Langsung ke konten utama

Postingan

Hatiku memilih (Ailya)

Ibu ijinkan putri kecilmu ini bercerita. Ibu inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan pada ayah? Inikah makna cinta sebenarnya? Ketika air mata banyak mendominasi perjalananku dengannya, dengan lelaki yang kunamai cinta. Ketika beribu orang memandangku picik saat bersamanya. Ketika ada beribu tanda tanya yang sering muncul saat aku bersamanya. Ibu, inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan kepada ayah? Ketika aku adalah yang kesekian kali baginya. Ketika aku adalah wanita setelah kegagalannya. Ketika semesta meragu akan rasaku padanya. Ibu, inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan kepada ayah? Ketika aku tak mampu menyembunyikan wajah memerahku karena pesonanya. Ketika aku berpura-pura tak mendengar tentang apa yang banyak orang bicarakan dibelakangku, saat aku bersamanya. Ketika aku acuh dengan segala kekurangannya. Ibu, inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan kepada ayah? Ketika aku tak lagi sanggup berjeda dengannya....

Prolog #DistyDalamDiary (1)

“ Jika bersamamu adalah mimpi, jangan pernah biarkan aku terbangun. Sungguh aku tak pernah mampu melepaskan genggamanmu” @perihujan_ Jakarta, 31 Desember 2012.   Dika menghentikan pointer mousenya, dia melihat jam yang berada di laptopnya. Pukul 23.49 berarti kurang sebelas menit menuju pergantian tahun. Dika mendorong tubuhnya kesandaran kursi putarnya, tengkuknya kaku terlalu lama Ia paksa untuk fokus pada laptopnya. Memelototi deretan angka-angka, menggumam tak jelas berharap deretan angka-angka itu mau berdamai dengannya. Hanya angka-angka yang dapat membuatnya sedikit melupakan sakit hatinya, melupakan perihnya ditinggalkan, pahitnya mencintai tapi tak mampu memiliki. Hanya angka-angka itu yang mampu memaksanya lupa dengan gadisnya. Lama dia terdiam sampai laptopnya meninggalkan screensaver . Sepi, malam ini adalah pergantian tahun. Seharusnya dia pergi bersama teman-teman kantornya ke puncak, atau menerima undangan Sarah untuk hadir pada pesta barbeque di ...

Tentang (Rahasia)

Jadi kemarin sepulang kerja saya menghabiskan waktu ngobrol dengan teman lama saya via telpon. Teman yang sudah hampir dua tahun ini tidak pernah saya temui. Teman saya sedang galau, jadilah saya malam itu kebagian jadi tempat sampahnya. Teman saya ini, sebut saja Aira tidak pernah yang namanya ribet dengan kehidupannya. Hidupnya lurus-lurus saja, dan ia selalu terlihat bahagia. Dan saya baru menyadari ternyata dibalik senyum bahagianya dia menyimpan satu beban. Dan lagi-lagi tak jauh dari kata cinta. Jadi Aira ini sudah pacaran lagi dengan seorang cowok setelah hubungannya yang dengan calon dokter itu kandas di tengah jalan. Ia tak cerita banyak tentang perihal gagalnya hubungan dia dengan si calon dokter itu yang setahu saya mereka sangat terlihat normal dan baik-baik saja. Aira, galau bukan karena gagal tapi bagaimana ia harus berterus terang tentang hubungannya dengan pacar barunya itu. Berterus terang kepada Ibu dan juga sahabatnya. Saya sedikit kaget saat ia bercer...

The Rainy Day

Selamat datang musim hujan :) Saya menyukai hujan, menyesap bau yang diciptakannya ketika ia terjatuh di tanah. Maka ketika hujan turun, saya akan menghirup aroma itu lama. Menyimpannya penuh dalam otak saya, jika saya merindukannya cukup membuka memori tentang itu. Saya menyukai hujan, menggurat namanya di kaca yang mengembun. Sepertinya hujan pun meresonansi semua kenangan tentangnya. Kenangan saat saya memutuskan untuk bersamanya. Kenangan saat saya bersembunyi dibalik punggungnya sore itu. Saya menyukai hujan, melihatnya jatuh menghempas bumi. Menerka-nerka apakah ia sempat bertanya tentang alasan ia dihempaskan di bumi? ah, lagi-lagi semua ini membuat saya tersadar manusia adalah makhlukNya yang banyak maunya. Dan terlalu 'manja' Saya menyukai hujan, tempat saya menikmati setiap tariannya yang menyerupai bayangan orang-orang yang saya sayangi. Tempat saya mengadu pada sebuah kata rindu, yang mungkin saja dapat tersampaikannya. Saya menyukai hujan, yang mampu menya...

Prolog ( Ailya|Melia )

P agi ini terlalu cerah untuk memaknai pagiku yang berawan. Aku melihatmu dari pantulan kaca yang melapisi meja makan kita. Meja makan yang selama tiga tahun ini menemani kita sarapan dan makan malam yang sering kita lewatkan dalam diam enam bulan terakhir ini. Kamu terlihat seperti biasa pagi ini. Seperti pagi-pagi yang kita lewati bersama selama tiga tahun pernikahan kita. Kamu memutar pinggiran roti bakar keju dengan sedikit taburan gula di atasnya, entah mengapa pagi ini aku membuatnya terlalu gosong. Mungkin kamu sedang sibuk memikirkan kira-kira sebelah mana kamu memulai untuk memakannya, agar gosongnya tak terlalu berasa pahit.  Seharusnya kamu protes dengan hidangan sarapan kali ini, bukankah kamu dulu sering begitu? Protes ini dan itu, meski pada akhirnya tetap kamu makan juga nasi goreng keasinan itu atau roti bakar yang hampir separruhnya gosong.   Dan aku akan tersenyum manja ke arahmu, ketika kamu menghabiskan menu sarapanmu. Dan kamu tak akan tahan untuk...

Seandainya ( Episode spesial #AilyaMelia )

Aku tak setabah yang kamu kira, percayalah aku masih sama seperti gadismu dulu. Rapuh, yang berpura-pura tegar @perihujan_ Aku menyodorkan mangkuk berisi sereal coklat, menu sarapan kegemaran Kayla kearahnya. Matanya masih merah, sisa tangisnya masih begitu jelas. Aku yakin ia semalaman menangis. “ Nanti mama gak bisa menjemput kamu latihan balet. Kamu pulangnya ikut jemputan ya? “ kataku pelan, sambil memotong roti bakarku menjadi beberapa bagian. Kayla tak menjawab, mulutnya bungkam. Aku tahu dia kecewa, dia marah.  Maafkan mama, Kayla. Semalam adalah peretngkaran terhebat kami. Dan sampai detik ini aku masih dirudung penyesalan. Membuat bidadariku menangis. Tapi, Kayla harus mengerti bahwa semua keinginannya tak harus terwujud. Ia harus belajar kecewa. *** “ Ma, tanggal 14 nanti kelas Kayla ada belajar bersama orang tua. Kayla ingin mama dan papa datang. Bisa kan? “ ucapnya takut-takut. “ Tidak “ kataku singkat. “ Kenapa? “ protesnya. “ Papa sibuk. ...