Senin, 16 Januari 2017

Garis Akhir yang Memulai

pic sources pexels.com

Namanya Ayumi, aku biasa memanggilnya Ay. Beberapa orang menganggap Ay artinya Ayang, mereka benar tapi tidak bagi dia.

“Raka, makan siang bareng yuk,” sapa Ayumi, yang sudah berdiri di depan kubikelku.

“Di mana?”

“Soto Betawi di blok sebelah ya. Anak naga lagi ngidam Soto nih,” katanya sambil terkekeh. Aku menggeleng. Nih, cewek makannya banyak tapi tetep langsing aja. Perutnya dari apa sih?

Aku melangkah ke luar kubikel, mengikuti Ayumi yang sudah ke luar ruangan. Saat aku berniat mengambil motor, Ayumi mencegah.

“Jalan kaki aja yuk. Aku pengen jalan agak jauh,” cegahnya.

Tumben?

Kami sudah dekat sejak lama. Sejak Ayumi mulai bekerja di kantor ini. Aku adalah seniornya, sementara dia adalah juniorku. Meskipun usia kami tidak jauh berbeda.Kami dekat sejak sering ditugaskan bersama. Mulai dari monitoring ke cabang hingga meeting bersama masalah pelaporan keuangan kantor. Tugasnya sebagai Staff Accounting di perusahaan ini dan aku sebagai Internal Auditor membuatku sering bersinggungan dengannya dalam urusan pekerjaan. Dan entah sejak kapan, hati ini pun selalu ingin bersinggungan. Cewek yang hobi makan, jalan dan difoto ini membuatku rela mengesampingkan pekerjaan demi menemaninya. Seperti siang ini makan soto betawi, padahal deadline dari Pak Eko sudah menunggu.

“Raka, kamu pernah patah hati?” tanya Ayumi tiba-tiba.

Aku tersedak. Nih, cewek kenapa lagi?

“Hmm, pernah lah. Kenapa?”

“Enggak papa,” ucapnya. Lalu kembali terdiam, menghabiskan soto betawinya dalam diam.

Aku tidak berani bertanya lagi. Aku ikut diam. Bahkan setelah menghabiskan soto betawi.

“Ka, gak usah balik ke kantor dulu ya,” katanya saat melihat aku menyingkirkan mangkok soto betawi yang sudah kosong. Aku hanya mengangguk, mengamini.

“Ka, patah hati itu sakit banget ya?,” katanya, sambil menerawang ke arah luar warung soto betawi. Aku yang sejak tadi hanya diam, sambil membaca email di handphone terkejut. Nih, anak sebenarnya kenapa sih.

“Kamu kenapa Ay?” akhirnya aku bertanya.

“Kamu masih ingat Lie kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. Ayumi, bagaimana aku lupa dengan laki-laki yang kamu ceritakan sepanjang waktu itu. Bagaimana aku lupa, bahwa kamu mencintainya dan sepertinya tidak akan pernah memberikan  kesempatan bagi laki-laki lain untuk mendapatkan cinta yang sama darimu seperti dia? Ayolah Ayumi, kamu masih ragu dengan pengetahuanku tentangmu?

“Kenapa dengan dia?”

“Semalam akhirya kami putus.”

Aku tahu, saat ia mengucapkan kalimat itu ia menangis. Titik bening itu meluncur dari sudut matanya. Tapi, bolehkah Ayumi aku bersorak hore sekarang? Menari di depanmu mungkin. Tapi urung aku lakukan, maka yang terucap adalah, “Ay...”

“Kami putus, Ka..dan rasanya sakit sekali,” katanya sembari memegang dadanya. Sorak yang ingin kurayakan tadi urung kulakukan.

Aku terdiam. Melihat Ayumi menangis cukup membuatku berantakan.

Ayumi mengambil tisu. Menghapus sisa air matanya. Ia mengajakku kembali ke kantor, dan sepanjang perjalanan kami hanya diam. Ia sibuk dengan pemikirannya begitu juga denganku.

Hari ini sudah seminggu sejak makan siang kami yang berujung saling diam. Tak kudengar Ayumi heboh di kubikelnya. Ayumi menjadi pendiam, dan itu bencana bagiku. Aku lebih bahagia menemani dia makan dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain. Menemaninya nonton film drama di bioskop, padahal aku membenci genre film itu. Menurutinya hunting foto di sepanjang Splindid atau sekadar duduk di trotoar di Jalan Ijen. Menemani kegilaannya, dan aku melakukannya tanpa beban.
Melihatnya sekusut ini membuatku berantakan.

“Ka, si Ayumi kenapa? Seminggu ini kelihatan berantakan sekali. Diem muluk di kubikel. Kalian lagi bertengkar ya?” berondong Puput.

Aku menggeleng,  “Enggak, kok.”

“Kok kalian aneh, biasanya sama-sama ini kok jalan sendiri-sendiri. Kamu nembak dia terus kamu ditolak ya?”

Aku memandang kesal ke arah Puput. “Kamu kalau enggak bisa diam, jangan salahkan kalau report kamu aku tolak semua loh.”

Puput nyengir mendengar ancamanku, lalu berlalu dari kubikelku. Tak urung ucapan Puput membuatku melihat ke arah Ayumi. Ia tampak berantakan, berusaha memenuhi mejanya dengan penuh dokumen. Aku tahu, ia hanya ingin membunuh waktu.

Saat pulang kerja, aku melihat Ayumi berjalan terburu-buru meninggalkan ruangan. Aku setengah berlari mengejarnya.

“Ay...” teriakku, saat melihat Ayumi akan keluar dari gedung kantor kami.

Ayumi reflek berhenti. Menunggu aku menghampirinya.

“Ada apa?”

“Aku antar pulang yuk..” ajakku.

“Tapi...” Dia melihat ke arah luar. Di depannya berdiri seseorang yang tidak pernah aku temui.

“Oh..” aku berusaha paham.

“Farhan sini, kenalkan ini Raka.”

Laki-laki yang dipanggil Farhan itu mengulurkan tangan ke arahku. Lalu kusambut dengan hangat.

“Farhan.”

“Raka.”

Dan aku tahu. Laki-laki itu bukan seseorang yang biasa. Aku melambai pelan saat Ayumi berlalu dariku. Aku memandang ngilu ke arah mereka. Farhan? Siapa lagi dia. Ayolah, Ayumi setelah Lie pergi pun aku harus bersaing dengan laki-laki lain lagi. Kapan kamu memberi kesempatan itu padaku?

Sore ini aku sadar. Seharusnya aku lebih jujur, jika aku selalu berharap lebih kepada Ayumi. Semoga belum terlambat.

4 komentar:

  1. semoga ada kesempatan ya, kalau jodoh gk kemana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay, makasih sudah berkunjung di Blog Peri Hujan. Salam kenal.

      Hapus
  2. aku nungguin kelanjutannya! :p

    BalasHapus