Langsung ke konten utama

Romeo Gadungan Sebuah Review

Romeo Gadungan| c: @perihujan_

Penulis: Tirta Prayudha
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 212 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 978-979-780-863-1
Harga: Rp55.000,-

***
Seperti kata pepatah, ada yang pergi ada pula yang datang. Nah, kalau cinta pergi, yang datang apa? Tentu saja patah hati! Ada saja penyebab patah hati gue—dari masalah kecocokan, pekerjaan, agama, atau suku. Dan rasanya, gue semakin susah untuk tertarik dengan seorang cewek. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa pernah ada kisah selanjutnya. Terkadang alasannya dari pihak cewek, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya. Intinya, cinta tak berpihak pada gue. Kisah cinta Romeo sungguhan dengan Juliet saja nggak happy ending, apalagi gue yang cuma menjadi seorang Romeo Gadungan!

Tirta Prayudha akan berbagi cerita tentang patah hati-patah hati terbaik yang dialaminya, mulai dari cinta karena beda agama, tarik ulur seperti layang-layang, di-PHP-in gebetan, sampai cinta monyet zaman SD. Buat kamu yang sedang putus cinta, tenang saja... kamu nggak sendirian, kok. Seberapa pun sakitnya, berapa pun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk bisa kembali sembuh, selalu ada nilai yang bisa dipelajari. Ada proses pembelajaran yang dialami.

***
Semua setuju patah hati itu enggak ada yang bakal baik-baik saja, tapi tidak semua orang dapat mengemas patah hati dengan cerita yang manis dan tidak terkesan menggurui. Mungkin itu yang ingin disampaikan Tirta dalam buku ketiganya atau kedua untuk buku solonya. Romeo Gadungan memang bercerita tentang patah hati yang dialami oleh penulis. Tentang cinta beda agama, beda suku hingga cerita patah hati karena belum bisa move on dari cinta yang lama.

Saya adalah orang yang agak pemilih untuk membeli buku dengan genre Pelit (Personal Literature). Tapi untuk buku ini jujur saya sudah menunggu lama buat rilisnya. Seperti Pelit pada umumnya, ada beberapa cerita yang feelnya dapet ada yang hanya sekadar tempelan saja. Jika kamu pembaca setia personal blog Tirta tentu hapal dengan cerita Sepatu Kiri. Nah, dalam buku ini Tirta banyak cerita tentang Sepatu Kiri, dan entah mengapa di sini saya lebih suka versi di blog daripada versi bukunya. Tapi ini masalah selera saja sebenarnya.

Cerita favorite saya jatuh pada Layang-Layang dan Fast Car. Yang paling saya suka adalah Layang-Layang yang chapter 2, tentang memaafkan. Tidak mudah untuk memaafkan kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Untuk Fast Car mungkin ceritanya yang hampir mirip dengan apa yang pernah saya alami, membuat saya berpikir...damn, ini nyesek banget. Cinta beda suku itu gak pernah bisa baik-baik saja.

Cover Romeo Gadungan dibuat hijau stabillo, saya duga ini untuk menyamakan dengan buku pertamanya Newbie Gadungan yang berwarna kuning menyala. Untuk pemilihan cover masih dimaafkan, tapi untuk pemilihan font asli ini ganggu banget. Beberapa masih banyak typo, jadi merasa kalau buku ini dibuat buru-buru. Bacanya jadi seperti dikejar-kejar. Halah.

Ok, buku ini cukup menghibur dan seperti blog post Tirta di personal blognya saya seperti sedang mendengarkan seorang teman yang sedang bercerita. Good job Ta, btw cewek salmonnya kok gak masuk di buku ini sih? Hehehe. Ditunggu buku selanjutnya, mungkin novel tentang Layang-Layang atau Sepatu Kiri. Akhirnya 4/5 bintang untuk Romeo Gadungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover. Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan. Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan* Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya. Dia SMS.

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com Apa hubungannya kamu dan coklat? Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini. Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh. Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu. Kamu seperti coklat, CANDU!! Di sudut Kamar =)

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B