Kamis, 14 Februari 2013

Hatiku memilih (Ailya)





Ibu ijinkan putri kecilmu ini bercerita.
Ibu inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan pada ayah? Inikah makna cinta sebenarnya?
Ketika air mata banyak mendominasi perjalananku dengannya, dengan lelaki yang kunamai cinta.
Ketika beribu orang memandangku picik saat bersamanya.
Ketika ada beribu tanda tanya yang sering muncul saat aku bersamanya.
Ibu, inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan kepada ayah?
Ketika aku adalah yang kesekian kali baginya.
Ketika aku adalah wanita setelah kegagalannya.
Ketika semesta meragu akan rasaku padanya.
Ibu, inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan kepada ayah?
Ketika aku tak mampu menyembunyikan wajah memerahku karena pesonanya.
Ketika aku berpura-pura tak mendengar tentang apa yang banyak orang bicarakan dibelakangku, saat aku bersamanya.
Ketika aku acuh dengan segala kekurangannya.
Ibu, inikah cinta yang sama seperti yang kau rasakan kepada ayah?
Ketika aku tak lagi sanggup berjeda dengannya.
Ketika ia adalah sesak yang selalu kurindukan.
Ketika doaku adalah namanya.
Ibu, aku mencintainya.
----Ailya


Aku mengusap punggung tangan ibu yang telah dipenuhi keriputan, lalu menariknya agar mengusap wajahku. Aku rindu ingin dimanja. Menciumi aroma yang selalu kurindukan, Ibu.
Hari ini hari kedua aku pulang ke rumah. Menemui Ibu, dan berencana untuk menceritakan tentang Kakak kepada Ibu. Menceritakan keragu-raguan yang tengah menyergapku.
“Ada apa Ailya? Kamu sedang bersedih?” tanya ibu lembut, lalu menarik kepalaku ke pangkuannya. Ada bulir air mata memaksa keluar, yang cepat-cepat kuhapus. Aku tak ingin ibu melihatku menangis.
Aku menggeleng. Sebenarnya tanpa aku bercerita pun Ibu tahu kalau aku sedang memendam satu masalah. Sejak aku pulang, ibu berkali-kali menegurku yang terlampau sering melamun.
Ibu mengusap kepalaku lembut, “Cinta bukan tentang suka atau tak suka. Cinta juga bukan tentang ingin dan tak ingin. Cinta itu memahami”
Aku masih terdiam, menahan air mata yang semakin sesak memaksa keluar.
“Cinta akan tahu kemana ia kembali, kemana ia harus tinggal”
“Bu...” ucapku bergetar.
“Hmmm..”
“Aku mencintainya..” akhirnya roboh juga pertahananku, aku terisak.
Ibu masih mengusap kepalaku lembut dan kini merengkuh menenangkan tangisku.
“Ibu tahu itu”
Ibu, mengangkat wajahku. Mengusap air mataku. Lalu tersenyum hangat, menenangkan.
“Ailya, jodoh itu urusan Tuhan. Tak ada yang pernah tahu jodoh kita. Bukan tanpa sebab Tuhan mempertemukanmu dengan Rudi. Ailya cinta dengannya? Ailya bahagia dengannya? Itu lebih dari cukup untuk Ibu”
“Tapi..ada Kayla..”aku tercekat mengingat Kayla, mengingat status kakak. Ia bukanlah sosok single yang menjadi impian seorang Ibu. Ia memiliki masa lalu, bernama kegagalan. Aku semakin terisak.
“Tak masalah bagi Ibu, menambah satu cucu yang bukan lahir dari rahimmu”
Aku terisak, memeluk Ibu erat.
“Menikahlah, ibu berbahagia untukmu...”


pic diambil dari google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar