Jumat, 03 Agustus 2012

Sepasang sayap



Siang tadi sewaktu istirahat, saya mendapat telepon dari sahabat SMP. Dia bercerita, telah menikah dua bulan yang lalu dan meminta maaf karena tidak bisa mengabari. Saya heboh sendiri, kebahagiannya tiba-tiba menular begitu cepat kepada saya.

Dan yang paling mengejutkan adalah, pria beruntung yang menikahinya adalah juga teman saya sewaktu SMP dulu. Teman satu bimbingan belajar.

Tidak bisa saya bayangkan, bagaimana mungkin mereka bisa memutuskan untuk menikah, mengingat mereka dulu sudah seperti tokoh tikus dan kucing di film kartun Tom dan Jerry, tak pernah akur.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya saya bertanya padanya. Pertanyaan sama yang selalu saya berikan kepada teman-teman saya yang telah memutuskan untuk menikah,

“Bagaimana kamu yakin, bahwa dia adalah yang terbaik untukmu? Dan kamu memutuskan untuk bisa mencintainya setiap hari?“

Sedikit bergumam, seakan lama untuk berkata, akhirnya ia menjawab:

“Aku yakin, karena aku percaya bahwa aku mampu mencintainya setiap hari seperti pertama kali aku mengenalnya. Dan satu hal yang pasti, dia bisa menerima apapun kelemahanku, untuk itulah ia pantas mendapatkan apa yang lebih dari diriku“

Aku hanya bisa tersenyum dan bertanya pada diri sendiri, “sebegitu sederhananya-kah arti dari kesakralan ikatan cinta?”

Apa saya bisa? Entah mengapa, tiba-tiba saja saya meragu, mengingat saya yang terkadang masih begitu egois. Tapi, entah sampai kapan saya terbang dengan satu sayap. Cukuplah seperempat abad saya lalu-lalang mencari setengah dari sayap ini. Dan saya berharap, kelak, setengah sayap itu adalah dia, ya, dia pria yang saya kenal di salah satu jejaring sosial.

Pada akhirnya, merawat segala duka dan mencintai kelemahannya, sama seperti aku mencintai kelebihannya, ah, seandainya semua itu semudah membalikan telapak tangan. Dan malam ini, kembali saya teringat dengan dia yang berada jauh di sana. Terhalang jarak dan waktu, ya, saya harus bersabar dengan semua ini.

Bukankah jarak hanya ukuran yang dibuat oleh manusia? Lalu mengapa saya harus takut? Atau mungkin, ini hanya cara Tuhan memeluk saya dan dia, bahwa cinta; tidak seindah yang kita angankan, atau hanya sekadar permainan ingatan.

pic : google.com
editor by : Tody Pramantha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar