Langsung ke konten utama

Prolog ( Ailya|Melia )



Pagi ini terlalu cerah untuk memaknai pagiku yang berawan. Aku melihatmu dari pantulan kaca yang melapisi meja makan kita. Meja makan yang selama tiga tahun ini menemani kita sarapan dan makan malam yang sering kita lewatkan dalam diam enam bulan terakhir ini. Kamu terlihat seperti biasa pagi ini. Seperti pagi-pagi yang kita lewati bersama selama tiga tahun pernikahan kita. Kamu memutar pinggiran roti bakar keju dengan sedikit taburan gula di atasnya, entah mengapa pagi ini aku membuatnya terlalu gosong. Mungkin kamu sedang sibuk memikirkan kira-kira sebelah mana kamu memulai untuk memakannya, agar gosongnya tak terlalu berasa pahit. 
Seharusnya kamu protes dengan hidangan sarapan kali ini, bukankah kamu dulu sering begitu? Protes ini dan itu, meski pada akhirnya tetap kamu makan juga nasi goreng keasinan itu atau roti bakar yang hampir separruhnya gosong.  Dan aku akan tersenyum manja ke arahmu, ketika kamu menghabiskan menu sarapanmu. Dan kamu tak akan tahan untuk tidak mengacak rambutku lalu mengecup keningku, seraya berucap bahwa kamu adalah suami paling beruntung telah memilihku.  Tapi itu dulu jauh sebelum sarapan kita lebih sering kita lewatkan dalam diam. Ketika kita semakin canggung satu sama lainnya. Ketika kamu betanya, masihkah kita sebut ini cinta?
Sementara itu aku masih menunduk, berharap pagi ini tak akan kulewati meski hanya mimpi.
“ Aku harap ini adalah jalan terbaik kita Mel, dan aku yakin kamu dapat melaluinya. Kamu wanita yang kuat “ katamu, seraya mengusap punggung tanganku.
Bagaimana kamu bisa berkata bahwa aku akan tabah menghadapi semua ini sendiri. Tiga tahun aku bertahan dari semua ini, bermimpi pun aku tak pernah.
Tuhan, jangan biarkan air mata ini jatuh. Meski pada akhirnya air mata ini dengan seenaknya jatuh menambah asin roti bakar mentegaku.
“ Maafkan aku “ katamu cepat, seraya mengusap air mataku.
Aku masih bungkam. Aku tak ingin kamu mengasihiku. Aku tahu perpisahan ini akan semakin menyakitkan dengan banyaknya air mata yang mendominasi saat kita memulai untuk duduk bersama, membicarakan hal-hal setelah ini semua. Setelah pagi ini berakhir.
“ Mel..”
“ Aku gak papa kok mas. Aku akan kuat, demi Kayla “ ucapku bergetar. Saat aku menyebut nama Kayla. Bagaimana aku menjelaskan semua ini padanya? Bagaimana aku menjelaskan tentang perpisahan ini?
Kamu menggenggam tanganku erat, alih-alih menguatkan. Ah, seandainya kamu tahu genggaman tanganmu merapuhkanku.
Aku melepas genggaman tanganmu, tanganku meraih berkas percerain kita. Bayangan pertemuan kita, pernikahan dan masa-masa menunggu kelahiran Kayla memenuhi cairan bening yang siap tumpah. Haruskah ini berakhir?
Aku menghapus air mataku yang sekali lagi memaksa keluar.
“ Maaf..” kataku tercekat. Kamu sigap megusap air mataku. Oh, Tuhan mengapa aku begitu lemah dihadapannya? Kuatkan aku Tuhan.
Aku memandang ke arah kamar Kayla. Kamar itu sepi, sudah seminggu ini ia berlibur ke rumah eyangnya. Ya, Tuhan apa yang harus aku katakan pada Kayla tentang semua ini?
Pandanganku beralih pada berkas perceraian kita. Dengan gemetar aku menandatangani berkas tersebut. Dengan lirih aku berdoa semoga benar ini yang terbaik.
“ Maafkan mama, Kayla “

note : gambar diambil dari google, key word "toast"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Morning Pages

Menulis untuk jiwa/copyright  rawpixel.com   Writing is medicine. It is an appropriate antidote to injury. It is an appropriate companion for any difficult change - Julia Cameron. Menulis bagiku adalah obat. Menuangkan keluh, mencatat mimpi, hingga mematik harapan. Itulah alasan kenapa aku banting setir untuk berkarir di media. Harapannya sih, seru kali ya menulis terus dapat duit. Meskipun pas terjun kerja di media, ternyata pekerjaanku bukan menulis seperti yang di catatan-catatan yang pernah kutuliskan. Aku menulis untuk orang lain. Maka journaling adalah obat buatku. Saat aku tidak bisa menulis tentang hal-hal yang sensitif, menuliskan di buku jurnalku membuatku merasa tenang. Menulis untuk memberi makan jiwa aku menyebutnya. Biasanya setiap pagi sebelum memulai aktivitas aku menuliskan banyak hal di lembaran jurnalku. Hal random seperti enak mana tahu atau tempe, hingga seserius mengapa semakin ke sini hal-hal yang disebut ‘pertanda’ itu semakin jelas. Menuliskan hal itu ...

Cukup

Merasa cukup itu penting, tidak semua butuh jawaban. Ibaratnya mendaki gunung, bukan berarti kita harus tahu bagaimana wujud puncaknya kan? Bisa jadi jawaban dan rasa puas itu ada saat kita berada di lereng. Cukup bukan berarti menyerah, tapi tahu batasnya. Rasa penasaran seringkali membuat kita berusaha mencari tahu, memaksa keadaan untuk sesuai dengan keinginan kita. Hingga akhirmya hal inilah yang membuat kita tidak pernah merasa puas. Memaksa kehendak. Ilustrasi/copyright pexel Tidak semua hal harus sesuai dengan keinginan, bukankah kita harus lebih menyiapkan diri untuk hal yang kurang menyenangkan? Siapa sih yang butuh persiapan untuk hal yang menyenangkan? Pada akhirnya, siapkan diri kita untuk hal yang di luar kendali. Siapkan diri untuk kegagalan. Kita bukanlah pusat semesta, sehingga semua orang memiliko kewajiban untuk memahami diri kita. Belajar untuk lebih banyak mendengarkan dam tidak mengkerdilkan usaha orang lain. Cukup bukan berarti menyerah, tapi me...

Lima Tahun Lalu Itu 2019

    2019 itu lima tahun yang lalu. Aku tersenyum membaca pesan dari dia. Ternyata sudah lima tahun kami tidak saling menyapa, meskipun update kehidupannya masih melintas di linimasa akun linkedin-ku.  Lima tahun lalu namanya selalu muncul pertama kali di notifikasi whatsApp-ku. Dulu, kami pernah meyakini bahwa jarak hanya satuan untuk orang lemah. Dan akhirnya, kami menjadi bagian orang lemah itu. Kata orang akan selalu ada kesempatan kedua untuk hal yang terlewatkan. Tinggal kita mau atau tidak. Menganggap itu kesempatan atau hanya sekadar pembuktian semata. Dan ia pun menyapaku kembali setelah lima tahun berlalu. Kamu akhirnya ke Jepang ya? Gimana, seru? Menyebalkan sekali pertanyaannya, karena akhirnya aku tahu ia tak pernah berubah. Ia tetap melihatku, sementara aku hanya tahu dari update linkedin-nya. Menandakan dia ‘hidup’. Bagian menyebalkan lainnya aku melewatkan masa lima tahun itu, tapi ia tetap melihatku bertumbuh. Ia tahu aku mengeluhkan banyak hal, ia juga ta...