selalu menabahkan jarak dengan doa akhirnya menyerah? Dan entah berapa mengapa lagi yang kau utarakan. Tetapi malam itu aku tetap memilih untuk berhenti. Aku lelah, itu saja.
Aku melihat dari sisi jendela tempat aku menikmati Choco Perfaitku, ada dua orang yang tengah duduk berhadapan. Sang wanita duduk menekuri handphonenya, sementara sang pria duduk dengan tenang menikmati muffin dari piring sang wanita. Ah, betapa kita dulu sering melakukan hal itu? Duduk berdua dalam diam. Aku yang bersandar di bahumu dengan manja, sambil memainkan permainan dari gangetmu. Dan kamu dengan santainya duduk dan memakan apa saja yang ada di meja, dan sesekali tanganmu mengelus rambutku.
Sepulang kerja sering kali kudapati kamu telah berada di depan kantorku,  membawa satu tangkai mawar merah. Tertawa lebar, dan aku akan segera menghambur ke arahmu. Dan kita akan mengelilingi Kota Malang, menikmati macetnya tak peduli lelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Dan aku tak pernah melihatmu tampak lelah dengan jarak yang kamu tempuh dari Surabaya ke Malang meski kita hanya bertemu sejenak.
Iya, dulu sebelum Malang dan Surabaya berubah begitu sangat jauh. Dan entah sejak kapan Malang menjadi sangat jauh dengan Surabaya, begitu juga sebaliknya. Sebelum kita berubah begitu sibuk.
Sampai akhirnya aku menyadari, bahwa prioritas kita telah berubah.
Malam itu, kamu yang masih memakai kemeja lengkap berdiri di depan pintu gerbang kosku. Aku tahu kamu lelah, wajahmu kusut. Aku pun tahu, setelah telpon yang hanya diiringi tangis itu kamu segera meluncur ke Malang untuk menemuiku. Ingin mengetahui jawab atas pertanyaan mengapamu.
Aku yang tak juga lebih baik darimu, berdiri di balik pintu gerbang. Sisa tangisku masih jelas, suaraku tak kalah paraunya.
“Maaf.”
Dan aku samar mendengarmu berbisik, “Tapi D.”
Aku tetap berlalu darinya, tanpa menoleh. Tak memberi kesempatan untuknya bertanya tentang alasan mengapa aku memutuskan berhenti.
Dan semalam suntuk aku menangis, entah apa yang kusesali yang kuketahui ada yang hilang sejak malam itu. Kamu.
Aku kembali mengaduk Choco Perfaitku.
Terkadang kita tak benar-benar bahagia dengan apa yang menjadi pilihan kita. Bisa jadi yang tinggal dan menetap di hatimu bukanlah pilihan hatimu. Karena hati bukan memilih tapi dipilih.
“Hei, melamun saja. Ngelamunin mantan ya?”
Aku tersenyum, lalu mengusap punggung tangannya.
Dia setelah Kamu. Dia yang akhirnya menjadi tempatku berhenti.

Malang, 27 Oktober 2013.


Foto ambil di Memories

Jumat, 25 Oktober 2013

Berkata TIDAK.

TIDAK!!! seandainya saya begitu mudah mengatakan penolakan itu, seandainya saya semudah seperti menuliskannya saat saya harus mengucapkannya.
Saya orangnya lebih 'mendem jero' lebih memilih menyakiti perasaan saya ketimbang, melihat rasa kecewa orang terdekat saya. Lebih baik berkata gak papa meski ada apa-apa. Terkadang capek juga menjalani hal-hal yang sama sekali bukan menjadi keinginan saya, menolak hal-hal yang bukan saya inginkan. Mengatakan kepada semuanya bahwa saya sedang tidak baik.
Mungkin sikap saya ini tidak hanya membuat beberapa orang kecewa, tetapi termasuk Dia.

Jumat, 04 Oktober 2013

Rendezvous





Biarkan aku berbahagia dengan sendiriku, meski aku tahu bersamamu aku akan jauh lebih baik -- @perihujan_

Aku meletakkan segelas Iced coffee dan French fries di meja paling pojok di warung laba ini. Meja yang berada di dekat kaca lantai dua, tempat yang aku pilih untuk melihat riuhnya Malang pada malam hari. Seperti malam ini, dan malam sebelumnya. Ketika aku membutuhkan sendiri.
Aku mengaduk Iced coffeeku, dan meraih hanphoneku lalu membuka aplikasi foursquare untuk check in.
‘I am at MCD Kayutangan, Malang – East Java’
Kebiasaan yang selalu aku lakukan ketika aku berkunjung di suatu tempat. Tak peduli, meski tak akan ada satu pun yang peduli aku berada di mana.
Aku membuka akun twitterku, beberapa akun menghiasi lini masaku. Salah satunya kamu.
Aku membuka akun twittermu dan memulai menjadi stalker, kegiatan yang tanpa kusadari menjadi rutinitas sejak dua bulan ini. Sejak kamu menjadi rutinitasku. Seperti yang sering kali kukatakan padamu, tak ingin tahu bukan tak peduli yang tak bertanya pun bukan karena tak ingin tahu Ia hanya ingin memenangkan ego.
Ada notifikasi pesan masuk dari handphoneku. Aku tersenyum, itu kamu.
“Sedang apa D?”
Pertanyaan standar, dan mungkin saja basa-basi. Tapi aku selalu menunggu, basa-basi itu. Meski kelewat basi, aku tahu ada lega setiap kamu ingin tahu tentang kabarku, tentang apa yang aku lakukan.
“Lagi mojok di sudut favorite.” Balasku
Ia membalas dengan emot senyum. Dan berlanjutlah obrolan tak penting, khayalan yang mungkin akan selamanya hanya menjadi mimpi. Sayangnya, semakin hari hal ini sering membuatku merindukanmu dengan terlalu.
Aku kembali mengaduk Iced Coffeeku, tinggal setengah dan French friesku hampir habis. Aku kembali membuka aku twitterku, menjelajah lini masa. Teringat awal mengenalmu, hampir setahun lebih kamu hanya menyamber semua twitku. Dan di Februari yang gerimis aku memutuskan untuk mengklik tombol follow di akunmu.
“Hai, terima kasih sudah follow balik twitterku.” Mention yang kubaca disela aku menunggu angkot yang akan mengantarku pulang ke kos pada malam yang gerimis itu.
Kita, hanya berbalas mention saling meledek di antara riuhnya linimasa. Hingga sebuah DM mucul di pertengahan Maret di tahun pertama kita berteman di dunia 140 karakter ini.
“Bagi nomor Whatsapp atau line dong.”
Kamu tahu sejak saat itu banyak kupu-kupu yang terbang di perutku kala menemukan satu pesan darimu.
Dan malam ini, aku kembali tertawa membalas semua pesan yang kamu kirim di Whatsapp. Tak sabar menunggu balasanmu. Tak mempedulikan pandangan heran pengunjung Mc Donald malam ini.
Aku tak pernah merasa sendiri jika ada kamu.
Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Sudah tiga jam lebih aku duduk di pojok favorite ini. Menyesapi Iced Coffee dan berbincang apa saja bersamamu. Kamu, selalu membuat waktuku cepat berlalu. Mungkin benar bahagia sering membuat waktu berjalan cepat.
Aku merenggangkan badanku. Berdiam dan menekuni handphone ternyata membuat badanku kaku.
Aku kembali membuka akun twitter , hendak mengetik sebuah twit. Tangan berhenti ketika aku membaca twit darimu.
“Kamu”
Aku segera membuka twitpic kamu. Ada yang berdesir aneh, dadaku hampir meledak itu aku di pojok favorite. Aku menyusuri ruangan ini, dan menemukan laki-laki bertopi dengan kaca mata yang membingkai matanya duduk di seberang meja favoriteku.
Kamu.
“Dasar bodoh.” Kataku.
Dan aku melihat sebaris senyummu.
“Aku sudah di sini, sebelum kamu duduk di pojok favoritemu itu.” Tulismu di Whatsapp yang baru saja kuterima.
Jadi?


Pasuruan, 04 Oktober 2013.

Kamis, 03 Oktober 2013

Ketika (harus) lupa.

Beberapa hari ini dipaksa untuk lupa, tentang beberapa hal salah satunya tentang kamu. Kamu yang menumpuk di balik meja belajarku, di sela rak-rak bukuku, di antara agenda kegiatan. Kamu.
Beberapa hari ini dipaksa untuk terbiasa, tentang beberapa hal yaitu kesibukan.
'Tuhan sedang memintaku untuk sejenak menaruh semua hal tentangmu ditempat paling bawah.'
Agar aku tahu, melupakanmu mungkin akan menjadi biasa bagiku,
Agar aku tahu, merelakanmu untuk menjauh dariku menjadi hal mudah bagiku,
Agar aku tak terlalu sakit.

Tuhan begitu menyayangiku.

Selasa, 10 September 2013

Bapak(ku)

"Jika masih ada Bapak, mungkin semuanya akan lebih mudah."

Selamat malam pak, Ayu lagi kangen Bapak malam ini.
Bapak apa kabar? sudah lama tidak mendengar suara canggung Bapak saat menelpon Ayu. Menanyakan hal-hal biasa yang sering Ayu anggap sebagai kekhawatiran yang terlalu.
Ayu kangen pak,
Saat ini Ayu sedang sibuk menyelesaikan tugas akhir, ya semoga semester ini (benar-benar) menjadi semester terakhir Ayu. Bukankah Bapak selalu menanyakan ini.
Ayu kangen pak,
Setiap kali melihat tumpukan seragam kerja, kemeja yang tak terlipat rapi. Ayu selalu ingat kalimat yang selalu Bapak utarakan "Lihat, Bapak ini selalu rapi. Rapinya nomor satu." Dan selalu, Ayu akan berhu..hu..hu.. ria, Ayu selalu merindukan masa-masa itu.
Ayu kangen pak,
Kangen saat bertanya kapan Ayu pulang, sekedar memastikan bahwa semua baik.
Ayu kangen pak,
Selepas Bapak pergi, banyak yang berubah. Ketika semua orang berusaha memberikan senyum terbaik mereka, menenangkan, menabahkan. Ikhlas, kata mereka. Apa salah, jika Ayu bilang terlalu sebentar Ayu bersama Bapak.
Ayu kangen pak,
Rasanya baru kemarin Bapak mengantar Ayu kembali ke Pasuruan. Berkata dengan canggung, berpesan agar aku baik-baik saja di Pasuruan. Dan tentu saja agar aku segera menyelesaikan kuliah kali ini.
Ayu kangen pak,
Ayu ingin pulang, memeluk Bapak lebih lama lagi. Bisakah?


Kamis, 05 September 2013

Kotak Kenangan





Terkadang yang menjadi selamanya untuk kita bukanlah yang pertama, bisa jadi dia adalah yang mengisi kekosongan kita -- @perihujan_

Rinai membersihkan wajah cemong Arya, ia tertawa memamerkan sebaris gigi yang penuh dengan coklat yang melapisi choco cake yang dimakannya tadi.
“Arya, berhenti merepotkan Kak Rinai dong.” Haris, mengusap punggung Arya.
Arya malah cekikisan.
“Hahaha, Arya mirip Dika ya Kak? Tengilnya gak nahan.”
Haris mengangguk, mengiyakan.
“Kak, Arya maen kesana ya?” Arya menunjuk area bermain yang ada di cafe ini. Rinai dan Haris mengangguk, tak menunggu anak berumur lima tahun itu melesat meninggalkan mereka berdua.
Rinai mengaduk choco perfait nya. Hening.
“Hari ini kamu benar tidak ada acara kan Rin? Kami tidak sedang mengganggu kan?” Haris bertanya.
“Iya. Aku benar-benar tidak ada acara kok.” Rinai menyakinkan.
Rinai berbohong, tidak mungkin ia berkata pada Haris jika demi bertemu dengannya Ia mengingkari janjinya bersama Angga. Berbohong jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga membatalkan janji yang telah mereka rencanakan seminggu yang lalu.
“Arya bahagia sekali pergi bersama kamu kak?”
“Begitulah, ia seperti menemukan kembali Kak Harisnya yang lama. Kamu tahu sendiri sejak aku memutuskan menikah Arya kecewa sekali denganku. Mungkin dia tahu, kakaknya ini gak cinta-cinta amat sama calon istrinya. Hahaha.”
Rinai hanya nyengir, entah apa yang ada dipikiran laki-laki didepannya kini.
“Dan ketika aku tak lagi bersama Puput, Arya adalah orang yang paling berbahagia mendengarnya.”
“..meski aku berharap kamu pun demikian.” Tambahnya pelan.
Rinai, mengaduk perfaitnya lagi. Gugup.
Tak dipungkiri sewaktu mendengar Haris memutuskan menikah tiga tahun yang lalu ada yang meradang di hatinya. Meski sejak prosesi lamaran Haris selalu meminta pendapat kepada Rinai. Berulang kali menanyakan kepada Rinai, apakah ia baik-baik saja? Bahkan lima menit sebelum Haris menucap Akad ia tetap menghubungi Rinai, meminta pendapatnya. Rinai selalu menjawab tak mengapa, meski ada sembilu yang mengiris ulu hatinya. Perih.
Seandainya Rinai mempunyai nyali untuk berkata jangan, mungkin kegugupan ini tak akan pernah terjadi.
Dan mungkin saja jerit tangis Arya tak akan pernah menjadi drama di acara pernikahan Haris dan Puput. Semua orang disekitar mereka tahu, Arya itu ibarat reankarnasi Dika. Lelaki yang memenuhi pikiran Rinai sebelum Haris, lelaki yang tentu dengan ikhlas memilih Rinai berbahagia bersama Haris daripada dengan pria mana pun dimuka bumi ini.
“Rin..”
“Hmm..”
“Dapatkah kita kembali seperti dulu?”
Rinai mendongak, menatap lurus ke arah Haris. Kaget.
“Aku masih mencintaimu Rin.”
Rinai, kembali menenggelamkan tatapannya pada perfait yang kini sudah mencair. Ia tak ingin hatinya kembali luluh, lagi.
Mereka saling diam. Berbicara dalam diam adalah kebiasaan mereka, berusaha membaca pikiran masing-masing.
Sampai Arya menghampiri mereka, merajuk untuk meninggalkan arena permainan. Bosan.
Haris menggendong Arya, sementara Rinai berjalan di sebelahnya. Membawa balon yang didapat Arya waktu di arena permainan tadi. Mungkin orang yang melihat Rinai bersama Haris akan berpikir jika mereka adalah pasangan muda. Manis.
Tangan kiri Haris menggapai tangan Rinai saat mereka melintas menuju parkiran mobil. Rinai terkejut, tapi tetap membiarkan tangan Haris menggenggam tangannya. Rasa terlindungi itu masih ada. Dan ia tahu, wajahnya terasa panas. Ia tahu, rasa itu tak pernah berkurang sedkit pun.
Arya turun dari gendongan Haris, saat  mereka sampai di depan mobil Haris.
Rinai mendekati Arya, mengusap kepalanya. Arya tertawa, memamerkan giginya.
“Kak Rinai gak ikut pulang sama Arya ya? Nanti kalau main ke Malang lagi kabar-kabari Kak Rinai ya? Arya pulangnya sama Kak Haris saja.”
Arya mengerjap tak rela.
“Gak mau, Arya mau pulang sama Kak Rinai.”
“Arya..”panggil Haris.
Rinai tersenyum, berusaha tenang.
“Maaf.”
Haris meraih pundak Arya, menenangkan.
“Gak mau, Arya mau sama Kak Rinai.” Arya semakin berontak.
Haris berusaha menenangkan, memeluk Arya semakin erat. Meski hatinya juga luluh lantah, ini adalah penolakan Rinai. Arya pun tak mampu membuatnya kembali.
Rinai, berlalu tak dihiraukan teriakan histeris Arya. Dan pandangan penuh ingin tahu di areal parkir Mall Olympic Garden.
Rinai menjauh, dan ia tahu air matanya tak pernah membohongi semua. Ia menangis, karena ia tahu ada luka yang disembunyikannya. Ia masih mencintai Haris.
Tetapi takdir telah memilih Angga, untuk menemani sisa hidup Rinai.

Pasuruan, 05 September 2013

Pic: google.com

Minggu, 18 Agustus 2013

Fin





Pada Akhirnya.
Hari ini kita memutuskan untuk berhenti.
Berhenti mengatakan bahwa kita baik-baik saja.
Berhenti menyembunyikan tangis demi sebuah pengertian.
Berhenti menyimpan sesak demi sebuah kepura-puraan.
Berhenti untuk mempertahankan, apa yang harusnya diakhiri.
Berhenti untuk mencoba, bertahan pada hal yang sia-sia.
Agar sesak ini tak berubah menjadi luka.
Agar ngilu ini tak semakin membiru.
Maka, selayaknya kita berhenti.
Bukan demi sebuah alasan kedewasaan.
Bukan juga demi sebuah gengsi.
Mungkin aku menyerah,
mungkin juga kita terlalu lelah.
Dan,
Kurasa Tuhan paling mengerti, mengapa kita harus berhenti.
Bukankah Ia sebaik-baiknya pembuat rencana?
@perihujan_


Siang itu di sebuah coffe shop.
“Kita baik-baik saja kan?” Dia menunduk, entah apa yang ia cari. Aku merapatkan genggamanku, mengangguk.
“Percayalah, kita baik-baik saja” Aku meyakinkan.
“Ibu, Kak. Ibu tidak pernah menyetujui hubungan ini. sungguh ini tak mudah bagiku Kak.” katanya parau. Ia melepas genggamanku, menyusut air matanya. Aku tahu ini juga tak mudah bagiku. Baginya Ibu adalah segalanya.
Aku terlalu mencintainya.
Sejak awal Ia meminta untuk bertemu aku sudah menebak-nebak. Perasaanku tak nyaman satu bulan ini. Dia banyak menghindar, ternyata firasatku terbukti. Ia ingin berpisah.
Haruskah, kisah ini benar-benar diakhiri? Dua tahun kami bertahan. Dari jarak yang memisahkan, bersabar dengan pertemuan yang tidak pasti rutin dalam sebulan. Mengambil sela diantara kesibukan kami, demi menyesapi rindu yang meradang.
Haruskah semua berakhir?
“Kak..”panggilnya,
Aku menatapnya, binarnya meredup.
“Kumohon, lepaskan aku”
Sungguh ini tak mudah bagiku. Setahun lebih aku bersabar menjadi teman yang baik untuknya, hingga akhirnya kami memutuskan bersama. Menikmati hubungan teman jadi pacar ini. Yang kusesali ia tak pernah jujur jika selama ini Ia menyembunyikan hubungan ini dengan begitu rapi.
Kita yang baik-baik saja, hanya dari sudut pandangku.
Katamu, kamu berjuang sendiri untuk hubungan ini. Lalu aku kamu anggap apa? Sungguh pun ini tetap tak adil menurutku, mengapa Ia tak membiarkanku untuk ikut berjuang juga?
“Beri aku kesempatan.”
Ia tetap menggeleng.
Aku mengusap wajahku. Sebegitu burukkah aku?
“Anggap aku yang salah, anggap aku yang menginginkan ini. Benci aku semaumu kak, jika itu akan menjadikan mudah bagimu untuk melepaskanku.”
“Aku mencintaimu Dek, teramat sangat”
“Tapi Kakak juga harus tahu, karena aku mencintaimu maka ijinkan aku untuk mengakhiri semua ini.” Suaranya makin tercekat menahan tangis.
Drama apa lagi ini. Aku meraih tangannya, menggengaamnya erat.
“Kumohon Dek.”
Aku benar-benar tak ingin melepaskannya.
Tapi takdir telah memilih jalannya, Ia benar-benar pergi. Melepaskan genggamnya, memelukku sekilas dan berbisik pelan.
“Maafkan aku, kak.”

Pasuruan, 18 Agustus 2013

Pic : www.google.com