Jumat, 31 Januari 2014

Aku, Kamu dan Sekotak Kenangan Kita.






Aku memutar gelas iced coffeeku yang belum kuminum sama sekali. Minuman kegemaranku dan juga Dia. Aku memandang keluar area warung waralaba itu. Hari ini tepat lima bulan aku dan dia bertemu tanpa sengaja di tempat ini. Pertemuan yang tak pernah kami duga, karena setelah hampir dua tahun aku dan dia hanya bertukar sapa di linimasa. Dan sesekali mengetahui dimana satu sama lain berada dari check in yang tertinggal di foursquare.
Semua berbeda.
Aku membuka akun twitterku, berharap menemukan obrolannya bersama Fania terekam di sana. Setidaknya kicauannya menandakan bahwa semua berjlan dengan normal. Tetapi kosong, tak ada satu pun kicauannya kutemukan di linimasa. Ragu aku berniat membuka akunnya tapi urung. Aku tak ingin ia menyadari jika aku terlalu sering memantau linimasanya. Ketakutan yang lucu, padahal rutinitas ini sempat menjadi candu bagiku.
Handphoneku kembali aku letakkan di samping french fries yang sudah dingin. Ada kosong sejak ia memutuskan kembali bersama Fania. Kembali memperjuangkan jarak yang hampir membuatnya limpung.
 Aku sedang tidak cemburu kan?
 Aku kembali meraih handphoneku, membuka aplikasi whatsApp dan mencari-cari namanya di urutan teratas contact listku. Aku melihat status online nya. Pasti dia sedang bercengkrama bersama Fania, siapa lagi? Aku berasumsi.
Aku mengetik satu pesan untuknya, kubaca lalu kuhapus kubaca lagi dan kuhapus lagi. Dan aku menyadari tak satu pun pesan berhasil aku tulis. Sesulit inikah memulai obrolan bersamanya? Padahal dulu tak ada alasan untuk bercerita apa saja bersamanya, saling meledek lewat voice note dan tak pernah mampu mengakhiri setiap obrolan yang kami lakukan.
Tetapi itu dulu.
Sebelum ia memutuskan untuk kembali bersama Fania, dan aku harus berpura-pura telah memiliki seorang lelaki yang kusebut sebagai kekasih. Tersenyum bahagia mendengarkan ia mengumbar betapa beruntungnya ia memiliki Fania, dan aku pun menepi.
Ada yang menusuk ulu hatiku. Perih.
Aku mengusap air mata yang hampir jatuh. Bodoh, runtukku.
Aku membuka history chatku bersamanya, sudah dua bulan berlalu sejak pesan terakhir yang kukirim saat ia mengeluhkan sakit dan harus ke Bandung untuk bertemu Fania. Dan sejak itu aku menyadari, tak akan pernah ada celah untukku.
Aku melihat kearah kursi tempat ia menungguku dulu, tempat ia mengamatiku dari jauh.
Aku kangen kamu.
Dan yang berhasil kukirimkan adalah; “Hai.”

Check postingan  1 dan 2

Nb : Serial terbaru D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar