Selasa, 30 Desember 2014

Tentang 2014.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2014, kalau dirangkum dengan satu kata tahun 2014 adalah tentang keputusan. Ada tentang kepindahan dan juga hati.
Tahun ini saya memutuskan resign dari kantor lama, yang tentu saja berimbas pada keputusan saya untuk tidak lagi tinggal di Pasuruan. Awal September lalu saya resmi meninggalkan Pasuruan dan hijrah ke Malang. Rencana awal dari kepindahan saya ke Malang adalah ingin serius mengerjakan revisian tugas akhir yang entah kapan berakhirnya itu, dan iseng saya melamar di kantor baru ini. semesta mengamini, akhir September saya diterima di kantor saya yang sekarang. Dan lagi-lagi sebagai tukang jurnal, dan membuat laporan keuangan untuk perusahaan. Untuk kali ini saya beruntung diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana membuat laporan keuangan di perusahaan tambang.
Perpindahan saya ke Malang berimbas pada berat badan saya, makan yang teratur membuat pipi saya menjelma bakpao. Di kantor baru saya makan tepat waktu, istirahat cukup dan cemilan tak pernah absen dari meja kerja saya. Teman-teman baru membuat saya sedikit melupakan deretan sakit hati saya, dan luka karena patah hati.
Selain hal membahagiakan itu, di tahun 2014 ini pun saya memutuskan untuk berpisah dengan dia. Seseorang yang menemani saya selama dua tahun. Saya memutuskan untuk tak lagi bersama dengannya, alasan yang saya buat pun tak kalah klise; restu. Tak mudah bagi saya untuk bergerak melupakannya mengingat betapa saya pernah begitu keras untuk memperjuangkannya, agar dia dapat diterima dilingkungan saya. Kami berbeda, perbedaan yang saya pikir dapat saya pangkas hingga tak bersisa namun saya tak cukup tangguh. Akhirnya pun saya tumbang dan menyerah, di saat saya merasa telah dicintai.
Hari ini saya mengingat kembali awal tahun 2014, saya sempat berdoa agar di akhir tahun saya tetap bersama dia dengan sekat yang tak terlalu rapat. Doa itu terwujud, saya tinggal satu kota dengan dia tetapi hati kami tak pernah satu lagi. Dan ia pun menghilang, jika awal-awal kami berpisah saya masih melihat dia update di Path sekarang sama sekali tak ada kabar beritanya. Dia menghilang, atau sengaja menghilang? Entahlah, saya tak ingin berasumsi.
Saya tak ingin melupakannya, atau sengaja menghindarinya. Menutup akun socmed atau apa, saya tetap akan menjalani kehidupan saya; meskupun tanpa dia. Jika memang takdir masih mengijinkan saya untuk bertemu dengannya saya akan tetap menyapanya, tersenyum dan akan mengatakan bahwa saya bahagia. Tak perlu mengkhawatirkan apa-apa, bukankah perpisahan ini adalah kesepakatan kita?
Stranger to be friend to be lover, and to be stranger again.

Selamat Tahun Baru 2015.

Senin, 29 Desember 2014

Suatu siang di Solaria.

Sambil menunggu pemutaran Doraemon di jam satu, saya memutuskan menghabiskan waktu di Solaria yang berada di lantai dua Sun City. Satu Jus Alpukat,  Jus Sirsat, Ayam Mosarella dan Ayam Lada Hitam menemani kami berbincang. Tentang banyak hal, dan juga kemungkinan-kemungkinan. Tak lupa tentang hati.
“Kamu sudah melupakan dia?” tanyanya, sambil memotong Ayam Mosarellanya menjadi dua, dan potongan terbesarnya berpindah ke piringku. Selalu.
“Sudah.”
“Di Malang sudah pernah bertemu dengan dia? Atau mungkin kamu mencoba sengaja menemuinya.” tanyanya, lalu mengambil potongan paprika yang aku singkirkan dari piringku.
Aku menggeleng. “Tapi aku ingin bertemu dengannya.”
“Yakin? “
Aku mengangguk “Iya, aku ingin bertemu dengannya. Ingin memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Dan tentu saja, aku bahagia. Aku rasa dia perlu tahu akan itu.”
Dia tertawa, lalu meneguk Jus Alpukatnya. “Seyakin itu? Jika kamu tahu ada dia di sana, dan dia sedang berjalan dengan wanita lain apa yang akan kamu lakukan? Masih tetap ingin menemuinya, meski kamu sendirian waktu itu?”
Aku mengangguk cepat. “Iya, aku akan berjalan ke arahnya. Sengaja, agar ia dapat melihatku dan agar aku dapat memiliki kesempatan untuk menyapanya.”
Aku mengaduk Jus sirsatku.
“Sudah kubilang kan, aku ingin bertemu dengannya. Mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Dan aku harap dia memiliki pacar baru. Setidaknya, itu lebih baik. Daripada melihatnya nampak kacau, itu semakin membuatku sedih.”
Dia meraih tanganku, “Kamu masih mencintainya?”
Aku terkejut, hei apakah benar aku masih mencintainya? Aku melepaskan genggamannya, lalu melihat ke arah luar. Ada yang berputar-putar di otakku, sejauh aku memaksa pergi ia tak pernah benar-benar hilang dalam ingatanku.
“Jus Sirsatku kurang enak, gimana Jus Alpukatmu?” tanyaku, lalu menarik gelasnya ke arahku.
Aku mengaduknya dan berniat meminumnya.
“Jangan dipaksakan.” Katanya, lalu menarik sedotannya dan menggantinya dengan milikku.
“Terima kasih.” Ucapku gugup, lalu meminum Jus Alpukat itu.
“Ayo, Doraemonnya mau mulai nih.” Katanya, lalu menuntunku meninggalkan Solaria.
Siang itu aku menyadari satu hal, dia tak pernah memaksa aku untuk melupakan si mantan. Dia benar-benar tahu bahwa aku pun perlu proses. Aku tersenyum memandangi punggungnya yang berjalan di depanku.
Kamu tahu, aku akan mencoba.


Surabaya, 28 Desember 2014.