Langsung ke konten utama

Berkunjung ke surga di balik bukit.

Jika bersama lebih baik, mengapa kamu memilih sendiri? --- @_yulesta.

Sabtu kemarin, tanggal 13 September 2014 saya bersama dua belas teman saya memutuskan berkunjung ke Jember. Menikmati sensasi ngtrip rame-rame dengan kendaraan umum. Berawal dari obrolan group whatsapp kelas pertengahan Agustus lalu, kami pun ngetrip ke Tanjung Papuma.
Karena rata-rata kami belum pernah merasakan naik kereta rame-rame dengan tujuan yang agak 'aneh' maka Kereta Tawangalun pun menjadi moda keberangkatan kami. Tiket kereta yang di booking dua minggu sebelum keberangkatan memudahkan kami memilih bangku dengan leluasa. Dengan harga tiket Rp. 30.000,- kami dapat tempat duduk yang berderet. Meski Kereta yang kami tumpangi adalah kereta ekonomi, overall keretanya nyaman, ber AC dan yang terpenting ada colokannya. Sehingga kami tak perlu khawatir dengan baterai low, sehingga tetap eksis di sosial media :D
Eksis di kereta.

Kereta Tawangalun berangkat dari Stasiun Kota Baru, Malang pukul 15.00 wib dan sampai Stasiun Jember sekitar pukul 19.45 wib. Sekedar tips, karena memakan waktu yang agak lama sebaiknya kalau mau ngetrip dengan Kereta sediakan cemilan yang banyak. 
Sampai Stasiun Jember, dan menyempatkan diri untuk narsis dan mengabarkan kepada dunia bahwa kita sudah sampai Jember dengan bahagia saya bersama rombongan nyamperin Pak Agung (Travel Agen) yang akan mengantar kami ke Tanjung Papuma. Sekedar Info, jika kalian akan berkunjung ke Jember dan mau menuju ke Papuma bisa menghubungi Pak Agung. Dengan Rp.300.000,- kalian bakal dijemput dari Stasiun/Terminal Jember menuju ke Papuma dan dari Papuma ke Stasiun/Terminal itu sudah termasuk bonus jalan-jalan keliling Jember untuk kuliner dan beli oleh-oleh. Kalau kita dijemputnya di Ambulu maka tarifnya akan berbeda, kabarnya akan lebih murah lagi :D
Jember kami datang.

Karena sudah waktu jam makan malam, kami bersama rombongan di antar Pak Agung ke warung makan dan malam itu kita makan lalapan. Entah karena memang lapar atau porsinya terlalu sedikit kita sampai nambah porsi. Warung lalapan di depan Perhutani, Jember ini selain murah, bersih juga enak. Pesan saya, tempe bacemnya enak saya waktu itu sampai nambah :p untuk ayam gorengnya ada dua pilihan ada ayam kampung dan ayam negeri, selisih harganya tidak terlalu tinggi kok.
Makan malam di Lalapan depan Perhutani, Jember.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu teman yang kebetulan ketinggalan kereta dan mengejar kami dengan bus, kami diajak ngopi cantik dan ganteng di sekitar perempatan Ambulu. Sekitar jam 23.00 teman kami sampai, dan lengkaplah kehebohan kami.
Pukul 24.00 kami sampai di Papuma, suara deburan ombak terdengar dari penginapan yang kami pesan dua minggu lalu. Setelah, menurunkan perbekalan kami dan memindahkan ke kamar kami menyiapkan tenaga untuk berburu sunrise esok harinya. Waktu itu kami menginap di Pondok Papuma yang tarifnya Rp.260.000,- per kamar ada fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam. Saran saya, kalau berombongan mending sewa cottegenya dengan tarif Rp. 510.000,- kita sudah dapat dua kamar, ruang tamu dan kamar mandi dalam. Kamarnya juga ber AC jadi jangan khawatir kegerahan.
Pukul 04.00 wib, kami sudah heboh untuk ke pantai. Jarak Penginapan ke pantai hanya 100 meter saja, dengan harap-harap cemas kami menunggu sun rise. Sekitar pukul lima sunrise baru kelihatan. Bersoraklah kami, sebagai manusia kekinian kami tidak lupa berfoto dan sibuk mengabarkan ke suluruh dunia.
1..2..3
 
Matahari tak pernah ingkar janji.
Setelah puas jalan-jalan melihat sunrise dan berkeliling Tanjung Papuma, sekitar pukul dua belas kami meninggalkan penginapan. Mobil jemputan juga sudah siap mengantar kami ke Terminal, yang sebelumnya kita todong untuk mengantar kami makan siang dan berbelanja oleh-oleh ke 'Sumber Madu'.
Pukul tiga sore rombongan kami sudah sampai di terminal Tawang Alun, Patas yang akan mengantar kami kembali ke Malang juga sudah menunggu. Meski ini adalah perjalanan kesekian saya ke Jember, entah saya merasa berbeda dengan perjalanan kali ini. Mungkin benar kata orang terkenal di luar sana, bukan kemana tujuannya tapi bersama siapa.

Jadi, kemana lagi kita?


Note :
Pak Agung (reservasi mobil jemputan) : +6282143941006
Pak Giono (resevasi Pondok Papuma)  : +6281336103458

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover. Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan. Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan* Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya. Dia SMS.

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com Apa hubungannya kamu dan coklat? Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini. Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh. Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu. Kamu seperti coklat, CANDU!! Di sudut Kamar =)

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B