Langsung ke konten utama

Hodie Mihi, Cras Tibi*

Gadis itu merapatkan cardigannya. Beberapa helai daun sukses digugurkan angin sore itu. Dingin. Semerbak aroma petrichor menyeruak di hidungnya. Gadis itu menerawang ke atas. Awan putih menggantung. Seharusnya hujan masih lama. Ini Juli, tidak akan hujan, ramalnya. Tapi aroma petrichor yang dibawa angin menyeruak di hidungnya. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir setengah jam, angkot yang ditunggunya belum juga datang.

“Ketemu lagi. Hari ini akan hujan,” seseorang bergumam di sebelahnya. Ia menoleh. Laki-laki yang sama. Semingggu ini dia selalu bertemu dengan lelaki ini. Di tempat ia biasa menunggu angkot.

“Besok hujan. Jangan lupa bawa payung, sebaiknya kamu ganti cardiganmu dengan jaket yang sedikit tebal. Besok hujan tidak akan seringan ini,” lanjutnya.

Gadis itu tidak menyahut. Pandangannya lurus ke depan. Meskipun ia tidak bisa untuk tidak melihat pria itu dari sudut matanya.

“Aku Ardhi, kenalkan,” ucap pria itu. Tangannya menggantung tanpa sambutan. Gadis itu hanya memandang sekilas, lalu menghentikan angkot yang lewat. Pria itu memandang tangannya hampa, menggantung tanpa balasan. Lalu ia mengikuti gadis itu untuk naik ke angkot.

Tepat saat pria itu naik angkot, hujan turun. Pria itu tersenyum. Sementara sang gadis berpura-pura tak peduli. Dan seperti kemarin dan hari-hari yang lalu, mereka kembali bertemu di dalam angkot ini di bawah guyuran hujan.

***

“Sudah kubilang hari ini hujan. Kamu masih tetap enggak percaya, kubilang kan jangan memakai cardigan. Hujan akan lebat hari ini,” kata lelaki itu.

Tetes air hujan mulai merapat. Gadis itu panik. Dia merapat di bawah pohon berharap hujan batal turun. Tidak ada tempat berteduh selain pohon ini. Wajahnya merengut kesal, merutuki diri menyesal tidak menuruti ucapan lelaki ini.

Saat panik karena hujan semakin lebat, ia kaget karena tubuhnya tidak basah. Saat ia melihat ke atas ternyata tubuhnya sudah terlindungi payung yang dibawa lelaki itu. Lelaki itu tersenyum. “Enggak perlu menolak. Aku enggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Aku juga akan diam dan enggak akan ngajak kamu ngobrol,”

Gadis itu menurut. Tangannya mengapit tasnya. Sepatunya basah karena terkena air. Hujan sangat lebat, seperti yang dikatakan lelaki itu kemarin. Dan seperti yang dijanjikannya lelaki itu hanya diam saja, sama sekali tidak mengajak gadis itu bicara. Hingga angkot yang ditunggu pun tiba. Ia menggerling meminta gadis itu naik duluan, lalu diikutinya. Badannya setengah basah.

Lelaki itu melipat payungnya yang basah. Gadis itu meliriknya. Tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Ia menarik beberapa lembar tisu, lalu menyerahkan kepada lelaki itu.

“Ini,” katanya, seraya menyodorkan tisu.
“Terima kasih.”

***

Gadis itu merapatkan jaketnya. Hari ini ia memakai jaket tebal dan membawa payung. Meskipun ia tidak yakin hari ini akan hujan. Ia melihat sekitar, bukan mencari angkot. Lelaki itu tidak ada. Meskipun terkadang menyebalkan, ternyata gadis itu menunggu kehadiran lelaki itu.

Sampai angkot yang ia tunggu datang, lelaki itu belum juga ia temui. Ia melihat ke arah langit. Meskipun mendung ternyata hari ini tidak hujan. Dia melihat ke arah tas kain yang di dalamnya ada payung berwarna kuning. Ia menarik napas panjang. Tiba-tiba ia merasa sepi.

***

Ia pulang agak terlambat sore ini. Tadi sebelum pulang Bosnya menahannya untuk mengerjakan beberapa laporan. Ia berjalan dengan kusut. Ia berjalan ke arah tempat ia biasa menunggu angkot. Ia melihat sekitar sepi, mungkin lelaki itu sudah pulang. Pikirnya.

“Angkotnya baru saja lewat,” ucap seseorang. Gadis itu menoleh. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya. “Aku sengaja gak pulang dulu, karena aku tahu kamu bakal mencariku.”

Gadis itu pura-pura tak mendengar.

“Pakaian yang tepat. Hari ini akan hujan, tapi dengan intensitas ringan. Lumayan membuat basah, tapi akan menjadi suasana pendukung yang menyenangkan untuk teman mengobrol,” lanjutnya.
Lagi gadis itu tak menyahut.

“Kamu bawa payung kan? Hitungan ketiga..hujan akan turun,”

“Satu,” lelaki itu mengambil payung dalam tasnya.

“Dua...,” Ia membuka payungnya.

“Tiga..”

Bress. Hujan benar-benar turun. Sang gadis bingung, segera mengambil payung dalam tas kainnya.

“Sudah kubilangkan, hitungan ketiga akan turun hujan,”

Mereka saling diam. Sunyi, hanya suara rintik hujan dan kendaraan yang lewat di depan mereka. Angkot yang mereka tunggu belum juga terlihat.

Hingga sepuluh menit mereka saling diam.

“Eh, itu angkotnya datang,”

Laki-laki itu melambaikan tangan memberi isyarat agar angkot berhenti.

“Tunggu...”

Lelaki itu menoleh setengah tidak percaya.

“Aku Rinai. Besok hujan enggak?” ucap gadis itu.

Lelaki itu tidak segera menjawab, ia tersenyum. “Besok hanya mendung, gunakan cardigan warna tosca favoritemu,” jawabnya sambil tersenyum.

Malang, 20 Oktober 2016.

* Judul diambil dari Novel Antologi Rasa, karya Ika Natassa yang berarti Today for me, tomorrow for you.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover. Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan. Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan* Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya. Dia SMS.

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com Apa hubungannya kamu dan coklat? Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini. Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh. Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu. Kamu seperti coklat, CANDU!! Di sudut Kamar =)

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B