Selasa, 08 Mei 2012

Aku dan kenangan ( Melia )



“ Sekalipun mencintaimu adalah kesalahan, aku tak peduli...karena bagiku mencintaimu adalah kebahagianku. “ – Peri Hujan.

Aku mengaduk choco blanded – ku, sementara kamu membisu.
Ini adalah rekor pertemuanku dengan kamu setelah perpisahan itu. Ketika aku dan kamu memilih untuk menjalani kehidupan masing-masing, menanggalkan kita meleburnya menjadi aku dan kamu.
Perpisahan dua tahun lalu.
Rumah makan cepat saji ini masih sama seperti empat tahun yang lalu, masih sama seperti saat kita merayakan ulang tahun pertama putri kita – Kayla. Entah demi alasan apa aku memilih tempat ini untuk bertemu dengan kamu. Semoga kenangan ini tak meronta dan memintamu untuk kembali.
“ Bagaimana Kayla? “ tanyamu.
“ Baik, seperti yang sering dia bilang padamu setiap kamu menelponnya. Dia sedang senang-senangnya memainkan hadiah ganget terbaru darimu. Kamu tidak berubah selalu memanjakannya “ jelasku, canggung.
Kamu tersenyum.
“ Aku tidak memanjakannya, hanya memfasilitasi Kayla untuk mengembangkan potensinya “ ucapmu, lalu meneguk kopimu.
“ Kamu tahu kan, Kayla anak yang cerdas “ lanjutmu.
Aku tersenyum, ya Kayla cerdas seperti kamu. Sehingga aku terkadang harus berlari untuk mengejar pemikiranmu. Inikah alasan aku tak dapat bertahan denganmu?
“ Kayla bahagia, mendengar kamu kembali mas, “ kataku canggung saat memanggil kamu dengan panggilan itu.
Panggilan mas, ah itu kan dulu alasan kamu begitu jatuh cinta kepadaku? Katamu aku berbeda. Ketika semua memanggilmu dengan panggilan koko aku justru memanggilmu mas. Seandainya kamu tahu, aku selalu ingin menarik perhatianmu. Untuk itulah aku selalu ingin berbeda diantara orang-orang sekitarmu, termasuk berpura-pura untuk tidak membutuhkanmu.
Kamu tetap membisu, jujur aku tak bisa menahan diri untuk menyembunyikan degub jantung saat melihat wajah orientalmu. Wajah yang selalu mengusikku tiap malam dan saat melihat Kayla, ya kamu selalu egois Kayla pun mewarisi semua genmu tanpa sedikit pun ada untukku.
“ Lalu kapan, kamu mengijinkan aku bertemu Kayla. Aku sudah kangen dengan bidadari kita “ katamu. Hatiku mencolos saat kamu berujar kita, ah sudah berapa lama kamu tidak menyebut kata-kata itu. Kita.
“ Terserah mas, rumahku selalu terbuka untukmu mas. Kayla juga pasti senang kalau mas berkunjung. “ ucapku, lagi-lagi masih gugup. Aku meminum choco blandedku. Berusaha mengusir perasaan tak nyaman ini.
“ Bagaimana kalau nanti malam, selepas magrib. Ailya, datang sore ini. Aku ingin mengenalkannya pada Kayla. “
Ailya? Ah, bagaimana mungkin aku melupakan ini. Ya, aku lupa kalau ternyata kamu akan bertunangan dengan Ailya, wanita yang kamu temui saat perjalanan ke Malaysia setahun yang lalu. Wanita yang kamu ceritakan satu bulan yang akan datang akan kamu pinang. Wanita yang memenuhi hari-harimu setahun terakhir ini, wanita yang memberimu kesempatan untuk berbahagia.
“ Ya, kurasa tak ada masalah. Nanti akan aku jelaskan pada Kayla “ kataku.
“ Terima kasih Mel. Untuk masalah Ailya, biar aku yang menyampaikan sendiri pada Kayla “ katamu, lalu menarik tanganku dan menggenggamnya. Aku reflek menariknya, aku tak ingin kamu merasakan degub jantungku.
Aku menggeleng.
Kamu tersenyum, “ Maaf..”
***
Malam itu, Kayla memakai gaun warna merah maroonnya. Dia nampak lucu dengan bando yang juga senada dengan bajunya. Dia duduk di sofa ruang tamu, wajahnya tak sabar menunggu kedatangan papanya. Ya, aku tahu persis Kayla sangat mencintai papanya.
Tepat pukul tujuh, Mas Rudi datang. Kayla berlari ke arahnya, dan memeluk mas Rudi. Aku menitikkan air mata. Sementara wanita yang sejak kedatangannya berdiri dibelakang mas Rudi tersenyum kearahku, ya mungkin dia harus bersabar dan memulai terbiasa berbagi cinta dengan Kayla. Bukankah Dia mencintai lelaki yang sama?

Pic : diambil dari google.com ( search pic love tumblr )

1 komentar: