Minggu, 18 Agustus 2013

Flamboyan (R) --- 4




 Ada beberapa cara untuk mencintaimu, dalam diam salah satunya -- @perihujan_

Pagi.
Datang paling awal adalah rutinitas di kampus. Sebenarnya agak malas memaksakan diri berangkat pagi-pagi, seharusnya kebiasaan ini sudah berubah sejak aku menanggalkan seragam putih abu-abu ku. Tetapi Ayah, tak pernah rela aku meninggalkan rutinitasku.
Maka, setiap pagi aku duduk di taman ini. Menunggu kuliah pagiku dimulai, pukul tujuh sementara sejak pukul setengah tujuh aku sudah sampai di kampus ini. Hfft.
Haruskah rasa ini diberi nama?
Sebenarnya aku tak sendiri, ada Dia yang setiap pagi menemaniku. Sayangnya, Dia terlalu angkuh untuk sekedar duduk bersebelahan denganku. Dari buku-buku yang ia bawa, sepertinya Dia anak Akuntansi. Dari pengamatanku Dia berbeda dengan anak Akuntansi umumnya, tas ransel hitam, sepatu kets, dan head set yang menyumpal telinganya membuatnya berbeda dengan cewek ekonomi umumnya dan Akuntansi pada khususnya. Mungkin Dia alien yang terdampar di fakultas feminim ini, sama sepertiku.
Aku menamai Dia, Flamboyan. Karena tidak mungkin aku memanggilnya Mawar nama itu terlalu feminim untuknya. Ahahaha.
Bukan hanya taman fakultas tempat aku dengan nyaman melihat Flamboyan ku. Sudut Perpustakaan pusat lantai tiga adalah tempat favoritenya, selain itu Pusat Data Bisnis fakultas juga tempatnya mengisi waktu luang, serius berdiskusi dengan Bu Yuli kepala PDB adalah kegiatan favoritenya. Seperti siang ini aku lagi-lagi bertemu dengannya di Perpustakaan Pusat.
Dia sedang asyik entah sedang mengerjakan apa, buku berbagai jdul menumpuk di mejanya. Dia bolak-balik menyisiri Rak buku yang berderet tentang Akuntansi. Beberapa kali aku melihatnya dari balik kaca mataku. Dia itu cewek yang manis, rambutnya yang panjang dikuncir seadanya. Dan aku selalu menyukai cover laptopnya One Piece. Jarang sekali aku menemui cewek yang menyukai Anime tersebut. Flamboyan memang berbeda.
Handphoneku berkedip, sms dari Yanti. Membacanya sekilas, back to reality Yanti menungguku di Fakultas. Yanti adalah realita, sementara Flamboyan adalah mimpi. Yeah.
Aku membereskan buku-buku yang tadi kubaca, meletakkannya pada Meja ‘selesai dibaca’. Aku berjalan melewati mejanya dan,
Brukk..
“Sorry, aku gak lihat jalan..” kataku cepat, lalu membantu yang kutabrak membereskan buku-bukunya. Aku mendongak. Dheg, Dia Flamboyanku.
“Nope” jawabnya singkat.
Aku menyerahkan buku terakhirnya. Dia menerimanya, tersenyum dan berlalu.
Duh, kenapa aku jadi gugup?
Sekali lagi aku melihat ke arahnya, Flamboyan kembali tenggelam dalam buku-bukunya. Apakah sebegitu sepi hidupnya?.

Pic : www.google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar