Minggu, 05 Januari 2014

After All





Aku merefresh contact yang ada pada contact list WhatsAppku. Ada namanya pada urutan teratas, dan aku membaca status yang ditulisnya.
“Bukan kita yang berubah, hanya kita yang telah merubah prioritas.”
Apa dia sedang menyindirku?
Sejak aku memutuskan memulai membuka hati, dan menerima ajakan Fania untuk kembali. Aku dan dia tak lagi seperti dulu, tak ada lagi obrolan tak penting disela waktu istirahatku. Saat aku tak lagi penat dengan segudang pekerjaan chatting darinya tak lagi menjadi rutinitas, voice note darinya tak lagi memenuhi folderku.
Sekarang aku disibukkan bagaimana membuat Fania tetap bertahan disisiku, bagaimana aku tetap mengokohkan hati agar tak runtuh oleh jarak yang ada diantara aku dan Fania.
Kita berubah.
Aku mengetik satu pesan untuknya, berulang kali tetapi aku urungkan. Aku ketik, baca kemudian kudelete. Berulang kali. Takut. Bukankah dia telah memilih hati yang lain? Bukankah dia akan baik-baik saja? Aku tak ingin mengganggunya dengan sapaan tak pentingku. Bagaimana jika pesanku terbaca oleh lelakinya? Aku tak mau merepotkannya. Meski saat dia mengaku telah memiliki pasangan bersamaan dengan kembaliku bersama Fania. Meski ia berujar aku tak pernah disembunyikan dari lelakinya. Hanya saja sudut hatiku kosong saat mendengar pengakuannya. Bahwa ia tak pernah sendiri, hatinya telah termiliki.
Aku membuka akun twitternya. Membaca semua kicauannya. Hei, lihatlah bukankah dia baik-baik saja? Meski tanpa aku? Kembali aku berasumsi.
Dan entah mengapa aku semakin merindukannya.
Aku kembali membuka sisa obrolan kami di whatsApp dua bulan lalu. Ah, sudah selama ini kami tak saling menyapa, saling mendiamkan. Kamu, mengapa aku merasa kau asingkan?
“Teman kesayangan gak akan saling menyakiti. Iya kan?” tulismu waktu itu.
Kujawab dengan satu emot senyum, “Tentu saja.”
“Kamu tahu, mengapa kamu aku sebut kesayangan? Karena aku tahu yang namanya kesayangan gak akan menyakiti. Ia akan tetap ada walaupun keadaan berubah. Kamu selalu istimewa Ra.”
Dan kembali aku hanya membalasnya dengan emot senyum.
Tapi kini mengapa aku merasa kita saling menyakiti? Di saat aku memilih untuk bersama Fania, kamu pun menghilang.  Hei, seharusnya kamu bahagia dengan pilihanku kan?
Monologku, dan aku semakin kacau.
Kembali aku membuka akun twitternya berharap menemukan satu atau dua obrolannya bersama lelakinya, mungkin ini semua akan membuatku merasa baik-baik saja. Meski aku tahu ini tak akan pernah merubah keadaan. Kumohon jangan membuatku berasumsi jika kamu menghindariku.
Aku berniat melempar handphoneku, tetapi kuurungkan saat aku mendengar satu notifikasi pesan dari whatsapp. Dengan cepat aku buka, hei itu kamu.
“ Hai..”
Dan entah mengapa aku tak perlu menunggu lama untuk membalas pesan darimu.

Pasuruan, 5 Januari 2014.

pic dari : google.com

2 komentar:

  1. Wow, galau sekali mood cerita ini ya mbak? Menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, makasih mas idan udah mampir :3

      Hapus