Senin, 23 Oktober 2017

Sampai Kapan?

Sampai kapan?
Ia bertanya untuk kesekian kali, saat menelpon saya dalam perjalanan pulang. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti alasan mengapa saya memilih untuk menepi. Satu-satunya orang yang tahu benar alasan mengapa saya ke Jogja beberapa minggu lalu.
Ia satu-satunya yang paham bahwa tawa yang selama ini saya perlihatkan hanya palsu. Ia tahu saya sedang tidak baik-baik saja.
Sampai kapan?
Ulangnya, ketika kemarin saya terbata menangis untuk kesekian kalinya.
Ia bilang, seharusnya saya bahagia. Seharusnya saya baik-baik saja. Seharusnya saya belajar menyederhanakan keadaan.
Sampai kapan?
Sampai ia mengucap maaf, tapi sekali lagi saya bukan manusia bijak yang disakiti berkali-kali dapat segera melupa. Saya adalah pengingat yang handal.
Sampai kapan?
Maaf, saya sudah lupa cara memberi maaf.
Ruang Tunggu RSKM, 23 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar