Jumat, 31 Agustus 2012

Ini Rindu, Kamu? ( #140 – 1 )



Aku memainkan scroll pada linimasaku, tak kutemui twit satupun dari dia. Iya, dia salah satu akun yang kugemari selama setengah tahun ini. Twitnya adalah salah satu alasanku untuk rajin bertandang di lapak 140 karakter ini. Bukan untuk ikut riwil di twitter tapi hanya memastikan apakah dia baik-baik saja. Bagiku twitnya adalah kabar bahwa dia baik-baik saja, meski tanpa mention sekalipun. 

Aneh memang,padahal mention darinya untukku  tak genap seratus jika ditotal sejak pertemuan kami di kerajaan 140 karakter. Kami hanya saling follow, dan kebetulan berada pada satu komunitas. Kami tak pernah terlibat kehebohan berbalas mention di linimasa. Aku hanya pengagum rahasianya. Dan mungkin benar, inilah rasanya sepihak. Sakit.

Sebenarnya mudah saja aku mendapatkan kabar tentangnya, aku memiliki nomor handphonenya yang kudapatkan saat ia meminta alamat untuk pengiriman buku sebagai hadiah karena sering kelewat riwil pada proses produksi buku kumpulan ceritanya. Tentu saja mudah bagiku untuk memulai sms atau sekedar menelponnya. Entah, gengsi atau takut akan penolakan aku tak pernah memulainya dulu. Meski sekuat tenaga aku melawan rindu itu.

Apakah hal ini termasuk kebodohan?

Akhirnya setelah satu jam bertahan pada lapak 140 karakter aku menulis juga sebaris twit; “ Kamu tahu, tak ada yang lebih menyakitkan dari kata sepihak “ , lama aku membaca sebaris kalimat yang tak lebih dari 140 karakter itu. Dan aku memilih, save to draft.

Dan aku lebih memilih untuk menutup akun twitterku. Aku melempar smartphoneku sekenanya, dan menutup muka dengan bantal. Hal yang selalu kulakukan ketika tiba-tiba moodku berada pada level terendah. 

Aku meraih smartphoneku dengan malas saat Ia berteriak menyanyikan lagu This Love. Dan aku melonjak bangun saat melihat sebaris namanya berada pada layar smartphoneku. Yaksa calling

“ Hallo...”
“ Hey...” katanya menyambut kata halloku.
“ Hey juga, tumben ? “ tanyaku gugup
“ Gak papa, aku Cuma pengen dengar suara kamu saja. Maaf ya, akhir-akhir ini terlalu sibuk jadi gak sempat kasih kabar. “

Apakah semua perlu penjelasan? Aku tersenyum.
Aku kangen kamu bodoh, batinku.

“ iya, gak papa. Kamu apa kabar? “

Dan sejak itu aku selalu mempercayai kekuatan hati. 


Pic diambil dari google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar