Rabu, 10 September 2014

Pulang.


Aku melihat Casio yang melingkar di pergelangan tanganku. Sepuluh menit menuju pukul sembilan pagi, Sancaka Pagi akan datang. Petugas peron memberi arahan, agar penumpang segera menuju pintu boarding. Aku menuju ke meja pemeriksaan tiket, menyerahkan tiketku untuk diperiksa. Perjalanan empat jam, menuju Yogyakarta.
Aku menuju gerbong tiga, mencari-cari kursiku. C5, sesuai ekspektasiku aku mendapat kursi nomor dua dan tepat di sisi jendela. Aku menaruh ranselku di kabin, lalu mengambil botol minuman yang terselip di ranselku. Aku merapikan dudukku, megambil earphone dan memasangkan di smartphoneku. Aku tak ingin mendengar banyak percakapan dalam perjalananku. Dari Iphoneku mengalun lagu Kahitna, Hampir Jadi.
Hampir Jadi? Iya, aku dan dia adalah sepasang manusia yang hampir jadi sepasang suami istri jika saja ego kami tak lebih tinggi dari rasa cinta yang harusnya meneguhkan kami. Dua tahun bersama, masih cinta tapi akhhirnya memilih untuk jalan sendiri-sendiri.
Entah karena lelah atau sudah jengah.
Aku mengingat-ingat awal pertemuan kami. Seharusnya setelah jarak yang kami perjuangkan, tak ada lagi alasan kami untuk memutuskan berpisah. Seharusnya.
Aku memesan satu iced coffee yang ditawarkan pramusaji yang berkeliling di gerbong kereta. Iced Coffee? Minuman favorite kami, satu-satunya persamaan kami. Di antara banyaknya perbedaan kami. Aku yang seorang jawa dan dia seorang tiong hoa. Aku yang pecinta junk food dan Dia yang begitu peduli dengan healthy life. Aku yang tak bisa lama menghabiskan waktu untuk tidur, Ia begitu mencintai waktu tidurnya.
Bukankah cinta tak mengenal perbedaan? Seharusnya itu cukup menguatkan kami. Seharusnya cinta cukup membuat kami bertahan, dan mampu berjuang lebih kuat lagi. Seharusnya pertentangan yang berada di sekitar kami dapat menguatkan kami. Seharusnya.
Sancaka Pagi melaju ke arah barat. Semoga setelah perjalanan ini aku mampu melupakan Dia. Aku memutar-mutar gelas Iced Coffee ku. Kereta berhenti, dari layar monitor tertulis Solo Balapan. Sebentar lagi aku sampai Jogja. Aku memeriksa akun twitterku. Melihat beberapa keriuhan linimasa, tak kutemui satu pun twit darinya. Kurasa Ia telah berhenti, tak lagi mengharapkan hubungan kami kembali seperti semula. Bukankah ini pun keinginanku?
Dari Iphoneku mengalun lagu, Tulus yang Sepatu. Iya, kami seperti sepasang sepatu Dia sepatu kanan dan Aku sepatu kiri. Sadar ingin bersama, tapi tak mungkin bersatu. Cinta senang sekali bercanda ya?
Aku membuka galeri foto yang ada di Iphoneku, ada beberapa foto kami saat menikmati quality time. Aku tersenyum saat melihat fotoku sedang bereksperiman membuat cake di dapur rumahnya. Iya, cake gosong yang kamu puji sebagai cake paling enak sedunia. Cake yang aku buat pertama dan mungkin akan menjadi cake terakhir untukmu.
Cairan bening itu akhirnya menetes juga. Sial, aku menangis lagi.

Aku mengusap air mataku. Aku lelah menangis. Sebulan ini aku terlalu sering menangis, terakhir kali aku menangis begitu hebat setelah perbincangan panjang kami di telpon. Mendengar ucapan kecewamu.
“Berhenti? Semudah itu kamu bilang Me?”
“Maafkan aku..”
“Aku tak pernah bermain-main dengan perasaanku.”
Dan kami hanya menghabiskan sisa tiga puluh menit pembicaraan, hanya saling diam.
Dan sejak pembicaraan itu, hingga kini Ia tak lagi menghubungiku. Ia begitu kecewa denganku. Bukankah jika Ia ingin memperjuangkanku, Ia tak seharusnya membiarkan aku menunggu seperti ini. oh, sepertinya aku melupakan satu hal. Bukankah perpisahan ini pun kesepakatanku juga.
Kami tak mungkin melawan arus bukan? Kami tak mungkin bersama-sama dengan lingkungan yang tak satu pun mendukung hubungan kami. Seharusnya aku mampu membunuh rasa itu sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Seharusnya aku tak membiarkan perasaan itu muncul.
Sancaka Pagi mulai memelan, di layar monitor tertulis Stasiun Yogyakarta.
Aku melepas earphoneku, aku mengambil ranselku di kabin. Penumpang Sancaka Pagi riuh keluar dari gerbong. Aku meregangkan otot punggungku. Aku tersenyum.
“Selamat datang Jogja.”
Aku harus melupakannya.
Aku berjalan menuju luar stasiun, tapi sebelumnya aku menuju ke ATM Center yang berada di dekat pintu keluar stasiun. Aku mengecek Iphoneku, tak ada satu pun pesan masuk. Sepertinya dunia pun enggan mencariku, seperti kamu.
Aku menuju peta Jogjakarta yang terpampang di dekat ATM Center, mengira-ngira aku akan melangkahkan kaki kemana setelah ini. Semoga setelah ini aku dapat melupakannya, gumamku.
“Ke Jogja kenapa gak mengajakku?” Seseorang berkata tepat disampingku. Aku sontak kaget, melihatnya telah berdiri di sampingku, lelaki yang sejak aku menaiki Sancaka pagi begitu ingin aku lupakan.
“Bagaimana..?”
“Aku selalu tahu Me, ayo kita berjuang lagi. Kamu gak akan sendirian lagi. Kamu mau memulainya lagi kan?”

Ada yang meletup-letup di dadaku. Entah, yang pasti aku menerima uluran tangannya, kurasa Dia benar-benar rumahku.

Photo : google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar