Langsung ke konten utama

Bapak

Doa tak akan pernah mengembalikan ia yang telah pergi, tetapi doa akan menabahkanmu dari kehilangan – Ayu Puji Lestari.

Perjalanan ini  terlalu lama, bayangan tentang Bapak memenuhi isi kepalaku. Telpon yang kuterima subuh tadi mengantarkanku untuk duduk di dalam bus berwarna kuning ini. Perjalanan untuk pulang.

Air mata berkali-kali kuusap. Mengabaikan pandangan heran penumpang yang memenuhi bus ini. Aku hanya ingin segera sampai rumah, dan memastikan bahwa Bapak baik-baik saja. Bahwa kekhawatiranku tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin memeluk Bapak.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak saat mengantarku kembali ke Pasuruan sore itu. 

“Tinggal tugas akhir pak,”jawabku setengah berteriak, mengalahkan suara motor yang membenamkan suaraku.

“Ya syukur. Tahun ini selesai kan?”

“Insyaallah,” Jawabku.

Dan itu adalah percakapan terakhirku bersama Bapak, sebelum akhirnya pertengahan Januari kemarin Bapak harus dirawat di rumah sakit. Ada peradangan di ginjalnya, kreatinnya tidak normal, adalah penjelasan mengapa Bapak harus menjalani diet ketat selama tiga bulan ini. Diet ketat yang menghabiskan badan Bapak, yang menyebabkan Bapak kurus. Alasan medis, hanya itu yang mampu aku tangkap dari penjelasan Dokter.

Hari ketiga, Bapak di Rumah Sakit.
Selama tiga bulan Bapak berkali-kali mengunjungi Rumah Sakit, tempat yang paling Bapak benci. Tiga bulan Bapak harus berteman dengan slang infus, obat dan jarum suntik. Semua hal yang Bapak benci. Dan dengan segala upaya kami mengharap Bapak sembuh.

Dan hari ini selang tiga hari dari aku bersama Ibu, Mbak dan Mas merayakan ulang tahun Bapak ke enam puluh tiga tahun. Telpon di pagi buta, yang sering aku takutkan pun terjadi.

“Pulanglah, kalau ingin bertemu Bapak.”

Maka duduklah aku di Bus ini. Bayangan tentang Bapak memenuhi pikiranku. Obrolan tentang harapan sederhana Bapak. Dan kenangan saat Bapak dengan bangga mengenalkanku kepada teman-temannya. Tak hanya aku, Bapak adalah sosok yang begitu bangga dengan keluarganya. Tak jarang ketika ada rekannya bertamu ke rumah maka Bapak tanpa segan mengambil album foto dan menceritakan tentang kehidupan anak-anaknya, termasuk aku yang jauh dari hal membanggakan.

Aku menghapus air mataku, aku berkali-kali menghela nafas. Berharap air mata ini dapat aku bendung, dan sialnya semakin aku paksa untuk berhenti air mataku malah semakin deras mengalir. Aku tak mau Bapak pergi.

Bapak tak pernah mengeluh sakit, paling anti pergi ke dokter. Dan semua berubah, saat pertengahan Januari lalu Bapak mengeluh sakit dan memaksa Ibu untuk menemani ke Rumah Sakit. Hari itu untuk pertama kalinya Bapak opname di Rumah Sakit. Dan betapa paniknya kami setelah menerima penjelasan tentang penyakit Bapak. Dan sejak hari itu bolak-balik ke Rumah Sakit menjadi rutinitas, hal yang membuat sesak bagi jiwa kami.

Aku mengusap foto yang menghias home screen HP ku, foto Ibu dan Bapak enam bulan yang lalu saat menghadiri pernikahan sepupuku di Malang. Foto yang aku ambil sesaat sebelum rombongan kami meninggalkan penginapan. Aku tergugu, mengingat perkataan Bapak saat aku menemani Bapak yang terjaga malam itu.

“Kalau sudah ada yang dekat, boleh kok dikenalkan ke Bapak. Anak mana? Bapak boleh tahu?”

Waktu itu aku hanya menggeleng, “Belum ada.”

Padahal sudah ada dia, lelakiku. My iced coffee.

Aku memandang ke arah luar jendela. Keriuhan jalan raya di pagi hari, adakah mereka mengalami hal yang sama denganku? Dikejar waktu dan berusaha membunuh rasa sesak karena khawatir. Bus yang membawaku berhenti di Terminal Mojoagung, setengah tergesa aku mencari seseorang yang rencananya akan menjemputku. Aku berharap Om Edi, adik dari Ibu yang menjemputku pagi itu. Setidaknya hal itu menunjukkan bahwa keadaan di rumah normal. Sayangnya, bukan Om yang tengah berdiri menungguku tetapi salah satu tetangga dekat rumah. Semakin runtuh harapanku. Aku hanya terdiam saat motor membawaku ke rumah.

Rumah ramai dengan tetangga dan saudara. Semua menyambutku, meminta untuk tenang. Yang aku ingat, sejak hari itu duniaku tidak lagi baik-baik saja. Berkali-kali aku berucap untuk ikhlas, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Hatiku patah.

April empat tahun yang lalu, hari terburuk itu pun aku alami. Perpisahan tidak pernah baik-baik saja. April empat tahun lalu, aku menjadi yatim. Sebagai seorang putri, ditinggalkan seorang Ayah adalah patah hati terhebatnya.

Hari ini aku kembali mengingat masa-masa itu. Kembali mengingat saat Bapak masih ada, kembali berandai-andai seandainya Bapak masih ada. Mencoba mengingat kembali alasan senyum Bapak. Ya, seringkali kehilangan menyadarkan pentingnya seseorang bagi kita.

Kembali mengingat apakah yang benar-benar membuat Bapak bahagia? Membuat Bapak duduk di bangku undangan, deretan paling depan saat penerimaan raport. Mendengar kabar bahwa akhirnya aku memilih menjadi Akuntan alih-alih menjadi tukang peneliti. Aku tidak pernah benar-benar tahu, yang aku tahu Bapak selalu bangga terhadap pilihan anak-anaknya.

Setelah empat tahun berlalu, perasaanku tetap sama. Pak, Ayu kangen pengen pulang ke rumah yang ada Bapak.

Malang, 19 April 2017.

Komentar

  1. Saya bisa ngebayangin beliau adalah bapak yg hebat.
    Saya ga tau musti komen apa lagi, tiba2 mata saya berembun ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover. Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan. Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan* Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya. Dia SMS.

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com Apa hubungannya kamu dan coklat? Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini. Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh. Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu. Kamu seperti coklat, CANDU!! Di sudut Kamar =)

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B