Kamis, 10 Januari 2013

Tentang (Rahasia)





Jadi kemarin sepulang kerja saya menghabiskan waktu ngobrol dengan teman lama saya via telpon. Teman yang sudah hampir dua tahun ini tidak pernah saya temui. Teman saya sedang galau, jadilah saya malam itu kebagian jadi tempat sampahnya.
Teman saya ini, sebut saja Aira tidak pernah yang namanya ribet dengan kehidupannya. Hidupnya lurus-lurus saja, dan ia selalu terlihat bahagia. Dan saya baru menyadari ternyata dibalik senyum bahagianya dia menyimpan satu beban. Dan lagi-lagi tak jauh dari kata cinta.
Jadi Aira ini sudah pacaran lagi dengan seorang cowok setelah hubungannya yang dengan calon dokter itu kandas di tengah jalan. Ia tak cerita banyak tentang perihal gagalnya hubungan dia dengan si calon dokter itu yang setahu saya mereka sangat terlihat normal dan baik-baik saja. Aira, galau bukan karena gagal tapi bagaimana ia harus berterus terang tentang hubungannya dengan pacar barunya itu. Berterus terang kepada Ibu dan juga sahabatnya. Saya sedikit kaget saat ia bercerita dengan suara tercekat jika selama ini hubungannya dengan sang pacar dia simpan rapat-rapat, bahkan kepada sahabatnya yang setahu saya lebih dekat daripada saya.
“ Ibuku, tidak suka dengan cowok sunda “
Itu prolog, mengapa ia sampai hari ini belum berani menceritakan hubungannya kepada sang Ibu. Ibunya antipati dengan hal yang berhubungan dengan sunda. Saat saya tanya mengapa? Aira hanya diam saja. Saya ikut diam, bagaimana pun juga ketika hal itu berhubungan dengan prinsip pasti susah mengubahnya. Saya masih terdiam dan tak berkomentar saat ia bercerita tentang usahanya menutupi rahasia ini kepada ibunya. Entah saya ikut merasa sakit. Sebegitukah kamu tak ingin menyakiti ibumu?
“ Ibuku, masih berharap pada si Frans (sang dokter). Ibuku susah move on dari dia “
Saat saya bertanya, apakah pacarnya tau? Dia hanya berkata dengan serak. Tidak.
Dia bercerita bahwa ia berjuang sendiri, menghadapi tekanan ini. berusaha terlihat baik-baik saja, padahal jelas bahwa semua tak baik.
Lalu, saat aku bertanya kenapa ia merahasiakan pada sahabatnya. Ia menjelaskan, sahabatnya juga tidak suka kalau dia dekat dengan pacarnya saat ini. Nah, akhirnya dia memilih backstreet dengan dua orang terpentingnya itu.
Sampai hari ini saya masih tidak habis pikir, apakah ia dapat bahagia? Apakah memang cinta harus seperti itu? Benarkah cinta tak mampu menemukan logika?
Ada beberapa orang memilih untuk bertahan meski ia tahu akhirnya, memaksa berjuang dan berlari meski ia tahu yang ia dekati adalah jurang. Yang pada akhirnya membuat ia terjatuh, lalu mati.
Menariknya saya jadi mengerti, dalam satu hubungan tak hanya tentang dua orang tapi juga dengan sekitarnya. Apalagi jika hubungan itu untuk serius, dan saya cukup mengerti cinta saja tak cukup membuat dua orang memutuskan menikah.
Bukankah seperti itu?


ps : foto diambil dari google


Tidak ada komentar:

Posting Komentar