Jumat, 25 Desember 2015

Semua Memiliki Kesempatan untuk Kembali

Tahun 2015 hampir pada penghujungnya. Apa yang sudah saya capai? adalah pertanyaan yang kerap mampir dalam pikiran saya. Tahun ini banyak hal yang terjadi, selain sakit yang membuat aktifitas saya menjadi terbatasi adalah kedekatan saya bersama beberapa orang yang ingin saya abaikan kehadirannya di tahun lalu. Dan kembalinya, dia (baca mantan) menjadi teman bercerita, nonton atau membicarakan hal yang tidak penting lagi.

Kami mulai sering bertemu anggap saja seperti itu, jika satu bulan sekali kami masih menyempatkan untuk nonton itu dianggap sering. Mungkin hal itu bisa dibilang sering, untuk dua orang yang telah memutuskan berpisah. Atau hal itu biasa saja? Awalnya saya tidak percaya bisa kembali haha..hihihi, lagi dengannya. Mengingat sejak memutuskan berpisah dengannya dan saya memutuskan tinggal di kota Malang, saya tidak pernah sekalipun bertemu dengannya. Meski saya masih menyimpan semua kontaknya, saya masih terhubung di semua akun media sosialnya. Waktu itu saya hanya ingin satu kebetulan yang mempertemukan kami lagi. Tapi Tuhan, tidak pernah mengaminkan. Maka, bukanlah satu kebetulan saat saya dan dia bertemu. Kami memutuskan untuk bertemu. Canggung. Kami banyak diam pada pertemuan pertama kami, sibuk menikmati film yang diputar mungkin menjadi alasan yang tepat mengapa kami saling diam. Tanpa ada obrolan, basa-basi selesai pemutaran film. Kami memilih jalan sendiri-sendiri. Pulang, dengan tetap membawa pertanyaan yang sama. Bahagia kah dia? setelah perpisahan itu?

Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk bertemu kembali, kali ini dengan alasan yang sama. Kami tidak memiliki teman untuk nonton Avangers. Tuhan memiliki rencana, kami kehabisan tiket. Rencana Tuhan itulah yang menggiring kami untuk duduk di salah satu kursi waralaba milik Paman Sam, yang berada satu gedung dengan bioskop tempat kami ingin nonton.

Di tempat ini akhirnya saya bercerita setelah perpisahan itu, apa saja yang saya lakukan untuk 'membunuh ingatan', dan usaha saya untuk merasa baik-baik saja dan tentu saja tentang alasan saya kembali ke kota yang dulu sempat menjadi impian kami untuk tinggal bersama.

Dia pun bercerita, tentang usahanya untuk berdamai dengan banyak hal, berusaha untuk tidak membenci saya, dan tentu bagian yang saya sukai adalah mengetahui dia baik-baik saja ketika kami tidak lagi bersama. Saya bahagia saat dia bercerita tentang usahanya untuk dekat dengan beberapa wanita, yang ceritanya sempat saya baca di salah satu media sosialnya. Saya bahagia, mendengarnya baik-baik saja dari mulutnya sendiri bukan dari sosial medianya, atau dari orang lain. Dan itu cukup bagi saya. Meski akhirnya saya tahu, dia membenci dan kecewa terhadap saya. Iya, saya memang menyebalkan.

Ada kelegaan saat melepasnya kali ini. Tidak ada beban. Kami berpisah dengan senyum. Setelah pertemuan itu, saya tidak sungkan lagi bertanya kabar padanya. Berkomentar sedikit jahil, dan tidak ragu bersorak menyemangatinya dengan usaha barunya. Setiap ada film baru, kami kembali menjadi partner yang baik untuk nonton.

Kami kembali dengan hubungan yang baru. Bukan berharap hubungan ini berkembang menjadi seperti yang telah lalu. Tidak, bukankah semua memiliki kesempatan untuk kembali? dengan status yang berbeda tentunya.

Terima kasih kamu, telah memanggil saya teman dengan segala cerita kita di masa lalu.

Malang, 25 Desember 2015.

Selasa, 01 Desember 2015

Desember Awal yang Memulai



Dulu menulis di tempat ini adalah kegemaran. Setiap hari, bingung menyiapkan tulisan untuk diposting di rumah ini. Sampai akhirnya aku lupa kesenangan menulis di rumah ini. Awalnya masih sesekali menengok tempat ini, hingga akhirnya tidak sama sekali. Awalnya berdalih sibuk, aku tidak menulis di rumah ini. Aku pikir, toh siapa juga yang mau membaca tulisanku yang kadang tidak bisa membedakan di awalan atau di sebagai kata depan. Hehehe.
Sampai satu pesan di Tumblr beberapa hari lalu muncul. Dia bertanya tentang kelanjutan cerita 'Lie' dan "Ailya dan Melia"  ternyata dia menunggu kelanjutan cerita, yang aku buat beberapa tahun lalu itu. Dan akhirnya menyadarkanku, hey...ternyata ada juga yang baca blog aku ini. *mulai sombongnya*.
Seperti yang pernah ditulis @unidzalika beberapa waktu lalu, iya aku akan menulis, meski tidak ada yang membacanya.

By the way, selamat datang Desember ~