Kamis, 12 Januari 2017

Satu Malam di Sudut Houtend Hand

Chocorado | Pic : by Kopilovie

Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan dari sepasang mantan kekasih? Mereka sering bertemu, tertawa dan berdiskusi layaknya karib tanpa peduli mereka dulu adalah sepasang kekasih. Seakan tak peduli dengan masa lalunya, mereka sering bertemu, sobekan tiket nonton tidak terhitung lagi bahkan tak terhitung berapa kali mereka bercakap berdua seperti layaknya sepasang kekasih di sudut kafe favorite mereka. 

Maka, seperti itulah kami duduk di sini. Menyesap coklat hangat yang disajikan oleh Barista di kafe langganan kami sejak 4 tahun lalu, Houtend Hand.

“Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku Koh?” tanyaku, sambil mengambil marsmellow yang ada di cangkir coklatku. Kebiasaanku saat menikmati Chocorado, minuman favoriteku saat di sini.

“Kamu serius ingin mendengarnya sekarang?” katanya sambil mencondongkan wajahnya ke arahku. Ia tahu, suara angin dan deru kendaraan cukup jelas terdengar dari lantai dua Hautend Hand. Sudut favorite kami berdua.

Aku merenggut kesal. “Kamu pikir, aku rela dijemput malam-malam begini dan duduk di sini untuk apa?, yang pasti bukan untuk mendengarkan permainan tebak katamu Koh.”

Dia tertawa. Aku merenggut kesal, melempar kentang goreng ke arahnya. Reflek dia menghindar. Lemparanku tidak berhasil mengenainya, yang membuat aku semakin kesal.

“Ya, baiklah aku akan berkata serius,” tangannya meraihku. Aku sedikit terkejut, sudah lama aku tidak pernah melihatnya seserius ini. Dan untuk apa dia menggenggam tanganku seperti ini. Tak urung, jantungku berdegub kencang.

“Aku akan menikah...”

“Me..nikah?” ulangku.

“Iya,”

“Lalu..”

Apa maksudnya ini? Dia tidak sedang akan melamarku bukan? Bukankah dia tahu hubunganku dengannya tidak akan pernah mulus. Bukankah restu itu tidak akan pernah ada. Apakah dia lupa alasan mengapa kami berpisah.

“Iya, Me. Aku akan menikah awal tahun ini. Minggu depan seluruh keluargaku akan datang melamarnya. Kamu masih ingat dengan Talita bukan? Rasanya tidak percaya aku akan menikah dengannya.”

Hatiku mencolos. Dia menikah dan itu dengan wanita lain. Bukan denganku. Hei, sadarlah Ayumi dia sudah tidak mencintaimu lagi. Bukankah kamu juga berjanji sudah move on dari Lie?
Aku tersenyum.

“Selamat ya.”

Dia tersenyum, lalu melepas genggamannya.

“Aku masih tidak percaya Me,” ulangnya.

Pertemuan ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya aku yang banyak bercerita, malam ini justru ia yang banyak bercerita. Bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk memilih Talita dan rasa-rasanya semua berjalan lebih mudah.

“Kamu masih ingat nggak Me, dengan apa yang kamu katakan dulu tentang jodoh?,”

“Apa?”

“Jika jodoh ia akan berjalan lancar dan tanpa hambatan. Jika tidak, pasti ada saja hambatannya. Kamu masih percaya dengan ungkapan itu?,” tanyanya.

Aku tertawa.

“Menurutmu?”

Ia hanya tersenyum. Di sisa pertemuan kami malam itu, aku hanya mendengarkan ia bercerita sesekali menimpali dan berusaha menyembunyikan air mata yang memaksa keluar. Entah aku merasa bahwa aku akan kehilangannya untuk selamanya.

Seperti biasa ia mengantarkanku kembali ke rumah kosku. Sebelum aku turun dari mobil dia menahanku.

“Me, kamu enggak papa kan?” tanyanya khawatir. Aku tahu dia membaca perubahan air mukaku. Sejak dulu aku sulit membohongi perasaanku padanya.

Aku menggeleng, “gak papa”

Aku melambaikan tangan dan mengucapkan hati-hati saat dia pergi meninggalkanku di depan pintu gerbang kosku. Aku melihat mobilnya yang menjauh, dan menghilang dari pandanganku. Aku menarik napas panjang. Aku merasa ada sebagian diriku yang menghilang. Sepi.

Aku meraih handphoneku. Membuka Phone Book, mencari namanya. Tanganku berhenti mencari saat namanya muncul di layar handphoneku.

Are you sure to delete Koko Chan?

Klik, ok.

Karena aku tahu, sejak ia memutuskan menikah maka tidak akan pernah ada lagi pertemuan berikutnya. Meskipun aku penasaran, apakah ia benar-benar bahagia dengan pilihannya.

“Bahagialah, Koh.”

Malang, 11 Januari 2017

2 komentar: