Minggu, 13 Maret 2016

Ketika Batas itu Sampai Pada Titik


Sekuat apa pun seseorang berjuang, pada akhirnya ia pun memiliki batasnya. Jenuh, lelah dan merasa sia-sia. Mungkin itu yang dia rasakan kepada saya. Merasa cukup dan sia-sia. Mungkin, kamu pernah merasakan ingin dekat dengan seseorang tetapi untuk sekedar menyentuh sedikit hatinya saja tidak mampu. Beberapa orang terdekat saya, selalu mengatakan bahwa saya terlalu angkuh dan keras kepala, untuk sekedar mengakui bahwa saya pun membutuhkan dia.

Mereka selalu menyebut hitungan tahun, Berapa dia bersabar dengan saya. Sejak saya patah hati dengan kegagalan saya dengan seseorang di akhir studi saya, hingga kegagalan paling drama dalam episode percintaan saya dengan mantan kemarin sore. Dia selalu ada di barisan paling depan untuk memberi semangat pada saya. Saat saya jatuh, maupun terbang karena cinta. Dia selalu ada. Meskipun dia bukanlah seseorang yang selalu menjadi tempat curhat saya.

Hingga kemarin saya bertemu dengannya, tidak sendiri tetapi dengan seorang wanita. Sejatinya saya berniat nonton, tapi urung ketika dia dan wanitanya berada di bioskop tempat saya ingin menghabiskan malam minggu dengan sendiri tersebut.

Gugup, kaget dan bingung.

Saya dengan wajah lempeng mengulurkan tangan, menjabat tangannya dan bertanya kabar. Saat jabat kami terlepas, sang wanita buru-buru mengulurkan tangan sambil menyebut nama. Saya menerima uluran tangan wanita tersebut, saat jabat kami terlepas saya melihat tangan wanita tersebut mengapit dia. Saya tersenyum, dia tersenyum, juga wanita tersebut. Saya pamit, meninggalkan gedung bioskop. Tidak ingin menambah kekacauan, rencana untuk nyemil bakpao pun urung saya lakukan. Tiba-tiba saya tidak bersemangat.

Saya menuju toko es cream, di depan bioskop. Memesan es cream, dan membiarkannya mencair tanpa saya sentuh sedikit pun. Ingatan saya, terulang pada kejadian beberapa tahun lalu saat saya dan dia mengobrol di toko es cream ini. Dia mengucapkan kalimat yang membuat saya tetap bertahan dengannya hingga saat ini.

“Kamu tahu yu, tidak akan pernah ada alasan yang logis untuk mencintai termasuk membenci seseorang.”

Drama? Hahaha, anggap saja demikian. Dia adalah teman lelaki yang paling memahami saya. Pasang surut hubungan saya dengannya tidak terhitung. Yang saya tahu dia selalu ada saat saya terpuruk, bahkan orang yang saya cintai pun tidak menyadarinya. Sementara dia cukup mengerti meskipun saya tidak pernah bercerita padanya.

Saya kembali melihat foto yang kami buat dua bulan yang lalu, saat dia menemani saya untuk menyelesaikan deadline laporan di salah satu kedai donat. Memastikan saya baik-baik saja. Saya melihat senyum yang terekam pada foto tersebut. Apakah senyum yang terekam saat itu kemarin benar-benar masih milik saya seutuhnya?

Entah, saya merasa ini adalah akhir bagi saya dan dia. Sudah saatnya saya berhenti, suka atau tidak saya harus berhenti untuk tergantung padanya. Saya kembali mengingat senyum wanita yang saya temui di bioskop tadi, dan saya pun ikut tersenyum. Iya, mungkin benar ini adalah akhir. Bukankah, kesabaran juga memiliki titik? Selamat berbahagia, kamu.

2 komentar:

  1. Iya, makasih. Aku dah bahagia, kamu kapan bahagianya? kalo udah kabar2 ya. mau ta beliin magnum :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sudah bahagia kak 😂😂😂
      Kemudian nagih es krimnya 😋😋

      Hapus